“Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara”

Tugas ini di ajukan untuk memenuhi Tugas Resume Book pada Mata Kuliah “SPI Kawasan Asia Tenggara II” Dosen: Drs. Sudarnoto Abdul Hakim, M. A. Imas Emalia, M. Hum.

Disusun Oleh: Akhmad Yusuf (109022000008)

JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

0

bahwa Islam di Asia Tenggara. Tan Ta Sen termasuk sarjana yang membela "Gelombang Ketiga" berangkat dari penelitian mengenai pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Asia Tenggara. dan China. dating bergelombang dari beberapa sumber.Judul Buku Penulis Pengantar Penerbit : Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara : Tan Ta Sen : A. termasuk Indonesia. Inggris dan China.1433 dalam proses pembentukan komunitas Islam di Nusantara. guru besar studi China dari UI dalam pengantar di buku itu yang merupakan disertasi doktor jurusan Sejarah UI menyebutkan berdasarkan catatan Ma Huan. lantas India. Sementara masih berbeda pendapat. Jawa. Dari tujuh kali pelayaran itu. Arab. Cheng Ho selama 27 tahun telah memimpin tujuh kali pelayaran ke arah Selatan. khususnya di Singapura dan Malaka. dan asisten professor di Nanyang University. kemudian Cina. Perbedaan sumber ini menjadikan Islam di Asia Tenggara lebih heterogen sebagaimana agama-agama sebelumnya. Batak. Ia menekankan betapa menentukan peran pelayaran armada Cheng Ho sepanjang 1405 . Sekembalinya dari Indonesia pada 1965. Selain menguasai bahasa Sansekerta. manta Kepala Southeast Asian Studies Nanyang University (1977-1978) ini juga banyak menerbitkan buku dan artikel dalam bahasa Inggris. Malaka. Sejarah. melanjutkan studi ke Unuversitas Indonesia (Jakarta) dan memperoleh doktorandus Bahasa Indonesia serta Ph. mengajar sebagai dosen senior di Ngee Ann College.D. Sebagian lagi menolak gagasan itu dan berpendapat sumber datang dari kawasan India Selatan. A Dahana. Jakarta Tahun Terbit : Juni 2010 Hal ISBN : xxii+406 : 978-979-709-492-8 Tan Ta Sen adalah Presiden Internasional Zheng He Society dan juga Direktur Cheng Ho Cultural Museum. bukan hanya dari Arab. Sumber kedatangan agama Islam di Asia Tenggara masih menjadi perselisihan. Melayu. sehingga mengacu pada tradisi di sana. Indonesia. Belanda. terlibat aktif dalam konservasi dan pelestarian kota-kota dan bangunan kuno. Sebagian orang bersikeras Islam datang dari Jazirah Arab atau Persia. Dahana (Guru Besar Studi China. Gelombang pertama datang dari Timur Tengah. belakangan menguat pendapat "Gelombang Ketiga". peneliti di Institute of Southeast Asian Studies. 1 . Melayu/Indonesia. Saat ini tengah mempersiapkan Museum Peranakan di Malaka. Universitas Indonesia) : PT Kompas Media Nusantara. Selain kolektor barang antik. Setelah lulus dari Nanyang University (1960). lima kali di antaranya singgah di Nusantara yaitu Sumatera dan Jawa. Singapura.

