Anda di halaman 1dari 10

1

SURAT EDARAN NOMOR : SE/ 021/II/2011 TENTANG

TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 BAGI PEJABAT NEGARA, PRAJURIT TNI DAN PNS DI LINGKUNGAN KEMHAN DAN TNI 1. Dasar a. :

Peraturan Pemerintah Nomor: 80 Tahun 2010 tanggal 20 Desember 2010, tentang Tarif Pemotongan dan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan yang menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 262/PMK.03/2010 tanggal 31 Desember 2010, tentang Tata Cara Pemotongan Pajak penghasilan Pasal 21 Bagi Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI, Anggota Polri dan Pensiunannya atas Penghasilan yang menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

b.

2.

Sehubungan dengan dasar tersebut di atas, bersama ini disampaikan tata cara pemotongan pajak penghasilan pasal 21 bagi Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS di lingkungan Kemhan dan TNI sebagai berikut : a. Penghasilan yang dikenai PPh Pasal 21 : 1) PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi beban APBN ditanggung oleh Pemerintah atas beban APBN. Penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi beban APBN sebagaimana dimaksud pada butir 2. a.1) meliputi penghasilan tetap dan teratur bagi : a) Pejabat Negara, untuk gaji dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan atau imbalan tetap sejenisnya yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan. Prajurit TNI dan PNS untuk gaji dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2)

b)

c)

Pengertian gaji dan tunjangan lain tersebut butir 2.a.1) 2) termasuk tunjangan ke 13

b.

Atas penghasilan selain penghasilan tersebut butir 2. a. 1) 2) berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun yang menjadi beban APBN dipotong PPh Pasal 21 dan bersifat final, tidak termasuk biaya perjalanan dinas. Dalam hal penghasilan tetap dan teratur setiap bulan sebagaimana tersebut butir 2.a. 1) dan honorarium atau imbalan lain dengan apapun tersebut butir 2. b. diterima dalam mata uang asing, penghitungan PPh Pasal 21 didasarkan pada nilai tukar (kurs) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembayaran penghasilan tersebut. Dasar pengenaan PPh Pasal 21. 1) Dasar pengenaan PPh Pasal 21 atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan tersebut butir 2. a. 1) adalah penghasilan kena pajak. Besarnya penghasilan kena pajak tersebut butir 2. d. 1) ditentukan berdasarkan penghasilan neto dikurangi penghasilan tidak kena pajak.

c.

d.

2)

e.

Besarnya penghasilan neto tersebut butir 2. d. 2) bagi Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS ditentukan berdasarkan jumlah seluruh penghasilan tetap dan teratur setiap bulan dikurangi dengan : 1) Biaya jabatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tentang biaya jabatan. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS yang pendiriannya disahkan oleh Menteri Keuangan.

2)

f.

Dasar pengenaan PPh Pasal 21 atas honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun tersebut butir 2. b. adalah penghasilan bruto. Besarnya penghasilan tidak kena pajak bagi wanita berlaku ketentuan sebagai berikut : 1) Bagi wanita kawin sebesar penghasilan tidak kena pajak untuk dirinya sendiri. 2) Bagi wanita tidak kawin sebesar penghasilan tidak kena pajak untuk dirinya sendiri ditambah penghasilan tidak kena pajak untuk keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. Dalam hal wanita kawin tersebut butir 2. g. 1) dapat menunjukan keterangan tertulis dari Pemerintah daerah setempat serendahrendahnya Kecamatan yang menyatakan suaminya tidak menerima atau memperoleh penghasilan, besarnya penghasilan tidak kena pajak

g.

3)

adalah penghasilan tidak kena pajak untuk dirinya sendiri ditambah penghasilan tidak kena pajak untuk status kawin dan penghasilan tidak kena pajak untuk keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 orang. 4) Besarnya penghasilan tidak kena pajak ditentukan berdasarkan keadaan pada awal tahun kalender.

h.

