Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Di Indonesia, kasus kekerasan pada anak makin lama makin bertambah jumlahnya, hal ini pun bisa saja meningkat jika masyarakat tetap melakukan kekerasan pada anak. Sekitar 21.872 anak menjadi korban kekerasan fisik dan psikis, 12.726 anak mengalami kekerasan seksual. Sementara 70.00095.000 anak menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan komersial seksualitas. Sedangkan selama Januari hingga April 2008, jumlah kasus kekerasan terhadap anak berusia 0-18 tahun di Indonesia, terdata 95 kasus. Dari jumlah itu, persentase tertinggi, yaitu 39,6 persen diantaranya, dilakukan oleh guru. Berdasarkan penelitian yang didukung oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Masalah Anak (Unicef) masih banyak anak-anak di Indonesia yang mendapatkan perlakuan buruk. Dalam dua penelitian Unicef pada 2002-2003 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, terungkap kalau perlakuan terhadap anak masih buruk dan membahayakan. Penelitian ini dengan jelas menunjukkan bahwa jumlah tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia sangat tinggi, demikian yang tertulis dalam Kajian Sekretaris Jenderal PBB mengenai Kekerasan terhadap Anak yang dipresentasikan di hadapan Sidang Umum PBB. Survei yang dilakukan pada 2002 melibatkan 125 anak dan berlangsung selama enam bulan. Survei itu meliputi wawancara yang diawasi dengan sangat teliti. Dari survei itu terungkap, dua per tiga anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan pernah dipukul. Lebih dari seperempat anak perempuan dalam survei itu mengalami perkosaan. Survei yang jauh lebih luas dilakukan pada 2003 dan melibatkan sekitar 1.700 anak. Dari survei itu terungkap, sebagian besar anak mengaku pernah ditampar, dipukul, atau dilempar dengan benda. Namun, tidak ada bukti telah terjadi pemerkosaan. 1 Pada awal 2006, temuan penelitian mendalam mengenai kekerasan terhadap anak di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara menunjukkan, tindak kekerasan di sekolah melibatkan kekerasan terhadap fisik dan mental. Di Jawa Tengah, sebanyak 80 persen guru mengaku pernah menghukum anak-anak dengan berteriak pada mereka di depan kelas. Sebanyak 55 persen guru mengaku pernah menyuruh murid mereka berdiri di depan kelas. Di Sulawesi
Child Abuse Page 1

Selatan, sebanyak 90 persen guru mengaku pernah menyuruh murid berdiri di depan kelas, diikuti oleh 73 persen pernah berteriak kepada murid, dan 54 persen pernah menyuruh murid untuk membersihkan atau mengelap toilet. Sementara itu, di Sumatera Utara, lebih dari 90 persen guru mengaku pernah menyuruh murid mereka berdiri di depan kelas, dan 80 persen pernah berteriak pada murid. Semua bentuk hukuman ini mempermalukan dan merendahkan harga diri dan kemampuan anak, tulis laporan itu. Diungkapkan, banyak kekerasan terhadap anak yang bersifat tersembunyi dan sering disetujui secara sosial. 1 1.2 Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum Untuk memenuhi syarat dalam memenuhi program studi kepanitraan klinik Ilmu Penyakit Anak di Unit kesehatan anak Rumah Sakit Pusat Raden Said Sukanto.

b. Tujuan Khusus Untuk mengetahui permasalahan mengenai kekerasan pada anak, dampak, serta pencegahannya.

Child Abuse

Page 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.

(Definisi ini sesuai dengan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of Child) tentang definisi Anak dan Pasal 1 ayat (1) UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.). 9 Beberapa landasan hukum yang berhubungan langsung dengan upaya pemenuhan hak anak untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya yang terbebas dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, antara lain: Pasal 28B ayat , Undang-undang Dasar 1945 Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Undang-undang nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Pasal 2 ayat 1-4: (1) Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. (2) Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna. (3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudahdilahirkan. (4) Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. 9

