Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN INSPEKSI SARANA SANITASI PERMUKIMAN DI WILAYAH PUSKESMAS NGAMPILAN Laporan Ini Disusun Sebagai Tugas Akhir Mata

Kuliah Sanitasi Permukiman Semester V

Disusun Oleh : KELOMPOK PUSKESMAS NGAMPILAN KELAS NON REGULER

Dilla Dwi Arinta Istiqomah Astri Ayu R.A Lina Hanarisanty Maria Pradnyayu P Priestiana Mugi Rahayu Waskitho Adiyoga

P07133110052 P07133110065 P07133110070 P07133110073 P07133110081 P07133110094

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

LAPORAN INSPEKSI SARANA SANITASI PERMUKIMAN DI WILAYAH PUSKESMAS NGAMPILAN Laporan Ini Disusun Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Sanitasi Permukiman Semester V

Disusun Oleh : KELOMPOK PUSKESMAS NGAMPILAN KELAS NON REGULER

Dilla Dwi Arinta Istiqomah Astri Ayu R.A Lina Hanarisanty Maria Pradnyayu P Priestiana Mugi Rahayu Waskitho Adiyoga

P07133110052 P07133110065 P07133110070 P07133110073 P07133110081 P07133110094

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada kehadiratnya, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktik Sanitasi Permukiman di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan. Kami harapkan kegiatan ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan pada umumnya. Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada : 1. Tuntas Bagyono, SKM. M.Kes selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Yogyakarta. 2. Siti Hani Istiqomah, SKM, M.Pd dan Bapak Sigit Sudaryanto, SKM, M.Pd, selaku dosen mata kuliah Sanitasi Permukiman yang telah memberikan bimbingan pengarahan sehingga laporan ini dapat terselesaikan. 3. dr. Prie Aka Mahdayanti selaku Kepala Puskesmas Ngampilan yang telah memberikan ijin praktek Sanitasi Permukiman di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan. 4. Waiwan Saimina, Amd selaku pembimbing dari Puskesmas Ngampilan, yang telah membantu dan membimbing kami selama menjalani praktek di Puskesmas Ngampilan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan praktik Sanitasi Permukiman ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk ini kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun terhadap penyusunan laporan ini dimasa yang akan datang.

Yogyakarta, November 2012 Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL. ......................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................................ ii KATA PENGANTAR ........................................................................................................ iii DAFTAR ISI....................................................................................................................... iv BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................................................................... 1 B. Tujuan . ................................................................................................................... 3 C. Manfaat. .................................................................................................................. 3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah ..................................................................................................................... 5 B. Permukiman ............................................................................................................ 6 C. Masalah Perumahan Di Indonesia .......................................................................... 7 BAB III. ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA A. Alat ........................................................................................................................ 10 B. Bahan ...................................................................................................................... 10 C. Prosedur Kerja ........................................................................................................ 10 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi ........................................................................................ 13 B. Lingkup Penilaian Rumah....................................................................................... 17 C. Pembahasan............................................................................................................. 28

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................................. 40 B. Saran ....................................................................................................................... 41 LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan Kesehatan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang optimal serta pembangunan yag dilaksanakan seyogyanya berdampak positif terhadap lingkungan sehat, perilaku sehat, serta perumahan dan permukiman yang sehat. Masalah rumah dan permukiman di Indonesia bukan hanya terletak pada kurangnya jumlah rumah di daerah perkotaan, tetapi menyangkut aspek kualitas rumah dan aspek non fisik yaitu perilaku yang sangat mempengaruhi kesehatan rumah. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan sandang, pangan dan kesehatan. Oleh karena itu rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktifitas. Kontruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan. Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawan dan ruang gerak

yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.


2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang sehat

antar anggota keluarga dan penghuni rumah.


3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah dengan

penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayan dan penghawaan yang cukup.
4. Memenuhi persayaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena

keadaan luar maupun dalam rumah antara lain, posisi garis sempadan jalan, kontruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan penyakit berbasis lingkungan. Penyakit ISPA dan TBC erat kaitannya dengan kondisi sanitasi perumahan. Penyediaan air bersih, pembuangan limbah, sampah dan tinja yang tidak sehat dapat menjadi resiko timbulnya penyakit diare dan cacingan. Faktor resiko pada bangunan rumah yang berpengaruh pada penularan penyakit dan timbulnya kecelakaan antara lain ventilasi, pencahayaan, kapadatan penghuni, kelembaban udara kamar (tidur) dan kualitas udara dalam ruangan. Untuk mewujudkan lingkungan perumahan yang sehat harus memperhatikan lokasi, kualitas tanah dan air tanah, kualitas udara ambien, kebisingan, getaran dan radiasi, sarana dan prasarana lingkungan (saluran air, pembuangan sampah, jalan, tempat bermain, dan sebagainya), binatang penular penyakit (vektor), dan penghijauan. Bila lingkungan perumahan tidak diperhatikan, maka dapat memudahkan terjadinya penularan dan penyebaran penyakit, seperti diare, cacingan, ISPA, TBC, demam berdarah, malaria, typhus, leptospirosis, dan dapat menyebabkan kecelakaan seperti kebakaran, tertusuk paku atau kaca, terpeleset, terantuk, dan sebagainya. Supaya lingkungan rumah kita tidak merupakan sumber penularan penyakit maka diperlukan partisipasi kita semua untuk turut memelihara serta menjaga lingkungan dan rumah supaya tetap bersih dan sehat sehingga menjadi tempat penghunian yang aman dan nyaman. Mata kuliah Penyehatan Lingkungan Permukiman melatih mahasiswa untuk mengenal permasalahan kesehatan rumah dan lingkungan permukiman, analisis faktor resiko dan penyebab rendahnya kualitas rumah dan permukiman, merumuskan alternatif pemecahan masalah dengan menitik beratkan pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan perumahan sesuai dengan syarat-syarat kesehatan rumah SK Menkes No. 829/Menkes/SK/VII/1999 dan permukiman sehat. Untuk memberikan pengalaman kapada mahasiswa agar mampu dalam pengelolaan lingkungan perumahan, maka diberikan praktik lapangan yaitu Survey Data Dasar (SDD). Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kota Yogyakarta.

B. Tujuan 1. Umum Mahasiswa dapat mengumpulkan data dan informasi tentang kondisi rumah dan lingkungan untuk penyusunan rencana program ditingkat kelurahan guna mengatasi masalah perumahan dan lingkungan permukiman dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia di masyarakat. 2. Khusus a. Terkumpulnya data tentang: 1) Keadaan lingkungan dan demografi 2) Data rumah sehat 3) Potensi yang dimiliki SDA dan DSM 4) Data penyakit berbasis lingkungan dan potensi resiko b. Tersusunnya rencana kegiatan pemecahan masalah

C. Manfaat
1. Bagi Masyarakat Ngampilan a. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang rumah sehat dan lingkungan sehat b. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya rumah dan lingkungan sehat 2. Bagi Puskesmas Ngampilan

a. Mendapat masukkan dan informasi yang membangun bagi Puskesmas Ngampilan terutama dibidang kesehatan lingkungan b. Mendapat bantuan tenaga dalam menangani masalah-masalah sanitasi di wilayah kerja Puskesmas Ngampilan
3. Bagi Mahasiswa Kesehatan Lingkungan

a. Sebagai media silaturahmi dan kerjasama yang baik antara instansi pemerintah b. Sebagai tempat untuk membantu mahasiswa melakukan praktik kuliah lapangan dengan orientasi langsung ke masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Rumah Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

829/Menkes/SK/VII/1999. Menurut Azrul Azwar, rumah bagi manusia mempunyai arti: 1. Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari. 2. Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada. 3. Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang datang mengancam. 4. Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang masih dirasakan hingga saat ini. 5. Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang berharga yang dimiliki, yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan. Rumah sehat diartikan sebagai tempat berlindung/bernaung dan tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rokhani maupun sosial. Menurut Ditjen Cipta karya komponen yang harus dimiliki rumah sehat adalah: 1. Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar memberi kestabilan bangunan dan merupakan penghubung antara bangunan dengan tanah. 2. Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari pekarangan dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah panggung dapat terbuat dari papan atau anyaman bambu. 3. Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi sebagai ventilasi dan masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai. 4. Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap, menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya.

