Anda di halaman 1dari 11

Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan

Bab 1 Konsep, Prinsip, dan Syarat-syarat Kepemimpinan Pendidikan A. Konsep Dasar Kepemimpinan Pendidikan 1. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan Menurut bafadal (2003), kepemimpinan dapat didefinisikansebagai keseluruhan proses mempengaruhi, mendorong, mengajak, menggerakkan dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan Dengan demikian pada hakikatnya proses kepemimpinan dapat muncul bila terdapat unsure-unsur berikut : Orang yang memimpin Orang-orang yang dipimpin Kegiatan atau tindakan penggerakan untuk mencapai tujuan Tujuan yang ingin dicapai bersama

2. Teori-teori Kepemimpinan Beberapa inti sari teori kepemimpinan dari berbagai penulis : a. Teori Sifat (Traits Theory) Teori ini beranggapan bahwa apa yang membuat seorang pemimpin berhasil (efektif) bersumber dari kepribadian (personality) pemimpin itu sebagai seorang insan. Penganut teori ini berusaha mengidentifikasikan ciriciri seorang pemimpin yang berhasil dan yang tidak berhasil melalui sifat-sifat pemimpin. Sifat-sifat tersebut antara lain intelektual, hubungan sosial, keadaan emosional, keadaan fisik, imajinasi, kekuatan imajinasi dan sebagainya yang di perkirakan merupakan sifat-sifat yang dimiliki seorang pemimpin.

Pada dasarnya teori ini memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sebagai berikut : Tidak adanya penyesuaian atau kesamaan mengenai perincian sifatsifat yang dimaksud. Terlalu sulit untuk menetapkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Situasi dan kondisi tertentu memerlukan sifat-sifat pemimpin yang tertentu pula.

b. Teori Lingkungan (Environmental Theory) Teori ini berpendapat bahwa kemunculan pemimpin merupakan hasil dari waktu, tempat, dan situasi sesaat. Seorang pemimpin akan timbul dari situasi tertentu dan dari situasi tertentu ini sekelompok orang akan memerlukan seseorang yang memiliki kelebihan dan ketrampilan tertentu untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam situasi tersebut. Dengan demikian, kepemimpinan tidak terletak pada diri individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa. Kepemimpinan dapat dianggap sebagai faktor instrument pemimpin dalam memecahkan masalah yang muncul. Melalui teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan muncul sebagai pemimpin apabila ia berada dalam lingkungan sosial, yaitu suatu kehidupan kelompok dan memanfaatkan situasi dan kondisi sosial untuk bertindak dan berkarya mengatasi masalah-masalah social yang timbul. c. Teori Pribadi dan Situasi (Personal Situational Theory) Menjelaskan kepemimpinan sebagai akibat dari seperangkat kekuatan yang tunggal. Sementara itu adanya interaktif antara faktor pribadi dan faktor situasi diabaikan. Pada dasarnya teori ini mengakui bahwa kepemimpinan merupakan produk dari terkaitnya 3 faktor: Perangkai (sifat-sifat) pribadi dari pemimpin, Sifat dari kelompok dan anggota-anggotanya, dan Kejadian-kejadian (atau masalah-masalah) yang di hadapi oleh kelompok. d. Teori Interaksi dan Harapan (Interaction Expectation Theory) Mendasarkan pada variabel-variabel; aksi, reaksi, interaksi, dan perasaan. Oleh karena itu aksi-aksi pemimpin harus berisi sesuai dengan harapan untuk kemudian ditanggapi dengan reaksi sehingga dengan demikian terjadilah interaksi yang dipatrisipasikan dengan perasaan-perasaan tertentu. Interaksi tersebut diusahakan dapat memenuhi harapan-harapan bersama.

