Anda di halaman 1dari 94

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS

A. DATA PROYEK Nama Kegiatan : Pengadaan Pompa, Pembangunan Rumah Pompa,Rumah Jaga, Ruang Generator Set dan Pintu Air beserta kelengkapannya. : Pengadaan Pompa, Pembangunan Rumah Pompa, Rumah Jaga, Ruang Generator Set Beserta Kelengkapannya di Boezem Wonorejo : Kota Surabaya. : Pemerintah Kota Surabaya Dinas Bina Marga dan Pematusan. : APBD II (Pendapatan Daerah) : 2007

Paket Kegiatan

Lokasi Pengguna Jasa Sumber Dana Tahun Anggaran

1. LINGKUP PEKERJAAN Pengadaan Pompa Beserta Kelengkapannya di Saluran Kebon Agung Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Struktur (Pembuatan Rumah Pompa & Rumah Jaga) Pekerjaan Elektrikal dan Mekanikal Pembuatan dan pemasangan pintu air elektrik Pembuatan ruang genset dan ruang jaga pintu air Pengadaan genset ( 650 KVA) dan pembangunan Rumah genset Pengadaan dan pemasangan Pompa Banjir (4 unit), Pompa Lumpur (2 unit) dan perlengkapannya

2. RENCANA KERJA Dalam waktu selambat-lambatnya 3 hari dari saat penunjukan pemenang, kontraktor harus mengajukan sebuah rencana kerja atau action plan tertulis lengkap dengan gambar-gambar pendukung metode kerja, sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan seperti yang disebutkan dalam dokumen tender, menjelaskan secara terperinci urusan pekerjaan dan cara melaksanakan pekerjaan tersebut hal-hal khusus bila diperlukan, persiapan-persiapannya, peralatan, pekerjaan sementara yang ada sejauhmana hal tersebut mencakup lingkup dari pekerjaannya dan harus mendapatkan persetujuan dari Direksi, pengawas dan pihak-pihak atau instansi yang terkait dengan kelangsungan proyek tersebut di atas. 3. TEMPAT KERJA Bilamana diperlukan tempat kerja dan tempat kerja tersebut di luar daerah pengawasan proyek, dimana harus membayar sewa/dikeluarkan biaya ganti rugi,

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-1

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

maka Kontraktor harus menyelesaikannya tanpa membebani Direksi dengan pembiayaan tambahan. 4. TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor wajib memeriksa kekuatan kontruksi yang akan dilaksanakan dan harus mengkonsultasikan dengan Konsultan Perencanaan dan Konsultan Pengawas. Segala sesuatu kerusakan yang timbul akibat kelalaian Kontraktor tidak melaksanakan pemeriksaan kekuatan Kontraktor menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pada Keadaan apapun, dimana pekerjaanpekerjaan yang dilaksanakan telah mendapat persetujuan Direksi lapangan tidak berarti membebaskan Kontraktor atas tanggung jawab pada pekerjaan sesuai dengan isi kontrak. Pada masa pemeliharaan, Kontraktor harus membuat laporan secara periodik setiap bulan tentang kondisi hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan dan diketahui oleh Pengawas. 5. TENAGA KERJA Tenaga-tenaga kerja yang digunakan hendaknya dari tenaga-tenaga yang ahli/terlatih dan berpengalaman pada bidangnya dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai dengan ketentuan /petunjuk Direksi Lapangan. 6. SATUAN UKURAN Semua satuan ukuran yang disebutkan dalam spesifikasi ini serta yang digunakan di dakam pekerjaan adalah standart meter dan kilogram. Bila disebut satu ton, yang dimaksud adalah satu ton yang bernilai 1000 kilogram 7. PERINTAH UNTUK PELAKSANAAN Bila Kontraktor tidak berada di tempat pekerjaan dimana Direksi bermaksud untuk memberikan petunjuk-petunjuk, maka petunjuk-petunjuk itu harus diturut dan dilaksanakan oleh Pelaksana atau orang-orang yang ditunjuk untuk itu oleh Kontraktor. Orang-orang atau pelaksana tersebut harus mengerti bahasa yang dipakai oleh Direksi atau Kontraktor akan menyediakan penterjemah khusus untuk keperluan tersebut. 8. PEKERJAAN DAN BAHAN BAHAN YANG TERMASUK DIDALAM HARGA SATUAN. Pekerjaan dan bahan bahan yang diperlukan sesuai dengan macam-macamnya seperti yang disebutkan artikel artikel dalam spesifikasi ini, gambar rencana petunjuk tambahan ataupun petunjuk petunjuk Direksi dilapangan harus tercakup dalam pembiayaan untuk tenaga kerja, harga bahan, organisasi kerja, biaya tak terduga, keuntungan, biaya biaya penggantian sewa / pemakaian tanah pada pihak ketiga, atau kerusakan atas milik seseorang, kerja lain yang disebut dalam spesifikasi ini untuk kesempurnaan hasil kerja dimana tidak ada mata pembiayaan khusus pengairan air darurat selama pelaksanaan kerja, pembongkaran, peralatan bahan peledak serta alat alatnya, penempatan bahan bahan sesuai dengan
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-2

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

petunjuk perlindungan, perkuatan pengaturan as saluran dan tenaga ahli untuk keperluan ini, perumahan dan pembiayaan lainyang biasanya diperlukan guna menyelesaikan pekerjaan sebaik baiknya. 9. LAPORAN. a. Kontraktor diharuskan membuat bahan laporan berkala kemajuan pekerjaan untuk setiap satu minggu kegiatan dengan mengisi formulir evaluasi kemajuan pekerjaan sesuai dengan petunjuk Direksi. Ringkasan laporan tersebut harus mencantumkan keadaan cuaca jumlah pengerahan tenaga kerja, tenaga pengawas, dan pelaksana. Alat alat yang dipergunakan, jumlah bahan bahan bangunan lokasi pekerjaan kemajuan fisik dari pekerjaan yang telah selesai, masalah-masalah yang timbul dilapangan serta pemecahannya dan rencan kerja minggu berikutnya. b. Laporan kemajuan pekerjaan harus diserahkan oleh kontraktor pada setiap akhir pekan untuk dievaluasi. c. Laporan lain seperti laporan harian dan lain lain sesuai dengan uraian dalam syarat syarat umum kontrak. 10. GAMBARGAMBAR DAN UKURAN a. Gambar-gambar yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan adalah: Gambar yang termasuk dalam dokumen tender Gambar perubahan yang disetujui Direksi Gambar lain yang disediakan dan disetujui Direksi

b. Kalkir asli dari gambar-gambar proyek disimpan Laporan kemajuan pekerjaan harus diserahkan oleh kontraktor pada setiap akhir pekan untuk dievaluasi. c. Kontraktor diharuskan menyimpan satu set cetak biru dikantor lapangan untuk dipergunakan setiap saat apabila diperlukan. d. Gambar gambar pelaksanaan (shop Drawing) dan detailnya harus mendapat persetujuan direksi sebelum dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. e. Pada penyerahan terakhir pekerjaan yakni sesudah selesainya masa pemeliharaan harus disertai Gambar hasil pelaksanaan (as built drawing). f. Semua ukuran dinyatakan dalam system metrik. g. Kalau terdapat perbedaan dengan. 11. WILAYAH KERJA a. Secara umum Kontraktor dilarang menimbun atau menempatkan bahan-bahan bangunan di tepi jalan umum karena jalan umum tidak termasuk wilayah kerja Kontraktor kecuali ada pertimbangan khusus dan perstujuan dari Direksi. b. Apabila tidak terdapat tempat kosong yang sesuai untuk menimbun atau menyimpan bahan-bahan bangunan di sekitar lokasi proyek, maka bahan bangunan harus didatangkan dari gudang Kontraktor atau Leveransir setiap hari dengan jumlah yang cukup untuk pekerjaan satu hari. c. Di dalam pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus berkoordinasi dengan instansi yang terkait sehubungan dengan jaringan utilitas yang ada.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-3

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

12. BAHAN-BAHAN DAN MUTU PEKERJAAN a. Semua bahan yang dipergunakan untuk melaksanakan setiap jenis pekerjaan harus terdiri dari kualitas tinggi sesuai dengan yang tercantum dalam syaratsyarat kualitas bahan masing-masing bagian pekerjaan. Hasil pekerjaan dan mutu termasuk bahan-bahan yang terpakai harus diterima dan disetujui Direksi. b. Semua bahan yang dipergunakan harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam peraturan standar yang berlaku di Indonesia. Standar peraturan yang berlaku adalah edisi terakhir. Untuk bahan bahan yang mutunya belum diatur dalam peraturan standar maupun ketentuan dalam spesifikasi teknis, harus mendapat perstujuan dari Direksi sebelum dipergunakan. c. Untuk bahan-bahan yang mutunya mudah berdasarkan standart internasional. Apabila diperlukan Direksi dapat meminta Kontraktor untuk menunjukkan sertifikat tes dari agen, distributor yang menjual atau pabrik yang memproduksi bahan yang bersangkutan. d. Apabila diperlukan, Direksi dapat meminta copy atau tembusan dari perintah pembelian (faktur) yang dipesan Kontraktor kepada leveransir atau distributor pembelian bahan-bahan yang akan dipakai. e. Sebelum bahan-bahan yang dipesan dikirim ke lokasi proyek, Kontraktor harus menunjukkan contoh dan bahan bersangkutan kepada Direksi untuk diperiksa dan diteliti mengenai jenis, mutu, berat, kekuatan dan sifat-sifat penting lainnya dari bahan tersebut. f. Apabila bahan-bahan yang dikirim ke lokasi proyek ternyata tidak sesuai dengan contoh yang ditunjukkan, baik dalam hal mutu, jenis, berat maupun kekuatannya, maka Direksi berwenang untuk menolak bahan tersebut dan mengharuskan Kontraktor untuk menyingkirkannya dan di ganti dengan bahanbahan yang sesuai dengan contoh yang telah diperiksa terdahulu. g. Semua bahan yang disimpan di lokasi proyek harus diletakkan dan dilindungi sedemikian rupa sehingga tidak dapat terjadi kontaminasi atau mengalami proses lainnya yang dapat mengakibatnya rusaknya atau menurunnya mutu bahan-bahan tersebut. h. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku Kontraktor dilarang menyimpan bahanbahan berbahaya seperti minyak, cairan laiinnya yang mudah terbakar, gas dan bahan kimia sedemikian rupa sehingga keselamatan orang dan keamanan lingkungan sekitarnya dapat dijamin. i. Penggunaan bahan-bahan dalam pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti pedoman atau petunjuk dari pabrik yang memproduksinya. Kelalaian dalam hal ini merupakan tanggung jawab Kontraktor. j. Direksi berhak menunjuk seorang ahli dalam memeriksa mutu bahan-bahan yang diajukan oleh Kontraktor, baik di lokasi proyek maupun digudang leverasir atau di lokasi pabrik atau produsen. Dalam melaksanakan tugasnya ahli tersebut mempunyai wewenang untuk mewakili Direksi dalam menguji dan menilai bahan-bahan yang diajukan Kontraktor. 13. PELAKSANAAN PEKERJAAN DALAM KEADAAN KERING Apabila pada keadaan tertentu Direksi memandang perlu untuk melaksanakan pekerjaan pada kondisi tanah yang kering, maka Kontraktor diharuskan membuat bangunan atau tanggul sementara dan menyediakan pompa air berkapasitas

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-4

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

cukup beserta alat Bantu dan pelengkapnya untuk menjamin agar dasar galian, dasar pondasi dan permukaan tanah lainnya adalah beban Kontraktor. Kondisi muka air tanah yang tinggi dan jenis tanah yang kurang kedap air dapat menyebabkan derasnya rembesan air tanah ke dalam galian. Dalam hal ini pelaksanaan perkerjaan menuntut kemajuan perkerjaan yang cepat dan Direksi dapat menginstruksikan untuk menambah pompa-pompa agar dasar galian tetap dalam keadaan kering. Kelalaian kontraktor dalam menyediakan pompa dan bangunan sementara lainnya yang dapat mengakibatkan rusaknya konstruksi yang telah dibuat adalah tanggung jawab kontraktor sepenuhnya. Dalam hal ini semua biaya perbaikan ditanggung Kontraktor. Air hujan yang mengalir ke dalam galian yang mengakibatkan kerusakan pondasi yang masih dalam pelaksanaan termasuk resiko kontraktor. Hujan lebat yang mengakibatkan genangan pada galian tidak dianggap Force Majeure dan perbaikan atas kerusakan yang terjadi adalah beban Kontraktor. Direksi dapat menginstruksikan Kontraktor untuk membuat saluran atau sudetan sementara untuk mengalirkan air hujan agar pekerjaan dapat tetap dilaksanakan dalam keadaan kering. Apabila pekerjaan telah dianggap selesai, maka Kontraktor harus menimbun kembali saluran dan sudetan sementara seperti keadaan semula. Untuk pembuatan pasangan talud (plengsengan) pada saluran-saluran yang sudah ada. Kontraktor diharuskan membuat tanggul (kisdam) sepanjang talud dengan ukuran dan Kontraktor yang disetujui oleh Direksi. Tanggul/kisdam harus dibuat cukup kuat, tidak mudah rusak akibat kikisan air. Sebelum pelaksanaan pembuatan tanggul dimulai, Kontraktor harus mengajukan gambar detail talud beserta spesifikasi bahan yang akan digunakan untuk mendapatkan persetujuan Direksi. Persetujuan Direksi seperti tersebut pada butir (gambar) tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor, jika sewaktu-waktu talud mengalami kerusakan. Perbaikan talud serta akibat menjadi tanggung jawab Kontraktor. Perlu koordinasi antar Kontraktor mengendalikan aliran air di saluran. dalam pelaksanaan pekerjaan guna

14. PEMBONGKARAN STRUKTUR YANG ADA Pekerjaan ini harus mencakup pembongkaran, baik keseluruhan ataupun sebagian dan pemindahannya, dari bangunan atau struktur lain yang diperlukan untuk dibongkar. Pekerjaan harus juga meliputi pemindahan yang memenuhi syarat dari material bongkaran dalam pasal ini, yang meliputi baik pembuangan atau penyelamatan penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan pengamanan terhadap kerusakan dari material yang ditentukan oleh Direksi. 15. KEWAJIBAN KONTRAKTOR UNTUK MATERIAL YANG DISELAMATKAN DAN STRUKTURAL YANG ADA Bila pelebaran, perpanjangan atau peningkatan lain terhadap suatu jembatan, gorong-gorong memerlukan pembongkaran lantai, gelagar, tembok kepala, pintu air atau bagian struktur lainnya pembongkaran tersebut harus dilaksanakan tanpa menimbulkan kerusakan pada bagian struktur yang akan dipertahankan.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-5

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Setiap kerusakan atau kehilangan dari bagian yang diselamatkan yang sementara dibongkar atau setiap kerusakan pada bagian struktur yang akan dipertahankan yang disebabkan oleh keteledoran Kontraktor, harus dibuat baik kembali atas biaya Kontraktor. 16. PENGATURAN PEMBUANGAN SISA-SISA Kontraktor harus melakukan seluruh pengaturan yang diperlukan dengan pemilik tanah dan memikul seluruh biaya untuk memperoleh lokasi yang sesuai untuk pembuangan material sisa dan untuk penyimpanan dari material yang diselamatkan. 17. PROSEDUR PEMBONGKARAN a. Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan pembongkaran disini meliputi seluruh pekerjaan pembongkaran terhadap bahan-bahan yang sudah tidak berfungsi maupun guna melakukan rehabilitasi terhadap ruang yang bersangkutan. 2. Pembongkaran ini meliputi pembongkaran dinding bata, kusen yang lama serta bagian-bagian lain yang ditujukan dalam gambar. b. Syarat-syarat Pelaksanaan 1. Pembongkaran yang dilakukan harus memperhatikan kaidah-kaidah structural dan arsitektur juga pengaruh suara, debu dll terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya pembongkaran dan menghindari terjadinya kerusakan pada bagian-bagian bangunan yang secara arsitektural masih dipertahankan. 2. Sebelum melakukan pembongkaran, pihak Kontraktor harus menyampaikan kepada Konsultan Pengawas mengenai metode/ cara pembongkaran yang akan dilakukan. 3. Jenis peralatan yang digunakan. 4. Pembongkaran diusahakan seminimal mungkin timbulnya suara dan debu yang dapat mengganggu lengkungan sekitarnya. 5. Jaringan-jaringan listrik, pipa-pipa air harus diamankan terlebih dahulu sebelum dilakukan pembongkaran, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya gangguan-gangguan pada jaringan secara keseluruhan. 6. Material hasil bongkaran harus ditempatkan pada tempat yang aman, dalam arti tidak menggangu aktifitas serta aman terhadap pencurian, karena material pembongkaran ini merupakan asset negara. 7. Untuk pembongkaran pasangan dinding bata, bahan bongkaran harus segera dikeluarkan dari ruang dan ditempatkan diluar pada tempat yang sesuai. 18. PEMINDAHAN DARI MATERIAL BONGKARAN a. Seluruh material yang diselamatkan tetap merupakan milik dari pemilik yang sah sebelum pekerjaan pembongkaran dilakukan. Tidak ada material bongkaran yang menjadi milik Kontraktor. Seluruh material yang diselamatkan harus disimpan sebagaimana diminta oleh Direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-6

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

b.

Seluruh material dan sampah yang tidak ditetapkan untuk dipertahankan atau diselamatkan dapat dibakar atau jika tidak dibuang seperti yang disetujui oleh Direksi.

B. PEKERJAAN PERSIAPAN 1. Pembersih Lapangan Sebelum pekerjaan mulai dilaksanakan, daerah kerja harus dibersihkan dari pepohonan, semak belukar, sisa-sisa bangunan, sampah, akar-akar pohon, dan semua material tersebut harus dibuang dari areal lokasi pekerjaan sesuai dengan petunjuk Direksi pekerjaan. Setelah pelaksanaan pekerjaan selesai semua, lokasi areal pekerjaan juga harus dibersihkan dari sisa-sisa semua material yang tidak terpakai , serta areal diratakan dan dirapikan kembali. Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban Kontraktor, serta sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. 2. PENGUKURAN Jaringan Titik Tetap a. Kontraktor harus membuat jaringan patok titik tetap local yang disahkan Direksi lapangan dan Perencana. Referensi Elevasi ditetapkan berdasarkan patok BPN atau elevasi yang ditetapkan Direksi lapangan dan perencana. b. Semua elevasi yang ditunjukkan dan tercantum dalam gambar adalah elevasi yang dikaitkan dengan ketinggian patok titik tetap seperti yang dijelaskan pada butir di atas. c. Patok titik tetap yang dipergunakan sebagai referensi dalam proyek ini tercantum dalam gambar-gambar rencana atau ditunjukkan oleh Direksi di lapangan. Pengukuran Kembali a. Apabila ada perubahan akan ditentukan/disesuaikan dengan kondisi lapangan setempat bersama Direksi. b. Alat-alat ukur yang dipergunakan harus dalam keadaan berfungsi baik dan sebelum pekerjaan dimulai semua alat ukur yang akan dipakai harus mendapat persetujuan Direksi, baik dari jenisnya maupun kondisinya. c. Cara pengukuran ketetapan hasil pengukuran, toleransi salah tutup, dan pembuatan serta pemasangan patok Bantu akan ditentukan oleh Direksi. d. Apabila timbul keragu-raguan dari pihak Kontraktor dalam menginterpretasikan angka-angka elevasi dalam gambar, maka hal ini harus dilaporkan kepada Direksi untuk diminta penjelasannya.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-7

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

e. Apabila terdapat perbedaan antara elevasi yang tercantum dalam gambar dengan hasil pengukuran ulang, maka Direksi akan memutuskan hal itu. f. Apabila terdapat kesalahan dalam pengukuran kembali, maka pengukuran ulang menjadi tanggung jawab Kontraktor. g. Hasil pengukuran kembali harus sudah diserahkan disetujui oleh Direksi selambat-lambatnya 10 hari setelah tanggal SPK. Pekerjaan Pengukuran dan Survey Lapangan a. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor harus menggerakkan personil teknisnya untuk melakukan survey dan membuat laporan mengenai kondisi fisik lapangan khususnya lokasi rencana konstruksi apakah terdapat ketidaksesuaian. Kontraktor bersama-sama dengan Direksi harus secara bersama-sama mengambil peil permukaan dan sounding areal kerja dan menyetujui semua kekhususan terhadap mana semua pekerjaan didasarkan. b. Kontraktor harus menyediakan dan merawat stasion survey yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan dan harus mebongkarnya setelah pekerjaan selesai. c. Kontraktor harus memberitahu Direksi sekurang-kurangnya 24 jam dimuka, bila akan mengadakan leveling pada semua bagian daripada pekerjaan. d. Kontraktor harus menyediakan atas biaya Kontraktor, semua bantuan yang diperlukan Direksi dalam pengadaan pengecekan leveling tersebut. e. Pekerjaan dapat dihentikan beberapa saat oleh Direksi bila dipandang perlu untuk mengadakan penelitian kelurusan maupun level dari bagian-bagian pekerjaan. f. Kontraktor harus membuat peil/titik-titik tanda (bench mark) permanen di tiap-tiap bagian pekerjaan dan peil ukuran ini harus diberi pelindung dan dirawat selama berlangsungnya pekerjaan agar tidak berubah. g. Kontraktor harus menyediakan alat-alat ukur selama pekerjaan berlangsung berikut ahli ukur yang berpengalaman sehingga apabila dianggap perlu setiap saat siap mengadakan pengukuran ulang. h. Pengukuran titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat optik dan sudah ditera kebenarannya/dikalibrasi. i. Hasil pengukuran lengkap mengenai peil elevasi. Sudut, koordinat, serta letak patok-patok harus dibuat gambarnya dan dilaporkan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan. Kebenaran dari hail laporan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. j. Jika menurut pendapat Direksi kemajuan Kontraktor tidak memuaskan untuk menyelesaikan pekerjaan survey ini tepat pada waktunya atau dalam hal Kontraktor tidak memulai pekerjaan atau melakukan pekerjaan tidak dengan standar yang ditentukan. Direksi dapat menunjuk stafnya sendiri atau pihak

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-8

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

lain untuk mengerjakan survey lapangan dan membebankan seluruh biayanya kepada Kontraktor. 3. Pematokan dan Bouwplank a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, Kontraktor harus melaksanakan pematokan dan pemasangan bouwplank sesuai petunjuk Direksi. b. Bauwplank harus dibuat tegak lurus sumbu saluran dan harus dibuat selebar pondasi saluran. c. Bauwplank bangunan harus dibuat sejajar dengan dinding tepi bangunan sejarak tertentu diluar galian pondasi. d. Patok dan bauwplank harus dibuat kokoh, tidak mudah rusak dan tidak bergerak serta harus dijaga agar tidak rusak/hilang selama pelaksanaan pekerjaan. e. Elevasi yang tercantum dalam bauwplank dan patok akan menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan baik dalam penentuan lebar saluran, tinggi saluran maupun tebal pasangan/konstruksi lainnya. 4. Mobilisasi a. Kegiatan Mobilisasi Kegiatan Mobilisasi meliputi hal sebagai berikut : 1. Pembelian atau sewa atas tanah guna keperluan pangkalan Kontraktor dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan. Mobilisasi dan pemasangan peralatan yang didasarkan atas peralatan yang diserahkan dalam penawaran dari suatu lokasi tertentu atau dari pelabuhan bongkar di Indonesia ke tempat yang digunakan sesuai ketentuan Kontrak. 2. Pembanguan dan pemeliharaan pangkalan, termasuk Kontraktor, tempat tinggal, bengkel-bengkel, gudang-gudang dan sebagainya. Bangunan ini akan tetap menjadi milik Kontraktor setelah pekerjaan pembangunan proyek selesai. 3. Pengadaan dan pemeliharaan peralatan lapangan seperti tercantum spesifikasi ini. Peralatan ini akan tetap menjadi milik kontraktor setelah pekerjaan pembangunan proyek selesai. Pekerjaan harus termasuk pula pekerjaan demobilisasi dari daerah kerja yang dilaksanakan oleh pihak Kontraktor pada akhir kontrak, termasuk membongkar kembali seluruh instalasi-instalasi, peralatan dari tanah milik Pemerintah, dan pihak Kontraktor diharuskan untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan dan penyempurnaan pada daerah kerja, sehingga kondisinya sama dengan keadaan sebelum pekerjaan dimulai. b. Waktu Mobilisasi Mobilisasi dari seluruh mata pekerjaan diatas harus diselesaikan dalam jangka waktu pekerjaan. Dalam hal dimana pihak Kontraktor tidak menyelesaikan mobilisasi sesuai dengan batas waktu yang ditentukan atau
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-9

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

kalau menurut pendapat Direksi, ternyata pelaksanaan mobilisasi tidak lancar sesuai program mobilisasi yan telah disepakati bersama, maka dalam hal ini Direksi Teknik berhak untuk menempuh kebijaksanaan yaitu mengeluarkan berita acara pembayaran pendahuluan, dengan nilai pembayaran untuk mobilisasi diambil setingi-tingginya 70 % dari ketentuan di atas. Sisanya akan ditahan dan berita acara pembayarannya baru dikeluarkan setelah Pihak Kontraktor berhasil menyelesaikan sisa bagian pekerjaan mobilisasi dalam jangka waktu Masa Pelaksanaan. 5. Kantor Lapangan/ Ruangan Direksi a. Kontraktor harus menyediakan kantor lapangan untuk dipergunakan oleh Direksi selama pelaksanaan pekerjaan, transportasi, alat komunikasi serta gudang untuk menyimpan bahan dan peralatannya. b. Lokasi untuk membangun gudang dan kantor lapangan akan ditentukan oleh Direksi. c. Ukuran dan bentuk gudang, kantor lapangan beserta perlengkapnnya. Atas petunjuk yang diberikan, Kontraktor harus menyiapkan gambar rencana dari gudang dan kantor lapangan tersebut. d. Syarat-syarat minimum yang harus dipenuhi untuk pembuatan gudang dan kantor lapagan adalah penyediaan sarana sanitasi air bersih, sambungan listrik, alat pemadam api dan kota pertolongan pertama. e. Pemeliharaan, kebersihan dan keamanan gudang dan kantor lapangan merupakan tanggung jawab Kontraktor. f. Tempat kosong untuk parkir kendaraan proyek harus disediakan di sekitar kantor lapangan. g. Pada saat pelaksanaan pekerjaan dinyatakan selesai, gudang dan kantor lapangan harus diongkar oleh Kontraktor atas biaya sendiri dan semua peralatan dan perlengkapan tetap menjadi milik Kontraktor. h. Penyediaan dan pengerjaan hal-hal yang tersebut pada artikel ini tidak akan mendapat pembiayaan tersendiri tetapi kesemuanya harus sudah termasuk dalam pembiayaan menurut Kontrak pada mata pembiayaan sewa Direksi Keet. i. Bangunan untuk kantor Direksi yang diuraikan dalam pasal diatas akan dibayar secara harga unit price untuk sewa direksi keet, dimana harus dianggap bahwa pembayaran dilaksanakan secara penuh baik untuk pekerjaan pembangunan, pengadaan, pelayanan, pembersihan maupun pekerjaan pembongkaran bangunan setelah selesai penanganan pekerjaan. j. Kontraktor harus menyediakan sendiri sumber air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, garam, alkali dan bahan-bahan organis atau bahan lain yang dapat merusak pelaksanaan pekerjaan. k. Kontraktor harus menyediakan generator sebagai daya listrik secukupnya, guna kebutuhan penerangan proyek dan keperluan pelaksanaan pekerjaan. l. Kontraktor bertanggung jawab atas semua biaya pengadaan fasilitas tersebut pada butir a dan b.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-10