5. Langit-langit untuk menahan dan menyerap panas terik matahari. 6. Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan panas sinar matahari. Rumah yang sehat menurut Winslow dan APHA harus memenuhi persyaratan antara lain: 1. Memenuhi kebutuhan fisiologis a. Pencahayaan b. Ventilasi (Perhawaan) c. Gangguan suara/kebisingan (noise) d. Cukup tempat bermain anak 2. Memenuhi kebutuhan psikologis 3. Mencegah penularan penyakit a. Penyediaan air b. Bebas dari kehidupan serangga dan tikus c. Pembuangan sampah d. Pembuangan air limbah e. Pembuangan tinja 4. Mencegah terjadinya kecelakaan

B. Permukiman Dalam buku The Lexicon Webster Dictionary pengertian permukiman dapat dirumuskan sebagai suatu keadaan atau tempat dimana manusia dapat menetap/tinggal pada kedudukan yang tetap sehingga keluarga dapat berkembang secara harmonis dalam kondisi yang menguntungkan. Menurut WHO, permukiman adalah Suatu Struktur Fisik dimana orang

menggunakannya untuk tempat berlindung, juga lingkungan dari struktur tersebut termasuk semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rokhani dan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu. Sedangkan menurut undang-undang nomor 4 tahun 1992 permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan.

Berdasarkan sifatnya permukiman dapat dibedakan beberapa jenis yaitu: 1. Permukiman/perkampungan tradisional. 2. Perkampungan darurat. 3. Perkampungan Kumuh (slum area). 4. Permukiman Transmigrasi. 5. Perkampungan untuk kelompok-kelompok khusus. 6. Permukiman baru (real state).

C. Masalah Perumahan di Indonesia Masalah rumah dan permukiman di Indonesia berakar dari pergeseran konsentrasi penduduk dari desa ke kota. Pertumbuhan penduduk kota di Indonesia yang cukup tinggi, sekitar 4% pertahun, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional, dan kecenderungan yang tinggi tumbuhnya kota-kota di Indonesia. Sayangnya, terjadi keadaan yang tidak sesuai antara tingkat kemampuan dengan kebutuhan sumber daya manusia untuk lapangan kerja yang ada di perkotaan, mengakibatkan timbulnya kelas sosial yang tingkat ekonominya sangat rendah. Hal ini berakibat terhadap tingkat pemenuhan kebutuhan dasar kaum papa itu yang dikatakan sangat minim. Rumah dan tempat hunian mereka tidak lebih merupakan tempat untuk tetap survive di tengah kehidupan kota. Kualitas permukiman mereka dianggap rendah dan tidak memenuhi standar hidup yang layak. Berbagai program pengadaan perumahan telah dilakukan Pemerintah dan swasta (real estat). Tetapi apa yang dilakukan belum mencukupi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi jumlah ternyata Pemerintah dan swasta hanya mampu menyediakan lebih kurang 10% saja dari kebutuhan rumah, sementara sisanya dibangun sendiri oleh masyarakat. Darei segi kualitas, banyak pihak yang berpendapat bahwa program yang ada belum menyentuh secara holistik dimensi sosial masyarakat, sehingga masih perlu diupayakan perbaikan-perbaikan. Beberapa masalah pokok dalam bidang perumahan di Indonesia antara lain: 1. Perbedaan persepsi tentang rumah layak huni. Masalah penyelesaian teknis ekonomi yang tidak sepihak, tanpa melibatkan masyarakat pemakai yang berhubungan erat dengan latar belakang budaya, tradisi dan perilaku mereka. Hal ini menimbulkan kesenjangan dalam memandang rumah yang layak huni. Salah satu akibatnya adalah

rumah siap huni berupa rumah susun, misalnya ditinggalkan oleh penghuninya, atau berkembang menjadi sangat rawan akan kriminalitas atau dipugar, yang tentunya membutuhkan biaya tambahan. 2. Ketidakseimbangan sediaan (supply) dan permintaan (demand). Kebutuhan paling banyak adalah berasal dari golongan rumah menengah ke bawah, sementara ada kecenderungan pihak pengembang, terutama swasta membangun untuk masyarakat menengah atas yang memang menjanjikan keuntungan yang lebih besar. 3. Keberlanjutan (sustainability) rumah dan perumahan. Belum ada sistem yang efektif untuk mengevaluasi perumahan, agar dapat diperoleh gambaran kehidupan masyarakat di dalamnya pasca okupansi. Padahal hal ini penting untuk perbaikan kualitas perumahan secara berkelanjutan. 4. Ketidakseimbangan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kota. Masyarakat berpendapatan rendah yang membangun rumahnya dalam batas kemampuannya pada ruang-ruang kota, seperti prasarana dan sanitasi lingkungannya. Hal ini menunjukkan tidk terlindunginya hak-hak mereka sebagai warga kota. 5. Pola pembangunan perumahan dan permukiman masih memberikan gambaran bahwa aspek kesehatan lingkungan belum dijadikan dasar komponen yang diperlukan dalam perencanaan teknis. 6. Masih banyak dijumpai lingkungan permukiman baru di perkotaan yang tidak menjamin peningkatan status kesehatan keluarga. Seperti ukuran yang terlalu kecil dibanding dengan jumlah penghuni, tata letak yang terlalu dekat dengan pusat industri dan kegiatan lalu lintas yang padat, mutu bangunan yang Sub Standar. 7. Di Pedesaan pada umumnya, perumahan masih berkaitan erat dengan budaya atau tradisi setempat yang sering kali tidak memenuhi kondisi kesehatan lingkungan. 8. Belum terlaksananya secara optimal fungsi dan peranan sektor-sektor yang terkait dalam sistem penanganan perumahan dan lingkungan terutama di daerah kumuh perkotaan, daerah pemukiman baru perkotaan dan pemukiman transmigrasi.

BAB III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

A. Alat 1. Sound Level Meter 2. Lux Metet 3. Thermohigrometer 4. Anemometer 5. Kalkulator

B. Bahan 1. Alat Tulis 2. Check List

C. Prosedur Kerja 1. Sound Level Meter Pengukuran kebisingan di wilayah Kelurahan Notoprajan dan Kelurahan Ngampilan Kecamatan Ngampilan Cara Kerja: a. Menentukan titik sampling yang baik, jarak dari titik pemantul 23 meter b. Meletakkan/memegang sound level meter pada ketinggian 1,001,20 meter c. Mengarahkan mikrofon ke sumber suara d. Menghidupkan sound level meter dengan cara menggeser tombol ON/OFF e. Menyetel respon F (fast) dan filter A pada intensitas yang kontinue atau slow pada intensitas impulsiv f. Menggeser range suara g. Mencatat angka yang muncul pada display setiap 5 detik pada formulir Bis h. Melakukan pengukuran seperti tersebut diatas selama 1215 menit i. j. Mengelompokkan hasil pengukuran dengan formulir Bis 2 Menghitung tingkat kebisingan sesuai dengan rumus.

2. Lux Meter Pengukuran pencahayaan di wilayah Kelurahan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Cara Kerja: a. Menentukan titik yang akan dilakukan pengukuran pencahayaan (pada lokasi dengan ukuran 5x8 meter diambil 5 titik) b. Membuka lux meter c. Memegang lux meter dengan menengadahkan lux meter d. Menyalakan lux meter e. Menunggu beberapa saat hingga terlihat nilai yang tercantum cukup konstan f. Mencatat nilai hasil pengukuran pencahayaan g. Melakukan hal tersebut diatas pada titik-titik yang lain sampai selesai (setiap pergantian titik, lux meter dimatikan terlebih dahulu). 3. Thermohigrometer Pengukuran suhu dan kelembaban di wilayah Kelurahan Ngampilan dan Kelurahan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Cara Kerja: a. Menentukan titik yang akan dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban b. Menggantung thermohigrometer pada dinding selama 15 menit c. Melihat dan mencatat hasil pengukuran suhu dan kelembaban 4. Anemometer Pengukuran kecepatan angin diwilayah Kelurahan Ngampilan dan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Cara Kerja : a. Menentukan titik yang akan dilakukan pengukuran kecepatan angin b. Anemometer diarahkan dibagian belakang ventilasi, kemudian menghidupkan anemometer dengan cara Tekan tombol ON/OFF Tekan vell, tunggu sampai muncul huruf m/s Tunggu 5 menit, tekan read selama 5 detik

c. Melihat dan mencatat hasil pengukurannya (pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Puskesmas Ngampilan yang terletak di jalan Munir NG II/215 Kelurahan Notoprajan Kecamatan Ngampilan Kota Yogyakarta mempunyai wilayah kerja dua kelurahan. Adapun gambaran umum wilayah kerja akan dijelaskan pada uraian di bawah ini: 1. Kondisi Geografis Kecamatan Ngampilan a. Nama b. Batas Wilayah Utara Timur Selatan Barat : Kecamatan Ngampilan : : Wilayah kelurahan Pringgokusuman : Wilayah kelurahan Ngupasan, Kec Gondokusuman : Wilayah kelurahan Gedongkiwo, Kec Mantrijeron : Wilayah kelurahan Wirobrajan, Kec Wirobrajan

c. Jarak Pusat Pemerintah Wilayah Kecamatan Kelurahan terjauh Ibukota Kota Ibukota Provinsi d. Jumlah Kelurahan : 0,5 km : 5 km : 2,5 km :

