Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH PENGENDALIAN INTERN PENJUALAN KREDIT TERHADAP PIUTANG TAK TERTAGIH PADA PT EBARA INDONESIA Disusun Oleh Nurul

Wardah Vicky Amelia : 1111082000053 : 1111082000114 089609314228 08567030712

Dosen Pembimbing: Tony S. Chendrawan ST, SE, Msi

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

ABSTRAK

Company to run its activities to achieve the objectives outlined have to control. Control practices should provide benefits, in this case to improve the effectiveness and efficiency of operations. Controls is also intended that everything was going according to it should be. Control is defined internal control of credit sales because sales is a source of income for the company. One method used to increase sales is by using a credit sale. This study aims to determine the implementation of the Internal Control Credit Sales at PT. Ebara Indonesia. Is Credit Sales Internal Control is able to overcome bad debts. The research method used is descriptive analysis method. The study was conducted at PT. Ebara Indonesia is located at Jalan Raya Jakarta, Bogor Km. 32, Village Curug Cimanggis Depok. The test result show that the elements of internal control has been quite effective so as to control the bad debts that exist in the company. Keywords: Internal controls Credit Sales, uncollectible receivables.

I.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia usaha yang semakin besar dan menuju era globalisasi, mengakibatkan persaingan usaha semakin tajam dan ketat di antara perusahaan yang sejenis, baik perusahaan jasa maupun perusahaan dagang, demikian pula halnya dengan perusahaan industri. Piutang merupakan suatu pos penting, yang seringkali menunjukkan suatu bagian besar harta likuid perusahaan. Oleh karena itu, penting artinya untuk menetapkan kebijaksanaan kredit yang efektif, selektif dan prosedur prosedur penagihan untuk menjamin penagihan piutang yang tepat pada waktunya dan mengurangi kerugian akibat piutang tak tertagih. Pengendalian intern yang sehat dan akuntansi yang layak atas penjualan kredit dapat berpengaruh penting pada kemampuan operasi untuk mencapai laba maksimal. Dalam arti luas, istilah piutang dapat dipergunakan bagi semua hak terhadap pihak lain. Karena piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual kepada si pembeli akibat dari adanya trasaksi penjualan kredit. Piutang merupakan salah satu komponen dari kelompok aktiva lancar. Piutang dagang memiliki tingkat kecairan nomor dua setelah kas / bank. Piutang usaha yang muncul, apabila tidak dapat dibayarkan atau terjadi kemungkinan klien bangkrut atau menghilang, maka akan mengakibatkan munculnya piutang tak tertagih. Hal ini disebabkan karena dalam transaksi kredit ini ada tenggang waktu sebelum pelunasan hutang dari pihak debitur dan kondisi ini komponen piutang tak tertagih kemungkinan besar masih bisa terjadi. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan pengawasan yang ketat oleh manajemen perusahaan terhadap pengendalian piutang untuk menghindari kerugian yang cukup tinggi. Tidak ada satu pun dari perusahaan yang mengharapkan bahwa dari sekian banyaknya debitur terdapat sebagian yang tidak bisa membayar kewajibannya walaupun dalam proses pemberian kredit telah diteliti sebaik-baiknya. Namun, pada kenyataannya resiko tak tertagih atas sejumlah piutang pasti akan ditemui.. Penjualan kredit pada umumnya dapat menimbulkan resiko antara lain piutang yang terjadi tidak dapat segera ditagih, bahkan harus menunggu jangka waktu pembayarannya, disamping itu sering terjadi pula pada sebagian pelanggan kurang tertib, berusaha untuk menunda pembayaran, dilain pihak perusahaan tidak dapat menekan pelanggan untuk melakukan pembayaran. Untuk menjamin semua kegiatan khususnya kegiatan yang menyangkut penjualan termasuk penjualan tunai maupun kredit yang sangat riskan akan bentuk bentuk penyelewengan maka diperlukan adanya pengendalian intern khususnya pengendalian intern penjualan kredit. Mengingat penjualan kredit menimbulkan piutang pada pihak debitur yang secara langsung mempengaruhi posisi keuangan perusahaan.

Datayang didapat yaitu analisa umur piutang selama 5 tahun dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 dari 6 supplier terbesar yang telah menjadi distributor dari PT. Ebara Indonesia. Dan data rekapitulasi presentasi piutang tak tertagih berikut dengan realisasi jumlah piutang tak tertagih selama 5 tahun. Dan data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.2 Penjualan Kredit PT. EBARA INDONESIA Tahun 2007 2011 2007 122.930.012.047 2008 136.135.118.546 2009 129.470.589. 237

2010 145.136.530.535

2011 168.358.375.420

Tabel 4.3
PT EBARA INDONES IA ANALIS A UMUR PIUTANG PER 31 DES EMBER 2007 Nilai Jatuh Temp o Customer Jatuh Temp o 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 30 hari 30 Hari Saldo Piutang Piutang Belum Jatuh Temp o 1,344,988,242 524,545,414 1,600,536,008 605,244,709 443,846,120 470,745,885 1,546,736,478 6,536,642,857 1 - 30 Hari 1,613,985,891 1,923,333,186 1,371,888,007 1,331,538,360 1,627,435,773 1,129,790,123 3,712,167,548 12,710,138,888 1.00% 377,538,200 127,101,389 31 - 60 Hari 2,151,981,187 961,666,593 1,143,240,006 484,195,767 813,717,886 282,447,531 773,368,239 6,610,617,210 3.00% 198,318,516 61 - 90 Hari 268,997,648 87,424,236 457,296,002 73,974,353 154,673,648 1,042,365,888 5.00% 52,118,294

