Anda di halaman 1dari 52

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM

Visi Visi:
Misi utama Orangutan Foundation International adalah membantu usaha pelestarian dan memberikan pemahaman, bahwa orangutan dan hutan hujan tropis sebagai habitatnya serta melakukan perawatan terhadap orangutan sitaan dan dikembalikan ke alam yang berupa hutan tropis.

Tentang OFI & YOIK OIK:


OFI merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian orangutan dan habitatnya. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh OFI antara lain: Program Penelitian dan Pelestarian Orangutan, Patroli yang dilakukan oleh masyarakat, Program di Suaka Margasatwa Lamandau, Program Pemugaran Hutan, Perawatan dan Karantina, Perlindungan Orangutan di Amerika Bagian Utara, Pendidikan konservasi, Sepekan Penyuluhan orangutan, Memberikan beasiswa, Program tour, Program relawan dan program GIS.

PESAN DARI ALAM


ISSN: 2085-3203 Diterbitkan oleh: Orangutan Foundation International Yayasan Orangutan Internasional Kalimantan Alamat Redaksi: Jl Tebet Barat Dalam VI A No. 9 Jakarta, 12810 Telp/Fax: 62-21-8291189 Wab site: www.orangutan.org Pemimpin Redaksi: Prof. Dr. Birute Galdikas Pelaksana: Redaksi Pelaksana: Edy H. Wahyono dan Affan Surya Staf Redaksi: Renie Djojoasmoro, Christian Simanjuntak, Bohap Bin Jalan, Fajar Dewanto, Robert Ferdinand, Drh. Popowati, Drh. Prima, Tomin, Tamel, Sehat, Nano Sudarno dan Hartati Saat Tata Desain Tata Letak: Eko Wahono Distributor: Jhoni Apriyanto

Pesan dari Alam, diterbitkan oleh Orangutan Foundation International, sebagai Media Informasi dan Komunikasi, mengenai orangutan, hutan sebagai habitatnya, flora dan fauna, dan masyarakat yang ada di pinggiran hutan. Redaksi menerima tulisan dari berbagai kalangan masyarakat yang mempunyai tema pelestarian alam dan lingkungan, baik berupa penelitian, pendidikan dan usaha lain yang mendukung.

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pesan dari Alam

PESAN DARI ALAM


Telah nampak tanda-tanda kerusakan bumi ini (baik di darat, di laut ataupun di udara) karena perbuatan manusia ......... Sebuah kutipan dari Kitab Suci Umat Islam, yaitu Surat Ar Rum ayat 43, kini memang sudah mulai nampak atau bahkan kenyataan sudah terjadi. Bencana silih berganti, musim hujan tidak menentu dan musim kemarau, kapan akan datang dan berakhir. Sementara ekploitasi sumber daya alam berlebihan, guna mencukupi kebutuhan akan energi manusia. Hutan tropis yang menjadi paru-paru bumi, banyak yang sudah berubah fungsi, untuk berbagai kepentingan. Bila diibaratkan hutan tropis itu sebagai paru-paru bumi, maka paru-paru itu sudah terserang kanker yang akut. Di mana-mana hutan itu sudah menjadi perkebunan, pemukiman, atau malah hitam kelam karena terbakar atau terkoyak untuk diambil bahan tambangnya. Serangan kanker hutan tropis itu semakin akut. Pengobatan demi pengobatan, seperti penghijauan ataupun perlindungan, belum seimbang dengan kerusakannya. Undang-undang yang telah ditetapkan, masih banyak yang melanggar. Kini iklim sudah berubah. Suhu di permukaan bumi mulai meningkat, walau sedikit, namun pasti. Gunung es di kutub, mulai mencair. Salju abadi di Puncak Jaya Wijaya, Papua, mulai berkurang. Namun masih ada titik harapan untuk memperpanjang kehidupan dan mencegah kehancuran, asalkan kita mau, tentu bisa.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM

PESANdariALAM
Edisi 6 Tahun III, Juni Desember 2011

ISSN: 2085-3203

Pesan dari Alam.......... hal 3


Kutangkap dan Kulepaskan
utan tropis yang ada di Kalimantan setiap detik terus berkurang, sedikit demi sedikit, namun pasti. Hutan yang lebat dengan tegakan kayu yang lurus menjulang tinggi berubah, menjadi lahan pertanian, perkampungan dan perkebunan. Lengkaplah sudah penderitaan satwa penghuni hutan itu. Makanan menipis, hutan semakin gundul. Merekapun mulai memasuki perkampungan, melahap apa saja yang ada. Jagung, singkong, buah-buahan, dan kadangkadang memasuki pondok dan memakan simpanan makanan manusia...................................... hal 7

Laporan Khusus
Tanjung Taman Nasional Tanjung Puting
ahun 1980an, dimana Suaka MargaSatwa Tanjung Puting ditetapkan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Tanjung Puting, kunjungan wisatawan masih didominasi oleh para peneliti, baik dari dalam dan luar negeri, yang ingin menggali potensi alam, kekayaan flora dan fauna dan pengembangan sebagai kawasan konservasi dan usaha melestarikannya. Selain itu juga disusun sebuah manajement plan untuk jangakan waktu tertentu............................ hal 10

Dari Karantina

Turtle Program Save Sea Turtle in Your Hand .. .........................hal

17

10

7
4

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pendidikan Lingkungan
Mengenal Ekosistem Laut di Pulau Pramuka.

Membuat Pikohidro

vent Organizer bernamaBoemi Edukasi, menyelenggarakan kegiatan edukasi bernuansa laut di Taman nasional Laut kepulauan Seribu. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dekat salah satu kekayaan alam laut Indonesi. Peserta dalam kegiatan ini adalah dari sekolah Bina Tunas Bangsa International School (BTB IS) Jakarta... hal 24

risis energi sudah mulai dirasakan, listrik mati bergiliran sudah tak asing lagi di negeri kita ini. Kebutuhan listrik terus meningkat dari waktu ke waktu. Sementara, alam menyediakan segala sesuatu untuk manusia, termasuk air, angin dan cahaya matahari yang melimpah, sebagai sumber energi penghasil listrik.......................... hal 36

Rahasia Alam
Keindahan bulu burung Cendrawasih dan semut yang melakukan bunuh diri masal ...........hal 40 .......hal

Membuat Kerajinan dari Barang Bekas

Perjalanan
Dari Tanjung Keluang, Kalimantan Barat, berlanjut ke Titik Nol Indonesia di Pulau Weh, Sabang, hingga Taman pesisir Pantai Penyu Pangumbahan ................................................................ hal 43

ernyata, sampah masih ada gunanya. Selain sebagai bahan karya kerajinan tangan, hasilnya pun bisa mendatangkan uang..... hal 31

