Anda di halaman 1dari 9

Korupsi : Polri: Kasus Simulator Sepenuhnya Diserahkan ke KPK

Senin, 22 Oktober 2012 | 15:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Kepolisian RImenyatakan telah memutuskan untuk tak lagi melakukan penyidikan lanjutan atas kasus dugaan korupsi proyek simulator SIM di Korps Lalu Lintas Polri. Ini merupakan jawaban atas surat dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diterima Polri pada Kamis (18/10 2012). Surat tersebut meminta Polri menghentikan penyidikan kasus simulator. "Polri tidak akan lagi melakukan penyidikan lanjutan dan sepenuhnya akan menyerahkan kepada penyidik KPK, untuk menangani kasus dugaan korupsi simulator SIM," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2012). Boy menekankan, dalam kasus ini, Polri tidak melakukan SP3 atau penghentian penyidikan, tetapi tidak lagi menyidik kasus tersebut. Sebab, Boy menjelaskan, Polri tak memiliki alasan untuk melakukan SP3 dalam penyidikan perkara simulator SIM. "Untuk SP3, kita tidak melakukan itu. Pasal 109, Polri tidak melakukan penghentian. Tapi Polri menyampaikan pada KPK bahwa Polri tidak lagi menangani kasus. Ini selanjutnya diserahkan kepada KPK," tambah Boy. Ia juga mengatakan, penyidik Bareskrim Polri tidak lagi melakukan penyidikan untuk lima tersangka yang ditetapkan Polri sebelumnya. Kelima tersangka sepenuhnya akan

diserahkan kepada KPK. Untuk menjawab surat tersebut, penyidik Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim Polri) akan menyerahkannya kepada KPK sore ini atau paling lambat besok, Selasa (23/10/2012). Seperti diketahui, penanganan kasus ini menimbulkan sengketa kewenangan penyidikan di antara dua lembaga setelah KPK dan Polri sama-sama menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yaitu Wakil Kepala Korlantas Brigjen (Pol) Didik Purnomo sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, pihak pemenang tender Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (PT CMMA) Budi Susanto, dan Direktur Utama PT Inovasi Teknologi Indonesia (PT ITI) Sukotjo S Bambang sebagai pihak subkontraktor. Terhadap ketiga tersangka, Polri lebih dulu melakukan penahanan. Pada September lalu, Polri juga telah melimpahkan berkas perkara ketiga tersangka ke Kejaksaan Agung. Dalam kasus ini, penanganan terhadap tersangka Ajun Komisaris Besar Teddy Rusmawan dan Bendahara Korlantas Polri Komisaris Legimo, yang tidak ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, juga diserahkan pada lembaga antikorupsi itu. Selain para tersangka itu, KPK menetapkan mantan Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo sebagai tersangka pada 27 Juli 2012. Sengketa kewenangan ini akhirnya ditengahi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (8/10/2012). Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan agar penanganan kasus ini diserahkan kepada KPK. Namun, jika ditemukan kasus berbeda terkait penyimpangan pengadaan barang dan jasa, maka hal itu akan ditangani oleh Polri. Komentar :

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono harus segera mengambil kebijakan strategis terhadap maraknya kasus suap dan korupsi. Keduanya juga harus cepat dan tegas untuk menanggulangi berlarut-larutnya kasus suap dan korupsi yang masih lamban dalam penanganannya.

KASUS KEKERASA DALAM RUMAH TANGGA : Kamis, 4 Oktober 2012 | 20:57 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com Catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadapPerempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, dari total 119.107 kasus kekerasan terhadap perempuan yang tercatat pada 2011, 4.154 kasus di antaranya terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian besar kasus kekerasan yang terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). "Angka KDRT di Provinsi DI Yogyakarta mencapai 3.996 kasus, sedangkan sisanya kasus kekerasan di ranah komunitas sebanyak 158 kasus," ungkap Komisioner Komnas Perempuan Tumbu Saraswati, Kamis (4/10/2012), di Yogyakarta.

Selain tingkat kekerasan yang tinggi, Komnas Perempuan juga menemukan dua kebijakan diskriminatif terhadap perempuan di Provinsi DI Yogyakarta. Dua kebijakan itu adalah larangan prostitusi dan minuman keras yang terdapat di Kabupaten Bantul. Meski demikian, Komnas Perempuan mengapresiasi kebijakan Pemprov DI Yogyakarta dan kabupaten/kota yang mengeluarkan 19 kebijakan kondusif terkait layanan terhadap perempuan korban kekerasan.