Melayu. Penyebar Islam dari China ke Nusantara disebutkan ia datang ke wilayah yang dikunjunginya dengan damai. baik dalam sejarah Cina maupun Asia Tenggara. Gelombang pertama adalah yang berasal dari Gujarat (India). sekaligus penyebar agama Islam. Cheng Ho (1371-1433). dan adaptasi agama Islam di pada era Dinasti Yuan dan Dinasti Ming. Hal demikian mengandung nilai sejarah yang sangat penting.Lokasi yang dikunjungi antara lain Samudera Pasai (Aceh). Ia dikenal sebagai pelaut tangguh. Champa. Pada akhirnya sebagian besar orang Cina masa itu berubah menjadi pribumi Muslim. Hanafi. Buku ini terbagi dalam dua bagian dan terdiri dari 9 bab. atau bahkan IslamJawa yang sarat mistik Hindu. diplomat. Timur Tengah. Asia Selatan. Bagian pertama membahas perubahan sosial yang terjadi di Cina. Wilayah yang pernah ia singgahi meliputi kawasan Asia Tenggara. hingga Afrika Timur. Semarang. Zheng He atau Ma Sanbao. termasuk bajak laut dan mendorong sejumlah orang Cina berperan dalam politik lokal di Jawa dan Sumatera. Penyebaran dengan jalan damai ini mendapat dukungan dan melibatkan umat Islam lainnya yang berasal dari daratan China. Arab. atau juga disebut gelombang China. dan gelombang kedua berasal dari Timur Tengah. entah memeluk Mazhab Safi'i. Dalam Cheng Ho. Itu memberikan dimensi politik budaya baru dan perspektif baru dalam bagi misi-misi diplomasi dan perdagangan Cheng Ho. terutama peran Cheng Ho. itu adalah karena mempertahankan diri. Jikapun terjadi perang. Ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho ke kepulauan Melayu menemukan sejumlah pemukiman orang Cina di jawa dan Sumatera. Bagian kedua membahas penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Tan Ta Seng meneguhkan apa yang disebut sebagai teori gelombang ketiga penyebaran Islam di Nusantara. Gelombang ketiga berasal dari China. Dalam bukunya itu. juga mendapat julukan Arab Haji Mahmud Shamsuddin. 2 . Palembang. dan India. Hal ini memiliki dampak langsung pada masyarakat Cina perantauan di Indonesia dan juga terhadap penyebaran Islam di Jawa melalui orang muslim Cina di sana. Sementara China nonmuslim bisa tetap mempertahankan budaya aslinya. Jawa. Ikut dibahas dalam bagian ini adaptasi agama Buddha terhadap kebudayaan lokal pada era Dinasti Tang dan Han. penjelajah. Bahkan Cheng Ho bersama pasukannya turut membantu mengatasi aksi perompakan di Selat Malaka. dan Cirebon. Cheng Ho mendirikan pusat-pusat Islam di pemukiman Cina.

Quanzhou dan Hainan. Pusat-pusat politik dan ekonomi regional bergeser ke Selat Malaka. Aru. Malaka dan Pasai juga menjadi pusat-pusat pembelajaran Islam tingkat regional. dan lain-lain di Sumatera. Selama periode ini para imigran baru yang berdatangan dari Fujian seperti Zhangzhou dan Quanzhou serta dari Guangdong itu dipersatukan sebagai sebuah kelompok social. kewenangan Majapahit untuk mengatur Negara-negara yang tunduk kepadanya di Jawa dan Sumatera mulai tergerus oleh faktor Cheng Ho yang mendorong dan mendukung para pemimpin lokal vassal Majapahit untuk mengukuhkan hubungan langsung dengan China. Hubungan upeti di antara Negara-negara Asia Tenggara dengan Ming China dan geopolitik di kawasan ini setelah era Cheng Ho tahun 1433 hingga 1500. serta pendudukan Malaka oleh Portugis dan munculnya kota-kota pelabuhan pada abad ke-16 dan 17. Jawa era pasca-Cheng Ho masih sangat dikuasai Majapahit. memiliki pengaruh sangat berarti dalam perkembangan masyarakat China di Kepulauan Melayu. kendati lebih lemah dengan luas wilayah yang lebih kecil. Kekuatan-kekuatan politik regional yang dominan dan menjadi pusat kegiatan ekonomi regional di Asia Tenggara. Orang China Muslim berasal dari Yunnan. Gresik dan Tuban. geopolitik dan pola perdagangan Asia Tenggara kembali ke sistem lama. itulah lanskap politik di Jawa era pasca-Cheng Ho. tapal batas Kesultanan Malaka membentang melintasi Selat Malaka mencakup kerajaan-kerajaan yang pernah bergantung pada Majapahit seperti Samudera Pasai. Palembang. Perkembangan signifikan ini menghidupkan sistem lama dan melahirkan pusat-pusat perdagangan baru di Sumatera dan Jawa seperti Aceh. Maka status negara-negara bekas bawahan Majapahit sejajar dengan Majapahit. Pada masa kejayaannya. Banten. Jawa dan Sumatera diuntungkan dengan pendudukan Malaka oleh Portugis. Masyarakat China di Jawa dan sumatera pada abad ke-15 bukan sebuah entitas yang sungguh-sungguh bersatu yang dipisahkan oleh agama menjadi kelompok China Muslim mazhab Hanafi dan kelompok China non-Muslim atau kelompok imigran China. Setelah Ming menarik diri dari kegiatan maritim. Dampak Penarikan Mundur Armada Maritim Ming terhadap Masyarakat China di Sumatera dan Jawa.Bab 8 dan 9 (Lokalisasi Islam di Kepulauan Asia Tenggara dan Kesimpulan) Perubahan Geopolitik dan Masyarakat China di Jawa Pasca-Cheng Ho. Demak. 3 . Selain pergulatan kekuasaan istana. Reaksi orang China non-Muslim khususnya pada dunia yang berubah di sekeliling mereka memberi kita sebuah wawasan mengenai proses akulturasi dalam konteks penyusunan ulang social dan agama. Aceh. Secara politik. pola dan kegiatan perdagangan bergeser ke pesisir barat Sumatera dan Selat Sunda sebagai jalur alternatif.