36 24
40
E d i s i 6 Ta h u n I I I , J u n i D e s e m b e r 2 0 11

46
PESAN dari ALAM
5

dari KARANTINA

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

K U TA N G K A P dan K U L E PA S K A N

utan tropis yang ada di Kalimantan setiap detik terus berkurang, sedikit demi sedikit, namun pasti. Hutan yang lebat dengan tegakan kayu yang lurus menjulang tinggi berubah, menjadi lahan pertanian, perkampungan dan perkebunan. Kehidupanpun tersisih, minggir ke tengah hutan. Namun di tengah hutan sana ada lagi kegiatan yang mengganggu mereka, penebangan hutan untuk berbagai kepentingan. Bergerak lagi ke daerah lain, namun di tempat itu dicegat lagi dengan suara gergaji mesin yang meraungraung. Lengkaplah sudah penderitaan para penghuni hutan itu. Makanan menipis, hutan semakin gundul. Merekapun mulai memasuki perkampungan, melahap apa saja yang ada. Jagung, singkong, buah-buahan, dan kadangkadang memasuki pondok dan memakan simpanan makanan manusia. Ada dari mereka yang ditangkap untuk dipelihara ataupun sebagai makanan umat manusia, namun ada pula yang dibunuh karena sudah dianggap sebagai hama. Gambaran yang menyedihkan para penghuni hutan yang tersisih dari rumahnya, terusir dari tempat tinggalnya dan bahkan kadang-kadang terjadi pemusnahan etnis penghuni hutan.

Bagi satwa yang dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dapat mengembara ke tempat lain atau mengungsi mencari kehidupan baru, tidak masalah. Namun ada beberapa satwa yang tidak bisa melakukan hal seperti itu, terutama beberapa jenis primata yang hanya terpaku pada daerah teritorialnya. Kejadian semacam itu cukup banyak, terutama bangsa lutung. Mereka masih tetap bertahan pada areal hutan yang semakin menipis, menyempit dan akhirnya secara perlahan tetapi pasti, mereka mulai kekurangan pakan, akhirnya mati kelaparan atau ditangkap oleh manusia. Orangutan yang mempunyai tubuh besar dan perlu makanan banyak, serta memiliki petualang bagi jantan, dan betina bersama keluarganya kadang mencari dan pindah ke tempat lain bila terdesak. Hutan-hutan kian berkurang, kera-kera merah ini kehilangan tempat tinggal. Terpaksa mereka melahap ada saja yang dilaluinya, baik tanaman masyarakat, ataupun makanan yang bukan makanan pokoknya dimakan juga. Lahan yang sudah berubah menjadi perkebunan sawit, yang tak ada kamus dalam makanan orangutan, primata ini memakan umbutnya. Satu ekor orangutan jantan dengan berat lebih dari 50 kg, dapat memakan Kelapa Sawit muda 40 pohon dalam waktu 15 menit. Sambil berjalan

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM

Pesan dari Alam


searah jalur kelapa sawit, orangutan ini dengan santainya mencabuti dan memakan umbutnya. Kerugianpun, tak terkira bagi pengusaha kelapa sawit ini. Para penjaga merasa ketakutan untuk melawan penguasa hutan, namun apa boleh buat dari pada terus merugi, dan menyerang manusia, akhirnya orangutan jantan itupun mati terbunuh bersimbah darah. Sekitar pk 15.00 sore, saya dengan 2 orang staff YOI, datang ke lokasi perkebunan atas permintaan salah seorang staff perkebunan yang mengerti tentang pelestarian orangutan. Melalui radio dipanggil dan sambung menyambung antara satu breaker ke breaker yang lain. Dijelaskan masih ada beberapa orangutan yang mengganggu sawit, tetapi kali ini orangutannya masih kecil, sekitar 4 5 tahun, atau bahkan lebih, karena orangutan liar perkembangan pertumbuhannya berbeda dengan orangutan rehabilitasi. Para staf perkebunan minta tolong untuk menangkap beberapa anak-anak orangutan yang masih berkeliaran di perkebunan sawit. Saya bingung kemana ibunya ? Mungkinkah ibunya telah mati ketika terjadi pengusiran orangutan yang memakan dan mengganggu pohon sawit muda ? Atau mati karena ingin memiliki anaknya yang masih dalam dekapan ? Mungkin juga. Tetapi para staff itu tidak mau ceritera masalah itu. Malah seorang penduduk ceritera bahwa beberapa waktu lalu ada pembunuhan orangutan jantan yang mengganggu kebun sawit. Pengejaran kami lakukan. Jatuh bangun menangkap orangutan ini terjadi, di tengah perkebunan sawit yang masih muda, pengalaman baru. Akhirnya tertangkap juga, ketika si mungil ini terjebak dan naik pohon yang hanya satu-satunya di perkebunan itu. Tak ada yang berani menangkap, mungkin mereka belum tahu cara menangkap anak-anak orangutan yang terlepas bebas. Gigitan, cakaran sudah biasa bagi saya. Anak orangutan ini saya bawa ke Pangkalan Bun (Klinik) untuk transit sebelum dilepas ke alam bebas. Stress, yah itu terjadi juga pada orangutan. Tak mau makan, minum dan selalu merasa ketakutan bila didekati manusia. Tetapi melihat teman senasib seumur, memakan makanan yang diberikan, orangutan inipun mau makan, hanya tak mau menerima ketika perawat mengulurkan makanan. Tak lama dalam karantina. Karena prinsip kami, orangutan yang masih liar, baru ditangkap atau baru diserahkan oleh masyarakat serta belum lama dalam peliharaan, maka langsung dilepas, walaupun masih melalui proses pemeriksaan, seperti apakah mengandung cacing dalam kotorannya? Atau bakteri lain melalui pemeriksaan sederhana. Hanya dua hari menghuni karantina, orangutan inipun dilepaskan ke dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Putting. Tak lebih dari satu menit semenjak kandang dibuka, diapun lantas memanjat pohon, dan sempat menoleh ke kami dan istirahat sebentar. Mungkin kalau bisa bicara mengucapkan terima kasih atau selamat tinggal. Kami hanya terharu dan senang orangutan ini dapat lepas bebas ke dalam hutan, rumahnya, tempat tinggalnya dan daerah sumber pakannya karena daerah asalnya telah berubah peruntukannya. Selamat jalan kawan, mudahmudahan kau tenang dan tak lagi menjadi bulan-bulanan manusia yang terus mengusir, menggusur dan membunuh bangsamu di tanah kelahiranmu. Sekali lagi, selamat jalan.