1. Kelurahan Ngampilan 2. Kelurahan Notoprajan e. Jumlah RW f. Jumlah RT g. Luas wilayah h. Ketinggian tempat i. Rerata curah hujan j. Topografi : 21 RW : 120 RT : 183,1579 Ha : 114 mdpal` : 1500 mm/th : 0-3% (datar)

k. Luas dan Penggunaan lahan Sawah/ladang Pekarangan/bangunan Fasilitas umum :: 69,76 ha : 12,12 ha

Jalur hijau Pekuburan l. Demografi

: 11,74 ha : 0,48 ha

Jumlah penduduk : 19.854 jiwa Laki-laki Perempuan : 9.775 jiwa : 10.079 jiwa

m. Laju pertumbuhan penduduk Jumlah KK Kepadatan Penduduk : 5211 KK : 2704 jiwa/km2

2. Tingkat Sosial Ekonomi Penduduk Sosial Ekonomi merupakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap berhasil tidaknya upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat berdasarkan hasil pendataan keluarga prasejahtera yang dilakasanakan oleh BKKBN Kecamatan Ngampilan tahun 2009 dapat diketahui bahwa 2826 jiwa (11,69%) penduduk Kecamatan Ngampilan dalam kondisi status GAKIN. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan status sosial ekonomi warga penduduk Kecamatan Ngampilan bila dibandingkan dengan tahun lalu dimana (15,70%) penduduk Kecamatan Ngampilan Kota Yogyakarta dalam kondisi keluarga Prasejahtera atau GAKIN. Adanya kelembagaan sosial di masyarakat akan mempengaruhi kondisi sosial yang ada, yang diharapkan dapat memberdayakan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan di kecamatan Ngampilan. Dari kegiatan koordinasi dan komunikasi antar unsur-unsur atau komponen baik pribadi atau organisasi maka akan terjalin hubungan timbal balik antara pemerintah, swasta dengan masyarakat.

3. Data Demografi Dan Sarana Kesehatan Desa/Kelurahan Kecamatan Kabupaten/Kota : Notoprajan dan Ngampilan : Ngampilan : Kota Yogyakarta

a. Kependudukan 1) Jumlah Penduduk Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah 9.775 orang 10.079 orang 19.854 orang % 49,23 50,77 100

2) Kelompok Umur menurut usia a) Kelompok pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelompok Umur 0 - 3 th 4 - 6 th 7 - 12 th 13 - 15 th 16 - 18 th 19 th ke atas Jumlah Banyaknya 1.002 orang 807 orang 1743 orang 818 orang 1310 orang 15184 orang 20864 orang % 4,8 3,9 8,3 3,9 6,3 72,8 100

b) Tingkat Pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pendidikan Taman kanak kanak SD SMP SLTA Akademi (D1 D3) Sarjana (S1 S2) Jumlah Banyaknya 0 orang 3.438 orang 3.748 orang 5.348 orang 724 orang 1.994 orang 15.252 orang % 0 22,5 24,6 35,1 4,7 13,1 100

3) Sarana Kesehatan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Posyandu Puskesmas Pembantu Puskesmas Apotek/Depot Obat RS Dokter Praktik Bidan Praktik Kader Kesehatan Jenis Sarana Banyaknya 23 buah 1 buah 1 buah 6 buah 24 buah 1 buah 13 orang

4) Sarana Kesehatan Lingkungan No 1. 2. 3. 4. TPS MCK SAB Jamban Jenis Sarana Banyaknya 1 buah 46 buah 641 buah 1084 buah

5) Sarana Pendidikan No 1. 2. 3. 4. 5. Tingkat Pendidikan TK Sekolah Dasar SLTP SLTA Akademi / PT Banyaknya 8 buah 9 buah 3 buah 3 buah 1 buah

6) Tempat Ibadah No 1. 2. 3. 4. Jenis Sarana Masjid Gereja Pura Vihara Banyaknya 18 buah 2 buah -

7) Sarana Sosial Lain No 1. 2. 3. 4. Jenis sarana Pasar Terminal Hotel Melati Restaurant/Rumah makan Banyaknya 1 buah 3 buah 10

B. Lingkup Penilaian Rumah Meliputi Komponen Rumah, Sarana Sanitasi Dan Perilaku Penghuni 1. Komponen rumah a. Langit-langit Keadaan langit-langit Tidak ada Ada, bersih, rawan kecelakaan Ada, bersih, kuat & tinggi min 2,75 m Jumlah Frekuensi 49 38 33 120 % 40,8 31,7 10,8 100

Keterangan: Dari 120 rumah penduduk yang disurvey, 32,5% tidak memiliki langit-langit, yang memiliki langit-langit dalam keadaan bersih namun rawan kecelakaan sebanyak 31,6%. Sedangkan langit-langit yang memenuhi syarat yaitu bersih, kuat, dan tinggi sebanyak 35,8%.

b. Dinding Keadaan dinding Non permanen Semi permanan/tembok tidak diplester Permanen dan kedap air Jumlah Frekuensi 18 42 60 120 % 15 35 50 100

Keterangan: Dari 120 rumah penduduk yang disurvey, 50% keadaan dindingnya permanen dan kedap air. Namun yang masih dalam keadaan non permanen sebanyak 15% dan yang semi permanen/tembok tidak diplester sebanyak 35%. Rumah dengan kriteria tersebut belum dapat dikatakan sebagai rumah sehat.

c. Lantai Keadaan lantai Tanah/papan Seluruh lantai plester kasar (trasah) Seluruhnya kedap air dan sebagian dikeramik Seluruh lantai pasangan keramik Jumlah Frekuensi 5 62 26 27 120 % 4,1 51,7 21,7 22,5 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey 4,1% keadaan lantai rumah penduduk masih tanah, 51,2% kondisi lantai masih plester kasar (trasah), 21,7% kondisi lantai seluruhnya kedap air dan sebagian dikeramik dan 22,5% kondisi lantai seluruhnya pasangan keramik. Lantai merupakan komponen penting dalam penilaian rumah sehat karena lantai selalu berhubungan dengan kondisi pemiliknya.

d. Pintu Keadaan pintu Hanya ada pintu utama Setiap ruang tidur terpasang pintu Setiap pintu ruang tidur dipasang kasa nyamuk Jumlah Frekuensi 46 72 2 120 % 38,3 60 1,7 100

Keterangan: Keadaan pintu penduduk yang memenuhi syarat untuk sarana bergerak dan bersosialisasi dengan penghuni yaitu setiap ruang tidur terpasang pintu jumlahnya sebesar 60% dari 120 rumah yang disurvey dan setiap pintu ruang tidur dipasang kasa nyamuk sebesar 1,7% dari 120 rumah.

e. Jendela kamar tidur Keadaan Tidak ada Ada Jumlah Frekuensi 52 68 120 % 43,3 56,7 100

Jendela ruang keluarga Keadaan Tidak ada Ada Jumlah Frekuensi 53 67 120 % 44,2 55,8 100

Keterangan: Berdasarkan tabel diatas, baru 43,3% kamar tidur yang memiliki jendela dan 55,8% ruang keluarga yang memiliki jendela. Hal tersebut memenuhi syarat karena jendela merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah rumah sebagai sarana sirkulasi udara.

f. Ventilasi Keadaan Tidak ada ada, < 10% LL ada, 10% LL tidak dipasang kaca Ada, 10% LL dipasang kaca Jumlah Frekuensi 29 49 37 5 120 % 24,2 40,8 30,8 4,2 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey, 40,8% rumah penduduk telah memiliki ventilasi namun ventilasi kurang dari 10% dari luas lantai. Kriteria ventilasi belum memenuhi syarat, sehingga perlu ditambahkan alat bantu untuk mengatur system perhawaan dalam rumah, atau dapat juga dengan membuka jendela rumah dan kamar.

g. Lubang asap dapur Keadaan Tidak ada Ada Ada dan berfungsi dengan baik Jumlah Frekuensi 114 6 120 % 95 5 100

Keterangan: Sebagian besar (95%) rumah penduduk tidak memiliki lubang asap dapur dan yang telah memiliki lubang asap dapur namun tidak berfungsi dengan baik sebesar 5%. Dengan melihat data tersebut dapat dikatakan bahwa pemilik rumah belum mengetahui manfaat dari lubang asap dapur tersebut.

h. Pencahayaan alamiah Keadaan Tidak terang, tidak dapat digunakan untuk membaca Kurang terang, bila untuk membaca terasa sakit Terang, enak untuk membaca dan tidak silau Jumlah Frekuensi 9 61 50 120 % 7,5 50,8 41,7 100

Keterangan: Sebagian besar rumah penduduk (50,8%) keadaan pencahayaan alamiah kurang memenuhi syarat yaitu kurang terang, bila untuk membaca terasa sakit. Dan yang tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk membaca sebesar 41,7%. Sedangkan yang memenuhi syarat yaitu 7,5% dan enak untuk membaca.