Kurnia M ulia Hasta Jay a Indobara Bahana Anugerah M edan Barat Jay a Sahabat Waskita Customer Lainny a Total % Piutang tak tertagih Total Peny isihan Piutang tak tertagih

5,379,952,968 3,496,969,429 4,572,960,023 2,420,978,836 2,958,974,133 1,882,983,539 6,186,945,914 26,899,764,842

Sumber Data : PT. Ebara Indonesia, data diolah oleh p eneliti

Tabel 4.4
PT EBARA INDONES IA ANALIS A UMUR PIUTANG PER 31 DES EMBER 2008 Nilai Jatuh Temp o Customer Jatuh Temp o 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 30 hari 30 hari Saldo Piutang Piutang Belum Jatuh Temp o 827.081.181 601.513.586 992.497.417 1.473.708.286 1.082.724.455 1.347.390.433 2.105.297.552 8.430.212.910 1 - 30 Hari 992.497.417 962.421.738 1.984.994.834 1.642.132.090 1.218.065.012 2.502.296.518 2.706.811.138 12.009.218.748 0,80% 396.678.661 96.073.750 31 - 60 Hari 1.323.329.890 721.816.303 2.646.659.779 1.094.754.727 406.021.671 962.421.738 902.270.379 8.057.274.487 2,80% 225.603.686 61 - 90 Hari 165.416.236 120.302.717 992.497.417 300.756.793 1.578.973.164 4,75% 75.001.225

Kurnia M ulia Hasta Jay a Indobara Bahana Anugerah M edan Barat Jay a Sahabat Waskita Customer Lainnya Total % Piutang tak tertagih Total Peny isihan Piutang tak tertagih

3.308.324.724 2.406.054.345 6.616.649.448 4.210.595.103 2.706.811.138 4.812.108.689 6.015.135.862 30.075.679.308

Sumber Data : PT. Ebara Indonesia, data diolah oleh p enulis

Tabel 4.5
PT EBARA INDONES IA ANALIS A UMUR PIUTANG PER 31 DES EMBER 2009 Nilai Jatuh Tempo Customer Jatuh Tempo 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 30 hari 30 hari Saldo Piutang Piutang Belum Jatuh Tempo 791.065.321 590.662.107 1.344.811.046 849.076.778 701.411.252 775.244.015 1.687.606.019 6.739.876.539 1 - 30 Hari 870.171.854 506.281.806 1.479.292.151 727.780.096 801.612.859 1.218.240.595 1.054.753.762 6.658.133.122 0,70% 266.129.668 46.606.932 31 - 60 Hari 1.186.597.982 556.909.986 2.017.216.570 800.558.105 501.008.037 221.498.290 1.392.274.966 6.676.063.936 2,60% 173.577.662 61 - 90 Hari 316.426.129 33.752.120 537.924.419 48.518.673 84.380.301 1.021.001.642 4,50% 45.945.074

Kurnia M ulia Hasta Jaya Indobara Bahana Anugerah M edan Barat Jaya Sahabat Waskita Customer Lainnya Total % Piutang tak tertagih Total Penyisihan Piutang tak tertagih

3.164.261.286 1.687.606.019 5.379.244.186 2.425.933.652 2.004.032.148 2.214.982.900 4.219.015.048 21.095.075.238

Sumber Data : Pt. Ebara Indonesia, data diolah oleh penulis

Tabel 4.6
PT EBARA INDONES IA ANALIS A UMUR PIUTANG PER 31 DES EMBER 2010 Nilai Jatuh Temp o Customer Jatuh Temp o 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 60 hari 30 Hr Saldo Piutang Piutang Belum Jatuh Temp o 1.525.844.652 1.151.165.021 1.881.875.071 1.400.386.314 1.246.106.466 1.044.355.895 2.576.982.079 10.826.715.500 1 - 30 Hari 1.678.429.118 986.712.875 2.070.062.578 2.400.662.253 1.424.121.675 1.193.549.595 1.610.613.800 11.364.151.894 0,60% 388.364.762 68.184.911 31 - 60 Hari 2.288.766.978 1.085.384.163 2.822.812.607 200.055.188 890.076.047 745.968.497 2.126.010.216 10.159.073.695 2,50% 253.976.842 61 - 90 Hari 610.337.861 65.780.858 752.750.028 128.849.104 1.557.717.852 4,25% 66.203.009

Kurnia M ulia Hasta Jay a Indobara Bahana Anugerah M edan Barat Jay a Sahabat Waskita Customer Lainny a Total % Piutang tak tertagih Total Peny isihan Piutang tak tertagih

6.103.378.609 3.289.042.917 7.527.500.285 4.001.103.755 3.560.304.189 2.983.873.987 6.442.455.199 33.907.658.940