e. Teori Humanistik (Humanistic Theory) Menurut teori ini menjelaskan bahwa perlu dilakukannya otivasi pada pengikut dengan memenuhi harapan mereka dan memuaskan kebutuhan mereka. Dengan mengusahakan keseimbangan antara kebutuhan/ kepentingan perseorangan dan kebutuhan/ kepentingan umum organisasi. f. Teori Tukar-Menukar (Exchange Theory) Berdasarkan asumsi bahwa interaksi social menggambarkan suatu bentuk tukar-menukar dimana pemimpin dan yang dipimpin memberikan kontribusi dengan pengorbanan dan menerima dari pengorbanan yang mereka berikan. Maka dengan cara demikian terjadi gerak, yaitu gerak dari pengikut yang digerakkan oleh pemimpin. 3. Sumber-Sumber Kepemimpinan Kepemimpinan pendidikan dapat di golongkan melalui statusnya menjadi : Pemimpin Resmi, merupakan sebutan bagi mereka yang menduduki posisi pimpinan dalam suatu struktur organisasi pendidikan Pemimpin yang Tidak Resmi merupakan sebutan bagi mereka yang mampu mempengaruhi dan mendorong ke arah perbaikan pendidikan dan pengajaran, walaupun mereka tidak menduduki posisi pimimpinan dalam struktur organisasi pendidikan. Melalu penjabaran di atas akan lebih baik bila seorang pemimpin dalam struktur organisai pendidikan juga memiliki kelebihan-kelebihan yang berasal dari dirinya. 4. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan Pendidikan Sebelum menjelaskan tentang kepemimpinan pendidikan, berikut

merupakan fungsi-fungsi kepemimpinan secara umum, oleh Bales dan Slater (1955) melihat ada 2 fungsi utama dalam yang di tampilkan oleh pemimpin. 1) Dihubungkan dengan produktifitas seorang pemimpin 2) Berkaitan dengan dukungan sosio emosional dari anggota-anggota kelompok. Saat ini di jelaskan pembahasan tentang fungsi-fungsi kepemimpinan dalam pendidikan oleh Tahalele dan Indrafachrudi (1975) menyebutkan ada 2 fungsi primer pada kepemimpinan pendidikan :

1) Yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai. 2) Yang berkaitan dengan penciptaan suasana pekerjaan yang sehat dan menyenangkan. B. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Pendidikan Dapat dikemukakan beberapa prinsip sebagai berikut : 1. Prinsip Pelayanan Prinsip pelayanan berarti bahwa kepemimpinan sekolah harus menerapkan unsurunsur pelayanan dalam kegiatan operasional di sekolahannya. Unsur pelayanan dititikberatkan pada diri pemimpin pendidikan (kepala sekolah). Yang difokuskan pada kepentingan dan perkembangan peserta didik dan para guru agar dapat mencapai prestasi yang diharapkan. 2. Prinsip Persuasi Prinsip persuasi menekankan agar dalam menjalankan kepemimpinannya, pemimpin pendidikan memperhatikan dan mempertimbangkan situasi dan kondisi setempat demi keberhasilan kepemimpinan pendidikan atau program pendidikan yang sedang dan akan dilaksanakan. Diharapkan agar segala sesuatu dapat berjalan secara serasi, seimbang dan selaras sehingga proses brlajar-mengajar dapart berlangsung secara wajar dan mantap. Dengan melihat beberapa faktor yang ada; faktor lingkungan, peraturan, dan kebijakan yang berlaku. 3. Prinsip Bimbingan Prinsip bimbingan ini menyatakan bahwa dalam melaksanakan kepemimpinannya, pemimpin pendidikan hendaknya membimbing peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan perkembangan peserta didik di lembaga yang ada dalam wilayah pembinaannya. 4. Prinsip Efisiensi Prinsip ini merupakan prinsip yang bersifat ekonomis. Pada dasarnya prinsip ini menekankan pada pengolahan daya guna yang maksimal dalam melaksanakan kepemimpinannya. Yang berkaitan dengan dana, waktu, tenaga, dan pikiran. 5. Prinsp Berkesinambungan Prinsip berkesinambungan adalah prinsip yang bertujuan agar kepemimpinan pendidikan ini tidak hanya diterapkan pada 1 waktu saja, tetapi perlu secara terus menerus selama mereka berada di sekolah. Hal ini menjadi penting karena dalam proses belajar-mengajar memerlukan waktu yang cukup lama dan panjang.

