Anda di halaman 1dari 10

KAJIAN STANDARDISASI PRODUK KOMPOR BERDASARKAN KETERSEDIAAN JENIS BAHAN BAKAR UNTUK MEMASAK PADA RUMAH TANGGA STUDY

OF STOVE PRODUCTS STANDARDIZATION BASED ON THE AVAILABILITY OF FUEL FOR COOKING IN HOUSEHOLD
Teguh Pribadi Adinugroho dan Ellia Kristiningrum Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Standardisasi BSN teguh.adi@bsn.go.id , ellia@bsn.go.id

ABSTRAK Jenis kompor dipengaruhi oleh jenis bahan bakarnya. Kompor memiliki tingkat bahaya yang tinggi dikarenakan beberapa sumber bahaya dari kompor. Pada sisi lain, kompor digunakan oleh kaum rentan yaitu ibu rumah tangga sehingga ketersediaan Standar Nasional Indonesia (SNI) penting untuk mengatur keamanan dan keselamatan kompor. Tujuan kajian adalah untuk mengidentifikasi ketersediaan SNI terkait kompor sesuai bahan bakar yang banyak digunakan untuk memasak di rumah tangga di Indonesia dan kebijakan terkait energi, serta memberikan rekomendasi pengembangan SNI kompor. Kajian dilakukan dengan studi literatur. Hasil kesimpulan kajian adalah perlu dikembangkan SNI untuk kompor kayu/arang, PPO, gas biomassa, dan kompor surya. Kata kunci: Jenis bahan bakar, SNI, kompor ABSTRACT Type of stove is influenced by the type of fuel. Stove has a high level of danger because of some hazards. On the other hand, the stove is used by the housewife that is vulnerable so that the availability of Indonesian National Standard (SNI) is important to manage the security and safety of a stove. Purpose of this study is to identify the availability of relevant SNI related to cooking stove according to widely used fuel for cooking in households in Indonesia as well as energy-related policies and make recommendations for development of SNI. The study was conducted by desk study. Conclusions of the study are should be developed SNI for wood/charcoal stove, PPO stove, biomass gas stove , and solar cookers. Keywords: fuel type, SNI, cooking stove

PENDAHULUAN Jenis kompor dipengaruhi oleh jenis bahan bakarnya. Tidak semua negara memiliki jenis bahan bakar untuk memasak rumah tangga yang sama. Di Indonesia terdapat berbagai macam sumber energi, dan pengelolaanya harus cermat (1). Tidak semua jenis bahan bakar di arahkan untuk energi bagi rumah tangga dan khususnya lagi untuk keperluan memasak rumah tangga. Pilihan bahan bakar untuk memasak pada rumah tangga ini dalam pemakaiannya turut dipengaruhi pula faktor lain, yaitu (1) faktor ekonomi, (2) faktor

infrastruktur, dan (3) faktor pola pikir (mind Variabel ini mempengaruhi set)(2). keberhasilan program konversi minyak tanah ke gas oleh pemerintah sehingga dari data statistik 2010 dapat diketahui bahwa penggunaan bahan bakar selain gas masih tinggi (3). Masih tingginya penggunaan bahan bakar selain gas ini didukung dengan telah tersedianya berbagai inovasi dan pengembangan teknologi lokal yang lebih efisien dan lebih sehat. Perlu diketahui pula bahwa kompor memiliki tingkat bahaya yang tinggi dikarenakan

