Anda di halaman 1dari 29

STATUS PASIEN BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL Nama Mahasiswa

NIM : Resti Akmalina : 030.07.214 Dokter Pembimbing : Dr.R.Setyadi,Sp.A Tanda tangan :

I.

IDENTITAS Data Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Keterangan Asuransi Pasien Ayah Ibu An. S Tn. M Ny. D 4 tahun 42 tahun 37 tahun Laki-laki Laki-laki Perempuan Jl. Bandung Gg. Kepiting No.9 RT.01 RW.10 Islam Islam Islam Jawa Jawa Jawa D3 SMP Karyawan Swasta Pedagang 2.500.000 500.000 Hubungan orangtua dengan anak adalah anak kandung. Jamkesmas

II.

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu penderita pada tanggal 19 November 2012, pukul 09.00 WIB A. Keluhan Utama Mencret sejak 1 hari SMRS B. Keluhan Tambahan Batuk berdahak, sesak nafas, badan panas, mata bengkak, perut buncit. C. Riwayat Penyakit Sekarang Kronologis:
1

Pasien datang bersama ibunya ke IGD RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 14 November 2012 pukul 10.00 WIB dengan keluhan utama mencret sejak 1 hari SMRS, ibu pasien mengaku anaknya mencret > 8 kali dari kemarin sampai saat dibawa berobat, konsistensi cair dengan sedikit ampas, tidak ada lendir, tidak ada darah, tiap kali BAB sekitar gelas belimbing, warna kuning dan bau seperti tinja biasa, makan dan minum seperti biasa, BAK tidak ada keluhan, 3-5 kali sehari, lancar, warna kuning jernih. Dua hari SMRS, ibu pasien mengeluhkan anaknya batuk berdahak, dahak bewarna putih keruh, kental sulit dikeluarkan, nafas telihat sesak, tidak disertai pilek, tidak terdapat mual dan muntah. Awalnya badan terasa panas dengan perabaan tangan namun panas semakin tinggi , pasien belum berobat sebelumnya., Setelah menjalani perawatan satu hari di Rumah Sakit, ibu pasien mengeluhkan mata anaknya bengkak ketika bangun tidur, dan perut terlihat membuncit atau semakin besar, sejak bengkak dirasa BAK kurang, namun tidak nyeri, warna kuning jernih. 1 tahun yang lalu ibu pasien mengaku pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita penyakit sindroma nefrotik namun sudah membaik. Setelah 4 hari menjalani perawatan di rumah sakit, BAB lembek 1x sehari, batuk masih dirasakan, berhadahak namun sulit keluar, tidak sesak, tidak demam, mata bengkak saat pagi hari kemudian menghilang menjelang siang hari, menurut ibu pasien perutnya masih bengkak namun sudah berkurang, BAK lebih sering sekitar 4-6 kali, warna kuning jernih, dan ditampung.
D. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya namun 1 tahun yang lalu pernah dirawat di Rumah sakit karena penyakit sindroma nefrotik namun sudah membaik, mempunyai riwayat sakit tenggorokan namun tidak berulang, tidak ada riwayat asma, tidak ada alergi obat, maupun alergi makanan.
E. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang mengeluhkan hal yang sama seperti pasien.
III.

RIWAYAT PASIEN Pasien adalah anak ketiga dari empat bersaudara.


2

A. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Kehamilan Perawatan Antenatal Penyakit Kehamilan Kelahiran Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi

: Rutin periksa ke bidan : Tidak ada : Bidan : Bidan : Spontan pervaginam : Cukup bulan (9 bulan) : 3600 gram : 49 cm : ibu tidak tahu : ya : ibu tidak tahu : tidak ada

Berat badan lahir Panjang badan lahir Lingkar kepala Langsung menangis Nilai APGAR Kelainan bawaan

Kesan : riwayat kelahiran dan kehamilan baik B. Riwayat Tumbuh Kembang Pertumbuhan gigi pertama Psikomotor