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM

laporan KHUSUS

Taman Nasional Tanjung Puting


Salah satu dari 15 taman nasional yang dijadikan pilot program DMO

10

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

aman Nasional Tanjung Puting, sudah menjadi icon dunia bagi wisatawan yang ingin melakukan perjalanan wisata alam dan melihat orangutan. Tahun 1980an, dimana Suaka Margasatwa Tanjung Puting ditetapkan dan ditingkatkan statusnya menjadi Taman Nasional Tanjung Puting, kunjungan wisatawan masih didominasi oleh para peneliti, baik dari dalam dan luar negeri, yang ingin menggali potensi alam, kekayaan flora dan fauna dan pengembangan sebagai kawasan konservasi dan usaha melestarikannya. Selain itu juga disusun sebuah manajement plan untuk jangka waktu tertentu. Pertengahan tahun 1980an, wisatawan mulai berdatangan, semenjak Prof. Birute MF Galdikas, PhD mulai mempublikasikan berbagai artikel mengenai orangutan khususunya dan Tanjung Puting pada umumnya ke berbagai publikasi ilmiah dan semi ilmiah, dengan dihiasi berbagai foto kegiatan yang cukup menarik. Hingga akhir tahun 1980an, wisatawan banyak berkunjung untuk melihat kehidupan flora dan fauna yang ada di sana. Terjadinya booming wisatawan mancanegara, yang berkunjung ke kawasan konservasi ini, setelah dilakukan konferensi Internasional mengenai kera besar Great Ape Conference yang mengundang pada pakar, peneliti dan penggiat pelestarian kera besar seluruh dunia, berdatangan. Baik peneliti orangutan sendiri, peneliti Gorilla dan Simpanse, memberikan masukan untuk program konservasi tersebut. Dan moment itu telah mengangkat kepariwisataan di Tanjung Puting, dengan ditandatangi sebuah piagam mengenai Tanjung Puting oleh Menteri

Wisatawan domestik dan mancanegara melihat dari dekat orangutan yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 11

Dari Karantina
Pariwisata dan Budaya, Soesilo Soedarman, saat itu. Paska konferensi itulah, banyak biro perjalana wisata yang memasarkan Tanjung Puting dengan icon orangutan sebagai promadona. Namun awal tahun 1990an, ketika Tanjung Puting telah banyak dikunjungi wisatawan, tidak didukung dengan pelestarian alam di daerah hulu Sungai Sekonyer. Saat itu terjadi demam emas di hulu sungai. Setiap hari puluhan bahkan ratusan penambang, ramai-ramai menambang dengan menyemprotkan air memakai mesin penyedot ke pasir, dan membuat lubang-lubang, menyerupai danau kecil. Sejak saat itulah Sungai Sekonyer mulai tercemar. Kolam renang apung yang dibangun di Hotel Rimba tak lagi beroperasi, masyarakat Tanjung Harapan, kesulitan air bersih. Buaya mulai mengungsi ke Sungai Sekonyer Simpang Kanan. Era tahun tersebut, Tanjung Puting mengalami ancaman yang serius. Penangkapan ikan arowana, pembalakan liar, penambangan emas, kebakaran hutan. Banyak kayu glondongan mengalir di sepanjang aliran sungai sekonyar, dan pernah terjadi beberapa orangtan mati keracunan karena meminum air sekonyer yang kandungan Hcl nya mendadak tinggi, akibat kayu ramin yang ditarik di sungai tersebut. Namun Tanjung Puting tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun

Camp Leakey sebagai pusat rehabilitasi orangutan di Taman nasional Tanjung Puting

12

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Gerbang selamat datang di Taman nasional Tanjung Puting

luar negeri. Wisatawan asing tak banyak terpengaruh oleh kerusakan alam atau tragedi politik. Karena mereka ingin melihat orangutan, yang relatif lebih mudah dilihat di alam liarnya, bila dibandingkan dengan daerah tujuan wisata lain. Semuanya sudah terjadi, kini perlu menatap masa depan kawasan itu. Perlu pengembangan daerah tujuan wisata lain, agar Tanjung Puting tidak padat. Untuk itulah, diperlukan memerataan wisata di Kotawaringin Barat, yang memiliki potensi alam dan budaya yang kuat, hingga sangat diperlukan sebuah pengembangan daerah tujuan wisata lain dan menghidupkan kebudayaan yang kental akan budaya melayu dan budaya dayak .

Kunjungan wisatawan pada saat-saat tertentu sangat padat, namun sayangnya belum dibarengi dengan penyiapan sumber daya manusia yang handal untuk memberikan pelayanan kepada wisatawan yang datang. Semua belajar secara alami, tanpa ada yang membimbing dan memberikan sertifikasi, agar di waktu yang akan datang kawasan ini memberikan nilai yang lebih bagi para penggiat pariwisata serta masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu perlu duduk bersama, merencanakan, mengembangkan, dan memasarkan paket program yang ada. Baik melalui sebuah wadah yang berupa lembaga ataupun forum atau dalam bentuk lain, untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan bersama di bidang kepariwisataan.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 13

Konferensi Nasional Destination Management Organization (DMO) DMO adalah sebuah Gerakan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, telah menerapkan kebijakan dalam peningkatan kapasitas pengelolaan daerah tujuan pariwisata atau Destination Management Organization (DMO). Kebijakan itu diterapkan selama tiga tahun mulai tahun 2011 di 15 kawasan wisata. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Winarno Sudjas di Bandung, Kamis (20/5/2010), pada intinya, DMO adalah struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup koordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik. Kawasan-kawasan yang akan menjadi lokasi diberlakukannya DMO yakni Pangandaran, Danau Toba, Bunaken, Tana Toraja, MentawaiBukittingi, Borobudur, Rinjani, Raja Ampat, Wakatobi, Tanjung Puting, Derawan, BromoTengger-Semeru, Danau Batur-Kintamani, Kota Tua Jakarta, dan Pulau Komodo-Kelimutu-Flores. Sebelum diterapkan, pemerintah akan mengadakan konferensi mengenai DMO. Winarno menambahkan, kementeriankementerian yang memiliki wewenang seperti Pekerjaan Umum, Kelautan dan Perikanan, Lingkungan Hidup, Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kehutanan telah berkumpul di Jakarta pada Agustus 2010 untuk membahas kebijakan itu. Sebenarnya DMO adalah sebuah gerakan untuk memajukan pariwisata dan meningkatkan jumlah kunjungan, melalui berbagai kegiatan. Salah satu kegiatannya adalah tata kelola kawasan daerah kunjungan wisata melalui

14

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pariwisata di Kobar Perlu Perlibatan Semua Pihak

elah dilakukan kajian terhadap stakeholder pariwisata di Tanjung Puting dan sekitarnya, sejak bulan April pertengahan Mei 2011. Dalam melakukan kegiatan tersebut, telah dilakukan wawancara langsungterhadap 70 responden, baik bertemu muka ataupun melalui teleconference, serta menyebarkan kuisioner kepada rensponden. Wawancara mendalam dilakukan terhadap rensponden kunci yang mengetahui pasti

tentang perkembangan pariwisata Tanjung Puting dan sekitarnya, serta pihak yang memberikan dukungan atau memiliki kegiatan langsung. Sedangkan responden lainnya adalah individu atau lembaga yang mempunyai peranan tidak langsung terhadap pariwisata, akan tetapi mempunyai andil dalam kemajuan kepariwisataan. Sebanyak 83 % responden berpendapat bahwa kepariwisataan di Kotawaringin Barat bagus

peningkatan kapasiata sumber daya manusia, penataan daerah kunjungan, paket program, pemasaran dan yang paling penting adalah kerjasama semua pihak yang terkait dengan

kepariwisataan. Dan bukan membantu untuk membangun fasilitas. Untuk mengawali kegiatan tersebut, talah dilakukan kajian yang akan menjadi dasar-dasar dalam kegiatan DMO.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 15

dan mendukung, bila pengembangan pariwisata di Tanjung Puting dan sekitanrnya ditingkatkan. Alasannya adalah, Kotawaringin Barat memiliki potensi untuk itu, dan belum dijadikan sebagai point of interest dalam kepariwisataan, misalnya seperti wisata kebudayaan. Sedangkan untuk mengurangi kepadatan kunjungan ke Tanjung Puting yang sudah menjadi ikon pariwisata di Kotawaringin barat, perlu alternatif lain, agar kawasan konservasi itu tidak terlalu padat kunjungan, mengingat daya dukung Taman Nasional Tanjung Puting, baik sarana, prasaran dan sumber daya manusianya belum memadai, dan masih perlu peningkatan.

