Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN Sebagaimana yang telah dikenal pada saat ini ada tiga cara atau mekanisme yang dapat

menyebabkan kematian, yaitu : kegagalan fungsi otak, kegagalan pernapasan, dan kegagalan sirkulasi.

Seorang laki-laki, berumur 32 tahun, telah menjadi korban penggantungan (menurut penyidik). Pada pemeriksaan luar ditemukan bintik-bintik perdarahan pada selaput mata dan bibir yang kebiruan. Pada ujung jari tangan dan kaki tampak pucat kebiruan. Pada leher terdapat luka lecet tekan bentuk melingkar ke belakang. Pada pemeriksaan dalam terdapat resapan darah pada dinding tenggorokan mulai pada daerah cincin tenggorokan pertama ke bawah. Pada otak besar terdapat pembuluh darah yang melebar. Pada pemeriksaan mikroskopik organ paru, hati, ginjal, limpa, dan otak tampak gambaran bendungan organ.

Perkiraan waktu kematian korban dilihat dari tanatologi berupa adanya lebam mayat di punggung, pinggang dan bokong, yang tidak hilang dengan penekanan atau menetap sehingga perkiraan waktu kematian di atas 8- 12 jam, serta ditemukannya kaku mayat seluruh tubuh yang sukar dilawan menandakan waktu kematian di atas 12 jam disertai dengan tanda-tanda pembusukan yang belum ada. (1)

Dalam ilmu tanatologi, lebam mayat adalah hal yang terjadi setelah kematian dimana eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livid) pada bagian terbawah tubuh, kecuali bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap selama 8-12 jam. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh tertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Penekanan pada daerah lebam mayat yang dilakukan setelah 812 jam tersebut tidak akan menghilang. Tidak hilangnya lebam mayat tersebut

dikarenakan telah terjadi perembesan darah akibat rusaknya pembuluh darah ke dalam jaringan di sekitar pembuluh darah tersebut. (1) Kaku mayat sendiri terjadi akibat kelenturan otot yang menghilang setelah kematian karena metabolisme tingkat selular sudah tidak ada lagi khususnya dalam pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi untuk mengubah ADP menjadi ATP yang dipakai oleh serabut aktin dan miosin agar tetap lentur. Pada orang yang telah mati, cadangan glikogen dalam otot lama kelamaan akan habis dan energi tidak terbentuk lagi, sehingga aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat ini mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal) dan mencapai puncaknya setelah 10-12 jam post mortal, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya yaitu dimulai dari otot wajah, leher, lengan, dada, perut dan tungkai. Pembusukan merupakan hasil dari autolisis dan aktivitas mikroorganisme. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim. Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24-48 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah. Pada korban ini belum ditemukan tanda-tanda pembusukan. Dalam ilmu tanatologi, dapat disimpulkan bahwa waktu kematian pada korban ini diperkirakan sekitar 12-24 jam, belum melewati 24 jam, karena kaku mayat seluruh tubuh sukar dilawan (menetap), lebam mayat pada punggung, paha, belakang leher tidak hilang dengan penekanan serta pembusukan belum ditemukan.

Pada pemeriksaan luar ditemukan bintik-bintik perdarahan di bawah mata kiri dan kanan. Hal ini disebut sebagai petechial haemmorrhages (perdarahan berbintik). Secara umum, proses perdarahan disebabkan oleh tiga hal yaitu hilangnya integritas pembuluh darah (keadaan yang paling sering dijumpai), trombositopenia (kadar trombosit yang rendah), atau defisiensi salah satu faktor pembekuan(5). Namun dalam kasus ini kematian disebabkan sebagai gangguan pertukaran pernapasan yang normal (asfiksia), maka penyebab perdarahan yang terjadi disebabkan oleh adanya kelainan pada endotel kapiler darah. Pada keadaan hipoksia dimana kadar oksigen yang rendah dan karbon dioksida yang meningkat, hal ini mengakibatkan rusaknya endotel kapiler darah sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieus spot. Perdarahan ini disebabkan oleh peningkatan tekanan intra kapiler dan peningkatan permeabilitas kapiler akibat anoksia. Kapiler yang lebih mudah pecah adalah kapiler pada jaringan ikat longgar, misalnya pada konjungtiva bulbi, palpebra dan subserosa lain. Kadangkadang dijumpai pula di kulit wajah. Ruptur pembuluh darah juga diperberat oleh peningkatan tekanan intravaskuler yang disebabkan oleh adanya kongesti (pembendungan). Peteki merupakan tanda yang tidak spesifik dan dapat terlihat di sklera dan konjungtiva dengan berbagai macam keadaan, tidak seluruhnya fatal dan tidak hanya ditemukan pada kematian yang disebabkan oleh asfiksia.(1)

Pada pemeriksaan luar juga tampak kebiruan pada bibir dan ujung jari tangan, dan ujung jari kaki pucat. Sianosis merupakan warna kebiru-biruan pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut yang tereduksi (Hb yang tak berikatan dengan O2). Sianosis biasanya tidak kelihatan sebelum jumlah absolut Hb yang tereduksi mencapai 5 g per 100 ml atau lebih pada seseorang dengan konsentrasi Hb yang normal (saturasi oksigen [SaO2] kurang dari 90 %). Ini akibat dari aliran darah vena yang terhambat sedangkan aliran darah arteri tidak terhambat, keadaan ini biasa dijumpai bila bahan penggantungnya lunak. Muka akan berwarna pucat bila aliran darah vena dan arteri terhambat, hal ini biasanya terjadi bila bahan penggantungnya keras. (1,5)

Pada leher ditemukan jejas tali luka lecet tekan mulai dari dagu sampai ke arah rambut belakang kiri dan kanan. Hal ini merupakan tanda yang ditemukan pada penggantungan dimana letak alat penjerat terhadap leher berjalan serong. Ini dapat diketahui dari ukuran alat penjerat terhadap dagu, telinga kanan dan kiri serta batas rambut bagian belakang. Selain itu, setelah jerat dilepas, akan tampak alur jerat pada kulit leher, alur dapat pucat, tepi alur berwarna merah coklat karena luka lecet. Kulit yang berbatasan dengan alur dapat mengalami sedikit pembendungan pembuluh darahnya sehingga timbul ekimosis, yang beberapa ahli dikatakan sebagai tanda intravital.

Ciri klasik dari kematian akibat asfiksia yaitu kongesti atau pembendungan yang sistemik dan kongesti pada paru-paru. Pada kasus ini, pada pemeriksaan dalam ditemukan adanya tanda-tanda bendungan pada organ paru, hati, limpa, ginjal dan otak. Hal ini merupakan suatu kongesti disebabkan oleh adanya obstruski aliran balik vena dan kapiler. Hal ini disebabkan oleh keadaan hipoksia yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan stasis aliran darah. Kongesti ini disebut sebagai kongesti pasif yaitu kongesti yang tidak menyangkut kenaikan jumlah darah yang mengalir ke suatu daerah, tetapi lebih merupakan gangguan aliran darah dari daerah tersebut (5).

Dari hasil pemeriksaan, disimpulkan bahwa, terdapat jejas luka intravital (luka yang didapat sewaktu korban masih hidup) pada leher, yang menunjukkan adanya penekanan yang sangat kuat yang dapat menyebabkan kematian korban sebagai akibat dari terhalangnya jalan napas.