terutama China Muslim mazhab Hanafi di Asia Tenggara. armada laut dinasti Ming China tidak pernah dating lagi mengunjungi komunitas China Muslim di negeri Nan Yang. Struktur pemerintahan yang terorganisr dengan baik ditetapkan untuk mengelola orang-orang China perantauan. Itulah yang terjadi di Semarang. Biro pemerintahan yang berkantor pusat di Champa dan kantor cabang di Manila dan kemudian di Tuban. pemujaan Cheng Ho di Jawa dan tempat lainnya di Asia Tenggara. Mereka dipilih dengan seksama dan diangkat langsung oleh Chang Ho. Sangat banyak masjid-masjid China mazhab Hanafi diubah menjadi kelenteng Sam Po Kong. Hasil ikutan budaya dari penyetaraan kembali agama dan social setelah era Cheng Ho adalah evolusi dari kepercayaan rakyat China setempat yang telah mengalami lokalisasi. “akibat dari merosotnya kekuasaan dinasti Ming. selain mengenyampingkan mereka dari struktur kekuasaannya dalam Biro china Perantauan. dibimbing. Ini adalah bentuk Islam sangat sinkretis yang memasukkan campuran rumit kepercayaan dan praktik4 . penjaga.Orang China Muslim Madzhab Hanafi. Pemujaan terhadap Cheng Ho adalah keyakinan dan praktik-praktik rakyat China yang tercatat paling awal di Indonesia. dia juga tak pelak memonopoli perdagangan di pasar Asia tenggara sehingga pasar pada era pasca-Cheng Hoakan menjadi lebih terbuka dan bebas. Islam menjadi etnisitas paling penting bagi kaum Muslim. faktor “dorongan” tercermin dalam kelemahan kaum China Muslim dan kekuatan dari kelompok China imigran yang sedang tumbuh menjadi faktor “tarikan” yang bertanggung jawab terhadap penjajaran ulang social dan agama itu. dikelola oleh pengikut Muslim Hui Hui dari Yunnan yang dipercayainya. Ancol. Jawa. Sufisme dan Walisongo. Islam Jawa: Mistisisme. The Malay Annals of Semarang and Cirebon (MASC) melaporkan bahwa antara tahun 1450 sampai 1475. prioritas utama mereka adalah membangun masjid-masjid. serta pelindung politik ekonomi mereka. dan dilindungi oleh Cheng Ho sebagai penasihat spiritual. Kemunculan pedagang-pedagang imigran China dengan gelombang budaya China menghasilkan rangkaian peristiwa dalam masyarakat China. Komunitas China mazhab Hanafi itu mengalami kemerosotan. gelombang gerakan Islam yang telah dijawakan membuat Islam Jawa (kejawen) menjadi agama dominan di Jawa. Lasem dan tempat-tempat lainnya yang menyimbolkan penjajaran ulang social dan agama. lengkap dengan patung setengah dewa Sam Po Kong di atas mimbar. Cheng Ho mendorong perdagangan perantara (entrepot) Asia Tenggara. mereka kurang diberi sumber daya dan peluang bisnis. Cheng Ho tetap melakukan pengawasan lebih ketat terhadap orang-orang China non-Muslim. Komunitas-komunitas China Muslim mazhab Hanafi di Jawa dan Sumatera sejak awal dibesarkan.

