Anda di halaman 1dari 21

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini dijelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan objek yang dijadikan dasar penelitian yang meliputi: 1) pembelajaran fisika, 2) model pembelajaran, 3) cooperative learning, 4) pembelajaran cooperative tipe STAD, 5) media pembelajaran, 6) penerapan model cooperative learning Tipe STAD disertai media CD interaktif pada pembelajaran fisika, 7) hasil belajar, 8) keterampilan berkomunikasi, 9) kerangka konseptual, dan 10) hipotesis penelitian. 2.1 Pembelajaran Fisika Menurut aliran behavioristik pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus. Aliran kognitif mendefinisikan pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar mengenal dan memahami sesuatu yang sedang dipelajari (Darsono, 2000:24). Adapun humanistik mendeskripsikan pembelajaran sebagai memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya (Sugandi, 2004:9). Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Salah satu sasaran pembelajaran adalah membangun gagasan sainstifik setelah siswa berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Dalam pembelajaran terdapat dua konsep kegiatan yang tidak dapat dipisahkan yaitu belajar dan mengajar. Anthony (dalam Trianto, 2009:15) mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesatu (pengalaman yang baru). Adapun prinsip-prinsip belajar dalam pembelajaran adalah: 1) kesiapan belajar; 2) perhatian; 3) motivasi; 4) keaktifan siswa; 5) mengalami sendiri; 6) pengulangan; 7) materi pelajaran yang menantang; 8) balikan dan penguatan; 9) perbedaan individual.

Menurut Subiyanto (dalam Trianto, 2009:17), mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterapilan, sikap, serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa. Cara mengajar guru yang baik merupakan kunci dan prasarat bagi siswa untuk dapat belajar dengan baik. Salah satu tolak ukur bahwa siswa telah belajar dengan baik ialah jika siswa itu dapat mempelajari apa yang seharusnya dipelajari, sehingga indikator hasil belajar yang diinginkan dapat dicapai siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari pengajar untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan pengetahuan, keterampilan, dan tingkahlaku pada diri siswa. Selain itu tercapainya keberhasilan pendidikan yaitu terwujudnya efektivitas dan efisiensi yang dilakukan peserta dididik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Druxes, dkk (1993:4) menyebutkan bahwa fisika merupakan suatu ilmu yang menguraikan dan menganalisis struktur dan peristiwa alam, teknik, dan dunia disekitar kita. Fisika juga merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa-peristiwa serta perubahan-perubahan yang ada di alam semesta. Bektiarso (2004:55-56) menyebutkan bahwa fisika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam dan menerangkan bagaimana gejala tersebut terjadi. Fisika memerlukan pemahaman dari pada penghafalan, tetapi diletakkan pada pengertian dan pemahaman konsep yang dititikberatkan pada proses terbentuknya pengetahuan melalui penemuan, penyajian data secara matematis, dan berdasarkan aturan tertentu. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fisika merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan tujuan memperoleh informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu fisika. Sedangkan menurut Sumaji (1998:165), pembelajaran fisika bertujuan untuk menguasai konsep-konsep fisika dan keterkaitannya serta mampu menggunakan metode sains yang dilandasi sikap keilmuan untuk memecahkan masalah dan mampu melakukan pengukuran percobaan dan bernalar melalui diskusi untuk

memahami

konsep-konsep,

hukum-hukum

serta

menerapkannya

dalam

memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fisika. 2.2 Model Pembelajaran Secara kaffah model dimaknakan sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk mempresentasikan suatu hal. Suprijono (2011:45) menyatakan, model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau kelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu. Menurut Soekanto (dalam Trianto, 2009:22), model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan demikian, aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis. Model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran juga dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas (Suprijono, 2011:46). Fungsi model pembelajaran adalah melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide. Selain itu model pembelajaran juga berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar (Suprijono, 2011:46). Arends (dalam Trianto, 2009:25) menyeleksi enam model pengejaran yang sering digunakan guru dalam mengajar, yaitu: presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah, dan diskusi kelas.

10

Berdasarkan uraian di atas, maka model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Dengan demikian merupakan hal yang sangat penting bagi pengajar dalam mempelajari dan menambah wawasan tentang model pembelajaran untuk memilih model pembelajaran yang sesuai sehingga tujuan pembelajaran yang dikehendaki dapat tercapai.
2.3

Cooperative Learning ( Pembelajaran Kooperatif) Model cooperative learning (pembelajaran kooperatif) adalah rangkaian

kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai untuk tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Slavin (2009:10-11) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif mengandung pengertian siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran, dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar baik individu maupun kelompok. Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompokkelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dalam kegiatan belajar. Johnson & Johnson (dalam Trianto, 2009:57) menyatakan bahwa tujuan pokok dari pembelajaran kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun kelompok. Selain itu Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual.