sumber bahaya dari kompor berupa permukaan panas kompor serta api yang terbuka, stabilitas kompor dari bentuk konstruksi dan pusat gravitasinya, integritas kompor, bagian tajam, dan bahaya dari bahan bakar. Sumber bahaya yang ada tersebut dapat mengakibatkan bahayabahaya terbakar, luka bakar, luka gores atau luka sobek, dan kerusakan properti (4). Pada sisi lain kompor digunakan oleh kaum rentan yaitu ibu rumah tangga (5). Hal-hal terkait kemanan dan keselamatan ini perlu diatur dalam sebuah standar produk untuk memberikan arahan pada sebuah inovasi dan pengembangan teknologi produk sebelum diproduksi massal dan dijual ke pasaran. Dapat dianalisa bahwa permintaan dan pasokan telah tercipta. Permintaan adalah berupa penggunaan bahan bakar selain gas masih tinggi yang juga telah sesuai dengan arahan penggunaan bahan bakar oleh pemerintah. Sedangkan pasokan adalah berupa telah tersedianya teknologi-teknologi lokal untuk kompor yang lebih efisien serta sehat. Dengan demikian Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan perkembangan IPTEK untuk produk-produk kompor penting untuk disediakan dalam rangka mengatur keamanan, keselamatan dan kinerja produk (6,7) . Tujuan kajian ini adalah untuk mengidentifikasi ketersediaan SNI terkait kompor sesuai bahan bakar yang banyak digunakan untuk memasak di rumah tangga di Indonesia dan kebijakan terkait energi, serta memberikan rekomendasi pengembangan SNI kompor. Diharapkan hasil kajian ini bermanfaat untuk pengembangan SNI yang mendukung pada ketersediaan kompor yang aman bagi masyarakat sesuai dengan jenis bahan bakar yang ada di Indonesia. METODOLOGI Pencarian data mengenai penggunaan bahan bakar untuk memasak pada rumah

tangga di Indonesia didapat dari hasil penelitian, data statistik dan program nasional terkait energi. Selain itu, dilakukan juga studi ketersediaan teknologi kompor berdasarkan jenis bahan bakar. Selanjutnya dilakukan identifikasi ketersediaan SNI dan apabila ditemukan ketiadaan SNI dilakukan pencarian standar lain untuk usulan acuan pengembangan SNI. PEMBAHASAN DAN ANALISA Penggunaan Bahan Bakar Memasak pada Rumah Tangga untuk

Data WHO tahun 2007 menunjukkan dari total populasi penggunaan bahan bakar padat di Indonesia adalah sebesar 23% di lingkungan perkotaan dan 80% di lingkungan pedesaan dengan rata-rata sebesar 58%. (8). Sedangkan data yang didapatkan dari Handbook of Energi and Economic Statistic of Indonesia, Kementerian ESDM tahun 2010 (9) dari sekian banyak sektor pengguna energi di Indonesia, diketahui bahwa sektor rumah tanggalah yang paling banyak menkonsumsi energi. Sektor biomassa merupakan sektor yang paling besar yang dikonsumsi oleh masyarakat (lihat Tabel 1). Biomassa diartikan sebagai bahan biologis yang hidup/mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar. Umumnya biomassa merujuk pada materi tumbuhan atau hewan yang dipelihara yang natinya dapat digunakan untuk produksi serat, bahan kimia ataupun panas. Biomassa yang utama adalah dalam bentuk kayu bakar dan limbah pertanian, merupakan sumber energi tertua. Hingga sekarang, biomassa sebagai sumber energi masih cukup berperan terutama untuk negara-negara berkembang (10). Data yang disajikan tersebut sejalan dengan data Sensus Penduduk 2010 dari Badan Pusat Statistik mengenai bahan bakar utama untuk memasak yang ditampilkan dalam Tabel 2, dimana 3 besar jenis bahan bakar utama untuk memasak untuk rumah tangga di Indonesia adalah Gas (45,16%), kayu bakar (40,1%), dan minyak tanah (11,69%) (11) . Sedangkan berdasarkan Buku Putih

Indonesia 2005-2025 dari Kementerian Riset dan Teknologi mengenai blue print pengelolaan energi nasional, roadmap untuk keperluan kompor rumah tangga terdapat pula arahan untuk menggunakan bahan bakar Pure Plant Oil (PPO), bahan bakar padat, briket dan gas dari biomassa, panas surya (solar cooker), dan gas bumi (LPG) (1). Dari data yang telah dipaparkan pada Tabel 1 dan Tabel 2, dapat dianalisa bahwa penggunaan bahan bakar padat kayu bakar di Indonesia masih tinggi terutama di pedesaan. Penggunaan bahan bakar jenis ini masih memungkinkan untuk dikembangkan tungku masak/kompor bersihnya dengan penyempurnaan rancangan tungku serta penggunaan solusi perilaku dan struktural. Untuk bahan bakar komersial yang banyak digunakan adalah minyak tanah, LPG, dan listrik. Berdasarkan blue print pengelolaan energi nasional, arahan penggunaan bahan bakar lainnya untuk keperluan kompor rumah tangga adalah PPO, bahan bakar padat, briket, gas dari biomassa, dan panas surya. Hal ini dapat menjadi jawaban belum berjalan dengan baiknya blueprint program pengalihan minyak tanah ke LPG karena program tersebut masih belum dapat melingkupi seluruh KK di Indonesia(13). Rekapitulasi jenis bahan bakar untuk memasak pada rumah tangga di Indonesia dari berbagai sumber di tampilkan dalam Tabel 3. Tabel 1. Konsumsi Energi Rumah Tangga berdasarkan Sektor (ribu BOE)

