Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN ANALISIS KETIDAKPASTIAN 1.

Pendahuluan Banyak pernyataan bilangan yang dinyatakan secara eksak seperti Ahmad memiliki tiga saudara laki-laki, 2 + 2 = 4, dan = 3.1415926, akan tetapi banyak pula bilangan yang dinyatakan tidak eksak. Jika Anda mencoba mengukur diameter seperempat lingkaran, bagaimanapun teknik atau alat yang dipakai, Anda tetap tidak mungkin menyatakan secara pasti nilai diameternya. Ketika kita mengukur nilai suatu besaran yang sama dengan metode yang berbeda, atau melakukan pengukuran ulang dengan metode yang sama mungkin kita akan mendapatkan hasil pengukuran yang berbeda. Dengan kata lain semua pengukuran memiliki beberapa derajat ketidakpastian. Analisis kesalahan atau sering disebut analisis ketidakpastian yakni merupakan proses melengkapi pernyataan nilai suatu hasil pengukuran dilengkapi pernyataan tentang seberapa baik pengukurannya. Analisis kesalahan sangat penting untuk menafsirkan hasil suatu percobaan. Seandainya kita ingin mengetahui apakah masa suatu benda berpengaruh terhadap lamanya waktu jatuh ke bumi. Anda mengukur waktu yang dibutuhkan batu bata 0,98 s dan kelereng 0,86 s pada jarak yang sama. Benda manakah yang memiliki waktu lebih cepat untuk jatuh ke tanah? Jawabannya adalah tergantung bagaimana kehandalan pengukuran waktunya. Apakah waktu-waktu tersebut diukur dengan kehandalan paling dekat pada 0,01s atau 0,1 s? Tanpa analisis ketidakpastian, kita tidak mungkin mengatakan apakah perbedaan antara kedua dua waktu hasil pengukuran tersebut adalah nyata atau karena pengukuran yang tidak eksak.

2. Pelaporan Hasil Pengukuran dan Hasil Eksperimen Ketika seorang ilmuwan melakukan pengukuran atau menghitung suatu nilai besaran dari data prcobaan, mereka biasanya berasumsi bahwa nilainya eksak atau mengacu pada nilai sebenarnya berdasarkan pada bagaimana mereka menentukan apa yang diukur atau dihitung. Biasanya ilmuwan melaporkan hasil pengukurannya

dengan memakai jangkauan/range nilai dimana diharapkan nilai sebenarnya berada pada range tersebut. Cara umum yang biasa dipakai untuk menunjukkan nilai range ini adalah hasil pengukuran = perkiraan terbaik ketidakpastian. Sebagai contoh misalkan nilai suatu pengukuran dinyatakan dengan 5,07 g 0,02 g. Berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa peneliti berkeyakinan bahwa nilai sebenarnya untuk besaran yang diukur berada diantara 5,05 g dan 5,09 g. Ketidakpastiannya adalah perkiraaan terbaik dari peneliti tentang seberapa jauh hasil pengukurannya terhadap nilai sebenarnya. Ketidakpastian pengukuran seharusnya dibulatkan pada angka penting tertentu. Ketidakpastian pengukuran secara alami tidaklah eksak. Ketidakpastian hasil pengukuran biasanya dinyatakan dalam satu angka penting (misalnya 0.05 s). Jika ketidakpastian dimulai dengan satu, banyak ilmuwan menyatakan jika

ketidakpastianya dinyatakan dengan angka satu maka ketidakpastiannya dinyatakan dengan dua angka penting (misalkan: 0.0012 kg). Salah: 52.3 cm 4.1 cm Benar: 52 cm 4 cm Selalu bulatkan hasil pengukuran dengan jumlah angka desimal sama dengan ketidakpastiannya.