: 7 bulan : 6 bulan : 7 bulan : 8 bulan : 9 bulan : 10 bulan : 12 bulan ::-

Tengkurap dan berbalik sendiri Duduk Merangkak Berdiri Berjalan Berbicara Membaca

Gangguan perkembangan

Kesan : Baik ( Perkembangan sesuai dengan usia)

C. Riwayat Makanan
Umur (bulan ) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 ASI PASI ASI ASI ASI PASI PASI PASI BUAH BISKUIT BUBUR SUSU NASI TIM

Kesan : Pasien mendapatkan ASI sesuai dengan usianya dan diganti dengan PASI setelah usia 6 bulan. Pasien mendapatkan makanan tambahan sesuai dengan usianya D. Riwayat Imunisasi
VAKSIN BCG DPT/ DT POLIO CAMPAK HEPATITIS B 0 bulan 2 bulan 2 bulan 0 bulan DASAR (umur) 4 bulan 4 bulan 1 bulan 6 bulan 6 bulan 9 bulan 6 bulan ULANGAN (umur) -

Kesan : Imunisasi dasar lengkap E. Riwayat Keluarga Corak Reproduksi


No Umur Jenis Kelamin Hidup Lahir Mati Abortus Mati Keterangan

1 2 3 4

18 tahun 15 tahun 4 tahun 2 tahun

Hidup Hidup Hidup Hidup

Sehat Sehat Sakit Sehat

Susunan keluarga

Keterangan:

= Laki-laki

= perempuan

= meninggal dunia

F. Riwayat Lingkungan Perumahan Kepemilikan Rumah : Rumah Pribadi Pasien tinggal bersama kedua orangtua dan saudaranya di kawasan yang padat penduduknya. Tempat tinggal pasien berukuran 50 m2, beratap genteng, lantai disemen dengan 4 kamar tidur yang berjendela, 1 ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang makan, 1 dapur. Cahaya matahari dapat masuk melalui jendela. Kamar mandi ada 1 dan terdapat di dalam rumah. Terdapat penerangan dengan listrik. Air berasal dari PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan melalui selokan di depan rumah. Selokan dibersihkan 2 kali dalam sebulan dan aliran air di dalamnya lancar. Kesan : rumah dan sanitasi lingkungan baik G. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita
PENYAKIT Diare Sindroma nefrotik Radang tenggorokan Tuberkulosis Kejang Ginjal IV. UMUR + (3tahun)
+

PENYAKIT Morbili Parotitis DBD Demam tifoid Cacingan Alergi

UMUR -

PENYAKIT Darah Jantung Cacar Difteri Kecelakaan Operasi

UMUR -

PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 19 November 2012, pukul 13.00 WIB, diruang Melati)
5

Keadaan umum Kesan sakit Tingkat kesadaran Berat badan Berat badan sekarang Tinggi badan Status gizi
-

: Sakit Sedang : Compos Mentis : 14 kg (BB ketika masuk IGD) : 15 kg : 101 cm : perhitungan status gizi menurut standar baku antropometri NCHS

BB/U = 14/15,5 x 100% = 90.32 % TB/U = 101/103 x 100% = 98.05 % BB/PB = 14/15,4 X 100% = 90.9 % Kesimpulan: Berat badan normal, Tinggi badan normal, Status Gizi Baik

Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan Kepala Bentuk Rambut Wajah Mata Alis mata Bulu mata Kelopak mata : Hitam, ditribusi merata : Hitam, distribusi merata : Oedema (-/-), ptosis (-), retraksi palpebra (-), kelopak mata tidak cekung Konjungtiva : Konjungtiva anemis (-/-)
6

: 110/60 mmHg terukur di lengan kanan atas : 116x/menit, isi cukup, reguler, equal. : 36.6C diukur pada axilla kanan : 30x/menit

: Normocephali : Hitam, distribusi merata : Simetris, tidak tampak pucat

Sklera Kornea Pupil

: Ikterik (-/-) : Jernih : Bulat isokor, RCL (+/+), RCTL (+/+) : Secara aktif (+), Simetri