Komentar :

Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suamimaupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

PELANGGARAN RAMBU LALU LINTAS : Rabu, 11 April 2012 | 23:12 WIB

Pesepeda Motor Paling Tidak Tertib Berlalu Lintas

JAKARTA, KOMPAS.com Salah satu penyebab kemacetan yang terjadi di jalanjalan Kota Jakarta tak lepas dari kesemrawutan lalu lintas dan kurang tertibnya pengendara. Lantas, jenis kendaraan apakah yang paling banyak menciptakan ketidaktertiban dan kesemrawutan di jalan raya? Jika Anda beranggapan angkot dan metromini/kopaja sebagai penyebab utama, bisa saja jawaban tersebut lebih didasarkan pada pengamatan sesaat. Namun, hasil Operasi Simpatik Jaya menempatkan pengendara sepeda motor pada posisi tertinggi pelanggar aturan berlalu lintas. "Sepeda motor selalu yang tertinggi dalam hal tidak disiplin berlalu lintas. Banyak hal yang dilanggar pengendara sepeda motor sehingga mengganggu lalu lintas secara umum," ujar Komisaris Sungkono, Kasat Lantas Polres Metro Jaksel, di Mapolres Jaksel, Rabu (11/4/2012).

Ia melanjutkan, aturan berkendaraan dan rambu-rambu lalu lintas semakin tak berarti bagi sebagian pengendara sepeda motor. Belum lagi yang menyalip kendaraan lain dari berbagai arah. "Yang paling mengganggu dan sering terjadi adalah melawan arah, menerobos lampu merah, dan menggunakan trotoar," jelas Sungkono, yang juga mantan Kasat Lantas Polres Metro Jakbar. Ia melanjutkan, masih banyak jenis pelanggaran lainnya yang mengganggu ketertiban umum di jalan raya. Di antaranya, menerobos jalur bustransjakarta, menggunakan telepon seluler sambil berkendaraan, tanpa helm, lampu, dan kelengkapan kendaraan lain. Sementara itu, angkot atau mikrolet dan metromini/kopaja berkontribusi dalam hal kesemrawutan berlalu lintas. Selain sering terkesan "liar" di jalan raya, kedua jenis angkutan umum itu kerap berhenti seenaknya di persimpangan jalan. "Yang paling mengganggu adalah kebiasaan ngetem dan berhenti seenaknya. Selain tidak tertib, ini yang menyebabkan lalu lintas semrawut," kata Sungkono. Hasil Operasi Simpatik Jaya yang digelar pihak kepolisian bisa menjadi gambaran tertib berlalu lintas di jalan-jalan Kota Jakarta. Dalam operasi kemarin, misalnya, 133 pengendara ditilang di Jakarta Selatan. Dari sisi jenis kendaraan, sepeda motor, mikrolet, dan metromini/kopaja menempati tiga besar pelanggaran, yakni sepeda motor 46 kali, mikrolet 40 kali, dan metromini 22 kali. Sedangkan dari jenis pelanggaran, urutan teratas adalah pelanggaran rambu lalu lintas dengan 28 kasus, diikuti mengendarai kendaraan melawan arus dengan 21 kasus. Pelanggaran lainnya adalah melewati batas stop line atau batas stop 3 kasus, menerobos jalur bus transjakarta 13 kasus, naik trotoar 12 kasus, tanpa helm 9 kasus, menggunakan ponsel 6 kasus, menggunakan lajur kiri 9 kasus, menerobos lampu merah 7 kasus, tanpa lampu 6 kasus, melawan marka 2 kasus, tanpa surat 10 kasus, tanpa perlengkapan 5 kasus, dan TNKB (tanpa nomor kendaraan bermotor) 2 kasus.

komentar :
S a l a h s a t u p e r m a s a l a h a n y a n g s e l a l u d i h a d a p i d i k o t a - k o t a b e s a r adalah masalah lalu lintas. Hal ini terbukti dari adanya indikasi angka -angkakecelakaan lalu lintas yang selalu meningkat. Keadaan ini merupakan salahsatu perwujudan dari

perkembangan teknologi modern. Perkembangan lalu -lintas itu sendiri dapat memberi pengaruh, baik yang bersifat negative maupunyang bersifat positif bagi kehidupan

masyarakat.Sebagaimana diketahui sejumlah kendaraan yang beredar dari tahun ketahun semakin meningkat. HAM selasa23 oktober 2012, 14.16 wib Kekerasan terhadap wartawan

Jakarta (ANTARA News) - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan akan melakukan investigasi terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan oknum TNI AU terhadap jurnalis dan warga sipil di Provinsi Riau. "Dalam konteks HAM, ini sudah pelanggaran HAM karena dilakukan oknum aparat yang menggunakan seragam, dan tak ada urgensinya mereka melakukan tindakan brutal seperti itu," kata Anggota Komnas HAM, Ridha Saleh, saat menerima jurnalis korban penganiayaan di kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa. Hal ini terkait penganiayaan dan perampasan peralatan kerja terhadap sejumlah jurnalis Pekanbaru yang dilakukan Letkol Robert Simanjuntak dan bawahannya di lokasi jatuhnya Hawk 200 di permukiman warga Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Riau pada 16 Oktober. Pada audiensi itu hadir tiga korban penganiayaan, yakni fotografer Didik Herwanto dari Riau Pos, Robi dari Riau Televisi dan pewarta Kantor Berita ANTARA FB Rian Anggoro. Turut hadir juga tim advokasi jurnalis Pekanbaru, perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI), dan organisasi kewartawanan lainnya. Dalam pertemuan itu jurnalis korrban kekerasan menyampaikan kronologis kejadian. Letkol Robert Simanjuntak menendang, membanting, mecekik dan melayangkan bogem mentah ke arah Didik Herwanto. Aksi perwira menengah itu dilakukan di tengah masyarakat, yang langsung berujung pada aksi serupa dari bawahannya kepada jurnalis lainnya di lokasi jatuhnya Hawk 200. "Kami berjanji akan mempercepat kasus ini," katanya.