C. Syarat-syarat Kepemimpinan Pendidikan Seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin pendidikan harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Syarat-syaratnya yakni : 1. Syarat-syarat Formal Syarat-syarat formal seseorang yang menjabat sebagai pemimpin pendidikan tertuang dan dirumuskan secara lengkap dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republiki Indonesia Nomor 162/U/2003 Tentang Pedoman Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah 2. Syarat Fundamental Syarat Fundamental yang dimaksudkan adalah Pancasila yang merupakan falsafah Negara yang tidak dapat dilepas dari kegiatan pendidikan dan dasar-dasar pendidikan nasional. Pancasila ini dijadikan acuan/ dirujuk, dihayati, dan diamalkan. 3. Syarat-syarat Praktis Syarat-syarat praktis merupakan syarat-syarat yang berkaitan dengan tugas seharihari bagi pemimpin pendidikan, yang terbagi sebagai berikut : 1) Memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan kemampuan. 2) Memiliki kelebihan dalam kepribadian. 4. Syarat-syarat Kepemimpinan Lainnya Nawawi (1988) mengemukakan bahwa menjadi seorang pemimpin memiliki : a. Kecerdasan atau intellegensi yang cukup baik. b. Percaya diri dan bersifat membership. c. Cakap bergaul dan ramah tamah. d. Kreatif, inisiatif, dan memiliki kemauan berkembang menjadi lebih baik. e. Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa. f. Memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidangnya. g. Suka menolong, memberi petunjuk, menghukum secara konsekuen, bijaksana. h. Memiliki keseimbangan/ kestabilan emosional dan bersifat sabar. i. Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi. j. Berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab. k. Jujur, rendah hati, sederhana, dan dapat dipercaya. l. Bijaksana dan selalu berlaku adil, disiplin. m. Berpengetahuan dan berpandangan luas. n. Sehat jasmani dan rohani.

Bab 2 Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan A. Kepemimpinan yang Otokratis Pada dasarnya pemimpin yang otokratis memiliki sifat yang ingin berkuasa dan memperlihatkan kekuasaannya. Pemimpin yang seperti ini berpandangan bahwa maju-mundurnya seolah hanya bergantung pada kepemimpinannya. Pemimpin yang seperti ini merupakan tipe pemimpin yang pekerja keras, teliti dan tertib sertqa menghendaki bawahannya juga bekerja keras dan serius. Memiliki ketakutan dan kekhawatiran akan kinerja bawahannya. Sehingga pengawasan terhadap bawahannya sangat ketat yang mengakibatkan suasana sekolah menjadi tegang. B. Kepemimpinan yang Pseudo-Demokratis Seorang pemimpin yang pseudo-demokratis diibaratkan banyak memakai topeng. Ia berpura-pura memperlihatkan sikap demokratis di dalam

kepemimpinannya. Ia member hak dan kuasa kepada para guru untuk menetapkan dan memutuskan sesuatu, tetapi sesungguhnya ia bekerja dengan perhitungan. Di situ ia mengatur siasat agar kemauannya juga terwujud. Dengan demikian maka sifat-sifat seorang pemimpin yang disebut pseudodemokratis sebenarnya bersifat otokratis, tetapi dalam kepemimpinannya ia member kesan seperti demokratis. Yang disebut juga sebagai manipulasi diplomatis. C. Kepemimpinan yang Laissez-Faire Kepemimpinan yang Laissez-Faire menghendaki bawahannya diberi banyak kebebasan. Ia berpandangan bahwa biarlah para guru bekerja sesuka hatinya, berinisiatif, dan menjalankan kebijaksanaannya sendiri. Menghargai usaha para guru tidak menghalang-halangi dan tidak usah diawasi dalam menjalankan tugasnya. Pandangannya bahwa para guru akan bekerja dengan kegembiraannya tanpa kekangan. Namun pemimpin yang seperti ini bekerja tanpa rencana, sehingga suasana menjadi tidak teratur, kacau balau dan tidak disiplin. Kepemimpinan seperti ini dapat memperlihatkan ketidakmampuan, kemalasan seorang pemimpin dan sifat masa bodoh dan ketidak mengertian akan makna demokrasi.

D. Kepemimpinan yang Demokratis Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok yang secara bersama-sama berusaha dan bertanggung jawab mencapai tujuan bersama. Sehingga sosok pemimpin ini melibatkan para bawahannya dalam proses kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Serta menganggap bahwa baawqahannya merupakan sumber potensi yang berharga dan mempunyai peranan dalam uaha pencapaian tujuan. Melalui kepemimpinan demokratis mewujudkan suasana yang harmonis, munculnya ketaatan akan perencanaan dan pelaksanaan yang telah dibuat bersama. Para guru dapat dengan inisiatif dan inovatif mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas belajar-mengajar di kelas.

