Anda di halaman 1dari 17

Langka-langkah pemeriksaan fungsi syaraf pada penderita kusta

Pemeriksaan fungis syaraf mencegah kecacatan dilakukan untuk semua penderita kusta yang berkunjung baik yang MDT maupun reaksi. Dilakukan setiap satu bulan sekali untuk pasien MDT , dua minggu sekali untuk pasien reaksi Hasil pemeriksaan dicatat pada form pencegahan kecacatan ( form POD ) secara lengkap sesuai petunjuk (setiap kali berkunjung) Segera menindak lanjuti kelainan yang ditemukan, antara lain : - Pengobatan reaksi - Perawatan diri

PEMERIKSAAN POD (Preventive Of Disability) Pencegahan Kecacatan


Persiapan pemeriksaan fungsi syaraf Siapkan form POD, jangan lupa menulis tanggal pemeriksaan Siapkan ballpen yang ringan untuk test rasa raba / monofilamen Penderita diminta duduk dengan santai berhadap dengan pemeriksa Periksalah secara berurutan dari kepala sampai kaki agar tidak ada yang terlewatkan

Cara pemeriksaan fungsi syaraf I. Mata

Penderita diminta memejamkan mata Dilihat dari depan/samping apakah mata menutup dengan sempurna (tidak ada celah) Bagi mata yang menutup tidak rapat, diukur lebar celahnya, lalu dicatat. Mis : lagophthalmus ya/tidak

II. Anggota Badan Bagian Atas


Memeriksa syaraf ulnaris

Tangan kanan pemeriksa memegang lengan bawah penderita dengan posisi siku sedikit ditekuk sehingga lengan penderita dalam keadaan rilax Dengan jari telunjuk tengah kiri pemeriksa mencari nervus Ulnaris disulcus ulnaris yaitu pada lekukan diantara tonjolan tulang dan tonjolan kecil dibagian medial (epicendilus medialis) Dengan memberi tekanan ringan ulnaris digulir halus sambil melihat mimik/reaksi pendita tampak kesakitan atau tidak kemudian dengan prosedur yang sama memeriksa N. ulnaris kiri (tangan kiri pemeriksa memegang lengan kiri penderita dan tangan kanan pemeriksa meraba N. ulnaris kiri penderita dst.)

Memeriksa kekuatan ibu jari


Tangan kanan pemeriksa memegang jari telunjuk sampai kelingking tangan kanan penderita agar telapak tangan penderita menghadap keatas, dan dalam posisi ekstensi Dengan tangan kiri pemeriksa membawa ujung jari pasien untuk ditegakan ke atas sehingga tegak lurus terhadap telapak tangan pasien (seakan-akan menunjuk kearah hidung) dan pasien diminta untuk mempertahankan posisi. Dengan jari telunjuk dan tangan kiri pemeriksa menekan pangkal ibu jari pasien yaitu dari bagian batas antara punggung telapak tangan kearah menjauhi hidung /ke arah datangnya ibu jari

Kesimpulan : Bila tegak keatas (+) tahanan (+) kuat/K Bila tegak keatas (+), tahanan (-) lemah tahanan Bila tegak keatas (=), gerak keatas terbatas .. Lemah gerak Bila tegak keatas (-), hanya bergerak horisontal sejajar telapak tangan lumpuh/P dengan cara yang sama memeriksa ibu jari tangan kiri

Pemeriksaan kekuatan jari kelingking Tangan kiri pemeriksa memegang ujung jari : 2,3 dan 4 tangan kanan

pasien dengan telapak tangan pasien menghadap keatas dan posisi ekstens (jari kelingking bebas bergerak tidak terhalang oleh tangan pemeriksa Pasien diminta menggerakkan jari kelingking ke lateral media (bukan kesamping - menutup ke arah jari manis) Bila pasien dapat membuka dan menutup jari dengan sempurna, pasien diminta menjapit sehelai kertas yang diletakkan diantara jari manis dan jari kelingking tersebut, lalu pemeriksa menarik kertas tersebut sambil menilai ada tidaknya tahanan/jepitan terhadap kertas tersebut Kesimpulan : Bila tahanan (+) kuat/K Bila menutup (+), tahanan (-) lemah tahanan/LT Bila menutup (-), gerak lateral media yang terbatas lemah gerak/LG Bila gerakan buka-tutup (-), hanya bisa bergerak ke atas bawah ..lumpuh/P

