Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum Hyperkes dan K3 Pengukuran Tingkat Pendengaran

A. Hari, tanggal B. Tempat C. Tujuan 1. Mengetahui cara pengukuran tingkat pendengaran dengan : Jumat, 15 Juni 2012 : laboratorium Hyperkes

menggunakan Audiometri 2. Mengetahui tingkat kepekaan pendengaran menggunakan Audiometri D. Dasar Teori Audiometri monitoring adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan terhadap pendengaran. Manfaat pemeriksaan audiometri monitoring sendiri yaitu : sebagai bagian dan program awal dari sebuah perusahaan sehingga perusahaan mempunyai data awal tingkat ambang dengar tenaga kerja yang akan di tempatkan di tempat bising sebagai dasar evaluasi untuk pemeriksaan berkala. Jika hasil pemeriksaan tidak menunjukkan peningkatan paparan dan hasil tidak ada perubahan maka program konservasi pendengaran tersebut efektif. Tingkat intensitas suara minimum yang dapat di dengar oleh orang muda adalah 20 mikroskopal. Pada frekuensi 3000 Hz, tingkat ambang dengar lebih tinggi 10 dB di atas tingkat akustik. Hasil pemeriksaan normal berada dalam kisaran 25 dB terutama pada frekuensi 500 atau 1000 Hz. Bila terdapat perbedaan > 40 dB antara telinga kanan dan kiri maka di lakukan prosedur masking untuk menentukan tingkat ambang sebenarnya. Frekuensi rendah menunjukan kuatnya pembicaraan dan frekuensi tinggi memberikan kejelasan pembicaraan. E. Alat dan Bahan 1. Alat : a. Audiometri b. Komputer

c. Printer d. Arus listrik e. headphone 2. Bahan : a. Kertas HVS untuk mengeprint b. Tinta print berwarna F. Cara Kerja 1. Menghidupkan komputer, printer, dan alat audiometer dengan menekan tombol power suplay (ON/OFF). 2. Mengarahkan kursor ke program audiometer, kemudian mengeklik pada mouse. 3. Layar monitor akan tampil menu utama audiometer. 4. Mengarahkan kursor ke data ID, dan mengisi data identitas responden tentang nama, umur, dan pilihan jenis kelamin (Pria atau Wanita). 5. Mengarahkan kursor ke simpan dan mouse diklik, kursor diarahkan ke keluar dan mouse diklik. 6. Responden dipersiapkan mengenakan penutup telinga, bila responden mendengar suara supaya menekan tombol, dan tombol segera dilepaskan, begitu seterusnya. 7. Mempersilahkan responden memasuki ruang kedap suara. 8. Mengarahkan kursor ke automatic atau manual dan mouse diklik. Namun untuk praktikum kali ini kami menggunakan automatic, sehingga komputer langsung bekerja hingga selesai. Setelah itu mengarahkan kursor ke simpan dan mouse di klik 9. Mengarahkan kursor ke Audiogram dan mouse diklik. Menghidupkan printer 10. Mengarahkan kursor ke Cetak dan mouse diklik. 11. Mengarahkan kursor ke Print dan mouse diklik. 12. Hasil pemeriksaan / uji pendengaran berupa Audiogram berupa cetakan/gambar grafik. 13. Menekan tombol power ON/OFF untuk mengakhiri seluruh program.

G. Hasil Pengukuran 1. Nama Umur Jenis kelamin Telinga : Ema Suryaningtias : 20 : Perempuan Tingkat pendengaran (dB) Kanan 500 1000 2000 3000 Rata-rata Kiri 500 1000 2000 3000 Rata-rata 8 6 4 2 5 8 4 4 0 4 Normal Kategori ketulian

Frekuensi (Hz)

2. Nama Umur Jenis kelamin Telinga

: Santi Astuti : 19 th : Perempuan Frekuensi (Hz) Tingkat pendengaran (dB) 0 0 2 2 1 6 0 Normal Kategori ketulian

Kanan

500 1000 2000 3000

Rata-rata Kiri 500 1000

2000 3000 Rata-rata

0 0 1,5

3. Nama Umur Jenis kelamin Telinga

: Sun Elsa Novita : 19 th : Perempuan Frekuensi (Hz) Tingkat pendengaran (dB) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Normal Kategori ketulian