Child Abuse

Page 3

Seluruh bagian dalam Konvensi ini mengatur pemenuhan hak-hak anak. Ada 4 prinsip dasar hak anak yang terkandung di dalam Konvensi Hak Anak, yaitu: 1. Non-diskriminasi 2. Kepentingan yang terbaik bagi anak 3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan 4. Penghargaan terhadap pendapat anak 9 Child Abuse atau Pelecehan anak adalah penganiayaan fisik, seksual atau emosional terhadap anak-anak. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan atau kelalaian oleh orang tua atau lainnya pengasuh yang dapat menimbulkan dalam bahaya, potensi bahaya, atau ancaman bahaya untuk anak. Sebagian besar kekerasan terhadap anak terjadi di rumah, dengan jumlah yang lebih kecil terjadi disekolah organisasi atau tempatnya bermain. 2 . Menurut Vander Zander (1989), Kekerasan adalah "Suatu bentuk penyerangan secara fisik atau melukai anak" dan perbuatan ini justru dilakukan oleh pengasuhnya (orang tua atau pengasuh yang bukan keluarga) 7 Definisi lain juga mengungkapkan kekerasan adalah" Semua interaksi atau tidak adanya interaksi antara anggota keluarga yang berakibat cedera bukan karena kecelakaan fisik dan perkembangan individu. (Helfer,1987) 7 Menurut WHO (2004) kekerasan pada anak adalah suatu tindakan penganiayaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata atau pun tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat atau perkembangannya, tindakan kekerasan diperoleh dari orang yang bertanggung jawab, dipercaya atau berkuasa dalam perlindungan anak tersebut. 7

Child Abuse

Page 4

Sedangkan Kekerasan pada anak menurut The national Commision Of Inquiru Into The Prevention Of Child Abuse (Childhood matter, 1996), Kekerasan pada anak adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill,1973). 7 Menurut Synde (1983) mendefinisikan kekerasan pada anak adalah perlakuan yang salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual. 3 2.2 Sejarah Sindrom Anak dipukuli pertama kali dijelaskan oleh spesialis kedokteran forensik Perancis, Auguste Ambroise Tardieu (10 April 1818 - 12 Januari 1879). Dalam pengakuan deskripsi pertama dikenal sebagai Tardieu Sindrom. 2

2.3 Jenis Kekerasan pada Anak Kekerasan pada anak dapat berupa :

fisik seksual psikologis, emosional dan penelantaran. 1,2,3,4,5,6,7 Tipe lain dari kekerasan adalah mengeksploitasi anak , memanfaatkan anak untuk bekerja

atau aktivitas lain untuk memperoleh keuntungan, sebagai contoh adalah eksploitasi anak untuk alasan komersial. 7

A. KEKERASAN FISIK PADA ANAK Kekerasan fisik pada anak adalah "non accidental injuri" pada anak mulai dari ringan sampai berat sampai pada trauma neurologist yang berat bahkan sampai pada kematian. Cedera fisik akibat hukuman yang diluar batas ,dan perilaku pelaku yang agresif , kekejaman dalam memberikan hukuman pada anak. Cedera bisa diakibatkan oleh pukulan, cambukan, luka bakar ,

Child Abuse

Page 5

lecet dan goresan, memar dengan berbagai tingkat penyembuhan, fraktur, luka pada mulut , bibir, rahang, mata , perineal. Dan pemberian racun. Selain itu juga kekerasan fisik adalah agresi fisik yang diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa. Seperti memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar, memar, menarik telinga atau rambut, tersedak atau membuat gemetar seorang anak. Gemetar seorang anak dapat menyebabkan sindrom bayi terguncang, yang dapat mengakibatkan tekanan intrakranial, pembengkakan otak, cedera difus aksonal, dan kekurangan oksigen, yang mengarah ke pola seperti gagal tumbuh, muntah, lesu, kejang, menggelembung atau fontanels tegang, sesak napas, dan pupil melebar. Transmisi racun pada anak melalui ibunya (seperti dengan sindrom alkohol janin) juga dapat dianggap penganiayaan fisik dalam beberapa wilayah yurisdiksi. Sebagian besar negara dengan hukum kekerasan pada anak mempertimbangkan penderitaan dari luka fisik atau tindakan yang menempatkan anak dalam risiko yang jelas dari cedera serius atau kematian mendadak yang tidak wajar. Di samping itu, ada cukup banyak variasi. Perbedaan antara disiplin anak dan pelecehan sering kurang dapat dibedakan. Budaya norma tentang apa yang merupakan bentuk pelecehan pada anak bervariasi dikalangan orang awam serta masyarakat yang lebih luas, orang tidak setuju apabila mendisiplinkan anak disebut sebagai kekerasan pada anak. Beberapa pakar menyatakan bahwa norma-norma budaya yang memberikan sanksi hukuman fisik adalah salah satu penyebab kekerasan terhadap anak, dan telah melakukan kampanye untuk meluruskan kembali norma-norma tersebut. Penggunaan kekerasan terhadap anak-anak sebagai tindakan disiplin adalah ilegal di 24 negara di seluruh dunia, tetapi umum dan diterima secara sosial di banyak Negara lainnya. 1,2,3,7