2. Sarana Sanitasi a. SAB Jenis Yang Digunakan Sumur gali Sumur pompa tangan/sanyo PDAM Jumlah Frekuensi 40 45 35 120 % 33,3 37,5 29,2 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey, sumber air bersih yang digunakan oleh sebagian besar penduduk (37,5%) adalah Sumur yang menggunakan sambungan rumah/sanyo, sumur PDAM 33,3% dan 29,2% sudah menggunakan sumur gali.

Kepemilikan dan Kualitas SAB Bukan milik sendiri Ada, milik sendiri, tidak memenuhi syarat

Frekuensi 17 9

% 14,1 7,5

Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat Jumlah

56 38 120

46,7 31,7 100

Keterangan: Berdasarkan kepemilikan dan kualitas sarana air bersih, 14,1% penduduk belum memiliki sarana air bersih sendiri, mereka menggunakan sumur umum yang berada disekitar permukiman mereka. Dan yang sudah memiliki sarana air bersih sendiri yang memenuhi syarat sebesar 31,7%.

b. Jamban keluarga Kondisi Tidak ada Ada dan tidak memenuhi syarat Ada dan memenuhi syarat Jumlah Frekuensi 27 40 53 120 % 22,5 33,3 44,2 100

Keterangan: Dilihat dari kepemilikan jamban keluarga, 44,2% penduduk sudah memiliki jamban keluarga yang memenuhi syarat dan yang belum memiliki jamban keluarga sebesar 22,5%.

c. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Kondisi SPAL Tidak ada Ada, jarak dengan sumber air < 10 m, atau ke saluran terbuka Ada, jarak dengan sumber air >10 m, atau ke saluran kota Jumlah Frekuensi 40 17 % 33,3 14,2

63 120

52,5 100

Keterangan: Dilihat dari kepemilikan SPAL, dari 120 rumah hanya 14,2% penduduk sudah memiliki SPAL yang jarak dengan sumber airnya >10 meter atau ke saluran kota, 52,5% penduudk memiliki SPAL yang jarak sumber airnya <10 meter atau ke saluran terbuka dan 33,3% penduduk tidak memiliki SPAL.

d. Tempat sampah Kondisi Tempat Sampah Tidak ada Ada, tidak kedap air dan tidak tertutup Ada, kedap air dan berpenutup Jumlah Frekuensi 28 81 11 120 % 23,3 67,5 9,2 100

Keterangan: Berdasarkan kepemilikan tempat sampah, 67,5% penduduk sudah memiliki tempat sampah namun tidak kedap air dan tidak bertutup. Penduduk belum menyadari pentingnya menggunakan tempat sampah yang bertutup dan kedap air. Sedangkan penduduk yang sudah memiliki tempat sampah yang bertutup dan kedap air sebesar 9,2% dan 23,3% yang tidak memiliki tempat sampah.

3. Perilaku Penghuni a. Membuka jendela Perilaku Tidak pernah Kadang-kadang Setiap hari Jumlah Frekuensi 27 58 35 120 % 22,5 48,3 29,2 100

Keterangan: Kebiasaan penduduk untuk membuka jendela setiap hari (29,2%). Namun sebagian besar penduduk priode membuka jendelanya hanya kadang-kadang saja 48,3% dan 22,5% masyarakat yang tidak pernah membuka jendela.

b. Menyapu dan mengepel rumah Perilaku Seminggu Setiap 3 hari Setiap hari Jumlah Frekuensi 17 26 77 120 % 14,2 21,6 64,2 100

Keterangan: Kebiasaan penduduk untuk menyapu dan mengepel setiap hari sebagian besar (64,2%) sudah dilakukan, akan tetapi masih ada 14,2% yang menyapu dan mengepel rumah satu minggu sekali.

c. Cara membuang tinja, termasuk bayi Perilaku Ke sungai/kebun/kolam Ke WC/jamban Jumlah Frekuensi 1 119 120 % 0,8 99,2 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey, 99,2% penduduk sudah membuang tinja ke WC/jamban. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk memiliki kesadaran untuk menerapkan kepeduliannya atas kesehatan lingkungan.

d. Pengelolaan sampah Perilaku Dibuang ke sungai/kebun Ke TPS petugas sampah Dimanfaatkan daur ulang Jumlah Frekuensi 1 119 120 % 0,8 99,2 100

Keterangan: Sebagian besar penduduk (99,2%) sudah membuang sampah di TPS atau petugas sampah. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk sudah memiliki kesadaran akan pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan agar tetap sehat.

e. Menguras kamar mandi Perilaku Seminggu Setiap 3 hari Setiap hari Jumlah Frekuensi 31 27 62 120 % 25,8 22,5 51,7 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey, 51,7% penduduk sudah menyadari akan pentingnya 3M yang salah satunya menguras bak mandi setiap hari. 22,5% penduduk menguras bak mandi 3 hari sekali, akan tetapi masih ada 25,8% yang belum menyadari akan pentingnya 3M dan menguras bak mandinya hanya sekali dalam seminggu. 4. Lain lain a. Kepadatan penghuni Kepadatan penghuni < 8 m2 per orang > 8 m2 per orang Frekuensi 34 86 % 28,3 71,7

Jumlah

120

100

Keterangan: Kepadatan penghuni rumah 71,7% sudah memenuhi syarat yaitu kepadatan penghuni > 8 m2 per orang.

b. Tikus Keberadaan tikus Ada Tidak ada Jumlah Frekuensi 84 36 120 % 70 30 100

Keterangan: Sebagian besar rumah penduduk (70%) terdapat tikus. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan rumah dan lingkungan masih kurang.

c. Lalat Keberadaan lalat > 5 ekor < 5 ekor Jumlah Frekuensi 73 47 120 % 60,8 39,2 100

Keterangan : Berdasarkan hasil survey, 39,2% lalat pada rumah penduduk <5 ekor dan 60,8% keberadaan lalatnya >5 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa kebersihan rumah masih kurang.

d. Kecoa Keberadaan kecoa Ada Tidak ada Jumlah Frekuensi 89 31 120 % 74,2 25,8 100

Keterangan: Sebagian besar rumah penduduk (74,2%) terdapat kecoa. Hal ini menunjukkan rumah tersebut tingkat kebersihannya masih kurang. 25,8% tingkat kebersihan rumahnya baik.

e. Nyamuk Keberadaan nyamuk Ada Tidak ada Jumlah Frekuensi 103 17 120 % 85,8 14,2 100

Keterangan: Sebagian besar rumah penduduk (85,8%) terdapat nyamuk. Hal ini menunjukkan kebersihan dan sanitasi rumah masih kurang.

f. Kandang ternak Keberadaan kandang ternak Menyatu dengan rumah Terpisah dari rumah < 10 m Terpisah dari rumah > 10 m/tidak punya ternak Jumlah Frekuensi 19 101 120 % 0 15,8 84,2 100

Keterangan: Berdasarkan hasil survey, 84,2% rumah yang memiliki kandang ternak sudah terpisah dari rumah >10 m/tidak punya ternak. Hal ini menunjukkan penduduk sudah sadar

akan pentingnya kesehatan walaupun masih ada 15,8% yang masih belum menerapkan hal tersebut.