Tarif pemotongan pajak dan penerapannya. 1) Tarif pajak berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Pasal 17 ayat (1) huruf a adalah wajib pajak orang pribadi dalam negeri sebagai berikut : No. 1. 2. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Sampai dengan Rp. 50.000.000,00 Diatas Rp. 50.000.000,00 sampai dengan Rp. 250.000.000,00 Tarif Pajak 5% 15%

2)

Jumlah Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif tersebut butir 2.h.1) dibulatkan ke bawah hingga ribuan rupiah penuh. Untuk perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap masa pajak, selain masa pajak Desember atau masa pajak terakhir, tarif pajak sebagaimana dimaksud pada butir 2. h. 1) diterapkan atas perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1 tahun,dengan ketentuan sebagai berikut : a) Perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1 (satu) tahun adalah jumlah gaji dan tunjangan yang dibayarkan setiap bulan dikalikan 12. b) Dalam hal terdapat pembayaran penghasilan seperti gaji dan tunjangan ke 13 , serta rapel gaji dan tunjangan maka perkiraan penghasilan yang akan diperoleh selama 1 tahun adalah sebesar jumlah butir 2.h.3).a) ditambah dengan jumlah gaji dan tunjangan ke 13 serta rapel gaji dan tunjangan.

3)

4)

Masa pajak terakhir sebagaimana dimaksud pada butir 2.h.3) adalah masa pajak tertentu dimana Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS terakhir bekerja. Jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong untuk setiap masa pajak adalah :

5)

a)

Atas penghasilan seperti gaji dan tunjangan yang dibayarkan setiap bulan adalah sebesar pajak penghasilan terutang atas jumlah penghasilan tersebut butir 2.h.3) a) dibagi 12. Atas penghasilan seperti gaji dan tunjangan ke 13 serta rapel gaji dan/atau tunjangan adalah sebesar selisih antara pajak penghasilan yang terutang atas jumlah penghasilan tersebut butir 2.h.3) b) dengan pajak penghasilan terutang atas jumlah penghasilan tersebut butir 2.h.3) a)

b)

6)

Dalam hal pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS mulai bekerja setelah bulan Januari, banyaknya bulan yang menjadi faktor pengali tersebut butir 2.h.3) atau faktor pembagi tersebut butir 2.h.5) adalah jumlah bulan tersisa dalam tahun kalender sejak yang bersangkutan mulai bekerja. Besarnya PPh Pasal 21 yang dipotong untuk masa pajak Desember adalah selisih antara Pajak Penghasilan yang terutang atas seluruh Penghasilan Kena pajak selama 1 (satu) tahun takwim dengan akumulasi PPh Pasal 21 yang terutang pada masa pajak-masa pajak sebelumnya dalam tahun takwim yang bersangkutan. Besarnya PPh Pasal 21 yang dipotong untuk masa pajak terakhir adalah selisih antara Pajak Penghasilan yang terutang atas seluruh Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan dengan akumulasi PPh Pasal 21 yang terutang pada masa pajak-masa pajak sebelumnya dalam tahun takwim yang bersangkutan. Tidak termasuk dalam akumulasi PPh Pasal 21 yang terutang tersebut pada butir 2.h.7) dan butir 2.h.8) adalah tambahan PPh Pasal 21 lebih tinggi sebesar 20 % seperti tersebut butir 2.j. Dalam hal Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS menerima tambahan penghasilan yang bersifat tetap dan teratur setiap bulan yang pembayarannya terpisah dari pembayaran gaji, maka penghitungan PPh Pasal 21 atas tambahan penghasilan tersebut harus memperhitungkan jumlah seluruh penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang diterima oleh Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS yang bersangkutan.

7)

8)

9)

10)

i.

Tarif PPh Pasal 21 atas honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun yang menjadi beban APBN adalah sebagai berikut : 1) 0 % (nol persen) dari penghasilan bruto bagi Anggota TNI Pangkat Tamtama dan Bintara serta PNS Golongan I dan Golongan II. 5 % (lima Persen) dari Penghasilan bruto bagi Anggota TNI Pangkat Perwira Pertama dan PNS Golongan III,.

