Anda di halaman 1dari 15

REKONSTRUKSI PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD IQBAL (1873 1938 M) Oleh: Miftahulhaq

A. PENDAHULUAN Sejarah perkembangan pemikiran dalam Islam mengalami pasang surut dari masa ke masa. Pada zaman klasik Islam (650 1250 M), pemikiran Islam berkembang secara rasional agamis di mana pemikiran ulama filsafat dan sains yang berkembang saat itu dipengaruhi dan terikat pada ajaran-ajaran yang terdapat dalam al-Quran dan Sunnah. Inilah yang membedakan pemikiran Islam zaman klasik dengan perkembangan pemikiran Yunani yang bercorak sekuler. Padahal, perkembangan pemikiran zaman klasik Islam tidak dapat dilepaskan dari persepsi filsafat dan sains Yunani.1 Perkembangan pemikiran Islam pun mencapai puncak kejayaannya pada masa ini di kota Baghdad (Iraq) dan Andalusia (Spanyol). Tidak hanya perkembangan ilmu-ilmu agama seperti tafsir, hadis, akidah, tasawuf dan sebagainya, tetapi juga berkembangan pemikiran sains dan filsafat Islam. Ketika zaman Islam klasik, bangsa Eropa berada dalam zaman pertengahan yang terbelakang. Banyak orang-orang Eropa seperti Inggris, Perancis, dan lain-lain yang berdatangan untuk belajar ke pusat kota Islam di Andalusia Spanyol. Setelah mereka kembali ke negara masing-masing dan mengembangkan keilmuan yang mereka dapat dengan melakukan penerjemahan karya-karya pemikir Islam ke dalam bahasa Latin. Namun, berbeda dengan Islam perkembangan pemikiran yang terjadi di Eropa dalam masa Renaisans dan Modern justeru mendapat pertentangan dari Gereja. Sehingga pemikiran

Nasution, Harun, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, Bandung: MIzan, 1998, hal. 7

filsafat dan sains pun berkembang sama seperti zaman Yunani yang sekuler. Tetapi justeru inilah yang mengantarkan bangsa Eropa pada masa keemasannya.2 Pada saat Eropa mengalami kemajuan dalam pemikiran, umat Islam yang berada dalam zaman pertengahan justeru terjerambab dalam stagnasi dan kejumudan dalam pemikirannya. Masa inilah yang dinyatakan sebagai zaman pemikiran tradisional (1250 1800 M). Pada zaman pemikiran ini para ulama Islam bukan hanya terikat pada al-Quran dan Hadis, tetapi juga ajaran hasil ijtihad ulama zaman klasik yang amat banyak jumlahnya. Ulama pada zaman ini pun terjebak dalam ruang lingkup pemikiran yang sempit dan tidak memiliki kebebasan berfikir. Akibatnya sains dan filsafat serta ilmu-ilmu agama tidak berkembang, atau bahkan hilang dari peredaran.3 Hal ini berbeda dengan bangsa Eropa yang mengalami kemajuan dan keemasan dalam perkembangan pemikiran filsafat dan sains. Kontak umat Islam dengan Barat terjadi kembali ketika awal ke 18 M, seiring terjadinya kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa di beberapa negara Timur Tengah dan Asia. Kontak inilah yang mendorong terciptanya proses pembaharuan pemikiran Islam di beberapa negara Timur Tengah. Umat Islam saat itu seakan terkejut melihat kemajuan Barat yang meniru kejayaan Islam zaman klasik. Sehingga muncullah keinginan untuk kembali meraih kejayaan tersebut. Maka lahirlah beberapa pembaharu pemikir Islam, seperti Muhammad Abduh dan Jamaludin al-Afghani di Mesir, Ahmad Khan dan Muhammad Iqbal di India, dan lain sebagainya. Para pembaharu ini berpendapat bahwa untk mengejar ketertinggalan umat Islam harus menghidupkan kembali pemikiran rasional

2 3

Ibid., hal 8 Ibid., hal 8

agamis zaman Islam klasik dengan perhatian yang besar terhadap sains dan teknologi. Mulai saat ini pula Islam mulai masuk ke zaman Modern Dunia Islam.4 Tulisan ini selanjutnya akan membahas salah satu tokoh pembaharu pemikiran Islam yang lahir saat itu, yaitu Muhammad Iqbal. Tokoh ini lahir di India dan tidak hanya terkenal sebagai pemikir, tetapi juga sebagai penyair dan ahli politik.