Pergerakan bola mata Telinga Daun telinga Serumen Sekret Hidung Bentuk Nafas cuping hidung Septum deviasi Sekret Epistaxis Cavum nasi Mulut Bibir Lidah Gigi Pharynx Tonsil Leher Bentuk Trakea Thyroid Toraks

: Normotia : (+/+) : (-/-)

: Normal : Tidak ada : Tidak ada : (-/-) : (-/-) : Cukup lapang

: Sianosis (-) : Lidah tidak kotor, Bersih, Papil jelas terlihat : Oral higienis baik : Mukosa faring hiperemis (-) : Tonsil T2 T2 hiperemis

: Simetris, normal : Lurus di tengah : Tidak teraba membesar

Inspeksi

: ( paru-paru )

Pernafasan simetris dalam keadaan statis dan dinamis Kontraksi otot otot bantu pernafasan (-) Retraksi suprasternal (-) Retraksi sela iga (-) Pulsasi ictus cordis tidak tampak Palpasi Perkusi : Gerakan nafas statis dan dinamis simetris : Sonor

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronkhi (+/+) basah sedang nyaring, wheezing (-/-) Jantung: S1, S2 reguler, irama sinus Bunyi jantung tambahan (-) Murmur (-), Gallop (-) Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : cembung, smiling umbilicus : Supel, defans muscular (-),Undulasi (-), Lingkar perut 62 cm : Shiffting dullness(+) minimal, nyeri tekan (-) , hepar & lien tidak teraba membesar ginjal ballotment (-) Perkusi : Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) 4x/menit Extremitas Akral hangat, oedem atas (-/-) dan bawah (-/-) , turgor kembali cepat, petechiae atas (-/-) bawah (-/-),kedua tungkai kanan-kiri, sianosis atas (-/-) bawah (-/-). V. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan 14/11/12 Nilai rujukan

Hematologi Lekosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit 24.7 4.7 11.5 33.6 76.2 27.9 33.6 515 Diff count Netrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil 82.9 12.6 4.5 0 0.0 Laju Endap Darah LED 1 jam LED 2 jam 36 68 Kimia Klinik SGOT SGPT Kolesterol total Ureum Kreatinin Total protein Albumin Globulin 12.7 4.7 442 20 0.2 2.28 1.49 0.79 Urin Analisa <37 U/L <42 U/L 70-220 mg/dL 10-50 mg/dL 0.6-1.2 mg/dL 6.30-8.60 g/dL 3.70-5.60 g/dL 2.30-3.50 g/dL 0-15 mm/jam 0-25 mm/jam 50-70% 25-40% 2-8 % 2-4% 0-1% 6.0-17.0/ul 3.9-5.9/ul 11.5-13.5 g/dL 34-40 % 76-96 U 27-31 pcg 33.0-37.0 g/dL 150-400/ul

Warna Kekeruhan Berat jenis Bilirubin Urobilinogen Keton pH Protein Reduksi Lekosit Eritrosit Epitel Silinder Kristal

Kuning Agak keruh 1.015 6 + 4-6 + 0-1 granular + amorf + bakteri

Kuning Jernih 1.003-1.030 negatif negatif negatif 4.8-7.8 negatif negatif negatif negatif +1<4, +2/5-9, +3/10-29 negatif negatif