11

Menurut Johnson & Johnson (1994) dan Sulton (dalam Trianto, 2009), terdapat lima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: a) Saling ketergantungan yang positif antar siswa. Dalam pembelajaran kooperatif siswa merasa bahwa meraka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Siswa akan merasa memiliki andil terhadap suksesnya kelompok. b) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi siswa. Interaksi yang terjadi dalam kelompok kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama. c) Tanggung jawab individual. Tanggung jawab individual siswa dalam kelompok dalam hal: (1) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (2) siswa tidak hanya sekedar membonceng pada hasil kerja team sekelompoknya. d) Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. e) Proses kelompok Proses kelompok terjadi apabila anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baikdan membuat hubungan kerja yang baik. Slavin Division), (2009:11) mengemukakan bahwa pembelajaran TAI (Team kooperatif Assisted dibedakan menjadi beberapa tipe, antara lain STAD (Student Teams Achievment TGT (Teams gamesTournament), Individualization), CIRC (Cooperative Integrated Individualization), Jigsaw, TPS (Thing Pair Share) dan lain-lain.

12

2.4

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Student Teams Achievement Division (STAD), dikembangkan oleh Slavin

Division) di Universitas John Hopkin dan merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Slavin, 2009:143). Pembelajaran kooperatif tipe STAD menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Kinerja guru yang menggunakan STAD mengacu pada belajar kelompok, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa dengan menggunakan presentasi verbal atau tes. Slavin (2009:143) menjelaskan bahwa STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognitis tim yang dijabarkan sebagai berikut: a) Presentasi kelas Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bisa juga memasukkan presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa adalah haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD. Dengan cara ini para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka. b) Tim Tim terdiri dari 4-5 orang siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnis. Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik.

13

Tim adalah fitur yang paling penting dalam STAD. Pada tiap poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik buat timdan tim harus melakukan hal yang terbaik untuk membantu tiap anggotanya. Tim ini memberikan dukungan kelompok bagi kinerja akademik dalam pembelajaran. c) Kuis Sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para siswa akan menjalani kuis individual. Para siswa tidak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis, sehingga tiap siswa bertanggung jawab secara individu untuk memahami materinya. d) Skor kemajuan individual Gagasan dibalik skor individual adalah untuk memberikan kepada setiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya. Kemudian siswa memperoleh poin untuk timnya didasarkan pada beberapa banyak skor kuis yang melampaui skor dasar mereka. Berikut ini adalah langkah-langkah menentukan skor perkembangan yaitu: 1) siswa diberi skor berdasarkan skor kuis sebelumnya, 2) siswa memperoleh poin untuk kuis yang terkait dengan materi pelajaran yang disampaikan pada saat itu, 3) siswa mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan dengan pencapaian nilai yang sama atau melampaui skor dasar mereka. Nilai perkembangan individu dalam kelompok dapat dilihat dengan menggunakan table dibawah ini: Tabel 2.1 Nilai Perkembangan Skor Individual Skor kuis Poin perkembangan Lebih dari 10 poin di bawah skor 5 poin awal 1-10 poin dibawah skor awal 10 poin Skor awal sampai naik diatas10 poin 20 poin diatas skor awal Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30 poin Kertas jawaban sempurna (terlepas 30 poin dari skor awal) (Slavin, 2009:159)

14

e) Skor tim Skor tim dihitung dengan memasukkan setiap poin perbaikan siswa dalam lembar ikhtisar tim, lalu dijumahkan dan dapat dibagi sesuai dengan jumlah anggota tim. Skor rata-rata tim digunakan untuk menentukan kriteria penghargaan untuk tim. Trianto (2009:72) membagi skor penghargaan tim seperti tercantum dalam Tabel 2.2. Tabel 2.2 Tingkat Penghargaan Kelompok Rata-rata Tim 0x5 5 x 15 15 x 25 25 x 30 2002 f) Rekognisi tim Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu (lihat Tabel 2.2). Keberhasilan suatu metode pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran tergantung pada bagaimana guru menerapkan metode pembelajaran tersebut. Pembelajaran kooperatif STAD mempunyai kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi siswa. Berikut ini adalah fase-fase yang harus dilakukan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD (Slavin, 2009:151-159). Predikat Tim baik Tim hebat Tim super Sumber : Ratumanan,

