Anda di halaman 1dari 12

PENYESUAIAN DOSIS FENITOIN

Kelompok

PENDAHULUAN

Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang sebagai akibat dari gangguan fungsi otak secara intermiten oleh karena lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron otak secara paroksismal yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi. Antikonvulsi (antikejang) digunakan untuk mencegah dan mengobati epilepsy dan bangkitan non-epilepsi Fenotion (difenilhidantion) sampai saat ini masih tetap merupakan obat antiepilepsi, khususnya untuk bangkitan parsial dan bangkitan umum toknik klonik

Farmakologi Fenitoin

Fenitoin diindikasikan terutama untuk bangkitan tonikklonik serta bangkitan parsial atau fokal Fenitoin juga bermanfaat terhadap bangkitan parsial kompleks. Indikasi lain fenitoin adalah untuk neuralgia trigeminal, dan aritmia jantung
Sebagai antiaritmia, fenitoin termasuk dalam golongan obat antiaritmia kelas IB

Mekanisme Kerja

Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi; Mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.

Patofisiologi Epilepsi

Ditandai dengan gangguan paroksimal akibat penghambatan neuron yang tidak normal atau ketidakseimbangan antara neurotransmiter eksitatori dan inhibitori Gajala kejang yang spesifik, tergantung pada jenis kejang. Jenis kejang pada setiap pasien dapat bervariasi, namun cenderung sama.
Somatosensori atau motor fokal terjadi pada kejang kompleks parsial. Kejang tonik-klonik umum mempunyai episode kejang yang lama dan terjadi kehilangan kesadaran Kejang absens mempunyai efek yang ringan dengan gangguan kesadaran yang singkat

Ambang Terapi dan Kadar Toksik fenitoin

Salah satu contoh obat yang memiliki kisar terapeutik sempit adalah fenitoin

fenitoin mengurangi kejadian aritmia ventrikel dalam tahun pertama bila kadar dalam plasma dipertahankan diatas 10 g/mL; kadar setinggi ini diperoleh dengan dosis 400-500mg/hari.

Dosis fenitoin selalu harus disesuaikan untuk masingmasing individu

Parameter Farmakokinetika Klinik


Parameter Usia Farmakokinetik lanjut Vd (L/Kg) 44,4 18,1 10,6 3,65 50,5 36,9a Usia Muda Anak Bayi Dewasa

40,9 8,5

0,78

0,3-1,0

0,65

T (Jam) CL a= mL/menit b = mL/ jam/kg

11,96 3,7

15 (2129) 15,521,5b

48,4 16,6a 108b

Fenitoin hanya sedikit diabsorpsi di lambung

karena walaupun berada dalam bentuk tak terion


tapi kelarutannya dalam air sangat rendah

Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam 3-12 jam. Bila dosis muatan (loading dose) perlu diberikan, 600-800mg, dalam dosis terbagi antara 8-12 jam, kadar efektif plasma akan tercapai dalam waktu 24 jam. Distribusi fenitoin keberbagai jaringan tubuh terjadi dalam kadar yang berbedabeda. Pengikatan fenitoin oleh protein, terutama oleh albumin plasma kira- kira 90%.

Parameter Farmakokinetika dan Regimen Dosis

Gangguan saluran cerna misalnya diare/ gastroenteritis, waktu transit fenitoin dalam saluran cerna menurun, turunnya waktu untuk obat melarut dan diabsorpsi sehingga mengakibatkan turunnya jumlah obat yang diabsorpsi Gangguan ginjal/pasien dengan kadar serum albumin yang rendah, ikatan fenitoin dengan plasma dapat dipengaruhi oleh kondisi klinis tersebut. Pada penyakit hati berat, terutama dengan disfungsi ginjal, metabolisme obat fenitoin akan menurun sehingga kadar obat bebas akan meningkat dan menyebabkan meningkatnya toksisitas SSP.

Penyesuaian regimen dosis ini amat di perlukan karena banyak faktor yang mempengaruhi keadaan klinik pasien. Pada tahap klinik, diperlukan regimen dosis yang akurat bagi pasien agar kadar obat di dalam darah senantiasa berada dalam kisar teraupetik.

KESIMPULAN

Fenitoin hanya sedikit diabsorpsi di lambung karena walaupun berada dalam bentuk tak terion tapi kelarutannya dalam air sangat rendah. Absorpsi terjadi di duodenum. Absorpsi fenitoin yang diberikan peroral berlangsung lambat, sesekali tidak lengkap; 10% dari dosis oral diekskresi bersama tinja dalam bentuk utuh. Pemberian fenitoin secara Im, menyebabkan fenitoin mengendap ditempat suntikan kira-kira 5 hari dan absorpsi berlangsung lambat. Penyesuaian regimen dosis ini amat di perlukan karena banyak faktor yang mempengaruhi keadaan klinik pasien..

Terima kasih