2)

3)

15 % (lima belas persen) dari penghasilan bruto bagi Anggota TNI Pangkat Perwira Menengah dan Perwira Tinggi, Pejabat Negara serta PNS Golongan IV.

j.

Dalam hal Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak ,atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi beban APBN dikenai tarif PPh Pasal 21 lebih tinggi sebesar 20% (dua puluh persen ) daripada tarif yang diterapkan terhadap Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Tambahan PPh Pasal 21 lebih tinggi sebesar 20 % tersebut butir 2.j. menjadi beban Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS dipotong dari penghasilan yang diterima. Pengenaan tambahan PPh Pasal 21 tersebut pada butir 2.k. dilakukan oleh Pekas dalam hal Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak pada saat permintaan pembayaran penghasilan tetap dan teratur setiap bulan diajukan. Pemotongan atas tambahan PPh Pasal 21 tersebut butir 2.k. dilakukan oleh Pekas pada saat pembayaran penghasilan tetap dan teratur yang diterima setiap bulan. Kepemilikan Nomor Pokok Wajib pajak dibuktikan oleh Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS dengan memberikan fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak kepada Pekas. Bagi wanita kawin yang tidak memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri, kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut butir 2.n. dibuktikan dengan memberikan : 1) 2) Fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak suami serta fotokopi surat nikah, atau Fotokopi kartu Nomor Pokok Wajib Pajak diri sendiri dengan kode keluarga dari Nomor Pokok Wajib Pajak suami kepada Pekas.

k.

l.

m.

n.

o.

p.

Kewajiban pemotong pajak : 1) Pekas yang melakukan pemotongan PPh Pasal 21 adalah Pekas Kemhan dan TNI. Pekas tersebut butir 2.p.1) wajib :

2)

a)

Mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan perpajakan, dan

b)

Menghitung, memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh Pasal 21 yang terutang untuk setiap masa pajak.

3)

Kewajiban menghitung, memotong dan melaporkan tersebut butir 2.p.2) tetap dilakukan terhadap penghasilan yang dikenai tarif PPh Pasal 21 sebesar 0%. Ketentuan mengenai kewajiban untuk melaporkan PPh Pasal 21 untuk setiap Masa Pajak tersebut butir 2.p.2) tetap berlaku, dalam hal jumlah pajak yang dipotong pada masa Pajak yang bersangkutan nihil. Dalam hal suatu Masa Pajak terjadi kelebihan perhitungan atas PPh pasal 21 yang ditanggung Pemerintah, kelebihan PPh Pasal 21 yang ditanggung oleh Pemerintah tersebut diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 yang ditanggung oleh Pemerintah pada bulan berikutnya melalui Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21. Dalam hal suatu Masa Pajak terjadi kesalahan pemotongan atas PPh Pasal 21 yang bersifat final dari penghasilan berupa honorarium atau imbalan lain sehingga terdapat kelebihan penyetoran PPh Pasal 21 yang bersifat final, kelebihan penyetoran PPh Pasal 21 yang bersifat final tersebut dikembalikan sesuai tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.

4)

5)

6)

7) Pekas tersebut butir 2.p. 1) s.d. 4) memberikan bukti pemotongan PPh pasal 21 yang ditanggung pemerintah kepada pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS paling lama satu bulan setelah tahun kalender berakhir 8) Dalam hal Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS berhenti bekerja sebelum berakhirnya tahun kalender, bukti pemotongan PPh Pasal 21 tersebut butir 2.p.7) harus diberikan paling lama 1 (satu) bulan setelah yang bersangkutan berhenti bekerja. 9) Pekas tersebut butir 2.p.1) s.d. 4) memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 yang bersifat final atas penghasilan berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun paling lama pada akhir bulan dilakukannya pembayaran penghasilan tersebut. 10) PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pekas tersebut butir 2.p.1) s.d. 4) wajib disetor ke Kantor Pos atau bank yang ditunjuk Menteri Keuangan, dalam jangka waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