Kanan

500 1000 2000 3000

Rata-rata Kiri 500 1000 2000 3000 Rata-rata

H. Pembahasan Pada pengukuran tingkat pendengaran dengan menggunakan Audiometri, tidak semua anggota kelompok kami cantumkan hasil pegukurannya karena sebagian data pengukuran kelompok kami telah hilang. Sehingga kami hanya mencantumkan 3 mahasiswa dari kelompok kami, ke 3 mahasiswa tersebut adalah Ema Suryaningtias, Santy Astuti dan Sun Elsa Nofita. Dari hasil data pengukuran tingkat pendengaran Ema Suryaningtias yang berjenis kelamin perempuan dan berusia 20 tahun yaitu untuk telinga kanan diperoleh rata-rata 5 dan untuk telinga kiri diperoleh rata-rata 4 sehingga dikategorikan normal. Untuk hasil data pengukuran tingkat pendengaran Santy Astuti yang berjenis kelamin

perempuan dan berusia 19 tahun diperoleh rata-rata pada telinga kanan 1 sedangkan pada telinga kiri diperoleh rata-rata 1,5 sehingga dikategorikan normal. Dan untuk hasil data pengukuran tingkat pendengaran Sun Elsa Nofita yang berjenis kelamin perempuan dan berusia 19 tahun yaitu ratarata pada telinga kanan 0 dan rata-rata pada telinga kiri juga 0, sehingga dikategorikan normal. Tingkat kepekaan pendengaran seseorang salah satunya dipengaruhi oleh keadaan sekitar (lingkungan), umur, sumber suara (tingkat kebisingan) dan jenis kelamin. Dari ke 3 mahasiswa tersebut tingkat ketulian tertinggi pada Ema Suryaningtias yang memperoleh ratarata pada telinga kanan sebesar 5 dan 4 untuk kiri, sedangkan untuk tingkat ketulian terendah pada Sun Elsa Nofita yang memperoleh rata-rata 0 pada telinga kanan maupun kiri. I. Kesimpulan Pada hasil pengukuran tingkat kepekaan pendengaran seseorang dengan menggunakan alat Audiometri di peroleh data bahwa Dari ke 3 mahasiswa tersebut tingkat ketulian tertinggi pada Ema Suryaningtias yang memperoleh rata-rata pada telinga kanan sebesar 5 dan 4 untuk kiri, sedangkan untuk tingkat ketulian terendah pada Sun Elsa Nofita yang memperoleh rata-rata 0 pada telinga kanan maupun kiri. Tingkat kepekaan pendengaran seseorang salah satunya dipengaruhi oleh keadaan sekitar (lingkungan), umur, sumber suara (tingkat kebisingan) dan jenis kelamin. Disamping itu, dengan dilakukannya pengukuran tingkat kepekaan pendengaran dengan menggunakan Audiometri, maka mahasiswa bisa berlatih menggunakan alat tersebut sehingga mampu menerapkan alat tersebut pada masyarakat.

Laporan Praktikum Hyperkes dan K3 Pengukuran Kelelahan Kerja


A. Hari, tanggal B. Tempat C. Tujuan 1. Mampu melakukan pengukuran kelelahan kerja dengan menggunakan alat Reaction Timer 2. Mengetahui tingkat kelelahan kerja seseorang melalui Reaction Timer D. Dasar Teori Pengukuran kelelahan kerja seseorang dapat dilakukan dengan menggunakan alat pencatat waktu reaksi atau reaction timer untuk mengetahui waktu reaksi rangsang cahaya (WRC). Pengukuran kelelahan dengan menggunakan reaction timer dilakukan sebanyak 20 kali pengukuran untuk setiap responden. Hasil pengukuran yang dipergunakan adalah rata-rata dari pengukuran ke-6 sampai dengan ke-15. Evaluasi hasil pengukuran kelelahan adalah membandingkan hasil pengukuran dengan standard yang ada, yaitu : 1. Normal : < 240 milidetik : Senin, 28 Mei 2012 : Laboratorium Hyperkes

2. Kelelahan Ringan : 240 409 milidetik 3. Kelelahan Sedang : 410 579 milidetik 4. Kelelahan Berat : > 580 milidetik

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi waktu reaksi adalah : 1. Faktor fisik, seperti jenis kelamin, umur, kesehatan. 2. Faktor psikologis, seperti pendidikan, motivasi, perasaan dan kebiasaan. 3. Ketidak akuratan pengukuran

4. Variable petugas pengukuran Menurut Sumamur (1988) cara mengurangi kelelahan kerja dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, yaitu dengan memperbaiki keadaan umum dan keadaan fisik di tempat kerja. Misalnya dengan pengaturan jam kerja, memberikan kesempatan istirahat yang memadai, pemberian cuti, rekreasi, pengurangan kebisingan, pengurangan tekanan panas, penerangan serta penyelenggaraan ventilasi yang baik. Pengendalian kelelahan dapat dilaksanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang melalui promosi kesehatan kerja, preventif, kuratif, dan rehabilitasi kelelahan kerja. Penanggulangan jangka pendek meliputi latihan singkat bagi para pengawas atau tenaga personalia perusahaan tentang tata cara pendeteksian kelelahan kerja di perusahaan.

Penanggulangan jangka panjang bersifat promosi kesehatan kerja dalam bentuk pemberian ceramah, diskusi, dan peninjauan peraturan kerja serta sikap kerja tenaga kerja. E. Alat dan Bahan 1. Alat dan bahan Reaction timer Alat tulis Daya listrik

F. Cara Kerja 1. Mempersiapkan / merangkai alat. 2. Menghidupkan power / suply (ON). 3. Menekan tombol menu, maka di layar display akan muncul / memilih mode. 4. Memilih tombol mode yang dikehendaki dengan menekan tombol up / down. 5. Menekan tombol menu untuk keluar dari menu Mode.

6. Menekan tombol menu sekali lagi untuk masuk menu TIME, tujuannya untuk memilih lama (waktu) pengukuran (1, atau 2, atau 3 menit). Gunakan tombol up / down. 7. Setelah setting selesai, kemudian menekan tombol Menu hingga layar display muncul R-20. 8. Tekan tombol enter, maka waktu efektif pengukuran dimulai (berlangsung/beroperasi). 9. Membaca memori dengan cara menekan tombol menu sampai pada display muncul Read. 10. Menekan tombol enter untuk menampilkan isi memori. 11. Menekan tombol up untuk membaca isi memori. 12. Menekan tombol enter untuk memilih memori berikutnya yang dibaca. 13. Memekan tombol menu untuk mengakhirinya. 14. Untuk menghapus memori dengan cara menekan tombol menu hingga pada display muncul Eras. 15. Menekan tombol enter untuk menghapus memori sehingga tampilan pada layar display menjadi 000. 16. Menekan tombol Menu untuk mengakhiri program. 17. Selanjutnya mematikan reaction timer

INTERPRETASI TINGKAT KELELAHAN KERJA No. Tingkat Kelelahan Lama/waktu pengukuran (menit) 1 1 2 3 4 5 Prima Normal Sedang Lelah Sangat lelah 49-60 37-48 25-36 13-24 0-12 2 97-120 73-96 49-72 25-48 0-24 3 145-180 109-144 73-108 37-72 0-36

G. Hasil Pengukuran HASIL PENGUKURAN KELELAHAN KERJA DENGAN REACTION TIMER

NO

NAMA MASISWA

WAKTU (menit) 1 1 1 1 1

HASIL

INTERPRETASI

1 2 3 4 5

Dedy Yoga Herawan Dian Kusumasari Ema Suryaningtyas Santi Astuti Sun Elsa Novita

59 57 58 47 48

Prima Prima Prima Normal Normal

H. Pembahasan Saat dilakukannya hasil pengukuran kelelahan kerja, nama mahasiswa yang tercantum tersebut tidak sedang mengalami kelelahan sehingga hasil pengukuran kelelahan kerja dengan Reaction Timer menunjukkan prima dan normal. Masing-masing mahasiswa melakukan pengukuran selama 1 menit. Pengukuran dilakukan di Laboratorium Hyperkes jam 13.00 WIB. Dari hasil pengukuran tersebut, pengukuran kelelahan kerja Dedy Yoga Herawan memperoleh hasil 59 yang

menunjukkan interpretasinya prima. Nilai tersebut merupakan nilai tertinggi diantara ke 4 mahasiswa lainnya, sedangkan pengukuran kelelahan kerja Santy Astuti memperoleh hasil 47 yang menunjukkan interpretasinya normal dan nilai tersebut merupakan nilai terendah diantara ke 4 mahasiswa lainnya. Walaupun begitu, dari ke 5 mahasiswa tersebut masih dalam keadaan stabil atau tidak mengalami kelelahan kerja. Hal ini bisa disebabkan karena istirahat yang cukup, mahasiswa tidak melakukan aktifitas berat dan lain sebagainya. Selain itu Reaction Timer yang kami gunakan untuk menghitung tingkat kelelahan kerja seseorang belum

dikalibrasi, sehingga hasil yang di dapat kadang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. I. Kesimpulan Dari hasil pengukuran tingkat kelelahan kerja dengan

menggunakan Reaction Timer, diperoleh hasil bahwa dari ke 5 mahasiswa tersebut yaitu, Dedy Yoga Herawan, Dian Kusumasari, Ema

Suryaningtias, Santy Astuti dan Sun Elsa Nofita yang melakukan pengukuran terhadap tingkat kelelahan semuanya masih dalam kondisi prima dan normal. Sehingga mahasiswa tersebut tidak sedang mengalami kelelahan kerja, hal ini dikarenakan istirahat yang cukup, mahasiswa tidak melakukan aktifitas berat dan lain sebagainya. Disamping itu, dengan dilakukannya pengukuran tingkat kelelahan kerja dengan menggunakan Reaction Timer, maka mahasiswa bisa berlatih menggunakan alat tersebut sehingga mampu menerapkan alat tersebut pada masyarakat.