C. Pembahasan 1. Rumah dan Komponen-Komponen Rumah Dari hasil penilaian rumah sehat, didapatkan hasil dari 120 rumah yang diperiksa terdapat 10 atau 8,3% termasuk rumah yang tidak sehat karena total skore nilai dibawah 614, 31 atau 25,8% termasuk rumah yang kurang sehat dengan rentang skore antara 6141007, dan 79 atau 65,8% termasuk rumah sehat dengan rentang total skore nilai antara 1008-1388. Dapat dilihat pada lingkup penilaian rumah sehat, masih ada beberapa komponen rumah yang belum memenuhi syarat. Penilaian rumah tersebut mengacu pada standar yang ditetapkan yaitu pada Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman. Dari komponen-komponen yang ada, yaitu komponen rumah. diantaranya pintu, ada 46 rumah atau 38,3% dari 120 rumah yang diperiksa hanya memiliki pintu utama. Pada ventilasi juga masih terdapaat beberapa rumah yang tidak mempunyai ventilasi, yaitu terdapat 29 rumah atau 24,2% rumah tidak mempunyai ventilasi. Hal ini terjadi karena disebabkan lahan untuk setiap rumah terbatas, selain itu juga rumah penduduk yang satu dengan yang lain saling berhimpitan sehingga tidak memungkinkan dibuatnya lubang ventilasi di samping kanan atau kiri rumah. Rata-rata setiap rumah hanya memiliki lubang ventilasi di depan rumah dekat pintu masuk utama sehingga menyebabkan udara yang ada di dalam rumah tidak segar setiap hari khususnya pada ruangan yang tidak ada ventilasinya selain ruang tamu karena proses pertukaran udara dari luar ke dalam tidak bisa terjadi dan dapat mengakibatkan 3 kemungkinan, yaitu kekurangan oksigen dalam udara, bertambahnya konsentrasi CO2 serta adanya bahanbahan racun organis yang ikut terhirup. Selain alasan di atas ventilasinya kurang disebabkan karena bersatunya dapur dengan ruang tidur atau ruang lain tempat aktivitas keluarga. Kemudian komponen rumah selanjutnya yang kurang memenuhi persyaratan kesehatan dengan persentase tinggi adalah aspek pencahayaan untuk setiap rumah yang diperiksa kurang terang, bila untuk membaca terasa sakit yaitu sebesar 54%. Berkaitan

dengan lubang ventilasi yang kurang pencahayaan untuk setiap rumah juga kurang bagus menurut kesehatan. Karena lubang ventilasi yang kecil pencahayaan dari luar (sinar matahari yang masuk rumah) sedikit. Apalagi bagian atap rumah yang semuanya tertutup oleh genteng atau plafon dan tidak terdapat genteng kaca sehingga ruangan menjadi gelap atau kurang cahaya. Ada juga beberapa rumah untuk bagian ruang tamunya saat siang hari bila masuk ke dalam rumah terasa gelap harus menyalakan lampu yang ada karena gelap, tidak terang. Pada lubang asap dapur terdapat 114 rumah atau 95% dari 120 rumah yang diperiksa tidak memiliki lubang asap dapur. Untuk komponen sarana sanitasi, pada keadaan jamban keluarga terdapat 40 rumah atau 33,3% dari 120 rumah yang diperiksa memiliki jamban sendiri namun tidak memenuhi syarat. Jamban yang kotor dapat menimbulkan bau yang kurang sedap, dapat juga mengundang vector penyakit.

2. Sarana Sanitasi Selain itu, untuk komponen tempat sampah terdapat 81 rumah atau 67,5% dari 120 rumah yang kami periksa memiliki tempat sampah namun tidak kedap air dan tidak tertutup. Tempat sampah dengan kondisi yang demikian dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, mengundang lalat dan semut. Hal demikian dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan estetika. Tempat sampah yang tidak kedap air, bila terkena air dapat menyebabkan sampah yang di dalam tempat sampah menjadi basah dan lembek dan menimbulkan bau yang kurang sedap. Tempat sampah yang tidak tertutup akan mengundang datangnya lalat yang apabila lalat tersebut hinggap ke makanan dan makanan tersebut dimakan oleh manusia, maka dapat menyebabkan sakit perut, keracunan makanan dan gangguan sistem pencernaan. Selain itu juga bila tempat sampah tidak ada tutupnya bau sampah yang ada bila terkena angin dapat tersebar kemana-mana dan bisa menimbulkan pencemaran udara disekitarnya. Selanjutnya mengenai saluran pembuangan air limbah yang digunakan untuk setiap rumah yang diperiksa di kelurahan Ngampilan dan Notoprajan, rata-rata ada saluran pembuangan air limbah, tetapi jaraknya dengan sumber air kurang dari 10% atau

dibuang ke saluran terbuka yaitu sebesar 17% dan yang tidak ada SPAL 40 rumah atau 33,3%. Karena lahan yang tidak ada serta kelurahan Ngampilan dan Notoprajan juga

termasuk kawasan pemukiman padat jadi tidak mungkin jika setiap rumah membangun saluran pembuangan air limbah dengan jarak lebih dari 10 meter dari sumber air yang digunakan. Bila limbah yang dihasilkan dibuang ke saluran terbuka dapat menyebabkan pencemaran lingkungan seperti bau yang tidak enak, gangguan estetika, dapat menjadi sarang atau tempat berkembang biaknya binatang pengganggu. Namun jarak antara sumber air yang digunakan dengan saluran pembuangan air limbah yang terlalu dekat atau kurang dari 10 meter dapat mengakibatkan sumber air tesebut tercemar oleh air limbah yang ada di saluran pembuangan jika pembangunan sumber air tersebut dindingnya atau ada bagian yang tidak rapat dan tidak kedap air. Sumber air yang digunakan tersebut bila tercemar air limbah dan tetap digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti : penyakit kulit dan gangguan saluran pencernaan seperti diare.

3. Perilaku Pada komponen perilaku penghuni yaitu pada kebiasaan membuka jendela masih banyak yang membuka jendela rumahnya hanya kadang-kadang yaitu sebesar 58 rumah atau 48,3%. Hal ini mengakibatkan udara yang ada di dalam rumah tidak segar setiap hari khususnya pada ruang tamu yang jendelanya dibuka kadang-kadang saja. Proses pertukaran udara dari luar ke dalam tidak bisa terjadi dan dapat mengakibatkan 3 kemungkinan, yaitu kekurangan oksigen dalam udara, bertambahnya konsentrasi CO2 serta adanya bahan-bahan racun organis yang ikut terhirup. Selain alasan diatas jendela dibuka terkadang disebabkan karena rumah penduduk yang berdempetan dengan rumahrumah dan dengan jalan sempit atau jalan yang sering dilalui oleh kendaraan roda 2. Masih banyak warga yang menguras kamar mandi, setiap seminggu sekali. yaitu terdapat 31 rumah atau 25,8% dari 120 rumah yang diperiksa menguras kamar mandi setiap seminggu sekali. Untuk komponen lain-lain, diantaranya kepadatan penghuni terdapat 34 rumah atau 28,3% dari 120 rumah yang diperiksa kepadatannya <8m2 per orang. Keadaan rumah yang seperti ini tidak sehat, karena kurangnya ruang untuk tiap anggota keluarga

4. Keberadaan Vektor Di Rumah Warga Selain itu keberadaan vector seperti tikus, kecoa dan nyamuk juga masih banyak dijumpai. Untuk tikus, yaitu sebanyak 84 rumah atau 70% penghuni masih menjumpai tikus di rumahnya. Hal ini dapat disebabkan karena rumah berdekatan dengan selokan. Untuk keberadaan kecoa juga banyak, yaitu terdapat 89 rumah atau 74,2% dari 120 rumah yang diperiksa penghuninya masih sering menjumpai kecoa di rumah. Dari tikus, kecoa dan nyamuk yang paling banyak dijumpai yaitu nyamuk. Sebanyak 103 rumah atau 85,5% dari jumlah rumah yang disurvey penghuninya masih menjumpai banyak nyamuk di rumahnya. Keberadaan nyamuk ini dapat terjadi karena kebiasaan penghuni seperti menggantung pakaian, membiarkan container yang berisi air, dll.

