Anda di halaman 1dari 13

KAPITA SELEKTA II

UNIVERSITAS PANCASILA FAKLUTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER

MAKALAH

KERJASAMA ANTAR PROFESI DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT BAGIAN ATAS DI RUMAH SAKIT

OLEH : FEBRINA OKTAVIANA RANTE FIKRY FAISAL ABDALLA FINA RASKITARANI FIRGA FRANATA HASIAN NAHUM TETA (2011000201) (2011000202) (2011000203) (2011000204) (2011000205)

JAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kerja sama antar profesi di rumah sakit sangatlah penting, Dalam mencapai peningkatan mutu pelayanan kesehatan, rumah sakit harus mampu memberikan pelayanan yang bermutu, kepada masyarakat, khususnya terhadap jaminan keselamatan pasien (patient safety). pengelolaan kesehatan yang terpadu perlu dikembangkan, termasuk penggunaan obat antibiotik yang direncanakan dengan baik, secara rasional dan bijaksana serta pencegahan dan pengendalian infeksi secara optimal. Badan Kesehatan Dunia (WHO), telah merumuskan 67 rekomendasi sebagai upaya koordinasi global guna mengendalikan peningkatan resistensi antimikroba, yang terhimpun dalam buku WHO Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistence. Selain itu upaya penanggulangan masalah resistensi antimikroba harus diselenggarakan melalui berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan tidak hanya melalui tindakan pengobatan (kuratif) tetapi juga pencegahan (preventif). Resistensi antibiotika ini sudah menjadi masalah dunia. Tentu saja hal ini dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien. Oleh karena itu, apoteker sebagai bagian dari health care system turut berperan dalam upaya pengendalian resistensi antibiotik serta perlu meningkatkan kerjasama antar profesi lainnya dalam pengendalian antibiotik yang rasional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada di lima wilayah antara lain Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, terungkap pemberian antibiotik dilakukan tenaga kesehatan sekitar 92-94 persen untuk Ispa (infeksi saluran pernafasan akut). Infeksi saluran pernapasan akut terbagi atas dua yaitu infeksi saluran pernafasan akut bagian atas dan infeksi saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi saluran nafas bagian atas sering kali terjadi, tapi biasanya tidak serius (Biddulph dan Stace, 1999). Infeksi saluran nafas bagian atas adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Infeksi saluran pernafasan akut bagian atas atau non pneumonia sebagian besar disebabkan oleh virus dan tidak berespon pada terapi antibiotik, akibatnya penderita mendapatkan pengobatan yang tidak rasional dan tidak diperlukan yang pada akhirnya akan menambah biaya pengobatan (Shulman dkk., 1994).

Berdasarkan uraian di atas, penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi saluran pernafasan atas perlu mendapat perhatian khusus. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antar profesi untuk menangani pengguanan antibiotik yang rasional. Dimana yang akan dibahas dalam makalah ini adalah kerjasama antar profesi dalam penggunaan antibitoik dirumah sakit, khususnya penggunaan antibiotik pada infeksi saluran nafas atas. Salah satu bentuk kerjasama antar profesi khususnya Dokter dan Apoteker dalam penggunaan antibiotik yang rasional adalah dengan membentuk organisasi yang dikenal dengan PFT ( Panitia Farmasi dan Terapi). 1.2 Tujuan 1. Mengetahui kerjasama antar profesi (dokter dan apoteker) dalam penggunaan antibiotik infeksi saluran nafas atas di rumah sakit. 2. Meningkatkan pemahaman profesi kesehatan terhadap infeksi saluran

pernafasan atas dan penggunaan obat yang rasional terutama antibiotik dalam terapi pengobatannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANTIBIOTIK 1. Definisi Antibiotik adalah suatu jenis obat yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh mikroorganisme lain (Anief, 1996). Antibiotik merupakan zat kimiawi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang mempunyai kemampuan dalam larutan-larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dan dipakai untuk

memberantas berbagai penyakit infeksi. (Sastramihardja dan Herry, 1997). Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotic yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroorganisme, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroorganisme, dikenal sebagai aktivitas bakterisid ( Setiabudy, 1995). Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati

penyakitpenyakit infeksi. Ketidaktepatan diagnosis, pemilihan antibiotik, indikasi hingga dosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak kuatnya pengaruh antibiotik terhadap infeksi (Wattimena, 1991). 2. Penggolongan Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dibagi dalam lima kelompok yaitu : a. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel mikroba Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamide,

trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulfon. Dengan mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik. b. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel mikroba Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah penisilin, sefalosporin basitrasin, vankomisin dan sikloserin. Dengan mekanisme kerja ini, tekanan osmotik dalam sel kuman lebih tinggi daripada di luar sel maka kerusakan dinding sel kuman akan menyebabkan terjadinya lisis, yang merupakan dasar efek bakterisidal pada kuman yang peka.

c. Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran isi sel mikroba Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimiksin, golongan polien serta berbagai antibiotik kemoterapeutik, misalnya antiseptik

surfaceanctive agents. Kerusakan membrane sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain. d. Antibiotik yang menghambat sintesis protein sel mikroba Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. e. Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba Antibiotik yang termasuk dalam kelompok ini adalah rifampisin dan golongan kuinolon. (Setiabudy, 1995). 3. Faktor faktor yang harus dipertimbangkan pada penggunaan antibiotik a. Resistensi mikroorganisme terhadap antibiotik Resistensi adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotik. Hal ini dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu (Drlica&Perlin,2011); 1) Merusak antibiotik dengan enzim yang diproduksi. 2) Mengubah reseptor titik tangkap antibiotik. 3) Mengubah fisiko-kimiawi target sasaran antibiotik pada sel bakteri. 4) Antibiotik tidak dapat menembus dinding sel, akibat perubahan sifat dinding sel bakteri. 5) Antibiotik masuk kedalam sel bakteri, namun segera dikeluarkan dari dalam sel melalui mekanisme transport aktif keluar sel. b. Satuan resistensi dinyatakan dalam satuan KHM (Kadar Hambat Minimal) atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC) yaitu kadar terendah antibiotic (g/mL) yang mampu menghambat tumbuh dan berkembangnya bakteri. Peningkatan nilai KHM menggambarkan tahap awal menuju resisten. c. Enzim perusak antibiotic khusus terhadap golongan beta-laktam, pertama dikenal pada Tahun 1945 dengan nama penisilinase yang ditemukan pada Staphylococcus aureus dari pasien yang mendapat pengobatan penisilin. Masalah serupa juga ditemukan pada pasien terinfeksi Escherichia coli yang mendapat terapi ampisilin (AcarandGoldstein,1998). Resistens iterhadap golongan betalaktam antara lain terjadi karena perubahan atau mutasi

gen penyandi protein (Penicillin Binding Protein, PBP). Ikatan obat golongan beta-laktam pada PBP akan menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga sel mengalamilisis. d. Peningkatan kejadian resistensi bakteri terhadap antibiotic bias terjadi dengan 2 cara, yaitu: 1) Mekanisme Selection Pressure. Jika bakteri resisten tersebut berbiak secara duplikasi setiap 20 30 menit (untuk bakteri yang berbiak cepat), maka dalam 1 2 hari, seseorang tersebut dipenuhi oleh bakteri resisten. Jika seseorang terinfeksi oleh bakteri yang resisten maka upaya penanganan infeksi dengan antibiotic semakin sulit. 2) Penyebaran resistensi ke bakteri yang non-resisten melalui plasmid. Hal ini dapat disebarkan antar kuman sekelompok maupun dari satu orang ke orang lain. e. Ada dua strategi pencegahan peningkatan bakteri resisten: 1) Untuk selection pressure dapat diatasi melalui penggunaan antibiotic secara bijak (prudent use of antibiotics). 2) Untuk penyebaran bakteri resisten melalui plasmid dapat diatasi dengan meningkatkan ketaatan terhadap prinsip-prinsip kewaspadaan standar (universal precaution).

B. INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah infeksi akut yang dapat terjadi di sepanjang saluran pernafasan dan organnya (telinga bagian tengah, cavum pleura dan sinus paranasalis). Secara anatomik, ISPA dikelompokkan menjadi ISPA bagian atas misalnya batuk pilek, faringitis, tonsilitis dan ISPA bagian bawah seperti bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia. Infeksi Saluran Pernafasan Akut bagian atas jarang menimbulkan kematian walaupun insidennya lebih besar dari ISPA bagian bawah (Said, 2004). a. Definisi infeksi saluran pernapasan atas b. Jenis infeksi saluran pernapasan atas c. Tanda tanda klinis ISPA