Sumber Data : PT. Ebara Indonesia, data diolah oleh p enulis

Tabel 4.7
PT EBARA INDONES IA ANALIS A UMUR PIUTANG PER 31 DES EMBER 2011 Nilai Jatuh Temp o Customer Jatuh Temp o 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 60 hari 30 hari Total Piutang Piutang Belum Jatuh Temp o 1.290.288.423 948.361.991 1.548.346.107 1.192.226.502 749.657.573 632.241.327 1.754.792.255 8.115.914.178 1 - 30 Hari 1.419.317.265 1.219.322.559 1.703.180.718 2.043.816.861 1.285.127.269 722.561.517 1.096.745.159 9.490.071.347 0,50% 259.038.304 47.450.357 31 - 60 Hari 1.935.432.634 487.729.024 2.322.519.161 170.318.072 107.093.939 451.600.948 1.447.703.610 6.922.397.387 2,30% 159.215.140 61 - 90 Hari 516.115.369 54.192.114 619.338.443 87.739.613 1.277.385.538 4,10% 52.372.807

Kurnia M ulia Hasta Jay a Indobara Bahana Anugerah M edan Barat Jay a Sahabat Waskita Customer Lainny a Total % Piutang tak tertagih Total Peny isihan Piutang tak tertagih

5.161.153.690 2.709.605.687 6.193.384.428 3.406.361.435 2.141.878.781 1.806.403.792 4.386.980.637 25.805.768.450

Sumber Data : Pt. Ebara Indonesia, data diolah oleh p enulis

Tabel 4.8 Daftar Persentase Piutang Tak Tertagih

Keterangan Penjualan Kredit Jumlah piutang Presentasi piutang tak tertagih yg diharapkan Penyisihan piutang tak tertagih Piutang tak tertagih yg sebenarnya presentase sebenarnya

2007 122.930.012.047 26.899.764.842

2008 136.135.118.546 30.075.679.308

2009 129.470.589.237 21.095.075.238

2010 145.136.530.535 33.907.658.940

2011 168.358.375.420 25.805.768.450

1,40% 377.538.200 516.475.485 1,92%

1,32% 396.678.661 553.392.499 1,84%

1,26% 266.129.668 364.944.802 1,73%

1,15% 388.364.762 545.913.309 1,61%

1,00% 259.038.304 405.150.565 1,57%

II.

KAJIAN PUSTAKA

menjalankan tugas-tugas yang bertentangan oleh mereka yang mempunyai hubungan kekeluargaan, keharusan mengambil cuti dan seterusnya. 2.2 Piutang 2.2.1 Pengertian Piutang Dagang Hak atau klaim perusahaan untuk menerima kas disebut piutang (receivable), adapun beberapa pengertian piutang yang lain yaitu sebagai berikut :Piutang adalah merupakan kebiasaan bagi perusahaan untuk memberikan kelonggaran kepada para pelanggan pada waktu melakukan penjualan, kelonggaran yang diberikan biasanya dalam bentuk memperbolehkan para pelanggan tersebut membayar kemudian atas penjualan barang yang dilakukan (Soemarso, 2004:338). 2.2.2 Klasifikasi Piutang Dagang Klasifikasi piutang terbagi kedalam 2 bagian, yaitu tujuan laporan keuangan dan dalam neraca (Kieso, dkk. 2007: 318). a. Untuk Tujuan Laporan Keuangan : 1. Piutang Lancar / Jangka Pendek (Current Receivables) 2. Piutang Tidak Lancar / Jangka Panjang (Non Current Receivables) b. Diklasifikasikan dalam neraca 1. Piutang Dagang (Trade Receivables) Piutang dagang disubklasifikasikan menjadi piutang usaha dan wesel tagih. a. Piutang Usaha (Account Receivables) b. Wesel Tagih (Note Receivables) 2. Piutang Non Dagang (Non Trade Receivables) Piutang non dagang berasal dari berbagai transaksi dan dapat berupa janji tertulis untuk membayar atau mengirimkan sesuatu. karena sifatnya yang unik, piutang non dagang umumnya diklasifikasikan dan dilaporkan sebagai pos terpisah dalam neraca.. 2.2.3 Pengakuan Piutang Dagang Pengakuan piutang dagang terjadi jika perusahaan menjual produk secara kredit atau member jasa namun belum terjadi pembayaran kepada perusahaan. Istilah pengakuan mengandung arti Proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur serta criteria pengakuan dalam Neraca atau Laporan Laba Rugi (Ikatan Akuntan Indonesia. 2004:19). Pengakuan piutang usaha saling berhubungan dengan pengakuan pendapatan. Ayat jurnal untuk mengakui Piutang dari Penjualan Barang adalah : (D) Piutang Dagang XXX (K) Penjualan XXX Transaksi retur penjualan. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah: (D) Retur penjualan dan pengurangan harga XXX