11) Pekas tersebut butir 2.p.1) s.d. 4) wajib melaporkan pemotongan dan penyetoran PPh Pasal 21 untuk setiap masa pajak yang dilakukan melalui penyampaian Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pekas tersebut butir 2.p.1) s.d. 4) terdaftar, dalam jangka waktu sesuai dengan peraturan perundangundangan. q. Hak dan kewajiban penerima penghasilan : 1) Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS wajib membuat surat pernyataan yang berisi jumlah tanggungan keluarga pada : a) b) Awal tahun kalender. Saat mulai menjadi Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS.

sebagai dasar penentuan Penghasilan Tidak Kena Pajak dan wajib menyerahkannya kepada Pekas. 2) Apabila Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS berhenti bekerja, pindah atau pensiun pada bagian tahun kalender, maka Pekas yang ditunjuk dalam tempat bekerja yang lama wajib menyampaikan bukti pemotongan pajak, kepada Pekas yang ditunjuk pada : a) tempat bekerja yang baru dalam hal yang bersangkutan pindah kerja . yang membayar uang pensiun dalam hal yang bersangkutan mulai pensiun, paling lama 1 (satu) bulan setelah Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS berhenti bekerja, pindah atau pensiun.

b)

r.

PPh Pasal 21 yang ditanggung oleh Pemerintah tersebut butir 2.a.1) dan PPh Pasal 21 yang dipotong dengan tarif yang lebih tinggi tersebut butir 2.j. dapat dikreditkan dengan pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi. Dalam hal Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS menerima atau memperoleh penghasilan lain yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan bersifat final, di luar penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi beban APBN, penghasilan lain tersebut digunggungkan dengan penghasilan tetap dan teratur setiap bulan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi yang bersangkutan. Tata cara penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan tersebut butir 2.a. dan honorarium atau imbalan lain tersebut butir 2.b. yang diterima oleh Pejabat Negara, Prajurit TNI dan PNS sesuai contoh tersebut butir 2.u. dan v.

s.

t.

u.

Contoh penghitungan PPh Pasal 21 untuk penghasilan tetap dan teratur setiap bulan. 1) Letkol Asep, masa kerja 22 tahun menduduki jabatan eselon IV, status kawin mempunyai 3 orang tanggungan telah memiliki NPWP bekerja di Kemhan, menerima penghasilan tetap dan teratur setiap bulan sebagai berikut : Gaji Pokok (GP) Tunjangan Istri ( 10% x GP ) Tunjangan Anak ( 2x 2% x GP ) Tunjangan Jabatan Tunjangan beras ( 48 x Rp. 5.656,- ) Pembulatan Jumlah penghasilan bruto Pengurangan : Biaya Jabatan 5% x Rp. 4.715.000,00 = Rp. 235.750,00 Iuran pensiun 4,75 % x Rp 3.183.906,00=Rp. 151.236,00 Penghasilan neto Penghasilan neto satu tahun : 12 x Rp. 4.328.014,00 Rp. PTKP (K/2) Untuk Wajib Pajak Rp. 15.840.000,00 Status Kawin Rp. 1.320.000,00 Tambahan 2 orang tanggungan (2x Rp. 1.320.000,00) Rp. 2.640.000,00 Rp. Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. Pembulatan Rp. Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp. PPh Pasal 21 atas gaji setahun : 5% x Rp. 32.136.000,00 = Rp. 1.606.800,00 PPh Pasal 21 atas gaji sebulan : Rp. 1.606.800 : 12 = Rp. 133.900,00 2) Ali PNS golongan III/c, masa kerja 14 tahun menduduki jabatan eselon IV, status kawin mempunyai 3 orang tanggungan telah memiliki NPWP bekerja di Kemhan, menerima penghasilan tetap dan teratur setiap bulan sebagai berikut : 51.936.168,00 Rp. 386.986,00 Rp. 4.328.014,00 Rp. 2.792.900,00 Rp. 279.290,00 Rp. 111.716,00 Rp. 1.260.000,00 Rp. 271.488,00 Rp. (394,00) Rp. 4.715.000,00