Tanda dan gejala ISPA dapat dibagi menjadi : 1) Tanda dan gejala ringan : batuk, pilek, serak dengan panas / demam, keluarnya cairan dari telinga (congek) yang lebih dari 2 minggu tanpa rasa sakit pada telinga. 2) Tanda dan gejala sedang : tanda dan gejala ISPA ringan ditambah dengan satu atau lebih tanda gejala : pernafasan cepat lebih dari 20 kali per menit, wheezing (nafas menciut-ciut), panas 39C atau lebih, sakit telinga, keluarnya cairan dari telinga (congekan), yang belum lebih dari dua minggu, campak. 3) Tanda dan gejala berat : tanda dan gejala ISPA ringan dan sedang ditambah satu atau lebih tanda dan gejala : penarikan dada ke dalam (chest indrawing) pada saat menarik nafas, stridar pernafasan ngorok

(mendengkur), tak mau atau tak mampu makan, kulit kebiru-biruan, nafas cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak kembang kempis waktu bernafas), kejang, dehidrasi, kesadaran menurun, terdapat membran (selaput) difteri. (Rasmaliah, 2004) d. Terapi ISPA Untuk mengatasi ISPA seperti sinusitis, pneumoniae dan faringitis berdasarkan textbook Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach tahun 2005 dapat dilihat pada tabel 1, 2, dan 3.

C. PENGOBATAN YANG RASIONAL Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dan dipakai untuk memberantas berbagai penyakit infeksi. Pemakaian antibiotik ini harus di bawah pengawasan dokter, karena obat ini dapat menimbulkan efek yang tidak dikehendaki dan dapat mendatangkan kerugian yang cukup besar bila pemakaiannya tidak dikontrol dengan baik (Widjajanti, 2002). Penentuan kuman penyebab tergantung pada kombinasi gejala-gejala klinis dan hasil laboratorium. Seringkali antibiotik dipilih berdasarkan diagnosis klinis saja (terapi empiris) (Juwono dan Prayitno, 2003). a. Penggunaan antibiotik secara rasional Penggunaan obat yang rasional merupakan pemilihan dan penggunaan obat yang efektivitasnya terjamin serta aman, dengan mempertimbangkan masalah harga, yaitu yang paling menguntungkan dan sedapat mungkin terjangkau untuk menjamin efektivitas dan keamanan, pemberian obat harus dilakukan secara

rasional, yang berarti perlu dilakukan diagnosis yang akurat, memilih obat yang tepat, serta meresepkan obat tersebut dengan dosis, cara, interval serta lama pemakaian yang tepat (Sastramihardja dan Herry, 1997). Asas penggunaan antibiotik yang rasional ialah seleksi antibiotik yang selektif terhadap

mikrooorganisme penyebab infeksi dan efektif untuk memusnahkannya dan sejalan dengan hal itu memiliki potensi terkecil untuk menimbulkan toksisitas, reaksi alergi ataupun risiko lain bagi pasien (Wattimena dkk, 1991). Dasar penggunaan antibiotik secara rasional tersebut diharapkan terjadi dampak positif, terhadap perilaku dokter untuk menggunakan antibiotik secara rasional, efektivitas klinik yang tinggi da lam perawatan penderita, tidak terjadinya kekebalan kuman terhadap antibiotik dan biaya pelayanan kesehatan penderita yang murah (Anonim,1992). b. Kegagalan terapi dengan antibiotik Prinsip terapi antibiotik dinilai gagal bila tidak berhasil menghilangkan gejala klinik atau infeksi kambuh lagi setelah terapi dihentikan. Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan masalah tersendiri yang dapat menggagalkan terapi dengan antibiotik. Resistensi dapat merupakan masalah individual dan

epidemiologik. Resistensi adalah ketahanan mikroba terhadap antibiotik tertentu yang dapat berupa resistensi alamiah, resistensi karena adanya mutasi spontan (resistensi kromosomal) dan resistensi karena adanya faktor R pada sitoplasama (resistensi ekstrakromosomal) ata u resistensi karena pemindahan gen yang resistensi atau faktor R atau plasmis (resistensi silang) (Wattimena dkk, 1991).