15

Tabel 2.3 Fase-Fase Pembelajaran Kooperatif STAD Fase Fase 1 Pengajaran Kegiatan guru 1. Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang akan di capai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. 2. Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan. 1. Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien. 2. Membimbing siswa dalam kegiatan diskusi kelompok 1. Guru memerikan kuis individual kepada siswa 1. Menghitung skor individual dan tim 2. Merekognisi prestasi tim (Trianto, 2009:71) Suatu model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut ini akan dijabarkan kelebihan dan kekurangan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD:

Fase 2 Belajar Tim/Kelompok

Fase 3 Tes (ujian) Fase 4 Rekognisi Tim

16

Tabel 2.4 Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD 1. 2. 3. 4.
5.

Kelebihan STAD Melatih siswa untuk dapat bekerja sama Saling menghargai antar siswa Saling ketergantungan untuk mencapai tujuan kelompok Meningkatkan motivasi belajar siswa Membantu mengumpulkan keteranagan dari berbagai sumber informasi

1. 2. 3. 4.

Kekurangan STAD Adanya ketergantungan siswa yang lambat berfikir, sehingga tidak dapat berlatih sendiri Memerlukan waktu yang lama Pemberian penghargaan kadang menyulitkan guru Ramai saat diskusi

(Hamdani, 2010:93)
2.5

Media Pembelajaran Media adalah suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya

memengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengannya. Media pembelajaran adalah sebagai penyampai pesan (the carries of messages) dari beberapa sumber saluran ke penerima pesan (the receiver of the messages). Media pembelajaran hanya meliputi media yang dapat digunakan secara efektif dalam proses pembelajaran yang terencana (arti sempit). Media pembelajaran tidak hanya meliputi media komunikasi elektronik yang kompleks tetapi juga bentuk sederhana. Media pembelajaran diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain: 1) bahan yang disajikan menjadi lebih jelas maknanya bagi siswa, 2) metode pembelajaran lebih bervariasi, 3) siswa menjadi lebih aktif dalam melakukan berbagai aktivitas, 4) pembelajaran lebih menarik, 5) mengatasi keterbatasan ruang. Pengelompokan berbagai jenis media menurut Wijaya dan Rusyan (dalam Agustina, 2009) adalah sebagai berikut: a) Media visual yaitu media yang hanya bias dinikmati oleh indra penglihatan, meliputi: gambar, charta, diagram, OHP, model, papan tulis, dan lain-lain.
b) Media audio yaitu media yang hanya bias dinikmati oleh indra pendengaran,

meliputi: radio dan tape recorder

17

c) Media audio-visual yaitu media yang bisa dinikamti oleh indra penglihatan

dan pendengaran atau bisa juga disebut dengan media pandang-dengar, meliputi: TV, slide, komputer, CD interaktif, dan film. 2.5.1 Media Berbasis Komputer Akhir-akhir ini, pemanfaatan komputer untuk program pembelajaran terus mengalami peningkatan. Komputer adalah alat yang dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan science secara cermat dan logis dengan kecepatan tinggi dan memecahkan masalah-masalah tanpa petunjuk manusia, bekerja berdasarkan instruksi-instruksi logisyang tetap dalam memori (Hamalik, 2001:43). Andreson (dalam Prastowo, 2009:331) kemajuan kemampuan komputer untuk secara cepat berinteraksi dengan individu, menyiapkan, dan memproses sejumlah besar informasi, serta bergabung dengan media lain untuk menampilkan serangkaian besar stimulasi audiovisual, menjadikan komputer sebagai media yang dominan dalam pembelajaran. Keuntungan komputer dalam pengajaran menurut Nana Sudjana dan Rivai (2001:137-138) adalah sebagai berikut:
a) Cara kerja baru dengan komputer membangkitkan motivasi siswa dalam

belajar.
b) Warna, musik, grafis animasi dalam kegiatan belajar siswa akan menghasilkan

penguatan yang tinggi.


c) Respon pribadi yang cepat dalam kegiatan belajar siswa menghasilkan

penguatan yang tinggi. Selain keuntungan, media komputer juga memiliki keterbatasan utama yang dipergunakan dalam pendidikan:
a) Walaupun harga dan pemakaian komputer sudah diturunkan secara drastis,

pengajaran dengan komputer masih relatif mahal.


b) Guru yang meancang materi pelajaran dengan menggunakan komputer bisa

bertambah beban pekerjaannya termasuk memahami keterbacaan komputer.