B. PELECEHAN SEKSUAL ANAK Pelecehan Seksual Anak (PSA) adalah bentuk pelecehan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua melakukan rangsangan seksual terhadap anak. Bentuk PSA termasuk bertanya atau menyuruh anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasil), mempertontonkan alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, kontak seksual aktual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak, melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik, atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak. Efek dari pelecehan seksual anak termasuk depresi, gangguan stress pasca-trauma, kecemasan, kecenderungan untuk kembali korban di masa dewasa, dan cedera fisik untuk anak.
Child Abuse Page 6

Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan dapat mengakibatkan trauma psikologis yang lebih serius dan jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua. Anak pelecehan seksual juga sangat terkait dengan perkembangan perilaku adiktif , kompleks posttraumatic stress disorder dan borderline personality disorder. Sekitar 15% sampai 25% wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami pelecehan seksual saat mereka masih anak-anak. Kebanyakan pelaku pelecehan seksual adalah orang yang kenal dengan korban mereka. Kirakira 30% adalah kerabat dari anak, paling sering saudara-saudara, ayah, ibu, paman atau sepupu, sekitar 60% adalah kenalan lain seperti teman-teman dari keluarga, babysitter, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar dalam sekitar 10% anak pelecehan seksual kasus. 1,3,7 C. PELECEHAN PSIKIS Dari semua kemungkinan bentuk pelecehan, pelecehan emosional adalah yang paling sulit untuk didefinisikan. Itu bisa termasuk nama-panggilan, ejekan, degradasi, perusakan harta benda, penyiksaan atau kritik, tuntutan yang tidak pantas atau berlebihan, pemotongan

komunikasi, dan penghinaan. Korban pelecehan emosional dapat bereaksi dengan menjauhkan diri dari pelaku, berkata-kata kasar, atau berkelahi kembali oleh pelaku menghina. pelecehan emosional dapat mengakibatkan gangguan, kecenderungan korban menyalahkan diri sendiri, tak berdaya, dan menjadi pasif. 2.3.4.7 D. MENELANTARKAN Penelantaran anak adalah di mana orangtua yang bertanggung jawab gagal untuk menyediakan berbagai keperluan yang memadai, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang), pendidikan (kegagalan untuk mendaftarkan anak di sekolah) , atau medis (kegagalan untuk mengobati anak atau membawa nya berobat). 1,2,3,7

2.4 Prevalensi Kejadian Kekerasan pada anak Menurut (Amerika) Komite Nasional untuk Mencegah Child Abuse, pada tahun 1997 kasus penelantaran terhadap anak mewakili 54% dari kasus yang dikonfirmasi penganiayaan anak, penyiksaan% 22 fisik, pelecehan seksual 8%, penganiayaan emosional 4%, dan bentukChild Abuse Page 7

bentuk penganiyaan lainnya mencapai angka 12%. Sebuah laporan UNICEF pada kesejahteraan anak menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Inggris menduduki peringkat terendah di antara negara-negara industri yang berkaitan dengan kesejahteraan anak-anak. Sedangkan di Indonesia sendiri, Kasus kekerasan terhadap anak di Tanah Air dalam dua tahun terakhir jumlahnya meningkat, dari 1.626 kasus pada 2008 menjadi 1.891 pada 2009. 3