Memeriksa kekuatan pergelangan tangan Tangan kiri pemeriksa memegang punggung lengan bawah tangan kanan pasien Pasien diminta menggerakan pergelangan tangan kanan atas dan ke bawah/ekstensi fleksi Pasien diminta bertahan pada posisi ekstensi (keatas) lalu dengan tangan kanan pemeriksa menekan tangan pasien kebawah kearah fleksi
Kesimpulan : Bila tahanan (+) . Kuat /k Bila tahanan (-) ..lt/lemah tahanan Bila gerakan fleksi-ekstensi (+) terbatas lg/lemah gerak Bila gerakan ekstensi (-) .lumpuh/

Pemeriksaan rasa raba Alat : bolpen plastik yang ringan Cara : ujung bolpen diletakan secara ringan/lembut pada titiktitik yang diperiksa dan segera diangkat kembali (dengan gaya berat tanpa tekanan) Posisi pasien : tangan yang akan diperiksa diletakkan diatas tangan kiri pemeriksa sedemikian rupa, sehingga semua ujung jari tersanggah (tangan pemeriksa yang menyesuaikan diri dengan keadaan tangan pasien) misalnya claw hand

Pra pemeriksaan : Pemeriksa menjelakan pada pasien apa yang akan di lakukan padanya, dan memperagakan dengan menyentuhkan ujung bolpen pada lengannya Bila penderita merasakan sentuhan tersebut diminta untuk menunjuk tempat sentuhan tersebut dengan jari tangan yang lain Test diulangi sampai penderita mengerti dan kooperatif

Setelah pasien sudah paham maka pemeriksaan rasa raba dimulai Penderita diminta menututup mata atau menoleh menjahui dari tangan yang diperiksa Penderita diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh Dengan ujung bolpen pemeriksa menyentuh tangan penderita pada titik-titik sesuai dengan gambar pada POD Usahakan pemeriksaan titik-titik tersebut tidak berurutan Penyimpangan letak titik tersebut tidak berurutan (secara acak)
Kesimpulan : - bila rasa (+).v - bila rasa (-) .x

III. Anggota badan bagian bawah


1. Pemeriksaan N. peroneus communis Penderita diminta duduk dengan kaki dalam keadaan relax pemeriksa berada dihadapan penderita dengan tangan kanan pemeriksa kaki kiri dan tangan kiri memeriksa kaki kanan Pemeriksa dengan jari telunjuk dan tengah meraba caput fibula (di bawah lutut, tulang yang paling menonjol ke samping luar/lateral), N. Peroneus terletak persis di belakang caput fibula tersebut Dengan tekanan yang ringan syaraf tersebut digulir bergantian kiri dan kanan sambil melihat mimik/reaksi penderita apakah

2. Pemeriksaan N. Tibialis posterior Penderita masih dalam posisi duduk relax Dengan jari telunjuk dan tengah pemeriksa meraba nervus tibialis posterior pada bagian belakang dan bawah maleolus medialis , lalu digulir santai sambil melihat mimik/ reaksi dari penderita

3. Pemeriksaan kekuatan kaki Penderita diminta mengangkat ujung kaki dengan tumit tetap terletak dilantai / ekstensi maksimal (seperti berjalan dengan tumit) Penderita diminta bertahan pada posisi ekstensi tersebut lalu pemeriksa dengan kedua tangan menekan yang punggungan kaki penderita kebawah / kelantai Kesimpulan : Bila tahanan (+) kuat / k Bila ekstensi (+), tahanan (-) lemah tahanan / lt Bila gerakan ekstensi terbatas lemah gerak /lg Bila gerakan ekstensi (-) . Lumpuh / P

4. Pemeriksaan rasa raba kaki Kaki kanan penderita diletakkan pada paha kiri, usahakan telapak kaki mengadap keatas Tangan kiri pemeriksa menyanggah ujung jari kaki penderita Cara pemeriksaan sama seperti pada rasa raba tangan, titik-titik yang diperiksa sesuai dengan form POD Pada daerah yang menebal boleh sedikit menekan dengan cekungan berdiameter 1 cm Jarak penyimpangan yang bisa diterima maximal 2,5 cm Kesimpulan: - Bila rasa (+) .v - Bila rasa (+) x

KESIMPULAN :
Setelah semua fungsi syaraf selesai diperiksa
A.

Perlu tindak lanjuti dengan memberi kesimpulan dengan mengisi 6 pertanyaan pada kolom dibawahnya, Bila pada salah satu/lebih pertanyaan ya berarti penderita dalam keadaan neuritis/reaksi berat sehingga perlu segera diobati dengan prednison sesuai petunjuk (dengan mempertimbangkan kontra indikasinya) Bagi penderita dan kelainan dimuka, tangan dan kaki (lagopthalmus, anaesthesia dan luka) harus diajarkan cara-cara perawatan diri sesuai petunjuk pada buku Tindakkan penting untuk mengurangi resiko cacat pada penderita kusta Hasil perawatan dirisendiri oleh penderita, segera dimonitor.

B.

C.