18

Dengan demikian, penggunaan komputer akan mempertinggi hasil belajar siswa apabila penggunaannya tepat sebagai alat bantu penyampaian materi pelajaran dalam proses belajar mengajar.
2.5.2 Media Animasi

Animasi merupakan peralatan elektronik digital yang dapat memproses suatu masukan untuk menghasilkan suatu keluaran yang bekerja secara digital. Media animasi dapat mengindividualisasikan pengajaran, melaksanakan manajemen pengajaran, mengajarkan konsep, melaksanakan perhitungan, dan menstimulus belajar siswa. Levie and Levie (dalam Agustina, 2009) mengemukakan bahwa pengajaran menggunakan stimulus audio visual membuahkan hasil yang lebih baik untuk tugas-tugas, seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan fakta dan konsep. Tiga ciri media pendidikan yang merupakan petunjuk menggunakan media animasi dan Lembar kerja Siswa (LKS), yaitu sebagai berikut: a) Ciri fiksatif Media animasi mampu menyimpan, merekam, melestarikan segala objek pengajaran dan dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu dengan dukungan LKS pembelajaran yang setara. b) Ciri manipulatif Transformasi suatu objek dimungkinkan karena media animasi memiliki ciri manipulatif. Aksi suatu gerakan dapat digambarkan dengan jelas dengan kemampuan manipulatif dari media animasi. c) Ciri distributif Ciri distributif dari media animasi adalah memungkinkan objek ditransportasikan melalui ruang secara bersamaan.

19

2.5.3

Media CD Interaktif Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata interaktif mengandung arti

bersifat saling melakukan aksi atau antar hubungan atau saling aktif. Bahan ajar interaktif dimaknai sebagai bahan ajar yang bersifat aktif dalam hal ini pengguna terlibat interaksi dua arah dengan bahan ajar yang sedang dipelajari. Menurut Guidelines for Bibliographic Description of Interactif Multimedia dalam Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar 2004 (dalam Prastowo, 2011:329) bahan ajar interaktif adalah kombinasi dari dua arah atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah atau perilaku alami suatu presentasi. Media pembelajaran interaktif dapat diklasifikasikan dalam hal fungsinya yaitu berbasis komputer dan berbasis internet. Pada dasarnya bahan ajar interaktif dapat kita temukan dalam dua bentuk yaitu CD interaktif dan orang. Menurut Journal of Theoretical and Applied Information Technology (2008:834), CD interaktif adalah desain yang efektif yang meliputi teks, suara, gambar, foto, ilustrasi, animasi, dan video. Arsyad (2007:36) media CD interaktif merupakan suatu penyampaian pengajaran dimana materi disajikan dalam bentuk CD (Compac Disc) dengan pengendalian komputer, siswa tidak hanya mendengar dan melihat layar komputer tetapi juga memberikan respon yang aktif. CD interaktif dibuat dengan prinsip user centered instruction. Prinsip ini mengharuskan CD interaktif memberikan motivasi dengan memunculkan persepsi siswa sehingga mendorong siswa untuk belajar lebih efektif. CD interaktif sebagai media pembelajaran interaktif, mentransfer informasi abstrak ke situasi nyata, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan persepsi mereka sendiri, membuat belajar lebih menarik dan menyenangkan, memungkinkan partisipasi aktif siswa terhadap proses pembelajaran, transfer informasi dengan fasilitas multimedia seperti grafik, gambar, video, suara, dan animasi (Wilson, 1993).

20

Struktur bahan ajar yang berbentuk CD interaktif meliputi enam komponen yaitu judul, petunjuk belajar, materi pokok, informasi pendukung, latihan, dan penilaian. Media CD interaktif memiliki kelebihan dan kekurangan sebagaimana diperinci dalam Tabel 2.5 Tabel 2.5 Kelebihan dan Kekurangan Media CD interaktif Kelebihan
1. Simple, dapat dibawa kemana-

mana 2. Efektif Dalam satu CD dapat berisi informasi tampilan yang dibukukan menjadi berates ratus halaman. 3. Menarik Tampilan yang interaktif akan membuat pengguna tidak cepat merasa bosan karena dapat menayangkan informasi berupa animasi, video, suara, teks dan grafik. 4. Dapat meningkatkan motivasi dan efisiensi belajar. 5. Memfasilitasi belajar aktif dan belajar eksperimen. 6. Memfasilitasi kegiatan belajar yang lebih menyenangkan.