2.5 Penyebab terjadinya kekerasan pada anak Prevalensi kekerasan pada anak yang tinggi ini merupakan fenomena yang kompleks dengan penyebab ganda. Memahami penyebab penyalahgunaan wewenang terhadap hak orangtua kepada anak adalah penting untuk mengatasi masalah pelecehan anak. Orangtua yang memiliki permasalahan dengan pasangannya lebih cenderung menyakiti anak nya daripada menyakiti pasangannya. Namun, tidak mungkin untuk mengetahui apakah perselisihan perkawinan merupakan penyebab utama kekerasan terhadap anak. Penyalahgunaan zat juga dapat menjadi faktor utama kekerasan pada anak. Satu studi AS menemukan bahwa orang tua dengan penyalahgunaan zat, paling sering alkohol, kokain, dan heroin, lebih mungkin untuk menganiaya anak-anak mereka. Studi lain menemukan bahwa lebih dari dua pertiga dari kasus penganiayaan orang tua anak yang terlibat dengan masalah penyalahgunaan zat. penelitian ini secara khusus menemukan hubungan antara penggunaan alkohol dengan tingginya kekerasan dan pelecehanseksual terhadap anak. Pengangguran dan kesulitan keuangan juga berhubungan dengan tingkat peningkatan pelecehan anak. Pada tahun 2009 dilaporkan bahwa kekerasan terhadap anak telah meningkat selama resesi ekonomi. Selain itu juga faktor sosio-kultural antara lain adalah nilai atau norma yang ada di masyarakat, hubungan antara manusia dan kemajuan jaman. Selain itu kekerasan pada anak dapat disebabkan faktor pencetus yang berasal dari anak, stres keluarga dan stres yang berasal dari orang tua. Karakteristik orang tua seperti usia, status perkawinan, kehamilan tidak diinginkan, pengalaman mendapat kekerasan, kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang, perawatan kehamilan tidak baik, pendidikan, cacat fisik/mental dan depresi (UNICEF, 2005). Karakteristik orang tua yang berisiko melakukan kekerasan kepada anak-anaknya adalah: orang tua yang agresif dan impulsif, orang tua tunggal, berusia muda, adanya masalah dalam
Child Abuse Page 8

perkawinan seperti perceraian, konflik dalam keluarga misalnya dengan mertua, keluarga yang memiliki banyak anak, orang tua yang kecanduan obat atau alkohol, keluarga di daerah baru tanpa teman, dan orang tua yang kurang berpendidikan (Kalibonso & Dharmano, 2001). Keluarga yang mengalami konflik mempunyai pengaruh langsung pada anak dalam sosialisasinya di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Kekerasan pada anak dapat menyebabkan keterlambatan dan gangguan tumbuh kembang pada anak. 5 2.6 Tanda dan Gejala Tanda-tanda kekerasan fisik: 1. Bekas luka, memar, atau luka bakar yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan muncul berulang kali. 2. Bekas luka yang berbentuk seperti objek tertentu, misalnya ikat pinggang, kabel listrik, dan lain-lain. 3. Luka-luka yang tidak mungkin terjadi berdasarkan pertimbangan usia seorang anak. Misalnya, patah tulang pada anak yang belum dapat berjalan atau memanjat. 4. Penjelasan yang tidak masuk akal mengenai penyebab cedera. 5. Memiliki sifat penakut.

Tanda-tanda kekerasan verbal: 1. Perilaku agresif atau tertutup. 2. Pemalu dan menghindari kontak fisik dengan orang tua atau orang dewasa.

Tanda-tanda pelecehan seksual: 1. Anak menyatakan dirinya telah diperlakukan tidak pantas secara seksual. 2. Anak memiliki tanda-tanda fisik seperti: - kesulitan berjalan atau duduk - pakaian bernoda darah - memar dan luka pada daerah kemaluan dan dubur - alat kelamin atau dubur sakit, gatal, bengkak, dan kemerahan 3. Anak menunjukkan perilaku dan tanda-tanda emosional seperti: - kesulitan makan atau tidur
Child Abuse Page 9

- mengotori atau membasahi celana atau tempat tidur padahal ia sudah terlatih buang air di toilet - sering menangis dan sedih berlebihan - menarik diri dari kegiatan dan orang lain - berbicara tentang atau melakukan tindakan seksual di luar kewajaran untuk anak seusianya. 5 2.7 Dampak Anak-anak dengan riwayat pengabaian atau kekerasan fisik berada pada risiko mengembangkan masalah kejiwaan, termasuk gejala disosiatif,kecemasan serta, depresi. Sebuah penelitian oleh Dante Cicchetti ditemukan bahwa 80% dari anak dilecehkan dan dianiaya menunjukkan gejala mental. Korban pelecehan kanak-kanak, itu diklaim, juga menderita dari berbagai jenis masalah kesehatan fisik di kemudian hari. Beberapa dilaporkan menderita dari beberapa jenis kepala kronis, perut, panggul, atau nyeri otot tanpa alasan yang dapat diidentifikasi. Meskipun sebagian besar korban pelecehan anak tahu atau percaya bahwa pelecehan mereka dapat menjadi penyebab kesehatan yang berbeda dalam kehidupan dewasa mereka, untuk sebagian besar pelecehan mereka tidak terkait langsung dengan permasalahan tersebut, menunjukkan bahwa penderita yang paling mungkin didiagnosis dengan kemungkinan penyebab lain untuk masalah kesehatan mereka, bukannya pelecehan masa kecil mereka. Pengaruh pelecehan anak bervariasi, tergantung pada jenis perlakuaannya. Sebuah studi 2006 menemukan bahwa masa kanak-kanak pelecehan emosional dan seksual sangat terkait dengan gejala depresi dewasa, sementara paparan pelecehan verbal dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga memiliki hubungan yang cukup kuat. Untuk depresi, mengalami lebih dari dua jenis penyiksaan memberikan gejala sinergetik yanga kuat. Pelecehan seksual terutama