B. PEMBAHASAN 1. Sejarah Hidup Muhammad Iqbal Muhammad Iqbal (selanjutnya disebut Iqbal) adalah seorang ulama besar yang mampu memadukan kemampuan pemikiran dan penyairan sekaligus. Ia dilahirkan di Sialkot, Punjab pada tanggal 22 Pebruari 1973 M.5 Namun ada juga yang menyatakan bahwa dia lahir tanggal 9 November 1877.6 Nenek moyangnya adalah orang-orang Brahmana Kasmir yang telah memeluk agama Islam kira-kira tiga abad sebelum dia lahir7, ayahnya Nur Muhammad adalah seorang sufi yang telah mendorongnya untuk menghafal al-Quran secara teratur. Dia merupakan salah seorang intelektual muslim yang sangat berperan di Anak Benua India, terutama dalam memprakarsai berdirinya negara Pakistan.8 Sejarah hidupnya Iqbal apat dibagi ke dalam tiga fase; pertama, fase awal saat ia berada di Pakistan. Fase ini dia didik langsung oleh orang tuanya yang memiliki jiwa
4 5

Ibid.,hal. 8-9

Raliby, Osman, Sedikit Tentang Iqbal, dalam Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Penerjemah Osman Ralybi, Jakarta: Bulan Bintang, 1966, hal. xiii. Lihat juga Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Intermasa, 1993, hal. 235 Esposito, Jhon L., Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Penerjemah Eva Y.N., dkk, Bandung: Mizan, 2002, hal. 321
7 8 6

Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xiii Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 235

keagamaan yang teguh dan kecenderungan-kecenderungan spiritual. Ia memulai belajarnya di Murray College Sialkot dan bertemu dengan Sayid Mir Hasan seorang ulama dan guru yang juga sahabat karib orang tuanya.9 Mir Hasan inilah selanjutnya yang telah memompakan semangat agama ke dalam rongga-ronga jiwanya sejak kecil. Sejak sekolah di Sialkot, Iqbal telah terlihat gemar sekali mengubah-ngubah syair dalam bahasa Urdu10 dan juga memiliki kecerdasan dalam berfikir. Hal inilah yang mendorong Mir Hasan untuk memintanya terus menuntut ilmu. Pendidikan dari ayah dan gurunya inilah yang sangat berkesan di hati Iqbal. Ini pula yang telah mengantarkannya menjadi seorang tokoh yang memiliki komitmen terhadap Islam secara utuh.11 Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sialkot, Iqbal melanjutkan studi di Government College, Lahore, dan memperoleh gelar Master of Art (MA). Di sini dia berkenalan dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis, pengarang The Preaching of Islam (Penyiaran Islam, 1896).12 Thomas Arnold adalah orang yang pertama memasukkan falsafah Barat ke dalam jiwa Iqbal, sebagaimana Mir Hassan yang telah memompakan semangat Islam. Atas nasehat Thomas, pada tahun 1905 Iqbal melanjutkan pendidikannya dalam falsafat Barat di Trinity College, Cambridge University.13 Kedua, fase sewaktu Iqbal berada di Eropa dan berkenalan dengan filsafat dan peradaban Barat secara langsung, serta terlibat secara intensif dalam masalah-masalah

Ibid., hal. 235 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xiii Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 236 Ibid., hal. 236 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xiv