Oleh karena itu dari berbagai masukan, saran dan rekomendasi, memerlukan sebuah wadah, forum atau bentuk lembaga lain, untuk memberikan masukan kepada pemangku kepentingan dan atau pengelola kawasan, untuk melakukan pengembangan kawasan tersebut. Selain itu juga diperlukan suatu kegiatan seperti bimbingan teknis, atau bentuk pelatihan agar pariwisata maju dan berkualitas. Karena selama ini, sumber daya manusia yang bergerak di bidang pariwisata, belajar secara alami atau otodidak sehingga sangat diperlukan sebuah pendampingan, sertifikasi, agar dapat memberikan pelayanan kepada pengunjung dengan baik.

16

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Program Save Sea Turtle In Your Hands


Pantai Citirem, Suaka Margasatwa Cikepuh, Jawa Barat
Oleh: Hartati Saat Februari 1999, KSPL Chelonia telah melakukan kegiatan konservasi penyu laut di lokasi ini. Program SSTIYH adalah program perdana yang dilaksanakan selama satu tahun yaitu Mei 2009 hingga April 2010. Kegiatannya mencakup antara lain pengumpulan data penyu ; inventarisasi flora dan fauna; kondisi kawasan ; edu fun games dan adopsi tukik. Program selama satu tahun ini memperoleh dukungan dari Inggris yaitu Mr. Peter Cullimore, The King/

Turtle Your ave Sea Turtle In Your Hands (SSTIYH), begitulah nama program yang dijalankan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta yang tergabung dalam Kelompok Studi Penyu Laut Chelonia (KSPL Chelonia) di Pantai Citirem, Suaka Margasatwa Cikepuh, Jawa Barat. Sejak terbentuknya kelompok tersebut pada tanggal 6

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 17

penelitian dan PENDIDIKAN

Penyu bertelur di pasir pantai Citirem

Cullimore Trust. Program ini bertujuan untuk mensosialisasikan keberadaan dan kondisi penyu laut serta habitatnya dan wahana komunikasi dan pengabdian mahasiswa terhadap dunia konservasi. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah informasi tentang bioekologi penyu laut serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian penyu.
Untuk inventarisasi flora dan fauna, telah dibuat 5 jalur transek sepanjang masing-masing panjang jalur 1 km dengan jarak antar jalur yaitu 500 m yang dibuat dari batas hutan pinggir pantai mengarah ke arah timur. Kelima jalur ini digunakan untuk pengamatan vegetasi, insekta (serangga), amfibia, reptilia, aves (burung) dan mamalia. Untuk pengamatan jenis kelas pisces (ikan) yaitu di muara Citirem. Sedangkan pengamatan kelas Gastropoda (filum moluska,

echinodermata dan arthropoda) ploting area pada karang Citirem (sebelah selatan dari camp KSPL) dan karang Tanjung Perahu (sebelah utara dari camp KSPL). Hasil pengamatan fauna didapat dari kelas mamalia sebanyak 15 jenis, dari kelas aves sebanyak 49 jenis, kelas reptilia sebanyak 7 jenis, kelas pisces sebanyak 16 jenis, kelas amfibi sebanyak 1 jenis, kelas insekta sebanyak 8 bangsa dari 17 suku, kelas gastropoda (filum moluska sebanyak 19 suku; filum echinodermata sebanyak 1 suku dan 5 marga; filum arthropoda sebanyak 1 bangsa). Sedangkan pengamatan flora pada kelima jalur didapat jenis-jenis vegetasi yang ada di area Pantai Citirem untuk tingkat pohon > 31 cm cbh sebanyak 56 jenis, tingkat tihang 20-31 cm cbh sebanyak 35 jenis, tingkat belta 6,3-20 cm cbh sebanyak 63 jenis dan tingkat semai <6,3 cm cbh sebanyak 59 jenis.

18

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pengambilan data penyu oleh tim KSPL dilakukan monitoring selama 3 malam tiap bulannya untuk menghitung populasi penyu yang singgah dan bertelur di Pantai Citirem. Monitoring dibagi dalam 3 pos pengamatan sehingga bisa diketahui dari tiap pos bila ada tanda-tanda penyu naik ke darat. Monitoring penyu dilakukan mulai pukul 19.30 04.30 WIB dengan melakukan pemantauan pada Pantai Citirem sepanjang 2,5 km untuk melihat adanya penyu yang mendarat untuk bertelur. Data dari tim KSPL ini akan membantu pengumpulan data yang juga dilakukan oleh Resort KSDA Cikepuh dan Cibanteng. Dari kegiatan selama setahun diperoleh sebanyak 21 ekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang berhasil ditemukan oleh tim KSPL. Bila data KSPL digabung dengan data Resort KSDA adalah sebanyak 84 ekor (data satu

tahun Mei 2009 April 2010). Dari ke-21 ekor yang berhasil ditemukan oleh tim KSPL hanya 16 ekor saja yang berhasil ditandai (ditagging). Penandaan (tagging) dengan nomor ID yang terbuat dari seng aluminium yang telah tercantum nomor tag serta kontak negara tag berasal. dilaksanakan dua kali yaitu bulan Agustus dan Nopember 2009. Dalam kegiatan edukasi, KSPL Chelonia bekerja sama dengan Yayasan Orangutan Internasional Kalimantan (YOIK) Jakarta. Christian N. Simanjuntak adalah edukator dari YOIK yang bertugas memberi materi bertema lingkungan di kelas untuk kelas IV, V dan VI. Untuk kegiatan edukasi bulan Agustus, sebanyak 10 siswa campuran dari kelas IV, V dan VI serta dua orang

Anak penyu (tukik) yang menetas di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 19

Pantai Citirem, Suaka Marga Satwa Cikepuh, Jawa Barat

guru ikut dalam kegiatan monitoring penyu di Pantai Citirem bersama-sama dengan tim KSPL. Sedangkan untuk edukasi di bulan Nopember, edukasi lebih bernuansa fun games dimana seluruh siswa/i dari kelas I hingga kelas VI diberi kesempatan bermain flying fox . Permainan bulldozer juga dimainkan oleh kelas IV, V, VI. Tidak lupa menyanyikan lagu-lagu bernada riang juga mengiringi kegiatan fun games. Sekilas tentang Suaka Margasatwa Cikepuh Sejarah kawasan Cikepuh ternyata memiliki perjalanan panjang sejak tahun 1900 hingga

akhirnya ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian tanggal 20 Oktober 1973 No. 523/Kpts/ Um/10/1973 dengan luas 8.127,5 ha. Secara geografis, posisi Suaka Margasatwa Cikepuh (SM Cikepuh) berada di 7 11' - 7 17' LS dan 106 21' 106 27' BT. SM Cikepuh memiliki pantai dengan kemiringan atau kelandaian 10 - 60 , panjang pantai kurang lebih 2,5 km dengan lebar pantai 0 6 m pada titik pasang tertinggi dan 40 90 m pada titik surut terendah. SM Cikepuh merupakan salah satu lokasi yang berpotensial yang ada di Pantai Selatan Jawa untuk pendaratan dan tempat bertelur bagi penyu hijau (Chelonia mydas).