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

m. Kontraktor harus membuat bangunan Direksi keet serta gudang bahan yang luas dan bentuknya akan ditentukan kemudian. n. Bangunan tersebut harus dapat dijamin agar didalamnya bebas dari air hujan dan sinar matahari, termasuk dapat melindungi material yang tersimpan. o. Kontraktor wajib membuat urinoir dan WC termasuk instalasi, untuk keperluan pekerja selama pekerjaan berlangsung, Kontraktor harus membuat septictank berikut resapannya untuk membuang air kotor dari urionir dan WC. Lokasinya akan ditentukan kemudian oleh Direksi, langsung di lapangan. p. Kontraktor harus mengisi perabotan maupun perlengkapan lain di ruang Direksi keet atas usulan Kontraktor dan persetujuan Direksi. 6. Pengaturan Lalu Lintas a. Lalu Lintas Proyek 1. Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor diharuskan mematuhi dan mentaati ketentuan dan peraturan lalu lintas umum yang berlaku, sejauh pekerjaannya mempengaruhi kelancaran lalu lintas umum. Dalam hal ini Kontraktor diharuskan mendapatkan pengarahan dan pedoman dari instansi setempat yang berwenang yaitu polisi lalu lintas dan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya. 2. Penggunaan jalan dan jembatan umum harus diatur sedemikian rupa agar gangguan lalu lintas dan kerusakan yang timbul sebagai akibatnya dijaga sekecil mungkin. Perbaikan kerusakan terhadap jalan, jembatan, gorong-gorong yang diakibatkan oleh lalu lintas proyek dibebankan pada Kontraktor dan harus disetujui Direksi. b. Pengalihan Arus Lalu Lintas Umum dan Pembuatan Jalan Darurat Kontraktor diharuskan membuat rencana khusus untuk setiap sub proyek sehubungan dengan pengaturan lalu lintas dalam menunjang kelangsungan pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan yang menuntut dialihkannya arus lalu lintas umum untuk sementara waktu harus mendapat persetujuan Direksi dan dengan seijin polisi lalu lintas dan Dinas Lalu Lintas Angkutan dan Jalan Raya. c. Pengaturan Pengangkutan Alat-alat Bantu dan Bahan Konstruksi 1. Pengakutan alat-alat berat ke lokasi proyek harus diatur sedemikian rupa agar beban total dari kendaraan yang mengangkut alat-alat berat tersebut tidak melampaui kapasitas jalan/jembatan yang dilalui. Untuk itu alat-alat serta yang dimaksud harus diuraikan menjadi beberapa bagian untuk kemudian diangkut beberapa kali. Ketentuan yang sama juga berlaku untuk pengangkutan bahan-bahan konstruksi. 2. Apabila Direksi memandang perlu, maka Kontraktor diharuskan meminta pengawalan dari instansi yang berwenang.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-11

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

d. Rambu-rambu Sementara Kontraktor diharuskan menyediakan, membuat, memasang dan menempatkan rambu-rambu lalu lintas sementara pada lokasi dan posisi penting termasuk rintangan-rintangan di sekitar lokasi proyek. Penempatannya yang harus dengan persetujuan polisi lalu lintas atau instansi lain yang berwenang. Bentuk dan ukuran huruf serta susunan kalimat pada rambu dan rintangan harus jelas, mudah dimengerti oleh setiap pengendara kendaraan dan pada setiap cuaca gelap dan malam hari harus diberi penerangan. Apabila pekerjaan telah dinyatakan selesai oleh Direksi, Kontraktor diharuskan menyingkirkan semua rambu-rambu dan rintangan-rintangan sementara yang tidak diperlukan lagi yang selama pelaksanaan dipergunakan untuk pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi proyek. e. Pengaturan Pemindahan Jaringan Pipa dan Kabel 1. Yang termasuk dalam istilah pipa dan kabel adalah pipa distribusi air bersih PDAM, pipa gas, kabel listrik, dan kabel TELKOM yang pemasangan jaringannya di atas maupun tertanam dan di bawah permukaan tanah. 2. Semua pipa dan kabel yang termasuk dalam kategori (d) diatas dan yang sudah tidak berfungsi lagi serta jalurnya melintasi dan menghalangi aliran air dalam saluran harus disingkirkan atau dipotong sesuai petunjuk Direksi. 3. Biaya penggantian dan perbaikan atas kerusakan terhadap pipa dan kabel yang masih berfungsi sebagai akibat dari kelalaian Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya adalah menjadi beban Kontraktor sepenuhnya. 4. Apabila dalam rangka pekerjaan penggalian saluran baru atau penggantian memperdalam dasar saluran lama ditemui lintasan pipa dan kabel yang masih berfungsi, maka Direksi dan Kontraktor menghubungi instansi yang mengelola jaringan tersebut untuk menentukan biaya pemindahan jalur pipa dan kabel yang dimaksud untuk dialihkan di bawah dasar saluran rencana. 5. Direksi berhak menunjuk seorang ahli yang akan memberi pengarahan dan mengawasi semua pekerjaan instansi dalam rangka pemindahan dan pengalihan jalur atau lintasan pipa dan kabel. 7. Papan Nama Proyek Kontraktor harus membuat dan memasang papan nama proyek di lokasi yang ditunjuk Direksi, Ukuran, bentuk dan susunan kata-kata dan warna akan ditentukan Direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-12

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

8. Gambar-gambar yang harus Dipersiapkan oleh Kontraktor. Umum Pelaksanaan pengukuran awal oleh Kontraktor yang dilaksanakan sejak diterimanya Surat Perintah Mulai Kerja dari Pemilik pekerjaan, dimaksud untuk mendapatkan gambaran kondisi lapangan sesungguhnya dibandingkan dengan gambar yang diterima oleh Kontraktor dan Pemilik Pekerjaan. Data dan hasil pengukuran awal oleh Kontraktor yang telah disyahkan dan disetujui oleh Direksi pekerjaan tersebut, akan menjadi acuan dan dasar pembuatan gambar-gambar selama waktu pelaksanaan sampai selesai pekerjaan. Gambar-gambar hasil pengukuran awal tersebut diatas, akan merupakan dasar pokok kesepakatan bersama antara Kontraktor dan Pemilik pekerjaan untuk menghitung volume dari masing-masing jenis pekerjaan yang harus dan telah dilaksanakan oleh Kontraktor, serta yang harus dibayar oleh Pemilik pekerjaan. Semua gambar yang dipersiapkan oleh Kontraktor, harus bisa memberikan secara jelas hal-hal yang berkaitan dengan rencana pelaksanaan pekerjaan yang meliputi antara lain : Bentuk tiap jenis bangunan yang akan dikerjakan Elevasi muka tanah asli dan masing-masing dikerjakan Dimensi bangunan pelengkap Jenis serta komposisi material yang dipergunakan Rencana garis galian pondasi Hal-hal lain sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Adapun gambar-gambar yang harus dipersiapkan oleh Kontraktor meliputi antara lain : Construction Drawing atau Working Drawing Shop Drawing As Built Drawing Semua gambar tersebut di atas, baru bias dipakai sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan dan acuan dasar perhitungan volume pekerjaan sesungguhnya, apabila sudah mendapat persetujuan dan disyahkan oleh Pemilik pekerjaan. Contruction Drawing atau Working Drawing Contruction Drawing atau Working Drawing adalah gambar rencana bangunan yang telah disesuaikan dengan kondisi lapangan sesungguhnya dan telah disetujui dan disyahkan oleh Pemilik pekerjaan. Semua dimensi bangunan, jenis serta komposisi jenis material dan rencana elevasi posisi dan kedudukan dari masing-masing jenis bangunan yang

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-13

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

tergambar pada Contruction Drawing atau Working Drawing harus mengacu dan didasarkan pada Design Drawing yang diberikan oleh Pemilik pekerjaan. Apabila karena kondisi dan situasi lapangan yang sesungguhnya, sehingga mengakibatkan perlu adanya penyesuaian dimensi, elevasi posisi dan kedudukan bangunan, maka Kontraktor harus konsultasi dan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Pemilik proyek. Atas dasar persetujuan pemilik pekerjaan, jika ada penyesuaian dimensi, elevasi posisi dan kedudukan bangunan, maka kondisi terakhir rancang bangun yang telah disepakati bersama, disetujui dan disyahkan Pemilik pekerjaan adalah yang mengikat pada kondisi awal pelaksanaan pekerjaan, dan merupakan dasar serta acuan utama bagi Kontraktor pada pelaksanaan pekerjaan. Construction Drawing atau Working Drawing yang dipersiapkan oleh Kontraktor tersebut, harus bisa memberikan satu gambaran rancang bangun yang akan dilaksanakan pada kondisi nyata lapangan, sehingga perlu dan harus dicantumkan antara lain : Garis elevasi muka tanah asli hasil pengukuran awal Dimensi rencana bangunan Elevasi posisi dan kedudukan bangunan Jenis dan komposisi material yang akan dipakai dan lain-lain Construction Drawing atau Working Drawing yang disyahkan oleh Pemilik pekerjaan, dipakai sebagai dasar dan acuan perhitungan volume awal saat akan dimulainya pelaksanaan pekerjaan atau Mutual Check pada kondisi pelaksanaan 0%. Kontraktor wajib membuat copy Construction Drawing atau Working Drawing sebanyak minimal 5 (lima) copy dengan distribusi dua copy untuk Direksi pekerjaan dan pengawasa, satu copy untuk arsip Kontraktor dan satu copy serta gambar lainnya harus diserahkan kepada Pemilik pekerjaan. Pembuatan Working Drawing dan Perhitungan Mutual Check harus sudah selesai dan disetujui oleh Direksi dan Pemilik selambat-lambatnya 2 minggu setelah tanggal SPK. Selama waktu pelaksanaan pekerjaan dari waktu ke waktu, dimungkinkan adanya penyesuaian pelaksanaan karena kondisi lapangan Engineering Adjustment atau perubahan desain Revised Design semuanya bisa mengalkibatkan perubahan volume pelaksanaan pekerjaan menjadi bertambah atau kurang. Untuk kondisi Engineering Adjustment, tidak diperlukan adanya gambar baru yang disyahkan oleh Pemilik Pekerjaan, namun Kontraktor wajib memberikan laporan tertulis serta sketsa penyesuaian guna mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan dan tembusan kepada Pemilik pekerjaan. Sedang pada kondisi perubahan desain Revised Design, Pemilik Pekerjaan secara resmi akan memberikan gambar perubahan desain yang telah disyahkan oleh Pemilik Pekerjaan kepada Kontraktor secara administratif dalam bentuk Variation Order.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-14

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pembuatan Construction Drawing atau Working Drawing termasuk penggandaannya sebanyak 5 (lima) copy, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban Kontraktor, serta sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. Shop Drawing Kontraktor harus membuat shop Drawing untuk setiap bangunan yang akan dikerjakan; Shop Drawing harus dilengkapi gambar detail meliputi ukuran lahan dan lain-lain. Shop Drawing yang disiapkan oleh Kontraktor tersebut, harus diserahkan kepada Pemilik Pekerjaan, diperiksa, dikoreksi apabila perlu, dan untuk selanjutnya disyahkan oleh Pemilik Proyek. Gambar unit bangunan atau Shop Drawing tersebut harus secara lengkap memuat : Bentuk unit bangunan serta dimensinya Material yang akan dipakai serta spesifikasinya List komponen unit bangunan yang memuat : a. Panjang, lebar, tebal komponen unit bangunan b. Berat persatuan komponen unit bangunan dan lain-lain c. Jumlah komponen unit bangunan dan lain-lain. Gambar dan list pekerjaan pembuatan dan pemasangan tulangan konstruksi termasuk dalam kategori Shop Drawing. Kontraktor wajib membuat copy Shop Drawing sebanyak minimum 5 (lima) copy, dengan distribusi dua copy untuk Direksi Pekerjaan dan pengawas, satu copy dipasang di barak kerja, satu copy untuk arsip Kontraktor dan satu copy serta gambar aslinya harus diserahkan kepada Pemilik Pekerjaan. Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pembuatan Shop Drawing termasuk penggandaannya sebanyak 5 (lima) copy, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban Kontraktor, serta sudah harus diperhitungan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. As Built Drawing Setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan sesuai gambar pelaksanaan, berikut pekerjaan tambah atau kurang berdasarkan Variasi Order yang diberikan oleh Pemilik Pekerjaan, dan Kontraktor telah melakukan pengukuran ulang akhir pekerjaan, maka Kontraktor diwajibkan membuat gambar purna bangun atau As Built Drawing. Gambar purna bangun atau As Built Drawing tersebut, harus lengkap berisi antara lain : Garis elevasi muka tanah yang sekarang ada
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-15

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Dimensi dan masing-masing bangunan yang telah dikerjakan Elevasi posisi dan kedudukan masing-masing bangunan yang telah dikerjakan Jenis material dan komposisi yang telah dipergunakan. Gambar purna bangun yang telah selesai tersebut harus diserahkan Kontraktor kepada Direksi pekerjaan untuk diperiksa dan disetujui, selanjutnya diserahkan kepada Pemilik pekerjaan guna mendapatkan pengesahan dari Pemilik Pekerjaan. Perhitungan volume akhir dari pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh Kontraktor atau yang mutual check volume pekerjaan 100 %. Semua mengacu dan didasarkan pada gambar purna bangun yang telah disyahkan oleh Pemilik Pekerjaan, dan merupakan volume akhir yang akan dibayar oleh Pemilik pekerjaan kepada Kontraktor. Kontraktor wajib membuat copy As Built Drawing sebanyak 5 (lima) copy, dengan distribusi dua copy untuk Direksi Pekerjaan dan pengawas, 3 (tiga) serta gambar aslinya harus diserahkan kepada Pemilik Pekerjaan termasuk data dan perhitungan hasil pengukuran akhir sebagai pendukungnya. Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pembuatan As Built Drawing termasuk penggandaannya sebanyak 5 (lima) copy, sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban Kontraktor, sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. As Built Drawing harus sudah diserahkan dan disetujui oleh Direksi selambat-lambatnya bersamaan dengan STT-1. Administrasi Proyek Kontraktor wajib menyediakan dan membuat kelengkapan administrasi lapangan berupa buku tamu, buku lapangan bahan, material, alat dan perkerja, catatan harian cuaca dan lain-lain yang diperlukan untuk kelengkapan administrasi. Kontraktor wajib membuat harian, laporan mingguan dan laporan bulanan lengkap dengan data penunjangnya dan foto dokumentasi sebagaimana tercantum dalam Rencana Kerja dan Syaratsyarat Proyek. Sebelum memulai aktifitas Kontraktor diwajibkan untuk membuat jadwal atau schedule, rencana kerja, metode kerja, kebutuhan material, kebutuhan sumberdaya dan peralatan dan harus mendapat persetujuan dari Pengawas dan Direksi. C. SARANA PENUNJANG PEKERJAAN 1. Photo Dokumentasi Sejak awal akan mulai melaksanakan pekerjaan, selama masa pelaksanaan pekerjaan dan pada akibat pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-16

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

membuat dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang diwujudkan dalam bentuk photo dokumentasi. Photo dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan tersebut, harus bisa memberikan gambaran secara lengkap dan menyeluruh mengenai kegiatan pelaksanaan pekerjaan sejak dari awal sampai akhir pelaksanaan pekerjaan, sehingga secara kronologi bisa merupakan satu gambaran tujuan yang akan dicapai oleh kegiatan tersebut. Photo dokumentasi dilaksanakan pengambilannya dari tiga titik tetap yang berbeda atau sesuai dengan pengarahaan Direksi pekerjaan, dan sudah harus bisa memberikan gambaran secara garis besar kegiatan pelaksanaan seluruh pekerjaan. Photo dokumentasi tersebut, pelaksanaan pengambilannya dilakukan pada kondisi tahap kegiatan pelaksanaan pekerjaan : Saat awal sebelum mulai kegiatan pelaksanaan pekerjaan 0 % Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 25 % Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 50 % Saat kegiatan pelaksanaan pekerjaan mencapai prestasi 75 % Saat selesai pelaksanaan pekerjaan atau prestasi 100 % Photo dokumetasi tersebut, selanjutnya harus dicetak ukuran kartu pos masingmasing rangkap 5 (lima) dengan distribusi 1 (satu) copy dipasang di barak kerja dan 4 (empat) copy lainnya ditata rapi pada album photo dan diserahkan kepada Pemilik pekerjaan. Pada saat pengambilan photo dokumentasi akhir pelaksanaan pekerjaan, disamping cetakan ukuran kartu pos sebanyak 4 (empat) copy, Kontraktor juga diwajibkan menyerahkan tambahan 3 (tiga) copy ukuran 11 R, diberi bingkai, sedangkan pengambilan photo dokumentasinya dari 1 (satu) titik lain yang berbeda lokasi, dan akan ditentukan oleh Direksi pekerjaan. Di samping dokumentasi utama tersebut, atas permintaan Direksi pekerjaan Kontraktor bisa melaksanakan pengambilan photo dokumentasi kegiatan pelaksanaan pekerjaan lainnya yang dianggap berguna dan cukup mempunyai nilai penting untuk didokumentasikan. Pada saat penyerahan photo dokumentasi, Kontraktor juga harus menyerahkan negatif film, ditata menurut urutan photo dokumentasi yang diserahkan. Semua biaya yang timbul akibat pembuatan photo dokumemntasi tersebut sepenuhnya menjadi beban dan tanggung jawab Kontraktor, serta sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. 2. Jalan Kerja Untuk menuu ke lokasi pekerjaan, mengangkut bahan material yang akan dipakai, dan transportasi pembuangan bahan material tidak terpakai keluar lokasi pekerjaan, dan pemeriksaan berkala Direksi pekerjaan atau Pemberi Pekerjaan serta keperluan lainnya. Kontraktor diwajibkan menyiapkan atau membuat jalan kerja yang layak guna kegiatan tersebut diatas untuk menunjang dan memperlancar pelaksanaan pekerjaan.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-17

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Dari waktu ke waktu selama pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor berkewajiban memelihara jalan kerja agar selalu layak dilalui sehingga tidak menimbulkan dampak lingkungan negatif pada masyarakat di sekitarnya maupun masyarakat lain yang juga memerlukan dan melewati jalan kerja tersebut. Kelancaran fungsi drainase lingkungan di sepanjang jalan kerja, juga yang secara langsung terpengaruh adanya jalan kerja, juga termasuk menjadi tanggung jawab Kontraktor dari segi pemeliharaannya. Untuk pekerjaan-pekerjaan menurut sifatnya dipandang oleh Pemilik Pekerjaan tidak diperlukan adanya jalan kerja khusus maka semua biaya yang timbul akibat pekerjaan sarana jalan kerja ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban Kontraktor, serta sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analiasa harga satuan pekerjaan. 3. Pengeringan atau Coffering dan Dewatering Pada bagian-bagian tertentu dari jenis pekerjaan yang dilaksanakan, areal pekerjaan kedang-kasang suatu saat tidak bisa bebas sama sekali dari adanya air. Pada keadaan ini, Kontraktor diwajibkan menmgeringkan atau membebaskan areal pekerjaan yang akan dipakai sebagai kedudukan konstruksi dari genangan air atau pengaruh air, karena bisa menyebabkan turunnya kualitas pekerjaan akibat pengaruh air tersebut. Pada prinsipnya selama amsa pelaksanaan pekerjaan, semua lokasi yang akan dipakai sebagai kedudukan bangunan harus dijaga agar tetap kering, bebas dari genangan ataupun rembesan air. Pekerjaan pengeringan yang dimaksud di sini adalah, termasuk sistem drainase lingkungan pekerjaan, sehingga tidak menimbulkan dampak yang negatif terutama pada masyarakat dan lingkungan setempat. Untuk pekerjaan-pekerjaan menurut sifatnya dipandang oleh Pemilik Pekerjaan tidak diperlukan adanya sistem pengeringan khusus maka semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pengeringan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban ker, serta sudah harus diperhitungkan termasuk Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan. Pada jenis pekerjaan yang dipandang oleh Pemilik Pekerjaan memerlukan adanya konstruksi pengertian sifatnya khusus dan memerlukan penanganan tersendiri, maka perhitugan volume dan pembayaran untuk pelakasannaan pekerjaan pengeringan tersebut diatas, diperhitungkan dalam satuan (unit) M untuk pekerjaan coferring atau kisdam dan Lump sum untuk pekerjaan dewatering, sedangkan harga satuan pekerjaan yang ditawarkan, sudah harus meliputi upah tenaga, bahan material yang dipakai peralatan yang dipergunakan, Overhead dan keuntungan Kontraktor.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-18

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

D. PEKERJAAN TANAH 1. Umum Yang dimaksud dengan pekerjaan tanah adalah semua pekerjaan persiapan lapangan, galian semua jenis material apapun yang ditemui penanganan, penghamparan dan pemadatan material timbunan yang diperlukan, pembuangan semua material sisa galian, pengeringan (bila diperlukan), perlindungan terhadap daerah di sekitarnya, urugan kembali, pengupasan muka tanah, timbunan tanah pada alur dan elevasi sesuai yang ditunjukkan pada gambar. Seluruh area yang termasuk dalam batas batas pekerjaan tanah akan dikerjakan dalam jalur, tingkatan dan elevasi, kemiringan, potongan melintang yang sesuai dalam gambar dengan tambahan yang diijinkan untuk ketebalan plesteran dan pasangan batu dimana perlu kemiringan dan bentuk saluran drainase sedemikian rupa sehingga mempunyai penampilan seragam yang rapi pada penyelesaiannya dan harus disetujui oleh Direksi. Material galian untuk memenuhi kebutuhan bahan tambahan disimpan untuk penggunaan berikutnya atau ditempatkan sebagai bahan timbunan segera setelah penggaliannya dengan persetujuan Direksi. Bila tidak langsung digunakan penyimpangan bahan galian yang akan digunakan tidak diperbolehkan diletakkan di jalan. Batu besar yang tidak diperkenankan untuk material timbunan dapat disimpan/dicadangkan bagi keperluan pasang batu, sesuai dengan spesifikasi. Penggunaan semua material galian untuk keperluan tertentu ditentukan oleh Direksi. Kontraktor tidak diperkenankan menghamburkan atau dengan kata lain membuang material galian yang berguna. Semua galian akan dilaksanakan dengan batasan dan sesuai kebutuhan yang diperlihatkan pada pasal-pasal dari spesifikasi ini berkenaan dengan masalah pengendalian air. Tidak diperbolehkan menebang pohon tanpa ijin dari Direksi dan Instansi yang terkait. Pekerjaan urugan dan galian harus benar-benar rata menurut gambar-gambar potongan memanjang dan potongan melintang dengan permukaan dan kemiringan yang rapi dan benar-benar rata dan teratur. Apabila tidak disebutkan lain, semua rumput tanaman dan semua bahan-bahan yang merusak harus dibuang sebelum bahan urugan diletakkan pada tempatnya. Semua bahan-bahan yang lemah atau mudah rusak harus diganti denga bahan-bahan yang baik seperti syarat yang ditetapkan oleh Direksi. Bahan galian yang didapatkan dari tempat galian tidak menckupi bagi keperluan penimbunan maka dapt diperoleh tambahan galian dari daerah bahan galian lain yang telah disetujui Direksi. Lokasi bahan galian yang telah digali harus diperbaiki sedemikian rupa untuk menghilangkan kemiringan tanah yang tajam dan tidak stabil atau hal lain yang kurang baik dan berbahaya. Luas dan kedalaman galiam masih dalam batas area yang telah disetujui Direksi. Kontraktor bertanggung jawab terhadap pengaturan dan pembayaran semua bahan galian termasuk bahan lempung dan bahan yang dipilih sesuai persetujuan Direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-19

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

2. Penyelidikan Lapangan Data penyelidikan tanah yang relevan (jika ada), pada Direksi dapat digunakan sebagai panduan/patokan bagi kondisi permukaan dan di bawah permukaan tanah dalam proyek ini. Data pengeboran dan informasi yang berkaitan (jika tersedia) memberi gambaran kondisi di bawah permukaan tanah hanya pada lokasi dan waktu tertentu. Kondisi tanah pada lokasi lainnya mungkin berbeda dengan kondisi pada lokasi pengeboran. Juga waktu berpengaruh terhadap perubahan lapisan bawah tanah atau muka air pada lokasi pengeboran. Direksi tidak menjamin pernyataan, pikiran atau kesimpulan yang dimaksud dalam laporan penyelidikan tanah yang tersedia. Kontraktor harus memperbaiki semua tanggung jawab bagi pengurangan dan kesimpulan yang dibuat olehnya yang menyangkut kondisi material/bahan yang akan digali, kesulitan yang dihadapi, pengeringan, menjaga galian yang diperlukan dan pekerjaan akibat kondisi lapisan di bawah tanah di lokasi pekerjaan. Direksi tidak akan bertanggung jawab atas kehilangan/kerugian yang diderita Kontraktor sebagai akibat perbedaan-perbedaan kondisi yang digambarkan oleh kesimpulan Kontraktor tersebut, contoh-contoh, percobaan atau laporan-laporan dan kondisi nyata yang ditemui selama pelaksanaan pekerjaan. 3. Ijin Kerja Sebelum pekerjaan yang diperlukan untuk semua pekerjaan galian yang akan dilaksanakan harus mendapat ijin kerja dari Direksi maupun instansi terkait. 4. Penurapan dan Perlindungan Galian yang terlampau curam dan diperkirakan tidak stabil sehingga membahayakan para pekerja atau untuk menghindari kerusakan pekerjaan dari longsoran tanah, perlu dilakukan penurapan. Bila diperlukan, lebar galian dapat diperbesar untuk memberi tempat bagi pelaksanaan penurapan, pelindungan dan peralatannya. Kontraktor harus melengkapi, meletakkan dan meindahkan kembali peralatan penurapan, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi. Kontraktor harus melengkapi gambar yang memperlihatkan detail dari penurapan yang diusulkan akan digunakan bersama dengan smua perhitungan dilakukan oleh tenaga ahli yang mampu sebelum pekerjaan penggalian dimulai. Gambar yang telah disetujui dan perusahannya yang menurut pendapat Direksi dianggap perlu demi keamanan personil dan atau pekerjaan akan dikembalikan pada Kontraktor untuk dilaksanakan. Pekerjaan penggalian tidak boleh dimulai tanpa seijin Direksi. Ijin yang diberikan tidak berarti membebaskan Kontraktor dari kewajiban dan tanggung jawab sesuai kontrak. 5. Pengendalian Air Kontraktor harus menydiakan, memasang dan mengoperasikan semua peralatan yang diperlukan untuk menjaga galian bebas dari air/genangan selama pelaksanaan kosntruksi dan harus membuang air hingga tidak menimbulkan kerusakan terhadap benda-benda di sekitarnya, atau menyebabkan gangguan
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-20

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

atau mengancam umum. Interceptor Drain perlu untuk menjaga air permukaan jangan sampai masuk ke lubang galian konstruksi. Untuk penggalian di bawah air, Kontraktor harus mengusahakan melaksanakan pengeringan di sekitar lokasi galian dengan metoda yang harus diusulkan oleh Kontraktor dan harus mendapatkan persetujuan dari Direksi. Tanggul akan sangat baik digunakan mencegah kerusakan akibat erosi selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Kerusakan yang ditimbulakn diperbaiki atas biaya Kontraktor. 6. Pekerjaan Galian a. Uraian 1. Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, pembuangan tanah atau meterial lain bila ada dari tempat kerja atau sekitarnya yang perlu untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan dalam kontrak ini. 2. Pekerjaan ini umumnya diiperlukan untuk pembuatan pondasi, pembuangan material yang tidak terpakai atau humus, dan untuk pembentukan secara umum dari tempat kerja sesuai dengan spesifikasi ini dan yang memenuhi garis, ketinggian penampang yang ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi. b. Toleransi Dimensi 1. Kelandaian akhir, arah dan formasi sesudah galian tidak boleh bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 2 cm dari tiap titik. 2. Permukaan galian yang telah selesai yang terbuka terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin drainase yang bebas dari permukaan ini tanpa terjadi ganguan. c. Perbaikan dari Pekerjaan Galian yang tidak Memuaskan Pekerjaan galian yang tidak memnuhi toleransi yang diberikan, harus diperbaiki oleh Kontraktor sebagai berikut : 1. Material yang berlebihan harus dibuang dengan menggali lebih lanjut 2. Daerah dimana digali lebih atau daerah retak atau lepas, harus dirug kembali dengan timbunan pilihan atau lapis pondasi agregat seperti yang diperintahkan oleh Direksi. d. Pelaporan dan Pencatatan 1. Untuk setiap pekerjaan galian, Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi, sebelum memulai pekerjaan, gambar perincian potongan melintang atau memanjang yang menunjukkan kondisi awal daripada tanah sebelum operasi pembabatan dan pengarukan dilakukan. 2. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi gambar perincian dari seluruh struktur sementara yang diusulkannya atau yang diperintahkan untuk digunakan seperti skor, turap, cofferdam, dan tembok penahan dan

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-21

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

harus memperoleh persetujuan direksi sebelum melaksanakan pekerjaan galian yang dimaksudkan untuk dilindungi oleh struktur yang diusulkan tersebut. 3. Setelah masing-masing galian untuk tanah dasar, formasi atau pondasi selesai, Kontraktor harus memberitahu direksi. Bahan landasan atau material lain tidak boleh dipasang sebelum kedalaman galian disetujui oleh direksi. e. Prosedur Penggalian Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Direksi dan harus mencakup pembuangan seluruh material dalam bentuk apapun yang dijumpai termasuk tanah, padas, batu bata, batu, beton dan lain-lain. Pekerjaan galian harus dilakukan dengan seminimal mungkin gangguan terhadap material dibawah dan di luar batas galian. f. Kondisi Tempat Kerja Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan Kontraktor harus menyediakan seluruh material yang diperlukan, perlengkapan dan buruh untuk pengeringan, penggalian saluran air dan pembangunan saluran sementara, tembok ujung dan cofferdam. Pompa agar siap di tempat kerja setiap saat untuk menjamin tak ada gangguan dalam prosedur pengeringan dengan pompa. g. Jaminan Keselamatan Pekerjaan Galian 1. Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian. 2. Selama masa pekerjaan galian, Kontraktor harus menjaga setiap saat suatu lereng yang stabil yang mampu menahan pekerjaan sekitarnya. Bila diperlukan, Kontraktor harus menahan atau menyangga struktur di sekitarnya yang jika tidak dilakukan dapat menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan galian itu. 3. Pada setiap saat dimana kedalaman galian melebihi ketinggian di atas kepala, Kontraktor harus menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan serta perlengkapan P3K harus tersedia di tempat kerja galian. 4. Seluruh tepi galian terbuka harus diiberi penghalang yang cukup untukmencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke dalamnya dan setiap galian terbuka pada badan malam hari dengan drum dicat putih atau lampu kuning sesuai dengan ketentuan direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-22

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

h. Penggunaan dan Pembuangan Material Galian Seluruh material yang dapat dipakai yang digali dalam batas-batas dan cakupan proyek dimana memungkinkan harus digunakan secara efektif untuk formasi timbunan atau urugan kembali maupun lime treatment. Material galian yang mengandung tanah organis tinggi, sejumlah besar akar atau benda tertumbuhan yang lain dan tanah yang komprensif yang menurut Direksi akan menyulitkan pemadatan dari material atau yang mengakibatkan kerusakan atau penurunan yang tidak dikehendaki harus diklasifikasikan tidak memenuhi untuk digunakan sebagai timbunan dalam pekerjaan permanen. Setiap material galian yang berlebih untuk kebutuhan timbunan, atau setiap material yang tidak disetujui oleh direksi teknik sebagai bahan timbunan harus dibuang dan diratakan dalam lapis yang tipis oleh Kontraktor di luar tempat kerja sesuai petunjuk direksi. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk seluruh pengaturan dan biaya untuk pembuangan material yang berlebih atau tidak memenuhi syarat, termasuk pengangkutan dan perolehan ijin dari pemilik tanah di mana pembuangan dilakukan. i. Pembuangan Material Pekerjaan Sementara dan Perapian Tempat Bekas Galian 1. Terkecuali diperintahkan oleh Direksi, seluruh struktur sementara seperti cofferdam atau skor dan turap harus dibongkor oleh Kontraktor setelah selesai pekerjaan struktur permanen atau pekerjaan lain untuk mana galian telah dilakukan. Pembongkaran harus dilakukan sedemikian sehingga tidak mengganggu atau merusak struktur atau formasi yang telah selesai. 2. Material galian yang sementara waktu diijinkan untuk ditempatkan dalam saluran air harus dibuang seluruhnya setelah pekerjaan selesai sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu saluran air. 7. Urugan dan Timbunan Tanah a. Umum Semua pengurugan dan timbunan tanah, harus dilakukan di tempat kering yang disetujui direksi. Penggunaan peralatan bagi pelaksanaan penimbunan dan pengurugan kembali sehingga dapat memperoleh hasil pemadatan sesuai dengan spesifikasi, jenis dan kapasitas sesuai dengan yang diminta dan telah disetujui Direksi. Melindungi semua daerah kerja dari kerusakan yang diakibatkan oleh air atau dengan cara lain membuat sistem drainase yang baik untuk menjaga jangan sampai air berada di atas tanah urugan dan daerah pengurugan. Alat berat tidak boleh beroperasi dalam jarak 1 m dari bangunan dan vibrating rollers dalam jarak 1,5 m dari bangunan. b. Timbunan/Urugan Timbunan tidak boleh diletakkan hingga galian yang telah dilakukan dan pekerjaan pondasi yang telah diselesaikan diperiksa disetujui Direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-23

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Penimbunan diletakkan mendatar lapis demi lapis yang dipadatkan dengan menggunakan peralatan tetapi dengan ketebalan lepada maksimum 200 mm. Pemadatan timbunan dengan tenaga manusia dan juga dengan tenaga mesin harus dengan ketebalan lepada maksimum 200 mm. Distribusi bahan di seluruh bagian lapisan harus seragam dan penimbunan harus bebas dari tonjolan, cekungan dan alur-alur atau lapisan material yang berbeda susunan atau gradasi dengan material di sekitarnya. Bila permukaan lapisan menjadi terlalu keras atau halus, untuk pemadatan dengan lapisan berikutnya perlu dilakukan torehan sejajar sumbu penimbunan hingga kedalaman tidak kurang dari 75 mm sebelum dilapisi dengan lapisan selanjutnya. Pada muka dipuncak semua timbunan tanah harus diberi kemiringan tidak kurang dari 2% untuk mendapatkan drainase yang efektif, walau tidak diperlihatkan/ditunjukkan dalam gambar. Permukaan dari timbunan tanah harus dengan kemiringan 2 % hingga dapat berfungsi sebagai drainase. c. Pemadatan Pelaksanaan semua penimbunan tidak kurang 90 % dari maksimum dry density. Semua timbunan harus dilembabkan sebesar 2 % dari angka aotimum dan kemudian dipadatkan. Distribusi kelembaban yang seragam dapat diperoleh dengan metode yang telah disetujui olehh Direksi bagi pemadatan lapisan. Bila lapiasan teratas (dari lapisan sebelumnya) dan timbunan yang dipadatkan atau tanah pondasi menjadi kering atau basah untuk memperoleh ikatan yang baik perlu dilakukan penorehan dan pelembaban dengan menggunakan pencaran air untuk memperoleh kadar air yang baik bagi peletakan lapisan selanjutnya. d. Prosedur Pengujian Pemadatan Metode percobaan untuk timbunan tanah yang akan dipadatkan harus mempunyai kepadatan kering lebih besar atau sama dengan persentase yang ditentukan oleh ASTM D1557. Metode C. Metode ini akan digunakan pada urugan yang dipadatkan, urugan dengan timbunan tanah dan untuk mengatur pemadatan relative (Relative Compaction) pada kadar air yang optimum dari tanah urugan yang dipadatkan, urugan dengan timbunan tanah dan tanah dasar. Alternatif lain percobaan 11 dari BS 1377 dapat digunakan sebagai pengganti ASTM 1557 Selama pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor di bawah pengawasan Direksi, akan melaksanakan beberapa percobaan sesuai yang diperlukan untuk meneliti material, untuk menentukan karakteristik pemadatan, menentukan kadar air dan menentukan kerapatan urugan di tempat. Test ini dilakukan Kontraktor dan akan digunakan untuk menguji urugan sesuai kebutuhan spesifikasi. Pengujian dilakukan oleh Kontraktor atau laboratorium menyelidikan yang diusulkan Kontraktor dan telah disetujui kapan, dimana, sesuai yang diperintahkan Direksi. Biaya semua percobaan pemadatan dan percobaan lainnya yang disebutkan di atas di tanggung Kontraktor.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-24

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

8. Pengurugan kembali Pada Bangunan-bangunan dan Pada Pekerjaan Pasangan Batu Apabila tidak disebutkan pada gambar atau tidak disyaratkan khusus, semua urugan pada jarak 2 m dari tembok dan pangkal box culvert, atau gorong-gorong harus terdiri dari bahan kerikil yang halus bebas dari lumpur. Bahan-bahan ini juga yang berada di tempat lainnya, bila tidak praktis dipadatkan dengan roller, harus dilakukan dengan penyiraman air untuk kemudian dipadatkan dengan lapis demi lapis tidak boleh dari 200 mm tebal, berat dari alat pemadatan tidak boleh kurang dari 20 kg dan tidak boleh lebih dari 150 gr/cm2 luas permukaan alat pemadat. Material untuk pengurugan dibawah dalam keadaan mempunyai kelembaban 2 % dari kondisi optimum. Menggenangi dengan air atau menggunakan pancaran air tidak boleh dilakukan kecuali bila telah disetujui Direksi. Pemadatan urugan tidak boleh kurang dari 90% maksimum dry density. 9. Kelebihan Galian dan Pembuangan Sisa Galian Semua bahan hasil dari galian yang berlebihan yang dianggap perlu oleh Direksi harus dipindahkan/dibuang dari lokasi pekerjaan dan biaya untuk itu ditanggung oleh kontraktor. Kontraktor harus menyediakan lokasi buangan akhir untuk sisa tanah hasil galian yang tidak terpakai, diluar lokasi pekerjaan atau sesuai petunjuk Direksi. E. PEKERJAAN PONDASI BATU KALI 1. Lingkup Pekerjaan a. Pekerjaan meliputi pengadaan alat, bahan dan tenaga kerja keperluan pekerjaan ini. b. Pekerjaan ini meliputi pemasangan pondasi batu kali dengan bahan yang tersebut dalam persyaratan ini. 2. Syarat-Syarat Bahan a. Bahan berupa batu kali yang mempunyai kualitas baik, tidak porus, dan tidak mudah pecah. b. Bahan seperti semen, pasir dan air sebagaimana yang disyaratkan pada pekerjaan beton. 3. Syarat-Syarat Pelaksanaan a. Dasar galian bebas dari lumpur. b. Apabila muka air tanah cukup tinggi, sehingga dasar galian selalu terendam oleh air. Maka harus dibuat dewatering dengan jalan membuat lubang pemompaan. c. Aanstamping segera dipasang setelah dilakukan galian tanpa menunggu galian selesai seluruhnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari dasar galian menjadi lumpur akibat dari injakan-injakan para pekerja.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-25

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

d. Aanstamping dipasang dalam posisi berdiri rapat dan ditumbuk padat. e. Agar pasangan aanstampeng mempunyai ikatan yang baik tidak goyah, maka celah-celah kecil harus diisi dengan pasir dengan cara pasir-pasir yang disebar diatas pasangan aanstampeng disiram dengan air agar pasir dapat masuk kecelah-celah batu. f. Ukuran pondasi batu kali harus sesuai dengan gambar, baik itu ukuran lebar dengan dasar, tinggi pondasi yang mana dari ukuran yang salah akan mempengaruhi kemampuan daya dukung pondasi tersebut. g. Pemasangan pondasi batu kali mengunakan campuran 1Pc : 5 Ps. Dalam pemasangannya antara batu kali tidak boleh ada yang bersentuhan satu sama lain, sehingga ikatan antara batu kali menjadi baik. h. Pemasangan harus baik, lurus dan pada bagian luar diusahakan menggunakan penampang yang baik hingga menghasilkan tampak pondasi yang rapi. 4. Pembuatan lubang suling-suling a. Bila lubang suling-suling diperlukan untuk membentuk suatu tembok atau tembok bangunan lainnya, maka metode pembentukan lubang suling-suling harus didasarkan atas persetujuan dari Direksi. b. Lubang suling-suling yang pertama harus dipasang 400 mm dari atas dasar saluran. Pada setiap jarak 2,00 m pada arah dipasang 1 suling-suling sedang pada arah vertikal dipasang 2 suling-suling. Pemasangannya dipasang secara zig-zag. c. Lubang suling-suling harus dibentuk agar miring terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi. d. Terkecuali disyaratkan atau diperintahkan oleh Direksi, lubang suling-suling berdiameter 50mm harus ditempatkan pada jarak antara bak horizontal maupun vertikal tidak lebih dari masing-masing 1000 mm dan 500 mm. e. Di belakang pipa-pipa suling harus diberi serat/filter dari ijuk atau serabut kelapa untuk mencegah agar tanah/pasar tidak masuk ke dalam pipa-pipa suling. 5. Pekerjaan Akhir Pasangan Batu a. Sambungan dari sisi muka batu harus dikerjakan hampir rata dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak menutupi batu sewaktu pekerjaan dilaksanakan. b. Terkecuali disyaratkan lain, bagian puncak horizontal dari seluruh pasangan batu harus dikerjakan akhir dengan tambahan dari lapis aduk setebal 15mm yang dikerjakan ke permukaan yang merata dengan kemiringan yang akan menjamin perlindungan terhadap air hujan dan dengan sudut yang dibulatkan. Lapisan tersebut harus dimasukkan kedalam dimensi yang disyaratkan dari struktur.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-26

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

c. Bilamana ditunjukkan dalam gambar rencana, semua permukaan pasangan batu yang dialiri air difinishing dengan plesteran semen sesuai dengan gambar bestek yang ada. 6. Pekerjaan trucuk kayu gelam a. Bahan material gelam Dalam hal penyediaan kayu gelam, kontraktor harus memberikan contoh kepada pengawas atau Direksi untuk mendapatkan persetujuan. Bahan berkualitas baik, dalam keadaan masih segar, lurus dan tidak lapuk dengan ukuran diameter ujung 10 cm dan 12 cm bagian pangkalnya serta panjang 2.50 m. Yang diukir pada diameter gelam adalah diameter gelam pada bagian yang keras. b. Pelaksanaan pemancangan Alat pemancang termasuk alat pemukul tiang pancang disiapkan oleh kontraktor. Kontraktor harus membuat gambar metode pelaksanaan pemancangan berserta peralatan dan kapasitasnya. Gambar tersebut diajukan ke Pengawas dan Direksi untuk mendapatkan persetujuaan. Apabila kontraktor tidak menggunakan alat pemancang dengan hammer, maka kontraktor mengajukan alat pemancang dan metode pelaksanaannya untuk mendapat persetujuan pengawas dan Direksi. Apabila dari hasil pemancangan tersebut di atas menurut Direksi hasilnya meragukan misalnya tiang trucuk miring, pecah dan sebagainya maka kontraktor harus mencabut ting trucuk tersebut dan diharuskan melakukan pemancangan ulang. Segala kerugian yang ditimbulkan akibat hal tersebut di atas adalah menjadi tanggung jawab kontraktor sepenuhnya. F. PEKERJAAN BETON 1. Umum a. Uraian Pekerjaan ini terdiri dari pembuatan semua struktur beton termasuk beton tak bertulang, beton bertulang dan bagian beton dari struktur yang tercantum dalam gambar rencana atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi. b. Standar-standar yang dipakai Pada setiap tahapan pekerjaan beton, yakni perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaannya berlaku ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam peraturan beton bertulang indonesia, yang selanjutnya disingkat dengan PBI. Hal-hal yang belum diatur dalam ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam PBI, maka dipakai standar SKSNI-T15.ACI, ASTM dan AASHTO. c. Mutu beton Jenis mutu beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian pekerjaan yang tercantum dalam gambar rencana harus sesuai dengan uraian dalam

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-27

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

spesidfikasi teknis ini atau sesuai dengan petunjuk Direksi. Jika tidak ditentukan, maka mutu beton yang dipakai adalah sebagai berikut: K.225 Digunakan untuk bangunan rumah jaga dan rumah pompa, bangunan kolam olak/ folder, dan konstruksi rumah genset dan pondasi genset. Untuk menjaga mutu beton yang dibuat, maka harus ada keterlibatan dari pihak terkait lain yang menangani pekerjaan Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC) di lapangan beban biaya kontraktor. Tabel 5.6.1. Ukuran Nominal Agregat Mutu Ukuran Karakteristik dalam beton nominal kg/cm2 pengujian pada struktur fc agregat (mm) saat pelaksanaan (Mpa) K 350 K 225 20 20 350 225

d. Pengajuan 1. Kontraktor harus mengajukan contoh semua bahan yang hendak digunakan dengan data pengujian yang harus memenuhi spesifikasi. 2. Kontraktor harus mengajukan desain campurannya untuk setiap jenis pekerjaan pengecoran beton. 3. Kontraktor harus mengajukan secara tertulis hasil seluruh pengajian pengendalian kualitas yang terinci dengan segera setelah tersedia atau ia di minta oleh Direksi. Hasil pengujian kuat tekan 3 hari, 7 hari dan 28 hari berturut-turut setelah tanggal pencampurannya. 4. Kontraktor harus mengajukan gambar dari semua perancah yang akan digunakan, mendiskusikan metode kontruksi dan program kerjanya serta memperoleh persetujuan sebelum memasang setiap perancah atau memulai pekerjaan beton lainnya. Persetujuan tersebut tidak akan membebaskan kontraktor dari tanggung jawabnya pada setiap struktur. 5. Kontraktor harus memberitahu Direksi secara tertulis paling tidak 24 jam sebelum memulai untuk mencampur atau mengecor beton. e. Kondisi Pekerjaan Kontraktor harus menjaga suhu dari semua bahan-bahan terutama agregat kasar pada tingkatan yang serendah mungkin dan harus menjaga suhu dari beton di bawah 30 C pada waktu pengecoran. Sebagai tambahan, maka Kontraktor tidak akan mengecor beton apabila : a. Kecepatan penguapan melebihi 1,0 kg/m2/jam b. Lengas nisbi dari udara kurang dari 40 % c. Hujan atau bila udara penuh debu (tercemar) d. Kondisi lapangan yang tidak memungkinkan atau tidak ada persetujuan Direksi untuk mengecor.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-28

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

f. Pembetulan pekerjaan yang kurang memuaskan 1. Pembetulan dari pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang dirinci dalam spesifikasi, atau hasil akhir permukaan yang tidak memuaskan, atau tidak memenuhi persyaratan sifat campuran yang dirinci dalam spesifikasi, harus meminta petunjuk Direksi yang meliputi : - Perubahan dalam perbandingan campuran untuk sisa pekerjaan. - Penguatan atau pembuangan seluruh dan penggantian bagian pekerjaan yang dianggap kurang memuaskan - Tambahan pada cacat-cacat kecil 2. Dalam hal adanya perselisihan mengenai kualitas pekerjaan beton atau setiap keraguan mengenai kelayakan data pengujian yang tersedia, maka Direksi dapat meminta Kontraktor untuk melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menjamin bahwa suatu penilaian yang cukup baik mengenai kualitas pekerjaan dapat dibuat. Pengujian tambahan tersebut harus atas biaya sendiri dari Kontraktor. 2. Persyaratan Bahan Secara umum, kecuali ditentukan lain secara khusus dalam spesifikasi ini, semua bahan yang dipakai untuk pekerjaan beton harus memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 2 bab 3 dari PEDOMAN BETON 1988 (SKBI-1.453.1988). a. Semen 1. Semua semen yang boleh digunakan adalah Semen Portland type-1 yang ditentukan dalam SII 0013-81 atau Standart Umum Bahan Bangunan Indonesia 1986 dan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam standart tersebut. 2. Kecuali diijinkan lain oleh Direksi, maka hanya produk dari satu pabrik (Satu merk) untuk setiap jenis semen Portland yang boleh digunakan untuk pekerjaan beton. 3. Semen yang diterima dalam kantong-kantong yang masih tersegel dan tidak pecah. 4. Kecuali jika diperintahkan lain oleh Direksi, keterangan hasil pengujian dari pabrik harus disertakan bersama setiap pengiriman semen untuk menjamin mutu semen sesuai standart. 5. Kontraktor harus menyediakan contoh dari setiap pengiriman semen yang telah diserahkan ke tempat kerja kepada Direksi yang diperlukan untuk pengujian. Bila menurut penilaian Direksi semen tersebut berbungkah atau berbongkol, Direkksi harus menolak semen tersebut dan Kontraktor harus segera menyingkirkannya dari tempat pekerjaan. 6. Semen yang telah disimpan lebih dari 40 (empat puluh) hari dan semen yang menurut penilaian Direksi kualitasnya meragukan tidak boleh digunakan dalam pekerjaan. Bahan yang ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 1 x 24 jam.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-29

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

7. Jenis semen yang berbeda harus disimpan di tempat yang terpisah dan diberi tanda yang jelas. Semen yang dikirimkan ke lokasi pekerjaan dalam drum atau kantong oleh pemasok (supplier) atau pabrik harus disimpan di dalam drum atau kantong tersebut telah dibuka, semen tersebut harus segera digunakan. Bila ada keterbatasan ruang untuk penyimpanan semen dilokasi pekerjaan, semen harus disimpan di pusat lokasi proyek dan dapat didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing pekerjaan. b. Agregat 1. Secara umum, agregat harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII 00520-80 dan persyaratan yang ditentukan dalam spesifikasi ini. Bila tidak tercakup dalam SII 00520-80 maka agregat harus memenuhi ketentuan ASTM C33 2. Gradasi agregat kasar dan halus sesuai dengan persyaratan yang diberikan dalam tabel berikut : Tabel 5.6.2. Spesifikasi Analisa Saringan Agregat Ukuran ayakan Persentase berat yang lolos standar Agregat Mm Inch Agregat Pilihan Agregat Kasar Halus 50 2 100 37 1 95 100 100 25 1 90 100 100 19 35 70 90100 100 13 10 30 25 60 90100 10 3/8 100 05 20 55 4070 4.75 4 95 100 0 10 0 10 0 15 2.36 8 05 05 05 1.18 16 45 80 0.3 50 10 30 1.15 100 2 -10 3. Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa seingga ukuran partikel terbesar tidak lebih besar daripada dari jarak minimum antara batang tulangan atau perbatasan lainnya dalam jarak di mana pekerjaan beton harus ditempatkan. 4. Jumlah total lempung dan lumpur di dalam pasair alam tidak boleh melebihi ketentuan yang ada dalam ACI dan ASTM. 5. Agregat harus bebas dari bahan-bahan organic seperti dirinci dalam AASHTO 6. Pengambilan contoh dan pengujian agregat harus dilakukan memenuhi ketentuan yang sesuai dengan bagian-bagian dalam ASTM. Kontraktor harus memberi jaminan kepada Direksi, bahwa agregat yang akan dipasok tidak akan meningkatkan reaksi alkali dengan semen. 7. Sebelum pekerjaan adukan contoh dimulai, Kontraktor harus menyerahkan contoh sebanyak 50 kg, dari masing-masing agregat yang diusulkan akan

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-30

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

digunakan untuk mendapatkan persetujuan Direksi dan harus disimpan di lapangan untuk digunakan sebagai patokan (acuan) 8. Kontraktor harus menyiapkan cara-cara penimbunan agregat pada setiap tempat dimana pekerjaan pembetonan dilakukan sedemikian : - Ukuran nominal dan agregat kasar dan agregat halus harus ditempatkan terpisah setiap waktu - Pengotoran terhadap agregat yang disebabkan oleh tanah dan benda-benda lainnya dapat dihindarkan setiap waktu - Setiap timbunan agregat harus mampu mengalirkan air (lolos air) 9. Kontraktor harus memastikan bahwa agregat kasar dicurahkan, disimpan dan dipindahkan dari tempat penyimpanan dengan cara sedemikian sehingga tidak menyebabkan pemisahan. Agregat kasar harus berupa koral/batu pecah yang mempunyai susunan gradasi yang baik, keras porous, tajam dan bentuknya relatif kubus. 10. Agregat kasar mempunyai ukuran butir di antara 5 sampai dengan 20 mm, ukuran yang lebih besar dari 38 mm untuk penggunaannya harus mendapat persetujuan dari Direksi, sesuai dengan dimensi struktur dan kerapatan tulangan dimana adukan akan dicor. 11. Gradasi dari agregat kasar secara keseluruhan harus dapat menghasilkan mutu beton yang dikehendaki, padat dan mempunyai daya kerja yang baik dengan semen dan air dalam proporsi campuran yang akan dipakai. 12. Pasir yang digunakan harus benar-benar pasir cor bukan pasir laut. 13. Agregat kasar dan agregat halus harus selalu bersih dari gumpalan tanah liat, lumpur, minyak dan bahan organis yang merugikan. 14. Agregat halus mempunyai modulus kehalusan butir antara 2 sampai dengan 32 jika diselidiki dengan saringan standar, berbentuk tajam dan keras. 15. Gradasi dari agregat halus harus menghasilkan mutu beton yang dikehendaki. 16. Semua agregat harus disimpan di tempat bersih yang keras permukannya dan dicegah supaya tidak terjadi percampuran dengan material/bahan lain dan terkotori. 17. Direksi dapat meminta pada Kontraktor untuk mengadakan test kualitas dari agregat-agregat tersebut dari tempat penimbunan yang ditunjuk oleh Direksi, setiap saat dalam laboratorium yang diakui. Dalam hal adanya perubahan sumber darimana agregat tersebut disuplai, maka Kontraktor diwajibkan untuk memberitahu kepada Direksi.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-31

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Tabel 5.6.3. Sifat Agregat Beton Sifat - Kehilangan akibat abrasi pada 500 putaran dengan Mesin Los Angeles - Kehilangan akibat penentuan kualitas dengan Sodium Sulfat setelah 5 putran - Persentase gumpalan tanah liat dan partikel yang dapat pecah dalam agregat - Bahan-bahan yang lolos ayakan 200 Pengujian AASHTO T96 T104 T112 T11 Batas Maksimum yang diijinkan 40 % 10% 0,5 % 3% 12% 0,25% 1%

18. Agregat halus basah tidak boleh digunakan sampai menurut pendapat Direksi agregat tersebut telah kering hingga memenuhi kadar air yang tetap dan seragam. Bila diperlukan untuk memenuhi ketentuan dalam pasal ini, Kontraktor harus melindungi gundukan/timbunan dari pengaruh cuaca buruk. Bila keadaan tempat/lokasi kerja terbatas bagi penyimpanan agregat, agregat harus disimpan di pusat lokasi kerja dan akan didistribusikan setiap hari sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenis pekerjaan denga cara sedemikian rupa sehingga terhindar dari pengotoran dan pemisahan terhadap agregat. c. Air 1. Air yang digunakan dalam mencampur, merawat, atau penggunakan lain yang direncanakan harus bersih dan bebas dari setiap zat-zat yang merugikan seperti minyak, garam, asam alkali, basa, gula atau zat organic yang dapat memenuhi persyaratan ASTM atau PBI. 2. Air dengan kualitas sebagai air nimum dapat digunakan tanpa pengujian 3. Direksi berhak mengharuskan Kontraktor memeriksa air yang dipakai di laboratorium bahan yang diakui dan sah, atas biaya Kontraktor. d. Agregat Bahan tambahan adalah bahan yang ditambahkan/dicampur bersama bahan beton selama pengadukan dengan maksud memperbaiki sifat-sifat campuran beton. Kecuali diijinkan atau diperintahkan oleh Direksi, Kontraktor tidak diperkenankan mempergunakan admixture. Metode penggunaan dan jumlah bahan tambahan yang digunakan harus seijin dan disetujui Direksi. Tetapi persetujuan ini tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor untuk menghasilkan beton dengan kekuatan dan kemudahan pengerjaan sesuai dengan ketentuan. Beton yang meliputi berbagai kelas/mutu yang menggunakan bahan tambahan harus direncanakan dan dibuat adukan contoh tersendiri dan disetujui Direksi, demikian pula bila beton dengan kelas