10 11 12 13

religius-filosofis. Di Barat, Iqbal memulai pendidikannya di Trinity College, Cambridge University. Di samping itu, ia juga mengikuti kuliah-kuliah hukum di Lincolns Inn, London. Dua tahun kemudian dia pindah ke Munchen, Jerman, untuk lebih memperdalam studi filsafatnya di Universitas Munchen. Di Universitas inilah dia mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) setelah mempertahankan disertasi doktoralnya yang berjudul The Development of Metaphysics in Persia (Perkembangan Metafisika di Persia).14 Selama belajar di Eropa pemikiran Iqbal semakin meluas dan mendalam. Bukan saja karena kuliahnya, tetapi karena juga kegairahannya dalam menuntut ilmu berbagai macam bidang yang dilakukan secara mandiri di perpustakaan. Pandangannya mengenai kehidupan berbangsa pun berubah dan dia mulai tidak menyukai paham nasionalisme sempit yang saat itu menjadi sumber dari hamper semua kekacauan politik di dunia. Sebaliknya dia mulai tertarik pada pergerakan dan perjuangan bangsa-bangsa yang terjajah dan tertindas.15 Namun demikian Iqbal tetap mengagumi sifat dinamika bangsabangsa Eropa yang tidak mengenal puas dan putus asa. Sifat inilah yang kelak membentuk Iqbal menjadi seorang pembaharu yang mengembangkan dinamika Islam. 16 Ketiga, fase terakhir, yaitu saat dia kembali ke Pakistan, dan mulai mengolaborasikan gagasan-gagasan pembaharuan keislaman. Pada tahun 1908, Iqbal kembali ke Lahore dan bekerja sebagai pengacara dan menjadi dosen filsafat dan sastra Inggris di Goverment College, Lahore. Pada akhir tahun 1928 dan awal 1929, Iqbal mengadakan perjalanan ke India selatan dan memberikan ceramah di Hyderabad, Madras, dan Aligarh. Kumpulan ceramah yang disampaikannya kemudian disusun
14 15 16

Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 236 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xv Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 236

dalam satu buku yang berjudul The Reconstruction of Religions Thought in Islam (Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam). Buku ini membahas mengenai pembangunan kembali filsafat keagamaan dari Islam dengan memperhatikan tradisitradisi filosofis dari agama itu dan perkembangan-perkembangan terkahir dalam berbagai bidang pengetahuan manusia.17 Pada tahun 1930, Iqbal terlibat dalam politik dan terpilih sebagai presiden Liga Muslimin India. Sebenarnya Iqbal tidak terbiasa dengan politik, namun Iqbal senantiasa untuk berpolitik.18 Keterlibatannya dalam politik ini dia jalani hingga akhir hayatnya. Dan dia pun dikenal sebagai salah seorang arsitek negara Pakistan. Iqbal wafat pada tanggal 21 April 1938, setelah kurang lebih tahun melawan penyakit ginjal dan kerongkongannya.19

2. Pemikiran Keagamaan Muhammad Iqbal Iqbal hidup dalam periode kekuasaan kolonial Inggris. Pada periode ini kaum Muslim di India sangat dipengaruhi oleh pemikiran religious Syah Wali Allah (17031762) dan Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1898). Syah Wali Allah dikenal sebagai pemikir Muslim pertama yang menyadari bahwa kaum Muslim tengah menghadapi zaman modern yang di dalamnya asumsi dan keyakinan religious lama mendapat tantangan serius. Sedangkan Sir Sayyid Ahmad Khan, dengan gerakan Aligarhnya, berusaha memperbaharui Islam, mempopulerkan pendidikan Barat, memodernisasikan budaya muslim, dan mendorong kaum Muslim bekerja sama dengan pemerintah Inggris untuk mendapatkan bagian yang adil dalam pemerintahan dan kerangka politik India di
17 18 19

Ibid., hal. 236 Esposito, Jhon L., Ensiklopedi, hal. 322 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xviii

