Anda di halaman 1dari 28

Kejadian Luar Biasa Diare dan Campak

Jessica Suryapraba 10-2009-033* *mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat: Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510 E-mail: binkky_nih@yahoo.com

Pendahuluan Berdasarkan kasus skenario 1 sering terjadi KLB campak dan diare di kecamatan Bojong Gede, Cianjur, Jawa Barat. Dari hasil evaluasi didaptkan cakupan imunisasi rendah. Sungai sebagai sumber airnya digunakan untuk mencuci, mandi, dan buang air besar. MCK sudah tersedia namun kurang dimanfaatkan.

1. Definisi KLB Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian atau kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu, termasuk kejadian kesakitan/kematian yang disebabkan oleh penyakit menular maupun yang tidak menular dan kejadian bencana alam yang disertai wabah penyakit.1 Pemantauan Kejadian Luar Biasa dilakukan oleh Kepala Puskesmas selaku manajer bersama dengan Tim Epidemiologi Puskesmas (TEPUSK) dengan melihat pola penyakit dan trend penyakit berdasarkan waktu dan tempat setiap hari. Kegiatan pemantauan Kejadian Luar Biasa, dilakukan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan vaksinasi, penyakit menular berpotensi wabah seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, Infeksi Saluran Penafasan bagian Atas (ISPA).
1

Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No 4. Tahun 1984). Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi). Kejadian atau peristiwa dalam masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang diperkirakan.

2. Kriteria KLB2 Kriteria-kriteria suatu keadaan yang disebut dengan KLB adalah sebagai berikut : 1. Angka kesakitan/kematian suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan > 3x dalam 3 minggu berturut-turut atau lebih. 2. Jumlah penderita baru dalam 1 bulan dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan menunjukkan kenaikan >2x bila dibandingkan dengan angka rata-rata sebulan dalam setahun sebelumnya pada penyakit dan kecamatan yang sama. 3. Angka rata-rata bulanan selama 1 tahun dari penderita baru dari suatu penyakit menular di suatu kecamatan, menunjukkan kenaikan > 2x bila dibandingkan dengan angka ratarata bulanan dalam tahun sebelumnya dari penyakit yang sama dan dalam kecamatan yang sama. 4. CFR (Crude Fetality Rate) dari suatu penyakir menular tertentu dalam suatu bulan di satu kecamatan menunjukkan kenaikan >50% bila dibandingkan dengan CFR penyakit yang sama dalam bulan yang lalu di kecamatan tersebut. 5. Proportional rate penderita baru dari suatu penyakit menular dalam waktu 1 bulan dibandingkan dengan proportional rate penderita baru dari penyakit menular yang sama selama periode waktu yang sama dari tahun yang lalu menunjukkan kenaikan > 2x lipat. 6. Khusus penyakit kolera, cacar, PES, DBD/DSS setiap peningkatan jumlah penderitapenderita penyakit tersebut di daerah endemis yang sesuai dengan ketentuan di atas terdapatnya > 1 penderita/kematian karena penyakit menular di atas di suatu kecamatan

yang telah bebas dari penyakit-penyakit tersebut, paling sedikit bebas selama 4 minggu berturut-turut. 7. Adanya kesakitan atau kematian oleh karena keracunan yang timbul di suatu kelompok masyarakat. 8. Timbulnya penyakit menular tertentu yang sebelumnya belum pernah ada atau dikenal. Selain itu, ada beberapa penyakit yang termasuk di dalam lingkup KLB : Penyakit menular Penyakit tidak menular Kejadian bencana alam yang disertai dengan penyakit

3. Epidemiologi3-5 Segitiga epidemiologi merupakan teori dasar yang terkenal sejak disiplin ilmu epidemiologi mulai digunakan di dunia. Dalam bidang epidemiologi terdapat sedikitnya 3 segitiga epidemiologi yang saling terkait satu sama lain yaitu, 1. Agent-HostEnvironment (AHE), 2. Person-Place-Time (PPT), 3. Frekuensi- Distribusi- Determinan (FDD). Tetapi pada kasus kali ini akan lebih dibahas mengenai segitiga agent-hostenvironment. HOST, AGENT, ENVIRONTMENT Segitga epidemiologi ini sangat umum digunakan oleh para ahli dalam menjelasakan kosep berbagai permasalahan kesehatan termasuk salah satunya adalah terjadinya penyakit. Hal ini sangat komprehensif dalam memprediksi suatu penyakit. Terjadinya suatu penyakit sangat tergantung dari keseimbangan dan interaksi ke tiganya. A. AGENT Agent merupakan berbagai unsur seperti unsur biologis yang dikarenakan oleh mikro organisme (virus, bakteri, jamur, parasit, protzoa, dll), unsur nutrisi karena bahan makanan yang tidak memenuhi standar gizi yang ditentukan, unsur kimiawi yang disebabkan karena bahan dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh sendiri (karbon monoksid, obat-obatan, arsen, pestisida, dll),
3

unsur fisika yang disebabkan oleh panas, benturan, dll, serta unsur psikis atau genetik yang terkait dengan heriditer atau keturun. Demikian juga dengan unsur kebiasaan hidup (rokok, alcohol, dll), perubahan hormonal dan unsur fisiologis seperti kehamilan, persalinan, dll. B. HOST3 Host atau pejamu ialaha keadaan manusia yang sedemikan rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya suatu penyakit. Faktor ini di sebabkan oleh faktor intrinsik. Factor penjamuyang biasanya menjkadi factor untuk timbulnya suatu penyakit sebagai berikut 1. Umur. Misalnya, usia lanjut lebih rentang unutk terkena penyakit karsinoma, jantung dan lain-lain daripada yang usia muda. 2. Jenis kelamin (seks). Misalnya , penyakit kelenjar gondok, kolesistitis, diabetes melitus cenderung terjadi pada wanita serta kanker serviks yang hanya terjadi pada wanita atau penyakit kanker prostat yang hanya terjadi pada laki-laki atau yang cenderung terjadi pada laki-laki seperti hipertensi, jantung, dll. 3. Ras, suku (etnik). Misalnya pada ras kulit putih dengan ras kulit hitam yang beda kerentangannya terhadap suatu penyakit. 4. Genetik (hubungan keluarga). Misalnya penyakit yang menurun seperti hemofilia, buta warna, sickle cell anemia, dll. 5. Status kesehatan umum termasuk status gizi, dll 6. Bentuk anatomis tubuh 7. Fungsi fisiologis atau faal tubuh 8. Keadaan imunitas dan respons imunitas 9. Kemampuan interaksi antara host dengan agent 10. Penyakit yang diderita sebelumnya
4

11. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial dari host sendiri C. ENVIRONMENT Faktor lingkungan adalah faktor yang ketiga sebagai penunjang terjadinya penyakit, hali ini karena faktor ini datangnya dari luar atau bisa disebut dengan faktor ekstrinsik. Faktor lingkungan ini dapat dibagi menjadi: 1. Lingkungan Biologis (flora & fauna) Mikro organisme penyebab penyakit Reservoar, penyakit infeksi (binatang, tumbuhan). Vektor pembawa penyakit umbuhan & binatang sebagai sumber bahan makanan, obat dan lainnya 2. Lingkungan Fisik Yang dimaksud dengan lingkungan fisik adalah yang berwujud geografik dan musiman. Lingkungan fisik ini dapat bersumber dari udara, keadaan tanah, geografis, air sebagai sumber hidup dan sebagai sumber penyakit, zat kimia atau polusi, radiasi, dll. 3. Lingkungan Sosial Ekonomi Yang termasuk dalam faktor lingkungan soial ekonomi adalah sistem ekonomi yang berlaku yang mengacu pada pekerjaan sesorang dan berdampak pada penghasilan yang akan berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Selain itu juga yang menjadi masalah yang cukup besar adalah terjadinya urbanisasi yang berdampak pada masalah keadaan kepadatan penduduk rumah tangga, sistem pelayanan kesehatan setempat, kebiasaan hidup masyarakat, bentuk organisasi masyarakat yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan terutama munculnya bebagai penyakit. TIME, PLACE, PERSON A. Orang (Person)

Disini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga dan paritas. 1. Umur Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan didalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola kesakitan atau kematian menurut golongan umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur yang dilaporkan tepat, apakah panjangnya interval didalam pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan peranan umur pada pola kesakitan atau kematian dan apakah pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian orang lain. Didalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi seperti catatan petugas agama, guru, lurah dan sebagainya. Hal ini tentunya tidak menjadi soal yang berat dikala mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah. 2. Jenis Kelamin Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan pria, juga pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik. Yang pertama diduga meliputi faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal sedangkan yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria mengisap rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya). Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi dikalangan wanita, di Amerika Serikat dihubungkan dengan kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan.

Di Indonesia keadaan itu belum diketahui. Terdapat indikasi bahwa kecuali untuk beberapa penyakit alat kelamin, angka kematian untuk berbagai penyakit lebih tinggi pada kalangan pria. 3. Kelas Sosial Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial. Masalah yang dihadapi dilapangan ialah bagaimana mendapatkan indikator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris, penggolongan kelas sosial ini didasarkan atas dasar jenis pekerjaan seseorang yakni I (profesional), II (menengah), III (tenaga terampil), IV (tenaga setengah terampil) dan V (tidak mempunyai keterampilan). Di Indonesia dewasa ini penggolongan seperti ini sulit oleh karena jenis pekerjaan tidak memberi jaminan perbedaan dalam penghasilan. Hubungan antara kelas sosial dan angka kesakitan atau kematian kita dapat mempelajari pula dalam hubungan dengan umur, dan jenis kelamin. 4. Jenis Pekerjaan Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan yakni a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan

seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya. b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).

c. Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya gerak badan. d. Karena berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja. e. Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan pekerjaan di tambang. Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.Jenis pekerjaan apa saja yang hendak dipelajari hubungannya dengan suatu penyakit dapat pula memperhitungkan pengaruh variabel umur dan jenis kelamin. 5. Penghasilan Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya. 6. Golongan Etnik Berbagai golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau kematian. Didalam mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit antar golongan etnik hendaknya diingat kedua golongan itu harus distandarisasi menurut susunan umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain yang dianggap mempengaruhi angka kesakitan dan kematian itu.

Penelitian pada golongan etnik dapat memberikan keterangan mengenai pengaruh lingkungan terhadap timbulnya suatu penyakit. Contoh yang klasik dalam hal ini ialah penelitian mengenai angka kesakitan kanker lambung. Didalam penelitian mengenai penyakit ini di kalangan penduduk asli di Jepang dan keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit ini menjadi kurang prevalen di kalangan turunan Jepang di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa peranan lingkungan penting didalam etiologi kanker lambung. 7. Status Perkawinan Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin, tidak kawin, cerai dan janda; angka kematian karena penyakit-penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu. Diduga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang tidak kawin dibandingkan dengan yang kawin ialah karena ada kecenderungan orang-orang yang tidak kawin kurang sehat. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu. 8. Besarnya Keluarga Didalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. 9. Struktur Keluarga Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggotaanggotanya; karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka

mungkin pula tidak dapat membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dan sebagainya. 10. Paritas Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun anak. Dikatakan umpamanya bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu seperti asma bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis dan seterusnya. Tapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. B. Tempat (Place) Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara : 1. Batas daerah-daerah pemerintahan 2. Kota dan pedesaan 3. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam (pegunungan, sungai, laut

atau padang pasir) 4. Negara-negara 5. Regional Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit, perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas administrasi pemerintahan. Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan batas-batas alam ialah : keadaan lingkungan yang khusus seperti temperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian diatas permukaan laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan,
10

bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susunan genetika), dan sebagainya. Pentingnya peranan tempat didalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat digambar dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti. Di dalam membicarakan perbedaan pola penyakit antara kota dan pedesaan, faktor-faktor yang baru saja disebutkan diatas perlu pula diperhatikan. Hal lain yang perlu diperhatikan selanjutnya ialah akibat migrasi ke kota atau ke desa terhadap pola penyakit, di kota maupun di desa itu sendiri. Migrasi antar desa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya. Peranan migrasi atau mobilitas geografis didalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara dan laut; lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah. Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari etiologi suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah dan pada menyelidikanpenyelidikan mengenai kaum migran. Didalam memperbandingkan angka kesakitan atau angka kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan terlebih dahulu di tiap-tiap daerah (tempat) : 1. Susunan umur 2. Susunan kelamin 3. Kualitas data 4. Derajat representatif dari data terhadap seluruh penduduk.

11

Walaupun telah dilakukan standarisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan pola penyakit antar daerah di Indonesia dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut belum tentu representatif dan baik kualitasnya. Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut : 1. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lainnya. 2. Konstitusi genetis atau etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi seperti

karakteristik demografi. 3. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene

perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat. 4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi

pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain. Banyaknya penyakit hanya berpengaruh pada daerah tertentu. Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan terdapat di Amerika Latin. Distribusinya disebabkan oleh adanya reservoir infeksi (manusia atau kera), vektor (yaitu Aedes aegypty), penduduk yang rentan dan keadaan iklim yang memungkinkan suburnya agen penyebab penyakit. Daerah dimana vektor dan persyaratan iklim ditemukan tetapi tidak ada sumber infeksi disebut receptive area untuk demam kuning. Contoh-contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah tertentu atau yang frekuensinya tinggi pada daerah tertentu, misalnya Schistosomiasis di daerah dimana terdapat vektor snail atau keong (Lembah Nil, Jepang), gondok endemi (endemic goiter) di daerah yang kekurangan yodium. C. Waktu (Time)

12

Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu dimana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan : 1. Fluktuasi jangka pendek dimana perubahan angka kesakitan berlangsung

beberapa jam, hari, minggu dan bulan. 2. Perubahan-perubahan terjadi secara secara siklus dimana dengan perubahan-perubahan beberapa hari, angka beberapa

kesakitan

berulang-ulang

antara

bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun. 3. Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu

yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut secular trends. 1. Fluktuasi Jangka Pendek Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influensa (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan). Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa :

1. Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan. 2. Waktu inkubasi rata-rata pendek. 2. Perubahan-Perubahan Secara Siklus Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan dimana timbulnya dan memuncaknya angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun pada penyakit bukan infeksi.

13

Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan :

1. Ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan, transmisi. 2. Adanya tempat perkembangbiakan alami dari vektor sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi. 3. Selalu adanya kerentanan 4. Adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang yakni apakah temperatur atau kelembaban memungkinkan

menyebabkan mereka terserang oleh vektor bornedisease tertentu. 5. Tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit. 6. Adanya faktor-faktor lain yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya

siklus berarti adanya perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal tersebut diatas. Penjelasan mengenai timbulnya atau memuncaknya penyakit menular yang berdasarkan pengetahuan yang kita kenal sebagai bukan vektor borne secara siklus masih jauh lebih kurang dibandingkan dengan vektor borne diseases yang telah kita kenal. Sebagai contoh, belum dapat diterangkan secara pasti mengapa wabah influensa A bertendensi untuk timbul setiap 2-3 tahun, mengapa influensa B timbul setiap 4-6 tahun, mengapa wabah campak timbul 2-3 tahun (di Amerika Serikat). Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit-penyakit yang belum diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara musiman. Tentunya observasi ini dapat membantu didalam memulai dicarinya etiologi penyakitpenyakit tersebut dengan catatan-catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit juga ikut berubah pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat perkembangbiakan,
14

perubahan dalam susunan reservoir penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia seperti yang menyangkut pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya. Sebab-sebab timbulnya atau memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara bermusim belum dapat diterangkan secara jelas. Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara musiman dari produksi, distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama dalam hubungan dengan penyakit-penyakit infeksi dan sebagainya.

4. Pelayanan Kesehatan Primer a. Promotif Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi social budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong diri sendiri artinya bahwa masyarakat mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah dan gangguan kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula berperilaku mengatasi apabila masalah gangguan kesehatan tersebut terlanjur terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Banyak masalah kesehatan yang ada di negeri kita Indonesia, termasuk timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang erat kaitannya dengan perilaku masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh KLB Diare dimana penyebab utamanya adalah rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat seperti kesadaran akan buang air besar yang belum benar (tidak di jamban), cuci tangan pakai sabun masih sangat terbatas, minum air yang tidak sehat, dan lain-lain. Promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya menfasilitasi perubahan perilaku. Dengan demikian promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan) baik di dalam masyarakat
15

sendiri maupun dalam organisasi dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, politik dan sebagainya). Atau dengan kata lain promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan (fisik dan non-fisik) dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Umumnya ada empat faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat agar merubah perilakunya, yaitu : a. Fasilitasi, yaitu bila perilaku yang baru membuat hidup masyarakat yang melakukannya menjadi lebih mudah, misalnya adanya sumber air bersih yang lebih dekat; b. Pengertian yaitu bila perilaku yang baru masuk akal bagi masyarakat dalam konteks pengetahuan lokal, c. Persetujuan, yaitu bila tokoh panutan (seperti tokoh agama dan tokoh agama) setempat menyetujui dan mempraktekkan perilaku yang di anjurkan dan d. Kesanggupan untuk mengadakan perubahan secara fisik misalnya kemampuan untuk membangun jamban dengan teknologi murah namun tepat guna sesuai dengan potensi yang di miliki.

Beberapa jenis kegiatan yang dapat di lakukan dalam Promosi Kesehatan di Masyarakat, adalah : Penyuluhan kelompok terbatas Penyuluhan kelompok besar (masa) Penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman/peer group education) Pemutaran film/video Penyuluhan dengan metode demonstrasi Pemasangan poster Pembagian leaflet Kunjungan/wisata kerja ke daerah lain Kunjungan rumah Pagelaran kesenian Lomba kebersihan antar RT/RW/Desa Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan tempat-tempat umum Kegiatan penghijauan di sekitar sumber air
16

Pelatihan kader, unit kesehatan b. Preventif5 Hal-hal yang telah diteliti dapat mengurangi angka kematian dan kesakitan pada masyarakat adalah dengan melakukan berbagai intervensi perilaku melalui modifikasi lingkungan yang dapat mengurangi angka kesakitan sebanyak 94%, seperti : Pengolahan air yang aman dan d a n penyimpanan di tingkat rumah tangga dapat mengurangi angka kejadian diare sebesar 3 9 p e r s e n m e l a k u k a n p r a k t e k c u c i t a n ga n ya n g e f e k t i f d a p a t m e n u r u n k a n a n gk a kejadian diare sebesar 45 persen meningkatkan sanitasi dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 32 persen. Meningkatkan penyediaan air dapat menurunkan kejadian diare sebesar 25 persen

Upaya pencegahan penyakit dikelompokan menjadi pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Yang termasuk dalam ketiga komponen tersebut adalah upaya promosi kesehatan, upaya proteksi kesehatan, upaya diagnosis dini dan tindakan segera, upaya pemberantasan akibat buruk, upaya pemulihan kesehatan. Pencegahan Primer Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi kesehatan, pendidikan kesehatan, dan pendidikan kesehatan adalah 3 aspek utama dalam pencegahan primer. Langkah-langkah dan kegiatan pokok di dalam kesehatan masyarakat seperti sanitasi lingkungan, pengendalian infeksi, imunisasi, perlindungan makanan, susu, dan sumber air, pengamanan lingkungan, dan perlindungan terhadap bahaya kerja merupakan kegiatan dasar dalam pencegahan primer ini. Langkah-langkah pencegahan di tingkat dasar saat ini harus diorientasikan pada pengaturan gaya hidup. Aktivitas dasar masyarakat seperti promosi dan pencegahan tidak boleh diabaikan, dilalaikan, atau dikurangi. Jika kegiatan tersebut tidak dipertahankan pada tingkat yang tinggi, penyakit menular dapat menjadi penyebab utama penderitaan, penyakit, dan kematian kembali.
17

Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi untuk menemukan status patogenik tiap individu dalam suatu populasi. Jika status patogenik ditemukan lebih dini, diagnosis dan pengobatan lebih dapat mencegah kondisi untuk berkembang, menyebar di dalam populasi, atau dapat menghentikan atau paling tidak memperlambat perkembangan penyakit atau kematian. Salah satu area promosi kesehatan yang menarik minat masyarakat dan efektif untuk pencegahan adalah dengan skrining kesehatan yang sering kita temukan dalam acara-acara kesehatan. Program seperti itu baik jika dilaksanakan dalam acara-acara kesehatan atau sebagai satu program khusus dalam perusahaan atau didalam kompleks lansia, tujuan nya tetap sama yaitu deteksi dini dan pengobatan sedini mungkin untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan penyakit. Pada akhirnya, deteksi dini dapat memperlambat perkembangan penyakit, mencegah komplikasi, membatasi ketidakmampuan, dan menghentikan atau mengurangi daya tular penyakti infeksius. Intervensi dini dan pengobatan penyakit pada kasus tunggal dapat mencegah kelompok atau populasi terkena penyakit menular. Intervensi semacam ini berperan sebagai pencehan primer bagi orang yang tidak terpajan, dan pencegahan sekunder untuk mereka yang sudah tertular.

Pencegahan Tersier Tujuan dari tiga tahapan adalah membatasi atau menghalangi perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatn intensif. Pencegahan tersier juga mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cidera, atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Pada tahapan ini, saran nya adalah membantu mereka yang menderita penyakit atau cidera untuk menghindari penggunaan sia-sia layanan kesehatan dan agar menjadi tidak tergantung pada praktisi kesehatan dan institusi perawatan kesehatan. Diagnosis dan pengobatan segera yang diikuti dengan rehabilitasi yang tepat dan pemulihan pasca pengobatan, sekaligus pendidikan pasien yang sesuai, perubahan perilaku, perubahan gaya hidup, semuanya diperlukan agar penyakit atau ketidakmampuan tidak terjadi lagi. Setidak-tidaknya
18

perkembangan penyakit, gangguan, atau cidera harus di perlambat dan dikaji. Rehabilitasi adalah setiap upaya yang dilakukan untuk memulihkan seseorang yang sakit sehingga menjadi manusia yang lebih berdaya guna, produktif, mengikuti gaya hidup yang memuaskan, dan untuk memberikan kualitas hidup yang sebaik mungkin, sesuai tingkatan penyakit dan ketidakmampuan nya. Rehabilitasi merupakan salah satu komponen dalam pencegahan tersier ini.

5. Langkah-Langkah Penyelidikan Epidemiologi6 a. Penetapan terjadinya KLB Pertama-tama harus dipastikan bahwa KLB benar terjadi. Tingkat prevalensi dan data terdahulu harus dibandingkan dengan data statistic terbaru suatu penyakit untuk memastikan frekuensi baru penyakit tersebut. b. Konfirmasi atau menegakkan diagnosa Evaluasi medis, pemeriksaan klinis, dan uji laboratorium yang dilakukan oleh petugas medis biasanya diperlukan untuk menegakan diagnosis. Pengkajian terhadap temuan klinis harus dilakukan untuk memastikan kebenaran dan realibilitas suatu temuan. c. Tetapkan kriteria untuk mengidentifikasi seseorang sebagai kasus Karakteristik petunjuk yang tampak bergantung pada kondisi dan penyakit yang sedang diinvestigasi. Karakteristik ini dapat ditunjukan melalui tanda-tanda, gejala, perjalanan penyakit, tempat dan jenis pajanan, temuan laboratorium, dan pemeriksaan klinis saat mengidentifikasi kasus. d. Buat taksiran kasus secara kasar (hipotesa) Dalam hal ini, jumlah orang yang terpajan dan jumlah orang yang sakit harus dihitung. Semua kasus diberikan keterangan penjelas, kemudian diagnosis nya ditetapkan melalui pengkajian, pemeriksaan, dan prosedur medis standar. Kemudian ditarik hipotesa sementara untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut. e. Orientasikan studi dan data berdasarkan waktu, tempat, dan orang Waktu : Pastikan setiap kasus berdasarkan waktu awitannya dengan menggunakan kurva epidemik. Pastikan anda mengetahui masa inkubasi, pengaruh
19

waktu terhadap cara dan media penularan. Kronologis peristiwa, tahapan kejadian, mata rantai kejadian yang terikat dengan waktu, dan distribusi waktu awitan kasus harus dipastikan dan ditandai pada bagan dan grafik. Dari informasi kurva epidemik, tentukan sifat perjalanan penyakit, pastikan apakah kelompok memang terpajan dan terinfeksi dalam waktu yang kurang lebih sama atau berbeda. Lihat apakah ada pengelompokan penyakit berdasarkan waktu dan tempat. Tentukan dan tetapkan waktu kasus terjadi nya KLB. Tempat : Dengan menggunakan peta titik, tandai lokasi setiap kasus. Jika memungkinkan dan memang bermanfaat, ahli epidemiologi juga dapat menandai lokasi pajanan atau lokasi setiap kasus pada peta saat terjadi peristiwa atau pajanan. Sumber-sumber penyakit, faktor iklim, dan topografi yang memungkinkan juga harus dikaji. Pengelompokan kejadian harus ditentukan dengan menghubungkan tempat tinggal, tempat kerja, dan kemungkinan munculnya kembali kasus tersebut. Orang : Ahli epidemiologi harus segera mengenali orang yang dimaksud dan mengenali karakteristik yang berkaitan dengan penyakit yang sedang diinvestigasi. Semua kasus harus ditabulasikan menurut kelompok usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, dan ciri terkait lain nya. Perhitungkan juga interaksi keluarga, teman, rekan kerja, dan kerabat. Karakteristik tertentu pada seseorang mungkin memiliki keterkaitan yang lebih besar dengan beberapa penyakit atau kondisi dibandingkan dengan karakteristiknya yang lain. f. Klasifikasikan epidemi Tentukan jenis epidemi awal berdasarkan identifikasi kasus, taksiran kasar kasus, infromasi yang dikumpulkan tentang waktu, tempat, dan orang juga berdasarkan tabulasi data dan informasi. Lakukan pengkajian untuk menentukan cara penularan. g. Tentukan siapa yang beresiko Ahli epidemiologi harus menentukan dan memisahkan orang yang sakit dengan yang sehat. Orang yang asimptomatik atau sakitnya ringan harus dievaluasi secara medis. Lakukan juga penelusuran untuk menemukan sumber infeksi, manusia atau binatang, pada mereka yang beresiko. Mereka yang terpajan harus dipisahkan dengan mereka yang tidak terpajan. Yang sakit dipisahkan dari yang sehat.
20

h. Analisis temuan dan data Ahli epidemiologi mengumpulkan, menyusun, menabulasi, dan menganalisis serta menginterpretasi temuan. Analisis data dan hasil temuan membantu dalam pembuatan keputusan tentang hipotesis dan mereka yang beresiko. Komputer dapat digunakan untuk membantu menganalisis dan membuat grafik. Semua temuan dan analisis harus konsisten dengan sumber dan semua analisis yang ada. Temuan yang didapat harus memperkuat hipotesis, jika tidak, pembuatan hipotesis baru harus dipikirkan. i. Kembangkan hipotesa dan rumuskan kesimpulan Lakukan uji hipotesis. Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit yang sesuai dengan sifat penyebab penyakit, sumber infeksi, cara penularan, dan faktor lain yang berperan. j. Lakukan tindakan pengendalian dan pencegahan Tujuan utama epidemiologi dan investigasinya adalah memahami terjadinya KLB penyakit sehingga langkah-langkah dasar kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan pengendalian kesakitan dan kematian dapat diterapkan. Investigasi epidemiologi tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi sumber dan cara penularan, tetapi juga mata rantai dari KLB. Begitu mata rantai dalam perjalanan suatu penyakit dipahami, maka intervensi dapat dilakukan, mata rantai itu dapat diputus dan dihentikan perjalanan penyakitnya. Tujuan dari program pengendalian penyakit pada bidang kesehatan masyarakat adalah mencegah penyebaran penyakit, menghentikan epidemi, dan mencegah kemunculan nya lagi. k. Susun laporan Ahli epidemiologi harus menggunakan hasil investigasi dan keseluruhan hasil studi untuk membuat laporan tertulis. Laporan tersebut secara khas menampilkan narasi investigasi dan ulasan perjalanan epidemi dalam bentuk studi kasus. Salah satu tujuan penulisan laporan adalah untuk proses komunikasi dan penyebaran informasi.

