Anda di halaman 1dari 12

Penggunaan Pola Jaranan pada Musik Dangdut Sagita di Kecamatan Pace, Nganjuk

( Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian)

oleh : Dea Tungga Wibawa 102134028

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS BAHASA DAN SENI

JURUSAN SENDRATASIK BAB I


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kebutuhan akan hiburan masyarakat secara global ataupun di Indonesia sendiri saat ini telah dapat dijadikan lahan untuk mencari uang dan juga berekspresi bagi para seniman-seniman ataupun pecintanya. Kebutuhan masyarakat akan hiburan berdampak perkembangan yang sangat pesat pada komponen-komponen dunia hiburan tidak terkecuali dunia musik. Perkembangan yang sangat pesat terlihat dari musik-musik di Indonesia dewasa ini, inovasi-inovasi banyak dilakukan agar penggemar musik tanah air tidak bosan atupun jenuh dengan tampilan-tampilan yang ada. Hal-hal seperti ini muncul selain bertujuan agar penikmatnya tidak bosan juga agar tercipta daya saing, dengan begitu akan muncul ide-ide kreatif dari para seniman untuk menunjukkan eksistensinya di dunia hiburan. Bisa kita lihat pada musik-musik pop saat ini yang mengadopsi bentuk-bentuk musik etnis yang disisipkan dalam aransemen musik mereka. Selain untuk memperkaya tampilan musiknya hal ini juga dapat berperan dalam pelestarian kebudayaan nenek moyang yang sudah mulai terkikis oleh zaman, yang diakulturasikan dengan bentuk musik modern dari barat. Telah kita kenal musisi seperti Balawan, Djaduk , dan masih banyak lagi, mereka telah teruji eksistensinya dalam perkembangan musik di Indonesia (penggunaan instrumen tradisional digabungkan dengan instrumen dari barat, ataupun penggunaan pola tradisional Indonesia pada instrumen barat). Bukan hanya pada musik pop saja, hal seperti yang telah dibahas di atas juga terjadi pada musik dangdut. Musik dangdut dalam beberapa periode belakangan ini telah mengalami perkembangan dan juga inovasi yang cukup pesat. Pernah kita kenal dangdut klasik, dangdut remix, dangdut koplo (ataupun juga biasa disebut dangdut jingkrak yang memiliki sejarah lahir dari tempat prostitusi pada awalnya), dan yang paling baru ini adalah dangdut jaranan yang diperkenalkan oleh grub dangdut asal kabupaten Nganjuk yaitu Sagita. Pada awal kemunculan grub ini dulu ada yang mengenal mereka dengan nama Sagita Budoyo, mungkin karena unsur jaranan yang sangat kental pada sajian musik mereka. Dalam setiap penampilannya grub dangdut Sagita menyisipkan pola jaranan Pegon pada lagu-lagu yang dibawakan, pola musik dalam jaranan (kenong-kempul-

gong) diwakili oleh keyboard. Untuk ketipung yang digunakan ditambah dengan alat musik kendang untuk memperkental nuansa etnisnya (jaranan). Ketertarikan untuk mengangkat judul ini ditulis karena ingin memperdalam dan mengetahui keunikan penggunaan instrumen ataupun pola-pola musik etnis nusantara (jaranan) pada musik-musik modern yang sedang berkembang (dangdut) pada masyarakat Indonesia.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana asal mula grub musik dangdut SAGITA terbentuk ? 2. Apa keunikan yang dimiliki grub musik dangdut SAGITA dibandingkan grub musik dangdut yang lain ? 3. Bagaimana pola permainan yang digunakan oleh grub musik dangdut SAGITA?