2.1 Pengendalian Internal A. Pengertian Pengendalian Internal Pengertian pengendalian Intern mempunyai beberapa pengertian berlainan, tergantung dari orang yang mempergunakannya. Istilah Intern sering disebut juga sebagai internal control atau pengendalian intern. Semakin besar perusahaan semakin diperlukan pengawasan intern yang baik. Pengawasan ini bertujuan untuk mencegah atau menghindari dari kecurangan dan pemborosan serta penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab, sehingga dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan perusahaan. Sebelumnya istilah yang dipakai untuk pengendalian intern adalah sistem pengendalian, sistem pengawasan intern dan struktur pengendalian intern. Mulai tahun 2001 istilah resmi yang digunakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah pengendalian intern (Sukrisno Agoes, 2004:79). Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian tersebut terdapat kata penting yaitu kebijakan, prosedur dan tujuan organisasi, kebijakan adalah pedoman yang dibuat oleh manajemen untuk mencapai tujuan organisasi. B. Tujuan Pengendalian Internal Menurut James A. Hall (2007, 181) tujuan dari pengendalian internal yang diterapkan oleh perusahaan adalah : a. Menjaga aktiva perusahaan. b. Memastikan akurasi dan keandalan catatan serta informasi akuntansi. c. Mendorong efiensi dalam operasional perusahaan. d. Mengukur kesesuaian dengan kebijakan serta prosedur yang diterapkan oleh pihak-pihak manajemen. C. Prinsip-prinsip pengendalian intern Unsur-unsur pokok pengendalian intern yang baik biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. b. System wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, hutang, pendapatan dan biaya c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap organisasi. d. Karyawan yang dituntut sesuai dengan tanggung jawab. D. Keterbatasan Sistem Pengendalian Internal Keterbatasan sistem Pengendalian intern, perlu di ingat bahwa sistem pengendalian intern yang baik bukan struktur pengendalian intern yang seketat mungkin secara maksimal, Kelemahan atau keterbatasan yang melekat pada sistem pengendalian intern. Pengendalian intern mengusahakan agar persekongkolan dapat dihindari sejauh mungkin, misalnya dengan mengharuskan giliran bertugas, larangan dalam

(K)

Piutang Dagang 2.3 Piutang Tak Tertagih (Uncollectible Receivables) 2.3.1 Pengertian Piutang Tak Tertagih Suatu perusahaan biasanya mempunyai beberapa pelanggan yang tidak sanggup membayar atau tidak akan melunasi hutang mereka. Rekening pelanggan seperti itu umumnya disebut sebagai piutang tak tertagih (uncollectible account), atau piutang raguragu (bad debts), dan merupakan suatu kerugian atau beban penjualan secara kredit. Kerugian penjualan kredit ini akan didebit ke beban piutang ragu ragu (bad debt expense) atau beban piutang tak tertagih (uncollectible account expense). Kerugian seperti ini dianggap lazim dan merupakan resiko memutar roda bisnis secara kredit. Kesanggupan sebuah perusahaan untuk menagih penjualan kreditnya tergantung pada : a. Seberapa ketat perusahaan tersebut dalam pemberian kreditnya b. Kebijakan kredit tertentu perusahaan, seperti penggunaan potongan penjualan atau beban bunga atas piutang yang tidak tertagih. c. Kondisi ekonomi secara umum Tidak satupun ketentuan umum yang dapat digunakan untuk menentukan kapan suatu piutang menjadi tidak tertagih. Jika seorang debitur gagal untuk membayar piutang sesuai kontrak penjualan ataupun wesel belum dibayar saat jatuh tempo, tidak berarti bahwa hutang-hutang tersebut tidak akan dapat ditagih. Bangkrutnya debitur adalah salah satu petunjuk yang paling signifikan mengenai tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang. Petunjuk lainnya meliputi penutupan bisnis pelanggan atau gagalnya upaya penagihan setelah dilakukan beberapa kali usaha. Perusahaan berupaya membatasi nilai piutang tak tertagih dengan menerapkan beragam perangkat pengendalian. Pengendalian yang paling penting di sini berhubungan dengan fungsi pengesahan kredit. Pengendalian ini biasanya melibatkan penyelidikan dan kredibilitas pelanggan dengan menggunakan referiensi dan pemeriksaan atas latar belakang pelanggan. 2.3.2 Metode Akuntansi untuk Piutang Tak Tertagih a.Metode Penyisihan (Allowance Method) Metode penyisihan (Allowance Method) merupakan suatu estimasi yang dibuat menyangkut perkiraan piutang tak tertagih dari semua penjualan kredit atau dari total piutang yang beredar. Estimasi ini dicatat sebagai beban dan pengurangan tidak langsung terhadap piutang usaha (melalui kenaikan akun penyisihan) dalam periode dimana penjualan itu dicatat. Dalam metode ini jumlah piutang yang diestimasikan tidak akan tertagih dicatat dengan mendebit akun Beban piutang tak tertagih dan mengkreditkan penyisihan piutang tak tertagih. Beban tersebut akan dilaporkan sebagai beban penjualan atau beban umum dan adminsistrasi,