3. Membandingkan Hasil Eksperimen Perkiraan ketidakpastian adalah sangat penting untuk membandingkan hasil eksperimen. Apakah pengukuran 0,86s dan 0,98 sama atau berbeda? Jawabannya tergantung pada seberapa eksak kedua angka. Jika ketidakpastiannya cukup besar, tidaklah mungkin mengatakan apakah perbedaan diantara kedua angka tersebut nyata atau hanya karena kesalahan pengukuran. Oleh karena itulah memperkirakan ketidakpastian menjadi begitu penting. Dalam pembandingan hasil eksperimen in dikenal dua istilah yaitu pengukuran yang bersesuaian dan hasil pengukuran yang tidak bersesuaian. Sebagai contoh, 0,86 s 0,02 s dan 0,98 0,02 s termasuk pengukuran yang tidak bersesuaian dan 0,86 s0,08 s dan 0,98 0,08 s termasuk

pengukuran yang bersesuaian. Jika range nilai dua pengukuran tidak tumpang tindih (over lap), pengukurannya adalah tidak bersesuaian. Jika rangenya tumpang tindih maka hasil pengukurannya dikatakan konsisten. 4. Perbedaan antara Akurasi dan Presisi Akurasi menyatakan seberapa dekat nilai pengukuran dengan nilai sebenarnya. Presisi adalah ukuran seberapa baik hasilnya dapat ditentukan. Perhatikan bahwa suatu pengukuran dapat presisi tetapi tidak akurat. Untuk menjelaskan konsep akurasi dan presisi akan kita gunakan analogi olah raga golf. Golf adalah permainan untuk konsistensi dan target. Seorang pemaian golf harus berusaha memasukan bola ke dalam lubang atau menempatkan bola sedekat mungkin dari lubang golf. Tiga pegolf menembakkan bola dengan dengan hasil sebagai berikut

Gambar 1. Analogi Presisi dan Akurasi dalam Permainan Golf Dalam analogi ini terdapat satu kelemahan yaitu dalam ilmu pengetahuan (tidak seperti golf) yaitu peneliti tidak mengetahui secara pasti posisi targetnya. Biasanya ilmuwan yakin hasil pengukuran/eksperimennya adalah akurat jika hasil eksperimen bersesuaian dengan beberapa hasil percobaan yang dilakukan peneliti lain.

Contoh 1 Seandainya Anda ingin mengukur masa suatu cincin emas yang akan dijual kepada seorang teman sehingga kita dapat memberikan harga yang sesuai. Perhatikan tiga cara menentukan masa cincin berikut: 1. Metode 1 Pegang cincin dengan tangan, Anda memperkirakan bahwa masa cincinya berada diantara 10 g sampai 20 gram. 2. Metode 2 Anda memakai timbangan elektronik yang memberikan pembacaan hasil 17,43 g. Untuk memastikan bahwa timbangannya handal, Anda menggunakan timbangan yang sama sehingga diperoleh beberapa nilai pengukuran yaitu 17,46 , 17,42 dan 17,44 g sehingga masa rata-ratanya 17,44 0.02 g. 3. Metode 3 Karena ingin jujur, Anda menggunakan timbangan lain, dengan pengukuran berulang timbangan ini memberikan hasil 17,22 g, 17,21 g, 17,21 g dan 17,21 g. Dari ketiga metode di atas yang menunjukkan hasil yang paling presisi adalah metode 3. Kedua timbangan tersebut dapat memberikan pembacaan paling dekat 0,01 g, timbangan pada metode ketiga juga memberikan hasil yang lebih konsisten. Dari ketiga metode di atas agak susah menentukan hasil yang paling akurat. Hanya ada satu cara untuk menilai akurasi suatu pengukuran yaitu dengan membandingkannya dengan suatu nilai standar. Pada keadaan ini, adalah mungkin untuk mengkalibrasi timbangan dengan masa standar yang akurat pada toleransi kecil. Kalibrasi timbangan seharusnya mengeliminasi ketidaksesuaian diantara pembacaan dan melengkapai masa pengukuran yang lebih akurat. Catatan: Ketidaktepatan metode 1 membuat akurasi pengukuran menjadi tidak relevan, meskipun masa cincin berada di antara 10 g sampai 20 g namun metode 1 tidak cukup presisi untuk memperkirakan masa cincin.