D. RUMAH SAKIT Susunan kepanitian Panitia Farmasi dan Terapiserta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit setempat : a. Panitia Farmasi dan Terapi harus sekurangkurangnya terdiri dari 3 (tiga) Dokter, Apoteker dan Perawat. Untuk Rumah Sakit yang besar tenaga dokter bisa lebih dari 3 (tiga) orang yang mewakili semua staf medis fungsional yang ada. b. Ketua Panitia Farmasi dan Terapi dipilih dari

dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai ketua adalah Farmakologi. Sekretarisnya adalah Apoteker dari instalasi farmasi atau apoteker yang ditunjuk. c. Panitia Farmasi dan Terapi harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat Panitia Farmasi dan Terapi dapat mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat memberikan masukan bagi pengelolaan Panitia Farmasi dan Terapi. d. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT (Panitia Farmasi dan Terapi) diatur oleh sekretaris, termasuk persiapan dari hasilhasil rapat. e. Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang sasarannya berhubungan dengan penggunaan obat.

Formularium rumah sakit Formularium adalah himpunan obat yang diterima/disetujui oleh Panitia Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas waktu yang ditentukan. Komposisi formularium : 1) Halaman judul Daftar nama anggota Panitia Farmasi dan Terapi Daftar Isi Informasi mengenai kebijakan dan prosedur di 2) bidang obat Produk obat yang diterima untuk digunaka n Lampiran Sistem yang dipakai adalah suatu sistem dimana prosesnya tetap berjalan terus, dalam arti kata bahwa sementara Formularium itu digunakan oleh staf medis, di lain pihak Panitia Farmasi dan Terapi mengadakan evaluasi dan menentukan pilihan terhadap produk obat yang ada di pasaran, dengan lebih mempertimbangkan kesejahteraan pasien. Pedoman penggunaan yang digunakan akan memberikan petunjuk kepada dokter, apoteker perawat serta petugas administrasi di rumah sakit dalam menerapkan sistem formularium. Meliputi : a. Membuat kesepakatan antara staf medis dari berbagai disiplin ilmu dengan Panitia Farmasi dan Terapi dalam menentukan kerangka mengenai tujuan,

organisasi, fungsi dan ruang lingkup. Staf medis harus mendukung Sistem Formularium yang diusulkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi. b. Staf medis harus dapat menyesuaikan sistem yang berlaku dengan kebutuhan tiap-tiap institusi. c. Staf medis harus menerima kebijakan-kebijakan dan prosedur yang ditulis oleh Panitia Farmasi dan Terapi untuk menguasai sistem Formularium yang dikembangkan oleh Panitia Farmasi dan terapi.

E. PERAN ANTAR PROFESI 1. Peran Apoteker Peran apoteker dalam panitia ini sangat strategis dan penting karena semua kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit di rumah sakit ditentukan dalam panitia ini. Agar dapat mengemban tugasnya secara baik dan benar, para apoteker harus secara mendasar dan mendalam dibekali dengan ilmu-ilmu farmakologi, farmakologi klinik,

farmakoepidemologi, dan farmakoekonomi disamping ilmu-ilmu lain yang sangat dibutuhkan untuk memperlancar hubungan profesionalnya dengan para petugas kesehatan lain di rumah sakit.

BAB III PEMBAHASAN

Tingginya prevalensi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) serta dampak yang ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas (seperti anti influenza, obat batuk, multivitamin) dan antibiotika. Dalam kenyataan antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan tersebut terdapat pada infeksi saluran napas khususnya infeksi saluran napas atas akut, meskipun sebagian besar penyebab dari penyakit ini adalah virus. Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi yang berlebihan para klinisi terhadap antibiotika terutama untuk mencegah infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, yang sebetulnya tidak bisa dicegah. Dampak dari semua ini adalah meningkatnya resistensi bakteri maupun peningkatan efek samping yang tidak diinginkan. Penelitian menunjukkan adanya dua hal yang berperan dalam pengobatan tidak rasional, yakni keterbatasan pengetahuan petugas profesional kesehatan mengenai bukti-bukti ilmiah terkini, sehingga tidak jarang tetap meresepkan obat yang tidak diperlukan (misalnya antibiotika dan steroid untuk penyakit infeksi virus). Kedua kerjasama profesional kesehatan dalam Panitia Farmasi Terapi (PFT). Permasalahan-permasalahan di atas membutuhkan keterpaduan semua profesi kesehatan untuk mengatasinya. Apoteker dengan pelayanan kefarmasiannya dapat berperan serta mengatasi permasalahan tersebut antara lain dengan mengidentifikasi, memecahkan Problem Terapi Obat (PTO), memberikan konseling obat, promosi penggunaan obat yang rasional baik tentang obat bebas maupun antibiotika. Dengan memahami lebih baik tentang patofisiologi, farmakoterapi infeksi saluran napas, diharapkan peran Apoteker dapat dilaksanakan lebih baik lagi. Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) merupakan keadaan yang paling sering terjadi di masyarakat, tetapi kemaknaannya tergantung pada frekuensi relatif dari komplikasi yang terjadi. Penyebab terjadinya infeksi saluran nafas atas umumnya disebabkan virus, bakteri dan jamur, namun kebanyakan oleh virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30% resep antibiotik digunakan dalam terapi pengobatan untuk infeksi saluran nafas atas (ISPA), sedangkan lebih dari separuhnya infeksi saluran nafas atas (ISPA) disebabkan oleh viral yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik untuk terapi pengobatannya.