XXX Pada saat Piutang tersebut tertagih maka jurnalnya adalah : (D) Kas XXX (K) Piutang Dagang XXX 2.2.4 Penilaian Piutang Secara teoritis, semua piutang dinilai dalam jumlah yang mewakili nilai sekarang dari perkiraan penerimaan kas di masa mendatang. Oleh karena piutang usaha berjangka pendek, biasanya ditagih dalam 30 hingga 90 hari. Bunganya akan relatif lebih kecil adari jumlah piutangnya. Sebagai ganti dari penilaian piutang usaha pada nilai sekarang yang didiskontokan, piutang dilaporkan sebagai nilai realisasi bersih yaitu nilai kas yang diharapkan. Hal ini berarti bahwa piutang usaha harus dicatat sebagai jumlah bersih dari estimasi piutang tak tertagih dan potongan dagang. Tujuannya adalah untuk melaporkan piutang sejumlah klaim dari pelanggan yang benar-benar diperkirakan dapat diterima secara tunai. 2.2.5 Pengendalian intern atas piutang Beberapa aspek dari pengendalian internal yang baik atas piutang menurut Firdaus A. Dunia (2010; 146) adalah sebagai berikut: a. Memisahkan fungsi pegawai atau bagian yang menangani transaksi penjualan (operasi) dari Fungsi akuntansi untuk piutang. Dengan demikian pegawai yang menangani akuntansi piutang untuk piutang dagang dengan wesel tagih tidak boleh dilibatkan dengan aspek operasi seperti menyetujui kredit b. Pegawai yang menangani akuntansi piutang harus dipisahkan dengan fungsi penerimaan hasil tagihan piutang. c. Semua transaksi pemberian kredit, pemberian potongan dan penghapusan piutang harus mendapat persetujua dari pejabat berwenang. d. Piutang harus dicatat dalam buku-buku tambahan piutang, total dari saldo-saldo buku tambahan ini harus dicocokkan dengan buku besar yang bersangkutan, paling tidak sebulan sekali, disamping itu, pada akhir bulan para pelanggan harus dikirimkan surat penyataan piutang (statement of account) e. Perusahaan harus membuat daftar piutang berdasarkan umumnya (aging schedule). Individu yang bertanggung jawab menangani penjualan harus dipisahkan dari individu yang menangani akuntansi piutang dan persetujuan kredit, dengan begitu, fungsi akuntansi dan persetujuan kredit bertindak sebagai pemeriksa independen atau fungsi penjualan. Karyawan yang menangani akuntansi piutang tidak boleh terlibat dalam penagihan piutang. Pemisahan fungsi ini mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dan penyalah gunaan dana.

perkiraan penyisihan akan ditunjukkan sebagai pengurang atas piutang usaha Kebanyakan perusahaan besar menggunakan metode ini untuk mengestimasikan besarnya piutang tak tertagih. Saldo beban piutang tak tertagih biasanya dilaporkan dalam laporan laba rugi periode berjalan sebagai beban administratif. Klasifikasi ini digunakan karena tugas-tugas pemberian kredit dan penagihan biasanya merupakan tanggung jawab departement dalam bidang adminsitratif. b.Metode Penghapusan Langsung (direct write off method) Dalam metode ini jumlah piutang yang dipastikan akan tidak tertagih langsung dihapus dengan mendebit beban piutang tak tertagih dan mengkredit piutang usaha. Metode ini mengasumsikan bahwa setiap penjualan dakan dihasilkan piutang usaha yang baik, dan kejadian selanjutnya membuktikan bahwa piutang tertentu ternyata tidak tertagih serta menjadi tidak bernilai. 2.3.3 Skema Variabel

Ha =

Terdapat pengaruh antara pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih pada PT Ebara Indonesia. III. METODE PENELITIAN

Variabel-variabel yang terkait dengan ini adalah : Variabel Independent (X) Variabel Independent atau variabel bebas (X), pada penelitian ini adalah Pengaruh pengendalian intern penjualan kredit dengan menggunakan indikator komponen pengendalian intern yaitu : Lingkungan pengendalian, penaksiran resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan. 2. Variabel Dependent (Y) Variabel dependent atau variabel tidak bebas (Y) pada penelitian ini adalah Piutang tak tertagih dengan variabel metode pencatatan piutang dengan variabel ratarata estimasi piutang tak tertagih.
Variabel Pengendalian Intern Penjualan Kredit (Variabel X) Konsep Variabel unsur pengendalian intern penjulan kredit : 1. Lingkungan pengendalian 2. Penentuan resiko 3. Prosedur pengendalian 4. Informasi & komunikasi 5. Pemantauan Piutang Tak Piutang tak tertagih adalah Persentase Piutang Tertagih ketidaksanggupan (Variabel Y) membayar atau melunasi tak tertagih yang hutang oleh pelanggan. sebenarnya Indikator Skala

1.