6. Penanggulangan KLB a. Kuratif

21

Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah terjadi dehidrasi. Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar bersama tinja dengan cairan yang memadai melalui oral atau parenteral (Anonim, 1985; Rubin, 1985). Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah air kelapa, air tajin, air susu ibu, air the encer, sup wortel, air perasan buah dan larutan gula garam (LGG). Pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada pencegahan timbulnya dehidrasi. Sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau berat sebaiknya diberi minuman Oralit. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida, Kalium Klorida, Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat sekarang dijual dengan berbagai merek dagang yang mengandung komposisi yang sama. Tatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif merupakan bagian penting dalam pemberantasan penyakit diare khsususnya dalam upaya menurunkan angka kematian diare dan mengurangi komplikasi akibat diare. Selain daripada itu penderita yang berhasil akan pula menjadi pintu masuk promosi kesehatan lain dan kegiatan kesehatan lingkungan lain dalam rangka menurunkan angka kesakitan diare. Menurut Keputusan Seminar Nasional Pemberantasan Diare prinsip tata laksana diare adalah sebagai berikut : 1. Rencana Terapi A (Terapi diare tanpa dehidrasi di rumah) : Dalam tatalaksana diare di rumah: Jika anak tidak diberi ASI maka susu formula tetap diberikan. Jika berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat makanan padat berikan susu formula selang-seling dengan Oralit/cairan rumah tangga. 2. Rencana Terapi B (Terapi diare dengan dehidrasi ringan/sedang) : a. Dalam pemberian cairan Oralit pada 4 jam pertama : untuk anak di bawah usia 6 bulan yang tidak diberi ASI, berikan 100-200 ml susu selang-seling dengan Oralit/cairan rumah tangga. b. Dalam mengobservasi anak dan membantu ibu memberikan cairan Oralit, bila mata sembab pemberian Oralit dihentikan. 3. Rencana Terapi C (untuk diare dengan dehidrasi berat) : Terapi intravena Ringer Laktat bila diperlukan pada bayi setelah 1 jam pertama, diberikan 30 mg/kg dan dapat dilanjutkan untuk 5 jam berikutnya 70 mg/kg berat badan. Untuk anak-anak dan dewasa diberikan Ringer Laktat secara intravena dengan dosis 100
22

mg/kg berat badan. Obat-obat lain yang sering dikombinasikan dengan Oralit pada diare akut adalah Tetrasiklin, Trimetoprim, Metronidazol.

b. Protektif Puskesmas bukan tempat orang berobat (kuratif) semata, namun merupakan institusi yang memiliki program komprehensif, integratif dan berkesinambungan. Sebagaimana tertulis di atas, program Puskesmas dilaksanakan melalui Usaha Pokok Kesehatan (UPK), diantaranya:
1. Kesehatan Ibu Anak (KIA) 2. Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) 3. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) 4. Kesehatan Lingkungan 5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Kesehatan Ibu Anak (KIA) Kesehatan ibu dan anak adalah salah satu upaya kesehatan wajib puskesmas yang member pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, ibu melahirkan, ibu dalam masa nifas, ibu menyusui, dan bayi serta anak balita. Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan. Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam, telpon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatanpemantaun dan informasi KB. Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan di taman kanak-kanak. Tujuan dari pelayanan kesehatan ibu dan anak ini adalah : a. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga, penyelenggaraan posyandu dan sebagainya.
23

b. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga, serta di sekolah TK. c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui. d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita. e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya. Kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak yaitu :7 1. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan menyusui serta bayi, anak balita dan anak prasekolah. 2. Deteksi dini faktor resiko ibu hamil. 3. Pemantauan tumbuh kembang balita. 4. Imunisasi Tetanus Toxoid 2 kali pada ibu hamil serta BCG, DPT 3 kali, Polio 3 kali dan campak 1 kali pada bayi. 5. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan program KIA. 6. Pengobatan bagi ibu, bayi, anak balita dan anak pra sekolah untuk macammacam penyakit ringan. 7. Kunjungan rumah untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan pemeliharaan serta bayi-bayi yang lahir ditolong oleh dukun selama periode neonatal (0-30 hari) 8. Pengawasan dan bimbingan kepada taman kanak-kanak dan para dukun bayi serta kader-kader kesehatan.

Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Usaha Perbaikan gizi Keluarga (UPGK) adalah usaha perbaikkan gizimasyarakat yang berintikan penyuluhan gizi, melalui peningkatan peran serta masyarakat dan didukung kegiatan yang bersifat lintas sektoral. Pengertian lain mengenai UPGK adalah: a. Merupakan usaha keluarga sendiri untuk memperbaiki keadaan gizi seluruh anggota
24

keluarga b. Dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat dan petugas berbagai sektor sebagai motivator, pembimbing dan pembina, c. Merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari dan juga merupakan bagian integral dari pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat d. Secara operasional adalah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana kepada keluarga dan masyarakat.

