Anda di halaman 1dari 5

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang dapat

dicegah dan diobati, ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif dan berhubungan dengan respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun atau berbahaya, disertai efek ekstraparu yang berkontribusi terhadap derajat berat penyakit.1 Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 1990 PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian didunia, sedangkan pada tahun 2002 telah menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskular dan kanker (WHO, 2002).1,2 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab utama dari angka morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia.3 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) telah mendapatkan perhatian sebagai masalah kesehatan utama dan saat ini menjadi fokus intensif penelitian karena prevalensinya terus-menerus meningkat, kematian, dan penyakit yang menyusahkan penderitanya.4,5 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) bertanggung jawab untuk lebih dari 2,5 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2000 saja dan saat ini menempati peringkat keempat sebagai penyebab kematian di United States setelah penyakit jantung, kanker, dan penyakit serebrovaskular.4,5 Amerika Serikat

membutuhkan dana sekitar 16 miliar US$ setahun untuk penatalaksanaan PPOK dan biaya tidak langsung sebesar 14 miliar US$, dengan jumlah pasien sebanyak 16 juta orang dan lebih dari 100 ribu orang meninggal.1 Hasil survei penyakit tidak menular oleh Direktorat Jendral Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM) dan Penyehatan Lingkungan (PL) di 5 rumah sakit propinsi Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan) pada tahun 2004, menunjukkan PPOK menempati urutan pertama penyumbang angka kesakitan (25%), diikuti asma bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%) (Depkes RI, 2004).1,2,6 Data terbaru mengenai faktor risiko PPOK menyatakan bahwa selain faktor risiko utama yaitu merokok, juga ada beberapa faktor risiko lain yang diduga berhubungan dengan prevalensi PPOK. Faktor risiko itu antara lain usia dan jenis kelamin.3 Penting pada penyesuaian usia karena prevalensi PPOK pada individu dibawah usia 45 tahun rendah, sementara prevalensi tertinggi pada usia pasien diatas 65 tahun. Tahun 1995, sebanyak 553 ribu pasien diterapi PPOK di Amerika Serikat dan sebanyak tiga perempatnya berusia lebih dari 65 tahun. Prevalensi pada usia lebih dari 65 tahun empat kali lebih tinggi daripada yang berusia 45 sampai 64 tahun.3,5 Distribusi jenis kelamin penderita PPOK juga berubah. Pada tahun 2000 kematian PPOK pada wanita melebihi jumlah kematian pada pria.4 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sendiri juga menimbulkan efek ekstrapulmonal (sistemik) signifikan yang mengarah ke kondisi komorbiditas.

Data dari Netherlands menunjukkan bahwa sampai 25% populasi kelompok umur 65 tahun dan lebih tua mengalami dua kondisi komorbiditas dan sampai 17% memiliki tiga kondisi komorbiditas. Berat badan, kelainan gizi, dan disfungsi otot rangka diakui merupakan efek ekstrapulmonal dari PPOK dan pasien mengalami risiko peningkatan infark miokardial, angina, osteoporosis, infeksi respiratorius, fraktur tulang, depresi, diabetes, penyakit gangguan tidur, anemia, dan glaukoma. Sekitar 25% dari pasien dengan Stage II PPOK sedang sampai Stage IV PPOK sangat berat memperlihatkan penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan berat lemak bebas.3 Selain spirometri sebagai baku emas diagnosis PPOK, terdapat juga pemeriksaan penunjang lainnya yaitu radiologi.1,4,7-10, Pemeriksaan radiologi rontgen thorax berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain dan membantu dalam melihat komorbiditas seperti gambaran gagal jantung.8-10 Peneliti tertarik untuk meneliti pola penderita PPOK di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira karena belum adanya penelitian sebelumnya mengenai pola penderita PPOK pada rumah sakit tersebut dan dilakukannya tes spirometri. Penelitian ini sebanding dengan penelitan yang dilakukan oleh mahasiswa UNPAD yang bertempat di Poliklinik Paru Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2006 dan 2008.

1.2

Identifikasi Masalah Berdasarkan data diatas, penulis bermaksud meneliti :

1. Bagaimana pola penderita PPOK berdasarkan usia, jenis kelamin, status merokok dan Indeks Massa Tubuh (IMT) di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira periode 1 Oktober 30 November 2012? 2. Bagaimana pola penderita PPOK yang memiliki penyakit penyerta di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira periode 1 Oktober 30 November 2012? 3. Bagaimana pola hasil gambaran rontgen thorax dan hasil tes spirometri pada penderita PPOK di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira periode 1 Oktober 30 November 2012?

1.3 1.3.1

Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud Penelitian

Untuk mengetahui pola penderita yang didiagnosa PPOK di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira periode 1 Oktober 30 November 2012.

1.3.2

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pola penderita PPOK berdasarkan usia, jenis kelamin, status merokok dan status Indeks Massa Tubuh (IMT). 2. Untuk mengetahui pola penderita PPOK yang memiliki penyakit penyerta. 3. Untuk mengetahui pola hasil gambaran rontgen thorax dan hasil tes spirometri pada penderita PPOK.

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1

Untuk Ilmu Pengetahuan

Memberikan informasi mengenai pola penderita PPOK.

1.4.2

Untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan pengetahuan mengenai pola penderita PPOK di Poliklinik Paru Rumah Sakit Dustira Cimahi.

1.4.3

Untuk Pengembangan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber data epidemiologi untuk penelitian lebih lanjut.