Tabel 2. Data BPS untuk penggunaan bahan bakar utama memasak pada rumah tangga di Indonesia
No. 1 2 3 4 5 6 7 Total Jenis BB Listrik Gas Minyak tanah Arang Kayu Lainnya Tidak pakai Jumlah 470.486 27.597.779 7.144.930 300.308 24.506.579 99.382 985.987 61.105.451 % 0,77 45,16 11,69 0,49 40,10 0,16 1,61 100

Keterangan: BB= Bahan Bakar Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 BPS. Diolah

Tabel 3. Rekapitulasi jenis bahan bakar untuk memasak pada rumah tangga di Indonesia
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Bahan Bakar Kayu / Arang Gas (LPG) Minyak tanah Listrik Pure Plant Oil (PPO) Briket Gas biomassa Panas surya

Ketersediaan teknologi kompor Selain kompor gas LPG, kompor listrik dan kompor minyak tanah yang telah biasa dikenal, untuk bahan bakar padat kayu/arang, PPO, briket, gas biomassa, serta panas surya telah terdapat teknologiteknologi kompor yang diciptakan didalam negeri. Teknologi itu adalah sebagai berikut: Kompor Biomassa Padat Bahan bakar kayu masih banyak digunakan oleh masyarakat, namun banyaknya asap yang terbentuk dari pembakaran kayu adalah energi yang terbuang. Penyempurnaan rancangan tungkuyang sedemikian rupa

Sumber: 2010 Handbook of Energi and Economic (12) Statistic of Indonesia, Kementrian ESDM

sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan menekan seminimal mungkin emisi zat berbahaya dapat dilakukan. Jika kayu dipanaskan hingga 6500C dan zat asam yang cukup bercampur dengan gas volatil akan dihasilkan pembakaran yang sempurna, dengan efisiensi tungku yang dapat ditingkatkan berkisar dari 10 hingga 40%. Telah terdapat kompor biomass UB-02 (lihat Gambar 1) yang menggunakan bahan bakar biomassa padat, seperti ranting-ranting kayu yang dipotong kecil-kecil, sampah kering yang dipadatkan, limbah rumah tangga yang dikeringkan dan dipadatkan, limbah pertanian yang dikeringkan dan dipadatkan dan biomass padat yang lain. Kompor UB-02 ini dikembangkan oleh Universitas Brawijaya, di klaim mampu menghemat bahan bakar hingga 60-80 % serta telah memiliki Paten yang terdaftar di HaKi dengan nomor pendaftaran P00200900137 tahun 2009 (14). Saat ini kompor tersebut bahkan telah dikembangkan menjadi varian UB-03 (15).