C. Tujuan Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapaidalam suatu kejadian. Tujuan harus ada sebelum kegiatan dilaksanakan dengan maksud untuk mengarahkan agar tidak salah langkah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Adapun tujuan dari tulisan ini adalah. Umum : Untuk mengetahui lebih dalam tentang grub musik SAGITA. Khusus : 1. Untuk mengetahui asal mula grub musik dangdut SAGITA terbentuk. 2. Untuk mengetahui keunikan yang dimiliki grub musik dangdut SAGITA dibandingkan grub musik dangdut yang lain. 3. Untuk mengetahui pola permainan yang digunakan oleh grub musik dangdut SAGITA.

D. Manfaat

a) Teoritis 1. Peneliti Hasil penelitian ini bermanfaat secara teoritis bagi peneliti sebagai sebuah wawasan baru. 2. Pembaca Hasil penelitian ini bermanfaat secara teoritis bagi pembaca sebagai penambah wawasan dan pengetahuan mengenai hal yang diteliti. 3. Masyarakat (yang diteliti) Hasil penelitian ini bermanfaat secara teoritis bagi masyarakat (yang diteliti) yaitu memberikan eksistensi pada senimannya, dan juga memberikan rasa dihargai pada seniman.

b) Praktis 1. Peneliti Dapat memberikan pengalaman kepada peneliti tentang penelitian yang dilakukan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Kajian Teoristis 1. Musik dangdut Musik dangdut menurut PONO BANOE adalah cemooh atau kata ejekan bagi orkes melayu dengan gaya Hindustan yang mengikutkan suara tabla (gendang India) dengan cara membunyikan tertentu sehingga terdengar suara dang duuut. Dikenal sebagai orkes melayu gaya baru guna membedakan dengan orkes melayu asli dari pantai timur Sumatra (Deli, Riau, dan sekitarnya di samping Malaysia). Biasanya jika tidak ada tabla maka dipergunakan Bongo atau kendang tradisional setempat. Sedangkan jika kita baca pada WIKIPEDIA maka pengertian dari musik dangdut akan seperti ini, Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar awal dasar dari Qasidah yang

terbawa oleh

Agama Islam yang

masuk

Nusantara tahun 635 - 1600

dan Gambus yang dibawa oleh migrasi orang Arab tahun 1870 - sesudah 1888, kemudian menjelma sebagai Musik Gambus tahun 1930 oleh orang ArabIndonesia bernama Syech Albar, selanjutnya menjelma sebagai Musik Melayu Deli pada tahun 1940 oleh Husein Bawafie, dan tahun 1950 pengaruh musik Amerika Latin serta tahun 1958 dipengaruhi Musik India melalui film Bollywood olehEllya Khadam dengan lagu Boneka India, dan terakhir lahir sebagai Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma Irama. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia pada akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitarlistrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music. 2. Pola musik dangdut Lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, meskipun demikian bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif. Sebagian besar lagu dangdut tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja. Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B - A, namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini : Intro - Eksposisi I - A - A - Eksposisi II - B - A - Eksposisi II - B - A (coda) Bentuk bangunan lagu dangdut
Urutan bangunan lagu Keterangan

Intro

Dapat merupakan pembuka pendek sepanjang 2 - 4 birama berupa permainan instrumental atau rangkaian akord pembuka, bisa juga sebagai vokal resitatif

(setengah deklamasi) yang mengungkapkan isi lagu dengan iringan akord terurai (broken chord) atau tanpa iringan, atau bisa juga berupa permainan seruling, kemudian masuk ke Eksposisi I atau Vokal.

Eksposisi Iatau Tampilan I

Adalah sajian instrumental yang berlangsung sepanjang 4 - 8 birama, dengan instrumen suling, organ, gitar, bahkan sitar atau mandolin secara bergantian. Eksposisi adalah Tampilan kelompok band, berupa aransemen kebolehan band yang disajikan secara khusus untuk memperlihatkan kebolehan. Tampilan I bisa dihilangkan kalau dari Intro langsung masuk Vokal.

Verse A

Biasanya berupa melodi dengan nada rendah dan datar sebagai ungkapan pertama isi lagu atau proposta.

Eksposisi IIatau Tampilan II

Berupa sajian yang kedua instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.

Verse B

Biasanya berupa melodi dengan nada tinggi dan berapi-api menjelaskan lebih lanjut isi lagu, atau juga riposta terhadap Verse A. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Eksposisi IIatau Tampilan II

Diulang lagi, berupa sajian yang ketiga instrumental kebolehan band, dan Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar, atau sitar dan mandolin.

Verse B

Mengulang dari Verse B sebelumnya, isinya sama persis dengan Verse B sebelumnya.

Verse A

Disajikan sekali lagi untuk menutup lagu, sama persis dengan Verse A sebelumnya.

Coda (optional, boleh dihilangkan)

Di akhir lagu kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama, namun juga bisa ditiadakan langsung berhenti, atau diakhiri dengan fade away (jarang terjadi).

Lagu dangdut umumnya juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

3. Jaranan Jaranan adalah kesenian dari daerah sekitar pesisir pantai selatan Jawa Timur yang memiliki ke khasan pada musiknya yaitu iringan kenong 6 dan 2 dan pola kendangnya. 4. Grub musik dangdut Sagita Musik Dangdut Jaranan aransemen musik dangdut yang semi gamelan jaranan di Jatim dangdut ini lagi banyak yang suka VCD / DVD dangdut ini laris manis di pasaran. Pelopor Musik Dangdut Jaranan ini adalah SAGITA Music Entertainer Group Musik ini bersasal dari Kabupaten Nganjuk - Jawa Timur, salah satu kabupaten kecil di jawa timur. Aliran musik Dangdut Jaranan ini dapat mengisi kebosanan masyarakat Jatim dengan musik dangdut yang monoton itu-itu saja, alhasil dalam waktu kurang dari satu tahun Group ini naik daun hingga terkenal di Jawa Timur bahkan di luar jawa pun udah mulai banyak yang menginginkan SAGITA ini manggung disana. Sampai di negara Malaysia pun DVD/VCD group SAGITA ini laris manis biarpun lewat jalur tidak resmi alias kaset bajakan. Group yang sering mengucapkan kata "Asololee" dan "Icik-icik ehem.." ini seakan dapat menghipnotis para penggemar dangdut dari berbagai usia. " Semoga musik dangdut dapat terus Jaya dinegeri asal sendiri, tanpa dinodai oleh nilai - nilai negatif" harapan Group Sagita.

Sagita adalah pelopor Musik Kreasi Yang Berasal dari kota Nganjuk,Musik yang Mereka Mainkan Merupakan Hasil Kreasi Jaranan Yang Di padukan Dengan Musik Dangduth ,Lalu Sagita Mengibarkan Bendera Dengan Label SAGITA DJANDUTH,,SAGITA Mempunyai Salam Khas untuk Menyapa Para Penggemarnya Dengan Bahasa Khas Orang Nganjuk Yaitu :"ASSOLOLEY" Alamat : * Desa Pace ,Jln:Pasar Pace (barat pasar Pace) * Kecamatan Pace * Kabupaten Nganjuk

* Jawa Timur Personil SAGITA: * ENY SAGITA : Vocal & Mbak Boss * INDAH ANDIRA : Vocal * RINA AMELIA : Vocal * KETENK : Guitar * YASIR : Guitar * MALIK : Gendang * SAIFUL/Bolang :Keyboard * KHOIRUL : Suling,Terompet & Vocal * BUDI :Master Of Ceremony (MC)

B. Hasil Penelitian Yang Relevan Musik dangdut mampu menarik hati guru besar bidang musik di Pittsburgh University, Amerika Serikat. Adalah Andrew Weintraub yang melakukan penelitian terhadap musik dangdut dan menuangkannya dalam buku berjudul Dangdut, Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Menurut Andrew, dangdut tidak ubahnya dengan jenis musik lain. Dangdut tetap berproses mengikuti perubahan selera masyarakat sehingga menuntut ide-ide kreatif bagi seniman yang berkecimpung di dalamnya. Musik selalu berproses. Mengikuti lingkungan dan keadaan sosial yang berubah. Ide-ide pun harus berubah. Selalu ada proses, kata Andrew seperti dilansir dari laman UGM, Kamis (26/4/2012). Alasan Andrew menulis buku dengan judul asli Dangdut Stories ini, karena kecintaannya terhadap musik dangdut sejak 1984 saat dia masih kuliah program sarjana. Penelitian tentang dangdut ini tidak terhenti bahkan ketika dia telah menjadi guru besar musik pada Pittsburgh University.