Pemeriksaan Rontgen Thorax AP, Tanggal: 14/11/12

Corakan bronkovaskular meningkat dikedua lapang paru, kesan: Bronkitis

RESUME
10

Anak S, laki-laki, 4 tahun dengan berat badan ketika datang : 14 kg, datang dengan keluhan utama mencret sejak 1 hari SMRS, mencret > 8 kali, konsistensi cair dengan sedikit ampas, tidak ada lendir, tidak ada darah, tiap kali BAB sekitar gelas belimbing (60cc), warna kuning dan bau seperti tinja biasa, awalnya badan terasa panas dengan perabaan tangan namun panas semakin tinggi, Dua hari SMRS, pasien batuk berdahak, dahak bewarna putih keruh, kental sulit dikeluarkan, nafas telihat sesak. 1 tahun yang lalu ibu pasien mengaku pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita penyakit sindroma nefrotik namun sudah sembuh. Setelah menjalani perawatan satu hari di Rumah Sakit, ibu pasien mengeluhkan mata anaknya bengkak ketika bangun tidur, dan perut terlihat membuncit atau semakin besar, sejak bengkak dirasa BAK kurang, warna kuning jernih. Setelah 4 hari di rawat, batuk masih dirasakan, berdahak sulit keluar, mata bengkak saat bangun tidur, menghilang saat menjelang siang hari perut buncit berkurang, BAK banyak, kuning jernih. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit sedang, TD 110/60 mmHg. Edema periorbital-/-, Rh +/+, shiffting dullness (+) minimal. Pemeriksaan Lab : Leukosit : 24.700/uL, Netrofil : 82.9 %, Limfosit 12.6 %, eosinofil 0%, LED 1 jam 36mm/jam, LED 2 jam 68mm/jam, kolesterol total 442 mg/dl, total Protein 2.28 g/dL, albumin 1.49 g/dL, globulin 0.79 g/dL.

VI.

DIAGNOSA BANDING 1. Diare akut tanpa dehidrasi DD: o Diare akut et causa infeksi bakteri o Diare akut et causa infeksi virus o Diare akut et causa infeksi parasit o Diare akut et causa malabsorpsi 2. Bronkopneumonia DD:
o

Bronkitis akut

11

3. Sindroma Nefrotik relaps DD: o Glomerulo Nefritis Akut o Sembab non renal: gagal jantung kongestif, edema hepatal, gangguan nutrisi, edema Quincke 4. Status gizi baik VII. DIAGNOSA KERJA 1. Diare akut tanpa dehidrasi
2. Bronkopneumoni 3. Sindroma Nefrotik Relaps 4. Status gizi baik

VIII. PENATALAKSANAAN -

Oksigen 2lt/ menit jika sesak nafas IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 300 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV Injeksi furosemid 2x10 mg IV

Per Oral: Lasal 2 x 2/3 cth Interzinc 2 x cth L-Bio 1x1

Rencana: -

Nebulizer combivent 2x/hari Pemeriksaan Darah Rutin, kimia darah (elektrolit, ureum, kreatinin, protein total, albumin, globulin, kolesterol), urin lengkap, pemeriksaan feses, foto rontgen thoraks
12

IX.

Bed rest Urin tampung 24 jam

PROGNOSIS
o o o

Ad Vitam Ad Fungsionam Ad Sanationam

: Ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

X.

PERJALANAN PENYAKIT 15 November 2012 S O : badan panas, mencret, batuk, tidak sesak, mata sembab, perut bengkak : KU: compos mentis, BB: 15 kg TD: 110/80 mmHg N: 115x/menit, isi dan tekanan cukup Mata: Ca-/-, SI -/Nafas cuping hidung (-) Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo/ SN vesikuler, Rh +/+, Wh -/Abdomen : membuncit, BU (+) meningkat 7x/menit, undulasi (+), Shiffting dullness (+) Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/A: -

S = 37.80C RR: 26x/menit.

Diare akut tanpa dehidrasi Bronkopneumoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik Oksigen 2 lt/menit jika sesak IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 300 mg IV
13

P: -

Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV Injeksi Furosemid 2 x 10 mg IV

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth

Rencana tindakan -

Nebulizer combivent 2x Transfusi albumin 125cc

16 November 201215 November 2012 S : badan panas, mencret 1x, batuk, mata sembab bangun tidut, perut bengkak berkurang O : KU: compos mentis, BB: 15,5 kg, TD: 110/60 mmHg , S = 37.60C, N: 110x/menit, RR: 24x/menit. Urine: 1500cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh-/Abdomen : cembung, BU (+) 5x/menit, supel, undulasi (+), Shiffting dullness (+) Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/A: -

Diare akut tanpa dehidrasi Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV
14

P: -

Injeksi Furosemid 2 x 10 mg IV Transfusi albumin 125cc

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth

Rencana tindakan Nebulizer combivent 2x

17 November 2012 S O : batuk berdahak, BAB lembek 1x : KU: compos mentis, TD: 110/85 mmHg, BB: 15,5 kg, S = 36.80C, N: 115x/menit, RR: 22x/menit. Urine: 1700 cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Warna Kekeruhan Berat jenis Bilirubin Urobilinogen Keton pH Protein Reduksi Lekosit Eritrosit Epitel Silinder Kristal Kuning Jernih 1.010 7.0 +2 3-5/lpb + 0-1 granular + amorf + bakteri

15

Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh -/Abdomen : cembung, BU (+) 4x/menit, undulasi (-), Shiffting dullness (+) Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/Pemeriksaan urinalisa Pemeriksaaan Lab:Urinalisa

A: :

Diare akut tanpa dehidrasi dengan perbaikan Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV
16

P: -

Injeksi Furosemid 2 x 10 mg IV

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth

Rencana tindakan Nebulizer combivent 2x

18 November 2012

S O

: batuk, bengkak dimata dan perut berkurang : KU: compos mentis, TD: 105/80 mmHg, BB: 15,5 kg, S = 36.80C, N: 110x/menit, RR: 22x/menit. Urine 3000 cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh-/Abdomen : datar, BU (+) 3x/menit, supel, undulasi (-), Shiffting dullness (-) Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/Laboratorium kimia klinik : Albumin : 2.44 g/dL

A:

diare akut tanpa dehidrasi dengan perbaikan Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV Injeksi Furosemid 2 x 10 mg IV

P: -

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth


17

L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth

Rencana tindakan Nebulizer combivent 2x

19 November 2012

S O

: batuk, mata sembab dan perut membuncit berkurang : KU: compos mentis, BB: 15 kg, TD: 110/60 mmHg S = 36.60C, N: 112x/menit, RR: 30x/menit. Urine: 3500 cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh -/Abdomen : cembung, BU (+), supel, undulasi (-), Shiffting dullness (+) minimal Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/-

A:

Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV Injeksi Furosemid 2 x 10 mg IV stop

P: -

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth

Rencana tindakan
-

Nebulizer combivent 3x

20 November 2012 18

S O

: batuk berkurang : KU: compos mentis, TD: 130/80 mmHg S = 37.90C, N: 120x/menit, RR: 26x/menit. Urine: 3000 cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh -/Abdomen : datar , BU (+) 3x/menit, supel Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/Laboratorium, kimia klinik: o Total protein: 3.73 g/dL o Albumin : 2.58 g/dL o Globulin : 1,15 g/dL

A:

Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik IVFD D5% 10 tpm Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV

P: -

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth L-Bio 1 x 1 Interzinc 2 x cth Bromhexin 3x 3,5 mg

Rencana tindakan Nebulizer combivent 3x

21 November 2012

: batuk berkurang

19

: KU: compos mentis, BB: 15 kg, TD: 110/80 mmHg S = 36.80C, N: 115x/menit, RR: 26x/menit. Urine 1500cc Mata: Ca-/-, SI -/Thorax: Cor/ S1 S2 Reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo: SN vesikuler, Rh +/+, Wh -/Abdomen : datar, BU (+), supel, timpani Ekstremitas atas: akral hangat +/+, oedem -/Ekstremitas bawah: akral hangat +/+, oedem -/-

A:

Bronkopnemoni Sindroma nefrotik relaps Status gizi baik aff infus Injeksi Amoxicilin 3 x 500 mg IV stop Injeksi Chloramfenicol 3 x 300 mg IV stop

P: -

Per oral: Lasal 2 x 2/3 cth Interzinc 2x cth Bromhexin 3x3,5 mg

Rencana tindakan Nebulizer combivent 3x Rawat jalan Kontrol 1 minggu kemudian ke poli anak atau jika ada keluhan.