5. Penilaian Lingkungan Pemukiman Untuk penilaian lingkungan pemukiman yang berada di kelurahan Ngampilan dan Notoprajan adalah lingkungan pemukiman di daerah tersebut merupakan kawasan pemukiman padat, rumah-rumah warga saling berdekatan/berhimpit-himpitan dengan jumlah penghuni rumah yang kebanyakan tidak sesuai dengan luas rumah yang dihuni dalam artian terlalu banyak penghuni. Pemukiman di daerah Bausasran ini fasilitas jalan untuk umum yang ada sangat sempit, hanya bisa dilewati oleh 1 orang saja. Ada jalan utama yang cukup lebar. Lingkungan pemukimannya sudah lumayan bersih, tidak terlihat sampah-sampah berserakan. Pemukiman yang padat penduduk seperti di daerah bantaran sungai ini akan mempunyai risiko yang besar terhadap terjadinya penularan penyakit apabila ada salah satu keluarga yang terkena DBD misalnya saja maka dengan jarak antara rumah warga yang satu dengan yang lain begitu dekat rumah sebelahnya akan mempunyai risiko tertular DBD lebih besar. Selain itu, di daerah pemukiman tersebut untuk sumur gali yang digunakan ada beberapa keluarga yang tidak mempunyai sumur gali mereka menggunakan satu sumber air untuk digunakan secara bersama-sama. Namun penataan rumah warga kurang sesuai dengan kesehatan seperti misalnya saja, rumah warga menghadap ke selatan di belakangnya lagi ada rumah, untuk depan rumah warga yang berada di belakang ini berhubungan dengan dapur dan toilet rumah warga yang di depan hanya terpisah oleh jalan sempit. Hal ini dapat menyebabkan gangguan estetika dan mengganggu kenyamanan. Kondisi rumah warga rata-rata sudah

menggunakan dinding permanen/ tembok hanya ada beberapa rumah yang masih menggunakan papan atau triplek sebagai dinding rumah. Di lingkungan tersebut juga terdapat rumah-rumah yang dikontrakkan serta ada juga pondok pesantren sehingga kawasan tersebut menjadi semakin padat penghuni.

6. Penyakit Berbasis Lingkungan Dari hasil survey penyakit berbasis lingkungan didapatkan 3 penyakit yaitu penyakit kult, diare dan ISPA. Penyakit yang paling banyak yaitu penyakit kulit sebanyak 6 rumah, diare 2 rumah dan ISPA 2 rumah. Timbulnya penyakit ini dapat dipicu karena masih banyak masyarakat yang memiliki rumah serta sarana kesehatan yang belum memenuhi syarat kesehatan, hal ini mayoritas merujuk pada rendahnya kualitas ekonomi dan pendidikan masyarakat. Selain itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan beberapa anggota keluarga yang belum menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa factor yang kami temukan dalam masyarakat yang dapat berperan sebagai penyebab timbulnya penyakit-penyakit tersebut antara lain masih adanya perilaku penduduk yang memiliki kebiasaan tidak membuka jendela baik ruang keluarga maupun kamar tidur. Padahal luas bangunan rumah warga di kedua kelurahan ini tergolong tidak sehat karena sebagian besar adalah rumah petak yang memiliki luas berkisar 10m2-20m2. Bahkan terdapat warga yang menempati rumah dengan luas seperti di atas namun ditempati oleh 3KK. Karena terbatasnya luas ruangan yang dimiliki ini menyebabkan kontak antar anggota keluarga menjadi lebih sering terjadi. Selain itu dari hasil pengukuran fisiologis dan penilaian pada komponen rumah di atas masih terdapat rumah yang pencahayaannya belum memenuhi persyaratan dan beberapa rumah tidak mempunyai ventilasi. Hal ini mengakibatkan tidakadanya pertukaran udara di dalam rumah. Kondisi yang seperti ini dapat menyebabkan penyebaran penyakit ISPA menjadi lebih besar dalam penularannya dalam satu keluarga. Factor lain yaitu pada komponen sarana sanitasi masih ada beberapaa yang kurang bagus. Diantaranya pada kepemilikan dan kualitas Sarana Air Bersih terdapat 9 rumah yang memiliki Sarana Air Bersih sendiri namun tidak memenuhi syarat. Air yang akan diminum sebaiknya diolah terlebih dahulu sampai benar-benar masak agar bakteri mati dan aman untuk diminum. Kebiasaan memasak air sampai matang dapat mengurangi risiko terkena diare. Keadaan jamban

keluarga yang tidak bagus juga dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, dan mengundang vector penyakit. Terdapat 40 rumah yang memiliki jamban sendiri namun tidak memenuhi syarat. Kebiasaan tidak mencuci tangan menggunakan sabun setelah BAB dapat menyebabkan mudah terkena diare, karena bakteri dari tinja tersebut akan mencemari apapun yang kita pegang. Selain itu, kepemilikan tempat sampah juga masih banyak yang tidak kedap air dan tidak tertutup. Terdapat 81 rumah yang memiliki tempat sampah namun tidak kedap air dan tidak tertutup. Keadaan tempat sampaah yang seperti ini dapat mengundang vector penyakit dan menimbulkan bau yang menyengat. Lalat misalnya, binatang pembawa penyakit. Apabila terdapat banyak lalat di rumah, kemungkinan untuk tertular penyakit sangat mudah. Melihat factor-faktor tersebut, wajar jika diare masih banyak dikeluhkan oleh masyarakat Ngampilan. Factor lain yang dapat mempengaruhi penyakit diare yaitu kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan. Membiasakan berperilaku hidup bersih dan sehat misalnya dengan mencuci tangan setelah beraktivitas dan sebelum makan dapat mengurangi risiko terkena penyakit diare. Penyakit ketiga yang dikeluhkan oleh masyarakat Gedongtengen yaitu penyakit kulit. Hal ini dapat terjadi karena air yang digunakan untuk mandi tidak memenuhi syarat. Factor risiko lain yang kami temukan dalam lingkungan masyarakat ini adalah kebiasaan warga memelihara hewan seperti kucing, anjing, ayam serta yang paling banyak yaitu peternak burung. Hewankucing dan anjing biasanya dipelihara dalam satu rumah oleh warga. Sedaangkan untuk ayam dan burung kebanyakan diletakkan di luara rumah dengan jarak yang tidak jauh. Dengaan luas rumah yang sempit, dapat memungkinkan sering terjadinya interaksi antara hewan dengan manusia. Setelah dilakukan survei mengenai penyakit berbasis lingkungan seperti diare, ISPA, Malaria, TB Paru, Penyakit kulit, DBD yang dilakukan bersamaan dengan survei penilaian rumah sehat sebanyak 100 rumah maka diperoleh hasil sebagai berikut : Penyakit yang tertinggi yaitu ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut sebesar 23. ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan, hidung, sinus, faring, atau laring. Penyebab ISPA kebanyakan adalah virus. Kejadian ISPA yang tinggi berkaitan dengan komponen rumah yaitu mengenai ventilasi yang buruk serta pencahayaan yang kurang baik menurut kesehatan. Mengenai ventilasi yang buruk, ISPA berkaitan dengan udara yang ada di dalam rumah, karena ventilasi rumah warga yang

kurang dari 10% luas lantai maka proses pertukaran udara di dalam rumah terhambat, udara luar tidak bisa masuk atau untuk setiap hari tidak ada pergantian udara segar, kondisi ini menjadikan rumah menjadi lembab dan udara yang dihirup sehari-hari menjadi udara yang tidak segar lagi. Udara dalam rumah mengalami kenaikan kelembaban yang bersumber dari penguapan cairan tubuh melalui kulit dan pernapasan. Jika ventilasi ruangan buruk, maka udara lembab tersebut tidak dapat bertukar dengan udara dari luar rumah. Udara basah yang dihirup berlebihan akan menyebabkan gangguan fungsi paru-paru atau pernafasan. Pemaparan terhadap hal tersebut secara terus-menerus dapat menyebabkan ISPA Penyakit ISPA sering ditemukan pada bayi, balita dan ibunya yang tinggal dalam rumah dengan ventilasi buruk. Selain itu juga kepadatan penghuni rumah yang tinggi kebutuhan udara per orang setiap harinya menjadi berkurang sehingga kebutuhan udara tidak bisa dipenuhi. Kemudian dari aspek pencahayaan yang kurang terang, Penyakit ISPA terjadi juga dapat disebabkan oleh pencahayaan yang kurang terang di dalam rumah. Pencahayaan yang kurang terang atau gelap akan menyebabkan penyebab ISPA yaitu virus bertahan di dalam rumah karena tidak terkena sinar matahari langsung, virus ISPA tersebut akan mati atau tidak aktif bila terkena sinar matahari secara langsung. Untuk itu sangat penting sekali mengatur pencahayaan di dalam rumah supaya anggota keluarga aman, tidak terkena penyakit ISPA tersebut. Kebiasaan membuka jendela setiap hari supaya dilakukan untuk mencegah terjadinya ISPA. Lubang ventilasi yang terbuka tersebut akan memberikan keuntungan seperti: terjadi proses pertukaran udara dan cahaya sinar matahari dari luar bisa masuk ke dalam rumah. Penyakit tertinggi kedua yaitu adalah diare sebanyak 16 . Diare (atau dalam bahasa kasar disebut menceret) adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki kandungan air berlebihan. Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat dari racun bakteria.Berkaitan dengan penilaian rumah sehat yang dilakukan, terjadinya penyakit diare tersebut disebabkan karena tingginya lalat dan kecoa yang berada di dalam rumah warga yaitu sebesar 55% dan 79%. Banyaknya lalat di dalam rumah berkaitan erat dengan saluran pembuangan air limbah yang terbuka dan tempat sampah yang tidak mempunyai tutup. Karena dua hal tersebut dapat mengundang datangnya lalat, lalat tersebut tidak langsung pergi begitu saja, lalat kemudian masuk ke

