P. 1
Modul Penyuluhan Phbs

Modul Penyuluhan Phbs

|Views: 65|Likes:
Dipublikasikan oleh Katie Lane

More info:

Published by: Katie Lane on Dec 28, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

MODUL PENYULUHAN PHBS HEALTH PROMOTION BACK TO SCHOOL

DAFTAR ISI I. II. DESKRIPSI SINGKAT TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Pembelajaran Umum B. Tujuan Pembelajaran Khusus III. POKOK BAHASAN A. Pokok Bahasan 1 : Penyuluhan CPTS sebagai usaha menjaga kesehatan anak sekolah terhindar dari Diare. B. Pokok Bahasan 2 : Perencanaan IV. V. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN URAIAN MATERI Pokok Bahasan 1 Pokok Bahasan 2 Pokok Bahasan 3 : Pengertian dari Penyakit Diare dan Penyebabnya : Menjelaskan pentingnya melakukan CPTS : Mempraktekkan cara cuci tangan yang baik dan benar

MODUL PENDIDIKAN CPTS PADA ANAK SEKOLAH DASAR HEALTH PROMOTION BACK TO SCHOOL

A. DESKRIPSI SINGKAT Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi Buang Air Besar (BAB) lebih sering dari biasanya, yaitu 3 kali sehari atau lebih. WHO memperkirakan bahwa diare dan ISPA adalah penyebab dari 2/3 kematian anak di dunia. Penyakit diare (termasuk disentri, tipus, dan kolera) merupakan penyebab kematian terbesar kedua di dunia. Hingga kini penyakit diare membunuh 2 hingga 3 juta anak di dunia setiap tahunnya. UNICEF memperkirakan bahwa diare saja membunuh satu anak setiap 30 detik. Angka kematian anak ini pada umumnya terjadi di daerah miskin di negara-negara dengan pendapatan rendah hingga sedang. Kotoran manusia juga menyebabkan kolera. Satu gram kotoran manusia, kira-kira mengandung sepuluh juta virus dan satu juta bakteri. Virus dan bakteri ini menulari orang-orang yang sehat melalui berbagai macam media, seperti tanah, air, lalat, bahkan tangan kita. Selain itu, Penyakit cacing gelang (ascariasis) justru diawali setelah telur cacing gelang dewasa, dan tidak sengaja tertelan ke dalam lambung. Telur cacing gelang bisa masuk ke mulut karena banyak anak-anak mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan. Maka telur cacing gelang yang semula menempel pada jari-jari tangan masuk ke dalam mulut melalui tangan mereka sendiri. Selain itu makanan dan buah-buahan yang belum dicuci bersih atau sayur mayur yang belum dimasak sampai matang bisa juga menyebabkan telur-telur cacing gelang tadi masuk ke badan orang. Daya tahan telur cacing gelang amatlah kuat. Mereka tidak akan mati dalam sayuran. Oleh karena itu sebaiknya sayuran dimasak terlebih dahulu sebelum dihidangkan di meja makan. Telur cacing gelang sangat kecil dan tidak mungkin terlihat oleh mata telanjang. Mencuci tangan dapat menghambat penyebaran dan menekan penyakit

diare. Berdasarkan berbagai penelitian, mencuci tangan dengan sabun, terlebih lagi setelah bersentuhan dengan kotoran manusia, dapat menurunkan risiko penyakit diare antara 42% 47%. Bahkan cuci tangan ternyata juga dapat menurunkan risiko penyakit infeksi saluran pernafasan sampai dengan 30%.

Peningkatan kualitas air memperlihatkan pengurangan penyakit diare sebanyak 16%, peningkatan jumlah air mengurangi 30% penyakit diare, perbaikan sanitasi mengurangi penyakit diare hingga 32%, sedangkan mencuci tangan mengurangi hingga 45%. Beberapa penelitian dan fakta menunjukkan, bahwa anak-anak di pemukiman yang sanitasi lingkungannya buruk, setelah menerima kampanye dan melakukan cuci tangan mempunyai tingkat risiko terkena diare sampai 50% lebih rendah dibandingkan anak-anak di lingkungan yang sanitasinya baik tetapi tidak melakukan cuci tangan

B. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti pendidikan ini dokter kecil dapat mengetahui dampak, manfaat, serta pentingnya melakukan cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Dokter kecil mengetahui Pengertian dan Penyebab penyakit Diare. Dokter kecil memahami pentingnya melakukan CPTS Dokter kecil bisa melakukan cara cuci tangan yang baik dan benar

C. POKOK BAHASAN Penyuluhan CPTS sebagai usaha menjaga kesehatan anak sekolah dan mencegah dari penyakit Diare Perencanaan D. LANGKAH – LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini sebanyak 1 Jpl @ 45 menit untuk memudahkan proses pembelajaran, dilakukan langkah – langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut : A. Langkah 1 ( 30 menit) : 1. Pembicara memperkenalkan diri 2. Pembicara menyampaikan tujuan umum dan tujuan khusus 3. Menggali pendapat peserta dengan melakukan pre test B. Langkah 2 ( 30menit) :

1. Pembicara menyampaikan materi Inti dari Pentingnya CPTS Bagi Anak Sekolah, dengan tema “Health Promotion Back To School ” C. 1. 2. Langkah 3 ( 45menit) : Pembicara membuka sesi tanya jawab terhadap peserta Meminta komentar, kritik, dan saran terhadap pendidikan yang telah

dilaksanakan 3. Diadakan Ice breaking yang bertujuan untuk mencairkan suasana dan

menghilangkan ketegangan yang dipandu oleh salah satu panitia acara yang telah ditunjuk. D. Langkah 4 (30 Menit)

1. pembicara mempraktekkan cara mencuci tangan yang baik dan benar.

E. URAIAN MATERI 1. Pokok bahasan Diare adalah diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi Buang Air Besar (BAB) lebih sering dari biasanya, yaitu 3 kali sehari atau lebih. Berbagai faktor mempengaruhi kejadian diare, diantaranya adalah faktor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yaitu : a. Faktor Pendidikan Menurut penelitian, ditemukan bahwa kelompok ibu dengan status pendidikan SLTP ke atas mempunyai kemungkinan 1,25 kali memberikan cairan rehidrasi oral dengan baik pada balita dibanding dengan kelompok ibu dengan status pendidikan SD ke bawah. Diketahui juga bahwa pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap morbiditas anak balita. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin baik tingkat kesehatan yang diperoleh si anak. b. Faktor Pekerjaan Ayah dan ibu yang bekerja Pegawai negeri atau Swasta rata-rata mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayah dan ibu yang bekerja sebagai

buruh atau petani. Jenis pekerjaan umumnya berkaitan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan. Tetapi ibu yang bekerja harus membiarkan anaknya diasuh oleh orang lain, sehingga mempunyai resiko lebih besar untuk terpapar dengan penyakit. c. Faktor Umur Balita Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare 2,23 kali dibanding anak umur 25-59 bulan. d. Faktor Lingkungan Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu: sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manbusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. e. Faktor Gizi Diare menyebabkan gizi kurang dan memperberat diarenya. Oleh karena itu, pengobatan dengan makanan yang baik merupakan komponen utama

penyembuhan diare tersebut. Bayi dan balita yang gizinya kurang sebagian besar meninggal karena diare. Hal ini disebabkan karena dehidrasi dan malnutrisi. Faktor gizi dilihat berdasarkan status gizi yaitu baik = 100-90, kurang = <90-70, buruk = <70 dengan BB per TB. f. Faktor Sosial Ekonomi Sosial ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak mudah menderita diare berasal dari keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak mempunyai penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan. g. Faktor Makanan/minuman yang dikonsumsi

Kontak antara sumber dan host dapat terjadi melalui air, terutama air minum yang tidak dimasak dapat juga terjadi sewaktu mandi dan berkumur. Kontak kuman pada kotoran dapat langsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan ke mulut dipakai untuk memegang makanan. Kontaminasi alat-alat makan dan dapur. Mencuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air. Tujuan mencuci tangan adalah untuk menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan mengurangi jumlah mikroorganisme (Tietjen, 2003). Mencuci tangan dengan menggunakan sabun terbukti secara ilmiah efektif untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit menular seperti diare, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan Flu Burung (Depkes, 2010).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->