20

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Kendala yang dihadapi dalam menangani kasus ini adalah sulitnya menangkap penggembala liar karena status kepemilikannya tidak jelas.

Kondisi kawasan Pantai Citirem saat ini masih dalam tahap suksesi karena belum pulihnya kondisi vegetasi pasca penebangan liar yang terjadi pada tahun 1998 hingga 2002 yang mengakibatkan sekitar 4.000 ha saat ini masih berupa semak yang tumbuh rapat bercampur dengan alang-alang. Pada tahun 2008, kegiatan rehabilitasi lahan dengan menanam jenis pohon lokal yaitu Kepuh (Sterculia foetida) yang tingginya sekitar 30 cm, dilakukan pihak Resort KSDA Cikepuh dan Cibanteng tampaknya juga kurang membuahkan hasil karena hampir seluruhnya mati karena terinjak-injak atau dimakan oleh kerbau-kerbau yang tidak jelas kepemilikannya yang sengaja dilepaskan di area tersebut. Informasi dari Polisi Kehutanan, kerbaukerbau ini bukan milik masyarakat di sekitar kawasan (Desa Pangumbahan), melainkan dari desa-desa yang jauh dari kawasan. Kendala yang dihadapi dalam menangani kasus ini adalah sulitnya menangkap penggembala liar karena status kepemilikannya tidak jelas. Banyaknya pendatang atau aktifitas masyarakat sekitar yang masuk dalam kawasan Pantai Citirem seperti pemancing ikan juga menambah pelik persoalan yang ada. Pencurian telur-telur penyu hijau yang ditangkarkan dalam penangkaran semi alami di Pantai Citirem dengan jalan merusak kandang penangkaran merupakan perbuatan yang sangat disengaja. Bahkan pada malam hari ketika penyu-penyu

Masalah yang ada di Pantai Citirem Permasalahan yang ada di area Pantai Citirem tampaknya menjadi kendala dalam penyelamatan penyu di area ini. Kebakaran hutan, penebangan liar, penggembalaan liar bahkan pencurian telur yang banyak terjadi. Menurut pengakuan polisi kehutanan setempat, gangguan yang paling utama terjadi SM Cikepuh adalah kebakaran hutan baik disengaja maupun karena pengaruh musim kemarau. Malah pada bulan Agustus 2009, sempat terdapat titik api (Hot Spot ) pada kawasan Cagar Alam Cibanteng yang berbatasan langsung dengan SM Cikepuh bagian utara.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 21

hijau yang mendarat di Pantai Citirem untuk bertelur, para pemancing ikan mengambil telur langsung dari lubang sarang bila mereka mengetahui ada penyu yang bertelur. Memang sebenarnya hal ini dapat dicegah bila ada suatu sistem yang menetapkan penjagaan penuh di kawasan Pantai Citirem. Hal ini belum bisa dilaksanakan karena belum adanya manajemen pemberian gaji bagi penjagapenjaga lokal sukarela (pamswakarsa). Penangkaran akan lebih aman jika ada petugas yang tinggal 24 jam di lokasi dan pencurian telur dapat diminimalis karena adanya patroli memonitor penyu tiap harinya. Pencurian telur sering terjadi pada saat kondisi camp sedang kosong ketika para pamswakarsa atau petugas kehutanan tidak sedang berada di lokasi. Para pamswakarsa ini adalah masyarakat Desa

Pangumbahan, desa yang paling dekat dengan Pantai Citirem. Mereka secara bergantian datang ke Pantai Citirem untuk memonitor penyu. Mereka melakukan monitoring di sepanjang Pantai Citirem dan jika bertemu dengan penyu yang bertelur, telur akan diambil dan ditanam dalam kandang penangkaran. Mereka juga mencatat data-data penyu seperti jumlah penyu yang mendarat, jumlah telur dan jumlah tukik. Upaya perlindungan Di dunia, semua jenis penyu telah dilindungi dan masuk dalam Red Data Book dan Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species ) karena populasinya semakin berkurang dan terancam punah. Di Indonesia sendiri, telah melindungi satwa ini dalam Peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1999

Sisi lain pantai Citirem

22

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Seminar Program Save Sea Turtle In Your Hand di Uneversitas Nasional, Jakarta

bahwa semua jenis penyu laut di Indonesia Dilindungi. Bila ada yang melanggar dengan pemanfaatan satwa-satwa yang dilindungi, dalam Undang-undang No. 5 tahun 1990 tercantum sanksi denda Rp 100.000.000,- dan kurungan penjara paling lama 5 tahun. Usaha penangkaran dan perlindungan habitat tempat bertelurnya penyu menjadi salah satu upaya pelestarian penyu laut. Salah satunya adalah di Pantai Citirem, Suaka Margasatwa Cikepuh, Jawa Barat. Seminar Program SSTIYH Tanggal 13 Agustus 2010, diadakan seminar hasil kegiatan setahun program SSTIYH yang diselenggarakan di Ruang Selasar Blok I lantai 3,

Universitas Nasional, Jakarta. Sebagai pembicara adalah dari KSPL Chelonia dan dari pihak Kementerian Kehutanan khususnya dari Balai Besar KSDA Jawa Barat yang dihadiri oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Ir. Sri Andajani, M.Si serta dari World Wildlife Fund yang diwakili oleh Margareth Meutia, Corporate Champaigner for Marine Programme. Seminar ini dihadiri beberapa kalangan khususnya dari kalangan pelajar, guru, mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat, seperti Himabio Rafflesia Universitas Islam Assyafiah (UIA), Fakultas Teknik UIA, Comata Universitas Indonesia, Orangutan Foundation International, Flora Fauna International IP, SMA Suluh, SMA Bhayangkari I, Fakultas Pertanian Universitas Nasional serta Fakultas Biologi Universitas Nasional.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 23

Pendidikan LINGKUNGAN

INTERNATIONAL BINA TUNAS BANGSA INTERNATIONAL SCHOOL

Mengenal Ekosistem Laut

Taman di Pulau Pramuka, Taman Nasional Kepulauan Seribu

anggal 20 21 April 2011 telah diadakan suatu kegiatan edukasi bernuansa laut yang diselenggarakan oleh salah satu Event Organizer yaitu Boemi Edukasi (BE). Kegiatan ini dilaksanakan di satu-satunya

kawasan Taman Nasional di Jakarta bagian utara yaitu Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNKpS) tepatnya di Pulau Pramuka. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dekat salah satu kekayaan

24

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

alam Indonesia tentang ekosistem laut. Materi dan praktek lapangan disampaikan dan dibimbing langsung oleh staf TNKpS Seksi Konservasi Wilayah III Pulau Pramuka. Peserta dalam kegiatan ini adalah dari sekolah Bina Tunas Bangsa International School (BTB IS) Jakarta untuk kelas 10, 11 dan 12. Kegiatan bertema Mengenal Ekosistem Laut ini terdiri dari kegiatan snorkling, melihat penangkaran hiu, transplantasi karang, pemutaran film ekosistem laut, entertain daur ulang, melihat tempat penangkaran penyu sisik (Eretmochelys imbricata ), menanam tanaman bakau

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 25

Pendidikan LINGKUNGAN
Rhizophora di pantai, melepas tukik, serta untuk kelas 12 mendapat tambahan kegiatan pengamatan penyu sisik pada malam hari. Hari pertama, para siswa-siswi (45 orang) dan lima orang guru pendamping BTB IS berangkat dari Marina Ancol dengan menggunakan kapal Dolphin yang berkapasitas 200 orang milik Kapten Alex, salah satu penduduk Pulau Pramuka. Perjalanan memakan waktu 2,5 jam dan mereka tiba di Pulau Pramuka sekitar pukul 10.00 WIB. Rombongan peserta kemudian dipandu ke tempat penginapan di Wisma Dermaga untuk menaruh barang bawaan. Setelah beristirahat sejenak, peserta dan crew BE kemudian berkumpul di area Kantor Seksi Konservasi Wilayah III (KSKW III) yang tak jauh dengan lokasi penginapan peserta. Peserta diterima oleh pihak TNKpS yang diwakili oleh Bapak Ginda Ginanjar selaku perwakilan dari Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Pulau Pramuka. Selanjutnya pengarahan untuk peserta selama berada di Pulau Pramuka diberikan juga oleh staf TNKpS yaitu Bapak Deden H.A. Permas dan Bapak M. Firdiansyah (Pak Firdi). Setelah mendapat arahan dan wejangan, peserta kemudian diajak mengunjungi tempat replantasi karang. Pemberian materi dan praktek replantasi karang diberikan oleh Pak Mahmudin petugas dari TNKpS. Mereka diajarkan pengenalan karang dan cara mereplantasi karang kemudian menaruhnya ke laut.

Siswa siswi BTB IS dalam kegiatan pengenalan karan dan cara mereplentasi karang

26

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Setelah selesai, peserta kembali ke penginapan untuk makan siang dan bersiap-siap kegiatan snorkling dan mendengarkan pengarahan dari staf TNKpS. Kegiatan snorkling dipandu dan didampingi oleh 4 orang staf TNKpS Seksi Konservasi Wilayah III (Pak Ginda, Pak Firdi, Pak Sairan, dan Pak Apen). Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Semak Daun untuk latihan penggunaan alat-alat snorkling. Setelah cukup uji coba penggunaan alat snorkling, peserta kemudian mulai melakukan snorkling sungguhan pada kedalaman 5 m di bagian soft coral Pulau Panggang. Peserta dapat langsung melihat ekosistem laut sambil bersenang-senang menikmati pemandangan

bawah laut. Tak ketinggalan pula, para Crew BE turut serta bersnokling bersama-sama dengan peserta dan petugas TNKpS. Transportasi yang digunakan untuk pengangkutan para peserta dari satu pulau ke pulau lainnya dengan menggunakan 3 buah kapal. Setelah selesai bersnokling hingga sekitar pukul 16.00 WIB, peserta dibawa ke Pulau Gosong Pramuka untuk melihat penangkaran hiu sirip hitam dan hiu bodo. Peserta diberi tontonan melihat keagresifan hiu ketika diberi makan ikan. Akhirnya tanpa terasa hari sudah senja, rombongan kembali ke Pulau Pramuka, saatnya mandi Setelah makan malam, peserta kembali berkumpul di area KSKW III untuk melihat film

Siswa siswi BTB IS menaruh karang yang telah direplentasi ke laut

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 27

Pendidikan LINGKUNGAN

Kompetisi desain gaun dari bahan daur ulang

tentang ekosistem laut seperti hutan mangrove, penyu sisik dan lamun. Pemutaran film ini difasilitasi oleh pihak TNKpS. Setelah nonton film, kemudian diberikan materi tentang daur ulang plastik yang disampaikan oleh salah satu Crew BE, Uto. Kemudian dilanjutkan dengan entertaint yang masih bertemakan dengan daur ulang plastik dan kain (bahan dari karung goni) yang disampaikan oleh Mamex, Crew BE. Peserta dibagi 3 kelompok sesuai dengan kelasnya yaitu kelas 10, 11 dan 12. Para peserta dituntut untuk berkreasi menggunakan plastik dan karung goni untuk didesain menjadi gaun yang akan dipakai 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan perwakilan dari masing-masing kelas. Sambil menunggu desainer-desainer masing-masing kelas membuat gaun daur ulang, barbekyu dari

jenis-jenis makanan laut juga menyelingi aktifitas peserta. Akhirnya setelah diadakan kompetisi gaun daur ulang, dari kelas 11 lah yang juara I. Disusul kelas 12 juara II dan kelas 10 juara III. Setelah selesai, acara terakhir adalah api unggun. Hari sudah pukul 23.30 WIB. Semua peserta berdiri mengelilingi api unggun sambil merangkul bahu temannya sambil menundukkan kepala merenung agar tercipta kebersamaan diantara mereka. Selesai acara api unggun, para siswa/i kelas 10 dan 11 beristirahat sedangkan untuk kelas 12 bersiap-siap untuk melakukan pengamatan penyu sisik di sebelah timur Pulau Pramuka. Pantai sebelah timur Pulau Pramuka ini adalah lokasi pendaratan penyu sisik yang biasa diamati oleh petugas TNKpS. Titik pengamatan dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing

28

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

kelompok didampingi oleh petugas TNKpS dan Crew BE. Keheningan suasana dituntut dalam pengamatan penyu. Para peserta sangat patuh setelah diberi arahan cara mengamati penyu agar tidak membuat kegaduhan atau berisik. Menurut pengakuan petugas TNKpS yang menemani, kemungkinan bertemu dengan penyu sisik kecil sekali karena kondisi bulan yang sangat terang sehingga suasana pinggir pantai cukup terang. Penyu sangat sensitif dengan kondisi yang terang. Selain itu, kondisi siswa/i yang juga sudah cukup lelah setelah setengah hari melakukan snorkling sehingga pengamatan tidak berlangsung lama hanya sekitar 1 jam. Tanpa

mendapat kesempatan melihat atau bertemu dengan penyu sisik yang mendarat untuk bertelur, akhirnya pengamatan dihentikan dan semua kembali ke penginapan masing-masing untuk berisitirahat. Tidur zzzzzz Hari kedua, sarapan pagi telah siap. Peserta nampaknya masih terlihat lelah namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk beraktifitas kembali. Selesai sarapan pagi, kegiatan pertama adalah menanam tanaman bakau dari jenis Rhizophora. Sebelumnya pemberian materi secara lisan tentang tanaman bakau diberikan oleh Pak Firdi. Baru kemudian praktek langsung menanam tanaman bakau dari jenis Rhizophora stylossa di pinggir pantai dekat KSKW III. Tidak hanya

Salah seorang siswa Bina Tunas Bangsa International School menanam mangrove

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 29

Pendidikan LINGKUNGAN
siswa/i, para guru juga turut menanam. Setelah menanam bakau, kemudian peserta diajak melihat tempat penangkaran penyu sisik. Pak Salim adalah petugas TNKpS yang bertugas mengurus penangkaran penyu sisik. Sebelumnya Pak Salim juga memberi praktek cara membuat persemaian Rhizophora. Selain siswa/i, para guru juga ikut mencoba membuat persemaian Rhizophora. Baru kemudian peserta dipersilahkan melihat secara langsung penyu-penyu sisik yang ada di bak-bak penangkaran. Para siswa/i dan guru diberi kesempatan memberi makan ikan kepada penyu-penyu sisik yang ada di penangkaran. Tidak lupa Pak Firdi juga memberikan materi tentang penyimpanan telurtelur penyu sisik yang ditanam dalam ember-ember penangkaran yang berisi pasir. Telur-telur penyu sisik ini banyak yang telah menetas menjadi tukik (anak penyu) dengan variasi umur dari 3 hari sampai 2 minggu dengan jumlah 150 ekor. Saatnya kegiatan terakhir yaitu melepas tukik. Sebanyak 10 ekor tukik dilepaskan di pantai sebelah timur Pulau Pramuka tempat semalam kami mengadakan pengamatan penyu. Perwakilan guru dari BTB IS, Mr. George menandatangi Berita Acara pelepasan tukik yang telah disediakan oleh pihak TNKpS. Acara secara keseluruhan telah berakhir dan makan siang telah siap. Setelah makan siang, sekitar pukul 13.00 seluruh rombongan dari BTB IS dan crew BE memasuki kapal yang khusus kawi sewa kembali ke Marina Ancol. Selamat tinggal Pulau Pramuka Keelokan dan keindahanmu akan selalu kami jadikan kenangan.
(HS)

Sesaat sebelum melepas tukik

30

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

MEMBUA (IWA) MEMBUAT KERAJINAN DARI BARANG BEK AS (IWA)

Sampah adalah Berkah... Ter ertunda Uang yang Ter tunda


Oleh: Hartati Saat uanglah sampah pada tempatnya! Slogan-slogan ini sangat jarang ditemui di lingkungan sekitar kita. Kurangnya kesadaran masyarakat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta ini untuk membuang sampah pada tempatnya menambah pelik kendalakendala yang dialami masyarakat Jakarta. Bagaimana tidak, banjir adalah salah satu yang disebabkannya. Saluran-saluran air seperti kali,

got, bahkan pintu air juga dipenuhi beragam sampah sehingga terhambatnya jalur air yang mengakibatkan meluapnya air ke jalan. Ternyata, sampah sebenarnya ada gunanya. Disamping sebagai bahan kerajinan tangan, hasilnya pun bisa mendatangkan uang. Sampah adalah berkah...Uang yang tertunda... itulah penuturan dari seorang ibu rumah tangga,

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 31

Pendidikan Lingkungan

Aryanti (akrab dengan panggilan Uto) yang aktif di suatu lembaga di Jakarta yaitu Jakarta Green and Clean (JGC). JGC pertama kali terbentuk di Surabaya. Kemudian berkembang di Pulau Jawa salah satunya di Jakarta pada tahun 2007. JGC sendiri adalah lembaga yang didukung oleh PT Unilever Indonesia Tbk. Untuk daerah Jakarta Utara sendiri mulai terbentuk pada tahun 2008 dan Uto turut terlibat di dalamnya. Tahun 2009, Uto aktif sebagai fasilitator RW 03 Semper Barat Jakarta Utara yang bertugas mensosialisasikan tentang kebersihan, penghijauan, daur ulang, komposting dan lubang bio pori. Sekarang Uto menjadi Koordinator JGC untuk Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Hingga saat ini Uto aktif membuat karya tangan seperti tas, hiasan kupu-kupu, gantungan kunci ikan, gantungan untuk tirai (korden) dan lain-lain yang ia gunakan sebagai wadah usahanya.

Si Guru Daur Ulang Awalnya hanya untuk koleksi pribadi. Tapi karena banyaknya orang yang melihat dan tertarik pada tas karyanya tersebut jadi ingin memesan. Karena kewalahan memenuhi pemesanan, akhirnya Uto menurunkan ilmu daur ulangnya ke para ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk bisa memperbanyak hasil karya tangan dan mengajak secara tidak langsung cara pengolahan dan pemanfaatan sampah plastik. Adiknya, Titin, turut serta dan sudah memiliki keahlian membuat berbagai karya tangan. Saat ini Uto menjadi guru daur ulang bagi 30 ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya yang tergabung dari 2 RT (Rukun Tetangga). Para ibu rumah tangga ini biasanya melakukan kegiatan belajar membuat tas dan lain-lain pada waktuwaktu luang setelah memasak dan mencuci.

32

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Kadang-kadang setelah mampu membuat tas, para ibu membuat tas di rumahnya masingmasing. Bahkan saat ini Uto menjadi bos bagi para ibu-ibu di sekitar rumahnya dengan memberi imbalan pada ibu-ibu yang membantu proses penyelesaian pembuatan tas. Nilai imbalannya beragam, tergantung dari jenis yang dipasang. Seperti pemasangan resluiting, para ibu akan mendapat Rp 2.000 per satuannya ; pasang bahan puring Rp 1.500 serta jahit puring

Rp 1.000. Selain membantu pembuatan tas, para ibu yang juga turut membantu membuat (menggunting-gunting) pola untuk ikan dan kupukupu, tiap 100 unit nya akan mendapat imbalan sebesar Rp 10.000. Dalam hal ini, Uto dapat menciptakan peluang usaha baru walaupun masih dalam skala kecil. Di sela-sela kesibukan membuat karya tangan, Uto juga menjadi tenaga lepas sebagai fasilitator daur ulang di acara-acara outbound untuk anak-anak sekolah.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 33