3.1 Sample dan Prosedur Dalam melaksanakan penelitian ini, terlebih dahulu harus mengidentifikasi dan mempelajari mengenai populasi yang akan diteliti. Apakah populasi tersebut memerlukan sampel atau tidak dan bagaimana cara pengambilan sampel tersebut. 3.1.1 Populasi Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah PT. Ebara Indonesia. Untuk menentukan populasi sasaran terlebih dahulu menentukan kategori penelitian yang diambil. Alasan pemilihan populasi sasaran karena berkaitan dengan elemen-elemen populasi spesifik yang relevan dengan tujuan atau masalah penelitan. Tabel 3.2 menunjukkan klasifikasi komponen pengendalian intern piutang, sebagai berikut : Tabel 3.2 Komponen Pengendalian Intern kredit Daftar Nama Customer Pt. Ebara Indonesia
No 1 2 3 4 5 6 Nama Perusahaan Kurnia Mulia Hasta Jaya Indobara Bahana Anugerah Medan Barat Jaya Sahabat Waskita Jatuh Tempo 60 hari 30 hari 60 hari 30 hari 30 hari 30 hari

3.1.2

Sample Data dari populasi yang dijadikan sampel adalah 5 komponen unsur pengendalian intern piutang sehingga menimbulkan persentase piutang tak tertagih yang diharapkan.

Persentase Piutang tak tertagih yang diharap kan Rasio

Rasio

2.4 Hipotesis Hipotesa yang diajukan dalan penelitian ini merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang diteliti, yang dapat di uji kebenarannya, berdasarkan data empiris, maka penulis merumuskan hipotesa sebagai berikut : H0 = Tidak terdapat pengaruh antara pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih pada PT Ebara Indonesia

3.1.3 Prosedur A. Analisis Regresi Linier Sederhana Analisis regresi sederhana digunakan penulis dengan maksud untuk mengetahui besarnya pengaruh sistem pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih. Persamaan yang menyatakan bentuk hubungan antara variabel independent (X) dan variabel dependent (Y) disebut dengan persamaan regresi. Formulasi analisis regresi sederhana adalah sebagai berikut : Y = a + bX1 Harga a dan b dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

dan

Keterangan : a = harga Y bila X=0 (harga constan) b = koefisien arah regresi

X =Subjek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu Y =Subjek pada variabel dependen yang mempunyai nilai tertentu n = usuran sampel atau jumlah data sampel B. Analisis Korelasi Pearson Analisa koefisien korelasi pearson digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) serta mempunyai tujuan untuk meyakinkan bahwa ada kenyataannya terdapat hubungan antara pengendalian internal penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih. Koefisien korelasi yang dinyatakan dengan r dari Pearson dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut

independen berpengaruh sempurna terhadap variabel dependen, demikian sebaliknya jika r = 0 berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependent. Adapun rumus untuk mencari koefisien determinasi adalah sebagai berikut :

KD = ryx x 100%
Keterangan : KD = Koefisien Determinasi ryx = Koefisien Korelasi 100% = Pengali yang menyatakan persentase

dalam

3.2 Pengujian Hipotesis Kami melakukan analisa terhadap data yang telah diuraikan dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. 3.2.1 Analisis Kuantitatif Penulis menggunakan statistik inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang dilakukan secara random. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat berupa tabel, tabel distribusi frekuaensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan hasil penelitian merupakan penjelasan yang mendalam dan interprestasi terhadap data-data yang telah disajikan. D. Analisis Regresi Linier Sederhana 3.2.2 Uji Hipotesis A. Hipotesis penelitian Hipotesis penelitian merupakan dugaan sementara yang digunakan sebelum dilakukannya penelitian. Dari kerangka pemikiran tersebut, dapat diambil hipotesis yaitu : Pengaruh pengendalian intern piutang terhadap piutang tak tertagih. penulis menetapkan hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah hipotesis asosiatif. Hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan/ jawaban sementara yang menunjukkan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis sebagai jawaban sementara yang harus diuji dan dibuktikan kebenarannya, maka untuk memperoleh jawaban yang benar dari hipotesis penulis yang telah disebut pada kerangka penelitian akan diuji apakah terdapat pengaruh dari pengendalian intern piutang sebagai variabel independent terhadap piutang tak tertagih sebagai variabel dependent. H0 : tidak terdapat peranan yang signifikan antara penerapan variabel pengendalian intern piutang dan variabel piutang tak tertagih pada PT. Ebara Indonesia Ha : Ada peranan yang signifikan antara penerapan variabel pengendalian intern piutang

{ ( }

Dimana : ryx = Koefisien korelasi antara variable X dan Y X1 = Subjek pada variable independent yang mempunyai nilai tertentu Y1 = Subjek pada variable dependent yang mempunyai nilai tertentu N = ukuran sampel atau banyak data di dalam sample Pada hakikatnya koefisien korelasi terletak antara -1 dan +1, atau -1 r+1, dimana bila : ryx =1 : menunjukkan hubungan linier positif sempurna antara X dan Y, dalam arti makin besar harga X, makin besar pula harga Y, dan sebaliknya, makin kecil harga X makin kecil pula harga Y. ryx =1 : hubungan linier negative sempurna antara X dan Y, dalam arti makin besar harga X makin kecil harga Y, atau sebaliknya, makin kecil harga X makin besar harga Y. ryx =0 : menunjukkan tidak adanya hubungan linier antara X dan Y. untuk mengetahui keeratan atau derajat asosiasi hubungan antara variabel X dan variabel Y seperti yang diungkapkan oleh Sugiyono, dapat ditunjukkan dalam table berikut ini :

Interval Koefisien 0.00 - 0,199 0.20 - 0.399 0.40 - 0.599 0.60 - 0.799 0.80 - 1.000