dalam rumah warga dan hinggap di makanan, makanan menjadi tercemar, tapi karena warga tidak tahu makanan tersebut tetap di makan setelah itu mengalami diare karena makanan yang tercemar. Selanjutnya untuk kecoa berhubungan dengan kondisi rumah yang berantakan serta kamar mandi yang kotor sehingga menyebabkan kepadatan kecoa di dalam rumah tinggi. Sama halnya seperti lalat tadi kecoa juga dapat menularkan penyakit melalui makanan. Selain itu terjadinya penyakit diare dapat disebabkan karena menggunakan sumber air yang tercemar bakteri E. Coli, karena lokasi sumber air yang dekat dengan jamban, sumur tersebut dapat tercemar, akibatnya orang yang mengkonsumsi air itu akan terkena diare. Faktor lain yang bisa menjadi penyebab diare yaitu mengenai kebiasaan mencuci tangan setelah BAB sebelum makan , bila seseorang lupa tidak mencuci tangan setelah BAB dan setelah itu makan bisa terjadi diare. Untuk itu penting sekali supaya mencuci tangan setelah BAB supaya tidak terjadi diare. Penyakit tertinggi ketiga yaitu penyakit kulit sebesar 10. Penyakit kulit seperti panu, kudis disebabkan karena perilaku manusia yang kurang menjaga kebersihan tubuh. Seperti panu misalnya panu terjadi disebabkan karena keringat yang menempel pada tubuh terlalu lama dan tidak mandi. Selain itu penyakit kulit bisa terjadi karena menggunakan air kotor/ air tercemar untuk mandi sehingga tubuh menjadi gatal-gatal dan bisa juga menyebabkan alergi. Sebaiknya setiap orang menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah terjadinya penyakit yang tidak dikehendaki terutama penyakit berbasis lingkungan seperti di atas.

7. Hasil Pengukuran a. Suhu dan Kelembaban Dari 10 rumah yang diperiksa, semua rumah suhunya melebihi standar. Hal seperti ini bisa terjadi karena kurangnya ventilasi pada ruangan, selain itu juga dapat disebabkan karena kebiasaan penghuni yang tidak memebuka jendela setiap hari. Ruangan yang pengap dapat menaikkan suhu ruangan tersebut. . Untuk hasil pengukuran yang dilakukan terhadap 14 rumah, mengenai suhu dan kelembaban rumah yang diperiksa, untuk suhu setiap rumah warga yang diukur berkisar anata 30,8-33oC. Apabila dibandingkan dengan standar yang ada yaitu sebesar 18-30 oC, maka rumah-rumah yang diperiksa tidak memenuhi standar yang ada. Suhu rumah

yang dilakukan pengukuran terlalu panas. Dan untuk kelembaban terhadap 10 rumah yang dilakukan pengukuran, kelembaban dari semua rumah yang diperiksa berkisar antara 64-79% yaitu melebihi dari standar kelembaban yaitu 40-60%. Suhu dan kelembaban yang tinggi dapat disebabkan kondisi udara yang panas karena kurangnya jumlah ventilasi yang mengatur sirkulasi udara sehingga tidak adanya pengatur pertukaran udara secara menyilang.Agar rumah memenuhi persyaratan kesehatan khususnya agar suhu rumah tidak terlalu tinggi perlu dilakukan upayaupaya seperti penambahan ventilasi, atau menggunakan kipas angin.

b. Pencahayaan Untuk pencahayaan perumahan, baik pencayahaan alami dan atau buatan, langsung/tidak langsung dapaat menerangi seluruh ruangaan, minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan (persyaratan kesehatan rumah tinggal berdasarkan Kepmenkes No. 829/1999). Dari pengukuran yang dilakukan di ruang keluarga, terdapat 4 rumah yang memenuhi persyaratan. Sedangakn di kamar, semua rumah yang dilakukan pengukuran tidak memenuhi persyaratan. Sebaiknya kamar ditambahkan genteng kaca agar sinar matahari bisa masuk, atau jika tempatnya memungkinkan/tidak berhimpitan dengan rumah lainnya bisa ditambahkan jendela agar tidak terlalu gelap, bisa juga dengan penambahan lampu pijar.

c. Kebisingan Untuk parameter kebisingan, dilakukan pengukuran dengan sumber kebisingan yang berasal dari jalan raya. Pengukuran dilakukan setiap 5 detik selama 10 menit sebanyak 1 kali dalam 1 titik. Pengukuran dilakukan di dua titik yaitu di jalan raya dekat pemukiman dan di pemukiman dengan jarak 100 meter dari jalan raya. Dari pengukuran yang dilakukan didapatkan hasil pada masing-masing titik. Pengukuran parameter kebisingan dilakukan di kelurahan Ngampilan dan Notoprajan. Untuk kelurahan Ngampilan, didapatkan hasil di jalan raya sebesar 70,575 dB, dan di pemukiman 100 meter dari jalan raya sebesar 53,2 dB. Begitu pula di kelurahan Notoprajan, didapatkan hasil di jalan raya sebesar 67,675 dB dan di pemukiman 100 meter dari jalan raya sebesar 46,8 dB. Berdasarkan Kepmenkes No.

829/MENKES/SK/VII/1999 dapat disimpulkan intensitas kebisingan pada masingmasing tempat tersebut melebihi standar. Hal itu dikarenakan sumber bising yang ada di wilayah tersebut adalah ramainya lalulintas di jalan raya yang dekat dengan pemukiman. Dengan melihat hal ini maka dapat diketahui bahwa kebisingan yang diterima oleh masyarakat belum dapat ditoleransi sehingga dampak dari kebisingan ini bisa berakibat pada gangguan kesehatan.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil survey rumah sehat yang telah dilakukan di Wilayah Ngampilan, didapatkan : a. Jumlah rumah sehat b. Jumlah rumah kurang sehat : 79 rumah : 31 rumah

c. Jumlah rumah tidak sehat : 10 rumah 2. Dari survei penyakit yang dilakukan diwilayah Ngampilan diperoleh hasil bahwa penyakit yang terbanyak diderita di wilayah Ngampilan adalah penyakit Kulit. 3. Berdasarkan survei fisiologis rumah dan tingkat kebisingan lingkungan, dari 10 rumah yang disurvei di dapatkan hasil: a. Suhu :

10 rumah termasuk tidak memenuhi syarat

b. Kelembaban : 10 rumah termasuk tidak memenuhi syarat

c. Pencahayaan : 4 rumah termasuk memenuhi syarat 6 rumah termasuk tidak memenuhi syarat

d. Kecepatan Angin: 10 rumah termasuk memenuhi syarat

e. Kebisingan : memenuhi syarat 4. Berdasarkan hasil survei lapangan, tentang penyakit berbasis lingkungan, penyakit tertinggi adalah penyakit kulit sebanyak 4 rumah, penyakit Diare 2 rumah, dan Penyakit ISPA 2 rumah.