merugikan dalam bentuk intrafamilial, gejala depresi, gelisah, pemisahan, dan lekas marah. Anak dengan pelecehan verbal memiliki hubungan yang kuat dengan kemarahan-permusuhan daripada jenis kekerasan lainnya, dan kedua hanya untuk emosional penyalahgunaan dalam hubungannya dengan gejala disosiatif. Informasi Kesejahteraan Anak di Amerika mencatat bahwa pada tahun 2006, sekitar 905.000 anak-anak menderita penganiayaan anak, yang meliputi fisik, seksual, pelecehan emosional dan penelantaran. Bentuk-bentuk kekerasan sangat mempengaruhi anak: ia dapat mempengaruhi mereka secara psikologis, perilaku dan fisik. Efek dari penyalahgunaan anak dapat terus menjadi dewasa, mempengaruhi baik korban dan orang-orang yang dekat kepadanya. Penderitaan dari pelecehan selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan masalah
Child Abuse Page 10

psikologis pada korban. Sebagai contoh, selama masa kanak-kanak, korban masih berusia tiga tahun dapat menunjukkan tanda-tanda depresi. Selain merasa sedih, orang dengan depresi dapat memiliki perasaan tidak berharga, putus asa dan tidak berdaya. Informasi Kesejahteraan Anak di Amerika menjelaskan bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1996, 80 persen korban penganiayaan anak memiliki gejala sedikitnya satu gangguan psikologis pada usia 21. 6 Contoh gangguan psikologis yang dapat terjadi pada korban pelecehan anak di masa dewasa termasuk depresi, pikiran untuk bunuh diri dan perilaku, kecemasan dan gangguan makan. Sebagian korban mengalami gangguan kecemasan yang berbeda, seperti gangguan panik dan gangguan stres pasca-trauma. kemungkinan gangguan lain yang anak-anak korban pelecehan dapat memiliki termasuk gangguan kelekatan reaktif, gangguan disosiatif dan gangguan perhatian defisit hiperaktif, penelitian di sejumlah LSM di Amerika juga menambahkan bahwa ketika seorang anak disalahgunakan oleh orang tua atau orang dewasa yang dipercaya, anak mengalami kesulitan mempercayai orang lain di masa mendatang. Isu-isu kepercayaan dapat menyebabkan masalah mempertahankan hubungan. Penyalahgunaan tersebut mungkin membuat korban merasa rusak atau tidak berharga, yang dapat mempengaruhi motivasi tujuan mereka di masa depan. Korban juga mungkin mengalami kesulitan mengatur emosi mereka. Beberapa korban penyiksaan anak dapat memiliki perubahan perilaku mereka sebagai hasil dari apa yang mereka alami. Informasi Kesejahteraan Anak di Amerika menjelaskan bahwa salah satu yang diperkirakan sepertiga dari pelecehan anak-anak mereka dilecehkan dan terabaikan sendiri. Ini pelecehan berulang dapat terjadi karena korban mengulangi perilaku mereka melihat masa anak-anak mereka. Tapi tidak semua korban kekerasan ulangi perilaku negatif ketika mereka menjadi dewasa. Sebaliknya, mereka bekerja untuk melindungi anak-anak mereka dari hal serupa yang pernah di rasakannya dulu. Informasi Kesejahteraan Anak di Amerika menambahkan bahwa ketika orang dilecehkan selama masa kanak-kanak, mereka sekitar 25 persen lebih mungkin untuk mengalami masalah seperti bermain buruk di sekolah atau menjadi hamil sebagai remaja. Mereka mungkin beralih ke alkohol dan obat-obatan sebagai dampak dari kekerasan yang dialami. Beberapa anak korban kekerasan juga dapat melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kriminalitas. 3