Kompor ini pun menggunakan bahan bakar mulai dari kayu, sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, tangkai, daun, dan bahan organik lainnya. Bimastove berukuran diameter silinder luar 20 cm, diameter bagian dalam 14 cm, dan tinggi sekira 30 cm. Bahan pembuatan Bimastove adalah galvanis dengan kapasitas sekira 1 kg dan power sembilan volt. Dengan Bimastove, lima liter air bisa mendidih dalam 25 menit (16). Kompor Minyak Tanah Kompor minyak tanah umum dikenal oleh masyarakat Indonesia semenjak lama. Terdapat tipe yang menggunakan sumbu dan tipe yang dipompa sehingga bertekanan untuk menghasilkan panas lebih tinggi. Saat ini penggunaan kompor minyak tanah dikurangi digantikan dengan kompor gas LPG dikarenakan besarnya subsidi pemerintah untuk minyak tanah. Kompor Listrik Kompor tipe ini merupakan kompor bersih dengan tiadanya api dan emisi hasil pembakaran sehingga relatif lebih aman dan sehat. Karena terkait kelistrikan produk ini diatur ketat oleh standar. Tipe pertama dari kompor listrik memanfaatkan panas dari hambatan listrik yang kemudian memaskan pelat besi landasan (iron hotplates) untuk memasak. Kemudian berkembang menjadi kompor listrik dengan permukaan memasak berupa kaca-keramik (glass-ceramic cooktops). Permukaan gelas dan keramik memiliki konduktivitas panas serta koefisien ekspansi termal yang rendah namun mudah ditembus radiasi infra merah. Tipe gelaskeramik menggunakan elemen pemanas berupa koil pemanas elektrik atau lampu halogen inframerah, memiliki keunggulan cepat panas dan cepat hilang panas setelah digunakan, tampilan menarik, licin dan rata sehingga mudah dibersihkan. Perkembangan terakhir permukaan kaca-keramik adalah penggunaan elemen pemanas dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (17).

Gambar 1. Kompor Biomass UB-02/03

Gambar 2. Kompor Bimastove Juga terdapat Bimastove yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) (lihat Gambar 2).

Kompor Briket Briket batubara adalah bahan bakar padat yang terbuat dari batubara dengan sedikit campuran seperti tanah liat dan tapioka (Gambar 7). Briket batubara telah ada sejak tahun 1994 namun tidak dapat berkembang dengan baik karena Minyak Tanah masih sangat murah. Keunggulan briket batubara adalah saat ini sudah lebih murah, mudah dibuat, panas yang tinggi dan kontinyu, serta tidak beresiko meledak. Namun demikian briket memiliki keterbatasan yaitu waktu penyalaan awal memakan waktu 5 10 menit dan diperlukan sedikit penyiraman minyak tanah sebagai penyalaan awal, briket batubara hanya efisien jika digunakan untuk jangka waktu datas 2 jam. Penggunaan briket batubara harus dengan kompor briket batubara (Gambar 8). Kompor briket memiliki kekhususan karena memerlukan ruang bakar untuk briket, perlu aliran udara (oksigen) dari lubang bawah menuju lubang atas dengan melewati ruang bakar briket, serta ruang penampung abu briket yang terletak di bawah ruang bakar. Kompor/Tungku briket terdiri atas 2 jenis: (1) Tungku/Kompor portabel, jenis ini pada umumnya memuat briket antara 1 s/d 8 kg serta dapat dipindah-pindahkan dan (2) Tungku/Kompor Permanen untuk memuat lebih dari 8 kg briket dibuat secara permanen (21) . Pemanfaatan bahan bakar briket ini diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 47 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara (22). Didalam Peraturan tersebut diatur mengenai pembuatan briket batubara, pembuatan kompor dengan bahan bakar briket batubara, rancangan dapur untuk pemakaian kompor dengan bahan bakar briket, keselamatan pengoperasian kompor dengan bahan bakar briket, serta standar emisi kompor dengan bahan bakar briket.

Gambar 5. Jenis kompor listrik dengan iron hotplate serta glass-ceramic cooktop

Kompor PPO Untuk minyak nabati murni (PPO) harus dikabutkan atau diuapkan agar dapat terbakar secara baik, sehuingga harus mendapat tekanan yang cukup (sekitar 2 3 bar) selain itu minyak juga perlu dilakukan pemanasan awal sebelum pembakaran sehingga dapat terbakar secara baik (18, 19). Kompor untuk PPO telah coba dikembangkan oleh Puslitbangbun (Deptan) dari kompor protos (lihat Gambar 6) yang dikembangkan oleh Universitas Hohenheim dan saat ini sedang disiapkan produksi massalnya oleh perusahaan Bosh Siemen di Indonesia. Kompor tersebut dapat menggunakan PPO dari kelapa, kelapa sawit dan jarak pagar (20).

