Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan kesehatan pada intinya adalah mencapai kemampuan hidup sehat bagi semua penduduk Indonesia. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 30, yang berbunyi, "Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan, penyelidikan, pengebalan, menghilangkan sumber dan perantara penyakit, tindakan karantina dan upaya lain yang dip erlukan. Upaya menghilangkan perantara penyakit dapat dilakukan melalui pengendalian vektor penyakit." Pengendalian vektor penyakit merupakan salah satu cara mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) suatu penyakit termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD). Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia, karena jumlah kasus kejadiannya selalu meningkat tiap tahun. Selain itu masih ada penyakit yang ditulark an oleh nyamuk seperti demam dengue, malaria, chikungunya, penyakit kaki gajah, dan lain-lain. Di Indonesia penyebaran penyakit DBD telah meluas. Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan Republik Indonesia, dr Lily S Sulistyowati, jumlah penderita DBD dari Februari 2006

sampai Januari 2007 adalah 8.019 orang, dengan korb an meninggal mencapai 144 orang, atau rata-rata tingkat kematian sebesar 1,8%. Sedangkan jumlah penderita DBD Tahun 2005 mencapai 18.929 orang, dengan kematian 192 orang, atau rata-rata tingkat kematian sebesar 1,0%. Dari data ini diketahui bahwa tingkat kematian DBD dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Vektor utama DBD adalah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk-nyamuk aedes berkembang biak dalam air -air bersih yang tertampung di dalam kontainer-kontainer bekas seperti botol plastik, kaleng bekas, ban mobil bekas, tempurung kelapa, dan lain -lain. Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk yang aktif pada siang hari dan suka menghisap darah manusia (Se mbel, 2009). Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi pencegahan penyakit DBD seperti pemberantasan jentik-jentik nyamuk melalui fogging dan penggunaan bubuk abate, sedangkan pengatasan terhadap gangguan nyamuk dapat juga dilakukan dengan penyemprotan obat anti nyamuk , obat nyamuk bakar, dan obat nyamuk elektrik. Namun, penggunaan pestisida ini dapat menimbulkan masalah baru bagi kesehatan. Menurut Rui (2003) cara menghindari nyamuk yang paling baik adalah dengan pemakaian anti nyamuk berbentuk losion, krim, ataupun pakaian yang dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk. Hampir semua losion anti nyamuk di Indonesia mengandung diethyl toluamide (DEET) dengan kadar 10-15% (Gunandini, 2006). Konsentrasi DEET sampai 50% direkomendasikan untuk orang -orang dewasa dan anak-anak di atas umur 2 bulan. Konsentrasi yang lebih rendah tidak akan bertahan lama sehingga perlu

direplikasi. Diethyl toluamide adalah racun yang dapat mengakibatkan iritasi dan alergi, tidak boleh digunakan pada daerah luka atau sekitar mata karena dapat mengakibatkan kerusakan permanen. Penggunaan jangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat dikaitkan dengan kerusakan saraf (Sembel, 2009). Suatu penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatric tahun 2003 menyatakan bahwa losion yang mengandung DEET 10% hanya efektif dalam waktu 2 jam, sedangkan yang mengandung DEET 24% efektif selama 5 jam. Di Indonesia lo sion anti nyamuk yang mengandung DEET 10-15% diklaim oleh produsennya efektif selama 6 -8 jam. Peraturan Pemerintah melalui Komisi Pestisida Departemen Pertanian (1995)

mensyaratkan bahwa suatu losion anti nyamuk dapat dikatakan efektif apabila daya proteksinya paling sedikit 90% dan mampu bertahan selama 6 jam. Beberapa jenis tanaman di Indonesia berpotensi sebagai pengusir nyamuk seperti kamboja, kenanga, lavender, daun selasih, sereh, dan lain -lain. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Indrawati (2006), menunjukkan bahwa minyak atsiri bunga kenanga ( Canangium odoratum, Baill) pada konsentrasi 56,58% mampu menolak 90% nyamuk Aedes aegypti pada pengamatan selama 6 jam. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui formula sediaan losion repelan (penolak nyamuk) minyak atsiri bunga kenanga yang paling baik, dilihat dari segi kestabilan fisik dan aseptabilitasnya.