bawah petunjuk Inggris. Warisan semangat intelektual kedua tokoh ini selanjutnya diwarisi oleh Iqbal.20 Iqbal berpendapat bahwa kemunduran umat Islam selama hampir lima ratus tahun terakhir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:21 a. Adanya kebekuan dalam pemikiran. Hukum dalam Islam telah sampai kepada keadaan statis. Kaum konservatif dalam Islam berpendapat bahwa rasionalisme yang ditimbulkan golongan Mutazilah akan membawa kepada disintegrasi dan dengan demikian berbahaya bagi kestabilan Islam sebagai kesatuan politik. Untuk memelihara itu kaum konservatif tersebut lari ke syariat sebagai alat yang ampuh untuk membuat umat tunduk dan diam. b. Adanya pengaruh zuhud yang terdapat dalam ajaran tassawuf, yang mementingkan perhatian harus dipusatkan kepada Tuhan dan apa yang berada di balik alam materi. Hal ini akhirnya membawa kepada keadaan umat kurang mementingkan soal kemasyarakatan dalam Islam. Kondisi inilah yang mendorong munculnya faham fatalisme yang menyebabkan umat Islam pasrah padanasib dan enggan bekerja keras.22 c. Kehancuran Baghdad sebagai pusat kemajuan pemikiran umat Islam di pertengahan abad ketiga belas. Menurut Iqbal ini adalah penyebab utama dari kemunduran Islam. Akibat kehancuran ini para ulama lebih memikirkan dan mengusahakan keseragaman hidup sosial dari seluruh umat sehingga dapat mengelakkan disintegrasi yang lebih mendalam. Karena ini pula para ulama menolak segala pembaharuan dalam bidang

20 21

Esposito, Jhon L., Ensiklopedi, hal. 323

Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, hal. 191
22

Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 236

syariat dan berpegang teguh pada hukum-hukum yang telah ditentukan ulama terdahulu. Pintu ijtihad mereka tutup. Berdasar pemikiran di atas, Iqbal mencoba untuk membangun kembali pemikiran Islam guna memajukan umat Islam, khususnya di India. Sebagaimana pembaharupembaharu lain, Iqbal ingin mengembalikan kejayaan Islam dengan mendialogkan kembali ajaran-ajaran Islam dengan filsafat dan sains serta perkembangan teknologi modern yang terus berkembang. Karena bagi Iqbal, Islam bukan hanya sekedar kepercayaan, tetapi juga gagasan kehidupan yang tumbuh dan maju, baik untuk orang seorang maupun untuk kehidupan masyarakat. Dan untuk itu Islam menolak pandangan statis kuno tentang alam semesta dan lebih mendukung suatu pandangan dinamik.23 Namun hal penting yang perlu dicatat adalah pengingatan Iqbal terkait upaya mendialogkan antara Islam dan filsafat dan sains. Iqbal menyatakan bahwa tidaklah apa yang dinamakan kesudahan dalam pemikiran filosofis itu. Karena pengetahuan bertambah maju dan jalan segar terbuka bagi pikiran, maka pandangan-pandangan lain adalah mungkin. Kewajiban kita adalah untuk memperhatikan dengan teliti kemajuan dari pemikiran manusia tersebut, dan untuk menjaga agar sikap mengecam terhadap pemikiran itu tidak ada, adalah dengan selalu merdeka dan bebas. 24 Dan yang mengontrol sikap merdeka dan bebas dari pikiran kita adalah al-Quran dan as-Sunnah. Terkait pandangan Iqbal mengenai sebab kemunduran umat Islam saat itu, setidaknya ada dua pemikiran Iqbal yang dapat dijadikan sarana dalam memajukan Islam, yaitu sebagai berikut:

Bilgrami, H.H, Iqbal Sekilas Tentang Hidup dan Pikiran-Pikirannya, Penerjemah: Djohan Effendi, Jakarta: Bulan Bintang, 1982, hal. 33 dan 38 Iqbal, Muhammad, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Penerjemah: Osman Ralybi, Jakarta: Bulan Bintang, 1966, hal. xxvii
24