Child Abuse

Page 11

2.8 Pencegahan Penyalahgunaan Anak Penyalahgunaan anak dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dengan setiap orang bahkan anggota keluarga dekat ataupun teman. Pada tahun 2007, ada 1.760 anak-anak yang meninggal di Amerika Serikat sebagai akibat dari pelecehan anak atau kelalaian. Anak-anak muda dari satu tahun terdiri hampir separuh dari semua kematian, dan tiga perempat yang lebih muda dari empat tahun. Ini merupakan angka-angka yang serius. Orang tua, anggota keluarga, dan teman-teman keluarga perlu bangun dan lebih terlibat dalam mencegah kekerasan terhadap anak. 3 Terlepas dari semua upaya untuk mempublikasikan, mendidik, dan membuat orang menyadari masalah pelecehan anak, statistik menunjukkan bahwa pelecehan dan penganiayaan anak terus meningkat. Dengan pengecualian tahun 2005, insiden kematian akibat penyiksaan anak meningkat selama lima tahun terakhir. Banyak peneliti, dokter, guru, dan profesional terkait dengan anak-anak percaya bahwa jumlah kematian setiap tahun dari pelecehan anak yang tidak dilaporkan. Beberapa studi melaporkan bahwa sebanyak 50 sampai 60 persen kematian anak akibat penganiayaan anak-anak atau melalaikan tidak pernah dilaporkan. 3 Penyalahgunaan anak dapat dicegah, pertama, melalui kesadaran, maka deteksi dini dan intervensi. Melindungi anak-anak dari pelecehan adalah perhatian pertama dan terutama polisi dan otoritas perlindungan anak. 3 Pendidikan anak-anak untuk mengenali perilaku yang tidak pantas (seksual dan fisik) dan melaporkan penyalahgunaan mungkin pada tahap itu awal untuk orang tua mereka atau keluarga akan membantu anak-anak menghindari dilecehkan, menyelamatkan keluarga dari interaksi disfungsional, mengidentifikasi pelaku nyata hampir segera untuk penegakan hukum, dan membantu dalam identifikasi awal anggota keluarga dengan kecenderungan yang kasar sebelum tindak pidana terjadi. Dalam dunia yang ideal, membantu psikiatris akan tersedia untuk mengobati orang yang menyalahgunakan anak-anak. Itu jarang terjadi. 3 Kebanyakan pelaku, begitu mereka telah bertindak keluar dan melakukan tindakan pelecehan, ditangkap, dituntut, diadili, dihukum, dikirim ke penjara, dan ditandai sebagai pelaku seksual. Untuk mencegah penyalahgunaan dengan mengubah perilaku pelaku (apakah mereka adalah
Child Abuse Page 12

kekasih atau teman), kecenderungan untuk menjadi kasar harus diidentifikasi sebelum penyalahgunaan yang sebenarnya terjadi. Setelah kecenderungan diidentifikasi, harapan terbaik untuk mengobati gangguan mental serius adalah konseling perilaku. 5 2.9 Hukum dan Undang-undang Setiap negara termasuk Indonesia mempunyai Undang-Undang tentang perlindungan anak, Di Indonesia sendiri Perlindungan anak telah diatur pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang isinya antara lain menyangkut hak-hak anak, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah, masyarakat, serta orang tua dalam perlindungan anak, dan didalamnya juga mengatur tentang ketentuan pidana terhadap pelanggaran hak-hak anak. 6 Kenyataan yang terjadi meski banyak kasus telah melanggar hak anak, tetapi kurang memperoleh perhatian publik, dan sulit diungkap ke permukaan sehingga disebut iceberg (fenomena gunung es). Kekerasan pada anak sering dianggap hal yang wajar karena secara sosial dipandang sebagai cara pendisiplinan anak. Kekerasan pada anak memperoleh perhatian publik lebih serius jika korban tindak kekerasan yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak jumlahnya bertambah banyak, dan menimbulkan dampak yang sangat menyengsarakan anakanak. 6 Dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak di Indonesia, jika pelakunya orangtuanya sendiri, hukuman akan ditambah sepertiganya. Pasal 80 menyebutkan, ayat 1: setiap orang yang melakukan kekejaram, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000. Ayat 2, dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat 1 luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000. Ayat 3, dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000. Pidana dapat ditambah sepertiganya dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1, 2, dan ayat 3 apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orangtuanya. 6
Child Abuse Page 13

