Anda di halaman 1dari 6

Fungsi Sistem Muskuloskeletal Oleh: Fredy Rodeardo Maringga, 1106050203 1.

Pendahuluan Muskuloskeletal merupakan sebuah sistem organ yang merupakan integrasi antara muskular (otot) dan skeletal (rangka). Fungsi muskuloskeletal yang umum dikenal adalah membantu pergerakan. Namun, ternyata masih banyak fungsi lain yang dimiliki oleh sistem muskuloskeletal. Pada Lembar Tugas Mandiri (LTM) ini, akan dibahas fungsi-fungsi dari sistem muskuloskeletal.

2. Pembahasan Sistem skeletal berperan menjalankan beberapa fungsi, yaitu a. Support Kerangka tubuh berperan sebagai structural framework untuk tubuh dengan mendunkung jaringan lunak serta menyediakan titik perlekatan untuk tendon dari sebagaian besar otot rangka1 b. Protection Rangka tubuh melindungi organ-organ dalam yang penting yang ada di dalam tubuh manusia. Sebagai contoh, misalnya. Tulang-tulang kranial melindung otak dan tulang-tulang rusuk melindungi jantung dan paru-paru. 1 c. Assistance in movement Sebagian besar otot rangka melekat pada tulang. Ketika otot rangka menjalankan gungsinya dengan berkontraksi, otot tersebut akan menarik tulang untuk menghasilkan pergerakan. 1 d. Mineral homeostasis Jaringan tulang merupakan tempat penyimpanan untuk beberapa jenis mineral, terutama kalsium dan fosfor yang berperan terhadap kekuatan tulang. Menjaga level kalsium di darah adalah dengan mengontrol tingkat resorpsi kalsium dari tulang ke darah dan deposisi kalsium dari darah ke tulang. Ada banyak proses dalam tubuh yang membutuhkan kalsium dalam jumlah tertentu sehingga level ion kalsium dalam plasma diregulasi sedapat mungkin berada dalam kisaran 9-11 mg/100 mL. Bahkan, jika jumlah kalsium sedikit saja berada di luar kisaran tersebut, dapat menyebabkan terjadinya hal yang fatal. Jantung dapat berhenti jika konsentrasi kalsium terlalu tinggi dan proses bernapas akan berhenti jika konsentrasi kalsium terlalu rendah. 1

Keseimbangan Kalsium Sepasang hormon dengan efek yang berlawanan menjaga homeostasis ion kalsium. Kedua hormon tersebut adalah hormon paratiroid dan kalsitonin. Masing-masing hormon ini mengatur penyimpanan, penyerapan, dan ekskresi dari ion-ion kalsium. Proses penyimpanan terjadi di tulang, penyerapan terjadi di pencernaan, dan ekskresi terjadi di ginjal. Ada dua bentuk kondisi tidak terjaganya homeostasis kalsium, yaitu2

a) Konsentrasi ion kalsium di darah berada di bawah normal

Gambar 1. Faktor-faktor yang Meningkatkan Kadar Kalsium dalam Darah2

Ketika konsentrasi kalsium di dalam darah berada di bawah normal, kelenjar paratiroid akan melepaskan hormon paratiroid ke aliran darah. Hormon paratiroid mempunyai tiga efek besar yang akan meningkatkan konsentrasi kalsium di darah, yaitu Merangsang aktivitas osteoklas dan meningkatkan penggunaaan kembali mineralmineral oleh osteosit. (Hormon paratiroid juga merangsang aktivitas osteoblas, tetapi dalam tingkatan yang lebih kecil) Meningkatkan tingkat absorpsi ion kalsium oleh usus dengan meningkatkan kerja kalsitriol.

Menurunkan tingkat ekskresi ion kalsium oleh ginjal.2

b) Konsentrasi ion kalsium di darah berada di atas normal

Gambar 2. Faktor-faktor yang Menurunkan Kadar Kalsium dalam Darah2

Ketika konsentrasi kalsium di darah berada di atas normal, sel-sel parafolikular di kelenjar tiroid akan mengeluarkan sekret berupa kalsitonin. Kalsitonin mempunyai dua fungsi utama, yaitu Menghambat aktivitas osteoklas Meningkatkan tingkat ekskresi ion kalsium oleh ginjal2 Terhambatnya aktivitas osteoklas akan mengurangi konsentrasi kalsium yang masuk ke cairan tubuh karena osteoklas tidak meresorpsi tulang sehingga konsentrasi kalsium dalam tulang tetap. Selain itu, konsentrasi kalsium di darah menurun akibat aktivitas osteoblas yang terus memproduksi matriks tulang yang baru sedangkan ekskresi kalsium di ginjal meningkat. Hal-hal di atas juga didukung oleh penurunan banyaknya hormon paratiroid dan kalsitriol yang menyebabkan penurunan absorpsi kalsium di usus.2