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-32

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

tersendiri. Bahan tambahan yang mengandung calcium khlorida tidak boleh digunakan denga alasan apapun. 3. Pencampuran Bahan Secara umum, kecuali ditentukan lain secara khusus dalam spesifikasi ini, persyaratan mengenai campuran beton baik mengenai perencanaan campuran dan pengendalian mutu harus memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 3 bab 4 dari PEDOMAN BETON 1988 (SKBI 1.4.53.1988) 4. Rencana Campuran Beton Pada saat dimulainya pekerjaan Kontraktor harus membuat adukan untuk setiap mutu beton yang tercantum pada tabel 6.1.1 yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan dan detail rencana campuran harus dimasukkan untuk disetujui Direksi. Setiap rencana campuran harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : 1. Agregat terdiri dari fine aggregate/butiran halus dan coarse aggregate/butiran kasar dengan ukuran maksimum ditentukan dalam tanel 6.1.2. Kombinasi mutu agregat harus menerus. Agregat harus dihitung berdasarkan berat. 2. Campuran harus dibuat agar dapat menghasilkan silinder beton dengan karakteristik kekuatan pada umur 28 hari setelah pengecoran tidak lebih kecil dari kekuatan yang ditentukan pada tabel 6.1.1. Untuk beton yang menggunakan semen yang berbeda dengan Portland Cement atau bahan tambahan yang diakui, kekuatannya tidak boleh kurang dari pada yang tercantum dalam tabel 6.1.1. Tetapi campuran tersebut harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi. 5. Workability (Kelecakan Beton) Kemudahan pengerjaan setiap mutu beton harus sedemikian rupa sehingga pemadatan dengan hasil yang memuaskan dapat diperoleh bila beton dicor dan divibrasi dan tidak memisah bila ditangani, diangkut dan dipadatkan dengan metode yang diusulkan akan digunakan Kontraktor dalam penanganan, transportasi dan pemadatan beton yang bersangkutan dalam pekerjaan. Untuk beton bertulang, pemadatan ditentukan dengan metode yang diuraikan dalam ACI dan ASTM harus tidak kurang dari 0,85 dan tidak lebih besar dari 0,92. Kekentalan (konsistensi) adukan beton harus disesuaikan dengan cara transport, cara pemadatan, jenis konstruksi yang bersangkutan dan kerapatan dari tulangan. Kekentalan tersebut dapat tergantung pada berbagai hal, antara lain jumlah dan jenis semen, nilai faktor air semen, jenis ukuran butir dari agregat serta penggunaan bahan-bahan pembantu. 6. Contoh Campuran Beton Segera setelah Direksi menyetujui rencana campuran beton untuk setiap jenis mutu beton struktur dan selama atau setelah pelaksanaan tes pendahuluan,
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-33

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Kontraktor harus menyiapkan suatu percobaan campuran dari setiap mutu beton dengan dihadiri/diketahui oleh Direksi. Percobaan campuran akan dicampur dalam waktu yang bersamaan dan ditangani oleh alat yang sama seperti yang diusulkan Kontraktor untuk digunakan dalam pekerjaan. Setiap campuran tidak boleh kurang dari 0,5 M3 beton. Proporsi dari semen, agreget dan air ditentukan dengan teliti berdasarkan berat sesuai dengan campuran/adukan yang disetujui Direkksi (atau adukan yang diperbaiki setelah tes pendahuluan) dan analisa ayakan harus dibuat dengan metode yang diuraikan dalam ASTM dan atau ACI, bagi agregat halus dan dari setiap ukuran nominal agregat kasar. Faktor pemadatan dari setiap kelompok contoh adukan, harus ditentukan dengan segera setelah pengadukan dengan menggunakan metode yang diuraikan dalam ASTM dan atau ACI dan tidak boleh melebihi dari batas yang tercantum dalam butir spesofikasi ini. Kontraktor harus membuat 3 kelompok contoh adukan secara terpisah untuk setiap adukan dan 3 (tiga) silinder uji tekan (150 x 300 mm) akan dibuat dari setiap adukan dengan disaksikan oleh Direksi. Silinder harus dibuat, disiram, disimpan dan diuji 28 hari setelah pembuatan sesuai dengan metode yang diuraikan dalam ASTM dan atau ACI. Jika nilai rata-rata kekuatan dari 9 siliner diuji setelah berumur 28 hari kurang adari kekuatan contoh adukan yang tertera pada tabel 6.1.1 Kontraktor harus merubah adukan serta membuat contoh adukan dan silinder selanjutnya. Selanjutnya, untuk kemudahan dalam pekerjaan pengecoran maka Kontraktor harus mengajukan metode pelaksanaan pengecoran yang dianggap paling efisien menurut Kontraktor berkaitan dengan besarnya volume beton dan berkaitan dengan luas areal yang tersedia di lapangan. Metode pelaksanaan tersebut harus diajukan paling lambat 3 hari sebelum pengecoran untuk mendapatkan persetujuan Direksi. 7. Batasan Rasio Campuran Air/Semen Dalam merencanakan dan menentukan adukan beton untuk digunakan dalam pekerjaan, Kontraktor harus memperhatikan ketentuan terdahulu dan juga memperhatikan batasan-batasan lain pada rasio air/semen yang diperlihatkan pada gambar atau yang dinyatakan/disebutkan sesuai penggunaan beton pada bagian tertentu pekerjaan. 8. Pengadukan Beton a. Pengadukan Beton Beton harus diaduk dalam alat pengaduk mekanis atau beton molen yang mampu mengkombinasikan agregat, semen dan air (termasuk bahan campuran tambahan, jika ada) ke dalam suatu campuran yang berwarna seragam dan melepaskan campuran tanpa pemisahan. Pada permulaan pekerjaan, dengan pengaduk yang bersih, pengadukan pertama hanya terdiri dari setengah bagian dari jumlah normal agregat kasar untuk mengganti pelekatan bahan lain pada drum. Keadaan kadar air asli agregat harus

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-34

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

ditentukan sebelum dimulainya pengadukan setiap harinya dan pada periode tertentu dalam 1 hari pengadukan bila diperlukan. Kontraktor harus memperhitungkan kandungan air dalam angregat bila menentukan jumlah air yang ditambhakan ke setiap campuran, dan akan mengatur jumlah air yang ditambahkan ke setiap adukan untuk menjaga rasio air/semen dari adukan selalu tetap. b. Pengawasan Mutu Beton 1. Pengawas berhak meminta setiap saat pada Kontraktor untuk membuat benda uji berupa silinder dari adukan beton yang dibuat. Pengambilan contoh beton harus sesuai dengan ketentuan dari PBI 89 dan ASTM C172. pembuatan dan perawatan benda uji harus sesuai ketentuan ASTM C31 dan diuji berdasarkan ASTM C39 di laboratorium yang berwenang dan disetujui oleh Direksi. 2. Yang dimaksud dengan kekuatan beton disyaratkan (fc) adalah hasil test tekan silinder 150 mm x H 300 mm pada umur beton 28 hari. 3. Jumlah pengambilan dari setiap mutu beton yang dituang dalam satu hari harus diambil tidak kurang dari satu kali. Satu pengambilan contoh mewakili suatu volume rata-rata yang tidak lebih dari 20 m3 atau 5 truk mixer atau 1 batch (dipilih yang volumenya terkecil). Pada setiap kali pengambilan contoh beton harus dibuat empat pasang spesimen silinder yang dites sebagai berikut : - 1 pasang dites pada umur 3 hari - 1 pasang dites pada umur 7 hari - 2 pasang dites pada umur 28 hari 4. Laporan uji tekan harus diserahkan kepada pengawas satu hari sesudah selesai pengujian. Evaluasi hasil uji tekan umur 28 hari dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai berikut : - Nilai rata-rata dari semua pasangan hasil uji berturut-turut yang masingmasing terdiri dari tempat hasil uji kuat tekan tidak kurang dari (fc + 0,82S) - Tidak satu pun sari hasil uji tekan mempunyai nilai rata-rata kuat tekan 2 buah spesimen silinder dari contoh beton yang sama (atau 1 pasang spesimen). 5. Apabila dalam pelaksanaan nanti kedapatan bahwa hasil uji tekan gagal memenuhi syarat spesifikasi dan telah pula dilakukan penyelidikan lain dan hasilnya gagal pula, maka bagian pekerjaan tersebut harus diperkuat dengan suatu metode yang mana seluruh biaya untuk itu, baik untuk perencanaan maupun pelaksanaannya ditanggung oleh Kontraktor sepenuhnya. 6. Meskipun hasil pengujian benda-benda uji memuaskan, pengawas mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti berikut :
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-35

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Konstruksi beton kropos Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisinya tidak sesuai dengan gambar. Konstruksi yang tidak tegak lurus atau tidak rata seperti yang direncanakan Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lain

Semua pekerjaan yang dianggap cacat tersebut pada dasarnya harus dibongkar dan diganti dengan yang baru, kecuali Direksi menyetujui untuk diadakan perbaikan atau perkuatan dan cacat yang ditimbulkan tersebut. 7. Pengujian tambahan yang diminta oleh pengawas mengenai mutu beton dengan metode Destructive test atau pub non-destrucctive test, biaya ditanggung oleh Kontraktor pelaksana. 9. Persyaratan Pelaksanaan Secara umum, kecuali ditentukan lain secara khusus dalam spesifikasi ini, persyaratan mengenai pelaksanaan pembetonan yang meliputi pengadukan, pengangkutan, penanganan, pengecoran, perawatan, bekeisting, penulangan, siar konstruksi, sparing dan lain-lain harus memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 1 bab 5 dan bab 6 dari PEDOMAN BETON 1988 (SKBI 1.4.53.1988). a. Siar-siar Konstruksi 1. Semua siar-siar konstruksi dalam beton harus dibentuk rata harizontal atau vertikal. siar-siar tersebut harus berakhir pada bekisting yang kokoh dan tunjang dengan baik, jika perlu bekisting dibor guna melewati penulangan. 2. Bila pekerjaan pengecoran ditunda sampai beton yang sudah dicor mulai mengeras, maka dianggap terdapat siar kontruksi. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi jadwal secara detil rencana pembetonan semua bagian pekerjaan. 3. Jika diperlukan siar kontruksi di tempat yang lain dari pada yang telah disetujui, karena adanya kerusakan alat atau alasan lain yang tak terduga, harus disediakan penopang tegak lurus pada garis tegangantegangan utama tetapi jika lokasinya dekat tumpuan suatu plat atau balok, atau di tempat lain yang dianggap berbahaya oleh Direrksi, maka beton yang sudah dicor harus di pecah kembali dan disingkirkan sehingga dicapai lokasi yang cocok untuk siar kontruksi sebagaimana yang disetujui oleh Direksi. 4. Pengecoran beton harus dilaksanakan secara terus menerus dari satu siar ke siar berikutnya, tanpa memperhatikan jam-jam makan. 5. Permukaan siar beton yang sudah dicor harus dibersihkan seliruhnya dari benda-benda asing atau serpihan-serpihan. Jika beton kurang dari 3 hari umurnya, permukan tersebut harus disiapkan dengan pencucian
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-36

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

dan penyikatan seluruhnya. Jika umurnya lebih dari 3 hari atau sudah terlalu keras, permukaan tersebut harus di-sand blasted untuk memperlihatkan agregat. 6. Kontraktor harus memperhatikan bahwa permukaan telah disiapkan dan dibersihkan sebelum pengecoran disetujui oleh Direksi. Bekisting harus diperiksa lagi dan dikencangkan. Pemadatan dan penggetaran harus dilakukan pada permukaan lama dan ke sudut-sudut cetakan beton. b. Pembuatan Bekisting 7. Semua cetakan beton dan penopang-penopangnya harus didisain oleh kontraktor dan diserahkan kepada Direksi berupa gambar dan perhitungan untuk mendapat persetujuan. Gambar dan perhitungan tersebut hendaknya diserahkan minimal 7 (tujuh) hari sebelum bekisting mulai dikerjakan. 8. Cetakan harus benar-benar lurus, rata dan kokoh sehingga cukup untuk menahan defleksi, gerakan-gerakan dan getaran yang membahayakan akibat tekanan dan adukan beton cair atau padat. 9. Semua sambungan harus ditutup rapat untuk menghindari kebocoran air semen dan dibuat sedemikian sehingga permukaan beton yang kelihatan (exposed surface) lurus, rata dan kokoh. 10. Bila ada bagian beton yang sempit dan mempunyai kedalaman yang sangat besar, harus dibuat lubang-lubang pada sisi-sisi cetakan di posisi yang disetujui Direksi untuk memungkinkan penuangan dan pemadatan beton yang memadai. 11. Penggunaan pengikat (batang tarik) yang ditanam dalam betan diperkenakan setelah mendapat persetujuan dari Direksi. Penampatannya harus didisain sehingga tidak ada bagian yang tertanam lebih dekat dengan permukaan beton dari pada selimut betonnya untuk melindungi baja tulangan di lokasi tersebut. 12. Semua lubang bekas batang pengikat harus diisi dengan beton atau spesi dengan cara yang disetujui Direksi dan harus tidak berbekas pada permukaan beton. 13. Cetakan harus mempunyai lubang-lubang sementara yang kegunaannya untuk membuang kotoran. Lubang-lubang ini harus ditutup dengan rapi sebelum pengecoran. 14. Bekisting harus dibuat sedemikian sehingga pembongkarannya dapat mudah dilakukan tanpa membahayakan konstruksi. 15. Jarak maksimum tiang-tiang penyangga harus diatur oleh kontraktor demi keamanan struktur yang akan dicor. Semua tiang-tiang penyangga tidak boleh ditempatkan langsung diatas tanah, tetapi berpijak diatas balok kayu rata atau lantai kerja dengan kokoh.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-37

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

16. Apabila pemasangan bekeisting tidak sesuai dengan ketentuan atau dianggap kurang baik maka Direksi berhak menyuruh membongkar dan memperbaiki dengan biaya ditanggung oleh Kontraktor. 17. Kontraktor diwajibkan untuk memasang beton deking agar tulangan tidak menempel pada permukaan bekisting, ketebalan dari beton deking tersebut harus disesuaikan dengan selimut beton yang diperlukan yang ditunjukkan dalam gambar kerja. 18. Sebelum pengecoran dilaksanakan, semua permukaan cetakan harus bersih dari segala sesuatu yang dapat mengurangi mutu beton dan kekuatannya, terutama kotoran-kotoran yang menempel, ataupun serpiham-serpihan kayu, kawat sisa pemotongan, dan lain-lainnya. Permukaan dalam cetakan harus disemprot dengan menggunakan air bertekanan serta udara (kompressor) untukdikumpulkan di suatu tempat dan selanjutnya diambil dan dibuang. 19. Minyak untuk cetakan dapat dipakai tetapi hatus diperhatikan cara pelaksanaan harus benar-benar rapi untuk menghindari percikan pada permukaan siar konstruksi atau baja tulangan. 20. Semua bahan cetakan harus dirawat dengan baik. Bahan yang rusak tidak diijinkan digunakan. Sebelum digunakan lagi semua cetakan harus dibersihkan. c. Pembongkaran Bekisting 21. Pembongkaran dilakukan dimana bahan konstruksi bagian tersebut harus dapat memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan, atau pembongkaran dapat dilaksanakan sesuai kekuatan beton berdasarkan hasil pengujian. Tidak ada cetakan yang boleh dibuka sebelum disetujui oleh Direksi. Persetujuan ini tidak membebaskan Kontraktor dari tanggung jawabnya. 22. Pembongkaran bekisting dilaksanakan dengan hati-hati, jangan sampai merusak betonnya sendiri, Kontraktor wajib memperbaiki dengan biayanya sendiri, setiap kerusakan yang timbul akibat pembongkaran dan pemukulan cetakan dan penopangnya. Kerusakan-kerusakan kecil mungkin dapat diperbaiki dengan mengisi plester/spesi sesuai kebijaksanaan Direksi. Semua permukaan beton harus benar-benar halus. Setiap permukaan yang bersisik harus dibersihkan dan lubanglubang udara di permukaan diisi dengan campuran spesi 1 : 1 . d. Kerusakan pada Permukaan Bekisting Pembuatan bekisting dan pembetonan harus sedemikian sehingga tidak diperlukan lagi perbaikan, permukaan harus rata/halus dan padat. Jika noda timbul setelah pembongkaran bekisting, keputusan Direksi dalam hal perpaikan yang diperlukan harus dilakukan segera. Tindakan tersebut termasuk (tetapi tidak dibatasi) dalam:
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-38

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

1. Sirip, lubang gelembung, pelunturan warna permukaan dari kerusakan kecil lain dapat disikat dengan karung/kain kasar segera setelah bekisting dilepas: 2. Permukaan beton yang tidak rata dan ketidak teraturan yang lambat laun harus digosok dengan Carbo rundum dan air setelah beton dipelihara dengan baik. Kerusakan yang seperti ini dan kerusakan lain harus diperbaiki dengan cara yang disetujui Direksi yang mungkin termasuk penggunaan epoxyt resin yang cocok, dimana perlu, dipotong membentuk devetail yang teratur paling sedikit dengan kedalaman 75 mm dan diisi kembali dengan beton diatas tulangan kawat baja dan mengikat pada dovetail e. Pengecoran Beton 1. Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, ukuran dan letak baja tulangan sesuai dengan gambar pelaksanaan, pemasangan instalasi-instalasi yang harus ditanam, penopang dan pengikat dan lain-lain selesai dikerjakan. Sebelum pengecoran dimulai permukaan-permukaan yang berhubungan dengan pengecoran harus disetujui oleh Direksi. 2. Segera sebelum pengecoran beton, semua permukaan cetakan harus bersih dari air yang tergenang, reruntuhan atau bahan lepas yang lainya. Permukaan bekisting dan bahan-bahan yang menyerap pada tempat-tempat yang akan dicor harus dibasahi dengan merata namun tidak berlebihan. Baja tulangan harus bersih dari semua kotoran atau zat pelapis yang dapat mengurangi lekatan dengan beton. 3. Kontraktor harus memperhatikan letak/jarak/sudut untuk setiap penghentian pengecoran yang akan masih berlanjut, terhadap sistem struktur/penulangan yang ada. 4. Kontraktor harus memperhatikan sebelum pengecoran, dikordinasikan dengan pekerjaan instalasi listrik dan drainase, terutama yang menyangkut pipa-pipa sparing yang tertanam dalam beton. Tempat penempatan sparing-sparing sesuai dengan gambar kerja dan bila tidak disebutkan, maka kontraktor harus mengusulkan dalam waktu 7 hari sebelum pelaksanaan melalui gambar shop drawing. Untuk pemasangan sparing-sparing harus dihindari pemotong pembesian. Jika pemasangan sparing ini dirasa akan menimbulkan masalah. Kontraktor harus melaporkan dan meminta petunjuk dari Direksi. Sparing-sparing harus dipasang kuat sehingga tidak bergeser/ berubah kedudukannya selama pengecoran. Sparing pipa harus dilindungi sehingga tidak terisi adukan beton. 5. Beton hanya boleh dicor pada waktu Direksi atau Wakilnya yang ditunjuk serta pengawas kontraktor yang setara ada ditempat kerja,

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-39

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

dan persiapan betul-betul telah memadai. Sebelum pengecoran dimulai, kontraktor wajib meminta ijin tertulis dan pihak Direksi untuk memulai pengecoran tersebut. 6. Paling lama 2 jam setelah waktu pengadukan pertama kali, beton harus sudah dituang seluruhnya. Beton yang akan dicor harus diusahakan agar pengangkutannya ke tempat posisi terahkir sependek mungkin dan dengan alat yang dapat melindungi dari pengaruh kontaminasi atau segregasi. Segregasi dalam beton yang disebabkan jatuh bebas dari tempat yang cukup tinggi, atau sudut yang terlalu besar, atau bertumpuk dengan baja tulangan-tulangan, tidak dapat diterima. Kalau diperkirakan segregasi mungkin terjadi, kontraktor harus mempersiapkan tremie atau alat lain yang cocok untuk mengontrol jatuhnya campuran beton 7. Pengguaan concrete pump dapat dilakukan degan seijin Direksi. Kontraktor wajib mengatur campuran beton yang sesuai dan kecepatan penuangan beton untuk menghindari segregasi, kerusakan pada baja tulangan, cetakan dan sebagainya. 8. Dalam pemadatan setiap lapisan pada beton, kepala vibrator harus dapat menembus dan menggetarkan kembali beton pada bagian atas dari lapisan yang terletak di bawahnya. Lamanya penggetaran tidak boleh menyebabkan terpisahnya bahan beton dengan airnya. 9. Tukang besi harus selalu berada di lokasi pengecoran untuk sewaktuwaktu membetulkan posisi dari baja tulangan. 10. Jadwal waktu pengecoran harus diatur sedemikian sehingga tidak ada permukaan beton yang dibiarkan lebih dari 30 menit sebelum pengecoran berikutnya. 11. Pengecoran beton tidak diperkenakan selama hujan deras, kecuali dilakukan dalam tempat yang terlindung. 12. Apabila setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang kropos atau cacat lainya maka perbaikan hanya dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Direksi mengenai cara pengisian atau penambahan dan penutupan lainnya. 13. Jika ketidak sempurnaan tersebut tidak dapat diperbaiki untuk menghasilkan permukaan beton yang diharapkan, maka harus dibongkar atau diganti dengan pembetonan kembali. Semua resiko yang terjadi sebagai akibat pekerjaan tersebut dan biaya perbaikan kembali merupakan tanggung jawab kontraktor. 14. Beton hanya boleh dicor dalam air dengan ijin tertulis dari Direksi dan dimana menurut anggapan Direksi tidak praktis untuk mengecor di tempat kering. Jumlah semen pada adukan rasio semen/air dalam adukan tidak melebihi 0,45. beton tidak boleh dicor dalam air yang mengalir dan juga tidak boleh jatuh melalui air. Beton hanya dapat
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-40

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

dicor dengan menggunakan kotak kedap air dengan dasar yang terbuka atau corong pipa cor (tremie) dari jenis yang disetujui Direksi. Dasar kotak tidak boleh dibuka sampai kotak tersebut terletak dengan baik di atas tempat pengecoran, dan ujung corong pipa cor harus selalu tetap di bawah permukaan adukan beton yang baru dicor. 15. Toleransi Dimensional a. Toleransi kelurusan dan selimut beton - Toleransi menurut ukuran Panjang keseluruhan sampai dengan 6 m + 5 mm Panjang keseluruhan melebihi 6 m + 15 mm Panjang balok, pelat lantai atas, kolom + 10 mm Kolom dinding atau antara tembok kepala - Toleransi menurut bentuk : Siku-siku (perbedaan panjang/diagonal) 10 mm Kelurusan atau busur (penyimpangan dari 12 mm Garis yang dimaksud) untuk panjang sampai 13m Kelurusan atau busur untuk panjang 3m-6m 15 mm Kelurusan atau busur untuk panjang lebih 20 mm Besar dari 6 m - Toleransi menurut posisi (dari titik rujukan) : Posisi rencana dari kolom pracetak +10 mm Posisi rencana dari permukaan horizontal +10 mm Posisi rencana dari permukaan vertical +10 mm - Toleransi menurut kedudukan tegak : Penyimpangan ketegangan untuk kolom dan +10 mm dan dinding - Toleransi menurut ketinggian : Puncak beton penutup dibawah pondasi +10 mm Puncak beton penutup dibawah pelat injak +10 mm Puncak kolom, tembok kepala dan balok +10 mm melintang Puncak pelat lantai +10 mm - Toleransi menurut Kedudukan dasar : 10 mm dalam ukuran panjang horizontal 4 m - Toleransi untuk selimut beton di atas baja tulangan : Selimut beton sampai dengan 3 cm + 5 mm Selimut beton dari 3 cm 5 cm + 10 mm Selimut beton dari 5 cm 10 cm + 10 mm 16. Macam Finishing Permukaan Beton tanpa Cetakan Finishing pada permukaan beton tanpa bekisting dikategorikan atas U1, U2,U3, Spaded atau bonded concrete atau finishing khusus lainnya yang mungkin ditentukan secara khusus. Bila mutu finishing tidak ditentukan beton dianggap termasuk finishing kelas U2. finishing kelas U1 merupakan finishing kelas pertama bagi finishing kelas U2
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-41

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

dan U3 dan untuk muka beton yang halus. Finishing kelas U2 harus terus menerus seragam atau sisi yang tajam, yang mana (kecuali jika telah diganti menjadi kelas U2, U3 atau bonded Concrete) tidak boleh terganggu dengan cara apapun setelah mulai terjadi perkerasan dan selama periode pemeliharaan, beton yang berlebih segera disingkirkan setelah pemadatan. Dimana permukaan beton yang halus ditentukan, lapis buih beton harus dihilangkan dari permukaan beton kelas U1 dan agregat diperlihatkan ketika beton masih berwarna hijau. Pada pembetonan dengan singkup permukaan harus bebas dari lubang/celah dan harus diusahakan seragam bentuknya dengan menggunakan singkup seperti halnya pada waktu pengecoran. Dimana broom finish diperlukan, permukaan beton harus diratakan kemudian disapu dengan arah yang sama dengan menggunakan sapu yang kaku. Finishing kelas U2 dilakukan dengan menggunakan penggaci kayu. Pengaci harus dilakukan setelah beton mulai keras atau telah cukup keras. Beton dikerjakan tidak lebih dari keperluan untuk menghasilkan permukaan yang seragam bebas bekas perataan. Tabel 5.6.4. Toleransi Maximum Finishing Permukaan Beton tanpa Cetakan Toleransi Maximum (mm) Mutu finishing Jalur dan ketinggian U1 U2 Pasal 3.5.1.e.16 U3 F1 F2 F3 +12 +6 +6 +12 +6 +3 6 3 3 6 6 3 +6 +3 +3 +6 +6 +3 ---+12 -6 +12 -6 +6

Finising kelas U3 harus dilakukan dengan alat pengaci dari besi. Pengacian dengan cara ini belum boleh dilakukan sampai lapiasan air telah hilang dan beton cukup keras untuk mencegah timbulnya lapis buih beton ke permukaan, sebagai hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Permukaan harus diaci dengan tekanan yangsama dan tidak meninggalkan bekas alat pengaci. Lihat detail untuk finising permukaan beton dengan bekisting. 17. Bahan dan Mutu Finishing Untuk Beton dengan Cetakan Finishing untuk permukaan beton yang dicetak diklasifikasikan sebagai F1, F2, dan F3 atau jenis finishing lainnya yang ditentukan. Bila mutu finishing tidak ditentukan semua bagian luar beton
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-42

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

(external concrete) harus difinishing dengan mutu F2, bagian luar beton yang berada dalam tanah difinishing dengan mutu F2. bekisting untuk finishing F3, harus dilapis dengan menggunakan panel dari material/bahan yang tidak berkarat dengan permukaan yang harus tanpa cacat seperti plywood yang diamplas papan fiber (hard compressed fibre board) disusun dalam pola yang telah disetujui dan dipakukan ke bagian bekisting. Besi yang ditempa dan panel besi tidak boleh digunakan. Bekisting untuk finishing F2, harus diberi permukaan plat besi tempa, papan atau plywood ataui panel dari metal yang diatur dalam pola yang seragam yang telah disetujui, bebas dari kerusakan yang dapat dilihat dari bentuk permukaannya. Bekisting untuk finishing F1 harus dibuat dari kayu, lembaran metal atau bahan lain yang sesuai untuk mencegah hilangnya adukanencer semen bila divibrasi. Untuk bahan cetakan beton adalah dari jenis kayu lembaran/multiplek dengan tebal 18 mm dari kualitas terbaik. Untuk bahan rangka penguat dan tiang penyangga dari kayu Borneo super dengan ukuran disesuaikan menurut keperluan. Dapat juga menggunakan scaffolding dari baja. Bahan release agent/mould oil dapat dipakai merk Trikosal produk Gruneau atau lainnya yang sejenis dengan kegunaan untuk memudahkan pelepasan/pembongkaran cetakan.

f. Beton Ready Mix 1. Beton Ready Mix harus berasal dari suatu sumber yang disetujui oleh Direksi dan harus memenuhi persyaratan yang diuraikan pada bagian ini. Kontraktor bertanggung jawab untuk mengusahakan agar beton memenuhi persyaratan dari spesifikasi ini termasuk pengendalian mutu. 2. Jika salah satu dari persyaratan dalam spesifikasi ini tidak dipenuhi oleh pemasok, Direksi dapat menarik kembali persetujuannya dan mengharuskan kontraktor mengganti pemasok 3. Beton harus diangkut dengan truk mixer yang terus menerus berputar dengan kecepatan sesuai ketentuan dari pabrik. 4. Kontraktor harus meyediakan di lapangan satu mixer drum dengan kapasitas minimum 12m3 dan menjaganya agar tetap dalam kondisi jalan untuk dipakai bila terjadi gangguan dalam pemasokan ready mix. Kontraktor juga harus meyediakan juga material yang memadai untuk dipakai dengan mixer cadangan tersebut. 5. Kontraktor harus mengatur agar Direksi dapat memeriksa alat pembuat beton ready mix bilamana diperlukan. 6. Kontraktor harus memiliki data-data dari pemasok ready mix yang menunjukkan bahwa ketentuan-ketentuan dalam spesifikasi ini telah
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-43