dan lain-lain serta tradisi lisan pada abad ke-17 dan 18 yang mana bertepatan dengan kemunculan pesat Sufisme di Indonesia. dan daerah-daerah lain yang masih menganut kepercayaan animis. Sunan Giri. wilayah Muslim nominal mencakup pedalaman Jawa bagian timur dan tengah tempat para penguasa dan rakyat menganut Islam secara nominal dan sebagian besar tetap menjalankan kepercayaan dan praktik-praktik Hindu-animis serta wilayah Agama Lain seperti Bali (Hindu). Sufisme dianggap oleh mayoritas kaum Sunni sebagai bagian tak terpisahkan dari Islam Sunni. Timor (Kristen). mistisisme Sufi dan konseptualisasi mengenai Walisongo. unit sosial dasar kaum abangan dalam semua urusan ritual bersandar pada keluarga atau kerabat terdekat. Sunan Kalijaga.praktik animis-Hindu-Budha. yaitu pertama. Jalan menuju orang Suci: Walisongo. Santri dan Priyayi. Hindu-Budha. Christi dan Rifa’i. Serat Kanda. Riclefs mempertalikan perbedaan fundamental di antara ide-ide mistik Jawa dengan Islam yang telah dimurnikan pada doktrin non-dualitas yang merupakan inti dari tradisi filsafat Jawa. Sunan Ampel. lanskap agama Jawa dapat dibagi menjadi tiga wilayah: wilayah Islami teguh mencakup komunitas-komunitas niaga di pesisir utara dan pesisir timur yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan dagang maritim. Sunan Dradjat. dan Sunan Gunung jati. Ia berurusan dengan aspek-aspek spiritual dari kehidupan sehari-hari Muslim Sunni. Semuanya memiliki peran dalam mendirikan Islam di 5 . tetapi bagi kaum santri pemahaman tentang komunitas Muslim (ummah atau ummat) adalah yang paling penting. Sunan Bonang. sementara kalangan santri sangat memperhatikan doktrin yang hampir sepenuhnya membayangi aspek-aspek ritualistik Islam yang sudah melemah. Clifford Geertz menguraikan dua perbedaan pokok kelompok itu. Syadzili. beberapa dari aliran Sufi paling terkenal adalah tarekat Qadiri. Naqshbandi. diyakini bahwa konseptualisasi mengenai walisongo maupun tradisi babad terkait erat dengan pertumbuhan sufismedi Kepulauan Asia Tenggara pada penghujung abad ke-16 dan 17. Kejawen dan Mistisisme sufi. Selain itu. Orang-orang suci yang sangat terkenal di Jawa adalah walisongo: Raden Patah. Abangan. mistisisme Sufi. para sarjana umumnya sepakat bahwa terdapat dua jenis Muslim Jawa: kaum abangan dan santri. kaum abangan tidak terlalu menganggap penting doktrin tetapi sangat tertarik dengan detil-detil ritual. Sunan Kudus. sang Realitas Ilahiah. Kejawen (Islam Jawa) yang sangat kental dengan sinkretisme dianggap tidak ortodoks. Secara umum. serta kepercayaan dan praktik-praktik animis semuanya dimasukkan dan digabungkan ke dalam tradisi misitk Jawa yang bertujuan untuk mengalami kesatuan dengan Tuhan. Kisah-kisah tentang wali mulai muncul di Jawa dalam berbagai cerita babad seperti Babad Tanah Jawi. Sunan Muria.