23

a. Ijtihad Ijtihad secara bahasa dapat diartikan berusaha sungguh-sungguh dengan mencurahkan tenaga. Istilah ini mempunyai akar kata yang sama dengan dengan istilah jihad. Namun dalam perkembangannya, istilah ijtihad menjadi konsepsi tersendiri, bahkan berkembang menjadi suatu metodologi ilmu hukum dan ilmu syariat pada umumnya. Dalam ilmu ushul fiqh, ijtihad sudah memiliki rambu-rambu khusus dalam proses pengambilan kesimpulan hukum (istimbath).25 Rambu-rambu inilah yang selanjutnya akan menentukan kualitas hasil ijtihad dan pemberlakuannya bagi pedoman kehidupan masyarakat. Terlepas dari berbagai rambu-rambu ijtihad yang difahami oleh ulama ushul fiqh. Iqbal berpendapat bahwa ijtihad merupakan prinsip gerakan dalam struktur Islam.26 Bagi Iqbal, hukum dalam Islam sebenarnya tidak bersifat statis, tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pintu ijtihad pun tidak pernah tertutup. Lebih jauh dia menyatakan bahwa Islam pada hakekatnya mengajarkan dinamisme. Al-Quran senantiasa menganjurkan pemakaian akal terhadap ayat atau tanda yang terdapat dalam alam seperti matahari, bulan, pertukaran siang dan malam, dan sebagainya. Islam menolak konsep lama yang mengatakan bahwa ala mini bersifat statis. Tetapi sebaliknya Islam mempertahankan konsep dinamisme dan mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup sosial manusia. Faham dinamisme Islam ini selanjutnya mendorong Iqbal untuk membuat syair-syair yang mengajak umat Islam supaya bergerak dan jangan diam. Karena baginya intisari hidup adalah gerak, sedangkan hukum hidup adalah menciptakan, sehingga dia pun

Rahardjo, M.Dawam., Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, Bandung: Mizan, 1999, hal. 132
26

25

Iqbal, Muhammad, Pembangunan, hal. 172

berseru kepada umat Islam supaya bangun dan menciptakan yang baru. Begitu tinggi dia menghargai gerak, sehingga dia menyebut bahwa orang kafir yang aktif lebih baik dari muslim yang suka tidur.27 Dengan kata lain, ijtihad yang difahami Iqbal adalah bagaimana selalu melakukan penyegaran pemikiran keagamaan dalam Islam dengan historisitas keberagamaan manusia. Yaitu dengan cara mencermati kembali makna normatif nas-nas al-Quran dan Sunnah secara lebih kontekstual, sambil juga mengaitkannya secara langsung dengan persoalan-persoalan historis keberagamaan Islam kontemporer.28 Namun hal yang perlu dicatat menurut Iqbal, terkait dengan pandangan dinamis al-Quran adalah bahwa walaupun al-Quran tidak bertentangan dengan perkembangan pemikiran, kita tidak boleh melupakan bahwa hidup itu bukanlah semata-mata hanya perubahan saja, tetapi juga mengandung unsur pemeliharaan (conservation).29 Iqbal berharap generasi muda mengikutinya dalam berijtihad secara

bertanggungjawab, menafsirkan al-Quran dan Sunnah serta menyusun pendapat baru dengan menerapkan deduksi analitis. Iqbal berharap meletakkan dasar-dasar bagi agama dan ilmu untuk menemukan kesalingselarasan yang memungkinkan kaum Muslim mempelajari ilmu modern dan memanfaatkan teknologi guna meningkatkan eksistensi material mereka.30

27 28

Nasution, Harun, Pembaharuan, hal. 191-192

Abdullah, M. Amin., Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer, Bandung: Mizan, 2000, hal. 42
29
30