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

dipenuhi oleh pem,asok yang bersangkutan. Proporsi campuran bahan-bahan dari setiap mixer harus terus didata. 7. Pada dokumen pengiriman harus dicantumkan wakyu pengadukan dan penambahan air, dikirim bersama pengemudi truk dan diparaf oleh pencatat waktu yang bertanggung jawab ditempat pengadukan (batching plant). Penambahan air setelah keluar dari tempat pengadukan harus di bawah pengawasan Direksi. Sama sekali tidak diperkenankan penambahan air pada waktu pengecoran. 8. Di lapangan harus dibuat catatan meliputi hal-hal berikut ini: - Waktu kedatangan truk mixer - Waktu pengadukan dan penambahan air di batching plant - Waktu ketika beton dicorkan - Mutu beton atau kekuatan yang ditentukan dan ukuran agregat maksimum - Posisi di mana beton dicor - Identifikasi silinder uji yang diambil dari truk tersebut - Slump (faktor kompaksi) 9. Beton harus sudah dituang dan dipadatkan pada posisi akhirnya dalam waktu 2 jam setelah semen bercampur dengan air kecuali disetujui oleh Direksi. 10. Hal lain diluar ketentuan di atas kasus mengikuti ketentuan yang ada dalam PBI 1971 NI-2 atau SKBJ-1.4.53.1988. g. Perawatan (Curing) 1. Seluruh permukaan beton harus dilindungi selama proses pengerasan terhadap sinar matahari dan hembusan angin kering. 2. Semua permukaan beton yang terlihat harus diambil tindakan sebagai berikut: Sebelum beton mulai mengeras, maka beton setelah pengecoran pada hari-hari pertama harus disiram, ditutuip dengan karung basah atau digenangi dengan air selama paling sedikit 2 minggu secara terus menerus. Tidak diperkenakan menaruh bahan-bahan diatas kontruksi beton yang baru dicor (dalam tahap pengeringan) atau mempergunakannya sebagai jalan mengangkut bahan-bahan. G. PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATA 1. RUANG LINGKUP PEKERJAAN Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi pekerjaan dinding bangunan dan seluruh detail yang disebutkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-44

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

2. PERSYARATAN BAHAN Bata harus baya biasa dari tanah liat, dengan ukuran nominal 6 cm x 11 cm x 24 cm yang dibakar dengan baik, bersudut runcing dan rata, tanpa cacat atau mengandung kotoran. Meskipun ukuran bata yang biasa diperoleh di suatu daerah mungkin berbeda dengan ukuran tersebut di atas harus diusahakan supaya tidak terlalu menyimpang dari ukuran-ukuran tersebut. Bata yang dipakai harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. - Kualitas baik. - Pembakaran matang/dibakar dengan kayu - Warna merata (merah merata) - Sisi dengan permukaan rata, tegak lurus, runcing. - Keras dan tidak mudah patah. - Harus satu ukuran dan satu kualitas (kalau ada perbedaan tidak boleh lebih besar dari 3mm) - Penyerahan di tempat pekerjaan hanya diijinkan maksimum 5% yang patah. Kualitas bata yang disyaratkan harus mempunyai tekan ultimate min 100 kg/cm2 sesuai dengan ketentuaan pasal 81 dari AV 1984. (secara laboratoris) Apabila bata yang didatangkan tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada, maka pihak pemborong wajib mengeluarkan material tersebut dari site minimal 1 x 24 jam. 3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN a. Adukan Semua dinding mulai dari ujung atas balok pondasi beton sampai 20 cm di atas lantai dasar yang harus dibuat dari adukan trasram 1 Pc : 3 Ps. Untuk dinding toilet memakai adukan trasram 1 Pc : 3 Ps sampai ketinggian 150 cm dari lantai. Untuk dinding-dinding lain dipakai adukan jenis 1 Pc :5 Ps. b. Pelaksanaan 1. Dinding harus dipasang (uitzet) dan didirikan menurut masing-masing ukuran ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti yang ditunjukkan pada gambar, dan pemborong harus memasang piket (uitzet), lubang-lubang dan sebagainya dengan alat uitzet yang disetujui. 2. Blok-blok atau bata dipasang dengan adukan pengikat sambungan 10 mm didasari dengan baik dan sambungan-sambungan yang terus lurus dan rata sehingga terjadi lubang-lubang pada pasangan yang dapat mempengaruhi kekuatan dinding. Pencampuran spesi harus menggunakan beton molen. 3. Sebelum digunakan batu bata harus direndam air hingga jenuh.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-45

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

4. Dalam pemasangan tembok tidak boleh meneruskan di suatu bagian lebih dari satu meter tingginya, serta diikuti dengan cor kolom praktis. Bidang dinding batu bata tebal batu yang luasnya maksimal 9 m2 harus ditambahkan kolom praktis 12/12 dan balok praktis 12/15 dengan tulangan 4 10, begel 6 20. Adapun Syarat-syarat bahan dan pelaksanaannya seperti pada pasal beton. 5. Setelah terpasang, naat / siar-siar harus dikeruk sedalam 1 cm dan dibersihkan dengan sapu lidi dan setelah kering permukaan pasangan disiram air. 6. Pelubangan akibat pemasangan perancah pada pasangan bata sama sekali tidak diperkenankan. 7. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah lebih dari dua secara berurutan. 8. Sambungan antara pasangan dinding dengan kolam yang telah dicor sebelumnya harus menggunakan key system ukuran reng 2/3. (tidak dengan anchorage system) c. Tahap perawatan 1. Dalam mendirikan dinding yang kena udara luar, harus diberi perlindungan dengan penutup bagian atas tembok bila sewaktu-waktu turun hujan 2. Dinding tembok yang dipasang dalam cuaca yang panas harus dibasahi terus menerus selama paling sedikit 7 hari setelah didirikan. H. PEKERJAAN PLESTERAN 1. LINGKUP PEKERJAAN Lingkup pekerjaan meliputi plesteran pada semua dinding batu bata bagian luar maupun bagian dalam bangunanan serta seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar termasuk plesteran beton. 2. PERSYARATAN BAHAN Bahan plesteran berupa portland cement, pasir dan air yang sesuai dengan pasal pekerjaan Beton. 3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN 1. Semua pasangan yang dilaksanakan dengan adukan 1 Pc : 3 Ps harus diplester dengan plesteran 1 Pc : 5 Ps. Semua plesteran pada beton harus menggunakan 1 Pc :3 Ps. 2. Pasir pasang harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan seperti yang disyaratkan.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-46

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

3. Pasangan dinding bata yang akan diplester harus bersih dari kotoran dan harus dibasahi dahulu agar air semen dalam adukan spesi tidak terserap oleh pasangan yang mengakibatkan plesteran tersebut tidak dapat melekat dengan baik. 4. Tebal plesteran 1.5 cm dengan hasil ketebalan dinding 15 cm atau sesuai yang ditunjukkan dalam detail gambar. Ketebalan plesteran yang melebihi 2 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat plesteran. 5. Pertemuan plesteran yang bertemu dengan jenis pekerjaan lain (kosen dan lain sebagainya), dibuat naat (tali air) dengan lebar minimal 7 mm dalam 5 mm, kecuali ditentukan lain. 6. Plesteran halus (acian) digunakan campuran air dengan semen sampai mendapat campuran yang homogen. Acian dilaksanakan sesudah plesteran berumur 8 hari (kering betul). 7. Kelembaban plesteran haraus tetap dijaga sehingga pengringan berlangsung wajar tidak terlalu tiba-tiba, dengan jalan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan mnelindungi dari terik matahari secara langsung dengan bahan penutup yang bisa mencegah penyerapan air secara cepat. 8. Khusus untuk permukaan beton yang akan diplester: Seluruh bagian permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar Permukaan beton yang akan diplester harus bebas dari kotoran, minyak, dll Plesteran beton menggunakan adukan kedap air 1 Pc : 3 Ps. Pasir pasang harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan yang disyaratkan.

I. PEKERJAAN RABAT BETON 1. LINGKUP PEKERJAAN a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik. b. Pekerjaan rabat beton pada pondasi terucuk, di bawah apron saluran dan kolam rolak serta detail yang disambutkan dalam gambar. 2. PERSYARATAN BAHAN Bahan-bahan yang disyaratkan disini seperti semen, pasir, kerikil dan air yang merupakan bahan dasar pembuatan rabat seperti yang disyaratkan pada pekerjaan beton.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-47

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN 1. Bahan-bahan yang akan dipakai sebelum digunakan terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari konsultan pengawas. 2. Pekerjaan rabat beton dilakukan langsung diatas tanah, maka sebelum pasangan dilaksanakan terlebih dahulu lapisan dibawahnya harus sudah dikerjakan dengan sempurna (telah dipadatkan sesuai persyaratan), rata permukaannya dan mempunyai daya dukung yang maksimal. 3. Pekerjaan rabat beton ini terdiri dari campuran 1 Pc : 2 1/2 Ps : 5 kr. 4. Tebal lapisan rabat beton ini dibuat sesuai yang disebutkan dalam gambar. 5. Permukaan rabat ini dibuat rata/waterpass, kecuali pada rabat beton keliling bangunan dibuat dengan kemiringan tertentu sesuai yang ditunjukakan pada gambar. 6. Permukaan rabat beton dibuat alur-alur supaya tidak terjadi retak akibat penyusutan beton (shrinkage), dengan jarak lebih kurang 5 cm dengan kedalaman 0.5 cm. J. PEKERJAAN CAT DINDING DAN LANGIT-LANGIT BETON EXPOSED 1. LINGKUP PEKERJAAN a. Termasuk dalam pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan, penyediaan tenaga kerja, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik. b. Pengecatan dinding dilakukan pada bagian luar dalam serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukan dalam gambar. 2. SYARAT-SYARAT BAHAN a. b. c. a. b. c. d. Semua bahan yang digunakan adalah cat cathylac atau yang setara. Pengendalian seluruh pekerjaan ini, harus memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik yang bersangkutan. Warna cat yang digunakan akan ditentukan kemudian. Plesteran harus betul-betul kering bila akan dilakukan pekerjaan pengecatan Permukaan bidang yang akan dicat harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat-cacat seperti retak-retak, lubang dan pecah-pecah. Bidang pengecatan harus bebas dari debu, lemak, minyak dan kotorankotoran lain yang dapat merusak atau mengurangi mutu pengecatan. Seluruh bidang pengecatan diplamur dahulu sebelum dilapisi dengan cat dasar, bahan plamur dari produk yang sama dengan cat yang digunakan.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN

VI-48

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

e.

Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari konsultan pengawas serta pekerjaan intalasi yang tertanam didalam dinding sudah selesai dengan sempurna. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan lebel pabrik pembuatnya. Contoh bahan yang telah disetujui, dipakai sebagai standar untuk pemeriksaan/penerimaan bahan yang dikirim oleh kontraktor ketempat pekerjaan. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh kontraktor untuk mendapat persetujuan dari konsultan pengawasan sebelum pekerjaan dimulai dengan ketentuan-ketentuan yang disyaratkan oleh pabrik pembuatnya. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola textur merata, tidak terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindari terjadinya kerusakan akibat pekerjaan lain. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam mengerjakan dan perawatan / keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan. Bila terjadi ketidak sempurnaan dalam pengerjaan, kontraktor memperbaiki tanpa adanya biaya tambahan. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga yang terampil / berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut, sehingga cat yang dihasilkan tercapai mutu yang sempurna.

f. g.

h.

i.

j. k. l.

K. PEKERJAAN PENGECATAN 1. LINGKUP PEKERJAAN a. Termasuk dalam pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan, penyediaan tenaga kerja, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik. Pekerjaan pengecatan ini dilakukan pada permukaan kayu, seperti list plafond, kusen pintu dan jendela, daun pintu, serta seluruh detail yang disebutkan / ditunjukan dalam gambar. Pekerjaan pengecatan rilling dan tangga besi. Semua bahan cat yang digunakan adalah cat produk EMCO atau produk lain yang setara. Cat dasar menggunakan meni cap pedang untuk kayu dan zing cromate untuk bahan besi atau produk lain yang setara. Warna cat untuk masing-masing pekerjaan akan ditentukan kemudian.

b.

c. a. b. c.

2. PERSYARATAN BAHAN

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-49

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN a. Pekerjaan Cat-catan Kayu 1. Permukaan bidang yang akan dicat harus betul-betul rata, tidak terdapat cacat-cacat seperti retak-retak, lubang dan pecah-pecah. 2. Bidang pengecatan harus bebas dari debu, lemak, minyak dan kotoran-kotoran lain yang dapat merusak atau mengurangi mutu pengecatan. 3. Bidang pegecatan dilapis dengan cat dasar kemudian diplamur dan digosok sampai permukaannya menjadi halus dan rata. 4. Pengecatan selanjutnya dapat dilakukan persetujuan dari konsultan pengawas. setelah mendapat

5. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan lebel pabrik pembuatnya. 6. Contoh bahan yang disetujui, dipakai sebagai dasar sebagai pemeriksaan / penerimaan bahan yang dikirim oleh kontraktor ketempat pekerjaan. 7. Percobaan-percobaan bahan dan warna harus dilakukan oleh kontraktor untuk mendapat persetujuan dari konsultan pengawasan sebelum pekerjaan dimulai dengan ketentuan-ketentuan yang disyaratkan oleh pabrik pembuatnya. 8. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola textur merata , tidak terdapat noda-noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindari terjadinya kerusakan akibat pekerjaanlain. 9. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesempurnaan dalam mengerjakan dan perawatan / keberhasilan pekerjaan sampai penyerahan pekerjaan. 10. Bila terjadi ketidak sempurnaan dalam pengerjaan, kontraktor memperbaiki tanpa adanya biaya tambahan. 11. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga yang terampil/ berpengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut, sehingga cat yang dihasilkan tercapai mutu yang sempurna. b. Pekerjaan Cat-catan Besi 1. Bagian permukaan besi yang akan dicat harus bebas dari karat / kotoran. 2. Pembersihan karat dengan amplas atau sikat baja sampai betul-betul bersih. 3. Setelah seluruh permukaan bersih / bebas dari karat, dicat dengan cat dasar dari bahan Zinkchromate.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-50

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

4. Cat finisihing besi dipakai merk EMCO atau setara dengan pengecatan sebanyak 3 kali. 5. Cat finishing untuk pekerjaan screen/ bar screen dan pintu air harus menggunakan cat anti karat merk Hample atau setara sebanyak 3 kali. L. PEKERJAAN KUSEN, PINTU, JENDELA, PERLENGKAPAN KUNCI DAN PENGGANTUNG 1. HAL-HAL UMUM 1. Pekerjaan yang dimaksud disini adalah penyediaan bahan-bahan, tenaga dan peralatan-peralatan yang diperlukan agar seluruh bahan-bahan finishing dapat dipasang, diuji dan siap dipakai dengan kualitas bahan dan kualitas pekerjaan dan pemasangan yang terbaik sesuai dengan gambar-gambar dan spesifikasi yang telah ditentukan dalam perencanaan ini. 2. Kontraktor harus mempelajari dan memahami kondisi tempat yang ada, agar dapat mengetahui apabila ada hal-hal yang mungkin mengganggu bila timbul sebelum bagian pekerjaan itu dilaksanakan. 3. Apabila Pemborong menjumpai adanya ketidak jelasan, kekurangan dan pula kesalahan pada gambar rencana, detail maupun penjelasan teknisnya, maka Pemborong wajib menanyakan/mengkonsultasikan masalah tersebut dengan Pengawas/Direksi. 4. Pemborong wajib menyerahkan contoh bahan dan peralatan bantu yang akan dipasang disetujui oleh Pengawas/Direksi atau ahli yang ditunjuk sebelum bagian pekerjaan tersebut dilaksanakan. 5. Pemborong bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan dan perlengkapan bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan. kerusakan dan kekurangan sempurnaan dalam tanggung jawab Pemborong. 6. Bahan atau peralatan yang akan digunakan dan tidak disebutkan dalam spesifikasi ini hanya diperbolehkan apabila disetujui secara tertulis oleh Pengawas/Direksi. 2. LINGKUP PEKERJAAN a. Meliputi penyediaan secara lengkap akan tenaga, alat-alat dan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan kayu (kasar dan halus) dalam hubungannya dengan gambar dan spesifikasi. b. Pekerjaan yang berhubungan : 1. Pekerjaan kosen, pintu & jendela kayu 2. Pekerjaan pengunci dan penggantung (finish hardwere) 3. KUALITAS DAN JENIS KAYU a. Kualitas Semua kayu untuk jenis yang ditentukan harus dari kualitas yang baik, tidak ada getah, celah, mata kayu yang lepas atau mati, susut pinggir-pinggirnya, bekas dimakan bubuk dan cacat-cacat lainnya.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-51

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

b. Kelembaban Kelembaban kayu yang dipakai pada pekerjaan kayu halus, kelembabannya harus kurang dari 15 % dan untuk pekerjaan kayu kasar kelembabannya harus kurang dari 20 %. Kelembaban tersebut harus konstan sampai dengan bangunan selesai. c. Jenis Kayu Jenis kayu yang dipakai sesuai dengan macam-macam pekerjaan yang dimaksud. Contoh-contoh harus dikirimkan terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan Pengawas lapangan. Untuk pemakaian-pemakaian khusus yang tidak tercantum dalam daftar, harus digunakan jenis yang ditentukan untuk pekerjaan yang sebanding. 4. UKURAN Semua ukuran didalam gambar adalah ukuran kayu dipasaran dengan ukuran jadi (finish) maksimum diserut 5 mm, yaitu ukuran kayu setelah selesai dikerjakan dan terpasang. Kayu kasar diketam, dibor, atau jika tidak, dikerjakan dengan mesin menurut ukuran-ukuran dan bentuk yang tertera dalam gambar. Ukuran-ukuran nominal telah disebutkan untuk kayu yang sudah dikerjakan, maka potongan pengurangan (kekurangan) sebanyak 3 mm diperbolehkan untuk tiap permukaan yang sudah dikerjakan. 5. PERMUKAAN LUAR a. Semua permukaan kayu yang akan kelihatan permukaannya harus dikerjakan dengan halus kecuali jika ada penentuan lain. b. Semua kayu untuk pekerjaan kayu kasar dibiarkan bekas gergajiannya kecuali ditentukan untuk dihaluskan. c. Jika terdapat mata kayu yang mulut dan keras pada salah satu permukaan yang akan dicat dan mata kayu tersebut diameternya tidak lebih dari 4 mm (empat milimeter) serta tidak memenuhi lebih dari setengah permukaan kayu, maka kayu itu dapat dipakai. d. Untuk permukaan yang akan dipelitur/Teak oil, hanya mata kayu yang kecil (tidak lebih dari dua milimeter), mulus dan keras yang dapat dipakai. 6. PENGAWETAN/PERLINDUNGAN KAYU Untuk kusen pintu/jendela dan lisplank kayu pengawetan dengan meni kemudian di cat finish. 7. PEMBUATAN a. Pemborong harus melaksanakan semua pekerjaan-pekerjaan seperti : mempasak, membuat, menyetal (memasang), membuat lidah-lidah, lubang pasak, sponing dan lain-lain pekerjaan yang dipergunakan untuk penyambungan kayu dengan baik. b. Pemborong juga harus melakukan segala pekerjaan-pekerjaan yangdiperlukan untuk konstruksi semua rangka-rangka, lapis-lapis dan sebagainya dan pasangan-pasangan serta penyangga pada bangunan.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-52

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

M. PEKERJAAN DAUN PINTU PANEL 1. PENGENDALIAN PEKERJAAN NI 3 1970 NI 5 1961 SII 0404 80 Persyaratan teknis dan gambar-gambar 2. SYARAT-SYARAT BAHAN a. b. c. d. Bahan dari kayu jati tebal tidak kurang dari 4 cm kering ukuran slimar 4/12 cm dengan kwalitas terbaik. Bahan perekat digunakan lem kayu yang bermutu baik merk Aica Aibon atau merk lain yang setara. Engsel pintu menggunakan engsel kupu-kupu dengan peredam nilon merk ARCH Japan warna kuning emas. Kunci pintu (lockcase, cylinder, handle, back plat) dengan 2 kali putaran merk SES. Semua kunci tanam terpasang kuat dalam rangka daun pintu dipasang setinggi 90 cm dari muka lantai. Engsel pintu dipasang minimum sebanyak 3 buah Engsel atas dipasang tidak lebih dari 28 cm (as) dari atas pintu Engsel bawah dipasang tidak lebih dari 35 cm (as) dari muka pintu Engsel antara dipasang ditengah kedua engsel atas dan bawah Semua kayu yang dipakai harus rata, lurus dan diserut halus, berbentuk sikusiku satu sama lain sisi-sisinya. Harus diperhatikan semua sambungan siku/sudut untuk rangka kayu dan penguatnya dengan memperhatikan/menjaga kerapian terutama untuk bidang-bidang yang tampak tidak ada lubang-lubang atau cacat-cacat bekas penyetelan.

3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN a. b. c. d. e. f. g.

N. PEKERJAAN KUSEN 1. PERSYARATAN UMUM a. b. c. Kosen kayu tersebut dari bahan kayu kamper kualitas baik ukuran 6/15 tanpa ada cacat pada empat bagian sisi permukaannya. Kosen-kosen yang kokoh harus dibuat dari rangka-rangka dengan pasak dan 1 lubang sedemikian rupa hingga diperoleh rangka yang mulus dan kaku. Kosen-kosen tersebut harus diberi angker-angker baja 12 mm minimal 6 (enam) buah tiap pemasangan kosen pintu dan 4 (empat) untuk kosen jendela.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-53

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

2. PENYEMPURNAAN (FINISHING) a. Pintu-pintu, jendela-jendela, dan kosen-kosen harus betul-betul persegi dan datar. Permukaan-permukaan yang kelihatan harus lurus, tidak ada bekasbekas mesin dan selesai siap untuk dicat atau penyelesaian lainnya. Permukaan yang bersentuhan dengan adukan tembok harus dicat meni alkali atau cat meni besi. Tiap daun jendela harus berukuran pas sekali dengan kosennya dengan diperhitungkan untuk tebal cat dan kemungkinan pengembangan atau mengkerut kayu. Kunci-kunci, engsel-engsel dan sebagainya harus tepat pada kedudukannya, rongga pada rangka vertikal, pada kunci dan kunci penggantung dan diatas rel tidak boleh melebihi 5 mm.

b.

3. MEMASANG DAN MENGGANTUNG PINTU DAN JENDELA a.

b.

O. PEKERJAAN PEMASANGAN KACA 1. LINGKUP PEKERJAAN Lingkup pekerjaan, pengadaan bahan, alat dan tenaga kerja untuk pemasangan kaca-kaca jendela. 2. SYARAT-SYARAT BAHAN a. Kaca dari pabrik yang disetujui dan yang tebalnya seperti disebut dalam gambar atau syarat dan spesifikasi khusus. b. Dempul untuk memasang kaca ke kosen-kosen kayu menggunakan merk pedang atau yang setara. 3. PEMASANGAN KACA PADA KUSEN KAYU a. Alur kayu harus dibersihkan dan dicat dengan lapis cat minyak sebelum kacanya dipasang. b. Kaca harus dipotong menurut ukuran kosen, dengan kelonggaran sedikit, lalu dipasang dan dikukuhkan memakai dempul kaca dan alat alat kayu dan dipaku dengan sekrup kuningan. Kaca harus dipotong menurut panjang yang dikehendaki dengan memberi longgar sedikit lalu dimasukkan ke dalam jalur kosen yang sebelumnya sudah di beri dempul kaca. c. Daun-daun kaca tersebut harus dipasang dengan kokoh memakai list kayu yang keras. d. Setelah selesai dipasang, kaca diersihkan. Dan yang retak, pecah atau goresgores harus diganti. e. Semua pekerjaan terpasang harus dilindungi dari pengaruh pekerjaan lain seperti cipratan cat, plesteran, roda waktu memoles atau percikan las.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-54

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

P. PEKERJAAN KUNCI-KUNCI DAN ALAT PENGGANTUNG 1. LINGKUP PEKERJAAN Lingkup pekerjaan meliputi penyediaan bahan, alat dan tenaga kerja untuk pekerjaan ini. Pekerjaan meliputi pemasangan kunci, engsel, hak angin, door stop, door closer, grendel dan grendel tanam termasuk perlengkapan lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini. 2. BAHAN a. Kunci tanam Merk : SES dua kali putar atau setara Warna : Gold b. Engsel pintu/jendela Merk : Arch atau setara Warna : Gold c. Hak Angin Merk : Alpha atau setara Warna : Natural d. Grendel Tanam Merk : Alpha atau setara Warna : Natural Q. PEKERJAAN LANTAI KERAMIK 1. LINGKUP PEKERJAAN Pekerjaan lantai keramik dan plint keramik ini dilakukan pada seluruh finishing lantai sesuai yang disebutkan / ditunjukan dalam detail gambar. 2. PERSYARATAN BAHAN a. Bahan yang digunakan merk Roman atau setara. Untuk lantai menggunakan keramik ukuran 30 x 30 cm. b. Warna akan ditentukan kemudian, untuk masing-masing warna harus seragam. Warna yang tidak seragam akan ditolak. 3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN a. Pemasangan lantai keramik dilakukan setelah pekerjaan lantai dasar selesai dengan baik dan sempurna serta disetujui oleh konsultan pengawas. b. Membasahi permukaan lantai dasar sampai tidak menuntut adanya penyerapan air lagi. c. Keramik yang dipasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, tidak cacat dan tidak bernoda serta mempunyai warna yang seragam. d. Meletakan ukuran pemasangan sesuai pola pada gambar dengan cara mengambil garis-garis yang menyeluruh. Meletakan ukuran ini harus
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-55

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

mendapatkan persetujuan dari Direksi / pengawas sebelum mulai pemasangan. e. Pembasahan bahan keramik yang akan digunakan dengan meredam seluruh bidang keramik, sedikitnya dalam waktu 15 menit atau baru diangkat sesaat akan dapasang. f. Keramik dipasang pada adaukan perekat dengan campuran 1 Pc : 4 Ps. Adapun syarat-syarat semen, pasir, dan air harus memenuhi ketentuan ada pekerjaan beton. g. Tebal adukan perekat rata-rata 2 cm dan tidak kurang dari 1 cm. Adukan perekat harus merata seluruh permukaan keramik. Hal ini untuk menghindari adanya udara yang terperangkap didalam spesi. h. Sambungan-sambungan antara keramik/naat harus lurus dan mempunyai lebar 3mm. i. Sambungan / naat diisi adukan PC dan air dengan warna yang sesuai dengan warna keramik yang dipasang, dimasukkan ke dalam naat tersebut begitu rupa hingga seluruh naat terisi penuh dengan baik. j. Pemotongan unit-unit keramik harus menggunakan alat pemotong khusus.

4. PEKERJAAN WATERPROOFING a. LINGKUP PEKERJAAN DAN KETENTUAN UMUM 1. Menyediakan bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan waterproofing. 2. Pekerjaan ini harus dikerjakan oleh tenaga yang telah berpengalaman untuk pekerjaan waterproofing, dan dilaksanakan sesuai dengan rekomendasi dari produsen dan perlu memperoleh persetujuan tertulis dari konsultan pengawas. 3. Pekerjaan waterproofing di laksanakan pada atap beton. b. BAHAN Jenis Bahan kedap air yang dipakai adalah water proofing type komponen polymer modified membranes. Merek diajukan atas persetujuan Direksi. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN 1. Permukaan beton yang akan di waterproofing (coating) harus bebas dari kotoran, air serta bahan-bahan lain yang dapat mempengaruhi kelekatan coating terhadap beton. 2. Pelaksanaan waterprooting baru dimulai pada tahap paling akhir dari pekerjaan paket ini, yaitu setelah pekerjaan pekerjaan lain yang berkaitan selesai. 3. Pemasangan lapisan kedap air ini hanya boleh dilakukan setelah mendapat persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas. Dan harus mengikuti petunjuk pabrik pembuatnya.

c.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-56

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

4. Setelah dilakukan coating khususnya pada bagian atap, coating tersebut harus dilindungi dengan screed tebal 3 cm dengan campuran spesi 1 Pc : 5 Ps. Screed yang dibuat harus rata dan kemiringannya harus memperhatikan arah pembuangan air hujan yang menuju ketalang pembuangan. d. PENGUJIAN 1. Pengujian dilakukan dengan cara menggenangi air pada bagian yang di waterproofing tersebut setinggi minimal 10 cm, selama 24 jam secara terus menerus. 2. Ketinggian air pada waktu akhir pengujian tidak boleh kurang dari ketinggian daripada saat awal pengujian. 3. Pemeriksaan dilakukan juga pada bagian bawah dan samping yang diberi waterproofing. Yaitu harus tidak boleh ada tanda-tanda adanya kebocoran pada bagian yang diuji tersebut. 4. Apabila tanda-tanda kebocoran masih terlihat pekerjaan pelapisan harus dilindungi pada tempat yang diidentifikasikan sebagai sumber kebocoran. 5. Pekerjaan pengulangan / perbaikan, harus tetap dilakukan, sampai hasil pengujian tidak menujukkan adanya tanda-tanda kebocoran. 6. Tanda pengujian harus dibuktikan secara tertulis dan disetujui oleh Direksi / Konsultan pengawas.

R. SPESIFIKASI PEKERJAAN PLUMBING 1. SPESIFIKASI UMUM a. Standard Standard yang dipergunakan adalah edisi terakhir dari pada : 1. PPI Pedoman Plambing Indonesia 2. SII Standard Industri Indonesia 3. NFPA 14 Standard for the Instaliation of standpipe and Hose systems 4. Peraturan Dinas Keselamatan Kerja Depnaker 5. Peraturan PDAM tentang Instansi air minum b. Testing dan Pengujian 1. Kontraktor diwajibkan menyelenggarakan testing serta pengujian terhadap keseluruhan instalasi plumbing sesuai dengan ketentuanketentuan yang dipersyaratkan oleh standard-standard tersebut di atas serta diketahui / disetujui oleh Instansi-instansi setempat yang berwenang. 2. Pengujian terhadap kebocoran harus dilakukan, terutama, terhadap sistem instalasi air kotor. 3. Pengujian hidrostatik dilaksanakan terhadap sistem instalasi air bersih. 2. SPESIFIKASI TEKNIS a. Lingkup pekerjaan 1. Pekerjaan instalasi air bersih

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-57

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

2. Pekerjaan saluran air kotor b. Penjelasan Persyaratan Teknis Pekerjaan Mekanikal I. Pekerjaan Instalasi Air Bersih 1. Umum Spesifikasi ini merupakan spesifikasi teknis mengenai pekerjaan supply air bersih. 2. Lingkup Pekerjaan Pemasangan pipa distribusi dari tandon (pompa) air ke alat-alat penerimaan (kran-kran) dalam bangunan lengkap dengan sambungansambungan dan perlengkapan yang diperlukan. 3. Uraian Pekerjaan Tugas yang harus dikerjakan oleh kontraktor, meliputi pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna dan terpadu sehingga merupakan sistem supply air bersih yang baik. Pengadaan, pemasangan dan pengujian sistem pemipaan air bersih berserta perlengkapannya harus sesuai dengan gambar rencana. Prosedur pekerjaan pemasangan pipa instalasi air bersih harus seijin / disaksikan Direksi lapangan. Persyaratan pemipaan air bersih, meliputi : Bahan pipa yang dipakai untuk instalasi air bersih adalah pipa PVC Class Medium, disamping itu semua fitting, elbow harus terbuat dari bahan yang sama dengan pipa air bersih. Pipa dipasang lurus, dan untuk pipa tegak lurus benar-benar vertikal. Jalur pipa sesuai dengan gambar rencana. Pelaksanaan pemasangannya harus menyesuaikan kondisi lapangan dan kontraktor harus membuat shop drawing dengan persetujuan Direksi Lapangan. Perubahan arah pipa harus dilaksanakan dengan fitting pembantu (elbow), begitu pula dengan percabangan harus dengan tee atau cross-tee sesuai kebutuhan, pembengkokan pipa tidak diperkenankan. Sambungan pipa pada umumnya dipergunakan sambungan ulir (screwed), penyambungan dengan ulir ini terlebih dahulu harus dilapisi red lead cement, memakai pintalan atau pita merupakan sambungan yang kedap udara maupun kedap air. Ulir harus dibersihkan dari jerami-jerami bekas pembuatan ulir. Material/Bahan Yang Dipakai Pipa PVC Medium berserta perlengkapannya produksi Maspion, Rucika atau setara dengan diameter sesuai gambar. Valve-valve produksi kitz, Toyo atau setara.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-58

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Material yang dipakai harus mendapatkan persetujuan Direksi Lapangan. Testing Setelah semua pipa dan perlengkapannya terpasang harus diuji dengan tekanan hydrostatik sebesar 5 bar (5 kg/cm) selama 6 (enam) jam terus menerus tanpa terjadi penurunan tekanan. Peralatan dan biaya pengujian harus disediakan oleh Kontraktor. Pengujian harus dilakukan dengan disaksikan oleh Direksi lapangan. Pengujian pemipaan harus dilaksanakan sebelum pipa tertutup dengan tanah (untuk pipa diluar gedung) atau tertutup plesteran/dinding (untuk pipa didalam gedung). Apabila terjadi kegagalan dalam pengujian, Kontraktor harus memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan kekurangankekurangan yang ada, kemudian melaksanakan pengujian berhasil dengan baik. II. Pekerjaan Saluran air Kotor 1. Umum Spesifikasi ini merupakan spesifikasi teknis mengenai pekerjaan instalasi air kotor. 2. Lingkup Pekerjaan Saluran pembuangan dari bak cuci, meja laboratorium ke sumur resapan Saluran pembuangan dari wastafel ke saluran keliling bangunan. 3. Uraian Pekerjaan Tugas yang harus dikerjakan oleh kontraktor, meliputi pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna dan terpadu, sehingga merupakan sistim saluran air kotor yang baik. Pengadaan, pemasangan dan pengujian sistim saluran air kotor berseta perlengkapannya harus sesuai dengan gambar rencana. Prosedur pekerjaan pemasangan saluran air kotor harus seijin / disaksikan Direksi Lapangan. 4. Persyaratan Saluran Air Kotor Sambungan pipa PVC harus menggunakan lem PVC, dan dibesihkan dulu pipa PVC nya, sebelum dilaksanakan penyambungan. Untuk memudahkan pemeliharaan dikemudian hari, semua fitting TY yang dilengkapi dengan Clean Out (seperti pada gambar rencana), Pada dasarnya harus ditarik ke atas, sampai permukaan lantai (finishing floor level), diakhiri dengan mempergunakan Clean Out. Jika terdapat kesulitan dalam pelaksanannya, karena kondisi

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-59

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

lapangan, kontraktor bisa mengajukan alternatif lain dengan persetujuan Direksi Lapangan. Untuk menghindari kebocoran, disetiap lubang dimana menembus lantai beton atau dinding harus diberi bahan waterproofing untuk semua ujung pipa harus diberi Cap yang tidak memungkinkan adanya kebocoran. 5. Material / Bahan Yang Dipakai Pipa PVC Class Medium dengan diameter sesuai gambar rencana, produksi Maspion, Rucika atau setara dengan persetujuan Direksi Lapangan. Fitting-fitting untuk penyambungan terbuat dari bahan dan produksi yang sama. Floor drain dari bahan stainlees steel, produksi san-Ei atau setara dengan persetujuan Direksi Lapangan. 6. Pengujian Pengujian dari seluruh sistem saluran air kotor ini dilakukan setelah pemasangan selesai dan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Direksi Lapangan. Kontraktor harus meyediakan alat-alat yang diperlukan untuk keperluan pengujian tersebut dan segala biaya menjadi tanggungjawab kontraktor. S. SPESIFIKASI PEKERJAAN MEKANIKAL & ELEKTRIKAL 1. GAMBARAN UMUM Kontraktor harus meyediakan semua tenaga, bahan dan peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan sementara maupun pekerjaan-pekerjaan permanen lainnya. Kontraktor harus melaksanakan seluruh pekerjaan dan memeliharanya tepat sesuai dengan spesifikasi teknik dan gambar, serta seperti yang diperintahkan oleh Owner. 2. SKOPE KONTRAK PEKERJAAN Pekerjaan yang akan dilaksanakan menurut kontrak ini adalah pekerjaan Pengadaan Pompa Beserta Kelengkapannya di Saluran Kebon Agung: Pekerjaan Mekanikal. Pekarjaan Elektrikal & Kontrol. 3. GAMBAR KONTRAK Gambar-gambar yang terlampir pada dokumen pelelangan sebagai gambar referensi untuk pelaksanaan pengadaan dan pemasangan Pompa dan Motor di Rumah Pompa : No 1 2 3 No Drawing ME sheet 1-4 ME sheet 2-4 ME sheet 3-4 Description Ass Pompa & Motor lay out instalasi Listrik Single Line Diagram VI-60

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

ME sheet 4-4

Wiring diagram

4. GAMBAR-GAMBAR PELAKSANAAN Pemborong / kontraktor harus menggunakan gambar-gambar kontrak sebagai dasar untuk pelaksanaan pemasangan peralatan. Pemborong/kontraktor harus membuat gambar detail untuk mendukung pelaksanaan. Pemborong/kontraktor harus memgukur ulang posisi lubang baut dan dimensi pipa saluran untuk menunjang kelancaran proses fabrikkasi dan ereksi. 5. METODE PELAKSANAAN Pihak kontraktor harus mengajukan penawaran melampirkan Metode Pelaksanaan pada waktu

6. HAK UNTUK MERUBAH DISAIN, GAMBAR DAN MATERIAL Bilamana tidak ada kesesuaian gambar dengan pelaksanaan dilapangan karena situasi tempat atau tidak kesesuaian dimensi, Pengguna Jasa berhak mengadakan perubahan bilamana dianggap perlu. Bilamana tidak ada kesesuaian material dengan gambar referensi karena sukar dicari dipasarkan, Pengguna Jasa berhak mengadakan perubahan bilamana dianggap perlu. I. SPESIFIKASI TEKNIK (MEKANIKAL) LINGKUP PEKERJAAN Lingkup pekerjaan meliputi Pengadaan dan Pemasangan a. Instalasi Pompa Sludge b. Instalasi Pompa Banjir c. Ereksi Pompa, System Perpipaan, Valve dan Base Plate d. Pintu air elektrik e. Consumable Material Consumable material seperti kawat las, oxygen, acetylene, dan cat menjadi scope kontraktor f. Handling Material Kerusakan material pada saat handling sepenuhnya tanggung jawab kontraktor PERSYARATAN TEKNIK Spesifikasi Material a. Plat dan besi profil yang dipergunakan sesuai dengan standard ASTM A36, untuk plat pintu air tebal minimum 10 mm b. Baut & Mur yang dipergunakan untuk pekerjaan ini adalah baut jenis Hight Strength bolt-ASTM A 325 grade 5 c. Welding electrode yang dipergunakan dari jenis AWS (American Welding Standard)LH. 7018 d. Material untuk Valves, Check Valves, Flange dan Fitting memakai standar JIS 10K

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-61

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

e. Semua baut pengikat atau assembly dari material stainlees steel atau tahan koropsi dan disetujui pihak owner f. Pengecatan dengan menggunakan cat yang direkomendasi owner atau sejenis. Pekerjaan Pabrikasi. a. Pekerjaan pemasangan peralatan harus sesuai dengan gambardari pihak konsultan. b. Bagi pekerjaan pemasangan struktur yang memerlukan penggunaan scaffolding, harus menggunakan perlengkapan scaffolding yang memenuhi syarat untuk keselamatan kerja. c. Penggunaan alat angka (Crane, Mobil Crane, Winches dan lain-lain) sebelumnya harus dilakukan pengujian sesuai dengan kapasitas angkat sebelum dipergunakan. d. Pekerjaan pemotongan dan perlubangan harus dikerjakan dengan mesin pemotong dan bor, serta digrenda pada bekas potongannya. e. Pemasangan pipa antara satu dan lainnya harus lurus (level). f. Penyambungan pipa yang menggunakan flange harus menggunakan seal/gasket yang sesuai. g. Pemasangan support pipa harus sesuai dengan refensi dari pihak konsultan. h. Untuk menjamin kelurusan, ketepatan ukuran dan bentuk dari hasil pekerjaan, diharuskan memakai temporary Jig & Fixture sewaktu melakukan pekerjaan penyambungan dengan las. Pengelasan a. Sebelum dilakukan pengelasan, Plat harus betul-betul lurus (alignment) dan pada setiap ujung yang akan dalas dibersihkan dahulu dengan sikat kawat atau gerinda. b. Ukuran electode las yang dipakai harus sesuai dengan ketebalan material yang dilas. c. Penetrasi las harus tembus kedalam dan setelah selesai harus dibersihkan dengan sikat kawat atau gerinda kemudiaan dilanjutkan pengelasan berikutnya. d. Pengelasan harus dilakukan hati-hati agar didapatkan permukaan las yang halus dan tidak dapat cacat dalam pengelasan serta tidak terjadi pengelasan ulang. Cacat pengelasan yang dimaksud : Scatter, Porousity, Cracking, Slag inclusion dll. Pengetesan a. Setiap peralatan/komponen yang ada mekanismenya (pompa, valve, pintu air elektrik dan transmisi) perlu dilakukan pengetesan, untuk menjamin bahwa peralatan tersebut bisa dioperasikan sesuai dengan desain. Pintu air elektrik harus mampu menahan beban air setinggi 4m. b. Pemasangan sambungan pipa, valve perlu diuji kebocorannya. c. Setiap hasil test/pengujian harus mendapat persetujuan dari pihak konsultan.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-62

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

d. Setiap ada ketidak sesuaian antara pengetesan dengan desain, kontraktor harus melakukan konsultasi dengan pihak konsultan. Pekerjaan Pengecatan a. Sebelum pengecatan dilakukan, material harus dibersihkan dengan sand Blasting dan dapat persetujuan pihak owner. b. Pekerjaan pengecatan dilakukan dengan memakai cat untuk lapisan akhir, kecuali ditempat yang cat dasarnya rusak atau terkelupas karena pengerjaan las dsb. Harus dilakukan perbaikan dengan pengecatan dasar terlebih dahulu sebelum pengecatan lapisan akhir. c. Sebelum dilakukan pengecatan permukaan besi harus bersih dan bebas dari segala bentuk karat, minyak (grease) dan kotoran lainnya. d. Warna cat sesuai dengan rekomendasi owner. e. Pengecatan lapisan akhir harus dilakukan 2 kali sampai rata. f. Setelah pekerjaan pemasangan selesai pihak kontraktor harus membersihkan tempat lokasi kerja tersebut. II. SPESIFIKASI TEKNIK ELEKTRIKAL LINGKUP PEKERJAAN. Pekerjaan elektrikal terdiri dari pekerjaan instalasi dan pengadaan peralatan.Pekerjaan instalasi Elektrikal yang dilaksanakan adalah : 1. Pekerjaan Instalasi Listrik Gedung 2. Pekerjaan Instalasi Listrik Tenaga Pengadaan Peralatan Listrik 1. Cable Tray, Supports & Columns 2. Panel Box & Push Button Box 3. Electrical Cable & Bus Bar 4. Lampu 5. Electrical Bulk Materials Pengadaan & Pemasangan Peralatan Kontrol 1. Control Cable 2. Push Button 3. Control Bulk Materials IJIN KERJA INSTALATIR/KONTRAKTOR Instalasi/sub kontraktor yang akan mengerjakan pekerjaan elektrikal ini diharuskan: a. Mempunyai surat ijin kerja : Instalatir listrik (SIKA) tahun kerja yang berlaku dengan pas. Instalatir kelas C. Dari Departemen tenga kerja b. Mempunyai Tanda Lulus Prakualifikasi (Tanda Daftar Rekanan) untuk tahun kerja yang berlaku, sesuai dengan KEPPRES No.29 Tahun 1984.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-63

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

c. Sudah berpengalaman dan dapat menujukkan Surat Kemampuan pengalaman kerja dalam mengerjakan pekerjaan yang sejenis. STANDARD DAN NORMALISASI Semua Pekerjaan Elektrikal yang dilaksanakan dalam proyek ini harus memenuhi /mematuhi Persyaratan Standard dari Instalasi yang berwenang untuk itu : Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 1987 Standard Konstruksi/Normalisasi PLN Peraturan-peraturan PLN/jawatan Keselamatan Kerja Setampat Peraturan Dinas Keselamatan Kerja DEPNAKER Standard / Normalisasi PELAKSANAAN KERJA a. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik oleh tenaga ahli yang sudah berpengalaman. b. Pelaksana yang dianggap tidak cukup ahli / perpengalaman oleh Direksi / pengawas lapangan, harus segera diganti dengan orang lain setelah mendapat persetujuan Direksi / pengawas lapangan. c. Untuk penyelenggaraan pelaksanaan pekerjaan lapangan kontraktor harus meyediakan Direksi keet yang berfungsi sebagai Site Office dan gudang peralatan / material. Direksi Keet boleh menggunakan bangunan yang sudah ada (dipinjam / disewa) atau membuat bangunan temporer. d. Kontraktor harus menempatkan seorang Supervisor yang ahli, berpengalaman dan profesional untuk masing-masing bidang yang bertanggung jawab untuk menjadi supervisi, management proyek. e. Tenaga kerja harus berpengalaman dan ahli dibidangnya, bila tidak berpengalaman & ahli harus diganti. Bila tidak dihiraukan pengawas akan mengalami tindakan untuk mengatasi permasalahan yang ada. f. Segala sesuatu yang diperlukan guna kesempurnaan pekerjaan harus, dilengkapi sesuai permintaan pengawas dengan biaya dibebankan kepada kontraktor. BAHAN / MATERIAL DAN PERALATAN a. Bahan / material dan peralatan yang digunakan pada pekerjaan ini harus disediakan oleh kontraktor dan harus dalam keadaan baru, tanpa cacat. b. Semua bahan atau material dan peralatan yang akan digunakan diusahakan produksi dalam negeri, sejauh mana bahan / material tersebut masih memenuhi persyaratan teknis dan standard yang ditentukan oleh proyek ini. c. Kontraktor diwajibkan menyerahkan contoh bahan / barang yang disebut dalam lingkup pekerjaan kepada Direksi / Pengawas lapangan untuk mendapat persetujuan sebelum dipasang. Apabila hal tersebut tidak memungkinkan, minimal brosur spesifikasi teknis harus ditunjukan dan disetujui oleh /Direksi pengawas lapangan.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-64

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

d. Kontraktor harus membuat tempat penyimpanan bahan / material serta peralatan kerja (gudang) agar rapi dan aman dan memudahkan pemeriksaan. e. Jikabahan / material dan peralatan kerja tersebut harus melewati jalan umum, Kontraktor harus menjaga ketertiban dan kelancaran serta mengganggu lalu lintas. f. Direksi berhak menambah peralatan yang dipergunakan atau menolak peralatan yang tidak memenuhi syarat. g. Bila pelaksanaan pekerjaan telah selesai, maka kontraktor harus segera mengeluarkan atau memindahkan peralatan tersebut. Kerusakan akibat penggunaan peralatan kerja tersebut harus diperbaiki kembali atas beban biaya kontraktor. h. Semua material yang terbuat dari besi (Armatur) dan pipa yang dipergunakan untuk kontruksi, penyangga, penggantung dan lain-lain harus diproses sebagai berikut : - Disikat dengan sikat kawat / dibersihkan hingga mengkilat dan bebas dari karat. - Dicat dasar / meni anti karat (Zincromate) kualitas baik 2 kali. - Dicat ahkir dengan cat berkualitas baik 2 kali warna yang akan ditentukan kemudian / sesuai dengan penggunaan. Kecuali material yang terbuat kemudian dari plastik, satinless steel dan alumunium tidak perlu dicat, cukup dibersihkan saja. SISTEM KOORDINASI a. Kontraktor elektrikal harus mengkoordinasikan pekerjaannya dengan pekerjaan kontraktor lain (struktur & arsitektur) untuk menghindari pekerjaan pembongkaran / pekerjaan ulang dan gangguan yang dapat memperlambat jalannya pekerjaan. b. Untuk memudahkan komunikasi teknis, kontraktor harus menempatkan seorang atau lebih pemimpin lapangan berpengalaman. Dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, serta mewakili kontraktor, menerima perintah dan petunjuk Direksi / pengawasan lapangan dan segera melaksanakannya bila diperlukan. Pengawas lapangan dan segera melaksanakannya bila diperlukan. c. Kontraktor diwajibkan membuat laporan berkala (harian / mingguan) yang memberikan gambaran tentang kegiatan proyek. Misalnya : Jadwal Waktu pelaksanaan Kegiatan pelaksanaan Prestasi kegiatan fisik Catatan perintah / petunjuk Direksi / pengawas lapangan yang disampaikan secara lisan maupun tertulis. Dan kegiatan pekerjaan yang dianggap perlu. d. Kontraktor juga harus membuat dokumentasi pekerjaan yang berupa foto-foto pelaksanaan pekerjaan, dibuat berwarna, minimal ukuran postcard dan disusun dalam album. Foto-foto yang mengambarkan

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-65

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

kemajuan pelaksanaan pekerjaan hendaknya dibuat berdasarkan petunjuk dari Direksi dan minimal dilakukan sebanyak 4 (empat) kali setiap peristiwa selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan. PEMBOBOKAN, PENGELASAN DAN PENGEBORAN a. Pembobokan tembok, lantai, dinding dan sebagainya yang dilakukan dalam rangka pemasangan instalasiini maupun pengembaliannya seperti keadaan semula adalah termasuk pekerjaan pemborong instalasi ini. b. Pembobokan hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat ijin tertulis dari Direksi/pengawas. c. Pengelas, pengeboran dan sebagainya pada kontruksi Bangunan hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh ijin/persetujuan tertulis dari Direksi/Pengawas. PENJAGAAN Pemborong wajib mengadakan penjagaan dengan baik serta terus menurus selama berlangsungnya pekerjaan atas bahan peralatan, masin dan alatalat kerja yang disimpan ditempat kerja (gudang lapangan). Kehilangan yang diakibatkan oleh kelalaian penjagaan atas barang-barang tersebut diatas, menjadi tanggung jawab pemborong. KEBERSIHAN, KETERTIBAN DAN KEAMANAN a. Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung pekerjaan berlangsung, kantor, Gudang, los kerja dan tempat pekerjaan sekitar bangunan, harus selalu dalam keadaan bersih. b. Penimbunan / penyimpanan barang, bahan dan peralatan baik dalam gudang maupun diluar (halaman), harus diatur sedemikian rupa agar memudahkan jalannya pemeriksaan dan tidak mengganggu pekerjaan dari bagian lain. c. Peraturan-peraturan yang lain ketertiban akan dikeluarkan oleh Direksi pada waktu pelaksanaan. d. Guna semua keamanan pekerjaan, peralatan dan bahan/material di proyak, kontraktor harus menempatkan petugas keamanan secukupnya disekitar proyak. e. Penjagaan keamanan termasuk juga penanggulangan terhadap bahaya kebakaran yang mungkin terjadi. f. Kontraktor harus memperhatikan hubungan dengan lingkungan proyek, antara lain : tidak akan menyebabkan gangguan lalu lintas umum, tidak akan menganggu ketenangan penduduk/masyarakat disekitarnya dan tidak akan mengganggu pekerjaan dari Rekanan lain. KECELAKAAN DAN PETI PPPK a. Jika terjadi kecelakaan yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan ini, maka pemborong diwajibkan segera mengambil segala tindakan guna kepentingan si korban atau para korban, serta melaporkan kejadian tersebut kepada instansi dan Departemen yang bersangkutan/berwenang (dalam hal ini polisi dan Departemen Tenaga

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-66

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

kerja) dan mempertanggung jawabkan sesuai dengan perayuran yang berlaku. b. Peti PPPK dengan isinya yang selalu lengkap, guna keperluan pertolongan pertama harus selalu ada di tempat pekerjaan. PENGUJIAN/TESTING a. Untuk mengetahui bahwa semua pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat berfungsi baik dan telah sesuai dengan persyaratan teknis yang dimana, maka kontraktor diwajibkan menguji seluruh pekerjaannya dengan standard uji masing-masing yang telah ditetapkan dalam peraturan/spesifikasi peralatan. b. Pengujian ini dilaksanakan dibawah pengawasan Direksi/pengawas lapangan yang ditunjuk jadwal pelaksanan pengujian dapat diatur seminggu sebelumnya atau atas persetujuan bersama. c. Semua bahan yang kurang baik atau pemasangan yang kurang sempurna yang diketahui pada saat pemeriksaan/pengujiaan harus segera diganti dengan yang baru/disempurnakan sampai dapat berfungsi dengan baik dan sesuai Standard Uji yang ada. d. Pengujian ini antara lain berupa : - Pemeriksaan Visual. - Pemeriksaan pekerjaan Sambungan: Mekanis dan Listrik. - Pengukuran Tahanan Isolasi dan Pertanahan. - Pengujian dengan beban dalam keadaan bertegangan dan beban penuh selama 3 malam berturut-turut (selama 36 jam). - Semua hasil pengujian harus dicatat dan ditanda tangani bersama. e. Bila dalam pengujian berbeban ternyata tidak disediakan Sumber Daya Listrik, maka kontraktor harus menyediakan Sumber Daya Listrik sendiri berupa Genset 3 phase dengan kapasitas yang memadai. f. Semua biaya yang diperlukan untuk pengujian ini menjadi tanggung jawab pihak kontraktor. g. Kontraktor diharuskan membuat Jadwal dan Prosedur pelaksanaan / Test yang akan dilakukan. h. Semua peralatan Test harus dalam keadaan baik dan memenuhi Standard persyaratan Test yang ditentukan. Peralatan Test tersebut harus disediakan oleh kontraktor. i. Hasil Test harus dicatat dan ditanda tangani bersama oleh kontraktor, pengawas dan pemilik proyek. Hasil Test ini baru dianggap sah/baik apabila telah disetujui/disyahkan oleh Instansi yang berwenang (PLN, DEPNAKER). GARANSI Semua pekerjaan, pemasangan perlengkapan dan bahan yang telah dipasang oleh kontraktor harus digaransi selama 12 (dua belas) bulan sejak masa penyerahan pertama kecuali ditentukan lain dalam kontrak (pompa lumpur, pompa banjir dan genset).

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-67

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

a. Salama masa Garansi ini semua perlengkapan, bahan dan pengerjaan yang kurang baik/rusak (yang bukan disebabkan oleh salah pakai, salah operasi) harus secepatnya diganti atau diperbaiki atas tanggungan kontraktor. LAIN-LAIN a. Bagian-bagian yang termasuk dalam pekerjaan ini, yang secara teknis tidak dapat dipisahkan/diabaikan/dihilangkan, tetapi belum disebutkan dalam bestek/gambar, tetap harus dilaksanakan tersebut berfungsi dengan baik. b. Hal-hal lain yang menyangkut pelaksanaan lapangan tetapi belum disebutkan dalam peraturan ini, akan ditentukan lebih lanjut oleh Direksi/pengawas lapangan. PERSYARATAN TEKNIS PEKERJAAN ELEKTRIKAL PERSYARATAN TEKNIS PELAKSANAAN PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN PENYELESAIAN

III.