20

ANALISA KASUS Anak S, laki-laki, 4 tahun dengan berat badan ketika datang : 14 kg, datang dengan keluhan utama mencret sejak 1 hari SMRS, mencret > 8 kali, konsistensi cair dengan sedikit ampas, tidak ada lendir, tidak ada darah, tiap kali BAB sekitar gelas belimbing (60cc), warna kuning dan bau seperti tinja biasa, awalnya badan terasa panas dengan perabaan tangan namun panas semakin tinggi, Dua hari SMRS, pasien batuk berdahak, dahak bewarna putih keruh, kental sulit dikeluarkan, nafas telihat sesak. 1 tahun yang lalu ibu pasien mengaku pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita penyakit sindroma nefrotik namun sudah sembuh. Setelah menjalani perawatan satu hari di Rumah Sakit, ibu pasien mengeluhkan mata anaknya bengkak ketika bangun tidur, dan perut terlihat membuncit atau semakin besar, sejak bengkak dirasa BAK kurang, warna kuning jernih.

Daftar masalah yang terdapat pada pasien


21

1. Mencret Mencret sejak 1 hari SMRS, mencret > 8 kali, konsistensi cair dengan sedikit ampas, tidak ada lendir, tidak ada darah, tiap kali BAB sekitar gelas belimbing, warna kuning dan bau seperti tinja biasa. Berdasarkan definisi diare yaitu buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari biasanya, 3 kali per hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah yang timbul secara mendadak dan berlangsung kurang dari 14 hari (WHO 1980), Pasien ini termasuk dalam diare akut. Klasifikasi dejarat dehidrasi

22

Berdasarkan klasifikasi tersebut, menurut keterangan ibu pasien masih minum seperti biasa, BAK normal dan pada pemeriksaan fisik saat masuk RS tidak ditemukan mata cekung, dan turgor kulit masih normal menandakan belum terdapatnya dehidrasi pada pasien. Rencana Penatalaksanaan yang berikan: a. Rehidrasi Diberikan cairan resusitasi yaitu RL (kristaloid) 10 tpm b. Dukungan nutrisi
-

Minum air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi Penambahan enzim probiotik pencernaan untuk memperbaiki fungsi saluran cerna : L-Bio 1x1 sachet

Diet biasa 3 x sehari

c. Sulpemen Zinc
-

Zinc sulfate 2x 2,5 mg selama 10 hari

d. Antibiotik sesuai Pemberian antibiotik seharusnya berdasarkan bakteri penyebab infeksi e. Edukasi Memberikan penjelasan kepada keluarga mengenai penyebab, cara perawtan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi 2. Batuk Dari anamnesa, pasien mengalami batuk sejak 2 hari SMRS, berdahak warna putih namun sulit keluar dan menurut ibu pasien tampak sesak dan badan terasa panas dengan perabaan tangan, dari pemeriksaan fisik pada saat masuk RS didapatkan Suhu 38.60C, laju pernapasan 45x/menit dan terdapat retraksi dinding dada memandakan adanya tekipneu dan sesak nafas. Di dukung dengan pemeriksaan laboratorium dengan lekositosis (24,7 ribu/ul) mengarahkan kepada diagnosis bronkopneumonia.
23

Bronkopneumonia sebagai penyakit yang menimbulkan gangguan pada sistem pernafasan, merupakan salah satu bentuk pneumonia yang terletak pada alveoli paru. Bronkopneumonia lebih sering menyerang bayi dan anak kecil. Hal ini dikarenakan respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Bronkopneumonia lebih sering ditimbulkan oleh infeksi bakteri. Bakteri-bakteri ini menginvasi paru melalui 2 jalur, yaitu dengan : 1. Inhalasi melalui jalur trakeobronkial. 2. Sistemik melalui arteri-arteri pulmoner dan bronkial. Bakteri-bakteri yang sering menyebabkan ataupun didapatkan pada kasus bronkopneumonia adalah : Bakteri gram positif 1. Pneumococcus 2. Staphylococcus aureus 3. Streptococcus hemolyticus Bakteri gram negatif 1. Haemophilus influenzae 2. Klebsiella pneumonia Masing-masing bakteri tersebut mekanisme yang berbeda. menyebabkan bronkopneumonia melalui berbagai