Tingkat Hubungan Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat

C. Koefisien Determinasi Uji ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadapa variabel dependen jika r = 100% bearti variabel

dan variabel piutang tak tertagih pada PT. Ebara Indonesia. B. Hipotesis Statistik Berdasarkan data statistik yang digunakan dan hipotesis penelitian di atas maka penulis menetapkan dua hipotesis. Hipotesis yang ditetapkan yaitu hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternative (Ha). H0 adalah penetapan dugaan tidak ada hubungan antara variabel X terhadap variabel Y, sedangkan Ha adalah penetapan dugaan ada hubungan antara variabel X terhadap variabel Y penetapan dugaan tersebut dinyatakan sebagai berikut yaitu : H0 : p < 0, berarti pengendalian intern piutang tidak berpengaruh terhadap piutang tak tertagih. Ha : p > 0, berarti pengendalian intern piutang berpengaruh terhadap piutang tak tertagih. C. Penetapan Tingkat Signifikasi Untuk mengetahui tingkat signifikasi dari koefisien korelasi, maka penulis menggunakan uji t student dengan rumus sebagai berikut :

Metode penelitian yang akan digunakan untuk mengumpulkan data adalah Metode Deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2009:8) adalah sebagai berikut : Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada sample filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sample tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/ statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. IV. HASIL PENELITIAN


Thitung ryx ryx n = nilai uji t = nilai koefisien korelasi = koefisien determinasi = jumlah sample Agar hasil perhitungan koefisioen korelasi dapat diketahui signifikan/tidak signifikan maka hasil perhitungan dari statistik uji t (thitung) tersebut selanjutnya dibandingkan dengan ttabel. Tingkat signifikannya yaitu 5% (a=0,05) dengan uji satu pihak dan derajat kepercayaan 95%, maka kemungkinan bahwa hasil dari penarikan kesimpulan mempunyai kebenaran 95% dan hal ini menunjukkan adanya hubungan (korelasi) yang meyakinkan (signifikan) antara dua variabel tersebut. Untuk mengetahui ditolak atau tidaknya dinyatakan dengan kriteria sebagai berikut : Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak dapat pengaruh antara pengendalian internal penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih. Jika thitung > ttabel, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya terdapat pengaruh antara pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih. Gambar 3.1

4.1 Pengujian Hipotesis Untuk pengujian hipotesis dari pengaruh pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih yang menjadi variabel bebas atau variabel X adalah persentase piutang tak tertagih yang diharapkan, sementara yang menjadi variabel terikat atau variabel Y adalah persentase piutang tak tertagih yang sesungguhnya, dengan tabel sebagai berikut : Tabel 4.9 Data Penelitian
X 1,40 1,32 1,26 1,15 1,00 6,13 Y 1,92 1,84 1,73 1,61 1,57 8,67 X2 1,96 1,74 1,59 1,32 1,00 7,61 Y2 3,69 3,39 2,99 2,59 2,46 15,12 XY 2,69 2,43 2,18 1,85 1,57 10,72

4.1.1

Uji Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linier sederhana yang digunakan oleh penulis bermaksud mengetahui besarnya pengaruh pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih, untuk formula yang digunakan adalah sebagai berikut : Y = a + bX1 Mencari nilai a menggunakan rumus

Daerah Penolakan Ho Daerah Penerimaan Ho

t table Mencari nilai b dengan menggunakan rumus

3.3 Metode Penelitian

Korelasi Product Moment

{
Maka Persamaan Regresi antara variabel X1 dan variabel Y adalah Y = 0,61 + 0.91X1 Tabel 4.10 Model Summary Regresi Linier Sederhana dengan menggunakan SPSS

( }

Model Summary

Model 1

R .959
a

Adjusted Std. Error R R of the Square Square Estimate .919 .892

Durbi nWats on

2.1.1 Uji Koefisien Determinasi Penentu dari kedua variabel antara persentase piutang tak tertagih yang diharapkan dan persentase piutang tak tertagih yang terealisasi dapat dihitung sebagai berikut: KD = ryx2 x 100% KD = (09585)2 x 100% KD = 0,9187 x 100% KD = 91,87% Hal ini berarti Pengendalian penjualan kredit berpengaruh sebesar 91,87% terhadap Piutang Tak Tertagih. Sedangkan sisanya sebesar 8,13% di pengaruhi oleh faktor lain. Misalnya: perusahaan customer bangkrut dan sebagainya. 2.1.2 Uji Hipotesis Uji hipotesis diawali dari suatu asumsi, disebut hipotesis terhadap nilai parameter populasi. Untuk membuktikan asumsi (hipotesis) tersebut dikumpulkan data (populasi atau sampel). Data diolah untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam pembuatan keputusan mengenai pembenaran asumsi (hipotesis). Ho : r = 0, maksudnya tidak terdapat hubungan keeratan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Ha : r 0, maksudnya terdapat pengaruh hubungan keeratan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Untuk dapat membuktikan apakah variabel independen (X) berpengaruh terhadap dependen (Y), maka penulis akan merumuskan rumus t hitung:

.04881 1.802

a. Predictors: (Constant), % Target Piutang Tak Tertagih b. Dependent Variable: % Realisasi Piutang Tak Tertagih

2.1.1

Uji Korelasi

Koefisien digunakan untuk mengukur korelasi linier antara dua variabel, biasanya didalam statistik disebut koefisien korelasi produk women (person product-moment correlation coefficient). Rumus untuk menentukan koefisien korelasi linier antara dua variabel adalah sebagai berikut:

{ ( }

Besarnya nilai koefisien korelasi antara dua variabel adalah dari -1 sampai dengan 1. Jika koefisien korelasi antara dua variabel mendekati -1 atau mendekati 1, maka korelasi antara dua variabel tersebut semakin kuat. Namun, sebaliknya jika koefisien antara dua variabel mendekati 0, maka korelasi antara dua variabel tersebut semakin lemah. Untuk menghitung Uji korelasi digunakan data dari tabel Regresi Linier Sederhana, datanya adalah sebagai berikut: x = y = xy = 6,13 8,67 10,7 x = y = 7,61 15,12


5.1

V.

PENUTUP

Tabel 4.11 Model Coefficients Regresi Linier Sederhana dengan menggunakan SPSS Coefficientsa Unstandardiz ed Standardized Coefficients Coefficients Model 1(Constant) % Target Piutang Tak Tertagih B Std. Error .615 .913 .193 .157 Beta t Sig. 3.180 .050 .959 5.830 .010

a. Dependent Variable: % Realisasi Piutang Tak Tertagih Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan t tabel untuk tingkat kesalahan 5% uji dua pihak. kesalahan. Df ( n-2 ) kesalahan 5% Df ( n-2 ) 2,5% df 3, maka di peroleh ttabel = 3,182 Gambar 4.1 Daerah penerimaan dan penolakan 5.2

Kesimpulan 1. Piutang tak tertagih yang terjadi pada PT Ebara Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya, meskipun tidak memenuhi target yang telah ditetapkan oleh pihak manajement tetapi pengendalian intern penjualan kredit dapat mengurangi beban piutang tak tertagih, untuk tahun 2007 sebesar 1,92% dari saldo piutang kredit, tahun 2008 dan 2009 mengalami penurunan menjadi 1,84% dan 1,73% demikian pula untuk tahun 2010 dan 2011, masing-masing sebesar 1,61% dan 1,57% dari saldo piutang. 2. Berdasarkan perhitungan korelasi untuk tahun 2007 sampai 2011 menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9585, hal ini dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pengendalian intern penjualan kredit dan piutang tak tertagih adalah sangat kuat. Pengaruh pengendalian intern penjualan kredit dan piutang tak tertagih adalah 91,87% nilai tersebut didapat dari perhitungan statistik menggunakan koefisien determinasi, sementara sisanya 8,13% dipengaruhi faktor lain. Berdasarkan uji hipotesis menggunakan Thitung di dapat hasil Thitung > Ttabel (5.830 > 3.182), maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya pengendalian intern penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang tak tertagih.

kesimpulan : thitung > ttabel, 5,823 > 3,182 maka Ha diterima dan Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh antara pengendalian intern penjualan kredit terhadap piutang tak tertagih

Saran 1. Untuk tahun-tahun kedepan bisa mempertahankan pengendalian intern yang diterapkan saat ini, karena cukup stabil dan mampu mengendalikan piutang tak tertagih. 2. Untuk meningkatkan kemampuan staff bagian penjualan, perlu diadakan pelatihan, bimbingan dan kursus-kursus secara berkala sesuai dengan dunia bisnis. 3. Untuk menguruangi terjadinya piutang tak tertagih sebaiknya dalam melakukan survei kepada calon debitur, pihak manajemen harusn lebih memperhatikan kondisi calon debitur tersebut apakah memenuhi persyaratan atau tidak sehingga layak dilakukan pemberian kredit dengan memperhatikan aspek lima C. diharapkan dengan debitur yang berkualitas, maka jumlah piutang tak tertagih akan semakin kecil

Daftar Pustaka

Agoes, Sukrisno, 2004, Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik, Depok; Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dunia, Firdaus A. 2008, Ikhtisar Lengkap Pengantar Akuntansi, Edisi ketiga; Depok; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Hall, James A. 2007, Sistem Informasi Akuntansi, Edisi keempat, Jakarta; Salemba Empat Juhandi, Nendi, 2007, Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, Jakarta; Pelangi Nusantara Keiso, donald E, dkk. 2007, Akuntansi intermediate edisi kedua belas; Jakarta, Erlangga Mulyadi, 2008, Sistem Akuntansi, Edisi ketiga, Jakarta; Salemba Empat Riyanto, Bambang, Dr. Prof. 2008, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat, Yogyakarta, BFPE S.R. Soemarso, 2004, Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi kelima, Buku Satu; Jakarta; Salemba Empat Sugiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung; Alfabeta Warren, Reeve, and Fees, 2006, Accounting, Edisi kedua Puluh Satu, Buku Satu, Jakarta; Salemba Empat Wild, John J, K.R. Subramanyam, and Robert F. Halsey. 2005. Financial Statement Analysis. Buku Satu Edisi8, Jakarta : Salemba Empat