5. Kesalahan Acak dan Kesalahan Sistematis Semua ketidakpastian pengukuran disebabkan kesalahan acak atau sistematis. Kesalahan acak merupakan flutuasi statistik (arah) pada data pengukuran karena keterbatan presisi alat ukur. Kesalahan acak biasanya terjadi akibat ketidakmampuan peneliti untuk melakukan pengukuran yang sama untuk memperoleh hasil eksak yang sama. Sebaliknya kesalahan sistematis adalah dapat disebabkan ketidakakuratan yang konsisten pada arah yang sama. Kesalahan sistematis biasanya disebabkan suatu masalah yang tetap berada dalam keseluruhan eksperimen. Catatan: Kesalahan sistematis dan acak mengacu pada masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pengukuran. Kesalahan yang dibuat dalam perhitungan atau pembacaan instrument tidak dimasukkan/dipertimbangkan dalam analisis kesalahan. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa peneliti berhati-hati dan berkompeten. Berikut akan disajikan langkah-langkah mengurangi kesalahan oleh kesalahan acak dan kesalahan sistematis.

Tabel 1. Kesalahan Acak dan Sistematis Jenis Kesalahan Kesalahan Acak Contoh Anda mengukur masa cincin 3 kali dengan memakai neraca yang sama sehingga diperoleh hasil yang agak berbeda yaitu 17,46 kg, 17,42 kg, dan 17,44 kg Cara Mengurangi Mengambil data lebih banyak. Kesalahan acak dapat dievaluasi dengan menggunakan analisis statistik dan dapat dikurangi dengan mengambil rata-rata data pengamatan (data harus banyak) Kesalahan sistematis sulit dideteksi dan dianalisis menurut analisis statistik karena semua data tidak pada arah yang sama (ada yang terlalu tingi adapula yang berada terlalu rendah). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesalahan sistematis adalah dengan mengkalibrasi alat ukur sebelum digunakan.

Kesalahan Sistematis

Skala elektronik yang dipakai mengukur 0,05 g terlalu tinggi untuk semua pengukuran masa ( biasanya disebabkan alat tidak dikalibrasi secara benar)

6. Perkiraan Ketidakpastian untuk Pengukuran Tunggal Pada banyak kasus, pengukuran tunggal suatu besaran cukup untuk memenuhi tujuan pengukuran. Namun jika hanya melakukan satu kali pengukuran bagaimana menyatakan ketidakpastian pengukurannya? ketidakpastian pengukuran tunggal dibatasi oleh presisi dan akurasi alat ukur. Contoh 2 misalkan kita akan mengukur diameter bola tenis dengan menggunakan meteran gulung. bagimanakah ketidakpastian pengukurannya? meskipun meteran dapat

membaca sampai dengan ketelitian 0,1 cm kita tidak dapat menentukan diameter sampai ketelitian 0,1 cm.

Apakah faktor-faktor yang membatasi kemampuanmu menentukan diameter bola tenis? Bagaimanakah menentukan ketidakpastian pengukurannya?

Penyelesaian adalah cukup sulit untuk menentuan tepi bola dengan meteran, meskipun skala meteran adalah 0,1 cm hanya tanda 0,5 cm yang dapat dilihat secara jelas. Kita dapat menentukan pengukuran dimana tepi bola berada pada nilai setengah dari tanda tersebut atau sekitar 0,2 cm. Dengan demikian, tepi kiri adalah 50,2 cm dan tepi kanannya adalah 56,5 cm sehingga diameter bola adalah sekitar 6.3 cm 0.2 cm. Selain dengan cara di atas, dalam menganalisis pengukuran tunggal banyak ilmuwan yang menggunakan cara lain dalam melaporkan ketidakpastian

pengukurannya. Keterbatasan skala alat ukur merupakan sebab mengapa setiap pengukuran dihinggapi ketidakpastian. Nilai panjang x sampai dengan harga mm kita ketahui dengan pasti, bacaan selebihnya adalah dugaan saja, maka bersifat sangat subyektif dan patut diragukan kebenarannya. Nilai ketidakpastian x pada pengukuran tunggal biasanya dinyatakan sebagai NST (nilai skala terkecil). Contoh 3 Arus yang terukur pada sebuah ampermeter yang terlihat pada jarum penunjuk tebal/kasar tampak seperti gambar berikut.

mA 2,0 2,5 3,0

berdasarkan kaidah di atas maka hasil pengukurannya dinyatakan dengan persamaan I = (2,6 0,05)mA. Dari pernyataan ini kita dapat menduga bahwa arus listrik memiliki nilai sekitar 2,6 mA, yakni antara 2,55 sampai 2,65 mA. Dari hasil pengukuran ini kita dapat berkeyakinan bahwa besarnya arus listrik tidak kurang dari 2,55 mA dan tidak lebih dari 2,65 mA.