3. Mata sembab, perut membuncit Setelah menjalani perawatan satu hari di Rumah Sakit, ibu pasien mengeluhkan mata anaknya bengkak ketika bangun tidur, dan perut terlihat membuncit atau semakin besar, sejak bengkak dirasa BAK kurang, namun tidak nyeri, warna kuning jernih, tidak terasa sesak nafas. 1 tahun yang lalu ibu pasien mengaku pernah dirawat di Rumah Sakit karena menderita penyakit sindroma nefrotik namun sudah membaik. Sindrom nefrotik, adalah salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak, merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkholesterolemia serta sembab. Yang dimaksud proteinuria masif adalah apabila didapatkan proteinuria sebesar 50-100 mg/kg berat badan/hari atau lebih.
24

Albumin dalam darah biasanya menurun hingga kurang dari 2,5 gram/dl. Selain gejalagejala klinis di atas, kadang-kadang dijumpai pula hipertensi, hematuri, bahkan kadangkadang azotemia. Pada pemeriksaan laboratorium, didapatkan protein pada urin (+2), albumin 1.49 g/dL, dan kolestereol total 442 mg/dL. Dari gejala klinis dan pemeriksaan penunjang mendukung diagnosis pasien ke arah sindroma nefrotik. International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC) menganjurkan untuk memulai dengan pemberian prednison oral (induksi) sebesar 60 mg/m2/hari dengan dosis maksimal 80 mg/hari selama 4 minggu, kemudian dilanjutkan dengan dosis rumatan sebesar 40 mg/m2/hari secara selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu, lalu setelah itu pengobatan dihentikan. A. Sindroma nefrotik serangan pertama 1. Perbaiki keadaan umum penderita : a. Diet tinggi kalori, tinggi protein, rendah garam, rendah lemak. Rujukan ke bagian gizi diperlukan untuk pengaturan diet terutama pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal. b. Tingkatkan kadar albumin serum, kalau perlu dengan transfusi plasma atau albumin konsentrat. c. Atasi infeksi. d. Lakukan observasi untuk diagnostik dan untuk mencari komplikasi. e. Berikan terapi suportif yang diperlukan: Tirah baring bila ada edema anasarka. Diuretik diberikan bila ada edema anasarka atau mengganggu aktivitas. Jika ada hipertensi, dapat ditambahkan obat antihipertensi. 2. Terapi prednison sebaiknya baru diberikan selambat-lambatnya 14 hari

setelah diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan untuk memastikan apakah penderita mengalami remisi spontan atau tidak. Bila dalam waktu 14 hari terjadi remisi spontan, prednison tidak perlu diberikan, tetapi bila dalam waktu 14 hari atau kurang terjadi pemburukan keadaan, segera berikan prednison tanpa menunggu waktu 14 hari.
25

B. Sindroma nefrotik kambuh (relaps) 1. 2. Berikan prednison sesuai protokol relapse, segera setelah diagnosis Perbaiki keadaan umum penderita.

relapse ditegakkan.

a. Sindrom nefrotik kambuh tidak sering Adalah sindrom nefrotik yang kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan atau < 4 kali dalam masa 12 bulan. 1) Induksi: Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu. 2) Rumatan: Setelah 3 minggu, prednison dengan dosis 40 mg/m 2/48 jam, diberikan selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu, prednison dihentikan. b. Sindrom nefrotik kambuh sering Adalah sindrom nefrotik yang kambuh > 2 kali dalam masa 6 bulan atau > 4 kali dalam masa 12 bulan.
1) Induksi: Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari)

maksimal 80 mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.
2) Rumatan: selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4

minggu. Setelah 4 minggu, dosis prednison diturunkan menjadi 40 mg/m2/48 jam diberikan selama 1 minggu, kemudian 30 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, kemudian 20 mg/m2/48 jam selama 1 minggu, akhirnya 10 mg/m2/48 jam selama 6 minggu, kemudian prednison dihentikan. Pada saat prednison mulai diberikan selang sehari, siklofosfamid oral 2-3 mg/kg/hari diberikan setiap pagi hari selama 8 minggu. Setelah 8 minggu siklofosfamid dihentikan. Indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak adalah bila pasien tidak respons
26