LINGKUP PEKERJAAN Yang termasuk dalam lingkup pekerjaan Instalasi listrik meliputi Pekerjaan Instalasi Listrik Gedung Meliputi pengadaan dan pemasangan : a. Komponen listrik lampu TL 36 watt dan lampu mercury sesuai gambar. b. Kotak kontak 1 phase dan kotak kontak 3 phase sesuai gambar c. Saklar tunggal & saklar ganda d. Instalasi baru e. Lampu TL 2 x 36 Watt, TKO lengkap f. Panel-panel listrik baru lengkap dengan komponen pengamannya. Semua material penunjang (Penggantung, penumpu, klem dll) yang diperlukan untuk kesempurnaan pekerjaan ini. Pengetesan seluruh Pekerjaan Instalasi sesuai persyaratan instalasi sampai dinyatakan baik oleh Instansi setempat (PLN) secara tertulis dan diterima dengan baik oleh Pengawas/Pemilik Proyek. PEMASANGAN JARINGAN KABEL FEEDER Jenis Kabel a. Kabel yang digunakan untuk jaringan Distribusi Tegangan Rendah adalah jenis dalam pipa PVC High Impact dengan dimensi sesuai gambar. b. Kabel yang digunakan harus Rekomendaskan dari LMK dengan Standard merk : JEMBO, SUPREME, atau setara. c. Kabel harus dalam keadaan baru, tanpa cacat dan bila perlu harus ada surat keterangan dari distributor/pabrik. Pemasangan dan Teknis Pelaksanaan a. Kontraktor diwajibkan mempelajari gambar Lay-Out saluran kabel tersebut terhadap situasi lapangan. Anda diperlukan adanya perubahan jalur karena alas an teknis, Kontraktor harus membuat gambar Shop
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-68

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Drawing untuk disetujui Pengawas/Pemilik sebelum melaksanakan pekerjaan tersebut. b. Jalur alternatif agar dipilih route yang aman/terlindung atau sedikit mungkin adanya bahaya kerusakan yang dapat minimpa saluran kabel tersebut. Alternatif ini diusahakan tidak menimbulkan kerja tambah. Kecuali dalam keadaan dimana tidak ada pilihan lain. c. Kabel ditaman langsung didalam tanah dikedalaman 80 cm dari permukaan tanah kecuali yang melintas jalan mobel harus ditanam 100 cm dari permukaan tanah sesuai gambar. Kabel yang melintas jalan mobil harus dilindungi dengan pipa PVC AW berdiameter sesuai jumlah kabel yang ada. d. Untuk galian kabel yang melalui jalur kabel existing /lama harus dikerjakan dengan exktra hati-hati. Bila terjadi kerusakan pada kabel existing karena terkena peralatan gali (pacul, gancu dsb), kontraktor harus mengganti kabel tersebut tanpa adanya tambahan biaya, termasuk biaya perawatan pekerja yang mengalami / kecelakaan hingga sembuh benar. e. Tidak diperkenankan melakukan penyambungan di dalam tanah ditengah perjalanan kecuali apabila panjang kabel/ saluran melebihi standard panjang yang telah ditentukan oleh pabrik, kecuali memang ada pekerjaan penyambungan kabel. f. Apabila terpaksa dilakukan penyambungan karena saluran lebih panjang dari standard panjang pabrik maka system/ cara penyambungan harus dibicarakan dengan pengawas untuk mendapatkan persetujuan. g. Setiap ujung saluran harus diberi kelebihan panjang /sling secukupnya untuk mengantisipasi adanya kemungkinan perubahan tempat/ pergeseran paralatan/ panel. h. Sedikit belokan kabel harus diperhitungkan bahwa radius belokan minimum r = 15 D, dimana D adalah diameter kabel. i. Cara pemasangan kabel sesuai gambar yaitu : diberi pelindung alas pasir 10 cm bagian bawah dan diatas kabel, diberi pelindung batu bata merah atau plat beton sesuai gambar/ keperluannya. j. Semua kabel yang masuk ke dalam bangunan tidak boleh di tanam langsung di lantai harus melalui kabel trench / got kabel atau pipa sparing dengan ukuran yang sesuai dengan jumlah besar kabel. k. Pengurusan ijin instalasi listrik kepada instansi yang berwenang (PLN) merupakan Pekerjaan dan Tanggung Jawab dari Kontraktor. Pengetesan a. Setiap saluran kabel harus ditest Tahanan Isolasinya dengan mengunakan alat MEGGER 10.000 volt untuk kabel Tegangan Menengah dan MEGGER 1.000 volt untuk kabel Tegangan rendah. b. Pengetesan dilakukan antara masing-masing inti kabelnya dengan mantel pelindungnya phasa-phasa, phasa-netral, phasa pround dan netral ground.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-69

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

c. Hasil pengetesan tahanan isolasi yang diminta adalah minimum 100 Mega Ohm untuk tegangan menengah dan minimum 5 Mega Ohm untuk kabel tegangan rendah. Penyambungan / Termination a. Kontraktor diwajibkan memasang sepatu kebel pada ujung kabel yang akan disambungkan ke panel / peralatan, kecuali dipersyaratkan lain, misalnya sambungan baut tanpa kabel sepatu. b. Sepatu kabel yang dipergunakan harus sesuai dengan besarnya kabel dan harus yang berkualitas baik, standard merk GAE atau setara. c. Pemasangan sepatu kabel yang diperunakan tang press atau secra hidrolis. d. Penyambungan kabel ke terminal panel / peralatan di semua bangunan adalah tangung jawab konraktor. e. Sambungan harus dilaksanakan dengan baik, cukup kuaterat sesuai dengan model terminal peralatan yang terpasang. PEMASANGAN KABEL & SALURAN KABEL DI DALAM BANGUNAN Semua kabel tegangan rendah yang digunakan adalah kabel yang sudah direkomendasi oleh LMK dengan merk : Jembo, Supreme atau setara : Kelas : 600 / 1000 V Inti : Tembaga Isolasi : PVC Ukuran : minimum 2.5 mm2 kecuali untuk kabel kontrol dan motormotor ukuran kecil digunakan 1.5 mm2. Kode warna harus mengikuti ketentuan PUIL 1987 - Phase R/L 1 : Merah - Phase R/L 2 : Kuning - Phase R/L 3 : Hitam - Netral N : Biru - Grounding PE : Kuning-Hijau Warna kabel yang mengikat (harus ada) adalah biru (untuk netral) dan pada kuning/hijau (untuk ground). Bila warna tersebut tidak ada maka pada ujung-ujung kabel harus diberi isolasi dengan warna yang bersesuaian seperti butir 3.b. di atas. Kabel NYY digunakan untuk instalasi dari masing-masing panel DP ke panel-panel pembagi (SDP) dan dari panel pembagi (SDP) ke masingmasing panel beban (PL, PP, PAC, dll) dengan dimensi sesuai gambar. Kabel NYM didalam pipa PVC HI diameter digunakan untuk instalasi dari panel ke beban penerangan atau peralatan /kotak kontrak. Pipa PVC HI merk EGA, CLIPSAL atau yang digunakan disyaratkan yang sudah direkomender oleh LMK, bila diperlukan kontraktor harus dapat menunjukan bukti rekomendasi tersebut.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-70

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Untuk penyambungan ke beban penerangan digunakan kabel NYM dalam pipa PVC flexible dengan merk EGA, Clipsal atau yang setara. Pasangan kabel NYM dalam pipa PVC HI pada jarak maksimum 100 cm harus diberi klam. klem dibuat dari bahan plat logam digalvanis ayau alumunium, pemasangan pada tembok harus menggunakan vicher dan sekrup, pemasangan dengan menggunakan paku tidak dibenarkan. Semua penyambungan kabel pada kotak sambung menggunakan sambungan puntir dengan lasdop tidak boleh menggunakan isolasi. Standart merk lasdop 3M, Clipsal, Legrand atau setara. Ujung kabel yang dipasang pada terminal kabel harus diberi pelindung (sealing end). SPESIFIKASI PERALATAN ARMATURE LAMPU Armature TL jenis TKO (surface Mounted) Armature merupakan jenis open type, dengan reflector. Pemasangan Out-Bouw / Surface / Permukaan menempel plafond. Armature terbuat dari plat baja putih dengan ketebalan 0.7 mm. Pembuatan harus dengan mesin peralatan lampu Built-in dan dengan penyempurnaan cat power coating. Reflektor terbuat dari plat baja putih dengan ketebalan 0.7 mm, dilapisi dengan cat dasar, serta diberi lapisan akhir berwarna putih pengecatan dengan cara Stove Enamelled / Bake Enamelled (cat bakar) Kontruksi armature harus kuat dan kokoh serta dibuat sedemikian rupa agar dapat dibuka / dilepas untuk perbaikan / penggantian komponen yang berada didalamnya. Armature dan reflector harus dilengkapi dengan sekrup, agar dapat dilepas pada waktu memerlukan perbaikan. Seluruh armature harus lengkap dengan rangka dudukan / gantungan. Merk : Artolite, Lucolite, Philips atau sederajat. Komponen-komponen untuk lampu TL antara lain : 1. Ballast Ballast harus leak proof, mempunyai temperatur kerja rendah, noiseless, rumahan dari bahan polystar. Untuk lampu TL dengan dua lampu disusun/digunakan twin lamp ballast (anti Stroboscopic). Rated tegangan 220 watt untuk TL 18 watt dan 2.5 watt untuk TL 36 watt. Ballast harus dilengkapi dengan connection terminal. Merk Philips, Schwabe, GE, atau sederajat. 2. Fitting/Lamp Holder dan stater holder (sockets)
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-71

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Material dari white plastic polycarbonate dengan proteksi Uncorosive dan Touchproof. Lamp holder dan stater holder anti vibrator contact. Starter switch, terminal dan tube fitting, dengan sistim rotary lock. Merk :Philips, atau yang setara. 3. Capacitor Yang digunakan harus kapasitor yang dapat menghasilkan p.f. 0.95 (kapasitas 3.25 s/d 4.5 micro farad) 4. Starter Starter untuk lampu Fluorescent mempunyai reability tinggi, terbuat dari high quality white polycarbonate. Rating stater disesuaikan dengan rating lampu TL. Merk : Philips, GE atau yang setara. PEMASANGAN LAMPU & PERALATAN a. Seluruh instalasi pekerjaan lampu dan peralatan pada dasarnya dilaksanakan dengan menggunakan kabel jenis NYM, dengan luas penampang penghantar sekurang-kurangnya 2.5 mm2 dan pipa conduit PVC HI dengan diameter sekurang-kurangnya . b. Kontraktor diwajibkan mengkoordinasikan rencana kerjanya dengan disiplin lainnya, sehingga kemungkinan timbulnya perselingan lintasan antara intalasi yang berlebihan dapat dihindarkan. c. Pemasangan instalasi lampu dan peralatan tidak dibenarkan membebani kerangka ceilling yang ada, melainkan harus dipasang pada cable trays yang tersedia atau dilekatkan langsung pada bagian bawah dari plat dan, dengan menggunakan klem dan concrete fastener yang sesuai, sekalikali penggunaan paku sangat dilarang dalam pengerjaan ini. d. Jarak pemasangan klem-klem pengikat pipa conduit tidak diperkenankan melebihi 80 cm. Kontraktor diwajibkan menambah jumlah klem yang ada, apabila pipa konduit. e. Pekerjaan pencabangan, splicing dan lain sebagainya harus dilaksanakan dalam junction boxes (Tdoos, Xdoos, dsb), yang terbuat dari bahan yang sejenis dengan pipa conduit yang ukuran-ukurannya sesuai dengan ukuran dan jumlah kabel yang ada. Penggunaan insulation tape sama sekali diperbolehkan. f. Kabel penghantar yang menghubungkan fixtures lampu dengan instalasi yang ada, harus dilindungi dengan menggunakan flexible conduit yang terbuat dari bahan (dan memiliki ukuran) yang sama dengan pipa conduit yang dipakai. g. Untuk membedakan instalasi lampu dan peralatan dengan instalasi yang lain pipa conduit yang terpasang harus diberi tanda (label) berwarna pada setiap jarak 2 meter, (dapat dengan menggunakan insulation tape). Warna tanda/label yang dipakai harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pengawas.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-72

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

h. Untuk pemasangan armature lampu jenis (surface mounted), tidak dibenarkan dipasang pada plafond secara langsung, harus dipasang pada rangka plafond yang diperkuat dengan konstruksi tambahan (bisa plafond yang di cat meni 2 kali) yang sesuai atau dengan menggunakan hanger/penggantung. i. Semua pekerjaan perbaikan bekas bobokan dilaksanakan oleh Kontraktor Bangunan yang beban biayanya menjadi tanggung jawab ddari Kontraktor listrik. SAKELAR, KOTAK KONTAK 1 PHASE & KOTAK KONRAK 3 PHASE a. Sakelar yang digunakan pada instalasi ini berstandard merk M.K.Clipsal atau yang sederajat dengan kemampuan minimum 10A. b. Sakelar dipasang setinggi 150 cm dari lantai dengan pasangan terpendam (In-Bouw) rata dengan permukaan plesteran dinding atau didalam partisi dengan konstruksi tersendiri/khusus. c. Kotak tempat sakelar dan kotak kontak terbuat dari logam besi yang digalvanis dengan standard merk MK, Clipsal atau sederajat. d. Kotak Kontak 1 phase yang digunakan pada Instalasi ini berstandard merk MK, Clipsal atau sederajat dengan kemampuan minimum 16A. Kotak kontak 3 phase yang dipakai pada Instalasi ini berstandard merk ABB, BALS atau sesuai persetujuan pengawas/pemilik proyek dengan kemampuan minimum 16A. e. Kotak Kontak yang dipergunakan adalah jenis out-bouw/pasangan menempel dinding dengan menggunakan Out-Bouw doos yang terbuat dari bahan yang sama dengan kotak kontaknya. Pemasangan kotak kontak pada doosnya menggunakan sekrup. f. Kotak Kontak 1 phase dipasang setinggi 30 cm dari lantai/sesuai permintaan user (disesuaikan dengan alat) dengan pasangan terpendam (In-Bouw) rata dengan permukaan plester dinding atau didalam partisi dengan konstruksi khusus sesuai petunjuk pengawas. g. Kotak Kontak 1 phase dipasang setinggi 150 cm dari lantai atau disesuaikan dengan kondisi ruang dan peralatan terpasang dengan pasangan menempel dinding (out-bouw) dan harus terpasang kuat, tidak boleh goyang/miring sesuai petunjuk pengawas. h. Kotak kontak 3 phase harus mempunyai terminal pentanahan (3P + N + PE) tegangan 415 V. i. Semua pemasangan out-bouw doos dan kotak kontak 3 phase pada dinding harus menggunakan vischer dan sekrup, pemasangan pada kayu/meja harus menggunakan sekrup. Penggunaan paku pada pekerjaan ini sangat dilarang. Untuk kotak kontak yang dipasang untuk daerah basah harus memakai type tertutup (water Proof Type)
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

j.

VI-73

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

k. Kotak kontak 1 phase harus mempunyai terminal pentanahan (P + N + PE) tegangan 415 V.

PANEL LISTRIK PENERANGAN DAN PERALATAN Konstruksi Panel a. Panel-panel listrik baru adalah jenis In-door/out door type, menempel dinding, terbuat dari plat baja. b. Rangka konstruksi ditutup dengan plat baja pada sisinya tebal 1,5 mm (untuk badan panel) dan 2 mm untuk pintu panel. Untuk type out-door ditambahkan konstruksi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga air hujan tidak dapat masuk. c. Panel dipasang pada dinding dengan menggunakan Dynabolt 8 mm, konstruksi ini disesuaikan dengan peralatan/komponen yang terpasang. d. Semua bagian peralatan yang bertegangan harus mempunyai jarak yang cukup denga bagaian peralatan yang lain. Apabila perlu harus diberi tambahan isolator untuk menghindari adanya hubung singkat. e. Panel dicat dengan cat dasar (meni) tahan karat 2 kali cat akhir dari jenis cat bakar 2 kali yang tahan gores. Sebelum di cat, panel termasuk rangkanya harus dibersihkan dari karat, bila perlu digunakan bahan kimia penghilang karat (RUST REMOVER). f. Panel harus dilengkapi mur-baut untuk terminal pentanahan, baut terminal harus dilas penuh pada rangka panel, ukuran mur-baut 3/8. g. Pintu panel harus dihubungkan dengan rangka panel menggunakan kawat tembaga Flexible (NYMHY 1 x 6 mm2) untuk pentanahan pintu panel. h. Untuk masuk dan keluarnya kabel ke dan dari panel menggunakan wartel mur sesuai ukuran kabel. Bus-bar/Rel Tembaga a. Bus-bar terbuat dari tembaga dengan kemurnian tinggi dengan kemampuan arus minimum 1,5 kali kapasitas/kemampuan pengaman utamanya, kecuali Bus-bar PE yang ukurannya lebih kecil dan disesuaikan kawat tanahnya. Dimensi dan kemampuan rel dapat dilihat pada gambar. b. Semua Bus-bar (5 buah) harus dicat dengan warna sesuai ketentuan PUIL pasal 701 : - Fasa ke 1 L1/r Merah - Fasa ke 2 L2/s Kuning - Fasa ke 3 L3/t Hitam - Netral N-Biru
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-74

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

- Penghantar PE-Hijau/Kuning - Pembumian c. Semua Bus-bar harus dipotong harus ditopang pada rangka konstruksi dengan menggunakan penyangga atau dijepit partinax pada beberapa tempat sehingga konstruksi Bus-bar cukup kuat dan tidak lentur/bergetar. Tahanan isolasi terhadap Body/rangka minimum 50 M ohm. d. Bus-bar untuk pertanahan/penghantar pembumian/ di klem dengan baik ke rangka panel, cat pada bagian rangka yang menempel Busbar pertanahan harus dihilangkan. Peralatan dan Komponen Panel a. Peralatan pengaman/Circuit Breaker (MCCB/MCB) yang dipasang pada Base Plate atau plat dasar yang terpasang kuat pada rangka panel. b. Pengaman saluran keluar dan masuk (MCCB/MCB) harus dari pabrik yang sama dengan ranting arus seperti tertera pada gambar diagram. Standard Merk : MF, ABB, SIEMENS dan AEG. c. Untuk panel distribusi harus dilengkapi dengan peralatan ukur dan meter ukur type Moving Iron Type dengan ukuran 96 x 96 mm dan peralatan lain misalnya : Lampu Indikator dan Minifuse. d. Untuk memudahkan pengenalan distribusi beban pada setiap MCCB/MCB dan peralatan penting yang lain harus diberi nama/nomor saluran yang dapat dibaca dengan jelas/mudah. e. Setiap pintu panel harus disediakan tempat untuk menyimpan gambar/diagram panel. Gambar diagram panel harus dibundel rapi dalam sampul plastik atau dilaminating. f. Soft Starter g. Kapsitas Bank Otomatis h. Control unit version 3 (C.U.-3) i. Monitoring and Protection Equitment (MPE) Sistem Pentanahan a. Sistem pentanahan panel listrik yang digunakan pada instalasi ini adalah sistem PNP (Pentanahan Netrak Pengaman), sesuai aturan yang digunakan pada PUIL 1987. b. Elektroda pentanahan menggunakan Elektroda Pipa dengan pipa galfanis 1 dan kawat BC penampang 50 mm2 yang ditanam sedalam minimal 3 (tiga) meter hingga dicapai tahanan pentanahan minimal 5 ohm. c. Bila perlu elektroda pentanahan untuk badan peralatan dan panel harus dipisahkan penanamannya sejauh minimum 3 meter satu dengan yang lain. d. Saluran pentanahan dari elektroda pentanahan sampai kebadan harus dilindungi dengan pipa PVC HI atau pipa PVC AW .

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-75

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

e. Saluran ini tidak boleh ada sambungan hanya diperbolehkan pada terminal yang disediakan dengan menggunakan sambungan mur baut dan sepatu kabel yang sesuai. f. Penampang kawat pentanahan dari masing-masing panel dapat dilihat pada gambar masing-masing panel. g. Titik pentanahan panel ini harus dipisahkan dengan system pentanahan penangkal petir dan peralatan lain (peralatan kontrol, MCFA, PABX, dll) minimal sejauh 5 meter. h. Penyambungan sipanel harus pada rek pentanahan atau mur baut yang telah di las ke badan panel. Testing dan Commisioning a. Sebelum melaksanakan pengujian Kontraktor harus merencanakan jadwal pemeriksaan & pengujian untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas. Macam pemeriksaan dan pengujian. - Pemeriksaan Visual - Pemeriksaan sambungan listrik maupun mekanis - Pengukuran tahanan isolasi dan tahanan pentanahan - Pengujian dalam keadaan berbeban b. Seluruh sistem dan Pekerjaan instalasi harus diperiksa, diteliti dan diuji dengan baik sebelum diserahkan dan pelaksanaannya harus menyertakan pengawas dan bila perlu dengan petugas dari instansi terkait yang berwenang. c. Sesudah seluruh instalasi terpasang seluruhnya harus diadakan pengujian dan pemeriksaan instalasi secara keseluruhan. d. Pengetesan juga dilakukan pada Grounding Existing untuk mengetahui apakah tahanan pentanahan grounding tersebut masih baik/memenuhi syarat atau tidak. Jaminan dan Masa Pemeliharaan a. Jaminan instalasi Kontraktor. & material instalasi menjadi tanggung jawab

b. Masa pemeliharaan untuk seluruh pekerjaan instalasi listrik ditetapkan selama 4 bulan setelah barang diserahkan kepada Pemilik /Pengawas. c. Dalam masa pemeliharaan apabila ditemukan instalasi yang rudak atau berfungsi kurang baik maka Pemborong harus segera memperbaiki atau mengganti peralatan tersebut sampai dapat berfungsi dengan baik. Lain-lain a. Peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan, walaupun tidak digambarkan atau disebutkan dalam spesifikasi ini, harus disediakan oleh Kontraktor, sehingga instalasi dapat bekerja dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan tanpa tambahan biaya.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-76

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

b. Kontraktor harus memintakan ijin-ijin yang mungkin diperlukan untuk menjalankan instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini atas tanggungan sendiri kepada berwenang yang terkait dengan pekerjaan ini (PLN, DEPNAKER). T. PERSYARATAN TEKNIS PELAKSANAAN DAN PENYELESAIAN PEKERJAAN INSTALASI POMPA AIR 1. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan ini meliputi Pengadaan & Pemasangan Instalasi Pompa berikut kelengkapannya dan alat bantu yang diperlukan. Jenis dari Pompa-pompa yang akan diadakan harus dari jenis Submersible untuk aplikasi penanggulangan dan pengendalian banjir dan pernah teruji beroperasi dengan baik dan pernah terpasang di Indonesia dengan kapasitas minimum sama dengan atau lebih besar dari pompa yang akan diadakan. Pompa-pompa tersebut diadakan dan dipasang pada rumah pompa sebagai berikut 1. Pompa Lumpur dengan kapasitas 250 l/detik, total Head 15 m. 2. Pompa Banjir dengan kapasitas 1500 l/detik, total Head 6 m. 2. Spesifikasi Teknik Pompa Lumpur Spesifikasi teknik masing-masing pompa seperti yang diuraikan sebagai bertikut : a. Pompa Lumpur Type Kapasitas Total Head Efficiency Material bodi pompa Material poros pompa Konstruksi Pemasangan : Submersible Sludge Pump : Q=15 m3/min atau Q=0.25 m3/det : H = 15 meter : Minimum 65 % : Cast Iron (ASTM A 48, CL 30) : Stainless steel (ASTM A 276,410) : Automatic Discharge Connector

Standard Pengujian pompa : ISO 2548 Material propeller/impeller : Cast Iron (ASTM A 48, CL 30)

b. Elektromotor : Type Service Factor Standard Desaign Insulation class Efficiency IP Daya/tegangan Kabel submersible : Totally Enclosed Submersible : 1.15 : NEMA-Desaign B :F : Minimum 90% : 68 : max. 65 Kw, 380 Volt, 50 Hz, 3 phase : min. 10 m

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-77

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

c.

Sistem Proteksi Lapisan pelindung Material bodi pompa

: - Sensor thermal protector jenis bi-metal - Sensor Seal Leakage jenis elektroda : Cat tahan karat (Epoxy Coafing) : Cast Iron (ASTM A 48, CL 30)

Pipa buang : Diameter Tebal pipa Coating : 300 mm : 9 mm : Cat anti karat (Bituminous 300 micron)

d. Panel Control: Jenis : Free Standing (berdiri) Tebal Plat : 2 mm Tebal panel : 800 mm Finishing : anti karat Power Coating RAL 7032 dicat dengan warna yang ditentukan oleh pengawas. Fungsi Kontrol : Masing-masing kontrol Panel harus dapat mengontrol pompa-pompa yang terpasang seperti yang disebutkan dalam item 3.17.1 Pasangan panel : Pasangan panel sedemikian rupa sehingga setiap peralatan dalam penel dengan mudah masih dapat dijangkau, tergantung daripada macam/Type Panel, bila dibutuhkan tambahan atas/ pondasi/ penumpu/ penggantung maka Pemborong harus menyediakan dan memasangnya sekalipun tidak tertera dalam gambar.

3. Spesifikasi Teknis Pompa Banjir a. Pompa - Type - Kapasitas - Total Haed - Standar Pengujian - Efisiensi - Material Propeller/impeller - Material bodi pompa - Material poros pompa b. Elektromotor: - Type - Service Factor - Standard Design : Totally Enclosed Submersible : 1.10 : NEMA-Design B : Submersible Drainage Pump. : Q=90 m3/min atau Q=1,50 m3/det. : H= 6 Meter : ISO 2548 : min 80 % : Aluminium Bronze (ASTM B 148,78) : Cast iron (ASTM A 48, CL 30) : Stainless Steel (ASTM A 276, 410)

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-78

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

- Insulation Class - IP - Daya Tegangan - Kabel Submersibel

:F : 68 : 130 KW, 3 Phase, 380 Vollt. : - Type RNCT - Triple compression sealing.

- Sistim Pendingin

- Sistem Proteks

- Lapisan Pelindung - Material bodi motor - Diameter Pipa Kolom

- Rubber bush with grommet. : Pendinginan dilakukan dengan cara mendinginkan selubung motor dengan menggunakan air yang lewat pada saat pompa beroperasi. : - Sensor Thermai Protector Type PT-100 - Sensor Seai Leakage type elektroda - Sensor Moisture Type elektroda - Sensor Bearing temperature PT-100 : Cat tahan karat (epoxy coating) : Cast iron (ASTM A48, CL 30)

c. Pipa Kolom. (Seperti yang terlihat dalam gambar) : 1100 - 1200 mm (disesuaikan dg produk pompa) - Diameter Pipa Buang : 900 mm - Tebal Pipa : 11 mm - Elbow/bend : 2 X 45 - Coating : Cat anti karat (Bituminus tebal 300 micron) Jenis pompa air yang harus diadakan/dipasok adalah jenis pompa air celup (submersible pump), dimana dalam pengoperasiannya keseluruhan bagian dari unit pompa tersebut akan terendam didalam air oleh karena itu material konstruksi dari pompa harus terbuat dari jenis material yang tahan terhadap pengerusakkan yang disebabkan oleh zat-zat yang terkandung dalam air, tahan terhadap lingkungan yang korosif dan tahan terhadap gesekan material yang halus seperti lumpur. Pompa yang dipasok harus merupakan pompa baru dan bukan pompa bekas yang telah diperbaharui (re-build). Secara terperinci spesifikasi pompa yang disyaratkan adalah : 1. Kondisi Desain a. Kapasitas pekerjaan-unit pompa : seperti yang diuraikan b. Total Head pompa yang diperlukan : seperti yang diuraikan c. Elevasi muka air (Seperti yang Terlihat dalam gambar) 2. Perhitungan Head dan Power Pompa Total head adalah hasil penjumlahan antara Static Head dan Total Head Loss yang terjadi. Desain dari pompa yang akan dipasok harus

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-79

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

mempunyai efisiensi yang terbaik (maksimum) pada kondisi titik kerja (duty point) dari pompa tersebut. Penawar harus membuat dan menyajikan perhitungan rugi-rugi (head loss) dan daya yang dibutuhkan untuk pompa yang ditawarkan tersebut menggunakan formula Darcy dengan asumsi kehilangan tinggi pada screen sebesar 0.1 m. 3. Ketentuan Material Pompa Selubung pompa (Pump Body) Bahan untuk selubung pompa harus terbuat dari bahan besi cor (cast iron) dengan spesifikasi komposisi dari meterialnya stara ASTM A48 CL30 atau dengan kelas (grade) yang lebih tinggi serta harus mempunyai permukaan cor yang sempurna atau telah melalui proses dengan mesin (maching) pada bagian dalamnya sehingga kerja pompa dan efisiensinya menjadi baik. Hasil pengecoran tersebut harus bebas dari keropos dan retak serta cacat yang lain akibat dari proses pengecoran dan machining tersebut. 4. Propeler/Impeler Bahan untuk bagian propeler/impeler harus terbuat dari bahan yang ulet dan tahan korosif, dengan perkataan lain harus terbuat dari Aluminium Bronze dengan spesifikasi komposisi materialnya setara ASTM AB148, 198 atau dengan grade yang lebih tinggi. Celah antara propeler/impeler dengan selubung pompa pada bagian sisi hisap harus memiliki ketelitian yang tinggi yang dimaksudkan agar dengan presisinya celah tersebut dapat diharapkan efisiensi pompa menjadi lebih baik. Spesifikasi teknis propeler/impeler Material : Aluminium Bronze ASTM AB148,958

Jumlah Baling-baling : 4 buah Free Passege : 100 mm

5. Poros Pompa Poros Pompa harus menyatu dengann motor penggeraknya, atau dengan perkataan lain merupakan satu bentuk kesatuan antara poros untuk propeler/impeler dengan motor. Bahan poros pompa harus terbuat dari bahan yang tahan korotif serta mampu menahan torsi motor penggerak dengan propeler/impeler pompa sesuai dengan tegangan kerja tanpa adanya defleksi yang dapat mengakibatkan poros menjadi rusak atau terpuntir. Tingkat ketelitian poros baik terhadap propeler/impeler atau terhadap bantalan dudukan harus cukup tinggi sehingga ketidakseimbangan (unbalance) pada saat pompa dioperasikan (poros berputar) dapat dihindari.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-80

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Standard poros yang digunakan harus terbuat dari baja tahan karat atau grade yang lebih tinggi, atau untuk bahan stainless steel gradenya setara dengan ASTM A276, 410 atau SUS 410. 6. Elektromotor Penggerak pompa (pump driven) menggunakan elektromotor type submerged electromotor dengan spesifikasi sebagai berikut : Type : Totally enclosed sumersible type Insulation Class :F Service Factor : 1.15 Design Standard : NEMA-Design B, IP68 Tegangan : 380 Volt, 3 fasa, 50 Hz Sistem Pendingin :Pendinginan dilakukan dengan cara mendinginkan selubung motor (motor casing) dengan menggunakan air yang lewat pada saat pompa beroperasi. Sistem Proteksi : - Sensor panas (thermal) pada tiap fasanya - Sensor kebocoran seal (Seal leakage) - Sensor kelembaban (Moisture) - Bearing Sensor Material Casing : Cast Iron : ASTM A48, CL30 Lapisan pelindung : Cat tahan karat (epoxy coating) Kabel Elektromotor Kabel pada elektromotor menggunakan jenis Submersible Cable dengan spesifikasi sebagai berikut : Type : RNCT Kind of Insulation :F Kind of sealing of lead cable : Triple compression sealing Type of Installation : Rubber bush with Grommet 7. Pipa Kolom Material harus terbuat dari steel plate setara ASTM A36 dengan dilapisi cat dari bahan coal tar epoxy coating pada bagian permukannya. Konstruksi pipa kolom adalah rolled steel fabricated dengan discharge elbow mempunyai bentuk lengkung yang baik (smooth) pada bagian dalam sehingga diharapkan dapat mengurangi nilai dari kerugian. Ketebalan dari plat baja yang akan dipakai untuk membuat kolom pipa tidak boleh kurang dari 11 mm Diameter dalam dari pipa kolom untuk pompa kap 1500 l/detik adalah 1100 mm. Dilengkapi stopper guard pada bagian sole plate. 8. Spesifikasi Teknis Panel Kontrol Panel kontrol pompa yang terpasang pada tiap-tiap lokasi harus dapat mengoperasikan semua pompa yang terpasang pada masing-masing rumah pompa seperti yang dijelaskan dalam item 3.17.1.
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-81

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Dengan daya motor yang tidak lebih dari seperti yang dijelaskan di item 3.17.1. Seluruh pompa pada saat akan dioperasikan (start) harus menggunakan peralatan Soft Starter yang terpasang didalam panel kontrol. Panel kontrol dilengkapi dengan unit pengendali (control unit) gangguan yang minimal dapat mendeteksi gangguan-gangguan sebagai berikut : - Beban terlalu rendah dan beban lebih (underload/overload) - Tegangan terlalu rendah dan beban lebih (undervolt/overvolt) - Arus tidak seimbang (current unbalance) - Putaran motor terbalik (phase sequence) - Gangguan pembumian (ground failure) - Tahanan isolasi motor (isolation resistance) - Kapasitor Bank otomatis Panel kontrol dilengkapi dengan peralatan pemantau dan pengaman gangguan pada pompa (monitoring and protection equipment) yang dapat menerima sinyal gangguan dari peralatan deteksi (sensor) gangguan yang dimiliki oleh masing-masing pompa celup yaitu sebagai berikut : - Sensor Temperatur Stator yang merupakan jenis PT-100 - Sensor Temperatur Bearing yang merupakan jenis PT-100 - Sensor kebocoran yang merupakan jenis Floating Switch - Sensor Kelembaban yang merupakan jenis elektroda Panel kontrol pompa ini harus dilengkapi dengan perlengkapan yang dapat melakukan beberapa macam cara mengoperasikan (operation mode) untuk kedua pompa tersebut yaitu : Cara Otomatis (Automatic mode) Seluruh pompa beroperasi dan berhenti secara otomatis tergantung dari batas ketinggian air dalam kolam hisap (suction folder)

Cara manual (Manual mode) Masing-masing pompa dapat dioperasikan atau dihentikan hanya dengan cara menekan tombol On-Off, akan tetapi kerjanya masih tergantung dari batas ketinggian air pada kolam hisap.

Cara darurat (by-pass/emergency mode)

Masing-masing pompa dapat dioperasikan atau dihentikan hanya dengan cara menekan tombol On-Off, akan tetapi kerjanya tidak tergantung dari batas ketinggian air pada kolam hisap. Pada bagian sisi luar dari panel kontrol pompa ini minimal harus dilengkapi dengan peralatan monitoring lainnya antara lain : Ampere meter untuk masing-masing phasa dari sumber daya Ampere meter untuk masing-masing pompa

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-82

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Voltmeter, Kilowatt meter dan Frekuensi meter Indikator penunjuk ketinggian permukaan air (water level indicator) Indikator penunjuk gangguan (Alarm indicator) Indikator penunjuk kerja pompa (Pump indicator) Saklar pemilih model operasi (operation mode selctor switch) Tombol Start dan stop pompa Tombol Stop untuk sirine gangguan (horn) Tombol untuk pengujian lampu indicator (test light) Tombol untuk pengujian sirine gangguan (test horn)

Tombol reset gangguan. Kelengkapan lain dari panel kontrol pompa yang harus disertakan pada saat memasok panel kontrol ini adalah : Sensor ketinggian permukaan air berbentuk batang yang terbuat dari bahan logam anti karat (stainless steel) dan dipasang pada kolam hisap lengkap dengan pipa pelindung terhadap kotoran atau sampah.

9. Pekerjaan Pemasangan Pompa 1. Gambar-gambar pemasangan instalasi secara detail harus dibuat oleh Kontraktor sebelum melaksanakan pekerjaan pemasangan pipa. Hal ini harus diketahui dengan tepat letak/ukuran lubang pada dinding dan lantai yang diperlukan untuk lewatnya pipa-pipa. 2. Kontraktor bertanggung jawab atas ukuran (dimensi) dan lokasi lubanglubang tersebut, dan apabila perlu harus melakukan pembobokan/penambalan tanpa biaya tambahan. 3. Kontraktor berkewajiban mengajukan ijin pemasangan pompa driange dan instalasinya sebelum pekerjaan dilaksanakan, dengan melengkapi gambar-gambar shop drawing yang telah disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan Pengawas atau Direksi. 4. Pipa-pipa tidak boleh menembus kolom, kepala kolom, atau balok, tanpa mendapat ijin tertulis dari Konsultan pengawas atau Direksi. 5. Pompa harus dipasang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh pabrik. 4. Testing dan Commisioning a. Sebelum melaksanakan pengujian, Kontraktor harus merencanakn jadwal pemeriksaan dan pengujian untuk mendapat persetujuan dari konsultan pengawas atau Direksi. b. Seluruh sistem dan pekerjaan intalasi harus diperiksa, diteliti dan diuji dengan baik sebelum diserahkan dan pelaksanaanya harus
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-83

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

menyertakan pengawas dan bila perlu dengan petugas dari instansi terkait yang berwenang. c. Seluruh sistem pemipaan harus diuji dan tidak boleh ada kebocoran. d. Apabila pada waktu pemeriksaan atau pengujian ternyata ada kerusakan atau kegagalan dari bagian instalasi, maka Kontraktor harus mengganti bagian atau bahan yang rusak, tersebut tanpa dipungut biaya dan pengujian dilakukan lagi sampai berhasil dengan baik. 5. Pekerjaan Pemasangan a. Gambar-gambar pemasangan instalasi secara detail harus dibuat oleh Kontraktor sebelum melaksanakan pekerjaan pemasangan. b. Kontraktor tertanggung jawab atas ukuran (dimensi) dan apabila perlu Kontraktor harus melakukan pembaikan-perbaikan/penyempurnaanpenyempurnaan tanpa biaya tambahan. c. Kontraktor berkewajiban mengajukan ijin pelaksanaan pekerjaan pemasangan sebelum pekerjaan dilaksanakan, dengan melengkapi gambar-gambar shop drawing yang telah disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan Pengawas atau Direksi. 6. Pemeriksaan dan Pengujian a. Peralatan yang disuplai harus ditest oleh Petugas Pabrik/ agen dengan prosedur/ketentuan test yangsudah baku. b. Peralatan yang disuplai ini harus disertai dengan test certificate yang asli dari pabrik pembuat dan surat keterangan lain yang mendukung pengesahan barang dari pabrik pembuat. Surat keterangan dari luar pabrik tidak diakui kebenarannya. c. Seluruh biaya untuk pengujian tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor. d. Sesudah pengujian selesai Kontraktor diwajibkan mengadakan pelatihan untuk petugas pengelola yang ditunjuk sampai petugas tersebut dianggap cukup mahir menangani pengoperasian dan pemeliharaan peralatan. e. Pelatihan untuk teknisi dilaksanakan oleh Kontraktor dan dilaksanakan sejak mulai pemasangan peralatan. Pelatihan secara keseluruhan sistem akan dilaksanakan bila pekerjaan instalasi telah selesai dikerjakan dan ditest. f. Pihak Pemilik proyek harus sudah menyiapkan petugas/teknisi yang akan dilatih untuk keperluan ini. g. Kontraktor diwajibkan membuat atau menyerahkan : 1. Sertifikat uji dari pabrik pembuatnya (Factory Teest Certificate) 2. Sertifikat garansi dari pabrik pembuatnya 3. Certificate Country of Origin
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-84

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

4. Buku petunjuk untuk pengoperasian dan pemeliharaan selanjutnya. 7. Jaminan dan Masa Pemeliharaan a. Peralatan yang disuplai harus diserahkan dalam kondisi baik, baru tanpa cacat dan garansi penuh. Pemilik harus dibebaskan dari segala bentuk pembayaran akibat segala kerusakan pada pemakaian normal untuk waktu 1 tahun setelah pengesahan penyerahan pekerjaan. b. Jaminan pekerjaan instalasi dan peralatan yang disuplai Kontraktor termasuk material instalasi/pemipaan menjadi tanggung jawab Kontraktor. c. Jaminan/garansi peralataan yang disuplai Kontraktor diatur dalam perjanjian tersendiri antara Kontraktor dan Pemilik. d. Masa pemeliharaan untuk seluruh Pekerjaan instalasi dan pemasangan ditetapkan selama 4 tahun setelah barang diserahkan kepada Pemilik/Pengawas dan disesuaikan dengan masa pemeliharaan pekerjaan Sipil/arsitektur. e. Dalam masa pemeliharaan apabila ditemukan instalasi yang rusak atau berfungsi kurang baik maka Kontraktor harus segera memperbaiki atau mengganti peralatan tersebut sampai dapat berfungsi dengan baik. 8. Lain-lain a. Peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan, walaupun tidak digambarkan atau disebutkan dalam spesifikasi ini, harus disediakan oleh Kontraktor, sehingga instalasi dapat bekerja dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan tanpa tambahan biaya. Kontraktor harus memintakan ijin-ijin yang mungkin diperlukan untuk menjalankan instalasi yang dinyatakan dalam spesifikasi ini atas tanggungan/biaya Kontraktor kepada instansi berwenang yang terkait dengan Pekerjaan ini.

b.

9. Manual Overhead Travelling Crane Pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan satu (1) unit manual overhead travelling crane merk Kone, Daichi atau setara di rumah pompa dengan kapasitas pengangkatan minimal 5 ton dengan jenis Single Girder. Span dan panjang untuk travelling disesuaikan dengan ukuran rumah pompa. Spesifikasi teknik overhead crane adalah sebagai berikut :

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-85

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Uraian Kapasitas Lift Span Lenght Type Operasional a. Lift b. Travelling 5 ton 5m Sesuai jarak kolom Sesuai jarak kolom Manual Manual

10. Genset 1. Lingkup Pekerjaan Lingkup pekerjaan meliputi pengadaan Genset 650 KVA yang memenuhi spesifikasi sebagai berikut : a. Genset yang diperlukan adalah jenis continuous dengan out put minimal 520 kW / 650 kVA. b. Genset yang diperlukan adalah Genset type silent 650 KVA. c. Genset yang dimaksud dilengkapi dengan sound proofing, tingkat
kebisingan 75 dB @ 7 m.

d. Genset yang dimaksud dioperasikan secara single atau pararel didalam ruangan 27 derajad celcius / 60 RH diiklim tropis (tropical). e. Genset yang handal, mudah dioperasikan, efisien biaya perawatan, kondisi purna jual terjamin. f. Engine : 1). Spesifikasi : Engine data Manufacturer / Model : Cylinder Arrangement : Displacement : Bore and Stroke : Compression ratio : 16 : 1 Rated RPM : 1500 Rpm Piston Speed : Max. Prime Power at rated RPM : Min. 110% dari 520kW Frequency regulation, steady state : +/-0. 5% BMEP : Governor : type : Elec Exhaust system Exhaust as flow Exhaust temperature Max back pressure

: : 450 500C : 450 550mm

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-86

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Fuel system 110% (Stand By power ) 100% (of the Prime Power) 75% (of the Prime Power) 50% (of the Prime Power) Total fuel flow Coolant system Radiator & engine capacity Max water temperature Outlet water temperature Fan power Fan air flow Available restriction on air flow Type of coolant Thermostat

: : : : :

155 165L/h 140 150L/h 103 113L/h 68.5 77.5L/h 420 460L/h

: : : : : : : :

95 97C 90 95C 70-90 C

2). Spesifikasi tambahan Engine dan Radiator

: : Heat shield protection Oil drain extention Heavy duty air filter Lube oil drain pump Radiator core guard Battery charger : Anti condensation heater : Paralleling system Remote annunciator Oil temperatur shutdown Key start panel : Residential silencer Critical cilencer Frexible exhaust conn. : Daily tank dengan kapasitas minimum 250 liter. Water separator fuel filter

Alternator Control panel

Exhaust

Fuel

g. Alternator : 1). Spesifikasi : Manufacturer Alternator Model/Series Power Rated Voltage / Frequency (Hz) Power Factor (Cos Phi) Ration Speed

: : : : :

520kW / 650 kVA 380 V, 3 Phase / 50 0.8 1500 Rpm VI-87

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Voltage Regulation 0 to 100% load Voltage Regulation Insulation : Class, temperature rise Over speed Altitude Total Harmonics (TGH/THC) Wave form: NEMA =TIF-TGH/THC Recovery time 2. Persyaratan Teknik

: : : : : : : :

1% IP 21 drip proof. H/H 2250 RPM < 1000 m < 4% < 50 400 600 ms

Spesifikasi Komponen Komponen/spare part : Standar dari manufakturer atau yang disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa. Pengetesan a. Penyedia Barang/Jasa wajib menyelenggarakan tes kinerja untuk peralatan utama Genset type silent 650 KVA, panel dan lain-lain yang dilakukan oleh penyedia barang/jasa. b. Setiap hasil test/pengujian harus mendapat persetujuan dari pihak pengguna jasa & konsultan. c. Setiap ada ketidak sesuaian antara pengetesan dengan desain, Penyedia Barang/Jasa harus melakukan konsultasi dengan pihak pengguna jasa & konsultan. Sertifikat Penyedia Barang/Jasa diwajibkan membuat atau menyerahkan : a. Sertifikat uji dari pabrik pembuat (Factory Test Certificate) b. Sertifikat garansi dari pabrik pembuat c. Sertifikat Country Origin. U. PEKERJAAN BETON PRECAST PRESTRESS 1. Persyaratan yang berkenaan dengan beton pada umumnya harus diperhatikan dalam hal pekerjaan beton Prestress. 2. Yang termasuk dalam beton Prestress ini terbatas pada seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar : - Concrete Sheet Pile / Flat Sheet Pile - Tiang Pancang / Concrete Pile 3. Beton Prestress untuk Concrete Sheet Pile / Flat Sheet Pile dan Concrete Pile harus dibuat oleh pabrikan yang memiliki Quality System atau jaminan kualitas dan atau telah memiliki sertifikasi ISO. 4. Sebagai syarat diterimanya beton precast pihak Penyedia Barang / Jasa diwajibkan mengundang pihak Pengguna Barang / Jasa untuk melakukan inspeksi setiap tahapan pelaksanaan pabrikasi. Pihak

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-88

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Pengguna Barang / Jasa akan menolak jika mutu dari pabrikan tidak sesuai mutu dan spesifikasi teknis. 5. Unit beton Prestress harus diangkat pada titik-titik pengangkatan yang ditentukan dalam gambar kerja. Apabila tidak ditunjukkan secara spesifik dalam gambar, kontraktor harus mengusulkan dalam waktu 7 hari sebelum pelaksanaan dimulai. Gambar shop drawing lengkap dengan bentuk kait yang akan ditanam dalam beton. Unit beton pracetak baru boleh diangkat dan dipasang pada pekerjaan permanen setelah kekuatan mencapai kekuatan karakteristik yang disyaratkan, yang ditunjukan dari hasil uji tekan silinder dan disetujui Direksi. Kontraktor harus mengetahui cara mengangkat dan memuat. Mengangkat, membongkar dan menumpuk seluruh unit beton Prestress dan menyerahkannya untuk disetujui Direksi. V. PEKERJAAN PINTU AIR 1. LINGKUP PEKERJAAN Lingkup pekerjaan meliputi Pengadaan dan pemasangan pintu air yang memenuhi spesifikasi sebagai berikut : a. Pintu air yang diperlukan adalah Pintu air yang dapat menerima beban tekanan air setinggi 4 m dengan berbagai posisi. b. Type Pintu air adalah elektrik dengan beban pemberat sebagai peringan beban pada saat pintu dibuka/ditutup. c. Setiap unit Pintu air diperlengkapi dengan kait angkut (lifting lag) pada sisi-sisinya. d. Panjang dan lebar Pintu air disesuaikan dengan gambar perencanaan. e. Pintu air yang handal, mudah dioperasikan dan efisien biaya perawatan. f. Perhitungan dan gambar desain Pintu air diajukan ke Pengguna Jasa atau Konsultan Perencana untuk informasi. g. Material yang digunakan adalah plat SS 400 atau SS 41. Ketebalan plat minimum 12 mm dan faktor korosi harus dimasukkan ke dalam perhitungan ketebalan minimum spesifik. h. Finishing Pintu air harus dicoating anti karat. i. Pintu air yang didesain dan dipabrikasi harus memenuhi standar yang telah ditentukan dalam dokumen tender ini. j. Pengelasan Pintu air merujuk pada ASME Sec. IX atau standar yang telah ditentukan dalam dokumen tender ini. 2. PERSYARATAN TEKNIK Spesifikasi Komponen Komponen/spare part : Standar dari manufakturer atau yang disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa. Penggunaan komponen-komponen dalam pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti pedoman atau petunjuk dari pabrik yang memproduksinya. Kelalaian dalam hal ini merupakan tanggung jawab Penyedia Barang/Jasa.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-89

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

Pengetesan a. Penyedia Barang/Jasa wajib menyelenggarakan tes. b. Hasil test/pengujian harus mendapat persetujuan dari pihak pengguna jasa & konsultan pengawas. Sertifikat Penyedia Barang/Jasa diwajibkan membuat atau menyerahkan : a. Sertifikat material/plat yang digunakan. b. Sertifikat tenaga kerja/tenaga ahli las yang diperkerjakan dan masih berlaku saat pelaksanaan pekerjaan ini.

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

VI-90

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS DA FTAR ISI A. Data Proyek .................................................................................................. VI-1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Lingkup Pekerjaan ......................................................................................... VI-1 Rencana Kerja............................................................................................... VI-1 Tempat Kerja ................................................................................................. VI-1 Tanggung Jawab Kontraktor ......................................................................... VI-2 Tenaga Kerja ................................................................................................. VI-2 Satuan Ukuran .............................................................................................. VI-2 Perintah Untuk Pelaksanaan ......................................................................... VI-2 Pekerjaan Dan Bahan Bahan Yang Termasuk Didalam Harga Satuan. ............................................................................................... VI-2 Laporan. ........................................................................................................ VI-3 GambarGambar Dan Ukuran ...................................................................... VI-3 Wilayah Kerja ................................................................................................ VI-3 Bahan-Bahan Dan Mutu Pekerjaan ............................................................... VI-4 Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaan Kering ........................................... VI-4 Pembongkaran Struktur Yang Ada ................................................................ VI-5 Kewajiban Kontraktor Untuk Material Yang Diselamatkan Dan Struktural Yang Ada ............................................................................... VI-5 Pengaturan Pembuangan Sisa-Sisa ............................................................. VI-6 Prosedur Pembongkaran............................................................................... VI-6 Pemindahan Dari Material Bongkaran ........................................................... VI-6

B. Pekerjaan Persiapan ................................................................................... VI-7 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pembersih Lapangan .................................................................................... VI-7 Pengukuran ................................................................................................... VI-7 Pematokan Dan Bouwplank .......................................................................... VI-9 Mobilisasi....................................................................................................... VI-9 Kantor Lapangan/ Ruangan Direksi ............................................................ VI-10 Pengaturan Lalu Lintas................................................................................ VI-11 Papan Nama Proyek ................................................................................... VI-12 Gambar-Gambar Yang Harus Dipersiapkan Oleh Kontraktor...................... VI-13

C. Sarana Penunjang Pekerjaan ................................................................... VI-16 1. 2. 3. Photo Dokumentasi ..................................................................................... VI-16 Jalan Kerja .................................................................................................. VI-17 Pengeringan Atau Coffering Dan Dewatering ........................................... VI-18

D. Pekerjaan Tanah ........................................................................................ VI-19 1. 2. 3. 4. 5. 6. Umum .......................................................................................................... VI-19 Penyelidikan Lapangan ............................................................................... VI-20 Ijin Kerja ...................................................................................................... VI-20 Penurapan Dan Perlindungan ..................................................................... VI-20 Pengendalian Air ......................................................................................... VI-20 Pekerjaan Galian ......................................................................................... VI-21
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

7. 8. 9. E. 1. 2. 3. 4. 5. 6. F. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. A. B. C. D. E. F. G.

Urugan Dan Timbunan Tanah ..................................................................... VI-23 Pengurugan Kembali Pada Bangunan-Bangunan Dan Pada Pekerjaan Pasangan Batu .......................................................... VI-25 Kelebihan Galian Dan Pembuangan Sisa Galian ........................................ VI-25 Pekerjaan Pondasi Batu Kali .................................................................... VI-25 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-25 Syarat-Syarat Bahan ................................................................................... VI-25 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-25 Pembuatan Lubang Suling-Suling ............................................................... VI-26 Pekerjaan Akhir Pasangan Batu .................................................................. VI-26 Pekerjaan Trucuk Kayu Gelam .................................................................... VI-27 Pekerjaan Beton ........................................................................................ VI-27 Umum .......................................................................................................... VI-27 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-29 Pencampuran Bahan ................................................................................... VI-33 Rencana Campuran Beton .......................................................................... VI-33 Workability (Kelecakan Beton) .................................................................... VI-33 Contoh Campuran Beton ............................................................................. VI-33 Batasan Rasio Campuran Air/Semen .......................................................... VI-34 Pengadukan Beton ...................................................................................... VI-34 Persyaratan Pelaksanaan ........................................................................... VI-36 Siar-Siar Konstruksi ..................................................................................... VI-36 Pembuatan Bekisting................................................................................... VI-37 Pembongkaran Bekisting............................................................................. VI-38 Kerusakan Pada Permukaan Bekisting ....................................................... VI-38 Pengecoran Beton ....................................................................................... VI-39 Beton Ready Mix ......................................................................................... VI-43 Perawatan (Curing) ..................................................................................... VI-44

G. Pekerjaan Pasangan Dinding Bata........................................................... VI-44 1. 2. 3. Ruang Lingkup Pekerjaan ........................................................................... VI-44 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-45 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-45

H. Pekerjaan Plesteran .................................................................................. VI-46 1. 2. 3. I. 1. 2. 3. J. 1. Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-46 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-46 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-46 Pekerjaan Rabat Beton ............................................................................. VI-47 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-47 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-47 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-48 Pekerjaan Cat Dinding Dan Langit-Langit Beton Exposed .................... VI-48 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-48
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

ii

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

2. 3.

Syarat-Syarat Bahan ................................................................................... VI-48 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-48

K. Pekerjaan Pengecatan .............................................................................. VI-49 1. 2. 3. L. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-49 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-49 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-50 Pekerjaan Kusen, Pintu, Jendela, Perlengkapan Kunci Dan Penggantung ........................................................................... VI-51 Hal-Hal Umum ............................................................................................. VI-51 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-51 Kualitas Dan Jenis Kayu.............................................................................. VI-51 Ukuran ......................................................................................................... VI-52 Permukaan Luar .......................................................................................... VI-52 Pengawetan/Perlindungan Kayu ................................................................. VI-52 Pembuatan .................................................................................................. VI-52

M. Pekerjaan Daun Pintu Panel ..................................................................... VI-53 1. 2. 3. Pengendalian Pekerjaan ............................................................................. VI-53 Syarat-Syarat Bahan ................................................................................... VI-53 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-53

N. Pekerjaan Kusen ....................................................................................... VI-53 1. 2. 3. Persyaratan Umum ..................................................................................... VI-53 Penyempurnaan (Finishing) ........................................................................ VI-54 Memasang Dan Menggantung Pintu Dan Jendela ...................................... VI-54

O. Pekerjaan Pemasangan Kaca ................................................................... VI-54 1. 2. 3. P. 1. 2. Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-54 Syarat-Syarat Bahan ................................................................................... VI-54 Pemasangan Kaca Pada Kusen Kayu ........................................................ VI-54 Pekerjaan Kunci-Kunci Dan Alat Penggantung ...................................... VI-55 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-55 Bahan .......................................................................................................... VI-55

Q. Pekerjaan Lantai Keramik ......................................................................... VI-55 1. 2. 3. 4. R. 1. 2. Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-55 Persyaratan Bahan ...................................................................................... VI-55 Syarat-Syarat Pelaksanaan ......................................................................... VI-55 Pekerjaan Waterproofing ............................................................................ VI-56 Spesifikasi Pekerjaan Plumbing .............................................................. VI-57 Spesifikasi Umum ........................................................................................ VI-57 Spesifikasi Teknis ........................................................................................ VI-57
DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

iii

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DINAS BINA MARGA DAN PEMATUSAN

S. 1. 2. 3. 4. 5. 6. T. 1. 2. A. B. C. D. 3. A. B. C. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1. 2. 11.

Spesifikasi Pekerjaan Mekanikal & Elektrikal ......................................... VI-60 Gambaran Umum ........................................................................................ VI-60 Skope Kontrak Pekerjaan ............................................................................ VI-60 Gambar Kontrak .......................................................................................... VI-60 Gambar-Gambar Pelaksanaan .................................................................... VI-61 Metode Pelaksanaan ................................................................................... VI-61 Hak Untuk Merubah Disain, Gambar Dan Material ..................................... VI-61 Persyaratan Teknis Pelaksanaan Dan Penyelesaian Pekerjaan Instalasi Pompa Air ................................................................. VI-77 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-77 Spesifikasi Teknik Pompa Lumpur .............................................................. VI-77 Pompa Lumpur ............................................................................................ VI-77 Elektromotor : .............................................................................................. VI-77 Pipa Buang : ................................................................................................ VI-78 Panel Control: .............................................................................................. VI-78 Spesifikasi Teknis Pompa Banjir ................................................................. VI-78 Pompa ......................................................................................................... VI-78 Elektromotor: ............................................................................................... VI-78 Pipa Kolom. (Seperti Yang Terlihat Dalam Gambar) ................................... VI-79 Testing Dan Commisioning ......................................................................... VI-83 Pekerjaan Pemasangan .............................................................................. VI-84 Pemeriksaan Dan Pengujian ....................................................................... VI-84 Jaminan Dan Masa Pemeliharaan .............................................................. VI-85 Lain-Lain...................................................................................................... VI-85 Manual Overhead Travelling Crane ............................................................. VI-85 Genset ......................................................................................................... VI-86 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-86 Persyaratan Teknik ..................................................................................... VI-88 Pekerjaan Sound Proofing.................................. Error! Bookmark not defined.

U. Pekerjaan Beton Precast Prestress ......................................................... VI-88 V. 1. 2. Pekerjaan Pintu Air.................................................................................... VI-89 Lingkup Pekerjaan ....................................................................................... VI-89 Persyaratan Teknik ..................................................................................... VI-89

DOKUMEN PENGADAAN BARANG / JASA

iv