Komunitas-komuntias China Muslim di Jawa mengalami perubahan struktural secara drastic dari segi kependudukan dan budaya akibat dari jalinan perkawinan di antara orang-orang China lajang yang lahir di China dengan perempuan pribumi Jawa. Kesimpulan Kontak Budaya di China dan Asia Tenggara Ekspedisi-ekspedisnya telah memperluas dan memperdalam kontak budaya antar budaya serta intra regional di Asia. Sebab itu. Cirebon. bekas-bekas pengaruh arsitektur Cina pada 6 . masjid Qinjing di Xian dan kelenteng Mazu di Quanzhou. renovasi masjid Jingjue di Nanjing. Mereka memilih yang terakhir muncul sebagai tenaga pendorong gerakan Islam berbahasa Jawa yang dipimpin oleh kaum Muslim mazhab Syafi’I dengan asal-usul Sino-Jawa yang sejak itu berasimilasi spenuhnya dengan Sufisme dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kejawen. tujuh dari kesembilan wali tersebut berasal usul Sino-Jawa.tanah Jawa pada abad ke-15 dan 16. Mereka memilih yang pertama tetap sebagai orang China Muslim mazhab Hanafi yang kemudian terpinggirkan dan beberapa di antaranya kembali memeluk keyakinan dan menjalankan kebiasaan popular orang China serta menjadi totok. dan membangkitkan perhatian luar biasa di berbagai penjuru Asia. segera setelah berakhirnya masa Cheng Ho terjadi perpecahan serius dalam komunitas China Muslim di Jawa dan Palembang mengenai arah gerakan Islamisasi masa depan: orang China versus gerakan Islam pan-Jawa. Sejumlah besar laporan tangan pertama tentang misi-misi Cheng Ho tersedia dalam kronik-kronik Cina. Perkawinan Sino-Jawa itu memicu proses akulturasi local di dalam komunitas China Muslim dan menghasilkan keturunan baru orang Muslim yang cakap berbicara bahasa jawa yang dibesarkan dalam lingkungan orang Jawa. Dia yang bertanggung jawab atas rekontruksi Pagoda Opaque dan Kuil Da Baoan Budhis di Nanjing. Tuban Gresik. dan Jawa yang menekankan pentingnya ekspedisi-ekspedisi itu. dan lain-lain untuk menumbuhkan komunitas-komunitas Cina muslim madzhab Hanafi di Jawa. Meskipun masjid-masjid kuno yang dibangun Cheng Ho di Jawa itu mungkin telah hancur dan direnovasi. Cheng Ho ahli dalam memperbaharui dan membangun masjid dan kelentengkelenteng. karya-karya yang dirintisnya pasti mempengaruhi para perancang dan pengembang berikutnya. Jepang. China Muslim di Kepulauan Asia Tenggara Setelah Cheng Ho. Ancol. Cheng Ho membangun banyak masjid di Semarang. Dengan pengecualian Sunan Giri dan Sunan Kudus.