Tujuan umum dari UPGK ini adalah mendorong perubahan sikap dan perilaku yang mendukung perbaikan gizi anak balita dan keluarga melalui peningkatan pengertian, partisipasi dan pemerataan hasil kegiatan untuk mencapai keluarga sadar gizi menuju terjadinya manusia berkualitas. Tujuan khusus dari UPGK adalah : 1. Partisipasi dan pemerataan kegiatan 2. Perubahan tingkah laku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi

Empat masalah gizi utama yang banyak ditemukan di berbagai wilayah bahkan di berbagai negara berkembang yaitu KEP, kekurangan Vitamin A, anemia gizi, gondok endemik, pada umumnya menyerang kelompok penduduk yang tergolong rawan yaitu bayi, anak usia di bawah lima tahun (balita), ibu hamil, dan ibu menyusui.8 Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu di bawah koordinasi yang baik, yang bertujuan menurunkan jumlah penderita gangguan gizi, bahkan jika mungkin menghilangkan bahaya gangguan gizi pada kelompok penduduk yang rawan itu. Apabila masalah gizi semata-mata dilihat dari sudut kesehatan masyarakat, maka usaha penanggulangannya pun dapat dilakukan dengan menggunakan dasar-dasar usaha kesehatan masyarakat yaitu: a) Mempertinggi tingkat gizi penduduk terutama golongan rawan melalui berbagai kegiatan yang bertujuan memperbaiki kualitas makanan keluarga pemanfaatan air susu ibu (ASI) secara tepat, menanamkan rasa sadar gizi pada setiap anggota keluarga dan sebagainya.
25

b) Memberikan perlindungan khusus terhadap kemungkinan terjadinya gangguan gizi tertentu seperti kekurangan vitamin A, anemia gizi, penyakit gondok. Kepada semua anak di bawah usia 5 tahun diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi sekali setiap 6 bulan guna melindungi anak terhadap kemungkinan menderita defisiensi vitamin A, memberikan suntikan larutan Iodium kepada penduduk yang tinggal di daerah endemik penyakit gondok, memberikan tablet besi kepada setiap ibu hamil. c) Melakukan pengamatan dini terhadap penyakit gangguan gizi dan melakukan usaha penanggulangan secara cepat dan tepat. Kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala berupa pengawasan terhadap pertumbuhan anak melalui penimbangan berat badan sekali sebulan dengan menggunakan kartu menuju sehat (KMS). d) Mengatasi akibat yang mungkin timbul dengan jalan memberikan perawatan yang intensif. Penderita gangguan gizi yang dalam keadaan berat harus segera dikirim ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang lebih baik sehingga akibat yang ditimbulkan gangguan gizi ini dapat dibatasi seminimal mungkin.

Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada

pelaksanaansurveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yangditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita.
Disamping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan denganpemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas

lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalamupaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagaikegiatan. Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif program ini meliputi: 1. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko 2. Peningkatan imunisasi 3. Penemuan dan tatalaksana penderita 4. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah 5. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit

26

Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta masyarakat. Kegiatan pokok program ini meliputi : 1. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar 2. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan 3. Pengendalian dampak resiko pencemaran 4. Pengembangan wilayah sehat

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.8 PHBS di rumah tangga yang dapat dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yaitu : 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Memberi ASI ekslusif 3. Menimbang balita setiap bulan 4. Menggunakan air bersih 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. Menggunakan jamban sehat 7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu 8. Makan buah dan sayur setiap hari 9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari 10. Tidak merokok di dalam rumah

27

Daftar Pustaka 1. Tamher, Noorkasiani. Flu burung: Aspek klinis dan epidemiologis. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2008. h.10. 2. Makbar.KLB dan campak. Diunduh dari http://www.scribd.com/makbar_84/d/58089491KLB-Campak, 17 Juni 2012. 3. Timmreck, Thomas. Epidemiologi: suatu pengantar. Alih bahasa; Munaya Fauziah. Editor edisi bahasa Indonesia; Palupi Widyastuti. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004. h.13-4. 4. Wahyudin Rajab. Buku ajar epidemiologi untuk mahasiswa kebidanan. Editor; Monica Ester. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009. h.28-31. 5. Heru subari. Manajemen epidemiologi. Yogyakarta: Media Pressindo; 2004.h.16-7. 6. Timmreck, Thomas. Epidemiologi: suatu pengantar. Alih bahasa; Munaya Fauziah. Editor edisi bahasa Indonesia; Palupi Widyastuti. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004. h.351-8. 7. Kesehatan ibu dan anak. 2 Desember 2010. Diunduh dari http://nursingbegin.com/kesehatan-ibu-dan-anak/, 17 Juni 2012. 8. Unsa Yani. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. 1 Juli 2011. Diunduh dari http://unsa73.blogspot.com/2011/07/usaha-perbaikan-gizi-keluarga-dan.html, 17 Juli 2012.

28