Anda di halaman 1dari 40

BUDI DAYA

IKAN BETUTU

DAVID MULYONO

Penerbit Kanisius

KATA PENGANTAR Ikan betutu pada saat ini makin populer dan telah banyak dihidangkan sebagai menu masakan di mmah makan besar, restoran, dan hotel-hotel mewah. Ikan betutu yang dihidangkan sebagai menu masakan di rumah makan besar, restoran, dan hotel-hotel tersebut sebagian besar berasal dari hasil tangkapan di alam bebas dan masih sangat sedikit yang berasal dari hasil budi daya. Penangkapan ikan Betutu di alam bebas yang dilakukan secara semena-mena tentu akan mengakibatkan kepunahan terhadap ikan tersebut. Saat ini ikan Betutu yang hidup di alam sudah makin jarang dan makin sulit untuk dicari. Oleh karena itu, solusi untuk mengantisipasi kepunahan ikan betutu di alam bebas ini hams segera dicari. Salah satu cara untuk melestarikan ikan Betutu di alam bebas adalah dengan cara membudi dayakannya. Dengan demikian, kebutuhan pasar akan ikan betutu dapat dipenuhi dari hasil budi daya tersebut. Di beberapa daerah seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sumatra sudah ada yang berhasil membudidayakan ikan Betutu. Namun, hasil budi daya di daerah-daerah tersebut belum mencukupi kebutuhan pasar. Negara yang telah berhasil membudidayakan ikan Betutu adalah Thailand. Oleh karena itu, bagi mereka yang merasa terpanggil dalam usaha pelestarian alam, diharapkan dapat juga melestarikan ikan Betutu ini melalui usaha budi daya secara intensif. Buku ini dapat menjadi petunjuk praktis bagi mereka yang berminat mencoba membudidayakan ikan betutu. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman penulis sendiri ditambah dengan pengalaman orang lain yang sudah berhasil serta dipadukan dengan tulisan para ahli di bidang perikanan, dari kalangan perguruan tinggi dan beberapa literatur pendukung. Buku ini tentu saja masih jauh dari sempuma. Oleh karena itu, penulis menerima dengan senang hati segala saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan buku ini. Akhimya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat dalam usaha pengembangan perikanan di Indonesia.

Penulis

DAFTAR ISI KAIAPENGANTAR........................,................,..................................................................................7 DAFTARISI......................................................................................................................................9 BAB I.PENDAHULUAN...................................................................................................................11 A.Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sub-Sektor Perikanan .....11 B.Potensi Perikanan Air Tawar........................................................................................11 C.Potensi dan Prospek Agribisnis Ikan Betutu.............................................12 BAB II.MENGENAL IKAN BETUTU..............................................-.;..............,.................15 A.Daerah Asal dan Penyebaran Ikan Betutu...................................................15 B.Taksonomi dan Morfologi.....................................................................................16 C.Jenis-Jenis Ikan Betutu.....................................................................................................17 D.Daur Hidup Ikan Betutu ...................................................................................17 E.Habitat dan Tingkah Laku Ikan Betutu ..............................................18 F.K-ebiasaan Makan............................................................................................................ 20 G.Pertumbuhan Ikan Betutu.....................................................................................21 BAB III.PEMBENIHAN IKAN BETUTU ......................................................22 A.Pemilihan Lokasi.............................................................................................................22 B.Sarana dan Prasarana Pembenihan......................................................24 C.Penyiapan Induk Jantan dan Betina.....................................................................27 D.Pemeliharaan Induk..........................................................................................28 E.Tata Laksana Pemijahan ................................................................................29 F.Penetasan dan Perawatan Telur.................................................................................32 G.Perawatan dan Pemeliharaan Larva...........................................................32 H.Pemeliharaan Benih (Pendederan)........................................................................34 BAB IV. PEMBESARAN IKAN BETUTU ................................................................. A. Lokasi Pembesaran.................................................................................................. B. Metode Pembesaran........................................................................................................... C. Pengiriman Benih ke Kolam Pembesaran ............................................. D. Tata Laksana Pembesaran ........................................'................................................. BAB V. PANEN DAN PASCA PANEN .......................................................................... A. Cara Panen....................................................................................................................... B. Pemasaran dan Pengiriman Ikan Betutu.................................................. BAB VI. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT............................. A. Jenis-jenis Hama dan Cara Pengendaliannya ................................... B. Jenis-jenis Parasit dan Cara Pengendaliannya................................ C. Jenis Penyakit dan Cara Pengendaliannya........................................... BAB VII. ANALISA USAHA PEMBESARAN IKAN BETUTU.. DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................

LAMPIRAN.................................................................................................................... BAB I PANDAHULUAN Bangsa kita sangat membutuhkan sumber protein untuk menjadi suatu bangsa yang sehat dan cerdas. Ikan mempakan salah satu sumber protein yang bermutu tinggi. Daging ikan rata-rata mengandung protein (9 % - 22 %), lemak (0,1 % - 20 %), mineral (1 % - 3 %), vitamin, lecithin, guanin, dan sedikit mengandung kolesterol. A. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sub-Sektor Perikanan Dengan luasnya perairan dan melimpahnya berbagaijenis ikan di Indonesia, maka pemerintah mencanangkan atau mengharapkan bahwa kebutuhan protein hewani bangsa Indonesia dapat dipenuhi dari sub-sektor perikanan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran pembangunan sub-sektor perikanan, di samping meningkatkan devisa bagi negara, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan sasaran agar target tiap orang Indonesia dapat mengkonsumsi ikan 25 kg/orang/tahun tercapai. Bila target tersebut dapat dicapai, maka bangsa Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang sehat dan cerdas. B. Potensi Perikanan Air Tawar Pembangunan sub-sektor perikanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, tidak hanya di perairan laut, tetapijuga di perairan darat (air tawar). Perairan tawar di Indonesia menurut para ahli perikanan memiliki kualitas yang bagus. Parairan tawar di Indonesia memiliki tingkat keasaman (pH) air yang stabil dan memiliki suhu air yang lebih stabil dibandingkan dengan negaranegara yang mengalami 4 musim seperti Jepang dan Taiwan. Di samping itu, perairan tawar Indonesia memiliki aneka ragam jenis plankton, benthos, ataupun detritus yang dapat menjadi sumber makanan alami bagi ikan. Dilihat dari luas sumber perairan umum (sungai, danau, rawa, waduk/dam, dsb.) dan kualitas aimya yang sangat baik, maka perairan tawar di Indonesia sangat potensial untuk usaha pengembangan prikanan. Salah satu contoh adalah perairan umum di Jawa Tengah saja seperti pada tabel berikut ini :
Jenis Perairan Air Tawar Sungai Kolam Telaga Waduk Sawah Rawa Luas (Ha) 18.203,0200 2.708,3105 579,9000 24.995,9600 6.836,0000 4.656,7800 Produksi (Ton) 7.409,0200 9.913,1450 230,0000 4.176,5000 1.366,2620 1.236,9000 Hasil (Rp. 1.000) 14.050.904,5000 25.727.957,0000 547,0310 7.014,3960 2.718,036 2.641,4610 39.791.782,3940

Jumlah 57.9979,8050 24.332,4070 Sumber : Perikanan Jawa Tengah Dalam Angka. 1995

C. Potensi dan Prospek Agribisnis Ikan Betutu Ikan Betutu mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia perikanan, ikan betutu sudah tidak asing lagi. Bagi masyarakat Sumatra

Selatan, khususnya di sekitar Sungai Ogan, Sungai Komering, dan Sungai Musi, sudah tidak asing lagi terhadap ikan Betutu. Bahkan, ikan Betutu dijadikan maskot kota (ingat kota Talang Betutu). Di dunia bisnis, ikan Betutu lebih dikenal dengan sebutan ikan Malas atau Gabus malas. Masyarakat Kalimantan menyebut ikan betutu dengan nama ikan Bakut atau ikan Bakukut yang artinya "diam". Ada pula yang menyebut ikan Betutu dengan nama ikan bodoh atau ikan goblog. Sementara etnis Cina, termasuk Cina keturunan, menyebut ikan betutu dengan nama ikan Sun Hok. Dunia Internasional menyebut ikan betutu dengan nama ikan marbledgpby atau sand goby. Ikan Betutu memiliki nama ilmiah Oxyeletris marmorata. Bikr. Dari uraian di atas jelas bahwa ikan Betutu termasuk salah satu jenis ikan yang sudah mendunia. Menu masakan ikan betutu telah masuk di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang berkisar antara Rp 250.000,00 - Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg. Sedangkan harga ikan betutu hidup di tingkat tengkulak atau brooker bervariasi antara Rp 75.000,00 Rp 100.000,00 per kilogramnya. Mahalnya harga ikan betutu diduga ada beberapa versi, mungkin karena cita rasanya lezat, dagingnya putih, empuk, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu juga dipercaya mengandung khasiat tertentu bagi kaum wanita dan bagi kaum pria. Bagi kaum'wanita, ikan betutu dipercaya dapat membuat awet muda dan dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B 1, B2, B6 vitamin F, dan vitamin E sehingga dapat menghambat proses penuaan. Bagi kaum pria, ikan betutu dipercaya banyak mengandung anzim dan hormon tertentu sehingga dapat menambah keperkasaan sebagai laki-laki. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ikan betutu hanya sebagai arena adu gengsi untuk meloby relasi. Secara teknis, ikan betutu memang masih sulit untuk dibudidayakan. Bisnis ikan betutu hingga saat ini sebagian besar masih tergantung pada penangkapan di alam bebas. Oleh karena itu, jenis ikan ini dikhawatirkan akan semakin langka dan akhimya punah jika penangkapan di alam bebas dilakukan secara terus-menerus. Usaha pembenihan dan pembudidayaan ikan betutu diharapkan dapat melestarikan, menambah populasi, dan mencukupi kebutuhan konsumen. Usaha budi daya ikan betutu di Thailand dapat berhasil dengan baik sehingga saat ini menjadi pesaing utama bagi Indonesia sebagai asal muasal dari ikan betutu itu sendiri. Di Jawa Barat dan di Jawa Tengah sudah ada orang yang mulai membudidayakannya secara intensif walaupun hasilnya belum menggembirakan. Kendala utama pembudidayaan ikan betutu adalah lamanya pertumbuhan ikan tersebut. Pertumbuhan ikan betutu dari menetas hingga mencapai ukuran konsumsi (400 g ke atas) membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Di samping itu, angka kematian ikan ini cukup tinggi sehingga membuat orang enggan untuk membudidayakannya. Walaupun tingkat kematian ikan betutu cukup tinggi, namun masih dapat diatasi melalui serangkaian uji coba dan teknih budi daya yang intensif.

BAB II MENGENAL IKAN BETUTU Ikan betutu memiliki daerah penyebaran dan sifat-sifat yang unik. Pada Bab II ini secara khusus diperkenalkan tentang daerah penyebaran dan sifat-sifat ikan betutu kiranya dapat bermanfaat untuk usaha pengembangan budi daya ikan betutu itu sendiri. A. Daerah Asal dan Penyebaran Ikan Betutu Ikan betutu diduga ikan asli Indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan. Namun, sementara orang ada juga yang berpendapat bahwa ikan betutu berasal dari Sumatra karena sejak dulu sudah ada di sana, bahkan menjadi maskot Kabupaten Talang Betutu. Mengingat nama betutu menjadi nama tunggal di pulau tersebut, maka ikan betutu diduga berasal dari Sumatra. Sedangkan di Kalimantan ikan ini dinamai ikan bakut atau ikan bakukut yang berarti diam. Di kota Pontianak, ikan ini bemama ikan bodoh atau ikan goblog karena sifatnya yang selalu diam. Ikan ini hanya bergerak bila lapar dan bila ada mangsa yang kebetulan lewat di depannya. Bila sudah kenyang, ikan ini akan diam saja meskipun melihat mangsa yang sudah dikuasai direbut oleh ikan lain. Ikan betutu saat ini sudah banyak dijumpai di pulau Jawa, antara lain di di sungai Ciliwung, Citarum, waduk Cirata, waduk Gajah Mungkur, dan di tempat-tempat lainnya. Penyebaran ikan betutu di pulau Jawa diduga karena adanya usaha budi daya di daerah tersebut yang kemudian terlepas ke suatu perairan dan masuk ke sungai-sungai kemudian berkembang biak secara alami. Menurut Axelrod, daerah penyebaran ikan betutu meliputi daerah Malaysia, Thailand, Vietnam, Campuchea, Burma, Australia Utara, Filipina, dan Cina Selatan. B. Taksonomi dan Morfologi Ikan betutu mempunyai kemiripan dengan ikan gabus (Jw : kutuk), baik bentuk maupun sifatnya. Oleh karena itu, sementara ahli menduga bahwa ikan betutu masuk dalam golongan Goboidae (satu famili dengan ikan gabus). Namun, Axelrod memasukkan ikan betutu ke dalam golongan Percormorphoidei. Adapun sistematika selengkapnya menurut Axelrod (1951) adalah sebagai berikut :

Phylum Sub-Phylum Super-Classis Classis Super-Ordo Ordo Sub-Ordo Familia Genus Species

: Chordata : Craniata : Gnatostomata : Osteichthyes : Telestei : Percomorphodei : Gobiformes : eleotridae : Oxyeleotris : Oxyeleotris marmorata. Blkr.

Gambar 1. Sosok Ikan Betutu

Tanda-tanda atau ciri-ciri morfologi spesifik yang dimiliki oleh ikan betutu (Oxyeleotris marmorata. Bikr) adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. batik; 7. 8. bagian ventral berwarna putih panjang maksimum 50 cm dan dapat mencapai berat 7 kg/ekor. bentuk badan bulat panjang seperti torpedo badan bagian depan bundar dan di bagian belakang agak pipih kepala rendah, mata besar yang dapat bergerak, dan mulut lebar perut luas dan sirip punggung terdiri atas dua bagian sisik sangat kecil-kecil, halus, dan lembut sehingga tampak hampir tidak bersisik warna badan kekuning-kuningan dengan bercak-bercak hitam keabu-abuan seperti di

C. Jenis-Jenis Ikan Betutu Sampai saat ini ditemukan 7 (tujuh) jenis ikan betutu dan 2 (dua) jenis lagi yang bukan dari spesies Oxyeleotris marmorata. Bikr., tetapi di pasaran sering disebut ikan betutu. Adapun jenis-jenis ikan betutu selengkapnya adalah Oxyeleotris marmorata. Bikr. (yang banyak dicari dan harganya mahal), Oxyeleotris urophthalmus. Bikr, Oxyeleotris urophthalmoides. Bikr, Oxyeleotris sineolatus. Bikr., Oxyeleotris heterodon. Seen, Oxyeleotris fimbriatus. Weber, dan Oxyeleotris ereuntris.E. Sedangkan ikan betutu yang bukan dari genus Oxyeleotris tetapi sering disebut ikan betutu adalah Belobranchus. Sp. (jenis ini banyak terdapat di Thailand dan Cina) dan Neogobus melanostomus. Pall. (jenis ini banyak dijumpai di Papua hingga Australia Utara). D. Daur Hidup dan Pembiakan Ikan betutu yang hidup di alam bebas memiliki periode pemijahan yang relatif pendek dengan frekuensi lebih dari satu kali dalam setahun, yaitu pada awal dan pada akhir musim hujan. Ikan betutu melakukan pemijahan tidak sendiri-sendiri, tetapi secara berkelompok. Ikan betutu jantan dan ikan betutu betina yang sudah matang kelamin (matang gonad) bersama-sama bermigrasi ke daerahdaerah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan air yang berdaun atau yang berbatang halus

sebagai persiapan untuk meletakkan telur-telurnya. Di tempat-tempat tersebut, ikan betutu melakukan pemijahan dan bertelur. Telur ikan betutu umumnya menempelkan telur-telumya pada substrat berupa tumbuhan air. Namun, ikan betutu kadang-kadang juga menempelkan telur-telurnya pada benda-benda lain yang berada di perairan, misalnya kayu, bebatuan, dan lain-lain. Pada suhu air 24C, telur-telur ikan betutu akan menetas dalam waktu 7 hari, pada suhu air 26,5C akan menetas dalam waktu 5 hari, dan pada suhu air 28C telur tadi akan menetas dalam waktu 2 - 3 hari. Tan dan Lam pada tahun 1973 mengadakan uji pemijahan ikan betutu dengan sistem hipofysasi dan didapatkan hasil telur yang dibuahi (dalam akuarium) dapat menetas 90 % pada suhu 26C 28C. Ikan betutu melakukan pemijahan secara monogami, yakni satu jantan dengan satu betina. Menurut Tavarutmaneegul dan Lin (1988), ikan betutu akan produktif pada saat ia mencapai ukuran 250 - 500 g/ekor dengan fekunditas 24.000 butir telur. Widiyati dan kawan-kawannya (1992) melakukan uji lapang pemijahan ikan betutu. Uji coba tersebut memperoleh hasil bahwa ikan betutu betina ukuran 400 g yang diberi pakan buatan dengan kandungan protein 47 % selama 3 bulan akan memiliki fekunditas 40.000 butir telur. Ikan betutu muda akan dibiarkan induknya untuk mencari makan sendiri. Anak-anak ikan betutu ini akan dewasa pada umur 20 - 24 bulan. Setelah dewasa, ikan-ikan betutu ini akan mencari pasangannya untuk mengadakan pemijahan. E. Habitat dan Tingkah Laku Ikan Betutu Ikan betutu di alam aslinya hidup di air tawar, seperti di sungai-sungai, di rawa-rawa, di telagatelaga, di danau-danau, dan di waduk-waduk. Ikan-ikan betutu yang masih kecil sampai ukuran 100 g lebih senang tinggal di perairan yang dangkal, sedangkan yang sudah besar lebih suka tinggal di daerah yang arusnya tidak terlalu deras. Ikan betutu senang tinggal di perairan yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), kayu apu (Pistia.Sp), ganggeng (Hydrilla Sp.), kangkung (Ipomoea. Sp.), dan lain-lain. Di alam bebas, ikan betutu juga banyak dijumpai di perairan yang memiliki derajat kesamaan (pH) air yang agak rendah (5,5 6,5). meskipun ia tidak menolak tinggal di air netral dengan pH 7 7,5 Ikan betutu dapat hidup dengan baik pada temperatur air berkisarantara 19C - 29C, bahkan ia bisa beradaptasi dengan baik sampai pada suhu air 30C. Berbeda dengan ikan-ikan lain, ikan betutu ini sangat tahan terhadap kadar. Amoniak dan kadar CO 2 yang cukup tinggi. Hal ini sangat menguntungkan dalam usaha budidayanya, terutama dalam usaha pembesaran. Ikan betutu termasuk ikan labirin sehingga ia dapat menyerap O2 langsung dari udara. Dengan demikian, ikan betutu sangat tahan terhadap kondisi air yang kurang baik (kurang oksigen) sehingga sangat menguntungkan dalam hal transportasi/pengiriman ke tempat yangjauh. Ditinjau dari aktivitasnya, ikan betutu golongan ikan nocturnal. Oleh karena itu, ikan betutu aktif mencari makan pada malam hari. Di waktu malam, ikan betutu sangat aktif dan sangat agresifdan banyak dijumpai di dasar-dasar perairan dan sangat jarang dijumpai berenang di permukaan air, kecuali pada saat menderita sakit. Ikan betutu sangat menyukai tempat-tempat yang ada lubang-lubangnya entah

berupa timbunan batu atau lubang kayu atau lubang lain seperti potongan plpa pralon, tempayan, atau kaleng yang tenggelam. Ikan betutu termasuk ikan yang sangat jinak dan jarang bergerak sehingga mudah di tangkap. Walaupun demikian, ikan betutu juga mampu bergerak cepat, terutama pada saat lapar dan melihat mangsa lewat didepannya. Ikan betutu yang lapar akan melesat dengan cepat dengan mulut terbuka dan menyergap mangsanya. Ikan betutujuga sering menjunjukkan kemampuan yang istimewa, yaitu bergerak dengan sangat cepat dan berhenti dengan tiba-tiba sehingga sulit diikuti dengan mata. F. Kebiasaan Makan Ikan betutu sangat menyukai jenis pakan hidup (carnivora) dan dapat memburu mangsanya (predator) jika keadaan memaksanya. Dalam mencari pakan, ikan betutu tidak peduli terhadap buruannya. Jenisnya sendiri yang masih kecil, bahkan anaknya sendiri akan dilahap jika dalam keadaan lapar (kanibal).

Gambra 3. Pakan alami ikan betutu

Makanan ikan betutu terdiri atas ikan-ikan kecil, udang liar tawar, remis, cacing dan organisme lain yang lebih kecil yang dapat dimangsa. Ikan betutu juga tidak menolakjika diberi pakan yang terdiri atas ikan mati atau bangkai hewan lain. Namunjika masih adajenis pakan hidup dalamjumlah banyak, ikan betutu akan memilih pakan yang hidup tersebut. Ikan betutu yang belum sangat lapar tidak akan keluar untuk memburu mangsanya. Jika mangsa tersebut sudah didahului oleh ikan lain, ikan betutu yang belum lapar tidak akan merebutnya atau meminta belas kasihan untuk mendapatkan sisa makanan. Sisa-sisa makanan dari ikan lain pun tidak pemah diambilnya. Makanan utama larva ikan betutu adalah plankton seperti rotifera, sufosutoria, dan mikro-plankton lain. Setelah berumur beberapa hari dan sudah lebih besar, anak-anak ikan betutu akan berganti jenis pakan, yaitu berupa zooplankton yang lebih besar seperti Moina.sp., Dapnia. Sp., dan Bosmina Sp. Pada saat ia lebih besar lagi (3 - 7 cm), anak-anak ikan betutu akan Memangsa ArtemiaSp., larva Chironomit, cacing sutera (Tubifex), dan lain-lain. Rupanya, dalam hal pakan, ikan betutu menyesuaikan diri dengan lebar bukaan mulutnya. Pada waktu sudah mencapai ukuran fingerling (di atas 9 cm), ikan betutu sudah mulai memangsa anak-anak ikan yang lebih kecil ataupun cacahan isi perut ikan.

G. Pertumbuhan Ikan Betutu Seperti yang telah dikemukakan di depan bahwa ikan betutu memiliki pertumbuhan yang sangat lambat. Untuk mencapai ukuran konsumsi, ikan betutu membutuhkan waktu sekitar 24 - 30 bulan. Oleh karena itu, pembudidayaan ikan betutu disarankan dibagi 3 tahap, yaitu pembenihan sampai ukuran fingerling, kemudian dijual ke pengusaha pendederan sampai ukuran 80 - 120 g. Selanjutnya, benih ikan tersebut dijual ke pengusaha pembesaran. Pengusaha pembesaran akan memelihara dan membesarkan benih ikan ukuran 100 g sampai ukuran konsumsi ( 400 g ke atas). Lamanya pertumbuhan ikan betutu sebenamya sama dengan ikan gurami, yakni untuk mencapai ukuran konsumsi memakan waktu minimal 18 - 24 bulan.

BAB III PEMBENIHAN IKAN BETUTU Pembenihan ikan betutu dimulai dari pemilihan lahan (lokasi), pengadaan sarana dan prasarana pembenihan, pemilihan induk (jantan dan betina), pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva, serta pendederan benih sampai ukuran tertentu hingga siap untuk dibesarkan menjadi ikan konsumsi. A. Pemilihan Lokasi Lokasi untuk budi daya ikan betutu hams mempertimbangkan ketinggian tempat, keadaan tanah, keadaan air, dan keadaan lingkungan setempat. 1. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat (lokasi) usaha budi daya ikan betutu, baik usaha pembenihan, pendederan, maupun pembesaran, hams diperhatikan dengan saksama. Ketinggian tempat berhubungan erat dengan temperatur udara dan temperatur air yang merupakan faktor pembatas bagi ikan betutu. Seperti diuraikan di depan bahwa ikan betutu dapat hidup dengan baik pada suhu air 19C - 29C. Dengan demikian, ikan betutu akan dapat hidup baik pada ketinggian tempat dari 0 - 500 m di atas permukaan laut karena pada ketinggian tersebut suhu air akan berkisar 19C - 29C. 2. Keadaan Tanah Lahan untuk budi daya ikan betutu harus dipilih yang tanahnya subur sebab kesuburan kolam dan air kolam tergantung pada kesuburan tanah. Tanah dasar kolam yang aimya subur akan banyak ditumbuhi plankton sebagai pakan alami bagi ikan. Tanah yang subur ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang subur di lahan tersebut. Tanah untuk kolam juga hams dipilih dari jenis tanah liat yang tidak sarang/porous, tidak terlalu berpasir dan juga tidak terlalu berlumpur. Tanah yang cukup liat cukup kedap air sehingga air kolam tidak cepat meresap ke dalam tanah. Demikian juga, pematang atau tanggul yang dibuat dari tanah yang cukup liat tidak mudah longsor, apalagi jika pembuatan tanggul dipadatkan dan ditanami rumput. Dasar kolam yang sedikit berlumpur sangat baik untuk ikan betutu karena ikan tersebut suka membenamkan diri di dalam lumpur. Tanah yang terlalu berlumpur akan mempersulit pemanenan ikan betutu karena hams membalik-balik tanah dasar untuk mencarinya ketika panen. Di samping itu, tanah dasar kolam yang berlumpur dapat menyebabkan ikan betutu mabuk karena insangnya kemasukan lumpur. Tanah dasar kolam akan lebih baik lagi jika ditumbuhi tanaman air sebagai tempat ikan berlindung dan bersembunyi sehingga merasa lebih aman. 3. Keadaan Air Ikan betutu termasuk ikan labirin sehingga tahan terhadap kondisi air yang kurang baik, misalnya air kolam yangjarang berganti atau hanya sedikit terjadi pergantian air. Ikan betutu dapat hidup dengan baik pada pH air 5,5 - 7,5 dengan suhu air berkisar 19C - 29C. Ikan betutu juga cukup tahan terhadap kadar amonia dan ILS yang cukup tinggi dan juga tahan terhadap air keruh.

Walaupun ikan betutu tahan terhadap kondisi air yang kurang baik, namun air kolam yang digunakan untuk membudidayakan ikan betutu tersebut sebaiknya selalu berganti. Kualitas air kolam yang baik akan mendorong pertumbuhan ikan betutu lebih sempuma. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air barn yang bersih ke dalam kolam. Penggantian air kolam sebaiknya dilakukan sesering mungkin supaya ikan betutu yang dipelihara tetap sehat dan lebih cepat menjadi besar. 4. Keadaan Lingkungan Kolam Lingkungan kolam juga sangat berperan pada keberhasilan budi daya ikan betutu. Lingkungan kolam yang tenang dan tidak sering terganggu oleh adanya kegiatan-kegiatan di sekitar kolam akan membuat ikan betutu dapat hidup lebih nyaman. Dasar kolam diusahakan agar ditumbuhi tanaman air, misalnya tumbuhan Hidryla dan Salvinia. Di dalam kolam pemeliharaan ikan betutu sebaiknya juga tersedia pakan alaminya dengan cara ditebari ikan cetui atau ikan cere, anak ikan mujahir, dan anak ikan gambusa. Di dalam kolam pemeliharaan ikan betutu sebaiknyajuga disediakan tempat-tempat persembunyian berupa potongan-potongan pipa pralon, potongan bambu, tumpukan kayu, atau ban bekas agar ikan betutu yang dipelihara dapat berlindung dan bersembunyi sehingga merasa lebih nyaman dan aman.

Gambar 4. Ikan betutu menyukai perairan yang ada tumbuh-tumbuhan airnya.

B. Sarana dan Prasarana Pembenihan Setelah menemukan lahan yang memenuhi syarat untuk usaha budi daya ikan betutu, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan sarana dan prasarana pembenihan berupa kolam/bak pemeliharaan induk, kolam/bak pemijahan, kolam/bak penetasan dan perawatan telur, kolam/bak perawatan benih (kolam pendederan), dan peralatan-peralatan pendukung lainnya seperti heater, aerator, atau blower. 1. Kolam Pemeliharaan Induk Pemeliharaan induk ikan betutu dapat dilakukan di kolam beton atau di kolam tanah. Bentuk bak/kolam pemeliharaan induk dapat dibuat empat persegi panjang atau bujur sangkar. Dari pengalaman di lapangan, induk ikan yang dipelihara dalam kolam tanah lebih baik dan lebih sehat daripada yang dipelihara di kolam/bak dari beton. Kemungkinan, induk ikan yang dipelihara dalam kolam beton sering menabrak dinding beton yang keras pada waktu kaget atau menyergap mangsanya sehingga mengalami stress atau terluka.

Kolam pemeliharaan induk dapat dibuat dengan ukuran 2 m x 3 m x 1 m dan kedalaman air 60 cm. Kolam seluas ini dapat dipakai untuk memelihara 20 ekor induk ikan betutu dan jika dipakai untuk pemijahan dapat menampung 5 pasang induk ikan betutu. Untuk lebih sempumanya di dalam kolam atau bak ini diberi potong pralon ukuran 3 dim sepanjang 40 cm atau 50 cm atau, tempayan bekas, bisa juga potongan asbes yang dibentuk prisma, gunanya untuk tempat ikan berlindung supaya tidak mudah stres. 2. Kolam/Bak Pemijahan Seperti halnya kolam induk, kolam pemijahan dapat terbuat dari beton (permanen) dengan ukuran 2 m x 3 m x 1 m dengan ketinggian air 50 cm - 60 cm. Kolam pemijahan dilengkapi dengan alat atau tempat berlindung, sekaligus sebagai alat penempel telur. Alat-alat ini dapat terbuat dari asbes berukuran 40 cm x 40 cm yang dibuat bentuk prisma atau dari potongan pipa pralon berdiameter 3 dim sepanjang 40 cm - 50 cm atau dari ban bekas yang dipotong-potong atau tempayan yang sudah tak terpakai.

Gambar 5. Bak pemijahan ikan betutu

Alat Berlindung

3. Kolam Penetasan dan Perawatan Telur Kolam/bak perawatan telur dan penetasan telur sekaligus dipakai untuk perawatan larva hingga umur 10 - 15 hari. Pemindahan larva ikan sangat rawan karena kondisi tubuhnya masih terlalu lemah. Oleh karena itu, jika larva anak ikan akan dipindahkan ke kolam/bak lain sebaiknya dilakukan bila anak ikan sudah dapat bergerak cepat dan sudah dapat mencari makan sendiri. Kolam/bak penetasan telur pada prinsipnya sama dengan kolam pemeliharaan induk dan kolam pemijahan, hanya ketinggian aimya yang berbeda.

Gambar 6. kolam penetasan secara alami dengan substrat/penempel Telur dari tumbuhan air.

Ketinggian atau kedalaman air pada kolam/bak penetasan dan perawatan larva hanya sekitar 30 - 40 cm. Kolan/bak penetasan telur dilengkapi dengan aerator dan heater. Kolam penetasan ini dapat digantikan dengan akuarium yang berkapasitas 40 liter air. Akuarium yang digunakan untuk penetasan telur juga harus dilengkapi dengan aerator/blower, heater, dan selang untuk mensifon air ketika membuang kotoran di dasar akuarium serta untuk mempermudah pembuangan air. 4. Kolam Pendederan Kolam pendederan pada prinsipnyajuga sama dengan kolam pemeliharaan induk. Kolam pendederan dapat sekaligus dipakai sebagai kolam pembesaran. Jika dipakai untuk pembesaran, maka harus diadakan penjarangan dengan cara mengurangi populasi benih dan benih ikan yang diambil dipelihara di kolam lain. Kolam pendederan benih sangat dianjurkan untuk memakai kolam dengan dasar tanah agar plankton dapat tumbuh dengan subur sehingga tersedia cukup banyak pakan alami yang dibutuhkan oleh benih ikan. Ukuran kolam pendederan dapat dibuat lebih luas, yakni 10 m x 10 m x 1,5 m dengan ketinggian air berkisar antara 60 - 80 cm. C. Penyiapan Induk Jantan dan Betina Calon induk ikan betutu yang akan dipijahkan harus diseleksi terlebih dahulu untuk mendapatkan induk ikan yang berkualitas baik dan memiliki produktivitas yang tinggi. Induk yang berkualitas tinggi akan menghasilkan keturunan yang berkualitas tinggi pula. Ikan betutu yang belum matang kelamin memang sangat sulit untuk dibedakan jenis kelaminnya, kecualijika kita sudah berpengalaman. Di samping memiliki kualitas yang baik, induk ikan betutu yang akan dipijahkan sebaiknya dipilih yang sudah matang kelamin (matang gonad). Ciri-ciri induk ikan betutu betina yang matang kelamin (matang gonad) adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. badan berwarna lebih gelap dan bercak-bercak hitamnya pekat, perut membesar ke arah anus dan bila diraba terasa lunak/empuk, papilla urogenitalis berwama merah cerah berupa tonjolan memanjang dan lebih gerakannya menjadi lebih lamban, sehat, tidak cacat, dan tidak mengalami luka-luka.

melebar serta membulat,

Sedangkan ciri-ciri induk ikan betutujantan yang matang kelamin (matang gonad) adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. badan berwarna lebih terans dan bercak-bercak hitamnya lebih terang (agak pucat) badan dan perut ramping, papilla urogenitalis berbentuk segitiga pipih dan kecil sehat, tidak cacat, dan tidak mengalami luka-luka. bila dibandingkan dengan yang betina,

serta berwarna kemerah-merahan, Induk ikan betutu betina ataupun indukjantan yang siap dipijahkan biasanya bemkuran 250 - 500 g dan panjang badan antara 30 - 40 cm. Calon induk ikan betutu tersebut dapat dipilih dari kolam pembesaran sendiri atau dari orang lain. Calon induk ikan betutu tersebut dipelihara secara tersendiri selama 30 hari dan diberi pakan yang cukup dengan kandungan protein minimal 40 %. D. Pemeliharaan Induk Ikan Betutu Induk ikan betutu yang akan dipijahkan hams diberokan terlebih dahulu. Artinya, induk jantan dan induk betina dipelihara secara terpisah di dalam kolam sendiri-sendiri. Setiap hari induk-induk ikan betutu tersebut diberi pakan alami berupa ikan-ikan kecil, udang air tawar atau cacahan daging ikan rucah, dan diberi pakan buatan dengan kadar protein 40 %. Air dalam kolam/bak pemeliharaan induk hams diganti sesering mungkin atau dialiri air secara terus-menerus. Dosis pemberian pakan kurang lebih 10 % dari berat total induk ikan setiap harinya. E. Tata Laksana Pemijahan Biasanya, induk ikan betutujantan dan betina yang telah matang kelamin dan dipelihara secara terpisah selama 30 hari dan diberi pakan yang cukup sudah siap untuk dipijahkan. Cara pemijahan ikan betutu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan alami dan pemijahan buatan (hipofysasi). 1. Pemijahan Alami Kolam yang akan dipakai untuk pemijahan alami hams dibersihkan dan dikeringkan di bawah sinar matahari terlebih dahulu hingga benar-benar kering. Biasanya, pengeringan dasar kolam dari tanah memerlukan waktu 5 - 7 hari, sedangkan kolam beton (permanen) membutuhkan waktu 1 - 3 hari. Setelah benar-benar kering, kolam segera diisi air secara cepat dan dasar kolam diberi tempat untuk menempelkan telur. Tempat untuk menempelkan telur dapat dibuat dari asbes ukuran 30 cm x 40 cm yang dibentuk prisma atau potongan pipa pralon berdiameter 5 dim atau tempayan yang agak besar.
Gambar 8. Kolam pemijahan ikan betutu secara massal yang dilengkapi Dengan tumbuhan air. Gambar 7. bak/kolam induk sekaligus untuk pemijahan Dan penetasan telur.

Perbandingan indukjantan dan induk betina (sex ratio) adalah 1 : 1. Artinya, satu indukjantan dijodohkan dengan satu induk betina. Setiap luas 1 m2 kolam idealnya dipakai untuk memijahkan 1 - 2 pasang induk. Namun, jika menginginkan pemijahan secara intensif, setiap m2 dapat dipakai untuk memijahkan 4 (empat) pasang induk dengan penambahan oksigen. Penambahan oksigen dapat dilakukan dengan cara memberi aerasi dengan menggunakan blower. Kolam dengan dasar tanah akanjauh lebih efektifbila dipakai untuk pemijahan secara alami. Biasanya, induk-induk ikan betutu yang telah matang kelamin akan memijah 1 - 3 hari dan telur-telur yang telah dibuahi akan terlihat menempel pada dinding asbes atau pipa pralon. 2. Pemijahan Buatan (Hipofisasi) Pemijahan induk ikan betutu dapat juga dilakukan dengan cara buatan (induced breeding). Bahan yang digunakan untuk pemijahan buatan adalah ekstrak hipofisa dari ikan donor yang biasanya menggunakan ikan mas atau ikan karper (Cyprinus carpio.L). Cara yang lebih praktis untuk pemijahan buatan adalah dengan menggunakan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotrophin). Ada beberapa merek hormon HCG yang sering digunakan untuk pemijahan buatan, antara lain Ovaprim C, Phota Hormon, Humigon, dan Prednil. Pelaksanaan pemijahan buatan pada ikan betutu sama seperti kawin suntik yang dilakukan pada ikan lele atau ikan lain, yaitu dengan menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa ikan donor. Perbandingan ikan donor dan ikan resipien untuk induk ikan betutu betina adalah 1 : 2. Artinya, setiap bagian berat induk betutu membutuhkan 2 bagian berat ikan donor. Sedangkan perbandingan donor dan resipien untuk induk ikan betutu jantan adalah 1 : 1. Penyuntikan ekstrak hipofisa dilakukan secara intra musculer pada bagian antara gurat sisi dan sirip punggung ke arah pangkal ekor. Untuk induk ikan betutu betina, penyuntikan dilakukan 2 kali dan selang waktu antara penyuntikan
Gambar 9. Skema urut-urutan Hipofisasi.

Keterangan : 1. 2. Potonglah kepala ikan dengan piau Berdirikan kepala ikan dan yang tajam tepat dibelakang insang. potonglah kepala secara membujur, tepat di atas mata. 3. Maka tampaklah kelenjar Hipophysa otak besar bagian belakang dibawah

sebesar biji merica berwama kekuningan, dan ambillah dengan sendok khusus atau

benda lain hati-hati jangan sampai kelenjar pecah. 4. 5. 6. 7. Tempatkan kelenjar tersebut ke dalam "Tissue Grender" dan geruslah dengan Berilah air 2 cc dengan spuit. Tuanglah ke dalam tabung reaksi. Masukkan tabung yang sudah ada cairan kelenjar Hipophysa ke dalam centrifuge penggerusnya sampai kelenjar pecah.

(bisa Centrifuge putar manual seperti dalam gambar, bisa pula dengan Centrifuge elektronik), putarlah 3 - 5 menit. 8. 9. 10. 11. Ambillah cairannya yangjemih dengan menggunakan Spuit. Suntikkan pada bagian punggung ikan, hati-hati jangan sampai menembus/merusak 8 (Delapan)jam kemudian ulangilah suntikan ini, kali ini baik induk betina maupun Lepaskan kedua induk yang telah disuntik kedalam Bak/Kolam pemijahan.

organ dalam ikan (Suntikan I ini hanya untuk ikan betina). induk jantan disuntik.

pertama dan penyuntikan kedua adalah antara 3 - 5 jam. Dosis penyuntikan pertama dan penyuntikan kedua masing-masing sebanyak 50 % dari ekstrak hipofiysa. Penyuntikan induk ikan betutu jantan dilakukan bersamaan dengan waktu menyuntik induk betina yang kedua kalinya. Pada pemijahan buatan dengan hormon HCG, dosis penyuntikan pertama untuk induk ikan betutu betina adalah 4 - 5 iu per gram berat badan. Jika menggunakan hormon Ovaprim C, dosis penyuntikan pertama untuk induk ikan betutu betina adalah 0,5 cc untuk tiap kilogram berat tubuh). Penyuntikan kedua dilakukan setelah 24 jam dengan dosis Vz dari penyuntikan pertama. Pada saat induk betina dilakukan penyuntikan yang kedua, induk ikan betutu jantan disuntik dengan dosis Vi dari penyuntikan pertama. Pemijahan ikan betutu dengan kawin suntik amat sulit dilakukan tindakan stripping karena sifat telurnya disemprotkan oleh induk betina dan dilekatkan pada suatu substrat. Pengambilan sperma induk ikan jantan juga sulit dilakukan stripping karena hams dilakukan pembedahan. Oleh karena itu, setelah dilakukan penyuntikan induk ikan betina dan induk ikan jantan sebaiknya langsung dimasukkan ke dalam kolam atau bak pemijahan yang telah dilengkapi dengan alat untuk melekatkan telur dan dibiarkan memijah sendiri (secara alami). Satu pasang induk memerlukan 1 (satu) alat penempel telur. Selama proses pemijahan, pengontrolan alat penempel telur harus dilakukan setiap hari. Biasanya, dua hari setelah penyuntikan induk-induk tadi akan memijah dan telur-telumya akan terlihat memenuhi permukaan dalam alat penempel. Warna telur ikan betutu adalah putih keabu-abuan. Seekor induk ikan betutu betina seberat 300 - 500 g dapat menghasilkan telur sebanyak 20.000 40.000 butir. F. Penetasan dan Perawatan Telur

Telur yang telah dibuahi dapat ditetaskan di dalam akuarium yang berkapasitas 40 liter air. Akuarium yang digunakan untuk penetasan telur harus diberi aerasi yang tidak terlalu besar. Penetasan telur ikan betutu dapat juga dilakukan di dalam bak berukuran 1,5 m x 1,5 m sedalam 1 m. Penetasan telur ikan betutu di akuarium atau di bak penetasan dilakukan dengan cara memindahkan telur-telur yang menempel di alat penempel beserta alat penempelnya ke dalam akuariun atau bak penetasan. Akuarium atau bak penetasan telur tersebut harus diberi aerasi dengan blower yang tidak terlalu besar. Selama proses penetasan telur, kualitas air dalam akuarium atau bak harus selalu dikontrol dan sesering mungkin diganti. Jika memungkinkan, penggantian air dapat dilakukan dengan cara dialirkan secara terus-menerus. Akuarium atau bak penetasan harus diberi heater dan suhu air diusahakan tetap konstan 28C atau 26C. Pada suhu air tersebut, biasanya telur ikan betutu akan menetas dalam waktu 3 hari. Larva yang baru menetas berukuran rata-rata 3 mm dengan berat 0,2 mg. G. Perawatan dan Pemeliharaan Larva Larva ikan yang baru menetas dapat dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan atau dibiarkan di bak/akuarium penetasan beberapa waktu hingga kuat. Sisa-sisa telur yang tidak menetas dan kotorankotoran lain dibuang dengan cara disifon memakai selang. Larva ikan yang baru menetas belum memerlukan pakan tambahan karena masih memiliki persediaan makanan berupa kuning telur (yolk shell). Persediaan makanan tersebut akan habis setelah 4 hari dihitung sejak menetas. Oleh karena itu, pada hari ke-5 setelah menetas larva ikan sudah harus diberi pakan tambahan berupa emuisi kuning telur ayam yang direbus. Pembersihan (penyifonan) bak atau akuarium pemeliharaan larva ikan harus dilakukan minimal 4 kali sehari dan penggantian sebagian air ( 35%) dilakukan setiap hari. Dosis emuisi kuning telur adalah 1 butir sehari setiap bak atau akuarium dan diberikan sedikit demi sedikit setiap 3 jam. Pemberian pakan yang lebih baik lagi adalah dengan membuat kultur plankton dalam bak khusus. Cara kultur plankton di dalam bak khusus dilakukan dengan merendam kotoran ayam dengan dosis 1 kg/m2 kolam, kemudian ditambah dengan 0,1 kg kapur tohor dan diairi sampai setinggi 0,5 m. Setelah 10 hari, air dalam bak ditambah dengan 5 ember air sawah atau air comberan yang banyak mengandung-plankton, kemudian dibiarkan tumbuh selama 5 - 7 hari. Bak kultur plankton yang telah ditumbuhi plankton akan berwarna hijau kecoklat-coklatan. Air kultur plankton dialirkan ke dalam bak larva atau akuarium setiap jam selama 1 - 2 menit. Plankton yang biasa dimakan oleh larva ikan betutu adalah Chlorella sp., Rotifera sp., Sufosutoria, dan Moina sp. Setelah larva betutu berumur 15 - 20 hari barn diberi kultur Daphnia sp., Cyclops sp., dan Artemia sp. Pada saat larva ikan mencapai ukuran 3 - 5 cm dapat diberi cacing sutra atau tepung ikan. Jika perawatan larva ikan dilakukan di akuarium, penjarangan populasi larva harus dilakukan terusmenerus. Selama pemeliharaan larva suhu hams dijaga supaya tetap stabil antara 27 C - 28C, keasaman (pH) air 7 - 7,2 dan penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 40 %.

Gambar 10. Corong Penetasan Daphina

Gambar 11. Akuarium Penetasan telur dan pemeliharaan Larva yang dilengkapi aerator dan heater.

H. Pemeliharaan Benih (Pendederan) Larva ikan betutu yang telah bemmur 15 - 20 hari dapat dipindahkan ke kolam pendederan untuk dibesarkan hingga mencapai ukuran benih yang siap untuk dibesarkan di kolam pembesaran. 1. Persiapan Lahan Pendederan Persiapan lahan pendederan untuk larva ikan betutu tidak jauh berbeda dengan persiapan lahan untuk pendederan jenis ikan lain. Persiapan lahan pendederan di lakukan dengan cara mencangkul dan membalik-balik tanah dasar kolam, kemudian dibajak dan di biarkan terkena panas matahari selama beberapa hari agar mendapat kesempatan untuk melakukan pertukaran gas dan membunuh hama serta bibit penyakit.

Gambar 12. Penyiapan kolam pendederan

Setelah dasar kolam benar-benar kering dapat dilakukan pengapuran dan pemupukan. Pengapuran dasar kolam dapat menggunakan kapur tohor (kapur pertaman) dengan dosis 300 - 500

g/m2 dasar kolam. Pengapuran dasar kolam, selain untuk mematikan bibit penyakit, bertujuan untuk menstabilkan keasaman (pH) tanah dasar kolam. Setelah dasar kolam diolah, dikeringkan, dan dikapur, kemudian dilakukan pemupukan. Pemupukan dasar kolam dapat menggunakan pupuk kandang (kotoran ayam) atau dedakpadi dengan dosis 1 kg/m2 dasar kolam. Kolam pendederan yang telah dipupuk diisi air sampai setinggi 30 cm kemudian biarkan selama 15 hari hingga wama air kolam menjadi hijau kecoklat-coklatan. Setelah air kolam berwama hijau kecoklat-coklatan kemudian kolan diisi air lagi sampai setinggi 60 - 100 cm. Pemupukan ulang dapat dilakukan setiap 15 - 12 hari dengan menggunakan pupuk buatan (anorgamk) seperti Urea atau TSP dengan dosis 20 - 30 g/m2 tanah dasar kolam. 2. Pemindahan Benih ke Kolam Pendederan Pemindahan benih ikan betutu dari kolam pembenihan ke kolam pendederan dilakukan setelah benih tersebut berukuran 2 - 5 cm. Pengambilan benih dari kolam pembenihan dilakukan dengan serok atau kolam dikeringkan sebagian, kemudian benih ikan diserok dengan waring atau seser dan dimasukkan ke dalam ember untuk ditebarkan di kolam pendederan. Untuk memacu pertumbuhan, padat penebaran benih ikan di kolam pendederan yang ideal adalah 50 ekor/m2. Pakan untuk benih ikan selama dipelihara di kolam pendederan, selain alami berupa plankton, dapat ditambah dengan pakan berupa anak ikan seribu (Lebistes sp), ikan gambusa udang liar air tawar, dan ikan lain yang berukuran lebih kecil daripada benih betutu itu sendiri. Setelah berukuran 7 - 13 cm atau setelah 2 - 3 bulan pemeliharaan di dalam pendederan, benih ikan sudah siap untuk dibesarkan di kolam pembesaran. Pembesaran benih ikan betutu hingga mencapai ukuran konsumsi dapat langsung dilakukan di kolam pendederan atau di kolam pembesaran tersendiri. Jika pembesaran dilakukan langsung di kolam pendederan, maka populasi benih harus dikurang (dujarangkan). Padat penebaran yang ideal untuk pembesaran ikan betutu adalah berkisar antara 10 20 ekor/m2 air kolam, tergantung pada besar kecilnya debit air. Benih ikan yang dipanen dari kolam pendederan dapat juga dijual kepada konsumen (pengusaha) yang khusus melakukan usaha pembesaran Jika akan dijual lanagsung kepada pengusaha pembesaran ikan, maka benih-benih ikan tersebut tadi ditampung terlebih dahulu di dalam bak/kolam penampungan agar mendapatkan kesempatan untuk beristirahat selama 2 - 3 hari. Pada pengiriman (pengangkutan) jarak jauh, benih ikan harus dipuasakan terlebih dahulu selama 2 hari supaya selama dalam pengangkutan tidak banyak mengeluarkan kotoran. Sebab, kotoran benih ikan tersebut dapat menjadi racun bagi benih ikan itu sendiri. Pengangkutan benih ikan dapat dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 50 x 60 cm dengan ketebalan 2 mm. Kantong plastik diisi air bersih sebanyak 1/3 bagian, kemudian diisi benih ikan sebanyak 2 - 3 kg/kantong. Kantong plastik yang telah diisi benih ikan tersebut diisi oksigen sampai penuh, kemudian bagian ujung plastik diikat dengan karet agar oksigen di dalamnya tidak keluar. Benih ikan betutu telah siap untuk dikirim ke tempat tujuan. BAB IV PEMBESARAN IKAN BETUTU

Tujuan pembesaran ikan adalah untuk membesarkan benih ikan dari ukuran 7 - 12 cm dari kolam/bak pendederan hingga mencapai ukuran konsumsi ( 400 1.000 g/ekor) yang siap untuk dipasarkan/dijual kepada konsumen. A. Lokasi Pembesaran Pembesaran ikan betutu dapat dilakukan langsung di kolam/bak pendederan dengan syarat padat penebaran dikurangi, yakni dari 50 ekor/m2 menjadi 10 - 20 ekor/m2. Pembesaran ikan betutu dapat juga dilakukan di kolam/bak permanen atau kolam tanah, di empang, di sungai, rawa, danau, waduk, atau dam dengan sistem karamba. Ukuran karamba untuk pembesaran ikan betutu dapat dibuat dari kayu atau bambu dengan ukuran 2 m x 4 m x 1 m menggunakan jaring yang terbuat dari poly ethilen.

Gambar 13. Karamba untuk pembesaran ikan. Jala karamba tancap

Jala karamba apung dengan pengapung dari drum dan dilengkapi Gudang/rumah jaga.

Pembesaran ikan betutu yang dilakukan di sungai dengan sistem karamba harus memperhatikan arus air agar karamba tersebut tidak mengganggu aliran sungai atau arusnya dibuat seminimal mungkin. Jika pembesaran ikan betutu menggunakan jala/jaring tancap atau jala/jaring apung, ukurannya dapat dibuat lebih luas daripada ukuran karamba. Jala/jarring tancap atau jala/jaring apung umumnya mempunyai ukuran 7 m x 7 m x 2 m atau 10 m x 10 m x 2,5 m. B. Metode Pembesaran Ditinjau dari jenis pakan yang diberikan, metode pembesaran ikan betutu dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yakni pembesaran dengan pakan alami dan pembesaran dengan pakan buatan. 1. Pembesaran ikan betutu dengan pakan alami dilakukan dengan pemberian pakan hidup berupa ikan-ikan lain dan cacahan daging. Jenis ikan yang dapat diberikan pada ikan betutu antara lain ikan seribu, gambusa, udang liar air tawar, dan anak ikan mujahir. Sedangkan cacahan daging yang dapat diberikan pada ikan betutu antara lain cacahan usus

ayam cacahan daging bekicot, dan lain-lain. Dosis pemberian pakan alami biomassa/hari. 2.

5 % dari

Pembesaran ikan betutu dengan pakan buatan pabrik yang berbentuk poor/crumble

atau pellet dengan kadar protein minimal 20 %. Dosis pemberian pakan adalah 5 % - 10 % berat total ikan yang dibesarkan. Ditinjau dari tempatnya, pembesaran ikan betutu dapat dilakukan dengan dua cara, yakni pembesaran di perairan umum dan pembesaran di perairan terbatas. 1. 2. Pembesaran ikan betutu di perairan umum dilakukan dengan menggunakan perairan Pembesaran ikan betutu di perairan terbatas dilakukan di kolam/bak permanen, di umum sebagai media dengan metode karamba atau jala/jaring apung. kolam pekarangan, atau di empang. C. Pengiriman Benih ke Kolam Pembesaran Pengiriman atau pengangkutan benih ikan betutu ke kolam pembesaran harus dilakukan dengan benar agar tidak menimbulkan kematian pada benih tersebut. Kematian benih yang diakibatkan karena sistem pangiriman atau pengangkutan yang tidak benar biasanya terjadi 2 - 5 hari setelah benih tersebut ditebarkan di kolam pembesaran. Teknik pengiriman atau pengangkutan benih ikan betutu ke kolam pembesaran dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara sebagai berikut. 1. Pengiriman Benih Ikan Jarak Defeat (Kurang dari 3 Jam) Pengiriman benih ikan betutu ke kolam pembesaran dengan jarak tempuh kurang dari 3 jam relatiflebih mudah dan lebih sederhana. Caranya, bak/kolam pendederan benih dikeringkan sebagian hingga hanya tinggal yang di caren/kemalimya saja. Anak-anak ikan betutu yang terkumpul di caren/kemalir diserok dengan seser atau waring, kemudian dimasukkan ke dalam ember yang telah diisi air bersih. Ember yang telah berisi benih ikan langsung dibawa ke kolam pembesaran dan ditebarkan dengan cara diadaptasikan terlebih dahulu dengan air kolam pembesaran. Adaptasi benih ikan betutu dengan air kolam pembesaran dilakukan dengan cara mencampur air dalam ember yang berisi benih ikan dengan air kolam setempat sedikit demi sedikit sampai sebagian besar air dalam ember terisi air dari kolam pembesaran. Jika benih ikan sudah tidak kelihatan gelisah, maka benih ikan tersebut dapat dituangkan ke dalam kolam pembesaran. Padat penebaran benih ikan adalah 10 20 ekor/m2 air kolam, tergantung pada besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam pembesaran. Makin besar debit air yang masuk ke dalam kolam pembesaran, padat penebaran benih makin banyak. Pengiriman atau pengangkutan dan penebaran benih ikan betutu ke keramba dilakukan dengan cara yang sama.

Gambar 14. Menyerok benih ikan betutu Di kolam yang luas.

2. Pengiriman Benih Ikan Jarak Jauh (Lebih dari 3 Jam) Pengiriman benih ikan ke tempat pembesaran yang jaraknya jauh, misalnya keluar kota yang memerlukan waktu lebih dari 3 jam), sebelum benih ikan dipanen atau diangkut sebaiknya dipuasakan (tidak diberi makan sama sekali) selama 2 hari - 3 hari. Kemudian, bak/kolam pendederan dikuras hingga airnya tinggal yang berada di caren/kemalir. Benih ikan yang berada di caren/kemalir diambil dengan cara diserok, kemudian dimasukkan ke dalam bak fiberglass atau ember besar yang telah diisi air bersih dan diaerasi dengan aerator atau blower. Benih ikan yang telah dipuasakan dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 50 x 60 cm dengan ketebalan 2 mm. Kantong plastik diisi air bersih yang telah di aerasi sampai V^ bagian dan diisi benih ikan 2 - 3 kg/kantong. Kemudian, kantong plastik diisi oksigen sampai penuh dan bagian ujung plastik diikat dengan karet. Dengan demikian, benih ikan betutu telah siap untuk dikirim ke tempat yang jauh. Pengangkutan benih ikan jarak jauh dilakukan dengan kantong plastik sebaiknya di antara sela-sela tumpukan kantong plastik diberi es batu supaya udara menjadi dingin. Dengan cara demikian, menurut pengalaman penulis, benih ikan tahan dalam pengangkutan selama 12 jam. Setibanya di tempat pembesaran, baik bempa kolam maupun karamba, benih ikan diadaptasikan terlebih dahulu dengan air kolam. Caranya, kantong plastik sebelum dibuka diapungkan/dimasukkan ke dalam air kolam selama 10 - 15 menit supaya temperatur air di dalam kantong plastik sama dengan temperatur air kolam/karamba pembesaran. Setelah temperatur air dalam kantong plastik sama dengan temperatur air kolam, ikatan kantong plastik dibuka dan diisi air kolam sedikit demi sedikit hingga hampir penuh. Kemudian, kantong plastik yang telah terbuka dan diisi air kolam dimasukkan ke dalam kolam pembesaran dan benih ikan dibiarkan keluar dari kantong plastik dan masuk ke dalam kolam. D. Tata Laksana Pembesaran Pembesaran ikan Betutu dapat dilakukan di kolam/empang atau di karamba. Adapun tata laksana pembesaran ikan betutu di kolam/empang atau di karamba adalah sebagai berikut :

1. Pembesaran di Kolam/Empang Ukuran kolam/empang yang ideal untuk pembesaran ikan betutu adalah seluas 10 m x 10 m dengan kedalaman 125 cm dan diisi air sampai pada ketinggian 80 cm - 100 cm. Kolam/empang ini perlu dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Saluran pemasukan dan pengeluaran air untuk kolam/bak permanen dapat dibuat dari pipa pralon yang diberi knee sehingga memudahkan pengaturan ketinggian air. Pembesaran ikan betutu di kolam tanah perlu disiapkan dengan baik sebelum ditebari benih ikan. Persiapan untuk kolam tanah meliputi pengolahan tanah dasar kolam. Proses pengolahan tanah dasar kolam pembesaran sama dengan pengolahan tanah dasar kolam pendederan, yakni dicangkul dan dibolak-balik, dibajak, kemudian dikeringkan beberapa hari hingga benar-benar kering. Setelah dasar kolam benar-benar kering dapat dilakukan pengapuran dan pemupukan. Pengapuran dasar kolam dapat menggunakan kapur tohor (kapur pertanian) dengan dosis 300 - 500 g/m 2 dasar kolam. Pengapuran dasar kolam, selain untuk mematikan bibit penyakit, bertujuan untuk menstabilkan keasaman (pH) tanah dasar kolam. Setelah dasar kolam dikapur, kemudian dipupuk dengan menggunakan pupuk kandang (kotoran ayam) atau dedak padi dengan dosis 1 kg/m2 dasar kolam.

Gambar 15. Pembesaran ikan betutu dikolam permanen.

Kolam pendederan yang telah dipupuk dapat segera diisi air sampai setinggi 30 cm, kemudian biarkan selama 15 hari hingga wama air kolam menjadi hijau kecoklat-coklatan. Setelah air kolam berwama hijau kecoklat-coklatan, kemudian kolam diisi air lagi sampai setinggi 80 - 100 cm. Dengan demikian, kolam pembesaran telah siap untuk ditebari benih ikan betutu. Padat tebar benih ikan adalah 10 - 20 ekor/m2 dan setiap hari diberi pakan tambahan berupa ikan rucah, isi perut ikan, teri tawar, atau anak ikan. Dosis pakan 5% dari berat biomassa per hari. Pemupukan ulang dapat dilakuk setiap 15 - 12 hari dengan menggunakan pupuk buatan (anorganik) seperti Urea atau TSP dengan dosis 20 - 30 g/m2 tanah dasar kolam. Pembesaran ikan betutu dapat juga dilakukan secara tumpang sari dengan jenis ikan lain, misalnya ikan nila atau ikan mujair. Caranya, setelah kolam disiapkan dan diisi air, ikan nila atau ikan mujahir dimasukkan ke dalam kolam/empang tersebut dengan padat penebaran 10 ekor/m2, kemudian ditebari udang liar air tawar sebanyak-banyaknya. Satu bulan setelah penebaran ikan dan udang, benih ikan betutu ditebar. Tujuan tumpang sari ini adalah agar anak ikan nila, mujahir, dan udang berbiak dan anak-anaknya menjadi makanan bagi benih ikan betutu. Dengan cara ini, maka kita tidak setiap kali hams menabur pakan hidup, tetapi cukup memberi pakan untuk ikan nila, mujahir, dan udang liar dengan pakan dedak/katul.

Gambar 16. pembesaran ikan betutu diempang dari tanah

Benih ikan betutu dapat juga diberi pakan buatan berupa pallet dengan ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut benih ikan betutu tersebut. Jika benih belum terbiasa makan pallet hams dilatih terlebih dahulu. Caranya, benih ikan betutu dilaparkan terlebih dahulu, kemudian diberi makan cacahan daging ikan mcah yang dicampur pallet. Secara bertahap, setiap kali kita memberi makan, persentase campuran pallet ditambah sampai keseluruhan makanan hanya melulu pallet. Dosis pakan bempa pellet 5 % dari biomassa ikan setiap hari. Usaha pembesaran ikan betutu di kolam/empang sebaiknya air kolam diganti sesering mungkin dan tiap penggantian air diusahakan 20 % setiap harinya. Akan lebih baik lagijika ke dalam kolam/empang diberi potongan pipa pralon, ban bekas, atau asbes yang dibentuk prisma sebagai tempat ikan betutu berlindung. 2. Pembesaran di Karamba Pembesaran ikan betutu dapatjuga dilakukan di dalam karamba, baik karamba kayu, bambu, atau jala karamba (jala karamba tancap atau jala karamba apung). Ukuran karamba kayu atau bambu dapat dibuat 2,5 m x 2,5 m x 1,5 m atau sedikit lebih besar asal tidak mengganggu aliran sungai, kecuali bila ditempatkan di danau, rawa, atau waduk/dam. Ikan betutu umumnya lebih banyak diam, maka penempatan karamba dianjurkan untuk ditempatkan di pinggir sungai yang arusnya tidak begitu deras. Demikian pula, penempatan karamba di danau atau waduk dan telaga sebaiknya dipilih tempat yang arus airnya hanya sedikit. Dalam pembesaran ikan betutu di karamba, arus air ini tetap diperlukan karena pergantian air akan lebih terjamin dan penambahan kandungan oksigen punjuga lebih terjamin, walaupun arus air tersebut hanya akibat dari dorongan angin.

Ukuran benih ikan betutu yang dibesarkan di karamba sebaiknya agak lebih besar, yaitu 125 - 150 g/ekor dan padat penebaran 30 - 40 ekor/m2. Cara pemberian pakan sama seperti pemberian pakan pada benih ikan betutu yang dibesarkan di dalam kolam/empang. Pembesaran benih ikan betutu di karamba biasanya lebih cepat dibandingkan dengan pembesaran di kolam/empang. Setelah 8 bulan pemeliharaan, biasanya berat ikan sudah mencapai 400 - 1.000 g/ekor.

BAB V PANEN DAN PEMASARAN IKAN BETUTU Ikan betutu termasuk jenis ikan yang memiliki pertumbuhan sangat lambat. Sejak telur menetas hingga menjadi ikan betutu konsumsi membutuhkan waktu 20 - 24 bulan, tergantung pada sistem pemeliharaannya. Pemeliharaan ikan betutu yang dilakukan secara intensifdengan pemberian pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya, akan lebih cepat besar (mencapai ukuran konsumsi). Ukuran ikan betutu yang dikehendaki oleh pasar/konsumen biasanya minimal 25 - 30 cm dengan berat minimal 400 gram dan maksimal 1.000 gram. Namun ada yang mau menerima ikan Betutu sampai seberat 2 kg/ekor. A. Cara Panen Ikan betutu yang telah mencapai ukuran konsumsi dapat segera dipanen. Cara panen ikan betutu dapat dilakukan dengan dua cara, yakni panen selektif dan panen total. 1. Panen Selektif Panen selektif dilakukan bila ukuran atau besamya ikan dalam satu kolam pembesaran tidak seragam. Ketidakseragaman ukuran ikan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penebaran benih tidak bersamaan, ukuran benih tidak seragam, asal benih dan mutu benih berbeda. Panen selektif dapat dilakukan dengan cara mengurangi air kolam sampai 2/3 atau 3/4 bagian atau sampai punggung ikan kelihatan. Kemudian, alat pelindung (pipa pralon, ban bekas, atau benda lain) dan lubang-lubangnya ditutup dengan tangan. Ikan betutu yang berada dalam alat pelindung tersebut ditumpahkan ke dalam ember dan kita pilih yang ukurannya sesuai dengan permintaan konsumen. Pemanenan dengan cara demikian dilakukan secara berulang-ulang sampai ikan dalam kolam habis. Ikan betutu yang belum sesuai dengan permintaan konsumen dilepas lagi ke dalam kolam dan dipelihara lagi hingga mencapai ukuran konsumsi. Ikan-ikan betutu yang kita panen dimasukkan ke dalam bak penampungan yang ukurannya kecil, misalnya 2 m x 2 m x 1 m, yang telah diisi air bersih. Sedangkan kolam pembesaran yang berisi ikan sisa dialiri air lagi sampai setinggi 80 cm - 10 cm. Ikan-ikan tersebut kita pelihara lagi sampai mencapai ukuran konsumsi. ( 1 - 2 bulan lagi). 2. Panen Total Panen total dilakukan apabila ukuran ikan dalam satu kolam pembesaran relatif seragam. Keseragaman ukuran ikan dalam satu kolam pembesaran dapat terjadi apabila ukuran anak ikan yang ditebar relatif seragam, berasal dari kolam pembenihan yang sama, dan memiliki mutu yang relatif seragam. Panen total dapat dilaksanakan dengan cara mengeringkan kolam pembesaran dengan menyisakan sedikit air untuk sekedar ikan betutu yang belum terambil dapat bertahan hidup. Kemudian, semua ikan yang berada dalam kolam pembesaran ditangkap dengan menggunakan seser. Ikan-ikan yang telah ditangkap dimasukkan ke dalam bak penampungan, sedangkan ikan-ikan

yang masih kecil dipelihara lagi di kolam lain hingga mencapai ukuran konsumsi. Ikan-ikan yang ukurannya tidak kurang dari 250 gram dapat di sisipkan ke dalam ikan yang akan kitajual. Biasanya, konsumen masih dapat menerimanya asal ukurannya tidak kurang dari 250 gram dan jumlahnya tidak lebih dari 5 % dari total yang dikirim. B. Pemasaran dan Pengiriman Ikan Betutu Permintaan pasar terhadap ikan betutu sampai saat ini baru dapat dipenuhi sebanyak 2 % saja. Konsumen ikan betutu umumnya lebih menyukai ikan betutu yang masih dalam keadaan hidup. 1. Pemasaran Ikan Betutu Ikan betutu dapat dijual dalam bentuk bibit/benih ataupun dalam bentuk ikan konsumsi. Benih ikan betutu yang telah mencapai ukuran 9 - 12 cm dapat dijual kepada pengusaha pembesaran ikan betutu. Pengusaha pembesaran akan membesarkan benih ikan betutu tersebut hingga mencapai ukuran konsumsi. Penjualan ikan betutu ukuran konsumsi yang telah dipanen dapat dijual langsung atau melalui brooker/buyer ke pasar-pasar ikan, restauran-restauran di kota-kota besar, atau ke hotel-hotel yang menyajikan menu masakan ikan betutu. 2. Pengiriman Ikan Betutu Mengingat pembeli umumnya menghendaki ikan betutu dalam keadaan hidup, maka pengemasan dan transportasi/pengirimannya harus dilakukan dengan tepat dan benar. Ada 3 (tiga) macam teknik pengemasan dan pengangkutan ikan betutu, yakni sebagai berikut : a. Pengemasan dengan Kantong Plastik Pengemasan ikan betutu dengan kantong plastik sama seperti pengemasan ikan lain. Pengemasan ikan dengan kantong plastik umumnya dilakukan jika ikan tersebut akan dikirim ke daerah lain dengan jarak tempuh kurang dari 8 jam.

Gambar 18. pengemasan ikan betutu dengan kantong plastik. Ikan betutu ditimbang.

Ikan betutu dimasukkan ke dalam kantong plastik

Kantong plastik diisi oksigen

Kantong plastik yang digunakan biasanya berukuran 50 cm x 60 cm dengan tebal 2 mm. Kantong plastik tersebut diisi air hingga 1/3 bagian, kemudian diisi ikan betutu sebanyak 3 kg. Setelah kantong plastik diisi ikan, kemudian diisi oksigen dan ujung plastik bagian atas diikat dengan tali yang cukup kuat agar oksigen di dalamnya tidak keluar. Selama dalam pengangkutan, udara di sekeliling katong plastik diusahakan cukup dingin agar ikan tidak cepat mati karena kepanasan. Caranya, di antara tumpukan plastik yang telah terisi ikan diselipkan es batu yang di bungkus plastik rapat. Bila memungkinkan, kendaraan pengangkut ikan tersebut dilengkapi pendingin (AC) agar udara dalam kendaraan cukup dingin. b. Pengemasan Terbuka Pengemasan dan pengiriman ikan betutu secara terbuka ini lebih sederhana, tetapi memakan tempat lebih banyak. Alat pengemas yang digunakan adalah bak atau ember besar. Caranya, bak atau ember diberi alas lumut basah setebal 1 - 2 cm. Ikan betutu yang akan dikirim diatur di atas lumut secara berjajar (jangan sampai tertumpuk), kemudian di atas ikan ditutup lumut basah lagi setebal 1 2 cm. Selanjutnya, diisi ikan lagi dan ditutup lumut basah lagi. Demikian seterusnya hingga tiga lapis, tidak boleh lebih dari tiga lapis. Lapisan ikan yang teratas juga ditutup lumut basah. Bak atau ember yang telah diisi ikan betutu yang dilapisi lumut basah sudah siap untuk dikirim ke tempat tujuan. Pengiriman ikan betutu secara terbuka menggunakan bak atau ember ini hams disediakan air untuk memerciki ikan selama dalam perjalanan. Pemercikan air ini harus dilakukan minimal setiap 2 jam sekali agar lumut penutup ikan tetap basah sampai di tempat tujuan. Bila memungkinkan, mobil yang digunakan untuk mengangkut ikan dilengkapi pendingin (AC). Jika mobil pengangkut tersebut tidak ada pendinginnya (AC), maka dapat disediakan es batu yang dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam ember air sehingga air yang dipercikkan berupa air dingin. Menurut pengalaman penulis, pengangkutan ikan betutu secara terbuka dalam bak atau ember yang dilapisi lumut basah bisa bertahan hidup lebih 12 jam. c. Pengemasan Tertutup Tanpa Air Pengemasan dan pengangkutan secara tertutup tanpa air banyak dilakukan oleh para pedagang (eksportir) ikan betutu yang melakukan pengiriman ikan menggunakan pesawat terbang. Pengemasan dan pengangkutan ikan secara tertutup tanpa air ini lebih praktis, lebih ringan, tidak memakan banyak tempat, dan menghemat biaya. Pengemasan secara tertutup tanpa air dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1.
2.

Isilah bak dengan air bersih, kemudian beri es batu dan aduk sampai suhu air didalam

bak turun menJadi 19C atau lebih rendah lagi sampai 160C atau 150C. Masukkan ikan-ikan betutu yang sudah dipuasakan selama 3 hari (tanpa diberi makan sama sekali) ke dalam bak yang berisi air dingin tadi dan biarkan terendam air sampai 30 50 menit 3. Siapkan kantong plastik dengan ukuran 35 x 55 cm dengan ketebalan 2mm Isilah kantong plastik tersebut dengan es batu dibungkus kertas dibungkus kertas

4.
5. 6. 7.

buram seberat 350 gram atau kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ambil ikan betutu dari bak sebanyak 3 kg dan masukkan ke dalam kantong plastik Isilah kantong plastik dengan gas oksigen sampai penuh dan ikat ujung kantong Masukkan kemasan ikan dalam kantong plastik tersebut ke dalam stryrofoam atau dos yang telah berisi bungkusan es batu. plastik bagian atas dengan karet supaya gas oksigen tidak keluar. ukuran 40 cm x 60 cm x 40 cm. susun kemasan plastik yang telah berisi ikan betutu sampai terisi 4 kemasan. 8. Sebelum stryrofoam atau dos ditutup, selipkan es batu yang dibungkus Plastik rapat supaya udara di dalam stryrofoam atau dos awet dingin Dengan demikian, stryrofoam atau dos telah siap diangkut. Stryrofoam atau does berisi ikan dapat ditumpuk tanpa takut plastiknya pecah. Pengangkutan sepertiini, menurut pengalaman para eksportir, ikan betutu dapat bertahan hidup dengan baik selama 12 - 15 jam.

BAB VI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT Hama dan penyakit yang sering menyerang ikan betutu hampir sama dengan hama dan penyakit yang menyerang jenis ikan lain. Pada bab ini hanya akan dibahas mengenai beberapa jenis hama dan penyakit penting yang sering menyerang ikan betutu, cara mengendatikan, dan cara mengobatinya apabila ikan sudah terlanjur terserang oleh hama ataupun penyakit. A. Jenis-jenis Hama dan Cara Pengendaliannya Hama adalah organisme yang memangsa langsung mangsanya. Organisme tersebut biasanya lebih besar dan lebih ganas bila dibandingkan dengan organisme yang dimangsanya. Jenis hama yang sering menyerang ikan betutu adalah ular air, bumng pemakan ikan, ikan gabus, ikan lele. ikan bawal air tawar (Colossoma.sp.), bahkan ikan betutu itu sendiri yang memiliki ukuran jauh lebih besar. Pengendalian hama-hama tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Mengkontrol kolam sebelum benih ikan betutu ditebar dan menyingkirkan atau menangkap dan membuang semua organisme yang membahayakan benih ikan betutu yang ditebarkan di kolam. 2. 3. 4. Menebar benih ikan betutu yang ukurannya seragam untuk mencegah terjadinya Memasang saringan pada saluran pemasukan dan saluran pengeluaran air agar hama Memberantas semua hama yang berada dalam kolam ikan dengan jalan ditangkap, kanibalisme di antara ikan betutu sendiri. yang membahayakan ikan betutu tidak masuk ke dalam kolam. kemudian dibuang jauh-jauh dari areal kolam. B. Jenis-Jenis Parasit dan Cara Pengendaliannya Organisme parasit memiliki ukuran lebih kecil daripada ikan yang diserangnya. Organisme parasit biasanya bersifat mengisap makanan dari tubuh ikan yang diserang. Organisme parasit ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu ekstoparasit dan endoparasit. 1. Ekstoparasit Ekstoparasit adalah parasit yang menyerang bagian luar tubuh ikan, misalnya Lernaea sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactilus sp., dan Argulus sp.(kutu ikan). Parasit-parasit tersebut cukup berbahaya bagi ikan betutu karena luka yang ditimbulkan dapat memberijalan bagi masuknya bakteri, virus, dan jamur yang akan menimbulkan infeksi. Pengendalian ekstoparasit dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. 2. Melakukan sanitasi kolam secara berkala dan teratur, yakni pengolahan kolam dan Melakukan penggantian air kolam sesering mungkin agar kualitas air kolam tetap pengapuran setiap 2 - 3 bulan sekali. terjamin.

3.

Membersihkan semua kotoran (sampah/sedimen) yang berada di dalam kolam agar

tidak menjadi tempat berkembangbiaknya parasit yang membahayakan ikan. Sedangkan pemberantasan ekstoparasit dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Bila ikan yang terserang masih sedikit, pemberantasan ekstoparasit dilakukan secara mekanis, yakni mengambil parasitnya dengan pinset lalu mengambil parasitnya dengan pinset lalu mengobati luka-luka pada ikan yang diserang dengan betadin atau obat-obatan sejenisnya. 2. Bila ikan yang terserang sudah bersifat massal, pengobatan dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut :

a. b.

Larutkan 20 kg garam dapur ke dalam 1 m 3 air bersih, kemudian ikan-ikan yang terserang penyakit parasiter dicelupkan ke dalamnya selama 5 menit. Setelah dicelupkan ke dalam larutan garam dapur, ikan dikembalikan lagi ke dalam kolam yang telah disanitasi. Ikan yang terserang ekstoparasit dapat juga diobati dengan larutan obat Dipterex dengan dosis 0,5 - 1 ppm (0,5 - 1 cc) untuk 1 m 3 air. Celupkan ikan-ikan betutu yang terserang ekstoparasit ke dalamnya selama 24 jam. Bila dilakukan di dalam kolam tanpa memindahkan atau mengentaskan ikannya, dosis obat yang diberikan dihitung berdasarkan volume air kolam. Misalnya, kolam berukuran 10 m x 10 m dengan kedalaman 1 m, maka obat Dipterex yang diberikan sebanyak 100 gram yang dimasukkan ke dalam kolam secara merata. Kemudian, air kolam diaduk-aduk agar obat Dipterex yang diberikan dapat tercampur air kolam secara merata. Selama dilakukan pengobatan, kolam tidak dialiri air selama 22 - 24 jam. Setelah itu, kolam dapat dialiri air dengan cara digelontor.

c.

Cara lain adalah dengan menggunakan PK (Permanganat Kalicus) atau KMNO 4, dengan dosis 100 ppm. Caranya, buat larutan 100 gram PK ke dalam 100 liter air bersih atau aquades, kemudian ikan yang terserang ekstoparasit dicelupkan ke dalam larutan tersebut selama 10 menit. Kemudian, ikan dimasukkan lagi ke dalam kolam yang telah disanitasi.

2. Endoparasit Endoparasit menyerang ikan betutu dari bagian dalam tubuh ikan dengan cara masuk ke dalam daging ikan atau usus sehingga menimbulkan bisul-bisul Contoh endoparasit adalah cacing dari golongan Trematoda. Gejala serangan endoparasit sulit dideteksi sehingga penanganannya senng terlambat. Apalagi, ikan betutu termasukjenis ikan camivor, sehingga mudah sekali terserang endoparasit. .

Pengobatan endoparasit sangat sulit dilakukan lewat mulut (melalui makanan). Ikan betutu yang tidak biasa makan jenis makanan buatan sulit dilakukan pengobatan. Bagi ikan betutu yang sudah dibiasakan makan makanan tambahan berupa pellet pengobatan dapat dilakukan dengan cara mencampur obat ke dalam pellet tersebut. C. Jenis Penyakit dan Cara Pengendaliannya Penyakit yang menyerang ikan merupakan interaksi yang sangat kompleks antara lingkungan, organisme patogen, dan penanganan budi daya itu sendiri Jika kondisi ikan dan lingkungan memungkinkan berkembangnya organisme pengganggu, maka ikan akan mudah terserang oleh penyakit Misalnya, air tempat budi daya kotor, penuh sampah, keruh, air jarang diganti, dasar dan tepi kolam terialu kasar/tajam sehingga mengakibatkan luka pada ikan. Luka-luka pada tubuh ikan memungkinkan basil-basil penyakit melakukan penetrasi ke dalam tubuh ikan. Penyakit pada ikan dapat juga terjadi karena nutrisi pakan yang diberikan kurang, baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Kondisi lingkungan budi daya yang tidak memenuhi syaratjuga dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, misalnya suhu air dan pH air yang tidak cocok bagi kehidupan ikan). Penyakit seperti ini disebut penyakit non-infeksi Secara sederhana, proses terjadinya penyakit dapat digambarkan sebagai Berikut.

Lingkunga n

Patogen

Ikan

Penyakit

Secara umum, tanda-tanda ikan betutu yang terserang suatu penyakit adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. nafsu makan menurun drastic memisahkan diri dari kelompoknya dan sering mengambang di permukaan air gerakannya menjadi sangat lamban (ogah-ogahan) bernafas tersengal-sengal (Jw : megap-megap) atau dropshy seperti kekurangan

4.
oksigen 5.

warna kulit pucat, timbul luka-luka, lendimya hilang (kesat) atau sangat berlendir, dan

seringkali kulitnya melepuh. 1. Penyakit Tidak Menular Ada beberapa jenis penyakit ikan, termasuk ikan betutu, yang tidak menular, antara lain luka, penyakit keturunan (herediter), dan penyakit kurang nutrisi. a. Luka

Luka pada ikan dapat disebabkan oleh gesekan dengan bagian kolam yang kasar/tajam, perlakuan yang kasar, dan gigitan organisme lain termasuk perkelahian antar ikan itu sendiri. Terjadinya perlukaan pada ikan dapat dicegah dengan cara sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Membuat kolam ikan sedemikian mpa sehingga kemungkinan untuk dapat Memindahkan ikan dengan hati-hati agar ikan tidak mudah mengalami stress. Memberikan pakan yang cukup, baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Mengatur padat penebaran yang sesuai dengan kapasitas kolam pemeliharaan (padat menimbulkan luka sangat kecil.

penebaran tidak terlalu tinggi). 5. 6. menit. b. Penyakit Keturunan (Herediter) Penyakit keturunan (herediter) disebabkan oleh faktor keturunan, misalnya scoliosis dan kerdil. Pencegahan penyakit keturunan dapat dilakukan dengan menghindari terjadinya perkawinan dalam satu keturunan (inbreeding). c. Penyakit Kurang Nutrisi Ikan yang menderita kurang nutrisi biasanya menjadi kurus, kepalanya besar, badannya menjadi pipih, dan kerdil. Pencegahan sekaligus pengobatan terhadap ikan yang menderita kurang nutrisi dapat dilakukan dengan cara pemberian pakan yang cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya. Ikan yang sudah terlanjur menjadi kerdil karena kekurang nutrisi sangat sulit untuk dipulihkan. 2. Penyakit Menular Penyakit menular dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) golongan besar berdasarkan pada organisme patogennya, yakni penyakit viral, penyakit bakterial, penyakit mikotik, dan penyakit parasiter protozoa. a. Penyakit Viral Penyakit viral adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus. Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit viral adalah nafsu makan menurun, hidup menyendiri, gerakannya lamban, dropshy, badannya kesat atau sangat berlendir, kulitnya melepuh dan timbul mozaik berwama merah, hijau, dan lain-lain, tergantung pada jenis virusnya. Pencegahan penyakit viral pada ikan betutu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. 2. Pemberian pakan yang cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya. Sanitasi kolam secara teratur, minimal 3 bulan sekali. Menjaga kebersihan kolam agar bibit penyakit tidak dapat berkembang di dalam kolam Ikan yang terlanjur mengalami perlukaan diobati dengan Betadine atau sejenisnya

pemeliharaan ikan. yang dioleskan pada luka-luka tersebut atau direndam ke dalam larutan PK 2 % selama 3 - 5

3. 4. 5.

Melakukan penggantian air kolam sesering mungkin, bila mungkin setiap hari air Menjaga kebersihan kolam agar tidak ada kotoran atau sampah yang dapat Ikan yang sudah terserang penyakit viral diambil dan dimusnahkan.

kolam diganti dengan cara dialiri. mengundang bibit penyakit. Pengobatan penyakit viral masih sulit dilakukan karena belum ditemukan jenis obat yang dapat menanggulangi pengakit viral. Namun, penyakit viral dapat dikurangi dengan penyuntikan Terramysin pada dosis 25 mg per kg berat tubuh ikan.

b. Penyakit Bakterial Adalah penyakit bakterial disebabkan oleh infeksi oleh bakteri. Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit bacterial hampir sama dengan tanda-tanda pada ikan terserang penyakit viral, tetapi tidak terdapat mozaik walaupun kulitnya juga melepuh. Penyakit bacterial sering juga disebut dengan furunculoses. Bakteri yang menginfeksi adalah dari species Aeromonas hidrophylla dan Pseudomonas.sp. Penyakit cacar adalah salah satu contoh penyakit yang ditimbulkan oleh kedua bacteri tersebut. Penyakit inilah yang paling umum menyerang semua jenis 1. 2. 3. abuan. 4. 5. Lendir banyak yang hilang (kesat) sehingga tubuh ikan terasa kasar dan gerakannya Semua sirip ikan mengalami kemsakan (Jw : gripis) atau pecah-pecah. menghentak-hentak. Pencegahan penyakit bakterial dapat dilakukan seperti pada penyakit viral. Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut. 1. 2. 3. Perendaman dengan larutan PK dosis 2% selama 10 menit Perendaman diulangi Penyuntikan dengan Oxytetracyclin HCl atau Teramycen dengan dosis 25 mgr tiap kg Pengobatan secara gabungan dari kedua cara tersebut di atas. setiap 3 hari sekali sampai sembuh. berat tubuh ikan. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung ikan arah ke belakang. ikan. Tanda-tanda ikan yang terinfeksi bakteri Aeromonas hidrophylla dan Pseudomonas.sp. adalah sebagai berikut. Permukaan badan, terutama perut dan pangkal sirip, berwama merah dan sering Kulit melepuh dan sisik hilang sebagian atau rusak. Insang msak dan warnanya berubah dari merah menj adi keputih-putihan atau keabuberdarah.

c. Penyakit Mikotik Penyakit mikotik disebabkan oleh infeksijamur. Tanda-tanda ikan terkena penyakit mikotik mirip dengan ikan terkena penyakit bakterial. Tanda-tanda khusus pada ikan yang terinfeksi jamur adalah

adanya benang-benang jamur (mycelium). Benang-benang tersebut seringkali sudah berbentuk anyaman seperti kapas yang menempel, kemudian disertai kulit ikan yang terserang mengelupas. Pada umumnya, jamur yang suka menyerang ikan adalah dari jenis Saphroregnia.sp. Pencegahan penyakit mikotik sama dengan pencegahan penyakit bacterial atau viral, ditambah dengan pemberian larutan garam dapur sebanyak 10 mgr per liter air. Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut. 1. 2. Perendaman ikan dengan larutan garam dapur pada dosis 20 gr per liter air bersih Perendaman dengan Methylen Blue pada dosis 5 ppm. Perendaman dapat dilakukan selama 5 menit. Perendaman diulangi setiap 2 hari sekali sampai sembuh. di dalam kolam tanpa memindahkan ikan. Perendaman dilakukan selama 3 jam dan selama perendaman tersebut diusahakan tidak ada air yang mengalir keluar atau masuk ke kolam. Setelah 3 jam, kolam dialiri air dengan debit diperbesar (digelontor). Pengobatan semacam ini dilakukan 2 hari sekali. d. Penyakit Parasiter Protozoa Penyakit parasiter protozoa disebabkan oleh serangan protozoa. Protozoa ini sebenamya termasuk ke dalam endoparasit, namun karena ukurannya yang mikroskopis dan selalu disertai degnan infeksi jamur, maka serangan protozoa ini senagja dimasukkan ke dalam kategori penyakit. Protozoa yang menyebabkan penyakit ikan pada umumnya dari species Ichthyopthitius mulsifilis.F. Protozoa ini amat kecil, sehingga hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Karena serangannya atau keberadaannya dalam jumlah banyak, maka pada badan ikan tampak seperti bintik-bintik putih, sehingga disebut sebagai penyakit bintik putih (White Spot Diseas). Protozoa ini sulit dikendalikan karena diselimuti oleh selaput lendir yang sulit ditembus larutan obat. Protozoa ini menyerang ikan di bawah selaput lendir yang merupakan benteng pertahanan utama bagi ikan. Jika kita ingin mengobatinya secara efektif dengan menggunakan obat, maka kita harus merusak selaput lendir ikan. Siklus hidup protozoa ini mengalami beberapa fase dan ada fase di mana protozoa ini "terpaksa" meninggalkan tubuh ikan. Pada fase inilah obat-obatan dapat menghancurkannya. Adapun fase-fase tersebut adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Fase parasiter : Pada fase ini, protozoa menempel dan menetrasi lapisan lendir ikan Fase pre-cyste : Pada fase ini, protozoa melepaskan diri dari tubuh ikan sehingga Fase cyste : Pada fase ini, protozoa membelah diri dan sangat sulit ditembus oleh sehingga sulit ditembus oleh larutan obat-obatan. dengan mudah dihancurkan dengan larutan obat. larutan obat karena dibentengi oleh lapisan lendir. Pada fase ini biasanya protozoa tersebut menempel pada benda-benda di perairan. 4. Fase post-larva : Pada fase ini, benih-benih protozoa keluar dari cystenya dan kondisinya sangat lemah sehingga larutan obat menjadi sangat efektif.

Penyakit parasiter protozoa (bintik putih) biasanya menyerang sirip dan insang ikan, terutama anak-anak ikan. Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit parasiter protozoa (bintik putih) adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Ikan bergerak lamban dengan nafas tersengal-sengal karena insangnya banyak Pada sirip dan insang tampakjelas adanya bintik-bintik putih. Ikan sering menggosok-gosokkan badannya pada benda-benda keras di tepi atau di ditempeli protozoa sehingga sulit menyerap oksigen dari air.

dasar kolam sehingga menimbulkan luka dan pendaharan yang diikuti dengan infeksi jamur. Jamur yang menginfeksi biasanya dari jenis Saphrolegnia.sp. Pencegahan serangan penyakit parasiter protozoa (bintik putih) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. sanitasi kolam dan menjaga kebersihan kolam penggantian air sesering mungkin dan kontinue membersihkan segala kotoran dalam kolam, baik sampah organik maupun sampah setiap 3 (tiga) bulan sekali kolam diolah, dikeringkan, dan dikapur.

anorganik Pengobatan terhadap ikan yang terserang penyakit parasiter protozoa (bintik putih) dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut :

1. 2.

Pengobatan dengan menggunakan larutan Malachit Green Oxalate 0,5 gr ditambah 25

cc larutan formalin dalam 1 m3 air bersih. Ikan-ikan yang terserang penyakit bintik putih direndam dalam larutan tersebut selama 12 - 24 jam. Air rendaman tersebut hams diaerasi supaya ikan tidak kekurangan oksigen. Buatlah larutan baku dengan cara melarutkan 10 gr Methylen Blue ke dalam 100 cc

air. Ikan-ikan yang terserang bintik putih dimasukkan ke dalam bak yang berisi air bersih 1 m3. Ke dalam bak ini, bubuhilah 0,5 liter larutan baku, kemudian rendamlah ikan-ikan yang terserang penyakit bintik putih selama 24 jam. Perendaman diulangi setiap selang 1 hari. Larutan baku yang sudah pemah dipakai tidak boleh dipakai lagi. 3. Perendaman dengan larutan garam dapur pada konsentrasi 3 gr per liter air. Rendamlah ikan yang terserang penyakit bintik putih di dalam larutan garam dapur tersebut selama 5 - 10 menit. Perendaman diulangi lagi selama 3 hari berturut-turut.

BAB VII ANALISIS EKONOMI PEMBESARAN IKAN BETUTU Budi daya ikan betutu sebenamya dapat dibagi menjadi dua bidang usaha, yakni usaha pembenihan dan usaha pembesaran. Usaha pembenihan secara khusus memproduksi benih dan menjualnya kepada pengusaha pembesaran. Sedangkan usaha pembesaran secara khusus membesarkan benih hingga mencapai ukuran konsumsi dan menjualnya kepada konsumen. Secara ekonomis, kedua jenis usaha ini dapat dianalisis sendiri-sendiri untuk mendapatkan gambaran tentang keuntungan yang akan diperoleh oleh pengusaha pembenihan ataupun pengusaha pembesaran. Pada buku ini disajikan contoh analisis usaha pembesaran ikan betutu skala rumah tangga (skala kecil) denganjumlah benih sebanyak 1.000 ekor. Contoh analisis ini hanya sekedar untuk memberi gambaran kepada calon pengusaha pembesaran ikan betutu bahwa usaha tersebut dapat mendatangkan keuntungan yang cukup besar jika pengelolaannya dilakukan secara intensif. Harga yang tercantum dalam analsis ini tentu saja dapat beruba-ubah sesuai dengan tempat dan kondisi perekonomian di negara kita. Harga yang disajikan dalam analisi ekonomi pada buku ini adalah harga yang berlaku tahun 2000 di daerah Semarang dan sekitarnya. 1. Modal Tetap

1.

Sewa tanah 200 m2 selama 5 tahun

= Rp 1.000.000,00

2. 3. 4. 5. 6.

Pembuatan kolam (10 x 10 x 1,25) m Pembuatan bak penampungan (2 x 2 x 1) m Pembelian blower 40 titik Pembelian 1 set alat-alat Pembuatan saluran air Pembelian tabung oksigen((3 m3) Gudang sekaligus rumah jaga Pagarbambu lain-lain = Rp

= Rp = Rp = Rp = Rp = Rp = Rp = Rp = Rp = Rp

1.750.000,00 500.000,00 600.000,00 100.000,00 50.000,00 500.000,00 3.000.000,00 150.000,00 250.000,00

7.
8. 9. 10. Jumlah

7.900.000,00

2. Bea Operasional : 1 kalipanen ( 7 bulan) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jumlah 3. Bunga Bank 2 % x 7 bin x (Rp 7.900.000 + Rp 10.965.000) 4. Beaya Pembesaran Ikan Betutu Bea operasional + Bunga Bank : Rp 10.865.000,00 + Rp2.641.100.00 5. Beaya/Modal Keseluruhan Modal tetap + Bea operasional + Bunga Bank : Rp 7.900.000 + Rp 10.865.000 + Rp 2.641.100 6. Keuntungan (Sisa Hasil Usaha) 1. Jika kematian benih diasumsikan 25 %, maka ikan yang hidup hingga ukuran konsumsi adalah 75 % x 1.000 ekor = 750 ekor. = Rp 21.506.100.00 = Rp 13.606.100,00 = Rp 2.641.100,00 Pembelian benih ikan betutu 1.000 ekor = Rp 7.000.000,00 = Rp 1.250.000,00 = Rp 250.000,00 = Rp = Rp = Rp = Rp 15.000,00 300.000,00 250.000,00 150.000,00 = Rp 1.750.000,00 Pembelian pakan alami 500 kg Pembelian pakan buatan (pellet) 100kg Obat-obatan Tenaga kerja 7 bulan @ Rp 250.000.00 Transportasi Penyusutan Lain-lain @ 100 gr = 100 kg. @ Rp 70.000,00 @ Rp2.500.00 @ Rp 2.500,00

= Rp 10.965.000,00

2. 3. 4.

Jika berat rata-rata 1 ekor ikan 0,4 kg, maka hasil panen adalah 750 x 0,4 kg = 300 kg. Jika hargajual ikan betutu (harga minimal) adalah Rp 70.000,00/kg, maka hasil Jadi, keuntungan yang diperoleh adalah : Rp 21.000.000,00 - 13.606.100,00 = Rp

penjualan ikan adalah 300 x Rp 70.000,00 = Rp 21.000.000.00. 7.393.900,00. 7. Titik Impas Pulang Modal (BEP) Rp 21.506.100,00 x panen = 2,9 atau 3 kali panen. Rp 7.393.900,00 Bila 1 (satu) kali panen 7 bulan, maka dalam waktu 21 bulan atau dibulatkan 24 bulan modal usaha sudah kembali. 8. Tingkat Kelayakan Usaha (B/E Ratio) Rp 13.606.100,00 X Rp 7.393.900,00 = 1,84

9. Effisiensi Penggunaan Modal Rp 7.393.900,00 Rp21.506.100.00 x 100 % = 34,37 %

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1995. Perikanan Jawa Tengah Dalam Angka. Dinas Perikanan Prov. Jawa Tengah. Semarang. ___. 1980. "Marbled Goby (Oxyeletris marmorata) and its Prospect." Dalam: INFIS News Letter.II. (03): 2 - 4. ___. 1989. "Cukture ofCoby (Oxyeletris marmoratus.) in Impounding Net." Dalam: INFIS. News Letter.!. (03) : 9. ___. 1990. Pedoman Pengenalan Sumber Perikanan Air Tawar (Jenis-Jenis Ikan Ekonomis Penting). Dirjen. Perikanan Departemen Pertanian. Jakarta. ___. 1995. "Betutu dan Budi Daya." Dalam: Techne. III. (18): 29 - 31. Davis HS. 1961. Cukture and Diseases of Games Fishes. University of California Press. Berkeley and Los Angeles. Djajasewaka, HA. Widiyati dan Tarupay. 1992. "Pematangan Gonade Induk Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata. Bleeker.) dengan Pemberian Berbagai Jenis Pakan." Dalam: Prodding Seminar HasilPenelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta. 235 - 238. Karwapi. 1977. "Pendidikan Keterampilan Perikanan." Dalam: TIMBUL. Bandung.

Mulyono. D. 1990. "Mungkinkah Ikan Betutu/Ikan Malas Menjadi Ikan Primadona." Dalam: Majalah Dinas Perikanan. No. 18/Th. IV/1990. Semarang. Rohim.A. 1992. "Inventasi Parasit pada Benih Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata. Bikr.^ dari Pamng Bogor Jawa Barat." Dalam: Skripsi. Fak. Perikanan. Bogor. Rumawas. dkk. 1989. Uji Coba Pembenihan Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata. Bikr./ Lembaga Penelitian TPB. Bogor. Tavarutmaneegul. F. and Lin. 1988. "Breeding and Rearing of Sand Coby Betutu Oxyeleotris marmorata. Bikr.)." Dalam: Fry Aquaculture. Chulalongkom University. Bangkok. Wahyuningrum. RD. 1991. "Perkembangan Larva Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata.Blkr.) yang dipelihara di Kolam dan Tangki." Dalam : Tesis. Fak. Perikanan. Bogor.