Bab 3 Perkembangan Teori Kepemimpinan Dalam Organisasi Pendidikan Pada dasarnya kepemimpinan pada supervisi bukanlah serangkaian

kompetensi yang dibuat oleh seseorang dalam suatu peranan. Akan tetapi, kepemimpinan adalah suatu pendekatan atau suatu cara kerja dengan manusia dalam suatu organisasi untuk menyelesaikan dalam suatu tugas. Dengan demikian orangorang yang berperan dalam kepemimpinan supervisi harus mengerti kondisi suatu organisasi dan memiliki tinjauan terhadap apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki organisasi dan menyambungkan perilaku-perilaku orang lain dengan struktur organisasi yang bersangkutan.oleh karena itu, untuk memimpin supervisor (pengawas) harus memiliki teori kepemimpinan. A. Asal Usul Organisasi Bangsa mesir kuno (sekitar 500 tahun SM ), memperlihatkan ketrampilan berorganisasi yang kompleks dalam membangun peramida. Bangsa Babylonia (sekitar tahun 2000-1700 SM), menciptakan monument megah yang disebut Code of Hammurabi. Cina (Ribuan tahun yang lalu), mempunyai program latihan yang kompleks untuk melatih para pemimpin dan ilmuan. Amerika serikat (Pada Permulaan Abad ke-19), revolusi industri mendorong studi perilaku kepemimpinan.

B. Situasi sebagai Struktur Organisasi Merekomendasikan suatu piramida struktur organisasi secara hierarki yang membatasi pengambilan keputusan dari atasan turun kepada bawahan. Pola tradisional ini yang dikenal sebagai organisasi formal. Melalui teori-teori yang berkembang (Frederick Taylor, Max Weber, dan Henry Fayol) dijelaskan sebagi berikut: Frederick Taylor (1911), dalam studi mengenai struktur sebagai dasar organisasi. Dalam bukunya tentang prinsip-prinsip manajemen ilmiah yang menyatakan bahwa proses kerja yang teliti dan mengatur kembali organisasi menurut garis fungsional. Henry Fayol (sekitar abad ke-19 dan ke-20), untuk mengungkapkan prinsipprinsip umum organisasi melalui bukunya yang berjudul manajemen umum dan organisasi. Ia berpendapat bahwa manajemen adalah jendral untuk semua usaha manusia dan prinsip yang dapat diterapkan dalam semua kegiatan manajemen. Max Weber, melalui analisisnya ia menetapkan suatu konsep birokrasi dan penyesuaian sistem administrasi pada kebutuhan organisasi yang kompleks dan luas. Melalui ketiga pandangan tersebus dapat kategorikan pada susunan 8dministrative yang didominasi oleh perhatian pada struktur. Kategori tersebut yakni : Organisasi formal yang kurang kompleks (organisasi lini). Organisasi formal yang memiliki garis hubungan sama dengan anggotaanggota staf tidak terikat dalam rantai kekuasaan. Organisasi formal yang lebih kompleks, dalam organisasinya terdapat beberapa lapis (berlapis tinggi dan berlapis tipis). Selama sekitaran abad tersebut pendidikan juga mengikuti pola struktur yang demikian, namun dengan perkembangan waktu sekolah-sekolah menggunakan birokrasi yang sudah di modifikasi. Dalam modifikasi tersebut di temukan suatu hal yang lebih fleksibel dan tanggap terhadap perubahan lingkungan pendidikan.

C. Proses sebagai Dasar Organisasi Sebagai dasar organisasi, proses meliputi suatu siklus yang berhubungan dengan perubahan langkah-langkah yang termasuk di dalamnya penganalisisan, perencanaan, penerapan, dan penilaian. Penyelidikan dalam ilmu pengetahuan social telah mengungkapkan variasi bidang pengetahuan social. Dengan pengungkapan ini telah mengungkapkan variasi bidang penemuan khusus yang mengagetkan dalam penganalisisan proses organisasi. Beberapa teori yang di ungkapkan sebagai cara untuk melukiskan proses administrasi sekolah sebagai berikut : Teori Sistem (hasil dari ilmu pengetahuan fisika), memberikan konsep tentang saling ketergantungan dalam organisasi dan menjelaskan mengapa perubahan tersebut berpengaruh pada suatu organisasi pada satu pihak dan pada seluruh organisasi pada pihak lain. Sebuah sistem secara sederhana adalah sekelompok objek yang diperlakukan sebagai 1 kesatuan. Dengan menyerap teori sistem dalam administrasi pendidikan, semuanya merupakan proses pelaksanaan organisasi sekolah yang memiliki arti penting atau wilayah sekolah secara keseluruhan. Dalam teori modern, konsep sistem kedudukan administrasi sebagai kekuatan sentral dalam organisasi yaitu 1 kekuatan yang mengkoordinasikan dan merangkaikan kegiatan. Peranan tersebut mengharuskan administrator memahami dan terampil dalam mengkonseptualisasikan hubungan yang terjadi di dalamnya Dalam perngkat sekolah, sebuah sistem boleh dirumuskan sebagai seperangkat komponen yang datur sedemikian rupa untuk tercapainya tujuan yang diharapkan. Komponen tersebut terdiri atas fasilitas, material, dana, guru pengujian dan sekumpulan variabel pengembangan lain untuk mendidik anak-anak. Nilai nyata dari perspektif sistem bagi supervisor sebagai alat mengidentifikasi kondisi-kondisi yang tidak menyumbang atau menghambat dalam arus kegiatan. Dapat dikatakan, sekali dapat diidentifikasikan kekurangan sistem dapat ditargetkan kembali untuk membuat rancangan. Sistem dapat juga membantu pendidik membangun model-model kondisi belajar yang di inginkan.