Kebijakan Dinasti Ming terhadap China Perantauan Gelombang pertama imigran bertepatan dengan pelayaran-pelayran Cheng Ho ke Samudera Barat. Pertama. Diplomasi dan perdagangan yang dijalankan negara merupakan dua tujuan pokok dari misinya ke tanah seberang. Ia dipercaya karena telah meningkatkan citra positif orang-orang China Perantauan. Islamisasi Kepulauan Asia Tenggara: Koneksi China Jalinan dengan China hadir dalam dua tahapan: serbuan pasukan Mongol akhir abad ke-13 dan pelayaran-pelayaran Cheng Ho awal abad ke-15. Invasi Mongol ke Jawa akhir abad ke-13 merupakan saat yang menentukan dalam Islamisasi di Kepulauan Melayu. Ia memberi dua sumbangan penting terhadap gerakan Islamisasi awal di kawasan ini.bangunan-bangunan religius lokal di tempat-tempat yang pernah dikunjungi Cheng Ho masih tampak jelas. Cheng Ho juga membantu Kesultanan Malak untuk menjadi kekuatan dominan di bidang politik. pelayaranpelayaran ini memberikan sejumlah fakta paling kuat mengenai koneksi China akan penyebaran Islam di Kepulauan Melayu. armadanya memulihkan hukum dan ketertiban dalam perjalanan laut di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta membantu pedagang-pedagang Arab dan Muslim India untuk memperoleh kembali dominasi mereka dalam perdagangan internasional. Teori asal-usul China semakin diperkuat oleh bukti-bukti yang disumbangkan oelh pelayaran-pelayaran bersejarah Cheng Ho ke Barat pada awal abad ke-15. ekonomi. setelah invasi ratusan sisa-sisa tentara Muslim Hui yang selamat memilih tinggal di Jawa. Bahkan ia sangat dihormati oleh orang China Perantauan yang memujanya sebagai Sam Po Kong. mereka adalah nenek moyang penduduk China Muslim di Jawa. Kebijakan China Perantauan yang diterapkan Cheng Ho termasuk dalam misi inti ekspedisinya ke Barat. Karenanya kebijakannya mengenai China Perantauan itu berfungsi melengkapi dua tujuan terpenting yang menempa 7 . Pertama. Kedua. Kedua. Dia bertindak sebagai patron sekaligus agen perubahan dalam gerakan Islamisasi di kepulauan Melayu pada awal abad ke-15. dan Islam di kawasan itu dengan menjadikan Malaka sebagai pangkalan regionalnya. pasukan Mongol yang dipimpin oleh komanda perang dan didominasi prajurit Muslim Hui Hui telah memperlemah Majapahit sebagai kerajaan besar terakhir dan menyingkirkan patronase negara terhadap Hinduisme di Jawa. Terkhir Cheng Ho secara personal membimbing gerakan Islamisasi di kalangan China Muslim mazhab Hanafi di Jawa dengan membangun sejumlah masjid untuk mereka dan menempatkan tokoh-tokoh mereka untuk mengurus Biro Pengawasan China Perantauan.

dengan didasarkan pada penelitian atas buktibukti tertulis. ornamen-ornamen Tam Sam Cai. ia telah memperkuat asumsi tentang adanya arus Cina dalam proses islamisasi di Asia Tenggara. Pertama. mengenai adanya “arus ketiga” dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. dan keramik-keramik Dinasti Ming era Cheng Ho untuk wadah air suci di masjid-masjid tua Indonesia. Tan Ta Sen telah memperkuat asumsi.ikatan harmonis dan persahabatan dengan negara-negara pribumi dan menjaga keamanan jalur laut Timur-Barat bebas dari bajak laut. Selama ini mungkin kita baru mengenal tentang dua arus utama. khususnya di Kepulauan Nusantara dengan didasarkan kepada bukti-bukti yang dapat diterima secara ilmiah. Untuk memperkuat argumennya. Tan Ta Sen menghadirkan bukti-bukti berupa gambar-gambar bangunan bersejarah. 8 . seperti masjid-masjid berarsitektur Cina. yakni arus India (Gujarat) dan Arab. batu-batu nisan. Buku ini mempunyai dua ciri khas yang membedakannya dengan buku atau artikel yang pernah terbit di negeri ini mengenai peraan Cheng Ho dalam proses islamisasi di Nusantara. Hal ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi buku ini untuk memperkuat keabsahan ilmiahnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful