Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Hemoroid dikenal masyarakat sebagai penyakit wasir atau ambeien, merupakan penyakit yang sering dijumpai, dan telah ada sejak jaman dahulu. Sepuluh juta orang di Indonesia menderita hemoroid, dengan prevalensi lebih dari 4%. Penelitian menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tahu mengenai gejala dan komplikasi yang timbul dari penyakit ini. Secara klinis hemoroid diartikan sebagai pelebaran vena atau vasa di dalam pleksus hemoroidalis yang bukan merupakan keadaan patologik, tetapi apabila tidak mendapat penanganan atau pengobatan dengan benar dapat berubah menjadi keadaan patologik. Hemoroid tidak hanya merupakan pelebaran vena saja, tetapi juga diikuti oleh penambahan jaringan di sekitar vena. Secara kasar hemoroid biasanya dibagi dalam 2 jenis, hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media. Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk baik pria maupun wanita yang berusia lebih dari 25 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Komplikasi dari hemoroid adalah perdarahan kronis yang menyebabkan anemia, karena jumlah dari eritrosit yang diproduksi tidak dapat mengimbangi jumlah yang keluar. Meski hemoroid tidak mematikan, namun penyakit ini dapat berpotensi untuk mengurangi kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, pemberian terapi awal dan perubahan perilaku penyebab hemoroid sangat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup serta menghindari komplikasi.
1

Berbagai faktor yang terkait dengan timbulnya hemoroid yaitu, berak dengan posisi jongkok yang terlalu lama, duduk terlalu lama, obtipasi atau konstipasi kronis, obesitas, diit rendah serat, makan makanan pedas dan dengan sedikit cairan yang dikonsumsi, konsumsi alkohol, usia, kehamilan dapat menimbulkan statis vena di darah pelvis, dan seseorang yang harus berdiri, duduk lama, atau mengangkat barang berat mempunyai predispose untuk terkena hemoroid. Resiko hemoroid justru akan meningkat seiring dengan pertambahan usia.

B. METODE PENCARIAN JURNAL Kami memulai untuk membuat analisis PICO (Population, Intervention, Comparation, dan Outcome) yang dapat menjadi acuan kami dalam mencari informasi-informasi terkait pertanyaan kami dan sekaligus menjawab sesuai data penelitian yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami menentukan populasi yang akan kami gunakan adalah pasien penderita hemoroid. Intervensi yang akan kami gunakan adalah modifikasi gaya hidup, sedangkan Outcome atau hasil yang kami dapat adalah hemoroid tidak kambuh lagi. Kami menggunakan http://www.sciencedirect.com/ untuk mencari jurnal asing sebagai pembanding PICO yang telah kami buat. Kami memasukkan kata kunci risk factor hemorrhoid pada advanced search , kami kemudian limit data jurnal dalam delapan tahun terakhir dan didapat jurnal sebanyak 841 hasil lalu kami pilih. Pada halaman kesatu dari kesembilan halaman, kami analisis abstrak masing-masing jurnal yang ada kaitan dengan PICO kami. Kami kemudian memilih jurnal berjudul Risk Factors Associated With Hemorrhoidal Symptoms in Specialized Consultation oleh Francois PIGOT, dkk diterbitkan oleh Gastroenteral Clin Biol, Masson, Paris 2005. Untuk perbandingan teori, kami juga mencari di www.google.com dengan kata kunci hemoroid, ambeien, faktor resiko hemoroid, pencegahan hemoroid dan mengumpulkan semua data untuk dijadikan sebagai teori.

C. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah yang dimaksud penyakit hemoroid? 2. Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan penyakit hemoroid? 3. Apakah dengan modifikasi gaya hidup dapat mencegah kekambuhan penyakit hemoroid? D. TUJUAN PENULISAN 1. 2. Mengetahui mengenai konsep penyakit hemoroid. Memahami penatalaksanaan dan pencegahan penyakit hemoroid.
3. Mengetahui

hubungan

modifikasi

gaya

hidup

pada

pencegahan

kekambuhan penyakit hemoroid. E. MANFAAT PENULISAN Bagi Mahasiswa:


1. Mahasiswa mampu mempelajari lebih dalam tentang hemoroid sehingga

mahasiswa mampu mengaplikasikan pengetahuannya jika terjadi kasus berkaitan dengan hemoroid dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan terkait masalah hemoroid

agar dapat melakukan intervensi yang tepat.


3. Mahasiswa dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai

manajemen diri apabila mengalami hemoroid. Bagi Masyarakat :


1. Masyarakat mampu mengenali hemoroid dan cara menanganinya. 2. Masyarakat mampu menerapkan pencegahan terhadap terjadinya hemoroid.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Hemoroid adalah bagian vena varikosa pada kanalis ani, yang timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh gangguan aliran balik, banyak terjadi pada usia di atas 25 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam nyawa tetapi dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman (Price dan Wilson 2006 ). Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah pada anus dan rectal. Hemoroid dibagi menjadi dua tipe yaitu internal dan eksternal, hemoroid internal terdapat diatas sfingter anal sedangkan hemoroid eksternal terdapat di bawah sfingter anal (C.Harlen J. Rreeves, 2000 : 621). Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari fleksus hemoroidalis, dibawah atau di luar linea dentale. Pelebaran vena yang di bawah kulit (subkutan) disebut hemoroid eksterna, sedangkan di atas atau di dalam linea dentale, pelebaran yang dibawah mukosa (submukosa) disebut hemoroid interna (Simadi Brata 2006). Hemoroid adalah jaringan normal yang terdapat pada semua orang, yang terdiri atas pleksus arteri-vena, berfungsi sebagai katub dalam saluran anus, untuk membantu fungsi sfingter anus, mencegah inkontinensia flatus dan cairan (Sjamsuhidayat-de jong 2010). Hemorrhoid adalah dilatasi varikosus vena dari pleksus hemoroidal inferior atau superior (Kamus Saku Kedokteran Dorland).

B. Tipe dan Gejala Hemorrhoid dibagi menjadi 2 tipe : a. Hemorrhoid eksterna Merupakan wasir yang timbul pada daerah yang dinamakan anal verge, yaitu daerah ujung dari anal kanal (anus). Wasir jenis ini dapat terlihat dari luar tanpa menggunakan alat apa-apa. Biasanya akan menimbulkan keluhan nyeri. Dapat terjadi pembengkakan dan iritasi. Jika terjadi iritasi, gejala yang ditimbulkan adalah berupa gatal. Wasir jenis ini rentan terhadap trombosis (penggumpalan darah). Jika pembuluh darah vena yang mengalami kelainan pecah, maka penggumpalan darah akan terjadi sehingga akan menimbulkan keluhan nyeri yang lebih hebat. b. Hemorrhoid interna Merupakan wasir yang muncul didalam rektum. Biasanya wasir jenis ini tidak nyeri. Jadi kebanyakan orang tidak menyadari jika mempunyai wasir ini. Perdarahan dapat timbul jika mengalami iritasi. Perdarahan yang terjadi bersifat menetes. Jika wasir jenis ini tidak ditangani, maka akan menjadi prolapsed and strangulated hemorrhoids.
Prolapsed hemorrhoid adalah wasir yang muncul keluar dari rektum. Strangulated hemorrhoid merupakan suatu keadaan terjepitnya

prolapsed hemorrhoid karena otot disekitar anus berkontraksi. Hal ini menyebabkan terperangkapnya wasir dan terhentinya pasokan darah, yang pada akhirnya akan menimbulkan kematian jaringan yang dapat terasa nyeri sekali. Hemorrhoid interna dapat dikelompokkan menjadi : Derajat I Derajat II : Hemoroid yang terdapat pendarahan tetap tidak menjadi penonjolan pada luang anus. : Hemoroid yang terdapat penonjolan pada saat defekasi tetapi hemoroid tersebut dapat masuk kembali secara spontan.

Derajat III Derajat IV

: Hemoroid yang terdapat penonjolan pada saat defekasi tetapi masuknya hemoroid tersebut harus dibantu. : Hemoroid yang sudah terjadi penonjolan secara menetap dan tidak dapat dimasukan kembali.

C. Etiologi Ada beberapa penyebab hemoroid diantarannya adalah herediter. Herediter merupakan penyebab hemoroid yang menurunkan kelemahan dinding pembuluh darah. Banyak anatomi antar plekus, terhambatnya aliran vena plekus hemoroidalis superior yang menuju ke vena portal. Pekerjaan juga merupakan salah satu penyebab terjadinya hemoroid, misalnya terlalu lama duduk atau berdiri. Dari nutrisi, misalnya kurang makanan berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, peningkatan tekanan intra abdomen, dan penyakit lain yang menyebabkan hemoroid seperti hipertensi portal. Berikut beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya hemoroid : Penuaan Serat memicu otot sfingter anus yang terletak pada sebuah jaringan ikat yang berada pada serat otot, mukosa anus (lapisan rectum dan sepertiga atas lubang anus). Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan umur seseorang, meningkatkan rasio jaringan ikat terhadap jaringan otot (C/M ratio). Hal ini diyakini bahwa perubahan dalam rasio, meningkatkan kelemahan sfingter dan lapisan lubang anus. Kelemahan ini akan memicu peningkatan kerusakan pada bantalan anus, sehingga membentuk wasir. Kerusakan pada jaringan ini cenderung terjadi ketika seseorang mencapai umur 30 tahun.

Hereditas atau genetik Penelitian yang membandingkan menunjukkan bahwa hemoroid terjadi pada

keluarga yang memiliki riwayat hemoroid dibandingkan dengan yang tidak. Meskipun, hubungan antara hereditas atau genetik dan hemoroid tidak saling mendukung. Hal ini mungkin karena pilihan gaya hidup yang sama antara anggota keluarga, yang lebih berperan serta dibandingkan dengan faktor genetik. Kelemahan pada vaskular memang dapat menurun, tetapi kontribusi mayor dari ini kepada timbulnya hemoroid masih belum diketahui.
-

Alkohol

Alkohol adalah diuretik, itu artinya alkohol dapat menyebabkan tubuh kehilangakan lebih banyak air. Alkohol menghentikan produksi anti diuretik
8

hormon, yang menyebabkan seseorang berkemih lebih sering, ini juga dapat menyebabkan dehidrasi. Alkohol juga menarik air dari feses sehingga dapat memicu terjadinya konstipasi. Selain itu, terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dapat memicu terjadinya diare yang juga dapat meningkatkan resiko hemoroid. Alkohol menyebabkan diare karena tubuh mengenalinya sebagai toxin, sehingga tubuh akan berusaha mengeluarkannya.
-

Kafein Kelebihan kafein dapat memperburuk hemoroid dalam dua cara. Pertama,

kafein adalah diuretik, yang artinya bahwa kafein akan menyebabkan berkemih lebih sering, serta menarik air dari feses. Keadaan ini dapat menghasilkan feses yang keras dan meningkatkan resiko konstipasi. Feses yang keras serta kelemahan pada bantalan anus pada kanal anus dapat meningkatkan kerusakan jaringan ikat yang menjaga bantalan tetap pada tempatnya, sehingga dapat merusak permukaan jaringan hemoroid yang akan menyebabkan perdarahan. Kafein juga meningkatkan aliran darah karena adanya pelebaran vena dan meningkatkan tekanan vaskular, keduanya merupakan hal yang buruk. Makanan yang mengandung kafein antara lain, coklat, soft drinks, teh, minuman berenergi, dan coklat. Nutrisi (diet yang rendah serat, lemak) Hal ini merupakan fakta statistik bahwa populasi dunia yang banyak mengkonsumsi serat memiliki insiden hemoroid yang lebih rendah. Jadi jelas, terlalu banyak makan makanan yang rendah serat memiliki andil dalam peningkatan resiko menderita hemoroid. Serat berperan dalam membentuk feses dan menyerap air. Kombinasi antara konsistensi yang lunak, feses yang besar akan mempermudah feses melewati kolon. Feses yang lunak memiliki dampak ringan terhadap jaringan rektum dan kanal anus, termasuk bantalan anus. Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak yang tak jenuh atau lemak baik sangat penting untuk kesehatan vaskular. Lemak yang tidak sehat dapat menyumbat aliran darah, melemahkan sirkulasi, meningkatkan konstipasi, dan meningkatkan jaringan inflamasi, semuanya itu berdampak langsung pada kesehatan vena yang ada pada bantalan anus. Kelemahan pada vena ini
9

berhubungan dengan perkembangan hemoroid. Apalagi, tanpa nutrisi yang cukup dan lingkungan, kerusakan yang sebelumnya pada vena tidak dapat meng-cover dari kerusakan, yang dapat menimbulkan gejala hemoroid. Peningkatan tekanan intra abdominal Beberapa aktifitas yang dapat meningkatan atau mendorong tekanan intraabdominal dapat mencetuskan pembentukan hemoroid. mengangkat beban berat, batuk yang kronis, dan mengejan saat buang air besar adalah tiga contohnya. Contoh-contoh tersebut dapat menyebabkan peningkatan atau mendorong adanya tekanan pada vaskular yang mensuplai rektum dan kanal anal. Pada intinya, vena pada kanal anus dan sekitar anus terutama memudahkan peningkatan tekanan sejak mereka tidak memiliki struktur pendukung pada satu sisi dari anus. Pada kasus hemoroid eksternal, vena yang berada dibawah kulit anus akan menonjol menekan kulit yang memiliki sedikit atau tidak memiliki jaringan penyokong. Hampir sama, vena pada bantalan anus yang menyokong satu sisi pada struktur penyokong dari kanal anal, tetapi kanal anus itu sendiri tidak ada struktur jaringan penyokong. Oleh karena itu, peningkatan tekanan akan menyebabkan prolaps pada vena pada saluran ini. Jika tekanan kronis atau tibatiba, ini dapat menyebabkan kelemahan pada dinding vena.
-

Duduk atau berdiri terlalu lama Hal ini dapat meningkatkan tekanan intra abdominal. Beberapa aktivitas yang

menyebabkan tekanan pada struktur vaskular pada daerah anal dapat menyebabkan kelemahan vaskular atau melemahkan struktur yang dapat menghasilakn varises pada vena. Seperti varises, walaupun secara tidak langsung menyebabkan hemoroid, tapi keadaan yang umumnya terjadi pada jaringan hemoroid.
-

Kurang berolahraga atau gaya hidup yang bermalas-malasan Kurang berolahraga atau exercise adalah salah satu faktor pemicu dari

hemoroid. Exercise, terutama cardiovascular exercise, dapat meningkatkan sirkulasi darah. Hal ini dapat meningkatkan suplai nutrisi dan membuang dari struktur selular dari kanal anal, termasuk vaskular dan jaringan penyokong dari
10

bantalan anus. Walaupun olahraga berat dapat menginflamasi jaringan hemoroid dengan meningkatkan tekanan, tetapi inflamasi hanya berlangsung sementara dan memiliki keuntungan dapat meningkatkan kesehatan vaskularisasi. Exercise juga baik untuk sistem pencernaan dan memperbaiki struktur feses. Ada hubungan antara kurang berolahraga dan masalah konstipasi. Ini adalah salah satu alasan konstipasi yang sering terjadi pada orang tua. Disarankan tidak perlu berolahraga yang terlalu berat dan berlebihan, tetapi cukup dengan berjalan santai 20 menit perhari. Obesitas Obesitas adalah salah satunya faktor terjadinya hemoroid. Sirkulasi darah yang buruk adalah salah satu masalah yang dapat berefek pada kesehatan sel dan kesehatan vascular. Karena adanya peningkatan tekanan abdominal dan peningkatan tekanan pada daerah pelvic pada vena yang ada di daerah anus. Obesitas berhubungan dengan kurangnya exercise. Pada beberapa kasus penyebab obesitas paling banyak adalah buruknya diet, seperti kurangnya konsumsi serat, kurangnya intake cairan, selain itu juga karena gaya hidup yang senang bermalasmalasan dapat berdampak pada kesehatan vaskular dan dapat berdampak secara langsung pada hemoroid. Pada intinya, obesitas adalah masalah kombinasi yang dapat berefek negatif pada kesehatan vaskular dan dapat meningkatkan lamanya hemoroid. Kebiasaan buang air besar yang tidak teratur (Konstipasi atau diare) Studi terbaru menunjukkan bahwa tidak jelas hubungan antara pasien yang mengalami kronik konstipasi dan timbulnya hemoroid. Penelitian menunjukkan bahwa penderita hemoroid tidak selalu konstipasi. Walau bagaimanapun, goresan mekanik dari feses yang keras menekan bantalan anus memungkinkan memicu kerusakan pada struktur yang menjaga bantalan anus tetap pada tempatnya. Ini menjelaskan bahwa konstipasi dapat dan memperburuk hemoroid, menyebabkan perdarahan dan pembengkakan. Diare, terutama disebabkan oleh tenemus, yang diketahui berhubungan dengan hemoroid. Ini mungkin menyebabkan adanya pembengkakan dan memaksa yang dapat menyebabkan penegangan selama peregangan feses. Ketika diare menjadi kondisi yang kronik, penegangan berulang
11

ini dipercaya merupakan mekanisme yang memicu tekanan pada vena pada jaringan hemoroid. Secara bersamaan masalah ini ditemukan pada pasien yang menderita Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan pasien seperti ini memiliki resiko hemoroid. D. Patofisiologi 1. Proses Perjalanan Penyakit Berawal dari karena sering terjadi penekanan di dalam usus besar hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan intra abdomen dan penekanan vena hemoroid, penekanan tersebut terjadi ketika rektum melebar lalu terisi oleh sesuatu yang keras seperti feses keras yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi serat, hal inilah yang dapat menjadikan sumbatan, jika sumbatan tersebut berlangsung terus menerus, dapat menyebabkan terjadi pelebaran pada vena hemoroid yang permanen. Dan akibat dari pada itu terjadi thrombosis, distensi, dan perdarahan dapat terjadi (Black M. Joyce, et.al, 2000: 1667). 2. Manifestasi Klinik Manifestasi pada hemoroid yaitu : terjadi perdarahan pada saat defekasi yang berwarna merah segar, gatal pada rektal, konstipasi, prolaps yang terjadi setelah banyak duduk atau berdiri lama. 3. Komplikasi Adapun komplikasi dari hemoroid menurut Black M. Joyce et.al (2000) adalah :
a.

Anemia yang disebabkan karena perdarahan hebat oleh trauma pada saat defekasi. Hipotensi disebabkan karena peredaran yang keluar menyebabkan kerja jantung menurun.

b.

E.

Pencegahan Pencegahan untuk wasir meliputi:


12

Minum banyak air, makan makanan yang mengandung banyak Olahraga Mengurangi mengedan Menghindari penggunaan laksatif (perangsang buang air

serat (buah, sayuran, sereal, suplemen serat, dll) sekitar 20-25 gram sehari

besar) Membatasi mengedan sewaktu buang air besar.

Penggunaan celana dalam yang ketat dapat mencetuskan terjadinya wasir dan dapat mengiritasi wasir yang sudah ada.

Penggunaan jamban jongkok juga sebaiknya dihindari.

F.

Penatalaksanaan Medis Ditujukan untuk hemoroid interna derajat I sampai III atau semua derajat

hemoroid yang ada kontraindikasi operasi atau klien yang menolak operasi.
1. Non-farmakologis

Bertujuan untuk mencegah memburuknya penyakit dengan cara memperbaiki defekasi. Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel Management Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku defekasi (defekasi dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat/sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan.

Manajemen Hemoroid pada kehamilan Selama kehamilan, sebagian wanita mengalami pendarahan yang keluar dari anus karena cenderung memiliki masalah konstipasi dan adanya penekanan uterus terhadap vena di dalam anus dan rektum. Pada saat melahirkan, hemoroid dapat bertambah parah atau sebagian wanita mengalami hemoroid baru karena tekanan kepala janin saat dilahirkan dan upaya meneran ibu. Jika tidak menderita
13

hemoroid sebelum kehamilan, hemoroid akan hilang dalam beberapa minggu. Jika pasien telah menderita hemoroid sebelum kehamilan, kondisi ini akan sedikit bertambah dalam beberapa minggu tetapi tidak akan hilang. Asuhan yang di berikan untuk mengurangi nyeri hemoroid, antara lain:
Memasukkan hemoroid yang keluar dari rektum Melakukan rendam duduk dalam air hangat atau dingin sedalam 10-15 cm

dalam bak mandi, selama 30 menit, 2 atau 3 kali sehari, pastikan kebersihan bak mandi.
Meletakkan kantong es pada anus.

Berbaring miring
Minum lebih banyak dan diet makanan berserat dan buahbuahan. Memberi obat supositoria.

2. Farmakologi

Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan keluhan dan gejala. Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat macam, yaitu:

a) Obat yang memperbaiki defekasi Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan pelicin tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang yang banyak dipakai antara lain psylium atau isphaluga Husk (ex.: Vegeta, Mulax, Metamucil, Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara membesarkan volume tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek samping antara lain kentut dan kembung. Obat kedua adalah laxant atau pencahar (ex.: laxadine, dulcolax, dll).

14

b) Obat simptomatik Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya Anusol, Boraginol N/S dan Faktu. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau anus. Contoh obat misalnya Ultraproct, Anusol HC, Scheriproct.

c) Obat penghenti perdarahan Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah.

d) Obat penyembuh dan pencegah serangan Menggunakan Ardium 500 mg dan plasebo 32 tablet selama 4 hari, lalu 22 tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.

3. Minimal Invasif

Bertujuan untuk menghentikan atau memperlambat buruknya penyakit dengan tindakan-tindakan pengobatan yang tidak terlalu invasif antara lain skleroterapi hemoroid atau ligasi hemoroid atau terapi laser. Dilakukan jika pengobatan farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil.

Pasien yang dirawat dengan diagnose post operasi hemoroidektomi harus di perlakukan langsung sebagai pasien, dan diberikan pengobatan sebagai berikut :

15

a) Konservatif Hindari mengejan berlebihan selama defekasi oleh karena itu perlu adanya makanan yang mengandung diit tinggi serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dapat juga ada pemberian laxtasif guna mengabsorpsi air lewat usus. Rendam duduk dengan pk dapat dilakukan rutin dua kali sehari pagi dan sore selama klien merasa nyeri. b) Operatif 1) Sclerotherapy Sclerotherapy dilakukan dengan agen seclerosing diantara sekitar vena yang akan memproduksi reaksi inflamasi dan menimbulkan fibrosis. Prosedur ini dapat dilakukan pada pasien rawat jalan dangan anjuran 14 kali injeksi pada pasien selama 5-7 hari, dan kemudian agen tersebut dapat menimbulkan jaringan parut pada kanal anus. Penyuntikan zat sklerosan dilakukan pada wasir sehingga menyebabkan runtuhnya dinding pembuluh darah pada wasir. 2) Hemoroidektomi Tindakan ini merupakan tindakan pembedahan. Namun banyak pasien yang mengeluhkan nyeri yang hebat setelah dilakukan operasi ini. Untuk itu, tindakan ini dilakukan sebaiknya untuk hemorrhoid interna grade IV saja. Tindakan ini dapat dilakukan untuk mengangkat semua jaringan sisa yang terlibat dalam proses ini, selama pembedahan sfingter rectal biasanya dilatasi secara digital dan hemoroid diangkat dengan klem atau diligasi dan kemudian dieksisi. 3) Rubber band ligation Suatu karet diikatkan pada wasir sehingga pasokan pembuluh darah menjadi berkurang atau tidak ada. Setelah beberapa hari, jaringan wasir akan mengalami kematian yang pada akhirnya akan lepas sendiri bersamaan dengan buang air besar.
16

1-2 minggu pasca operasi. Mobilisasi perlu juga

dilakukan guna mempercepat proses penyembuhan. Anti nyeri diberikan bila

4) Hemorrhoidolysis/Galvanic Electrotherapy

Merupakan tindakan pemotongan wasir dengan menggunakan arus listrik. 5) Cryosurgery Merupakan tindakan penghancuran wasir dengan cara membekukannya. Tindakan ini sudah jarang sekali digunakan karena efek sampingnya. 6) Laser, infrared or BICAP coagulation Adalah tindakan pemotongan wasir dengan menggunakan laser atau inframerah. Sekarang ini, laser sudah mulai ditinggalkan karena penelitian menunjukkan bahwa penanganan wasir lebih efektif dengan menggunakan inframerah.

7) Eksisi Merupakan tindakan anjuran untuk hemoroid eksterna yang sudah thrombosis. Seringkali dapat diobati secara non bedah. Namun, jika pasien datang dalam 48 sampai 72 jam setelah awitan, eksisi trombus seringkali menghasilkan pemulihan nyeri secara dramatik. Insisi dan drainase tidak mencukupi, keseluruhan trombus harus dieksisi. Berikut ini adalah jenis pengobatan yang sesuai dengan masing-masing grade hemoroid interna menurut Golligher.

Modifikasi dari Nelson & Cima (2007), Kaidar-Person et al (2007), dan Gearhart (2004).

17

BAB III ANALISIS JURNAL & PEMBAHASAN

KASUS Ny. N 60 tahun masuk RS dengan diagnosa Hemoroid stadium 4 akan dilakukan operasi. Ny. N sudah mengetahui jika dirinya telah mengalami hemorroid sejak
18

setahun yang lalu. Keluarga siap dengan operasi yang akan di jalani, namun masih terdapat keresahan akan kembalinya hemorroid karena rekan rekannya mengalami recurent hemorroid. Maka keluarga menanyakan pada Ners D bagaimana cara mencegah agar hemorroid tidak kembali lagi. ANALISIS JURNAL Judul : Risk factor associated with hemorrhoidal symptoms in specialized consultation Penulis : Francois Pigot, Laurent Siproudhis, Francois-Andre Allaert Tahun Publish : 2005
A. LATAR BELAKANG JURNAL

Penyakit hemoroid adalah penyakit epidemi yang tidak diketahui dengan baik karena ketersediaan penelitian disediakan banyak variabel konklusi. Faktor resiko yang sering disebutkan adalah keturunan, sosial ekonomi tinggi, obesitas, riwayat merokok. Diet tinggi lemak, penggunaan alkohol, makanan pedas, dan lada dengan sedikit cairan yang dikonsumsi maka akan meningkatkan dampak lebih. Beberapa penelitian tentang penyakit hemorroid ini menunjukan bahwa wanita dengan riwayat melahirkan dilaporkan dapat meningkatkan gejala ini. Jurnal ini mengamati kelompok pasien yang datang konsultasi ke Gastroenterology untuk menganalisa sejarah pasien dan kejadian terdahulu dari gejala, lalu membandingkanya dengan data yang dikumpulkan pada kelompok kontrol.

B. SAMPEL DAN METODE Tujuan dari penelitian case control adalah untuk membagi profil klinik pasien yang mengunjungi gastroenterology untuk mengetahui kondisi hemoroidnya, dan menjelaskan kejadian yang terjadi selama 15 hari dibandingkan dengan pasien yang tidak dikontrol dengan alasan yang lain. Masa gawat
19

hemoroid menurut perkembangan gejalanya dimana terjadi selama 15 hari: nyeri, berdarah, pruritis, tumefaksi, dan merembes. Pada kedua populasia, konsultan menandai riwayat pasien dan kejadian selama 15 hari. Dari Februari sampai Maret 2004, antara 2086 pasien privat, 1128 diterima sebagai partisipan dan menerima 5 kasus dan 5 kontrol. Penelitian ini diselenggarakan 9310 file yang dikembalikan oleh 931 praktisi. Diantara 1033 kasus dan 1028 kontrol dipisahkan secara acak.

C. HASIL Populasi Pada populasi Kohort, terdapat 1033 pasien dengan krisis hemoroid akut yang terdiri dari 542 laki-laki (52,5%) dan 491 wanita (47,5%), rata-rata usia 47 14,5 tahun (range 16-91 tahun), rata-rata berat badan 70 13 kg (range 40-135), ratarata tinggi badan 169 8,5 cm (range 137-195cm), rata-rata indeks massa tubuh (BMI) 24,5 4,0 (range 15-50). Rata-rata usia pada laki-laki tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan rata-rata usia pada wanita (47 : 46 tahun). Pasien yang tinggal di daerah perkotaan ada 58%, daerah semi pedesaan 25%, dan daerah pedesaan 14%. Dua pertiga pasien (N=611,68%, data yang hilang 131) memiliki pekerjaan dan 16% telah pensiun. (tabel I)

20

Gejala dijelaskan oleh pasien, dalam urutan frekuensi yang menurun: nyeri (N= 637 pasien, 62%), perdarahan (N= 584, 56,5%), tumor (N=416, 40%), gatal-gatal (N=213, 21%), dan seeping atau merembes (N= 153, 15%). Enam belas pasien (1,5%) mengeluhkan yang terkait dengan gangguan kontinensia. Pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya prolaps pada 282 pasien (31%), thrombosis 261 pasien (26,5%), pembengkakan pada tumor 241 pasien (28%) dan yang tidak termasuk dalam element/unsur yang telah disebutkan diatas, ada 187 pasien (18%). Beberapa unsur yang abnormal diamati pada 62 pasien (6%), thrombus dan pembengkakan tumor menjadi asosiasi yang paling sering (2,5%). Sejarah proctology mencatat, adanya riwayat krisis hemoroid sebelumnya pada 591 pasien (57%), anal fissures pada 145 pasien (14%), anal fistula pada 25 pasien (2,5%), dan perineal suppuration atau nanah pada daerah perineum pada 8 pasien (1%). Selama dua minggu sebelum konsultasi, 912 pasien (88%) telah mengalami kejadian luar biasa. (tabel II)

21

Untuk 83 pasien yang telah memulai pengobatan medis selama dua minggu sebelum konsultasi, 45% menggunakan obat antiinflamasi non steroid, 16% dengan antibiotik, 4% asosiasi dari kedua obat ini, dan 35% dengan obat anti depresi. Diantara 490 wanita yang melakukan konsultasi untuk krisis hemoroid, 373 (82%) (data yag hilang 36 pasien) rata-rata memiliki dua bayi (range 1-8), dengan persalinan normal ada 87%, 135 menggunakan obat kontrasepsi oral (32%) (data yang hilang 70), dan 171 berada pada post menopause (38%) (data yang hilang 39). Faktor-faktor tertentu yang berkaitan dengan pasien wanita, ditunjukkan pada tabel III.

22

Populasi Kontrol Populasi kontrol terdiri dari 504 laki-laki dan 524 wanita, rata-rata usia 52 16,5 tahun. Populasi kontrol tidak berbeda dari studi Kohort mengenai rasio jenis kelamin, tetapi secara signifikan lebih muda (47:52 tahun, P <0,0001) dan secara signifikan lebih tinggi (169:168cm, P<0,05). Tidak ada perbedaan pada berat badan atau indeks massa tubuh (BMI). Ada signifikan proporsi tinggi pada pasien dengan aktivitas pekerjaan (68% dibanding 56%, P<0,0001), dan pasien pensiunan (15,8% dibanding 24%). Distribusi oleh kategori pekerjaan sosial tidak memiliki perbedaan yang signifikan (tabel I). Dibandingkan dengan populasi kontrol, populasi penelitian (Kohort) menunjukkan secara signifikan mempunyai proporsi pasien dengan riwayat penyakit hemoroid lebih tinggi (57% dibanding 19,5%, P<0,0001), anal fissure (14% dibanding 7,3%, P<0,0001), dan proporsi pasien secara signifikan lebih rendah dengan riwayat penykit radang usus (1,5% dibanding 3%, P<0,05). Tidak ada perbedaan mengenai anal atau perineal suppuration (nanah pada daerah perineum). Tingkatan masing-masing kejadian yang terjadi selama dua minggu sebelum konsultasi telah ditunjukkan dalam tabel II untuk kedua populasi dan faktor-faktor tertentu yang ditemukan pada wanita ditunjukkan pada tabel III. Hasil analisis multivariate, dilakukan dengan signifikan variabel yang signifikan pada analisis univariat, disajikan dalam tabel IV.
23

Untuk mengevaluasi pengaruh ginekologi atau kejadian obstetri pada wanita usia reproduksi dibandingkan dengan faktor-faktor yang dipertahankan pada populasi umum, populasi tersebut bersifat individual pada wanita berusia kurang dari 40 tahun. Hasil ini disajikan pada tabel V.

24

D. DISKUSI

Definisi untuk krisis hemoroid yang dimaksud dari penelitian ini adalah onset akut gejala kompatibel dengan penyakit hemoroid setelah pemeriksaan fisik oleh dokter ahli memutuskan dengan diagnosis lain. Faktanya bahwa pemeriksaan fisik bisa normal (18% dalam seri sekarang ini), menekankan kekurangan pemeriksaan fisik dalam menentukan penyakit hemoroid. Gejala yang tidak spesifik dan dapat berhubungan dengan daerah lain (fisura, abses, kanker, penyakit menular seksual) atau kondisi regional (dubur). Metode seleksi mungkin dianggap terlalu ketat karena gejala pasien yang tidak terkonsultasi tidak disertakan. Sekitar 80% pasien mengalami "gejala benign anorektal " atau gejala kompatibel dengan penyakit hemoroid tidak terkonsultasi. Akibatnya, risiko pemeriksaan dalam penelitian ini dapat ditunjuk lebih akurat sebagai risiko konsultasi untuk krisis hemoroid. Di antara gejala yang dipertahankan untuk definisi krisis hemoroid, analisis statistik menegaskan didominasi triad klasik: nyeri, perdarahan, tumor. Pruritus anal adalah gejala keempat terkemuka dan dikhawatirkan lebih dari seperlima dari pasien meskipun fakta bahwa itu umumnya dianggap berhubungan
25

dengan penyakit hemorroidal relatif sedikit: pruritis adalah gejala utama pada satu dari dua pasien dan berhubungan dengan wasir pada 10%. Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa hampir dua pertiga pasien pada wasir eksternal dinyatakan sebagai edema atau trombosis. Penyakit hemoroid muncul dari dua mekanisme, mekanik dan peradangan, dan dapat sesuai dengan manifestasi yang berbeda atau faktor pemicunya. Aspek patogenesis ini tidak dapat diperiksa dengan pada sekarang ini karena terkait frekuensi fungsional dan tanda-tanda fisik dalam populasi penelitian membuat peneliti perbandingan dengan populasi kontrol. Rasio jenis kelamin dari kelompok studi tidak berbeda dengan di populasi kontrol. Populasi penelitian bagaimanapun paling muda rata-rata lima tahun, dengan tanpa perbedaan di usia dengan gender. Temuan serupa juga ditemukan dalam pengamatan sebelumnya di Perancis pada tahun 1991 di antara 5611 pasien dan dalam studi berbasis populasi. Perbedaan usia bisa menjelaskan proporsi lebih tinggi dari pasien occupationally aktif. Tidak ada kategori sosial-pekerjaan dominan. Ini adalah mungkin dalam kaitannya dengan tidak adanya pengaruh posisi kerja atau kegiatan olahraga. Namun demikian, sebuah studi besar-besaran termasuk survei berbasis populasi dan data dari pendaftar medis melaporkan representasi berlebihan dari kelas atas kategori sosial, tapi uniknya untuk data yang diambil hanya dari pendaftar rumah sakit, sementara tidak ada profil sosialekonomi tertentu ditemukan untuk data yang diperoleh dengan wawancara melalui telepon. Regresi logistik analisis mengungkapkan bahwa usia muda bukan faktor risiko utama untuk konsultasi krisis hemoroid: itu menduduki peringkat keenam di antara faktor resiko. Dengan demikian aktivitas pekerjaan akan kurang berarti karena itu mungkin berkaitan dengan usia. Tidak seperti satu kasus kontrol studi, kami tidak menemukan obesitas sebagai faktor risiko. Faktor risiko utama untuk konsultasi untuk krisis hemoroid adalah sejarah krisis serupa, menekankan sifat kronis dalam penyakit ini. Dalam satu studi pasien konsultasi untuk eksternal trombosis, episode yang sama juga dilaporkan untuk 44% pasien, dan 15% pada periode berikutnya 7 sampai 25 bulan kemudian. kesulitan membentuk subkelompok

26

Faktor risiko utama untuk konsultasi untuk krisis hemoroid adalah sejarah krisis serupa, menekankan sifat kronis penyakit ini. Dalam satu studi pasien konsultasi untuk trombosis eksternal, tahap yang sama juga dilaporkan untuk 44% pasien, dan 15% mengalami tahap berikutnya 7-25 bulan kemudian. Sebuah tingkat kekambuhan 61% dalam waktu empat tahun juga telah dilaporkan dalam serangkaian berturut-turut pasien dirawat karena gejala kelas 2 wasir. Faktor risiko kedua yang dikemukakan adalah bagi yang tidak terbiasa mengkonsumsi rempah-rempah; sedangkan yang mengkonsumsi alkohol menduduki peringkat kelima. Sielezneff dkk. juga mencatat pasien konsultasi yang mengkonsumsi rempah-rempah lebih tinggi untuk penyakit hemoroid daripada pasien kelompok kontrol, tetapi ada hal lain yang tidak dapat mengkonfirmasi hubungan di bawah kondisi yang sama. Regresi logistik juga mengidentifikasi tahap akut konstipasi selama 15 hari sebelum konsultasi sebagai faktor risiko yang signifikan. Awalnya dilaporkan oleh Burkitt, hal ini merupakan hubungan antara sembelit dan penyakit hemoroid yang menjadi subyek perdebatan. Beberapa studi kasuskontrol dan data registri berasal dari sebuah kelompok Amerika tidak ditemukan hubungan apapun, tapi dua studi kasus-kontrol di Perancis ditemukan hubungan antara sembelit dan penyakit hemoroid . Penelitian ini memberikan sudut pandang karena memperhitungkan tahap terakhir dan akut dari sembelit. Telah diketahui bahwa setiap peningkatan mendadak dalam mengejan untuk buang air besar dapat mendukung perkembangan gejala, terutama pada pasien dengan riwayat penyakit hemoroid. Sebaliknya , tahap terakhir dari diare adalah faktor risiko untuk konsultasi untuk kondisi lain, selain krisis hemoroid, tetapi tidak ditemukan hal yang signifikan pada analisis multivariat. Hasil ini bertentangan dengan penelitian lain yang telah mencatat hubungan antara penyakit hemoroid dan diare, tetapi studi ini dilakukan pada pasien yang berumur jauh lebih tua yang menyarankan bias seleksi kemungkinan. Pengaruh riwayat fisura anus dijelaskan oleh asosiasi dari anal fisura dengan penyakit hemoroid, asosiasi mencatat 8% pasien dalam survei prevalensi yang ditujukan untuk pasien yang datang konsultasi gastroenterologi, untuk penyakit proctological. Menurut data peneliti, episode terakhir dari stres akan menjadi faktor risiko untuk konsultasi masalah