Kekurangan 1. Memerlukan komputer dan pengetahuan program. 2. Membutuhkan hardware khusus dalam penggunaannya 3. Resolusi image grafik sangat terbatas pada system micropocesssor . 4. Hanya dapat digunakan oleh beberapa orang dalam kurun waktu tertentu.

(Belawati, 2003)
2.6

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe STAD Disertai Media Pembelajaran koopeatif tipe STAD merupakan salah tipe pembelajaran

CD Interaktif dalam Pembelajaran Fisika kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil yang jumlah anggotanya 4-5 orang siswa secara heterogen. Dalam pembelajaran STAD, tim/kelompok harus saling bekerja sama untuk memperoleh skor atau nilai maksimal. Selain itu peran individu sangat berpengaruh, karena dalam pembelajaran STAD, skor individu yang diperoleh dalam kuis akan berpengaruh

21

terhadap skor akhir kelompok. Pada intinya, pembelajaran STAD menekankan pada kerjasama kelompok dan kemampuan individual. Penggunaan Media dalam pembelajaran yaitu sebagai sarana/alat bantu yang dapat membantu proses komunikasi anatara guru dengan siswa atau antar siswa. Media CD interaktif merupakan media audio visual yang dapat memproses suatu masukan untuk menghasilkan suatu keluaran yang bekerja secara digital. Penggunaan media CD interaktif dalam penelitian ini yaitu sebagai sarana/alat bantu guru dalam penerapan model cooperative learning tipe STAD, tujuannya adalah membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan sehingga akan meningkatkan motivasi siswa. Selain itu siswa akan berperan aktif dalam pembelajaran dimana pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa. Penerapan model cooperative learning tipe STAD disertai media CD interaktif dalam pembelajaran fisika dapat dilakukan dengan tahapan berikut ini: Tabel 2.6 Tahap Pembelajaran Model Cooperative Learning Interaktif. Tahap Fase Kegiatan guru Pendahuluan Fase 1 1. Guru meminta Orientasi siswa duduk bersama kelompoknya masing-masing 2. Guru menyampaikan motivasi dan apersepsi 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Kegiatan Inti Fase 2 1. Guru Pengajaran menyampaiakan materi inti disertai penggunaan media CD interaktif disertai Media CD Kegiatan siswa 1. Siswa duduk bersama kelompoknya 2. Siswa memperhatikan guru 3. Siswa memperhatikan guru 1. Siswa memperhatikan informasi yang diberikan guru secara aktif

22

Fase 3 Belajar Kelompok

1. Guru

1. Siswa

memberikan LKS sebagai bahan analisis

dalam kelompok mengadakan diskusi untuk menganalisis LKS yang diberikan guru.

2. Guru membimbing siswa melakukan eksperimen 3. Guru membimbing siswa melakukan presentasi kelas

2. Siswa melakukan eksperimen dengan bimbingan guru 3. Salah satu kelompok mempresentasi kan hasil diskusi kelompoknya

Fase 4 Tes Individual

Penutup

Fase 5 Rekognisi Tim

1. Guru memberikan soal kuis individual kepada siswa 1. Guru menghitung skor kelompok dan individual 2. Guru memberikan penghargaan pada kelompok 3. Guru membantu siswa membuat kesimpulan 4. Guru memberikan pekerjaan rumah

1. Siswa mengerjakan kuis secara individual 1. Siswa memperhatikan guru 2. Siswa merayakan keberhasilan bersama kelompoknya 3. Siswa mencatat kesimpulan 4. Siswa mencatat pekerjaan rumah (Trianto, 2009:71)

23

2.7 Hasil Belajar Siswa Menurut Suprijono (2011:5), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa: a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. e. Sikap yaitu kemampuan menerima atau menolak objek tersebut. Menurut Bloom (dalam Suprijono, 2011:6-7), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.
a. Domain kognitif, yaitu menekankan pada aspek intelektual dan memiliki

jenjang dari yang rendah sampai yang tinggi. Domain kognitif tersebut adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk, membangun baru), dan evaluation (menilai).
b. Domain afektif, yaitu menekankan pada sikap, perasaan, perasaan, emosi, dan

karakteristik moral yang diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Pada domain ini adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi).
c. Domain psikomotor, yaitu domain yang menekankan pada gerakan-gerakan

fisik. Domain psikootor meliputi initiotory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual.