B. Saran 1. Lokasi permukiman belum semuanya sehat tetapi masih perlu perbaikan ditingkatkan kualitasnya. 2. Diharapkan untuk rumah-rumah yang tidak memenuhi persyaratan pencahayaan, kebisingan, suhu dan kelembaban dapat melakukan tindakan sebagai berikut : a. Pada bagian belakang atau samping dibiarkan menjadi daerah terbuka (tidak ada dinding atau atap) dan digunakan sebagai pencahayaan alami. b.Pemberian genteng kaca pada atap rumah. c. Pemasangan lubang angin yang disesuaikan dengan luas ruangan. 3. Diharapkan untuk mengatasi pembuangan sampah padat sebaiknya dengan: a. Pengolahan sampah sendiri pada tingkat produsen dan sebaiknya memilah-milah sampah rumah tangga yang dihasilkan (sampah kertas, plastik, besi atau kaca dan sampah organik). b. Penyediaan tempat sampah yang kedap air, tertutup, dan tahan karat. atau

LAMPIRAN 1

FORMULIR PENGUKURAN PENCAHAYAAN, SUHU DAN KELEMBABAN, SERTA KECEPATAN ANGIN PADA RUMAH DI KELURAHAN NGAMPILAN DAN KELURAHAN NOTOPRAJANNOTOPRAJAN KOTA YOGYAKARTA Hasil Pengukuran Asal No Nama Rumah Kelurahan RW/ RT Pencahayaan Ruang (Lux) Titik Titik Titik 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Hari Kumara Tantri Heru Susanto Harjo Prayotio Sudiarto Bastari Suradiyono Exan Titer Imron Ngampilan Ngampilan Ngampilan Ngampilan Ngampilan Notoprajan Notoprajan Notoprajan Notoprajan Notoprajan 03 03 03 03 03 04 04 04 04 04 121 49 52 49 42 69 44 64 46 512 2 49 51 53 20 52 11 56 90 76 137 3 25 49 52 49 42 14 53 65 115 103 65 49,7 52,3 59 45,3 31,3 51 73 79 250,6 31 31 30,8 31 30,9 31 31,4 33 32 33 RataRata (Lux) Kele Suhu mbab (oC) an (%) 65 64 64 66 65 79 78 78 78 64 Ane mom eter (m/s)

33 61 42 104 123 43 53 30 31 128

LAMPIRAN 2

Kebisingan di pinggir jalan raya Kelurahan Ngampilan RW 03 Formulir Bis-1 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 65,6 64,5 66 67,1 68 62 67,8 68,6 67,7 67,9 70,4 69,1 2 76 70,8 64 76,5 75,3 71,3 84,3 94 81,1 75,4 79,9 77,8 3 71 72 69,6 70,4 70,6 69,3 68,8 69,9 70,8 70,9 87,1 66,7 4 66,2 70,8 70,8 69,6 70,4 70,8 73,9 70,6 83 70,8 69,3 67,4 5 70,2 70,9 69,5 67,9 67,9 69,6 68,7 68,2 66,6 65,8 65,8 64,6 6 65,1 65,3 68 68,6 69,6 69,3 74,1 70,1 76,1 64,9 64,6 66,3 7 65,5 69,6 69,9 69,6 70,2 68,4 69,9 70,6 69,6 71,1 73,2 72,8 8 71 69,6 71,6 71 69,9 72,7 75,6 72,3 71,5 72,7 70,8 69,2 9 69,7 71 67,7 67 68,6 65,8 68,8 68,7 66,1 72,5 71,6 67 10 71,9 68,8 75,8 74 71,8 72 72 73 71,2 67 67,8 70,8

FORMULIR BIS 2
KELAS INTERVAL JUMLAH PERSEN (%) JUMLAH KUMULATIF PERSEN KUMULATIF

INTENSITA S BUNYI

(%)

50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80-84 85-89 90-94 2 49 55 9 3 1 1 1,8 40,8 45,8 7,5 2,5 0,8 0,8 2 51 106 115 118 119 120 1,8 42,6 88,4 95,9 98,4 99,2 100

( ( (

) ) )

Kebisingan di area permukiman, jarak 100 m dari pinggir jalan raya Kelurahan Ngampilan RW 03 Formulir Bis-1 1 1 56 2 61 3 4 5 6 7 8 66 9 66 10 63,5

61,5 60

60,5 63,5 62,9

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

62,7 63,3 60,6 60,8 60,9 62 59 57 56

60,4

61,7 61,5 59,6 49,3 53 56,6

53,8 53,2 53,3 54,7 56,1 51,1 54,3 51,3 51,7 56,6 52,9 49,7 54,7 52,1 52,8 53,3 53,7 50,4 51,8 53,8 54,8 50,6 52,2

50,5 52,4 48,9 51,2 51,6 48,3 51,4 54,2 41,3 53,6 54,5 51,3 53,9 51,7 53,9 55,2 49,2 52 54 51 51,7

57,2 56 56

54,8 52,7 52,7 53,3 51,6 50,7 50,8 51,7

57,5 51,5 52,5 49,9 57

57,6 50,5 52,7 53,2 54,9 53,1 50,2 55,2 51,8 51,7 54,2 54,3 52 54,7 50 50

52,8 53,2 57,2 54,5 42,7

55,4 51,3 50,8 57,9 53,7 50,4

55,6 48,1 53,4 55,2 57,8 49,2 42,9

FORMULIR BIS 2
KELAS INTERVAL INTENSITAS BUNYI JUMLAH PERSEN (%) JUMLAH KUMULATIF PERSEN KUMULATIF (%)

40 44 45 49 50 54

4 7 60

3,3 5,8 50

4 11 71

3,3 9,1 59,1

55 59 60 64 65 69 70 74

30 17 2

25 14,2 1,7

101 118 120

84,1 98,3 100

( ( (

) ) )

Kebisingan di Pinggir jalan raya Kelurahan Notoprajan RW 04 Formulir Bis-1 1 1 2 3 4 5 6 7 66,7 64,1 63,5 66,8 70,9 61,6 61,1 2 65,5 60,6 63,3 69,1 71,3 67,1 63,2 3 68,8 64,2 66,4 68,6 73,2 64,8 66,3 4 71,8 65,2 68,4 65,3 67 77,4 64,8 5 69,1 65,3 68,6 66,1 70 62,4 66,4 6 69 69,6 65,9 63,7 70,4 64,7 69,9 7 73,5 73,3 72,1 67,5 63,5 69,2 73,3 8 90,5 71,2 70,8 66,3 61,4 67,3 73,2 9 71,1 61,3 58,1 65,3 59,5 68,7 75,2 10 88,4 57,4 64,2 69,9 61 64,3 74,1

8 9 10 11 12

65,4 67,9 68,9 68,6 69,6

67,8 75,9 67,1 69 70,1

65,3 66,1 66,4 70,3 72,5

63,8 68,7 66,9 73,5 66,3

68,6 66,6 61,6 66 70,1

69 63,5 64,3 66,7 68,1

64,9 65,6 64,9 66,6 66,3

64,5 65,7 68,2 69,4 62

69,2 69,4 66,8 72,6 57,3

73,2 75,9 68,7 70 57,1

FORMULIR BIS 2
KELAS INTERVAL INTENSITAS BUNYI JUMLAH PERSEN (%) JUMLAH KUMULATIF PERSEN KUMULATIF (%)

50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80-84 85-89 1 0,8 119 99,2 5 22 60 27 4 4,3 18,3 50 22,5 3,3 5 27 87 114 118 4,3 22,6 72,6 95,1 98,4

90-94

0,8

120

100

( ( (

) ) )

Kebisingan di area permukiman, jarak 100 m dari pinggir jalan raya Kelurahan Notoprajan RW 04 Formulir Bis-1 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 47,7 45,6 51,1 47,5 43,4 45,7 50 45,7 44 42,6 47,9 2 48,6 49,6 46,5 45,8 43 43,8 43,2 43 64,5 48,6 59,5 3 47,7 47,7 55,9 44,2 48,5 43,4 44,9 43 49,9 48,9 60,8 4 50,3 47,5 55,1 42,9 47,4 56,6 47,7 45,4 49,2 43,1 49,9 5 46 41,8 48,6 46 43,9 63,5 44,4 41,2 47,4 50,9 45,2 6 48,7 43,3 46,5 46,6 44,5 66,3 44,2 46,5 46,6 43,3 43,7 7 57,1 69,8 50 53,1 50,6 55,2 49,5 48,4 48,2 43,4 43,5 8 50,5 52,8 50,1 55,9 46,4 44 55 55,5 47,5 45,4 49,4 9 44,4 51,1 57,4 50,2 42,1 54,7 55,5 45,9 47,3 51 42,7 10 43,2 45,9 61 50,5 41,4 48,4 48,1 45,3 46,5 49,4 43,7

12

42,3

40,4

46,2

46,8

44,2

43,1

50,7

48

48,9

46,3

FORMULIR BIS 2
KELAS INTERVAL INTENSITAS BUNYI JUMLAH PERSEN (%) JUMLAH KUMULATIF PERSEN KUMULATIF (%)

40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74

33 52 18 11 3 2 1

27,5 43,3 15 9,2 2,5 1,7 0,8

33 85 103 114 117 119 120

27,5 70,8 85,8 95 97,5 99,2 100

( ( (

) ) )

LAMPIRAN 3

Pengukuran Kebisingan ditepi jalan dan pengukuran pencahayaan dirumah warga

Kondisi Jamban warga

Kondisi Tempat Pembuangan akhir sampah dan kondisi lingkungan

Wawancara dirumah warga dan minta izin survey rumah ke Pak Imron (Pak RW)

Pengukuran suhu, kelembaban ruang dan kecepatan angin