Iqbal, Muhammad, Pembangunan, hal. 193 Esposito, Jhon L., Ensiklopedi, hal. 323

10

b. Nasionalisme dan Demokrasi Nasionalisme adalah kebangsaan, cinta tanah air, atau faham kebangsaan.31 Nasionalisme yang difahami Iqbal berbeda dengan nasionalisme bangsa Eropa yang terdapat bibit-bibit materialisme dan ateisme yang merupakan ancaman besar bagi perikemanusiaan. Dan dia pun berpendapat bahwa akan sulit menggabungkan nasionalisme India yang mencakup Hindu dan Muslim. Karena ia curiga dalam nasionalisme India terletak konsep Hinduisme dalam bentuk baru.32 Berdasar ini pula Iqbal berpendapat perlu negara Islam, sebagai negara terpisah dari negara India. Negara ini selanjutnya disebut negara Pakistan. Obsesi Iqbal mengenai terbentuknya negara sendiri bagi komunitas muslim tidaklah bertentangan dengan paham Pan-Islamisme. Ia menyatakan bahwa Islam bukan nasionalisme dan bukan pula imperalisme, melainkan liga bangsa-bangsa yang mengakui batas-batas suatu daerah dan menerima perbedaan bangsa untuk mempermudah hubungan sesama mereka, bukan untuk membatasi cakrawala sosial para anggotanya.33 Nasionalisme Iqbal ini lahir dari semangat agama dan ukhuwwah Islamiyah yang sangat mendalam. Ini terlihat jelas dari sikap-sikap politiknya setelah kembali dari Eropa di tahun 1908. Di mana dunia Islam saat itu sedang dalam kegoncangan politik karena adanya imperalisme Barat. Keadaan ini menimbulkan perasaan dan gerakan Pan Islamisme di anak benua Indo-Pakistan. Iqbal bukan saja menamakan dirinya Pan-Islamisme, tetapi melalui syair-syairnya yang tidak meragukan lagi dia menekankan bahwa sebenarnya ide Pan Islamisme itulah yang ingin dicapainya. Dia berkehendak adanya world-wide Islamic state di mana seluruh umat Islam hidup
31 32 33

Abdillah, Pius, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya: Arkola, t.t, hal. 410 Nasution, Harun, Pembaharuan, hal. 193 Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 237

11

adil dan makmur secara satu persaudaraan Islam tanpa dibatasi oleh suku, warna kulit, dan daerah. Masyarakat Islam seperti inilah yang dia gambarkan, yang kembali kepada al-Quran dan sunnah. Karena al-Quran dan sunnah menurut keyakinannya yang akan mendinamisir gerakan Islam dan menjamin

kemenangannya. Dengan kata lain, dunia Islam yang diimpikan Iqbal adalah suatu dunia yang diperintah oleh ad-Din, bukan oleh politik ajaran Barat, tetapi politik yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah.34 Sedangkan terkait demokrasi, Iqbal dalam pandangan Syafii Maarif tidaklah menolak demokrasi itu sendiri. Bahkan dia membela demokrasi sebagai aspek terpenting Islam yang dipandang sebagai suatu cita-cita politik. Dalam Islam sendiri, praktek demokrasi hanya berjalan selama 30 tahun, yaitu pada masa khulafaur Rasyidin (632-661 M). Iqbal justeru mengkritik keras terhadap demokrasi Barat. Ia mengritik demokrasi Barat karena system ini banyak menutupi kezaliman di samping sebagai senjata bagi imperalisme dan kapitalisme Eropa. Demokrasi Barat merupakan demokrasi yang kering dari aspek spiritual.35 Pandangan teori politik Iqbal menyatakan bahwa ada dua prinsip yang perlu mendapat perhatian, yaitu (1) Hukum Allah adalah yang paling tinggi, dan Islam tidak menyukai otoritas perorangan, (2) persamaan mutlak antara seluruh anggota komunitas. Berdasarkan prinsip ini, Iqbal menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi umat Islam menolak demokrasi, selama selalu mengecek dan berupaya menghilangkan kelemahan dan kecacatan demokrasi. Prinsip persamaan merupakan salah satu manifestasi tauhid yang berfungsi sebagai gagasan kerja (a working idea) dalam kehidupan sosio-politik umat Islam. Dan untuk mewujudkan ini diperlukan
34

Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xxi-xxii Maarif, Ahmad Syafii, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES, 1985, hal. 46-47

35

12

usaha sadar dan kreatif umat Islam dalam mengaktualisasikan nilai tauhid dalam tataran ruang dan waktu dengan kembali membangun tatanan sosio-politik yang bertujuan untuk menciptakan demokrasi spiritual sebagai tujuan terakhir umat Islam.36 Demikian dua pemikiran Iqbal yang dapat diketengahkan dalam tulisan ini. Namun hal penting yang perlu diingat adalah bahwa meskipun Iqbal banyak memperoleh pendidikan di Barat, Barat baginya bukanlah model dalam melaksanakan pembaharuannya. Kapitalisme dan imperialisme Barat tidak dapat diterimanya. Barat menurut penilaiannya banyak dipengaruhi materialisme dan telah meninggalkan agama. Umat Islam harus mengambil dari Barat hanyalah ilmu pengetahuannya.37 Kritik Iqbal terhadap Barat yang tetap berpegang teguh pada paham materialisme dapat dilihat dari syair Iqbal berikut ini: Wahai bangsa Barat, Bumi Tuhan ini bukanlah toko, Emas yang kausangka murni kini ternyata bernilai rendah. Kebudayaan bakal bunuh diri dengan pedangnya sendiri, Sangkar atas dahan yang lapuk tidaklah bisa menjadi aman.38