24

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam mempelajari suatu materi sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku secara keseluruhan, baik berupa pengetahuan, pemahaman, dan sikap. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorikan oleh pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak dapat dilihat secara fragmantasi atau terpisah, melainkan komprehensif. 2.8 Keterampilan Berkomunikasi Komunikasi adalah bagian yang esensial dari fisika. Komunikasi adalah suatu cara sharing ide dan pengklarifikasian pengertian. Keterampilan berkomunikasi merupakan salah satu keterampilan proses yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyampaiakan atau menerima gagasan atau ide agar lebih efektif, baik melalui lisan maupun tulisan. Pengungkapan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan, merupakan kebutuhan siswa dalam mencapai kepuasan. Pengungkapan pikiran, baik dalam mengemukakan gagasan sendiri maupun menilai gagasan orang lain, akan memantapkan pemahaman siswa tentang sesuatu yang sedang difikirkan dan dipelajari. Cole dan Chan (dalam Jurnal Teknodik, 2004:54) menyatakan bahwa prinsip komunikasi merupakan prinsip pertama dalam pengajaran maupun pembelajaran. Dalam pembelajaran, komunikasi ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran. Komunikasi berkaitan dengan interaksi yang dijalin oleh pengajar dengan peserta didik atau peserta didik dengan peserta didik yang lain dalam proses pembelajaran. Interaksi dalam berkomunikasi dapat dijadikan ciri keberlangsungan pembelajaran itu sendiri, bahkan dapat dijadikan alat untuk memprediksi perolehan hasil belajar siswa. Kedudukan pengajar sebagai pengelola pembelajaran yaitu melakukan interaksi dengan peserta didik, kaitannya dengan setting pembelajaran. Tugas lainnya adalah melakukan pengkoordinasian komunikasi antara dirinya dengan peserta didik, dan antar peserta didik, pemberian motivasi kepada peserta didik untuk menyampaiakan ide/pengetahuan/pengalaman.

25

Kedudukan peserta didik sebagai pihak yang dituntut untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran memiliki tugas untuk mengungkapkan kebutuhan belajar, mengikuti seluruh proses belajar, menyampaikan ide/pengetahuan/pengalaman dalam mengkaji bahan belajar, menyelesaikan tugas yang diberikan pengajar, serta mengimplementasikan konsep ke dalam kasus nyata dilapangan. Indikator keterampilan proses berkomunikasi menurut Djumhur (dalam Yuliarta, 2011) adalah sebagai berikut: 1. Menyajikan suatu penyelesaian dari suatu masalah 2. Menjelaskan tabel, gambar atau grafik untuk menyajikan jawaban dari suatu masalah 3. Memberikan saran atau pendapat untuk menjawab dari suatu permasalahan 4. Merespon suatu pernyataan atau persoalan dari audiensi dalam bentuk argument yang meyakinkan 5. Mampu menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide, simbol-simbol, istilahistilah serta informasi matematis Untuk mengetahui kemampuan berkomunikasi siswa dapat dilakukan dengan pemberian butir soal atau menganalisis permasalahan khususnya pada bidang studi sains. Sedangkan kemampuan berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu motivasi dan pengalaman belajar.

26

2.9 Kerangka Konseptual

Model cooperative learning tipe STAD disertai media CD Interaktif Siswa melakukan analisis masalah secara berkelompok melaui LKS Terbimbing berdasarkan materi yang disajikan dalam CD Interaktif

Pembelajaran Fisika

Siswa melakukan presentasi kelas berdasarkan hasil diskusi kelompok Keterampilan berkomunikasi Pemahaman konsep dan pembelajaran lebih bermakna

Hasil belajar siswa Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Keterangan dari kerangka konseptual: Pembelajaran fisika pada hakekatnya dapat ditinjau melalui hakekat sains yaitu proses dan produk. Proses adalah langkah-langkah yang harus di tempuh untuk melakukan penyelidikan dalam rangka memperoleh kesimpulan atau konsep dimana dalam penelitian ini dengan menggunakan model cooperative learning tipe STAD disertai media CD interaktif yakni dengan siswa melakukan analisis masalah dari kegiatan eksperimen secara berkelompok melalui LKS terbimbing dan mempresentasikan hasilnya sehingga dihasilkan suatu produk berupa pemahaman konsep dan pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian dapat menghasilkan hasil belajar yang baik.

27

2.10

Hipotesis Penelitian Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka diatas, maka hipotesis

penelitian ini adalah ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar fisika siswa menggunakan model cooperative learning tipe STAD disertai media CD interaktif dengan hasil belajar fisika siswa menggunakan pembelajaran konvensional pada pembelajaran fisika di SMP.