terhadap pengobatan awal, relapse frekuen, terdapat komplikasi, terdapat indikasi kontra steroid, atau untuk biopsi ginjal. PENATALAKSANAAN DIETETIK Pemberian diet tinggi protein tidak diperlukan bahkan sekarang dianggap kontra indikasi karena dapat menambah beban ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolisme protein (hiperfiltrasi) dan menyebabkan terjadinya sclerosis glomerolus. Jadi cukup diberikan diet protein normal 2 gram/kgbb. Diet rendah garam hanya diperlukan selama anak menderita edema. Masukan natrium harus dibatasi 2 gram/hari untuk mengurangi keseimbangan natrium yang positif. Pembatasan garam yang ketat hanya diperlukan terhadap pasien yang tidak memberikan respons terhadap diuretika. Diet penurunan lipid umumnya dianjurkan untuk pasien dengan hiperkolesterolemia. Bila pemberian diuretic tidak berhasil, biasanya terjadi karena hipovolemia atau hipalbuminemia berat ( 1 g/L) diperlukan pemberian infuse albumin (20-25%) rendah garam (1g/kgbb) selama 4 jam, untuk menarik cairan dari jaringan intertisial dan di akhiri dengan pemberian furosemid (1-2 mg/kgbb). Bila pasien tidak mampu, dapat diberikan plasma 20 ml/kgbb secara pelan-pelan 10 tetes/menit untuk mencegah terjadinya komplikasi dekompensasi jantung / edema paru. Pemberian plasma berpotensi untuk menyebabkan penularan infeksi hepatitis, HIV, dll. KOMPLIKASI Infeksi adalah komplikasi terbesar dari sindrom nefrotik. Anak dengan relaps memiliki kepekaan yang tinggi terhadap infeksi bakteri oleh karena kehilangan immunoglobulin dan properdin faktor B pada urin. Kelainan imunitas sel media, terapi imunosupresif, malnutrisi, dan edema/ascites bereaksi sebagai media kultur yang potensial. Beberapa sebab meningkatnya kerentanan terhadap infeksi adalah: 1. kadar immunoglobulin yang rendah 2. defisiensi protein secara umum 3. gangguan opsonisasi terhap bakteri 4. hipofungsi limpa, dan
27

5. akibat pengobatan imunosupresif PROGNOSIS Prognosis umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan sebagai berikut : 1. Menderita untuk pertamakalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6 tahun. 2. Disertai oleh hipertensi. 3. Disertai hematuria. 4. Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder. 5. Gambaran histopatologik bukan kelainan minimal. Pada umumnya sebagian besar (+ 80%) sindrom nefrotik primer memberi respons yang baik terhadap pengobatan awal dengan steroid, tetapi kira-kira 50% di antaranya akan relapse berulang dan sekitar 10% tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid.

28

DAFTAR PUSTAKA
1.

WHO. Guidelines for the management of common illness with limited Dugdale D C, Herbert Y, Zieve D. Nephrotic Syndrome. (cited 12 1, 2012).
3. Bergstein JM. Sindrom nefrotik. Dalam : Behrman RE, Kliegma RM, Jenson HB,

resources, diare dan penatalaksanaannya. Bina mulia: jakarta. 2008. P 198-215


2.

Available from : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000490.htm. penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke 17. Philadelphia : WB Saunders Co; 2004. h 1827-1832.
4. Nephrotic

Syndrome.

(cited

on

des,

1,

2012).

Available

at:

http://www.emedicine.com/ped/topic1564.htm.
5.

Complication of Nephrotic Syndrome. (cited on des, 1, 2012). Available at:

http://www.asn-igd.com/saleskit/Home.aspx? gclid=CPWl9JWty68CFc966wod7UKRow

29