Sedangkan dengan sosialisme Barat dia dapat menerima. Dia bersikap simpatik terhadap gerakan sosialisme di Barat dan Rusia. Karena dia melihat antara Islam dan sosialisme terlihat ada persamaan.39 Inilah barangkali prinsip yang dapat dipegang oleh umat Islam saat ini. Hal mendasar yang diyakini Iqbal adalah mengenai keimanan. Iman baginya adalah unsur sari agama. Iman lebih dari sekedar perasaan, tetapi harus juga dikuatkan dengan
36
37

Ibid., hal. 47 Tim Penyusun, Ensiklopedi , hal. 237 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xiv Nasution, Harun, Pembaharuan, hal. 193

38

39

13

akal. Pemahaman ini selanjutya mengantarkan pada pemahaman agama sebagai suatu sistem kebenaran-kebenaran umum yang mempunyai akibat merubah perangai manusia jika segalanya itu dipegang teguh dan dilaksanakan dengan gembira.40 Pemahaman agama, termasuk iman, yang dikemukakan Iqbal di atas jelas terlihat memiliki makna yang dinamis. Agama tidak hanya difahami sebagai nilai-nilai kebenaran hidup, tetapi agama haruslah dapat merubah perangai manusia dengan gembira dan tanpa paksaan. Beragama dengan demikian harus menuntun setiap pemeluknya untuk berbuat dan bergerak guna memiliki perangai yang baik dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Ini pula yang menjadikan Iqbal berpendapat bahwa hidup itu harus bergerak dan berjuang mencapai yang terbaik.

C. PENUTUP Demikianlah Muhammaq Iqbal, salah seorang pembaharu pemikiran Islam yang lahir di India. Selain pemikir, dia juga seorang guru/dosen, penyair dan politisi. Pendidikan Islam yang mendalam mengantarkannya pada kedalaman dalam memahami ajaran Islam. Sedangkan kemampuannya memahami ilmu filsafat, mendorong dirinya untuk selalu memikirkan dan mendialogkan antara ajaran Islam dengan historisitas keberagamaan dan kehidupan manusia. Semangat tauhid yang dimilikinya menjadikan dia orang yang merdeka dan bebas. Walaupun dia belajar di Barat, tetapi dia tetap mengritiknya dan selanjutnya mengambil yang baik bagi pengembangan pemikiran Islam. Baginya hidup itu selalu bergerak. Sebagai tertuang dalam salah satu bait syairnya, Hidup di dunia ini adalah gerak, berjuang; ini adalah hokum tetap dari dunia.41 Wallahu Alam.
40

Iqbal, Muhammad, Pembangunan, hal. 1-2 Raliby, Osman, Sedikit..., hal. xv

41

14

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Pius, t.t, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, Surabaya: Arkola Abdullah, M. Amin., 2000. Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer, Bandung: Mizan Bilgrami, H.H, 1982. Iqbal Sekilas Tentang Hidup dan Pikiran-Pikirannya, Penerjemah: Djohan Effendi, Jakarta: Bulan Bintang Esposito, Jhon L., 2002. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Penerjemah Eva Y.N., dkk, Bandung: Mizan Iqbal, Muhammad, 1966. Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Penerjemah: Osman Ralybi, Jakarta: Bulan Bintang Maarif, Ahmad Syafii, 1985. Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES Nasution, Harun, 1996. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang Nasution, Harun, 1998. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan Rahardjo, M. Dawam., 1999. Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, Bandung: Mizan Raliby, Osman, 1966. Sedikit Tentang Iqbal, dalam Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Penerjemah Osman Ralybi, Jakarta: Bulan Bintang Tim Penyusun, 1993. Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Intermasa

15