2.10

Penanggulangan korban kekerasan dan pelecehan anak Pengalaman pelecehan seksual anak bervariasi dari individu ke individu. Keparahan,

intensitas, dan frekuensi, usia anak, hubungan antara anak dan pelaku, tingkat dukungan dari orang tua, tingkat pengakuan oleh pelaku, kualitas fungsi keluarga, tingkat kekerasan, dan spesifik sifat menyalahgunakan semua mempengaruhi jenis dan keparahan efek terlihat pada korban anak. Dengan demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak ada satu gejala profil unik untuk anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual, dan tidak semua (atau bahkan mayoritas) anak-anak yang telah mengalami pelecehan seksual menampilkan salah satu dari tanda bahwa anak tersebut telah mengalami pelecehan atau kekerasan. Logikanya, oleh karena itu, setiap korban anak harus dinilai dengan hati-hati dan rencana pengobatan harus dikembangkan. Sangat menarik untuk dicatat penelitian yang menunjukkan bahwa minoritas anak-anak (kirakira 20 - 40%) yang telah mengalami pelecehan seksual tampaknya beberapa menderita kelainan psikologis atau sosial gejala distress. Mungkin sulit untuk menentukan apakah anak yang tidak menampilkan gejala sedang menghadapi kekerasan. Beberapa anak mungkin menampilkan apa yang dianggap sebagai "efek tidur" atau pengembangan gejala serius beberapa saat setelah berakhirnya pelecehan. Sejumlah pengobatan tersedia untuk korban penganiayaan anak. Trauma-fokus terapi perilaku kognitif, pertama kali dikembangkan untuk mengobati anak-anak mengalami pelecehan seksual. Sekarang digunakan untuk korban trauma apapun. Ini target gejala yang terkait dengan trauma pada anak-anak termasuk gangguan stress pasca-trauma, depresi klinis, dan kecemasan. Ini juga termasuk komponen untuk orang tua. Beberapa studi telah menemukan bahwa anakanak mengalami pelecehan seksual ditingkatkan lebih dari anak-anak menjalani terapi tertentu lainnya. Bentuk lain pengobatan termasuk terapi kelompok, terapi bermain, dan terapi seni. Masing-masing jenis pengobatan dapat digunakan untuk lebih membantu, tergantung pada bentuk pelecehan yang mereka alami. Play terapi dan terapi seni adalah cara untuk mendapatkan anak-anak lebih nyaman dengan terapi dengan mengerjakan sesuatu yang mereka nikmati (mewarnai, menggambar, melukis, dll). Desain karya seni anak bisa menjadi representasi simbolik dari apa yang mereka rasakan, hubungan dengan teman atau keluarga, dan banyak lagi. Mampu membahas dan menganalisis karya seni anak dapat memungkinkan seorang untuk mendapatkan wawasan yang lebih baik dari si anak.
Child Abuse Page 14

Terapi bermain digunakan untuk membantu anak-anak mengatasi trauma seperti kekerasan dan untuk memungkinkan mereka untuk berdamai dengan masalah emosional yang menyakitkan. Sementara orang dewasa dapat berkomunikasi menggunakan kata-kata, anak-anak cenderung menggunakan bermain sebagai sarana untuk mengekspresikan diri. Sebagai anak-anak sering memiliki kemampuan terbatas untuk mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang dewasa menggunakan bahasa, bermain menjadi alat penting untuk membantu untuk mengelola emosi dan perasaan. Anak-anak juga biasanya dapat merasa aman dalam batasbatas bermain dan lebih mampu mengekspresikan rasa takut. Istilah Terapi bermain pertama kali di kemukakan oleh Freud, dan sebagian besar pendekatan terapi bermain saat ini telah muncul sebagai hasil dalam terapi psikoanalitik. Bermain secara luas diakui sebagai cara seorang anak yang paling alami untuk mengatasi perasaan serta mengekspresikan dan berkomunikasi ketakutan dan keinginan. Hal ini mirip dengan cara orang dewasa menggunakan kata-kata dalam konseling atau psikoterapi. Sementara semua anak-anak menggunakan bermain untuk memahami dunia di sekitar mereka, bagi mereka yang telah disalahgunakan atau mengalami trauma dalam beberapa cara, terapi bermain menawarkan kesempatan untuk bekerja melalui peristiwa dengan terapis bermain khusus dalam lingkungan yang aman. 4