19.800.000,00 32.136.168,00 (168),00 32.136.000,00

Gaji Pokok ( GP ) Tunjangan Istri ( 10% x GP ) Tunjangan Anak ( 2x2%xGP ) Tunjangan Jabatan Tunjangan Beras ( 40 x Rp. 5.656,00) Pembulatan Jumlah penghasilan bruto Pengurangan : -

Rp Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

2.244.500,00 224.450,00 89.780,00 540.000,00 226.240,00 (970,00) 3.324.000,00

Biaya Jabatan 5% x Rp. 3.324.000,00 = Rp. 166.200,00 Iuran pensiun 4,75 % x Rp 2.558.730,00=Rp. 121.540,00 Rp. Penghasilan neto Rp. Penghasilan neto satu tahun : 12 x Rp. 3.036.260,00 Rp. PTKP (K/2) Untuk Wajib Pajak Rp. 15.840.000,00 Status Kawin Rp. 1.320.000,00 Tambahan 2 orang tanggungan (2 x Rp. 1.320.000,00) Rp. 2.640.000,00 Rp. Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp. Pembulatan Rp. Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp. PPh Pasal 21 atas gaji setahun : 5% x Rp. 16.635.000,00 = Rp. 831.750,00 PPh Pasal 21 atas gaji sebulan : Rp. 831.750 : 12 = Rp. 69.312,00

287.740,00 3.036.260,00

36.435.120,00

19.800.000,00 16.635.120,00 (120,00) 16.635.000,00

v.

Contoh penghitungan PPh Pasal 21 untuk honorarium atau imbalan lain. 1) Kolonel Kusmawan pada bulan Februari 2011 menerima honor Pokja yang sumber dananya berasal dari APBN sebesar Rp. 2.000.000,00 PPh Pasal 21 Final yang terutang : 15% x Rp. 2.000.000,00 = Rp. 300.000,00 PNS Anita golongan III/a, pada bulan Februari 2011 menerima honor Pokja yang sumber dananya berasal dari APBN sebesar Rp. 1.250.000,00 PPh Pasal 21 Final yang terutang : 5% x Rp. 1.250.000,00 = Rp. 62.500,00

2)

10

3.

Untuk kelancaran pelaksanaan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 agar Kapusku TNI, Dirku/Kadisku Angkatan dan Kabidkukem Pusku Kemhan segera menginformasikan ketentuan ini kepada Kapusdatin Kemhan, Kapus Infolahta TNI, Kadis Infolahta Angkatan, Kaku Kotama dan Pekas dijajarannya. Surat Edaran ini berlaku surut terhitung sejak tanggal 1 Januari 2011. Dengan berlakunya Surat Edaran ini maka Surat Edaran yang mengatur pelaksanaan pemungutan pajak penghasilan Pasal 21 di lingkungan Kemhan dan TNI sebelumnya sepanjang tidak bertentangan dengan Surat Edaran ini masih tetap berlaku. Peraturan Menteri Keuangan tersebut butir 1.b. terlampir. Demikian untuk mendapat perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

4. 5.

6. 7.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal : 21 Februari 2011 Kepala Pusat Keuangan, Ttd Kepada Yth : 1. 2. 3. 4. 5. Kapusku TNI Dirkuad Kadiskual Kadiskuau Kabidkukem Pusku Kemhan Drs. Sugiyanto,M.M Marsekal Pertama TNI

Tembusan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Menhan Panglima TNI Kas Angkatan Sekjen Kemhan Irjen Kemhan Irjen TNI Irjen Angkatan Dirjen Renhan Kemhan Kapusdatin Kemhan Kapusinfolahta TNI Kadisinfolahta Angkatan