Gambar 6. Kompor Protos berbahan bakar PPO. Sumber: flyer protos

dapat dibuat khusus atau di modifikasi dari kompor gas LPG. Untuk kompor biogas dapat dibuat dengan memodifikasi kompor gas LPG (Gambar 9). Modifikasi dilakukan pada bagian burner atau saluran gas kompor tersebut. Selain kompor, diperlukan instalasi untuk memproduksi biogas yaitu: (1) bahan baku, (2) mixer, (3) reaktor biogas atau digester, (4) katup gas utama, (5) water drain, (6) saluran pipa, (7) katup menuju kompor, (8) pengukur tekanan gas, (9) saluran bio slurry(24).

Gambar 7. bahan bakar briket dan kompor briket Gambar 9. Kompor Biogas Kompor Biogas Kompor panas surya Biogas secara alami banyak terdapat di rawa dan sawah, dihasilkan oleh bakteri metanogenik anaerobik (bakteri penghasil gas metan yang hanya dapat hidup dalam kondisi bebas oksigen) dari proses perombakan bahan bahan organik. Pada umumnya semua jenis bahan organik dapat dijadikan sumber biogas, tetapi bahan organik homogen, misal: limbah kotoran sapi, babi, dan manusia, dan bahan organik yang memiliki rasio C/N sebesar 8-20 adalah sumber yang paling cocok untuk dijadikan sumber biogas. Biogas memiliki nilai kalori yang cukup tinggi, sebesar 6000 watt jam (setara dengan setengah liter minyak diesel), sehingga dapat dipakai sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat(23). Ringkasnya biogas merupakan proses produk gas bio dari material organik atau berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dengan bantuan bakteri. Proses degradasi ini tanpa melibatkan oksigen juga biasa disebut dengan anaerobic digestion. Gas yang dihasilkan sebagian besar berupa metana (sebanyak 50%). Kompor biogas Di Indonesia telah terdapat kompor surya produksi Minto terdiri dari sebuah lensa cekung berukuran besar, terbuat dari himpunan kotak-kotak kaca. Kompor tenaga surya terkecil ukuran diameter lensanya 1,5 meter. Sementara kompor terbesar diameternya 2,67 meter. Di atas lensa tersebut diletakkan tempat memasak yang dibuat dari besi. Jika mentari bersinar, kompor ini mampu mendidihkan satu liter air dalam tempo dua menit. Kapasitas maksimal air yang dapat dimasak adalah 20 liter, dengan suhu maksimal 750C(25).

Gambar 10. Contoh kompor surya

Ketersediaan Standar Indoenesia (SNI) terkait masak/kompor

Nasional tungku

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa SNI terkait kompor telah tersedia sebanyak 7 buah. Ketujuh SNI tersebut terdiri dari kompor gas, briket, minyak tanah, dan kompor listrik. Secara keseluruhan dengan melihat pada Tabel 8, maka dapat diketahui bahwa belum tersedia SNI untuk kompor kayu/arang, PPO,

gas biomassa, dan panel panas surya, sedangkan ketujuh SNI kompor yang telah tersedia berumur dibawah 5 tahun sehingga belum perlu untuk dilakukan pengkajian ulang

Tabel 7. Hasil Identifikasi SNI Kompor


NO 1 2 3 4 5 6 SNI SNI 7613:2010 SNI 7469:2008 SNI 7498:2008 SNI 3745:2008 SNI 7368:2011 SNI IEC 603352-6:2010 SNI IEC 603352-36:2010 JUDUL Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik mekanik khusus untuk usaha mikro Kompor gas dua tungku Kompor Briket Batubara Kompor minyak tanah bersumbu Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik mekanik Peranti listrik rumah tangga dan sejenisnya - Keselamatan - Bagian 2-6 : Persyaratan khusus untuk kompor pemasak stasioner, tungku lempengan, oven dan peranti sejenis Peranti listrik rumah tangga dan sejenis - Keselamatan - Bagian 2-36: Persyaratan khusus untuk kompor pemasak, oven, pelat pemasak dan elemen pelat pemasak listrik komersial

Sumber: SISNI (26), diolah

Tabel 8. Analisa Kebutuhan Ketersediaan SNI sesuai Bahan Bakar yang Digunakan untuk Memasak pada Rumah Tangga di Indonesia serta Ketersediaan Teknologi
Jenis Bahan Bakar diarahkan BPEI 20052025 % Penggunaa di Indonesia 2010 40,59% teknologi kompor di Indonesia Tersedia