Dalam buku tersebut, Andrew lebih banyak menceritakan perjalanan musik dangdut sejak kemunculannya di era 50-an hingga perkembangannya saat ini. Tidak ingin bukunya mirip sejarah kontemporer, Andrew juga menyertakan hasil wawancara dengan para penyanyi dangdut yang pernah terkenal di eranya, seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan Elia Kadam. Bahkan kasus kontroversial antara Rhoma Irama dan Inul Daratista terkait goyang ngebor tidak luput dari tulisannya. Dangdut yang ingin dianggap sebagai musik nasional masih dipertanyakan oleh Andrew. Pasalnya, musik ini justru lebih banyak digemari masyarakat di kawasan Indonesia bagian barat. Sebaliknya di bagian Indonesia timur, dangdut tidak begitu digemari. Dangdut itu kebanyakan di Indonesia Barat. Walaupun ada dangdut di Maluku, namun tidak begitu populer, imbuhnya. Antropolog UGM Lono Simatupang menuturkan, ciri khas musik dangdut terletak pada ritmik, lirik, melodi, serta cengkok suara sengau sang penyanyinya. Ada bagian menarik, yakni kaitan cengkok dengan nuansa Islami. Penyanyi lebih mudah beradaptasi dengan dangdut karena sedikit mirip teknik vokal seni baca Alquran, kata Lono. Sementara staf pengajar Prodi Kajian Budaya Media Sekolah Pascasarjana UGM Faruk mengatakan, dangdut selalu mengalami rezimentasi. Fenomena dangdut koplo saat ini muncul bukan karena jenis dangdut daerah melainkan konsep dangdut yang berbeda yang ingin ditampilkan. Dia mengistilahkannya sebagai dangdut berkelit. Bukan meliuk atau tidaknya sang penyanyi, bagaimana menjadi berbeda dan orang merasakan perbedaan itu, katanya. (http://kampus.okezone.com) Selain itu ada pula dari Endah Setyorini, 2007. Skripsi jurusan sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Musik dangdut merupakan bagian dari seni musik yang berkembang di Indonesia, salah satunya di desa Kedungsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Musik ini memiliki keterkaitan erat dengan budaya lokal yaitu budaya melayu. Meskipun demikian, di daerah Kedungsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati musik dangdut merupakan salah satu pilihan masyarakat. Untuk mendukung perkembangan jenis musik ini, dibutuhkan suatu usaha pengembangan. Hal itu dimaksudkan agar dalam peningkatannya tidak kalah dengan musik-