Terapi infeksi saluran napas memang tidak hanya tergantung pada antibiotika. Beberapa kasus infeksi saluran napas atas akut disebabkan oleh virus yang tidak memerlukan terapi antibiotika, sehingga cukup dengan terapi suportif. Terapi suportif berperan besar dalam mendukung sukses terapi antibiotika, karena berdampak mengurangi gejala dan meningkatkan performa pasien. Obat yang digunakan dalam terapi suportif sebagian besar merupakan obat bebas yang dapat dijumpai dengan mudah, dengan pilihan bervariasi. Apoteker dapat pula berperan dalam pemilihan obat suportif tersebut. Sebelum memulai terapi dengan antibiotika sangat penting untuk dipastikan apakah infeksi benar-benar ada. Hal ini disebabkan ada beberapa kondisi penyakit maupun obat yang dapat memberikan gejala atau tanda yang mirip dengan infeksi. Selain itu pemakaian antibiotika tanpa didasari bukti infeksi, dapat menyebabkan meningkatnya insiden resistensi maupun potensi Reaksi Obat Berlawanan (ROB) yang dialami pasien sehingga terapi menjadi tidak rasional. Bukti infeksi dapat berupa adanya tanda infeksi seperti demam, leukositosis, inflamasi di tempat infeksi, produksi infiltrat dari tempat infeksi, maupun hasil kultur. Masalah resistensi antimikroba terutama resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan masyarakat secara global. Penggunaan antimikroba khususnya antibiotik yang tidak rasional dan tidak terkendali merupakan sebab utama timbul dan menyebarnya resistensi antimikroba secara global, termasuk munculnya mikroba yang multiresisten terhadap sekelompok antibiotik terutama dilingkungan rumah sakit (health care associated infection). Apoteker mempunyai tanggungjawab dari pengetahuan yang dimiliki tentang infeksi saluran nafas atas (ISPA) dan antibiotika serta perannya dalam mempengaruhi penulisan resep antibiotika. Tanggung jawab ini meliputi pengurangan penyebaran infeksi dengan berpartisipasi dalam Komite Pengendali Infeksi di rumah sakit, memastikan penggunaan antibiotik secara rasional dalam sistem kesehatan dimana tanggung jawab ini tidak hanya dilaksanakan oleh apoteker yang bekerja di rumah sakit tetapi juga harus dilaksanakan oleh profesi kesehatan lainnya, memberikan edukasi kepada pasien atau profesi kesehatan lain tentang ISPA dan penggunaan antibiotika.

BAB IV KESIMPULAN

ISPA merupakan penyakit yang paling sering terjadi di masyarakat tergantung pada frekuensi relatif dari komplikasi yang terjadi. Penanganan penyakit ISPA ini tergantung kepada pemeriksaan dan tanda-tanda bahaya yang diperlihatkan penderita, dimana penatalaksanaan dan pengobatan kasus ISPA diperlukan kerjasama semua antar profesi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman profesi kesehatan terhadap penyakit ISPA dan penggunaan obat yang rasional dalam hal ini pemakaian antibiotika guna mencegah terjadinya resistensi antibiotik termasuk munculnya mikroba yang multiresisten terhadap sekelompok antibiotik terutama dilingkungan rumah sakit (health care associated infection). Disini apoteker mempunyai peran dalam mempengaruhi penulisan resep antibiotika untuk mencegah hal diatas dapat terjadi, dengan cara mengurangi penyebaran infeksi dengan berpartisipasi dalam Komite Pengendali Infeksi di rumah sakit, memastikan penggunaan antibiotik secara rasional, dan memberikan edukasi kepada pasien atau profesi kesehatan lain tentang ISPA dan penggunaan antibiotika.