27

pencernaan selain krisis hemoroid, yang menunjukkan bahwa kondisi pencernaan akan lebih sensitif terhadap stres dari penyakit hemoroid. Tahap kehidupan alat kelamin perempuan sering digambarkan sebagai penyebab penyakit hemoroid. Proporsi wanita pada periode pramenstruasi lebih tinggi pada penduduk perempuan kami dengan krisis hemoroid daripada populasi kontrol. Demikian pula kehamilan dan persalinan terakhir ditemukan lebih sering pada populasi penelitian. Peneliti ingin mempelajari pengaruh faktor-faktor yang berhubungan dengan peristiwa ginekologi dan obstetri dalam kaitannya dengan faktor yang non-spesifikyang menunjukkan untuk seluruh penduduk. Karena itu peneliti melakukan analisa dengan subkelompok wanita berusia kurang dari 40 tahun yang menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kehidupan alat kelamin perempuan, tidak berpengaruh dan peran penting dari faktor yang tidak berkaitan dengan gender (riwayat penyakit hemoroid dan tahap terakhir dari sembelit) adalah signifikan, seperti yang ditemukan pada populasi umum. Hasil negatif dapat dijelaskan dengan rendahnya frekuensi yang terjadi pada kehamilan dan ginekologi di penelitian ini dan kemungkinan hubungan mereka dengan faktor risiko yang lain, terutama sembelit. Abramowitz dkk. sebelumnya telah menunjukkan bahwa trombosis hemoroid, yang terjadi pada 20% wanita setelah melahirkan, merasakan sembelit. Dalam studi lain, juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti halnya sembelit yang berpartisipasi dalam manifestasi hemoroid, jika tidak lebih dari itu, adalah variasi dalam siklus hormon.

E. KESIMPULAN Dalam studi ini, krisis hemoroid yang diamati adalah subyek muda yang aktif, tanpa didominasi oleh gender. Data yang dilaporkan di dalam penelitian ini, mengkonfirmasi presentasi klasik dengan tiga rangkaian nyeri, perdarahan dan tumor serta frekuensi eksternal yang lebih besar dari penyakit hemoroid internal. Dalam kondisi umum, faktor makanan (rempah-rempah, alkohol) memegang peranan penting, serta tahap konstipasi akut. Pada wanita muda, faktor yang berhubungan dengan aktivitas genital tidak ditemukan pengaruh yang signifikan, dan memiliki dampak yang lebih kecil dari riwayat penyakit hemoroid dan
28

sembelit akut. Jadi dalam subjek muda, terutama dengan riwayat manifestasi hemoroid, harus menghindari makanan pedas dan alkohol serta episode konstipasi akut. Pencegahan pada wanita usia reproduksi harus lebih fokus dalam pengobatan sembelit.

BAB IV PENUTUP
29

A. KESIMPULAN
1. Hemoroid

adalah bagian vena varikosa pada kanalis ani, yang

timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh gangguan aliran balik yang dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman (Price dan Wilson 2006 ).
2. Hemorrhoid dibagi menjadi 2 tipe yaitu, hemorrhoid eksterna yang

merupakan wasir yang timbul pada daerah yang dinamakan anal verge dan hemorrhoid interna yang merupakan wasir yang muncul di dalam rektum.
3. Manifestasi pada hemoroid yaitu : terjadi

perdarahan

pada saat

defekasi yang berwarna merah segar, gatal pada rektal, konstipasi, terjadi prolaps terjadi setelah banyak duduk atau berdiri lama.
4. Pada populasi umum faktor diet seperti makanan pedas memiliki

faktor dominan pada kejadian hemoroid. Untuk wanita usia muda faktor yang berhubungan dengan aktivitas genital tidak ditemukan berpengaruh signifikan dengan pengaruh hemoroid. Sehingga diet menghindari makanan pedas dan alkohol merupakan pencegahan yang paling baik untuk pencegahan hemoroid. Untuk wanita usia produktif fokus treatment dilakukan dengan pencegahan konstipasi.

B. IMPLIKASI KEPERAWATAN
1. Perawat dapat mengedukasi klien tentang penyakit hemoroid. 2. Perawat dapat mengedukasi klien, mengenai faktor resiko terjadinya

hemoroid. 3. Perawat dapat menyarankan untuk mengurangi konsumsi alkohol dan makanan pedas, serta mengkonsumsi makanan berserat untuk mencegah timbulnya gejala hemoroid.
4. Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien

dengan hemoroid.

30

C. SARAN 1. Tenaga kesehatan juga harus selalu mengikuti perkembangan informasi terbaru mengenai dunia kesehatan dalam hal ini mengenai hemoroid agar dapat memberikan informasi yang tepat untuk klien.
2. Masyarakat sebaiknya mengetahui apa saja penyebab hemoroid

sehingga kejadian hemoroid di kalangan masyarakat dapat berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

31

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. Hemoroid. www.library.upnvj.ac.id/pdf/3d3keperawatanpdf/.../bab2.pdf. Diakses pada 1 Juni 2012 Sabiston. Buku Ajar Bedah. Bagian 2. Jakarta: EGC. Bahiyatun, S.Pd.S.Si.T. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. Tambayong, Jan. 2001. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC. Hemoroid-wasir.www.adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/wasir hemorrhoid.pdf. Diakses pada 1 Juni 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I edisi IV. Kumala, Poppy dkk. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC. Pharos Indonesia. 2010. Kenali Hemoroid (Wasir) Lebih Dekat.

http://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/417-kenali-hemoroidwasir-lebih-dekat.html. Diakses pada tanggal 2 Juni 2012. Graber, Mark A. dkk. 2006. Buku Saku Dokter Keluarga. Edisi 3. Jakarta: EGC. Hemorrhoid Treatment Answer. 2010. Risk Factors Associated With Hemorrhoids. www.hemorrhoidtreatmentanswer.com/risk-factors/ . Diakses pada tanggal 4 Juni 2012. Pigot, F., Siproudhis, L., & Allaert, F.A. 2005. Risk factor associated with hemorrhoidal symptoms in specialized consultation. www.sciencedirect.com. Diakses pada tanggal 29 Mei 2012

32