No

SNI

Status Perlu pengembangan SNI baru -

Kayu / Arang

Ya

Tidak ada SNI SNI SNI SNI 7613:2010 7469:2008 7368:2011 3745:2008

2 3

Gas Minyak tanah

Ya Tidak

45,16% 11,69%

Tersedia Tersedia

No

Jenis Bahan Bakar

diarahkan BPEI 20052025

% Penggunaa di Indonesia 2010

teknologi kompor di Indonesia

SNI SNI IEC 603352-6:2010 SNI IEC 603352-36:2010 Tidak ada SNI 7498:2008 Tidak ada -

Status

Listrik

Ya

0,77%

Tersedia

5 6 7

Pure Plant Oil Briket Gas biomassa Panas surya

Ya Ya Ya 0,16%

Tersedia Tersedia Tersedia

Ya

Tersedia

Tidak ada

Perlu pengembangan SNI baru Perlu pengembangan SNI baru Perlu pengembangan SNI baru

Catatan: BPEI: Buku Putih Energi Indonesia 2005-2025; % penggunaan bahan bakar dari data BPS 2010

Tabel 9. Analisa kebutuhan ketersediaan SNI kompor serta identifikasi ketersediaan standar internasional dan asing
No 1 2 Jenis Bahan Bakar Kayu / Arang Pure Plant Oil Usulan acuan standar JIS S 2016:2009 IS 8808 Judul Oil burning cooking stoves Burners for Oil Pressure Stoves and Oil Pressure Heaters Oil Pressure Stoves - Offset Burner Type Biogas Stove Domestic biogas stove -

IS 10109 3 Gas biomassa Panas surya IS 8749 GB/T 3606-2001 -

Sumber: berbagai sumber

Usulan Acuan untuk Pengembangan Standar Nasional Indoenesia (SNI) yang Belum Tersedia terkait Kompor Dengan acuan Tabel 8 tersebut dicari standar terkait untuk kompor bahan bakar padat, PPO, gas biomassa, dan panas surya pada situs web ISO, ASTM, JSA (JIS), BSI, BIS, SABS, dan China Standard. ISO dan

ASTM mewakili pencarian standar internasional, JIS dan BSI mewakili pencarian standar yang biasa diacu didalam SNI, sedangkan BIS, SABS, China standards untuk mewakili pencarian standar dari negara berkembang. Pencarian standar menggunakan kata kunci stove dan cooking. Identifikasi standar hanya berdasarkan judul. Hasil dari pencarian dan

identifikasi didapatkan acuan standar untuk pengembangan standar kompor yang belum tersedia SNI-nya ditampilkan pada Tabel 9. 2. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kajian ini menyampaikan beberapa kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut: 1. Penggunaan bahan bakar untuk memasak pada rumah tangga di Indonesia berupa kayu/arang (40,49%), gas LPG (45,16%), minyak tanah (11,69%), listrik (0,77%), dan Pure Plant Oil (PPO) briket gas biomassa panas surya (0,16%). 2. Saat ini baru tersedia Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kompor gas LPG, kompor minyak tanah, kompor listrik dan kompor briket. SNI tersebut diterbitkan pada tahun 2008, 2010 dan 2011. 3. Diusulkan untuk pengembangan SNI kompor dengan bahan bakar PPO dapat mengacu kepada standar JIS S 2016:2009, IS 8808, IS 10109. Sedangkan SNI kompor dengan bahan baker gas biomassa dapat mengacu pada standar IS 8749 dan GB/T 36062001. 4. Perlu dikembangkan pula SNI kompor dengan panas surya dan bahan baker kayu/arang, namun belum dapat diidentifikasi standar asing dan internasional yang dapat dijadikan acuan, sehingga SNI untuk kedua jenis kompor tersebut perlu dirumuskan dan dikembangkan sendiri. DAFTAR PUSTAKA 1. Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia. 2006. Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 3.

