Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Cu(EDTA)2- SEBAGAI KATALIS HETEROGEN DALAM BERBAGAI MACAM REAKSI KIMIA

DISUSUN OLEH : NAMA JURUSAN / PRODI NIM : AMIR SETIADI : KIMIA / KIMIA S1 : 4311410048

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

1. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Katalis memiliki peranan penting dalam berbagai proses industri, seperti industri energi, farmasi dan bahan kimia. Senyawa katalis sebagai salah satu unsur terpenting dalam proses sintesis, baik organik maupun anorganik akan sangat menarik untuk diteliti dan dimodifikasi, sehingga efisiensi dan aktifitas penggunaannya dapat ditingkatkan serta efek samping yang ditimbulkan ke lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin. Berdasarkan fasanya, katalis digolongkan menjadi katalis homogen dan katalis heterogen (terkadang sering disebut juga katalis padat). Katalis homogen adalah katalis yang fasanya sama dengan fasa reaksinya, sehingga daya katalitiknya lebih kuat dibandingkan katalis heterogen. Sulitnya memisahkan katalis dari sistem reaksinya menjadi kelemahan dari katalis homogen. Adapun katalis heterogen adalah katalis yang fasanya berbeda dengan fasa reaksinya. Katalis heterogen relatif kurang reaktif dikarenakan heterogenitas permukaannya. Namun, keunggulan yang dimiliknya seperti kemudahan untuk dipisahkan dari sistem reaksinya dan relatif stabil terhadap perlakuan panas membuat katalis heterogen lebih disukai dalam berbagai proses industri. Senyawa komplek logam (biasanya logam-logam transisi) merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih ikatan logam-karbon, sehingga lebih dikenal dengan senyawa organologam yang terdiri dari atom pusat dan ligan. Atom pusat dari suatu senyawa komplek yang digunakan antara lain logam-logam transisi deret pertama, seperti: Cr, Mn, Fe, Co, Ni, Cu, dan Zn. Ligan dari suatu senyawa komplek dapat mempengaruhi bentuk geometri dari senyawa organologam itu sendiri, sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai reaksi kimia. Senyawasenyawa komplek memiliki kemampuan sebagai katalis, hal ini disebabkan oleh : 1. Molekul-molekul memiliki gugus fungsi yang bisa berkoordinasi ke atom pusat,

2. Spesies reaktif yang memiliki kemampuan untuk menstabilkan dan mengontrol jalannya suatu reaksi, dan 3. Dua molekul bisa berkoordinasi pada atom pusat yang sama, sehingga akan mengubah kemungkinan dari suatu reaksi yang terjadi.

Cu(EDTA)2- merupakan salah satu senyawa kompleks heterogen


yang dapat bersifat sebagai katalis yaitu dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia yang sedang terjadi. Dalam makalah ini akan ditinjau lebih kanjut mengenai senyawa kompleks Cu(EDTA)2- dan peranannya. B. TUJUAN Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu menunjukan dan meninjau secara atomik rumus struktur dari Cu(EDTA)2- agar didapatkan pengetahuan lebih rinci mengenai Cu(EDTA)2- dan struktur kompleks atomik dari Cu(EDTA)2-. C. MANFAAT Manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu untuk lebih

meningkatkan wawasan kepada pembaca, mahasiswa, dan masyarakat mengenai bagaimnana senyawa kompleks yang dapat bersifat sebagai katalisator dalam proses industri dan reaksi kimia serta dengan lebih dalam senyawa kompleks Cu(EDTA) .
2-