musik jenis lainnya. Akan tetapi di desa Kedungsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati tidak demikian halnya. Ada salah satu grup musik dangdut yang memiliki nama Gondhang Nada perkembangannya lamban sekali dalam hal penerimaan job pentas/pementasan. Mangapa demikian? Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian ini. Berdasarkan permasalahan yang ada dalam penelitian, tujuan yang hendak dicapai adalah (1) kajian usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang Nada di desa Kedungsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, (2) kajian fungsi/peran grup musik dangdut Gondhang Nada bagi pemainnya dan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang memberikan gambaran mengenai data-data yang berhubungan dengan usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang Nada dan fungsinya bagi pemain danmasyarakat. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan yang terdiri dari pengumpulan data, mereduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan adanya usaha-usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang Nada masih belum optimal. Hal ini bisa dilihat dari usaha pengembangan sarana dan prasarana yang meliputi penyedian ruang latihan, alat musik, seragam, spanduk, promosi, dan surat perijinan, sekalipun masih dalam proses pengurusan. Usaha lainnya adalah pengembangan sumber daya manusia yang mengacu pada keahlian dalam bermain musik, hal itu didukung dengan pembuatan jadwal latihan, perbaikan teknik latihan, memperbanyak penguasaan lagu, peningkatan kesejahteraan pemain, dan perbaikan vokalis. Dari kedua jenis usaha di atas, masih ada usaha lain yang lebih penting yaitu pendanaan. Dalam hal pendanaan dibutuhkan usaha yang keras untuk mendukung perkembangan grup musik dangdut Gondhang Nada. Selama ini pendanaannya bersumber dari pemimpin, kas dan masyarakat pemerhati. Usaha-usaha yang sudah dilakukan akan lebih nampak hasilnya apabila didukung dengan adanya fungsi grup musik dangdut Gondhang Nada baik bagi pemimpin, pemain dan masyarakat sekitar tidak hanya sekedar sebagai hiburan. Agar perjalanan grup musik dangdut Gondhang Nada dapat bertahan, maka usaha-usaha yang dilakukan diharapkan lebih maksimal. Hal itu harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait. Antara lain pemimpinnya diharapkan dapat memberikan motivasi dan dorongan, agar pemain dan vokalisnya dapat bermain maksimal, selalu menjaga kekompkan / kebersamaan. Demikian pula pemainnya diharapkan selalu menjaga kualitas permainan, menjaga

kekompakan dan kebersamaan. Adapun vokalisnya dapat meningkatkan kualitas vokal dan penampilan yang menjadi tuntutan masyarakat. Sebenarnya selain kedua penelitian di atas masih banyak lagi penelitian yang relevan yang dapat digunakan sebagai reverensi, namun saya hanya mengambil 2 contoh di atas agar tidak terlalu banyak hal yang diperbandingkan.

C. Kerangka Berpikir

Musik dangdut menurut PONO BANOE adalah cemooh atau kata ejekan bagi orkes melayu dengan gaya Hindustan yang mengikutkan suara tabla (gendang India) dengan cara membunyikan tertentu sehingga terdengar suara dang duuut. Dikenal sebagai orkes melayu gaya baru guna membedakan dengan orkes melayu asli dari pantai timur Sumatra (Deli, Riau, dan sekitarnya di samping Malaysia). Biasanya jika tidak ada tabla maka dipergunakan Bongo atau kendang tradisional setempat. Jaranan adalah kesenian dari daerah sekitar pesisir pantai selatan Jawa Timur yang memiliki ke khasan pada musiknya yaitu iringan kenong 6 dan 2 dan pola kendangnya. Dari kedua variabel di atas dapat dihubungkan bahwa keduanya adalah sama-sama bagian dari seni musik yang selama ini belum terfikirkan untuk digabungkan, dan sampai muncullah grup musik SAGITA yang mengusung pola dangdut yang dipadukan dengan pola iringan jaranan sehingga membentuk pola musik baru yang sekarang disebut pola dangdut jaranan yang menjadi icon baru dalam perkembangan musik dangdut Indonesia. BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian untuk mengetahui suatu informasi tentang deskripsi masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel dan kedudukan setiap variabel dalam penelitian ini. B. Sumber Penelitian

Sumber penelitian ini berasal dari pengamatan peneliti sendiri dan sebagaian dari via internet (www.google.com) D. Instrument Penelitian Adapun instrument dari penelitian ini adalah : 1. Media rekam dan foto : kamera digital 2. Laptop

E. Teknik Pengumpulan Data Data adalah suatu informasi yang di perlukan dalam suatu penelitian. Dalam pengumpulan data perlu di perhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah informasi dari internet dan juga dari orang-orang yang dekat dan mengetahui informasi tentang hal yang diteliti. 2. Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini adalah sebuah data dari penelitian langsung pada tempatnya dan juga hasil dari menjelajah di internet.