2025 (Buku Putih Energi Indonesia 2005-2025). Jakarta Nuryanti, dkk. 2007. Analisis Karakteristik Konsumsi Energi Pada Sektor Rumah Tangga Di Indonesia. Seminar Nasional III, SDM Teknologi Nuklir Yogyakarta, 21-22 November 2007. Hal 171-181. Bataviase. 2010. Konversi Energi Distribusi 8 Juta Paket Tuntas Tahun Ini. (http://www.bataviase.co.id/node/221824 . Diakses 2 Februari 2012) Nathan Gregory Johnson. 2005. Risk analysis and safety evaluation of household stoves in developing nations. Thesis, Mechanical Engineering. Iowa: Iowa State University. Global Alliance for Clean Cookstoves. 2011. Igniting Change: A Strategy for Universal Adoption of Clean Cookstoves and Fuels. Washington D.C Badan Standardisasi Nasional. 2007. Pedoman Standardisasi Nasional 01: 2007, Pengembangan Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional. 2009. Buku Pengantar Standardisasi. World Health Organization. 2011. World Health Statistics 2011. France Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2010. Handbook of Energi and Economic Statistic of Indonesia

4.

5.

6.

7. 8. 9.

10. http://yefrichan.wordpress.com/2011/02/ 05/pengertian-biomassa/ 11. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2010. Data Sensus Penduduk 2010 - Jumlah Rumah Tangga C1 Menurut Wilayah dan Bahan Bakar Utama untuk Memasak (Indonesia, perkotaan+pedesaan). (http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/ta

bel?tid =302&wid=0000000000&lang=id. diakses, 2 Februari 2012) 12. --------, Statistik Ekonomi Energi. 2007. 13. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2007. Presentasi: Blueprint Program Pengalihan MInyak Tanah ke LPG (Dalam Rangka Pengurangan Subsidi BBM) 2007-2012. 14. Muhammad Nurhuda. Kompor Biomass UB-02 Hemat Bahan Bakar dan Ramah Lingkungan. 15. Kompor Biomassa Unibraw Sirnakan Asap. 2010. Kompas, 11 Juni: 13. 16. Indonesiaberprestasi.web.id. Bimastove, Kompor Ramah Lingkungan dari ITS (http://www.indonesiaberprestasi.web.id/ ?p=6366. Diakses 22 Februari 2012) 17. Wikipedia. Electric stove (http://en.wikipedia.org/wiki/Electric_stov e. Diakses 5 Maret 2012) 18. Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Bidang Energi Baru dan Terbarukan. (http://www.ptpse.net/ebt.htm. Diakses 14 Februari 2012) 19. Bambang Prastowo. 2007. Bahan Bakar Nabati Asal Tanaman Perkebunan Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah Untuk Rumah Tangga. Perspektif, Volume 6 Nomor 1, Juni 2007: 10 18 20. Bambang Prastowo. 2007. Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Pengembangan Bahan Bakar Nabati. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008: 18-19. Yogyakarta, 1819 November 2008: Gelar Teknologi dan

Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM. 21. Kementerian Riset dan Teknologi. Briket batubara sebagai alternatif pengganti minyak tanah (http://www.ristek.go.id/file/ upload/lain_lain/briket/briket_batubara_1 .htm. Diakses 5 maret 2012) 22. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 2006. Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 47 Tahun 2006 23. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Panduan Teknologi Aplikatif Sederhana, Biogas: Konsep Dasar dan Implementasinya di Masyarakat. (http://www.kulonprogokab.go.id /v2/files/PANDUAN-TEKNOLOGIAPLIKATIF-SEDERHANA.pdf. Diakses 22 Februari 2012) 24. Ellia, dkk. 2011. Kajian Kebutuhan Standar Dalam Rangka Mendukung Efisiensi Energi. Laporan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Standardisasi. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional 25. Alpensteel.com. Kompor Tenaga Surya Buatan Minto Banyak yang Minati (http://www.alpensteel.com /article/46102-energi-matahari--surya--solar/421-kompor-tenaga-surya-buatan-mintobanyak -yang-minatti.html. Diakses 22 Februari 2012) 26. Badan Standardisasi Nasional. Sistem Informasi SNI (SNI) (http://websisni.bsn.go.id /index.php?/sni_main/sni/index_simple. Diakses 10 Februari 2012)