D. Relasi-Relasi sebagai Dasar Organisasi Studi relasi diantara orang dalam organisasi merupakan focus yang lain yang perlu diperhatikan. Hal ini dapat didekati dari sejumlah variabel. Misalnya komunikasi, kebutuhan individual, semangat juang, motivasi, dan kelompok kerja kecil studi relasi organisasi telah diperkaya oleh studi kepemimpinan dan member petunjuk terhadap fungsi organisasi. Secara keseluruhan, studi mengenai organisasi dari perspektif relasi menawarkan praktik supervisor dengan berbagai pemahaman tentang peranan mereka dalam mempengaruhi perilaku manusia. E. Pengaruh sebagai Dasar Organisasi Studi mengenai pengaruh terdiri atas : a. Perubahan Menurut Guba (1967), disini guba mengidentifikasi menjadi 3 macam perubahan yakni : 1. Evolusioner (perubahan alamiah) 2. Homeostatic (perubahan rektif) 3. Neomobilisrik (perubahan direncanakan) Menurut Chin (1969), mengenai strategi perubahan yakni : 1. Rasional empirik 2. Normatif-reedukatif 3. Wibawa-paksa

b. Kepemimpinan Kepemimpinan merupakan suatu kekuatan pendorong yang tidak dapat diraba dalam suatu perubahan yang direncanakan. Usaha-usaha untuk mempelajari dan menganalisis kepemimpinan telah berkembang melalui 3 tahap penyelidikan : Studi mengenai sifat-sifat kepemimpinan. Analisis situasi atau lingkungan yang mempengaruhi kepemimpinan. Studi mengenai pertukaran atau transaksi diantara pemimpin dan pengikut. c. Pengambilan keputusan Pengembangan kebijakan atau kewenangan keputusan untuk menuntun keputusan lain dilengkapi oleh supervisor dengan cara mengature dan

menstabilkan organisasi melalui perubahan waktu. Bidang-bidang khusus dalam studi kebijakan, termasuk pembentukan kebijakan, cara-cara untuk pengambilan keputusan, mempengaruhi badan-badan luar dalam pembentukan kebijakan, dan pemecahan konflik banyak mendapat perhatian studi kebijakan. Minat dalam kebijakan dan pengambilan keputusan akan berlanjut dan berkembang luas. Sehubung dengan hal tersebut, Compbell mengamati hal-hal tersebut dan diterjemahkan sebagai berikut dalam menjalankan perubahan: 1. Keefektifan sekolah. 2. Kerepresentatifan pembuat kebijakan sekolah. d. Peranan politik pendidikan Politik dapat dirumuskan sebagai suatu seni atau ilmu pengetahuan memerintah, tetapi perhatian penyelidikan terpusat pada aplikasi kewibawaan untuk mempengaruhi organisasi. Sistem sekolah diadministrasikan dalam struktur kewibawaan yang kompleks. Badan pendidikan tidak melakukan wewenang akhir atas kebijakan pendidikan. Dalam relitasnya badan pendidikan hanya melakukan kewibawaan sampai ia dapat mensahkan keputusan (membuat keputusan itu dapat diterima) dalam sistem politik. Badan pendidikan tidak dapat memaksa kebijakan yang tidak dapat diterima oleh orang yang dilayaninya dan menahan kebijakan itu. Dengan demikian, orang yang bergerak di sekolahan harus secara continue mencari persetujuan masyarakat mengenai pelaksanaan kebijakan.