Untuk tahap awal, ia mengatakan pihaknya akan mengeluarkan surat kepada pelapor untuk perlindungan, agar pada proses ligitasi tidak terjadi apapun yang melanggar HAM dan profesi sebagai wartawan. Surat itu akan ditembuskan ke TNI. "Kami juga akan turunkan tim ke tempat kejadian untuk mencari kesaksian dari warga sipil," katanya. Selain itu, ia mengatakan pihaknya juga bakal memanggil Komandan Lapangan Udara Pekanbaru untuk klarifikasi insiden itu. Komnas juga berjanji akan mengawal proses hukum yang sudah berjalan di Satuan Polisi Militer TNI AU. Seluruh hasilnya, ia mengatakan bakal diserahkan kepada instansi TNI dan juga Presiden. "Kami berharap perlindungan profesi pers jangan hanya diungkapkan pada hari pers denga mata berkaca-kaca, tapi harus dibuktikan dengan penegakan hukum yang nyata," katanya.

Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia cukup lumayan banyak dan terjadi pada setiap tahunnya.

Polda Selidiki Kasus Penculikan Bayi di Banjar


Tribunnews.com - Senin, 17 September 2012 20:19 WIB

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) menaruh perhatian lebih terhadap kasus hilangnya bayi dari rumah sakit. Kasus hilangnya bayi tersebut masuk dalam katagori traficking. Dua kasus beruntun hilangnya bayi dalam waktu berdekatan yang menjadi perhatian serius Polda Jabar adalah Alifa Zahra Amalia, bayi perempuan yang baru dilahirkan tiga

hari diduga diculik wanita yang menyaru jadi perawat di RSU Banjar, pekan lalu. Menyusul kemudian hilangnya bayi laki-laki di RSAI, Bekasi, Sabtu pekan lalu. "Kami atensi sekali dengan adanya kasus penculikan bayi yang terjadi. Kami tengah menyelidiki. Khususnya, yang terjadi di wilayah hukum Polda Jabar. Kami tengah melakukan pengecekan ke jajaran Polres. Kasus baby sale ini masuk katagori kasus traficking," ujar Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Martinus Sitompul, Senin (17/9/2012). Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Jabar belum pernah mengungkap kasus penculikan bayi. Terlebih modus operandi pelaku yang berpura-pura menjadi perawat lalu ketika ada kesempatan membawa lari atau menculik bayi tersebut. Khusus untuk kasus penculikan bayi di Banjar, polisi sampai saat ini sudah memeriksa 7 orang saksi termasuk dari pihak rumah sakit. Ditindaklanjuti, pada Senin (17/9/2012) Polres Banjar melakukan pembinaan Satpam di halaman Mapolres Banjar yang diikuti 35 anggota Satpam. "Tadi itu, jajaran Polres Banjar usai melakukan pembinaan, dilanjutkan dengan koordinasi dengan rumah sakit Banjar. Membahas tentang pengamanan lingkungan RSUD Banjar berkaitan hilangnya bayi tersebut," kata Martinus. Ia belum bisa menduga kasus ini merupakan bagian dari sindikat perdagangan bayi untuk adopsi ilegal atau bukan. Meski tak dipungkiri ada beberapa kesamaan kasus ini dengan kasus-kasus yang marak sebelumnya. Polisi tengah menyelidiki kasus penculikan bayi disamping memberikan arahan dan pembinaan terhadap para petugas keamanan di seluruh jajaran Polres/resta/restabes. Terutama agar jangan sampai terulang kejadian serupa di kemudian hari. Diberitakan sebelumnya, penculikan bayi terjadi, sekitar pukul 11.40 WIB, Sabtu (15/9/2012) lalu di ruang teratai RSU Banjar. Bayi Perempuan yang baru lahir, Kamis (13/9/2012) lalu itu berada di ruangan Teratai, rencananya akan dibawa pulang ke rumah oleh orangtuanya, Andang Rustandi (30) dan Oom Komariah (31), warga Dusun Cibentang - Desa Banjar. Bayi diculik oleh pelaku yang menggunakan baju perawat dan mengambil bayi usai disusui oleh ibunya, dengan alasan pemeriksaan HB. Setelah setengah jam, orang tua bayi curiga dan menanyakan ke pihak rumah sakit. Akhirnya, diketahui bayi telah dicuri. (dic)

Anda mungkin juga menyukai