7. Perkiraan Ketidakpastian untuk Pengukuran Berulang (Multiple Measurements) a. Peningkatan Presisi data Pengukuran dengaan Pengukuran berulang Salah satu cara untuk menyakinkan hasil pengukuran adalah dengan mengulang pengukuran yang sama untuk beberapa kali. Sebagai contoh, salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian pengukuran dengan stopwatch adalah dengan melakukan pengukuran yang sama untuk beberapa kali kemudian mencari nilai rataratanya. Pengukuran berulang juga memungkinkan kita memperkirakan

ketidakpastian pengukuran dengan mengecek konsistensi hasil pengukuran. Seberapa presisi hasil pengukuran waktunya tergantung pada sebaran data pengukurannya (sering diukur secara statistik dengan menggunakan deviasi standar) dan jumlah (N) menyatakan jumlah pengukuran yang dilakukan. Sebagai contoh Ahmad mengukur waktu yanng dibutuhkan sebuah bola logam jatuh dari sebuah meja menuju lantai dengan menggunakan stopwatch yang sama. Ahmad memperoleh data berikut: 0.32 s, 0.54 s, 0.44 s, 0.29 s, dan 0.48 s. Dengan melakukan lima kali pengukuran, Ahmad secara signifikan mengurangi ketidakpastian dalam pengukuran waktunya. Ahmad juga dapat memperkirakan secara kasar ketidakpastian datanya yakni waktu sebenarnya yang dibutuhkan bola logam untuk jatuh mencapai lantai adalah antara

0,29 s sampai 0,54 s. Analisis statistik dibutuhkan untuk menyatakan ketidakpastian pengukuran secara lebih baik. b. Beberapa Konsep Statistik Ketika kita dihadapkan pada kasus pengukuran berulang, maka terdapat tiga konsep statistik penting yaitu rata-rata (mean) deviasi standar dan kesalahan standar (standar error). Ketiga konsep statistik tersebut secara lengkapakan diuraikan dalam tabel berikut: Tabel 2. Daftar Istilah Statistik dalam Pengkuran Berulang
Statistik Rata-rata Deviasi standar Definisi Definisi Statistik Perkiraan nilai terbaik Nilai tengah dari pengukuran Ukuran sebaran data Kita dapat yakin sekitar (70%) bahwa jika kita mengulangi pengukuran yang sama sekali lagi maka hasil pengukuran berikutnya akan lebih kecil daripada nilai deviasi standar dari rata-ratanya Perkiraan Kita dapat yakin sekitar (70%) bahwa ketidakpastian pada jika kita mengulangi pengukuran rata-rata pengukuran dengan jumlah pengulangan yang sama maka rata-rata nilai pengukuran berikutnya akan lebih kecil dari kesalahan standar dari rata-rata nilai eksperimennya Simbol S

Kesalahan standar

SE

Misalkan dari hasil pengukuran waktu Ahmad di atas diperoleh data berikut: S 0,41 s = 0,11 s

SE = 0,05 s

berdasarkan data tersebut, dari nilai deviasi standar tersebut disimpulkan bahwa jika Ahmad menjatuhkan bola lebih dari satu kali, maka akan diperoleh peluang sekitar 70% bahwa pembacaan nilai pada stopwatch akan berada pada nilai deviasi standar dari nilai rata-ratanya. dengan kata lain, selanjutnya jika Ahmad mengukur waktu jatuh akan memiliki peluang sekitar 70% sehingga pembacaan stopwatch akan

berada pada nilai (0.41 s - 0.11 s) dan (0.41 s + 0.11 s).

c. Perambatan Ralat Pada kenyataannya banyak besaran yang akan ditentukan tidak dapat ditentukan secara langsung tetapi harus dihitung dari berbagai besaran-besaran yang diukur secara langsung. Misalkan besaran z merupakan suatu fungsi dari besaran x dan y sehingga dinyatakan sebagai z = z(x,y). Berdasarkan fungsi ini, maka hasil

pengukurannya dinyatakan dengan persamaan

dimana ( ) ( )

untuk menerapkan persamaan di atas, biasanya digunakan pedoman berikut: Jika x dan y ditentukan dari NST maka | | | | | | | |

Jika x dan y ditentukan dari deviasi standar maka ( dengan

dan

menyatakan deviasi standar rata-rata.

Jika x ditentukan dari NST sedangkan y ditentukan dari deviasi standar maka makna statistik keduanya berbeda sehingga sebelumnya harus disamakan terlebih dahulu seperti dengan membuat jaminan x dari 100% menjadi 68%. Adapun persamaan yang dipakai adalah ( ) ( ) ( ) ( )

Contoh 4 Panjang, lebar dan tinggi suatu balok diukur beberapa kali dengan data sebagai berikut. P= (4,000,02) cm, l=(3,000,03) cm dan t= (2,000,04) cm. Tentukan V V. Penyelesaian V = plt = 4,00 x 3, 00 x 2,00 = 24,00 cc V = 0,5817 sehingga V = (24,0 0,6) cc Contoh 5 Anda akan menentukan massa jenis benda tak beraturan dengan mengukur massa dan volumenya. Massa benda diukur sekali dengan nilai m = (5,000,05) g sedang volume diukur beberapa kali dengan hasil (1,000,02) cc. Tentukan massa jenis benda tersebut? Penyelesaian = m/V =5,00/1,00 = 5,00 Karena teknik pengukuran m dan v berlainan maka kita ( ( ) ( ( ) ( ( ) ) )) ( ( ) ( ) ) ( ) ( ( ) ) ( ) ( ) ( ) ( )

= 0,1044 Sehingga = (5,00 0,10 ) g/cc

8. Kesalahan-kesalahan Umum yang Dilakukan Mahasiswa Pada tabel berikut, akan disajikan contoh-contoh kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa dalam melaporkan hasil percobaannya. Pada tabel ini juga disajikan langkah-langkah untuk mencegah atau memperbaiki kesalahan tersebut. Tabel 3. Kesalahan-Kesalahan Umum yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Contoh Pernyataan keterbatasan kemampuan manusia mempengaruhi hasil percobaan Apa yang salah Ungkapan kesalahan manusia adalah konyol. Sumber kesalahan seharusnya dijelaskan secara mendetail sehingga memberi saran memperbaiki kesalahan tersebut. Apa yang harus dilakukan/dihindari Selalu jelaskan suber kesalahan secara spesifik. Sebagai contoh kami mengalami masalah untuk memulai dan menghentikan stopwatch secara tepat pada waktu yang tepat. Jangan ada ungkapan kesalahan manusia. Jangan masukkan salah memasukkan angka pada kalkulator, lupa mengkuadratkan sebagai sumber kesalahan.

Kesalahan manusia dalam membaca hasil pengukuran atau nilai pada grafik.

3.219 s 0.5 s

Kesalahan dalam menganlisis data tidak masuk dalm sumber kesalahan percobaan. Hanya masalah yang berkaitan dengan pelaksanan pengukurn yang dipertimbangkan menjadi sumber kesalahan pengukuran. . Hasil pengukuran tidak boleh memiliki jumlah angka desimal lebih banyak dari pada jumlah angka desimal ketidakpastiannya.

Selalu bulatkan hasil pengukuran sehingga umlah angk desimalnya sama dengan jumlah angka desimal ketidakpastiannya yaitu 3.2 s 0.5 s

4258 nm 523 nm

Perkiraan kesalahan adalah Pembulatan kesalahan pada perkiraan kasar sehingga satu angka penting: 4200 perkiraan kesalahannya nm 500 nm seharusnya dinyatakan dengan satu angka penting