2.11

Evaluasi secara medis Dokter yang melihat pasien anak-anak harus 1. akrab dengan manifestasi umum dari

pelecehan anak 2. termotivasi untuk melaporkan temuan mereka ke instansi yang berwenang, dan 3. siap untuk bersaksi.8 Seorang ahli medis dalam penyalahgunaan fisik harus seorang dokter dengan pelatihan yang cukup besar atau pengalaman dalam mendiagnosis cedera nonaccidental pada anak-anak dan bayi. Tambahan untuk pelatihan dan pengalaman dengan banyak kasus, ahli ekspertise penyiksaan fisik harus memiliki keakraban umum dengan buku teks dan literatur jurtnal yang menggambarkan fitur diagnostik cedera nonaccicental. Yang paling ahli dalam ekspertise pelecehan fisik pada anak adalah dokter anak. Spesialis medis lainnya yang mungkin menjadi ahli dalam kasus-kasus kekerasan fisik termasuk ahli radiologi, ahli patologi, dokter keluarga, dan dokter perawatan darurat dan kritis (UDG). Para spesialis ini juga harus menunjukkan
Child Abuse Page 15

pelatihan dan pengalaman di bidang tertentu dari kekerasan fisik. Sedangkan pada kasus kekerasan seksual pada anak perlu dipertimbangkan dua hal : anamnesis dan pemeriksaan fisik.8 Sedangkan kasus penelantaran anak lebih sedikit dibandingkan kasus kekerasan fisik pada anak atau kejahatan seksual pada anak. Kasus penelantaran anak ini biasanya dilakukan justru oleh orang tua kandungnya. Secara medis kasus ini terjadi jika intervensi terhadap perlindungan kesehatan tidak diberikan dari orangtua kepada anaknya. Tetapi karena alasan budaya hal itu biasa dilakukan. 8 Kekerasan emosional dalam medis dapat didiagnosis oleh seorang psikiatris atau seorang psikologis yang mengevalusi secara emosional maupun mental.8

Child Abuse

Page 16

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Child Abuse atau kekerasan pada anak kerap sekali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyangkut atas beberapa hal yakni antara lain penelantaran, kekerasan fisik, psikologis atau pelecehan emosional, dan pelecehan seksual anak. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan atau kelalaian oleh orang tua atau lainnya pengasuh yang dapa tmenimbulkan bahaya, potensi bahaya, atau ancaman bahaya untuk anak. Banyak faktor yang dapat menjadi sumber utama kekerasan pada anak, seperti masalah orangtua dengan pasangannya, zat-zat aditif, alkohol, bahkan faktor ekomoni ikut berperan serta dalam menambah tingginya angka kasus kekerasan terhadap anak yang kerap tidak disadari oleh orangtua dan sekitar. Kekerasan pada anak bak gunung es, tidak nampak kepermukaan namun telah banyak anak-anak yang mejadi korbannya. Bahkan orangtua pun tidak menyadari bahwa perlakuan mereka terhadap anak-anak mereka seperti menghukum, memanggil dengan kata-kata kasar, sudah merupakan bentuk kekerasan dan pelecehan terhadap anak. Di Indonesia sendiri ada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang dibentuk untuk dapat melindungi anak dan hak-haknya, namun pada kenyataan nya masih banyak anak-anak yang mengalami kekerasan dan pelecehan.

Child Abuse

Page 17

DAFTAR PUSTAKA

1. Child abuse diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse di akses pada tanggal 17 Oktober 2010 2. Child abuse, definition, prevention diunduh dari http://www.emedicinehealth.com/child_abuse/article_em.htm diakses pada tanggal 17 Oktober 2010. 3. Why my father hit me?? diunduh dari http://www.suite101.com/content/child-abusedefined-a290641 di akses pada tanggal 18 Oktober 2010. 4. What is child abuse? di unduh dari http://pediatrics.about.com/od/childabuse/a/05_abuse_stats.htm diakses pada tanggal 18 Oktober 2010. 5. Penatalaksanaan dan pemeriksaan korban child abuse di unduh dari http://www.kidscape.org.uk/professionals/childabuse.shtml di akses pada tanggal 19 Oktober 2010 6. Hak-hak setiap anak di unduh dari http://Komisi Perlindungan Anak Indonesia.co.id diakses pada tanggal 19 Okteober 2010. 7. Kekerasan pada anak diunduh dari http://www.perfspot.com/blogs/blog.asp?BlogId=121153 ditulis oleh Lidya M.Kes diakses pada tanggal 20 Oktober 2010. 8. The pediatrics clinics of north America. Child Abuse. Robert M. Reece,MD,volume 37 number 4, august 1990. 9. Mengenal Konvensi Anak diunduh dari http://hukum.kompasiana.com/2010/10/02/mengenal-konvensi-hak-anak/ diakses pada tanggal 20 Oktober 2010.

Child Abuse

Page 18