B. Rumusan Masalah Bagaimana formulasi sediaan losion repelan (penolak nyamuk) minyak atsiri bunga kenanga yang paling baik, dilihat dari segi kestabilan fisik dan aseptabilitasnya?

C. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui formula sediaan losion repelan (penolak nyamuk) minyak atsiri bunga kenanga yang paling baik, dilihat dari segi kestabilan fisik dan aseptabilitasnya.

D. Manfaat Penelitian 1. Memperkaya literatur mengenai penggunaan insektisida alamiah. 2. Menambah pilihan produk losion repelan (penolak nyamuk). 3. Mengurangi penggunaan losi on repelan (penolak nyamuk) yang menggunakan bahan kimia berbahaya seperti DEET.

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatric, 2003, The Insect Repellent DEET, http://www.epa.gov/pesticides/factsheets/chemicals/deet.htm . Diakses pada 27 Oktober 2009 Anonim, 1974, Ekstra Farmakope Indonesia , 608-609, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anonim, 1992, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan , Pasal 30, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anonim, 2007, Tingkat Kematian DBD Naik, Suara Merdeka Cyber News, http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0702/02/nas 3.htm. Diakses pada 22 Oktober 2009 Anonim, 2009, Bunga Kenanga Repellent Nyamuk Aedes Aegypti, Republika Online, http://www.ssffmp.or.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id= 155897&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=187 . Diakses pada 27 Oktober 2009 Blood, D.C., Studdert, V.P., and Gay, C.C., 2006, Saunders Comprehensive Veterinary Dictionary, third (3 rd) Ed, Elsever Health Scient, New York Gunandini, D., 2006, Bioekologi dan Pengandalian Nyamuk sebagai Vektor Penyakit, Prosiding Seminar Nasional Pestisida Nabati III , 43-48, Balittra Hariana, Arief, 2007, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya 2 , 47-48, Penebar Swadaya, Depok Harry, Raplh G., and Wilkinson, J.B., 1973, Harrys Cosmeticology, sixth (6 th) Ed, Volume I, 636, Leonard Hill Books, London Indrawati, I.D., 2006, Uji Efektifitas Penolak Nyamuk (Repelan) Minyak Atsiri Bunga Kenanga (Canangium odoratum, Baill) terhadap Nyamuk Aedes aegypti Secara Topikal, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Setiabudi, Surakarta Komisi Pestisida Departemen Pertanian, 1995, Metode Standar Pengujian Efikasi Pestisida, Departemen Pertanian Indonesia, Jakarta

Lachman, C.L., Liebermanm H.A., and Kanig, J.L., 1994, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, third (3rd), diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, 1029-1145, UI Press, Jakarta Martin, Alfred, 1993, Dasar-Dasar Farmasi dalam Ilmu Farmasetik , third (3 rd) Ed, diterjemahkan oleh Yoshita, 1143 -1168, UI-Press, Jakarta Moromorosch, K., 1991, Biotechnology for Biological Control of Pets and Vectors, CRC Press Rui, X., Donald, B., and Arshad, A., 2003, Laboratory Evaluation of Eighteen Repellent Compounds as Oviposition Deterrents of Aedes albopictus and as Larvacides of Aedes aegypti, Anopheles quadrima culatus , and Culex quiquefasciatus, Agriculture Reseach Service, United States Sastrohamidjojo, Hardjono, 2004, Kimia Minyak Atsiri, 1-18, UGM-Press, Yogyakarta Sembel, Dantje T., 2009, Entomologi Kedokteran, 61-75, Penerbit Andi, Yogyakarta Steenis, C.G.G.J.van., 1992, Flora untuk Sekolah di Indonesia , diterjemahkan oleh Moeso Surjowinoto, Pradnya Paramita, Jakarta Sulaiman, T.N.S., dan Kuswahyuning, R., 2008, Teknologi dan Formulasi Sediaan Semi Padat, 65-67, Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Wasitaatmadja, Syarif M., 1997, Penuntun Kosmetika Medik. UI-Press, Jakarta