Tahapan bone remodeling a) Quiescence Sel-sel tulang masih berupa lining cells, preosteoblas, dan preosteoklas Ketika ada rangsang pada tulang yang diterima oleh reseptor membran preosteoblas, sel-sel tersebut akan diaktifkan3,4 b) Rekrutmen, proliferasi, diferensiasi, dan aktivasi osteoklas Preosteoblas akan menjadi aktif dan berubah menjadi bentuk kuboid, dan menghasilkan beberapa produk, yaitu Rank ligand (Rank-L) /ODF (osteoclast differentiation factor) M-CSF (macrophag colony stimulating factor) OPG (osteoprotegerin)

Rank-L yang dihasilkan oleh osteoblas akan ditangkap oleh reseptor Rank yang ada di permukaan sel preosteoklas. Sinyal ini akan mengaktifkan faktor transkripsi NF sehinggan preosteoklas berdiferensiasi menjadi osteoklas. M-CSF memiliki fungsi memicu fusi dari makrofag untuk membentuk osteoklas. Sedangkan OPG bersifat decoy yang bebas. OPG akan bekerja dengan mengikat Rank-L dan menghambat aktivasi osteoklas.3,4 c) Resorpsi tulang Untuk memulai resorpsi, diperlukan integrin, interleukin, vitamin A, dan keadaan asam. Osteoklas akan menempel di bagian yang akan di resorpsi dan membuat terowongan dalam tulang. Setelah proses resorpsi berlangsung selama 2 minggu, osteoklas akan berapoptosis. Apoptosis ini dirangsang oleh estrogen, kalsitonin, interferon, dan transforming growth factor beta (TGF).3,4 d) Aktivasi osteoblas TGF yang dihasilkan oleh osteoklas akan memicu aktivasi osteoblas.3,4 e) Pembentukan osteoid Produk protein yang dihasilkan oleh osteoblas akan mengisi terowongan yang dibentuk oleh osteoklas, disebut osteoid. Setelah osteoid mencapai 6, pembentukannya akan berhenti dan dilanjutkan proses mineralisasi.3,4 f) Mineralisasi osteoid Prosesini dilakukan dan diregulasoi oleh osteoblas, sedangkan diaktifkan oleh ion kalsium dan fosfat dalam tulang. Tahapan ini terdiri atas pembentukan hidroksi

apatit, peningkatan densitas tulang, dan pembentukan lamela tulang. Setelah tahapan ini, proses remodeling kembali masuk ke tahapan quiescence.3,4

Gambar 3. Osteoblastogenesis-osteokastogenesis dan Komunikasi osteoblas-osteoklas3

e. Blood cell production Di dalam beberapa jenis tulang tertentu, jaringan ikat yang disebut sumsum tulang merah memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan platelet melalui sebuah proses yang disebut hemopoiesis.1 f. Triglyceride storage Sumsum tulang kuning, utamanya, terdiri atas sel-sel adiposa yang menyimpan trigliserida. Trigliserida ini adalah cadangan energi kimia yang potensial.1

Fungsi sistem muskular a. Menghasilkan pergerakan tubuh Semua pergerakan tubuh yang kita lakukan adalah hasil dari kontraski otot yang berdasarkan fungsi terintegrasi dari otot rangka, tulang, dan sendi.

b. Stabilisasi posisi tubuh Kontraksi otot rangka akan menstabilkan sendi dan menjaga posisi tubuh c. Menghasilkan panas. Ketika jaringan otot berkontraksi, akan terjadi sebuah proses yang disebut thermogenesis, yaitu proses pembentukan panas. Sebagian besar panas yang dibentuk oleh otot digunakan untuk menjaga suhu normal tubuh.1

3. Penutup Dari pembahasan di atas, dapat dilihat banyaknya fungsi dari sistem muskuloskeletal. Fungsi-fungsi tersebut juga berkaitan dengan fungsi-fungsi dari sistem lain dan dapat mempengaruhi kerja sistem lain. Referensi 1. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. 12th ed. USA: John Wiley & Sons, Inc; 2009. p. 176 2. Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of Anatomy and Physiology. 9 th ed. San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings; 2012. p.186-9 3. Fernndez-Tresguerres-Hernndez-Gil I, Alobera-Gracia MA, del Canto-Pingarrn M, Blanco-Jerez L. Physiological bases of bone regeneration II. The remodeling process. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2006;11: E151-7 4. Thamrin E. Hormonal Regulations of Bone and Calcium-Phosphat Metabolism.[lecture slide]. 2011. Unversity of Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai