Anda di halaman 1dari 14

PENDEKATAN DIAGNOSIS PADA PASIEN DENGAN KELUHAN DEMAM

DEFINISI International Union of Physiological Sciences Commission for Thermal Physiology mendefinisikan demam sebagai suatu keadaan peningkatan suhu inti, yang sering (tetapi tidak seharusnya) merupakan bagian dari respons pertahanan organisme multiselular (host) terhadap invasi mikroorganisme atau benda mati yang patogenik atau dianggap asing oleh host. El-Rahdi dan kawan-kawan mendefinisikan demam (pireksia) dari segi patofisiologis dan klinis. Secara patofisiologis demam adalah peningkatan thermoregulatory set point dari pusat hipotalamus yang diperantarai oleh interleukin 1 (IL-1). Sedangkan secara klinis demam adalah peningkatan suhu tubuh 1oC atau lebih besar di atas nilai rerata suhu normal di tempat pencatatan. Sebagai respons terhadap perubahan set point ini, terjadi proses aktif untuk mencapai set point yang baru. Hal ini dicapai secara fisiologis dengan meminimalkan pelepasan panas dan memproduksi panas. Suhu tubuh normal bervariasi sesuai irama suhu circardian (variasi diurnal). Suhu terendah dicapai pada pagi hari pukul 04.00 06.00 dan tertinggi pada awal malam hari pukul 16.00 18.00. Kurva demam biasanya juga mengikuti pola diurnal ini. Suhu tubuh juga dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan, meliputi usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan suhu udara ambien. Oleh karena itu jelas bahwa tidak ada nilai tunggal untuk suhu tubuh normal. Hasil pengukuran suhu tubuh bervariasi tergantung pada tempat pengukuran. Suhu normal pada tempat yang berbeda Tempat pengukuran Aksila Sublingual Rektal Telinga Jenis termometer Air elektronik Air elektronik Air elektronik Rentang; rerata Demam suhu normal (oC) (oC) raksa, 34,7 37,3; 37,4 36,4 raksa, 35,5 37,5; 37,6 36,6 raksa, 36,6 37,9; 37 38 35,7 37,5;

37,6 36,6 Suhu rektal normal 0,27o 0,38oC (0,5o 0,7oF) lebih tinggi dari suhu oral. Suhu

Emisi infra merah

aksila kurang lebih 0,55oC (1oF) lebih rendah dari suhu oral. Untuk kepentingan klinis

praktis, pasien dianggap demam bila suhu rektal mencapai 38oC, suhu oral 37,6oC, suhu aksila 37,4oC, atau suhu membran tympani mencapai 37,6oC. Hiperpireksia merupakan istilah pada demam yang digunakan bila suhu tubuh melampaui 41,1oC (106oF). MEKANISME DEMAM Sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik, maka monosit, makrofag, dan sel-sel Kupffer mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen IL1(interleukin 1), TNF (Tumor Necrosis Factor ), IL-6 (interleukin 6), dan INF (interferon) yang bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan termostat. Hipotalamus mempertahankan suhu di titik patokan yang baru dan bukan di suhu normal. Sebagai contoh, pirogen endogen meningkatkan titik patokan menjadi 38,9 C, hipotalamus merasa bahwa suhu normal prademam sebesar 37 C terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanisme-mekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu tubuh (Ganong, 2002). Berbagai laporan penelitian memperlihatkan bahwa peningkatan suhu tubuh berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang. Ransangan endogen seperti eksotoksin dan endotoksin menginduksi leukosit untuk mengeluarkan pirogen endogen, dan yang poten diantaranya adalah IL-1 dan TNF, selain IL-6 dan IFN. Pirogen endogen ini akan bekerja pada sistem saraf pusat tingkat OVLT (Organum Vasculosum Laminae Terminalis) yang dikelilingi oleh bagian medial dan lateral nukleus preoptik, hipotalamus anterior, dan septum palusolum. Sebagai respon terhadap sitokin tersebut maka pada OVLT terjadi sintesis prostaglandin, terutama prostaglandin E2 melalui metabolisme asam arakidonat jalur COX-2 (cyclooxygenase 2), dan menimbulkan peningkatan suhu tubuh terutama demam (Nelwan dalam Sudoyo, 2006). Mekanisme demam dapat juga terjadi melalui jalur non prostaglandin melalui sinyal aferen nervus vagus yang dimediasi oleh produk lokal MIP-1 (machrophage inflammatory protein-1) ini tidak dapat dihambat oleh antipiretik (Nelwan dalam Sudoyo, 2006). Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas, sementara vasokonstriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Dengan demikian, pembentukan demam sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme termoregulasi (Sherwood, 2001). POLA DEMAM

Interpretasi pola demam sulit karena berbagai alasan, di antaranya anak telah mendapat antipiretik sehingga mengubah pola, atau pengukuran suhu secara serial dilakukan di tempat yang berbeda. Akan tetapi bila pola demam dapat dikenali, walaupun tidak patognomonis untuk infeksi tertentu, informasi ini dapat menjadi petunjuk diagnosis yang berguna. Pola demam yang ditemukan pada penyakit Pola demam Kontinyu Remitten Intermiten Hektik atau septik Quotidian Double quotidian Relapsing atau periodik Demam rekuren Penyakit Demam tifoid, malaria falciparum malignan Sebagian besar penyakit virus dan bakteri Malaria, limfoma, endokarditis Penyakit Kawasaki, infeksi pyogenik Malaria karena P.vivax Kala azar, arthritis gonococcal, juvenile rheumathoid arthritis, beberapa drug fever (contoh karbamazepin) Malaria tertiana atau kuartana, brucellosis Familial Mediterranean fever

Penilaian pola demam meliputi tipe awitan (perlahan-lahan atau tiba-tiba), variasi derajat suhu selama periode 24 jam dan selama episode kesakitan, siklus demam, dan respons terapi. Gambaran pola demam klasik meliputi: Demam kontinyu (Gambar 1.) atau sustained fever ditandai oleh peningkatan suhu tubuh yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0,4oC selama periode 24 jam. Fluktuasi diurnal suhu normal biasanya tidak terjadi atau tidak signifikan.

Gambar 1. Pola demam pada demam tifoid (memperlihatkan bradikardi relatif) Demam remiten ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai normal dengan fluktuasi melebihi 0,5oC per 24 jam. Pola ini merupakan tipe demam yang paling sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu (Gambar 2.). Variasi diurnal biasanya terjadi, khususnya bila demam disebabkan oleh proses infeksi.

Gambar 2. Demam remiten Pada demam intermiten suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi hari, dan puncaknya pada siang hari (Gambar 3.). Pola ini merupakan jenis demam terbanyak kedua yang ditemukan di praktek klinis.

Gambar 3. Demam intermiten Demam septik atau hektik terjadi saat demam remiten atau intermiten menunjukkan perbedaan antara puncak dan titik terendah suhu yang sangat besar. Demam quotidian, disebabkan oleh P. Vivax, ditandai dengan paroksisme demam yang terjadi setiap hari. Demam quotidian ganda (Gambar 4.)memiliki dua puncak dalam 12 jam (siklus 12 jam)

Gambar 4. Demam quotidian Undulant fever menggambarkan peningkatan suhu secara perlahan dan menetap tinggi selama beberapa hari, kemudian secara perlahan turun menjadi normal. Demam lama (prolonged fever) menggambarkan satu penyakit dengan lama demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya, contohnya > 10 hari untuk infeksi saluran nafas atas. Demam rekuren adalah demam yang timbul kembali dengan interval irregular pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama (contohnya traktus urinarius) atau sistem organ multipel.

Demam bifasik menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode demam yang berbeda (camelback fever pattern, atau saddleback fever). Poliomielitis merupakan contoh klasik dari pola demam ini. Gambaran bifasik juga khas untuk leptospirosis, demam dengue, demam kuning, Colorado tick fever, spirillary rat-bite fever (Spirillum minus), dan African hemorrhagic fever (Marburg, Ebola, dan demam Lassa).

Relapsing fever dan demam periodik: o Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang dengan interval regular atau irregular. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal. Contoh yang dapat dilihat adalah malaria (istilah tertiana digunakan bila demam terjadi setiap hari ke-3, kuartana bila demam terjadi setiap hari ke-4) (Gambar 5.)dan brucellosis.

Gambar 5. Pola demam malaria o Relapsing fever adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam rekuren yang disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia (Gambar 6.)dan ditularkan oleh kutu (louse-borne RF) atau tick (tick-borne RF).

Gambar 6. Pola demam Borreliosis (pola demam relapsing) Penyakit ini ditandai oleh demam tinggi mendadak, yang berulang secara tiba-tiba berlangsung selama 3 6 hari, diikuti oleh periode bebas demam dengan durasi yang hampir sama. Suhu maksimal dapat mencapai 40,6oC pada tick-borne fever dan 39,5oC pada louse-borne. Gejala penyerta meliputi myalgia, sakit kepala, nyeri perut, dan perubahan kesadaran. Resolusi tiap episode demam dapat disertai

Jarish-Herxheimer reaction (JHR) selama beberapa jam (6 8 jam), yang umumnya mengikuti pengobatan antibiotik. Reaksi ini disebabkan oleh pelepasan endotoxin saat organisme dihancurkan oleh antibiotik. JHR sangat sering ditemukan setelah mengobati pasien syphillis. Reaksi ini lebih jarang terlihat pada kasus leptospirosis, Lyme disease, dan brucellosis. Gejala bervariasi dari demam ringan dan fatigue sampai reaksi anafilaktik full-blown. o Contoh lain adalah rat-bite fever yang disebabkan oleh Spirillum minus dan Streptobacillus moniliformis. Riwayat gigitan tikus 1 10 minggu sebelum awitan gejala merupakan petunjuk diagnosis. o Demam Pel-Ebstein (Gambar 7.), digambarkan oleh Pel dan Ebstein pada 1887, pada awalnya dipikirkan khas untuk limfoma Hodgkin (LH). Hanya sedikit pasien dengan penyakit Hodgkin mengalami pola ini, tetapi bila ada, sugestif untuk LH. Pola terdiri dari episode rekuren dari demam yang berlangsung 3 10 hari, diikuti oleh periode afebril dalam durasi yang serupa. Penyebab jenis demam ini mungkin berhubungan dengan destruksi jaringan atau berhubungan dengan anemia hemolitik.

Gambar 7. Pola demam penyakit Hodgkin (pola Pel-Ebstein). KLASIFIKASI DEMAM Klasifikasi demam diperlukan dalam melakukan pendekatan berbasis masalah. Untuk kepentingan diagnostik, demam dapat dibedakan dengan atau tanpa localizing signs. Tiga kelompok utama demam yang dijumpai pada praktek Klasifikasi Demam dengan localizing signs Demam tanpa Penyebab tersering Infeksi saluran nafas atas Lama demam pada umumnya <1 minggu <1minggu >1 minggu

localizing Infeksi virus, infeksi saluran kemih Infeksi, juvenile idiopathic

signs Fever of unknown origin

arthritis Demam dengan localizing signs Penyakit demam yang paling sering ditemukan pada praktek berada pada kategori ini. Demam biasanya berlangsung singkat, baik karena mereda secara spontan atau karena pengobatan spesifik seperti pemberian antibiotik. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dan dipastikan dengan pemeriksaan sederhana seperti pemeriksaan foto rontgen dada. Penyebab utama demam karena penyakit localized signs Kelompok Penyakit Infeksi saluran nafas ISPA virus, otitis media, tonsillitis, laryngitis, stomatitis atas Pulmonal Gastrointestinal Sistem saraf pusat Eksantem Kolagen Neoplasma Tropis herpetika Bronkiolitis, pneumonia Gastroenteritis, hepatitis, appendisitis Meningitis, encephalitis Campak, cacar air Rheumathoid arthritis, penyakit Kawasaki Leukemia, lymphoma Kala azar, cickle cell anemia

Demam tanpa localizing signs Sekitar 20% dari keseluruhan episode demam menunjukkan tidak ditemukannya localizing signs pada saat terjadi. Penyebab tersering adalah infeksi virus, terutama terjadi selama beberapa tahun pertama kehidupan. Infeksi seperti ini harus dipikirkan hanya setelah menyingkirkan infeksi saluran kemih dan bakteremia. Demam tanpa localizing signs umumnya memiliki awitan akut, berlangsung kurang dari 1 minggu. Penyebab umum demam tanpa localizing signs

Penyebab Infeksi

Contoh Bakteremia/sepsis Sebagian (HH-6) Infeksi saluran kemih besar

Petunjuk diagnosis Tampak sakit, CRP tinggi, leukositosis virus Tampak baik, CRP normal, leukosit normal Dipstik urine splenomegali,

Malaria PUO (persistent Juvenile pyrexia unknown origin) atau of arthritis

Di daerah malaria idiopathic Pre-articular, ruam,

antinuclear factor tinggi, CRP tinggi

FUO Pasca vaksinasi Drug fever

Vaksinasi triple, campak Sebagian besar obat

Waktu demam terjadi berhubungan dengan waktu vaksinasi Riwayat minum obat, eksklusi diagnosis

Persistent Pyrexia of Unknown Origin (PUO) Istilah ini biasanya digunakan bila demam tanpa localizing signs bertahan selama 1 minggu dimana dalam kurun waktu tersebut evaluasi di rumah sakit gagal mendeteksi penyebabnya. Persistent pyrexia of unknown origin, atau lebih dikenal sebagai fever of unknown origin (FUO) didefinisikan sebagai demam yang berlangsung selama minimal 3 minggu dan tidak ada kepastian diagnosis setelah investigasi 1 minggu di rumah sakit. Penyebab FUO sesuai golongan penyakitnya antara lain; infeksi (40%), neoplasma (20%), penyakit kolagen (20%), penyakit lain (10%), dan yang tidak diketahui sebabnya (10%). Fever of unknown origin (FUO) dapat dibagi dalam 4 kelompok: FUO Klasik Penderita telah diperiksa di rumah sakit atau klinik selama 3 hari berturut-turut tanpa dapat ditetapkan penyebab demam. Definisi lain yang juga digunakan adalah demam untuk lebih dari 3 minggu dimana telah diusahakan diagnostik non invasive maupun invasif selama satu minggu tanpa hasil yang dapat menetapkan penyebab demam. FUO Nosokomial Penderita yang pada permulaan dirawat tanpa infeksi di rumah sakit dan kemudian menderita demam >38,30 C dan sudah diperiksa secara intensif untuk menentukan penyebab demam tanpa hasil yang jelas. FUO Neutropenik Penderita yang memiliki hitung jenis neutrofil <500 L dengan demam >38,30 C dan sudah diusahakan pemeriksaan intensif selama 3 hari tanpa hasil yang jelas. FUO HIV Penderita HIV yang menderita demam >38,30 C selama 4 minggu pada rawat jalan tanpa dapat menentukan penyebabnya atau pada penderita yang dirawat di RS yang mengalami demam selama lebih dari 3 hari dan telah dilakukan pemeriksaan tanpa hasil yang jelas. Sebelum meningkat ke pemeriksaan-pemeriksaan yang mutakhir, yang siap tersedia untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi, atau scaning, masih dapat diperiksa beberapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/ lesi permukaan sinar tembus rutin.

Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan lebih pasti melalui biopsi pada tepat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaanpemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi. ANAMNESIS Tujuan dilakukan anamnesis pada pasien dengan demam yaitu untuk :
1. Mengetahui apakah infeksi mempunyai lokalisasi organ atau tidak. Gejala penyakit

demam dapat dibagi menjadi


a. Konstitusi gejala yang terdiri dari kelelahan, mialgia, kehilangan nafsu makan,

mual, sakit kepala, dll


b. Gejala sesuai keterlibatan organ tertentu :

Tonsillo-faring : sakit tenggorokan, batuk, dan sakit saat menelan Maksilaris / Frontal sinus : rhinitis, hidung tersumbat, sakit kepala. Otak dan meninges : sakit kepala, muntah. Paru-paru dan pleura : batuk, produksi sputum, hemoptisis, sesak napas, dan nyeri dada Myopericardium : nyeri dada, sesak napas, dan palpitasi Hati : muntah, nyeri epigastrium atau hypochondrial kanan, ikterus Kandung empedu dan saluran empedu : sakit perut dan muntah Appendix : nyeri perut kanan bawah, muntah, dan / atau konstipasi atau diare. Saluran kemih : nyeri saat berkemih dan nyeri pinggang Sendi : sendi nyeri dan pembengkakan. Jaringan lunak : Pembengkakkan, perubahan warna, kemerahan dan sakit pada jaringan lunak Kelenjar getah bening perifer : Pembengkakan ekstremitas

Bila pada anamnesis tidak didapatkan focus organ infeksi, maka Berikut ini adalah beberapa gejala khusus yang mungkin mengindikasikan diagnosis demam singkat tanpa gejala lokalisasi yang disebabkan oleh beberapa penyakit yaitu :
1) Demam berdarah : kulit petechiae dan perdarahan gingiva, nyeri sendi. 2) Malaria : demam dengan menggigil dan penurunan suhu normal spontan

setelah demam tinggi, jaundice, penurunan jumlah urin dan kejang.

3) Demam tifoid : adanya perubahan pola defekasi (awalnya diare selanjutnya

bisa terjadi konstipasi), nyeri perut.


4) Leptospirosis : myalgia, penurunan produksi urin, jaundice 5) Awal presentasi TB dan penyebab lain demam berkepanjangan 2. Jika pasien memiliki gejala yang mengkhawatirkan yang perlu masuk atau dirawat

segera
3. Untuk mengidentifikasi kondisi komorbiditas terkait, seperti : 1) Usia lanjut 2) Diabetes 3) Penyakit hati kronis atau penyakit ginjal 4) Gagal jantung 5) Terapi imunosupresif 6) Penyakit paru-paru kronis 7) Baru dirawat di rumah sakit

Poin yang perlu diingat dalam anamnesis yaitu pada pasien yang demam kita harus mengidentifikasi apakah demam disebabkan oleh infeksi local atau tidak. Jika demam non lokalisasi kita harus mencari gejala yang mungkin mengindikasikan infeksi sistemik tertentu. Kita juga harus mengidentifikasi gejala yang mengkhawatirkan karena pasien membutuhkan evaluasi dan pemantauan yang lebih rinci. Identifikasi kondisi komorbiditas yang signifikan adalah sama pentingnya karena pasien ini mungkin memiliki toleransi yang buruk dan sering perlu pendekatan agresif dalam manajemen klinis. PEMERIKSAAN FISIK Gejala harus memandu kita dalam melakukan pemeriksaan fisik. Sebagai contoh: volume nadi dan tekanan darah harus dinilai pertama pada pasien yang mengalami riwayat perdarahan atau episode muntah berulang. Pemeriksaan fisik dilakukan mulai dari pemeriksaan tanda - tanda vital yang mencakup tekanan darah, nadi, laju pernapasan, serta suhu; keadaan umum; dan pemeriksaan generalis yang dimulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berikut ini pemeriksaan yang terkait dengan pasien dengan demam

Orientasi, kewaspadaan, Mata : Conjungtiva anemis, sclera ikterus, perdarahan sub-conjuctival berdarah, Hidung : Kelembutan sinus Mulut : Pembesaran tonsil, faring hiperemis,

Leher : Pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran kelenjar tiroid, kaku kuduk. Jantung : bunyi jantung, regurgitasi murmur Paru-paru : suara nafas, wheezing dan ronchi, efusi pleura Abdomen : nyeri perut, organomegali (hepatomegaly, spleenomegali), nyeri ketuk CVA, nyeri tekan McBurney, bising usus, nyeri tekan suprapubik, asites, pembesaran ginjal (ballottement),

Pemeriksaan genital bila dicurigai infeksi genitalia Ekstremitas : edema tungkai, petechiae, ruam.

Penemuan hepato-splenomegali pada pemeriksaan fisik pada pasien dengan demam sering disalah tafsirkan. Hepatomegali dan / atau splenomegali pada pasien demam menunjukkan bahwa dia menderita infeksi signifikan dan tidak lebih dari itu PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis pada pasien demam antara lain : 1. Hematologi rutin : Dapat mendeteksi adanya infeksi dan penyakit darah termasuk leukemia. Pemeriksaan hematologi rutin mencakup : 1) Hemoglobin (Hb) Interpretasi Hasil : Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obatobatan: obat antikanker, asam asetil salisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL. Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin. 2) Hematokrit Interpretasi Hasil : Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit DBD, penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.

Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%. 3) Leukosit (Hitung total) Interpretasi Hasil Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:

Anemia hemolitik Sirosis hati dengan nekrosis Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga) Keracunan berbagai macam zat Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan

sulfonamid. Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, 4) sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya. Leukosit (hitung jenis) Merupakan pemeriksaan terpenting untuk mendeteksi infeksi. Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat. Interpretasi Hasil

Neutrofil berfungsi melawan infeksi bakteri. Biasa jumlahnya adalah

55-70% dari leukosit. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut dapat menyebabkan neutropenia. Begitu juga, beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha (misalnya gansiklovir untuk mengatasi virus sitomegalo) dan AZT (semacam ARV).

Ada dua jenis utama limfosit: sel-T yang menyerang dan membunuh

kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh; dan sel-B yang membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman. Jumlah limfosit umumnya 20-40% dari leukosit. Salah satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang tertular dan dibunuh oleh HIV. Hitung darah lengkap tidak termasuk tes CD4.

Tes CD4 ini harus diminta sebagai tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4, sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus.

Monosit atau makrofag mencakup 2-8% dari leukosit. Sel ini

melawan infeksi dengan memakan kuman dan memberi tahu sistem kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan. Monosit beredar dalam darah. Monosit yang berada di berbagai jaringan tubuh disebut makrofag. Jumlah monosit yang tinggi umumnya menunjukkan adanya infeksi bakteri.

Eosinofil biasanya 1-3% dari leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi

dan tanggapan terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang tinggi. Jumlah yang tinggi, terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung, mungkin menandai keberadaan parasit.

Fungsi basofil tidak jelas dipahami, namun sel ini terlibat dalam reaksi

alergi jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit.

Persentase limfosit mengukur lima jenis sel darah putih: neutrofil,

limfosit, monosit, eosinofil dan basofil, dalam bentuk persentase leukosit. Untuk memperoleh limfosit total, nilai ini dikalikan dengan leukosit. Misalnya, bila limfosit 30,2% dan leukosit 8.770, limfosit totalnya adalah 0,302 x 8.770 = 2.648.

shift to the left. Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun

segmen) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.

Shift to the right. Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit

relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the right biasanya merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin. 5) Trombosit Interpretasi Hasil

Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam

berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3.

Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit

keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3. 6) Laju endap darah Interpretasi Hasil

LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi,

penyakit imunologis, gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.

LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.

7) Hitung eritrosit Interpretasi Hasil

Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare,

luka bakar, perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemia sickle cell.

Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia,

kehamilan, penurunan fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol, parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat) 2. Urinalisa : Untuk mendeteksi infeksipada ginjal dan saluran kencing 3. Malaria : Untuk mendeteksi kemungkinan infeksi malaria 4. Widal : Untuk mendeteksi kemungkinan infeksi oleh salmonella typhi 5. Pemeriksaan fungsi hepar (SGOT SGPT) : untuk mengetahui gangguan pada hati yang bisa dijumpai pada demam tifoid 6. Anti-Dengue IgG/IgM : Untuk mendeteksi infeksivirus dengue yang dapat menyebabkan demam dengue (demam berdarah)