Anda di halaman 1dari 17

Detektor Geiger Muller (GM)

A. Tujuan
1. Mengetahui karakteristik pencacahan Geiger Muller. 2. Dapat melakukan pencacahan radiasi menggunakan sistem pencacah dengan detektor

Geiger Muller. Tujuan Operasional 1. 2. 3. 4. 5. B. Menggambar daerah plato serta menentukan tegangan kerja detektor. Menguji kestabilan sistem pencacah yang digunakan. Menentukan waktu mati detektor. Menentukan efisiensi detektor. Menentukan aktivitas suatu sumber radiasi. Dasar Teori Sejak ditemukan detektor radiasi pengion oleh Hans Geiger pada tahun 1908, kemudian tahun 1928 disempurnakan oleh Walther Mueller menjadi tabung detektor Geiger-Mueller yang konstruksinya sederhana dibandingkan dengan jenis detektor yang lain. Detektor GeigerMueller terdiri dari suatu tabung logam atau gelas dilapisi logam yang biasanya diisi gas seperti argon, neon, helium atau lainnya (gas mulia dan gas poliatomik) dengan perbandingan tertentu. Skema detektor Geiger-Mueller ditunjukkan pada Gambar 1:

Gambar 1.Skema Detektor Geiger Muller Detektor Geiger-Mueller merupakan salah satu jenis detektor isian gas yang bekerja berdasarkan prinsip ionisasi oleh radiasi yang masuk terhadap molekul yang berada dalam detektor. Dinding tabung sebagai katoda sedangkan kawat di poros sebagai anoda. Apabila antara anoda dan katoda diberikan tegangan maka akan terjadi medan listrik dalam tabung. Kuat

medan listrik yang terjadi bergantung pada tegangan yang diberikan, besar jari-jari anoda dengan katoda dan jarak antara anoda dengan katoda seperti pada Gambar 2:

Gambar 2. Skema parameter yang mempengaruhi medan listrik dalam detektor Detektor berbentuk silider dengan dengan jari-jari r berpusat pada poros silinder, maka garis gaya yang menembus seluruh selimut silinder akan berbanding lurus dengan kuat medan listriknya E(r) dinyatakan dalam persamaan berikut

Berdasarkan mekanisme quenching, detektor Geiger-Mueller dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1. Detektor Geiger-Mueller non self quenching Detektor ini biasa disebut juga dengan detektor Geiger-Mueller external quenching. Detektor ini hanya diisi dengan satu macam gas isian yaitu gas mulia misalnya gas argon, neon, helium dan lain-lain. Pada detektor jenis ini, proses avalanche yang terjadi tidak dapat dikendalikan di dalam tabung ini sendiri tetapi dikendalikan dengan suatu rangkaian elektronik.
2. Detektor Geiger-Mueller self quenching

Detektor jenis ini diisi dengan gas mulia ditambahkan dengan gas poliatomik sebagai peredam. Dengan adanya tambahan gas peredam tersebut maka proses avalanche yang terjadi dapat dikendalikan dalam tabung itu sendiri. Pada detektor Geiger-Mueller, peningkatan jumlah ion-ion positif yang mencapai katoda sangat mempertinggi kemungkinan pemancaran elektron bebas dan selanjutnya terjadi lucutan yang tak terkendali (discharge). Untuk alasan ini tindakan pencegahan dapat diberikan kepada detektor Geiger-Mueller untuk mencegah kemungkinan pulsa yang berlebihan yaitu dengan menambahkan peredam (quenching). Quenching ada dua jenis yaitu external quenching dengan tambahan resistor kapasitor yang sederhana dan self quenching dengan menambahkan gas poliatomik atau gas halogen. Secara khusus untuk mencegah kemungkinan pulsa yang dihasilkan berlebihan maka digunakan external quenching dengan tambahan resistor-kapasitor. External quenching dengan tambahan resistor-kapasitor akan menurunkan pemakaian tegangan tinggi pada tabung detektor sehingga akan memberikan hasil ionisasi yang rendah dan proses avalanche

tidak terbentuk meskipun sebuah elektron bebas melepaskan diri dari katoda. Rangkaian ekivalen detektor Geiger-Mueller ditunjukkan pada Gambar 3:

Gambar 3. Rangkaian ekivalen detektor Geiger Muller dengan resistor-kapasitor R1 dan R2 menggambarkan resistansi masukan dari rangkaian, C1 merupakan kapasitansi detektor, sedangkan C2, C3, dan C4 merupakan stray capacitance yaitu kapasitansi pada rangkaian yang mempengaruhi sistem kerja detektor. Parameter Detektor Geiger-Mueller
1. Geometri

Faktor geometri sangat mempengaruhi pembuatan detektor terutama untuk memperoleh karakteristik detektor yang optimal. Pembuatan detektor disesuaikan dengan kebutuhan dan kegunaannya, misalnya detektor Geiger-Mueller untuk pengukuran radiasi alpha, beta maupun gamma maka dibuat detektor Geiger-Mueller tipe end window, sedangkan untuk mengukur radiasi gamma dibuat detektor Geiger-Mueller tipe side window. Bentuk fisik dari detektor Geiger-Mueller terdiri dari selongsong tabung silinder yang berfungsi sebagai katoda dan kawat yang terletak di sumbu silinder berfungsi sebagai anoda. Letak anoda dalam tabung harus dibuat simetris agar medan listrik yang ditimbulkan dalam ruang tabung bersifat konsentris.
2. Jenis bahan

Bahan untuk pembuatan anoda dipilih dari suatu bahan yang mempunyai sifat tahan terhadap campuran gas isian dalam tabung detektor. Bahan untuk membuat katoda menggunakan bahan yang mempunyai tenaga ikat elektron tinggi, tahan terhadap vakum yang tinggi serta bahannya juga harus tahan terhadap gas isian. Bahan katoda juga harus mempunyai daya hantar listrik yang baik, mudah melekat pada gelas, murah dan mudah diperoleh[3]. Variasi bahan komponen detektor Geiger-Mueller yang dapat dibuat adalah sebagai berikut: (1) Bahan katoda: tembaga, perak, perunggu, nikel dan lain-lain. (2) Bahan Anoda: wolfram, kawat baja, nikel, tungsten dan lain-lain. (3) bahan jendela untuk detektor

Geiger- Mueller tipe end window berupa millar, aluminium foil, plastik, mika, titanium foil dan lain-lain. 3. Tekanan vakum Kevakuman pada tabung detektor yang tinggi dan stabil dapat menyebabkan karakteristik detektor yang stabil. Kevakuman akan menentukan banyak sedikitnya molekul- molekul gas yang ada dalam tabung detektor sebelum diisi dengan gas yang akan digunakan. Tekanan vakum yang rendah akan menyebabkan sisa molekul gas yang berada dalam sistem vakum masih banyak sehingga konsentrasi gas isian akan terpengaruh yang membuat karakteristik detektor menjadi tidak optimal. 4. Gas isian Gas isian ini bergantung pada jenis detektor yang akan dibuat, karena detektor GeigerMueller bila ditinjau dari jenis gas isian ada dua yaitu non self quenching yang diisi dengan satu jenis gas mulia dan self quenching yang diisi dengan gas mulia ditambah dengan gas quenching. Gas pengisi detektor tersebut diantaranya adalah gas mulia atau gas monoatomik seperti argon, kripton, helium, neon dan xenon. Jenis gas quenching berupa gas poliatomik seperti alkohol, metana, ethyl atau gas halogen seperti bromine, iodine, chlorine Karakteristik detektor Geiger-Mueller 1. Plateau dan slope Plateau detektor Geiger-Mueller adalah daerah tegangan kerja detektor Geiger-Mueller. Panjang plateau detektor yang baik adalah lebih dari 100 volt. Detektor yang dioperasikan di bawah tegangan kerja menyebabkan pulsa-pulsa yang tercacah masih sedikit, karena elektron dan ion yang terjadi akibat ionisasi masih banyak yang mengalami penggabungan kembali atau rekombinasi. Detektor yang dioperasikan di atas tegangan kerja akan menyebabkan terjadinya pelucutan ion yang sangat banyak dan sudah tidak sebanding lagi dengan intensitas radiasi yang datang.

Gambar 4. Grafik jumlah cacah per menit terhadap tegangan Kurva yang menyatakan hubungan antara jumlah cacah per satuan waktu terhadap tegangan kedua elektroda ditampilkan pada Gambar 4: Kemiringan garis kurva plateau disebut slope. Detektor Geiger-Mueller dikatakan baik apabila mempunyai daerah plateau yang panjang dan slope yang kecil. Panjang plateau dinyatakan dalam persamaan berikut:

2. Resolving time

Resolving time adalah waktu minimum yang diperlukan agar radiasi berikutnya dapat dicacah setelah terjadinya pencacahan radiasi yang datang sebelumnya. Resolving time dapat ditentukan dengan cara mencacah dua sumber radioaktif yang sama. Mula-mula, dicacah secara terpisah dan memberikan hasil pencacahan N1 dan N2, kemudian dicacah bersama-sama yang akan memberikan hasil pencacahan N1-2, selanjutnya dilakukan pencacahan tanpa sumber radasi atau cacah latar. Resolving time dapat dihitung dengan persamaan berikut:

3. Dead time Pelepasan muatan dalam tabung detektor menyebabkan terbentuknya muatan ruang ion positif di sekitar kawat anoda. Adanya muatan ruang menyebabkan kuat medan listrik pada daerah anoda menurun. Radiasi yang datang dalam keadaan ini tidak akan tercacah oleh detektor, dengan kata lain detektor tidak mampu menghasilkan pulsa keluaran. Waktu

dimana detektor tidak mampu mencacah radiasi yang masuk dinamakan waktu mati (dead time). Dead time dikatakan berakhir ketika ion positif bergerak menjauhi anoda.

Gambar 5. Bentuk pulsa keluaran detektor Geiger Muller Pada akhir dead time, multiplikasi ion (avalanche) sudah terjadi, tetapi pulsa keluaran masih kecil karena medan listrik belum cukup kuat. Pulsa keluaran yang dihasilkan dari zarah radiasi sudah dapat dicacah oleh detektor ketika ion positif mencapai katoda. Pada keadaan ini detektor dikatakan telah pulih kembali atau disebut juga dengan waktu pulih (recovery time). Jumlah waktu mati dan waktu pulih disebut dengan resolving time yang ditunjukkan seperti pada Gambar 5.

C. Alat dan Bahan. Alat: 1. Perangkat Alat Cacah i. ii. Detektor Geiger Muller (GM). Rangkaian Pembalik Pulsa (Inverter).

iii. Sumber Tegangan Tinggi (HV). iv. Timer. v. Counter. 2. Pinset Bahan: 1. Sumber Radiasi Standar Co-60
2. Sumber Radiasi Standar Cs-137 3. Sumber Radiasi x (unknown)

D. Langkah Kerja Penentuan Tegangan Kerja. 1. Alat cacah (GM) dinyalakan dan dilakukan pemanasan selama 1 menit. 2. Sumber standar diletakkan dalam detektor dengan menggunakan pinset. 3. Pencacahan dilakukan dengan mengatur tegangan HV serta timer. 4. HV dinaikkan secara bertahap, sedangkan timer dipertahankan dan dicatat hasil pencacahan. 5. Tegangan kerja diperoleh apabila sudah mendapatkan jumlah cacah yang selisihnya paling sedikit dengan jumlah cacah sebelumnya. Penentuan Kestabilan Alat Pencacah. 1. HV diatur pada tegangan kerja dan sumber yang dipakai adalah sumber standar Co-60. 2. Pencacahan dilakukan sebanyak 10 kali dengan sebelumnya ditentukan waktu cacahnya. 3. Langkah 1 dan 2 diulangi untuk pencacahan latar/background (pencacahan tanpa sumber radiasi). Penentuan Waktu Mati / Dead Time.
1. Dipersiapkan sumber radiasi 2 buah.

2. HV dan Timer diatur 3. Pencacahan dilakukan masing-masing sebanyak 3 kali untuk sumber 1, sumber 2, dan sumber 1+sumber 2.

Penentuan Efisiensi Alat Cacah. 1. Sumber radiasi Co-60 yang sudah diketahui aktivitas awalnya diletakkan di dalam detektor. 2. HV dan Timer diatur. 3. Pencacahan dilakukan sebanyak 2 kali.
4. Dicatat pula t0, dan t.

Penentuan Aktivitas Suatu Sumber X.

1. Suatu sumber radiasi Cs-137 dicacah sebanyak 3 kali. 2. Suatu sumber radiasi x (unknown) dicacah sebanyak 3 kali. 3. Hasil pencacahan pada langkah 2 dibandingkan dengan langkah 1. 4. Aktivitas sumber radiasi x ditentukan. E. Data Percobaan
1. Penentuan Daerah Plato atau Tegangan Kerja.

Lama cacahan Sumber No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

: 100 detik. : Co-60 Jumlah Cacahan per Detik (dps) 65,13 68,29 69,62 69,74 72,46 74,34 75,85 74,86 77,04

Tegangan HV (V) 700 720 740 760 780 800 820 840 860

Jumlah Cacahan 6513 6829 6962 6974 7246 7434 7585 7486 7704

2. Penentuan Kestabilan Alat Pencacah. Laju cacah latar (R b ) : 116 = 0,58 dps 200

Sumber radiasi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rn 65,2 66,2 65,5 65,5 65,9 65,8 67,6 67,2 67,3 67,3

: Co-60 (Rn - R b ) = Ri 64,62 65,62 64,92 64,92 65,32 65,22 67,02 66,62 66,72 66,72 (Rn R b) =R i = 65,77 Ri - R i -1,15 -0,15 -0,85 -0,85 -0,45 -0,55 1,25 0,85 0,95 0,95
-

(Ri - R i )2 1,3225 0,0225 0,7225 0,7225 0,2025 0,3025 1,5625 0,7225 0,9025 0,9025

(Ri

Ri) 2 = 7,385

3. Penentuan Waktu Mati / Dead Time. Lama cacahan HV Sumber Radiasi Co-60 Cs-137 Co-60 + Cs-137 : 100 detik : 760 V 1 6672 6973 13328 Pencacahan 2 6592 7023 13143 3 6716 6811 13380

4. Penentuan Efisiensi Alat Cacah. Sumber Radiasi A0 t0 t t praktek HV Lama pencacahan Pencacahan 1 2 : Co-60 : 1Ci : November 2011 : 5,27 tahun : 9 Oktober 2012 : 760 Volt : 60 detik Jumlah cacahan 4008 3834 Jumlah cacahan per detik (dps) 66,8 63,9

5. Penentuan Aktivitas Suatu Sumber X.

Sumber Radiasi A0 t0 t t praktek HV Lama pencacahan No 1 2 3 F. Perhitungan

: Cs-137 : 5Ci : September 2011 : 30,07 tahun : 9 Oktober 2012 : 760 Volt : 60 detik Sumber Radiasi Cs-137 4107 4034 4087 x (unknown) 1797 1798 1850

1. Penentuan Daerah Plato atau Tegangan Kerja. Dari data percobaan penentuan plato atau daerah kerja dapat dibuat grafik sebagai berikut:

Berdasarkan grafik di atas, diperoleh: N1 N2 V1 V2 = 69,62 dps = 69,74 dps = 740 V = 760 V

Tegangan Kerja (Vk)

Vk

= V1 +

1 (V2 V1) 3 1 (760 V 740 V) 3

= 740 V +

= 740 V + 6,667 V = 746,667 V = : 760 V


Landai Plato per Volt (Slope = S)

= =

N 2 N1 100% (V2 V1 ) N1 69, 74 cps 69, 62 dps 100% (760 V 740 V)69, 62 dps

= 0,008618 % Volt 2. Penentuan Kestabilan Alat Pencacah.


- R i = 65,77 -

(Ri

Ri) 2 = 7,385

X2

= 7,385 65, 77

(Ri

Ri) 2

Ri =

= 0,11229 Alat dianggap stabil bila harga X2 antara 3,35 16,95 atau 3,35 < X2 < 16,95. Disini X2 = 0,11229 berarti 0,11229 <3,35 atau kurang dari jangkauan range sehingga dapat dikatakan alat ini tidak stabil. 3. Penentuan Waktu Mati / Dead Time. N1 N2 N1+2 Nb = 6660 cacah/100 s = 66,6 dps, N1 = 4435,56 dps2 = 6935,67 cacah/100 s = 69,3567 dps, N 2 = 4810,3518 dps2 = 13283,6667cacah/100 s = 132,8367 dps, N1+2 =17645,58 dps2 = 116 cacah/200 s = 0,58 dps
2 2 2

N1 +N 2 N1+2 N b N1+2 N1 N 2
2 2 2

= =

66, 6 + 69,3567 132,8367 0,58 dps/ dps2 17645,58 4435,56 4810,3518 2,54 dps/ dps2 8399, 6682

= 3, 0239.104 detik = 302,39 detik. Sehingga, N1 = 6660 cacah/100 s = 66,6 dps = = N1 1 N1. 66, 6 1 66, 6.3, 0239.104

N1 sebenarnya

= 67,9688 dps N 2 sebenarnya N1+2 sebenarnya = 70,8425 = 138,3959

4. Penentuan Efisiensi Alat Cacah. Sumber Radiasi A0 : Co-60 1Ci 3, 67.1010 dps 1Ci

= 1.106Ci = 36700 dps t0 t praktek t

: November 2011 : 9 Oktober 2012 = t praktek - t0 = 9 Oktober 2012 15 November 2011(tanggal tidak ada informasi jadi dianggap pertengahan bulan) = (15+31+31+29+31+30+31+30+31+31+30+9)hari = 329 hari

: 5,27 tahun = 5, 27 th 365 hari / th = 1923,55 hari = ~ 1924 hari

HV

: 760 Volt

Lama pencacahan : 60 detik = 0, 693 t 0, 693 1924

= 3, 6019.104 / hari

t A standar = A0 .e
4 = 36700 dps . e( 3,6019.10 329)

= 32598, 76 dps Pencacahan 1 2 N standar netto = N st - N b = 66,8 + 63,9 0,58 2 Jumlah cacahan 4008 3834 Jumlah cacahan per detik (dps) 66,8 63,9

= 64,77 dps Efisiensi N st 100% A standar = 64, 77 100% 32598, 76

= 0,1987 % 5. Penentuan Aktivitas Suatu Sumber. Sumber Radiasi A0 t0 : Cs-137 : 5Ci : September 2011

: 30,07 tahun = 10976 hari

=
t praktek t HV

0, 693 =0,693/10976 = 6,314.105 t

: 9 Oktober 2012 : 9 Oktober 2012 - 15 September 2011 = 390 hari : 760 Volt

Lama pencacahan : 60 detik Sumber Radiasi Cs-137 4107 4034 4087 = 30,65 dps x (unknown) 1797 1798 1850

No 1 2 3
-

Nc Nb

= 1815 cacah / 60 s = 0,58 dps

N standar = 4076 cacah/60 s = 67,93 dps Astandar = A0 .e t = 5Ci. e( 6,314.10 = 5Ci.0,9757 = 4,8785 Ci N c Nb Astandar N standar N b 30, 65 dps 0,58 dps 4,8785 Ci 67,93 dps 0,58 dps 30, 07 dps 4,8785 Ci 67,35 dps
5

390)

Acuplikan

= = =

= 2,178 Ci G. Pembahasan. Pada percobaan ini terlebih dahulu dilakukan penentuan tegangan kerja detektor Geiger Muller sebelum melakukan pencacahan lebih lanjut. Tegangan kerja suatu detektor Geiger Muller disebut plato, daerah kerja detektor adalah daerah dimana ionisasi sudah tidak bergantung pada jenis dan besarnya tenaga radiasi. Untuk mencari tegangan kerja detektor GM terlebih dahulu harus diketahui bentuk platonya, plato diperoleh dari hasil cacah yang telah dilakukan pencacahan dalam waktu tertentu menggunakan tegangan tinggi yang dpat diatur sehingga

menghasilkan cacah, cacah akan diperoleh setiap ada perubahan tegangan. Pada tegangan awal akan diperoleh cacah rendah, cacah dilakukan sampai cacah melonjak tinggi. Kemudian dicari data yang diperoleh dibuat grafik hubungan antar Tegangan (HV) dengan cacah yang dihasilkan. Dari grafik tersebut didapat harga harga yang dapat dipakai sebagai patokan atau karakteristik dari detektor mengenai tegangan kerjanya. Pada percobaan ini daerah plato GM pada tegangan 740 760 V dan tegangan kerjanya 746,667 V, serta landai platonya 0,008618 % Volt . Setelah tegangan kerja diketahui, dilakukan penentuan kestabilan detektor. Pada umumnya detektor memiliki kemampuan untuk menerima zarah radiasi yang dipancarkan sumber radioaktif dan memiliki kestabilan dalam menerima zarah radiasi yang datang. Untuk menentukan kestabilan alat maka dilakukan pencacahan sebanyak mungkin untuk mendapatkan hasil yang baik. Tetapi dalam praktikum ini dilakukan pencacahan sebanyak 10 kali. Dalam perhitungannya dilakukan dengan tes Chi square, dan diperoleh harga X2 = 0,11229. Sedangkan dalam ketentuannya, detektor dikatakan stabil apabila 3,35 < X2 < 16,95. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat tersebut dalam keadaan tidak stabil sebab hasilnya jauh melebihi range stabil yang telah ditentukan. Proses pembacaan detektor Geiger Muller adalah proses pengubahan sebuah radiasi menjadi pulsa listrik dan akhirnya tercatat sebagai sebuah cacahan. Proses ini memerlukan selang waktu tertentu yang sangat dipengaruhi oleh kecepatan detektor dan peralatan penunjang lainnya. Selang waktu tersebut dinamakan sebagai waktu mati (dead time) dari sistem pencacah karena selama selang waktu tersebut sistem pencacah tidak dapat mendeteksi radiasi yang datang. Dengan kata lai, radiasi yang datang berurutan dengan selang waktu yang lebih singkat daripada waktu matinya tidak dapat dicacah atau tidak terhitung oleh sistem pencacah. Dalam penentuan waktu mati detektor minimal diperlukan dua buah sumber radiasi yang harus dicacah sendirisendiri dan dicacah secara bersamaan serta dilakukan pencacahan background. Setelah didapatkan hasil cacah, digunakan rumus: N1 +N 2 N1+2 N b N1+2 N1 N 2
2 2 2

maka didapat suatu harga yang menunjukkan waktu mati dari detektor GM. Dan dari praktikum ini didapat waktu mati () = 302,39 detik. Selanjutnya dilakukan penentuan efisiensi detektor. Efisiensi adalah suatu parameter yang sangat penting dalam pencacahan karena nilai inilah yang menunjukkan perbandingan antara jumlah pulsa listrik yang dihasilkan sistem pencacah(cacahan) terhadap radiasi yang diterima detektor. Untuk menentukan efisiensi maka perlu radiasi yang sudah diketahui aktivitasnya dan dilakukan pencacahan. Dengan menggunakan rumus maka efisiensi alat dapat diketahui, berikut rumus yang digunakan:

E= Dimana : E N st

N st 100% A standar

= Efisiensi = N standar netto

Astandar = Aktivitas standar Pada percobaan ini didapat efisiensi alat sebesar 0,1987 %. Percobaan yang terakhir yakni penetuan aktivitas sumber X yang tidak diketahui. Dalam penentuannya harus digunakan sumber radioktif yang telah diketahui aktivitasnya sebagai pembanding. Dalam percobaan ini digunakan sumber standar Cs-137. Dengan membandingkan hasil cacahan sumber X dan sumber standar Cs-137 setelah masing-masing dikurangi dengan cacah background terlebih dahulu serta mengetahui aktivitas sumber standar Cs-137, maka aktivitas sumber X dapat dicari. Rumusnya: Acuplikan = N c Nb Astandar N standar N b

Dari hasil perhitungan didapat besarnya aktivitas sumber X adalah 2,178 Ci . H. Kesimpulan.
1. Tegangan kerja detektor Geiger Muller adalah antara 740 hingga 760 V, dan landai plato

0,008618 % Volt .
2. Kestabilan alat tidak baik karena X2 = 0,11229. Padahal alat dianggap stabil bila harga X2

antara 3,35 16,95 atau 3,35 < X2 < 16,95. 3. 4. Detektor GM tersebut mempunyai waktu mati 302,39 detik.. Detektor GM tersebut mempunyai efisiensi 0,1987 %.

5. Aktivitas cuplikan (sumber X) didapat 2,178 Ci .

I. Daftar Pustaka. http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/pengukuran _radiasi/...... http://local.ans.org/mi/teacher_CD/activies/...... Suparno,dkk. 2011.Petunjuk Praktikum ADPR Detektor Geiger Muller.Yogyakarta:STTNBATAN Jurnal Prosiding Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir oleh Irma Safitri(Prodi Fisika, Fakultas Saintek, UIN Sunan Kalijaga), Anis

Yuniati(Prodi Fisika, Fakultas Saintek, UIN Sunan Kalijaga), dan Irianto(PTAPBBATAN)

Yogyakarta, 13 Oktober 2012. Dosen Praktikan,

Maria Christina P.

Tino Umbar.