mengetahui

2. ISI MAKALAH
A. KATALIS Katalis merupakan senyawa yang dapat menurunkan energi aktivasi reaksi dan meningkatkan laju reaksi, melalui peningkatan konstanta laju. Oleh karena itu, katalis sangat penting dalam industri kimia, penanganan gas buang dan reaksi kimia lain. Walaupun esensi katalis secara kimia agak kabur, aspek praktis katalis telah berkembang berbasiskan akumulasi pengetahuan empiris. Katalis dikategorikan menjadi dua yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen yaitu katalis yang satu fase atau sama fasenya dengan zat reaktannya, sedangkan katalis heterogen merupakan katalis yang tidak sefase atau berbeda fase dengan reaktannya biasanya berbentuk padatan. Pengetahuan juga pemahaman kita tentang mekanisme padatan. katalisis Dulunya, homogen katalisis

berkembang seiring dengan perkembangan kimia anorganik, demikian tentang katalisis heterogen padatan dijelaskan sebagai akibat aktivasi reaktan secara misterius oleh permukaan asam atau basa, dan dengan koordinasi pada permukaan logam. Kini dimungkinkan untuk mengamati interaksiinteraksi ini dengan menggunakan berbagai teknik spektroskopi (IR< EXAFS/ extended X-ray absorption fine structure, sinar tampak), mikroskop elektron, atau STM (scanning tunneling microscopy). Karena mekanisme katalisis homogen telah diklarifikasi dengan cukup maju, reaksi di permukaan padatan dapat juga dianalisis dengan mengggunakan konsep seperti kompleks permukaan atau senyawa organologam permukaan. Namun, tidak seperti katalisis homogen, yang hanya melibatkan satu atau dua pusat logam, dalam katalisis padatan pusat logam dan yang terlibat sangat permukaan banyak. sangat Karena sukar kehomogenan kedapatulangan

dipertahankan, sebagian besar mekanisme reaksi tidak begitu jelas bahkan untuk reaksi sederhana seperti sintesis amonia.

B. Cu (TEMBAGA) Cu atau tembaga merupakan logam golongan transisi yang banyak terdapat di alam. Cu mempunyai dua bilangan oksidasi yaitu +1 san +2. Tembaga mempunyai metalloprotein dan enzim yang mungkin mengadakan ion Cu(I) d10, Cu(II) d9, dan Cu(III) d8. Pada larutan encer, ion ion tembaga diperlihatkan dalam reaksi : Cu+(aq) + eCu2+(aq) + e2Cu+(aq) C. EDTA EDTA adalah sebuah asam karboksilat poliamino. EDTA merupakan senyawa kimia kependekan dari asam etildiaminetetetraasetat yang mempunyai sifat tidak berwarna, larut dalam air, basa konjugasinya adalah etildiamintetraasetat. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine. Kegunaannya mucul dari peranan sebagai agen pengkhelat dan ligan bergigi enam. Senyawa ini mampu berikatan dengan seperti Ca2+ dan Fe3+. EDTA pertama dipublikasikan oleh Ferdinan Munz pada tahun 1935 yang dibuat dari senyawa dari etildiamin dan asam kloroasetat. Sekarang, EDTA bisa disintesis dari etildiamin khususnya 1,2diaminoetana, formaldehid, dan natrium sianida. EDTA (ethylene diamine tetraacetic) merupakan suatu kompleks kelat yang larut ketika ditambahkan ke dalam suatu larutan yang mengandung kation logam tertentu seperti Ca2+, Cu2+ dan Mg2+, di mana akan membentuk kompleks dengan logam-logam tersebut. Molekul EDTA berikatan dengan atom atau ion logam pusat dengan mendonorkan enam pasang elektron bebasnya (dua pasang dari atom nitrogen pada gugus amino dan empat pasang dari atom oksigen pada gugus karboksilat. Cu0 Cu+(aq) Cu0(s) + Cu2+(aq) E0 = +0,52 V E0 = +0,153 V E0 = +0,37 V

Struktur senyawa EDTA (1)

Struktur senyawa EDTA (2)

EDTA merupakan senyawa khelat yaitu senyawa yang struktur geometrinya membentuk ring dan multidental ligan yaitu ligan yang membentuk banyak ikatan dengan atom pusat atau ion pusat. Berikut ini adalah bentuk geometri molekul EDTA :

Rumus bangun geometri senyawa EDTA

struktur kompleks EDTA dengan ion logam pusat (dimana stuktur tersebut berbentuk seperti sangkar di sekitar atom atau ion logam pusat dan sangat stabil)

D. Cu(EDTA)2Cu(EDTA)2- merupakan senyawa kompleks yang dapat bersifat sebagai katalis. Disini akan ditinjau dari segi kimia koordinasi yaitu melalui tinjauan ikatan antar ligan dan atom pusat.

Bermula dari senyawa EDTA yang mempunyai rumus struktur khelat atau melingkar seperti ring, dan dari atom N dan O masih mempunyai elektron bebas, sangat besar kemungkinan untuk mengikat suatu atom yang lebih mudah yaitu logam. Atom Cu termasuk atom yang bisa diikat oleh atom-atom pada senyawa EDTA. EDTA bertindak sebagai ligan dan huruf M besar sebagai atom pusat. Disini akan ditunjukkan atom pusatnya sebagai atom Cu yang bisa terjadi dan bersifat sebagai katalis. Struktur Cu-EDTA dapat diamati pada gambar dibawah ini.

Kedua gambar ini merupakan tinjauan dari sisi lain pada bentuk tiga dimensi ion kompleks Cu(EDTA)2-. Untuk lebih jelasnya dapat diringkas penyusun ion kompleks Cu(EDTA)2-. Sebagai berikut: Ligan : senyawa EDTA

Ion atau atom pusat : Cu 2+ Menurut penelitian, MgF2 sebagai pendukung katalis Cu-EDTA

dimaksudkan untuk menambah daya katalitik katalis Cu-EDTA agar lebih banyak jumlah sisi aktifnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wojciechowska et al., (2000) dan Narayana et al., (2009) diketahui bahwa MgF 2 mempunyai permukaan inert, stabilitas termal hampir mencapai 500C, kekerasan tinggi, dan struktur permukaan mesoporous yang relatif besar ( 45 m2/g). Dari sifat-sifat tersebut maka MgF2 memiliki kemampuan untuk dijadikan sebagai pendukung katalis Cu- EDTA. Hal ini mendukung bahwa Cu-EDTA dapat bersifat sebagai katalisator.

3. PENUTUP
A. KESIMPULAN Kesimpulan yang dihasilkan pada makalah ini yaitu EDTA merupakan senyawa yang bisa berperan sebagai ligan dan mempunyai daya ikat dengan atom atau ion logam pusat dengan cara mendonorkan enam pasang elektron bebasnya (dua pasang dari atom nitrogen pada gugus amino dan empat pasang dari atom oksigen pada gugus karboksilat. Contoh dari senyawa itu adalah Cu(EDTA)2-. Selain itu juga senyawa EDTA yang telah berikatan dengan logam khususnya logam Cu dengan membentuk senyawa Cu(EDTA)2- dapat berperan sebagai katalus menurut sebuah penelitian. Hal ini bisa dikembangkan lagi unutk penelitian lebih lanjut.

B. SARAN 1. Bisa dikembangkan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan EDTA sebagai katalis dengan atom pusat selain Cu. 2. Spesifikasi jenis reaksi yang dapat disertai dengan senyawa campuran dari EDTA dan logam sebagai atom pusatnya belum diketaui secara pasti agar bisa dikembangkan untuk kepentingan industri kimia dan masyarakat.

4. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Sukardjo. 1985. Kimia Koordinasi. Jakarta: PT. Bina Aksara Dalam Makalah PENGGUNAAN KOMPLEKS LOGAM TRANSISI HETEROGEN DALAM BERBAGAI MACAM

SEBAGAI KATALIS Universitas Lampung. 3.

REAKSI KIMIA Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II

Dalam artikel APLIKASI SENYAWA KOMPLEKS DALAM KEHIDUPAN SEHARI- HARI.

4.

Saito, Taro. 2006. Kimia Anorganik Terjemahan. Jakarta: Iwanami Publishing Company.