Pendidikan LINGKUNGAN
Kar Tangan arya Membuat K ar ya Tangan Dari Sampah Plastik Berbagai bungkus plastik produk merk kopi dan minuman (seperti kopi abc susu, kopi abc mocca, kopi kapal api, good day, nescafe, nutrisari, energen dan lain-lain) dapat dibuat menjadi tas dengan ragam dan corak yang berbeda. Banyaknya jumlah bungkus plastik yang diperlukan untuk pembuatan 1 tas tergantung dari besar kecilnya tas yang akan dibuat. Sekitar 120 - 300 bungkus merk kopi diperlukan untuk membuat 1 tas. Produk air minum tertentu (seperti viro) juga dapat dibuat tas dan memerlukan sekitar 100 200 plastik merknya. Pembuatan 1 tas memerlukan proses selama 3 hari. Produk merk kopi dan berbagai merk cemilan keripik (seperti chitato, taro, cheetos, lays dan lain-lain) juga bisa dibuat hiasan bros bentuk kupu-kupu. Untuk membuat gantungan kunci bentuk ikan, bahan yang digunakan adalah produk plastik dari merk pembersih lantai, pencuci piring atau lainnya (seperti densol, sunlight, mama lemon, molto, rapika dan lain-lain) yang memiliki kualitas plastik lebih tebal dibanding plastik dari merk kopi, air minum dan cemilan keripik. Sedangkan untuk gantungan tirai (korden) dibuat dari bahan gelas plastik dari minuman. Penjualan hasil karya tangan ini pada acaraacara pameran seperti acara Green Festival atau pameran bernuansa lingkungan setiap tahunnya

34

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

dengan naungan PT Unilever Indonesia Tbk atau dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Harga tiap karya tangan bervariasi. Untuk gantungan kunci ikan harga satuannya Rp 3.000, bros kupu-kupu Rp 2.500, hiasan tirai Rp 50.000/ set dan bermacam produk tas dari Rp 15.000 hingga Rp 150.000. Sejak tahun 2009, warga di sekitar tempat tinggal Uto telah memiliki kesadaran untuk pemilahan sampah terutama sampah-sampah plastik merk tertentu yang digunakan untuk membuat karya tangan. Bila ada warga yang menyerahkan sampah-sampah plastik merk tertentu tadi, akan diberikan imbalan sebesar Rp 5.000,- per 100 bungkus.

Tampaknya, kegiatan para warga di lingkungan kediaman Uto, ikut memiliki peran menyelamatkan bumi. Memilah-milah sampah anorganik untuk digunakan kembali menjadi sebuah karya tangan dapat mengurangi limbah dan turut menjaga lingkungan. Mulai dari yang terkecil oleh beberapa gelintir kepedulian. Bagaimana jika yang peduli satu Kecamatan? Satu Kabupaten? Seluruh pulau di negara kita? Mungkinkah Indonesia bisa bebas dari sampah? (HS)
Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan dapat menghubungi: Aryanti (Uto). Asrama DKI Rt 016/03 No.15 Blok D Lt.2 Semper Barat, Jakarta Utara Hp: 021-98778465, 0821-22700665, 0856-7642136

Sampah plastik, bisa mendatangkan uang melalui sentuhan tangan tangan kreatif

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 35

Pendidikan LINGKUNGAN

Membuat Pikohidro
Mengapa Harus Pikohidro.

risis energi sudah mulai dirasakan, listrik mati bergiliran sudah tak asing lagi di negeri kita tercinta ini. Sementara kebutuhan akan listrik terus meningkat dari waktu ke waktu. Penambahan dengan berbagai cara dilakukan, termasuk pemanfaatan batu bara yang merupakan pemasok gas rumah kaca terbesar di planet ini, mau tak mau dilakukan. Sedangkan di beberapa daerah pemanfaatan BBM untuk pembangkit listrik, juga ada di manamana.

Sementara, alam menyediakan segala sesuatu untuk kebutuhan manusia, termasuk air, angin dan cahaya matahari yang melimpah, sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil listrik untuk kebutuhan hidup. Dengan menggunakan air mengalir yang debitnya kurang dari 10 liter per detik, dan tidak memerlukan bendungan yang besar, sebenarnya sudah dapat menghasilkan aliran listrik, cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Mengapa tidak.

36

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Kini ditemukan sebuah teknologi sederhana, untuk memenuhi kebutuhan listrik, dengan alat yang disebut Piko-hidro. Alat ini ada beberapa cara untuk menghasilkan listrik, dengan menggunakan atau memanfaatkan aliran air yang jatuh dari sebuah bak, atau bendungan kecil. Ada dua bentuk yaitu : 1. Pikohidro celup, dimana turbin dan pembangkit listrik dicelupkan ke dalam air. 2. Pikohidro semi celup, artinya turbin dicelupkan ke dalam air, sedangkan pembangkit listrik, berada di atasnya dengan menggunakan pipa.

Saluran pemasukan air

Kabel aliran listrik

Saluran pembuangan jika terjadi luapan air Bak dengan ukuran 40X40 cm cukup untuk menghasilkan listrik utuk rumah tangga Pikohidro celup

Baling baling akan berputar bila ada aliran air yang keluar

Pipa buangan sekaligus penghasil energi untuk memutarkan baling baling

SKETSA PEMBUATAN PIKOHIDRO CELUP

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 37

Pendidikan LINGKUNGAN
Pembangkit listrik Saluran pemasukan air Kabel aliran listrik

Saluran pembuangan jika terjadi luapan air Bak dengan ukuran 40X40 cm cukup untuk menghasilkan listrik utuk rumah tangga

Baling baling akan berputar bila ada aliran air yang keluar

Pipa buangan sekaligus penghasil energi untuk memutarkan baling baling

SKETSA PEMBUATAN PIKOHIDRO SEMI CELUP

Cara Penyiapan untuk Piko-hidro celup. 1. Bak dengan ukuran 40x40 cm, dan di dalamnya dibuat lubang paralon. Lubang paralon ini sebagai saluran pembuangan, dan sekaligus sebagai tempat menaruh turbin. 2. Ketinggian dari bak ke pembuangan antara 2-3 meter.

3.

4.

Bak diisi dengan air, serta pengisian air ini sebaiknya konstan atau tetap. Artinya pemasukan dan pengeluaran seimbang. Pertama-tama isi bak hingga penuh, kemudian dimasukkan piko-hidro celup. Air buangan dengan arus yang tinggi, akan memutarkan turbin, turbin memutar pembangkit listrik.

38

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pikohidro celup yang sudah dipasarkan dan diproduksi oleh CV. Cihanjuang Inti Teknik (CIT) Jl. Cihanjuang no 204, Kelurahan Cibabat Cimahi Utara Cimahi, Kabupaten Bandung.

Contoh : Model Turbin Celup TC-60 Keunggulan Turbin Celup: Instalasi sipil dan Instalasi listrik sederhana Kebutuhan air sedikit, banyak potensi yang bisa diterapkan Maintenance free ( tanpa perawatan khusus) Tanpa bahan bakar, dengan perangkat tambahan mampu meningkatkan tingkat

keawetan, performansi dan kapasitas energi (ampere-jam) seperti sistem kontrol beban, aki (baterry) dengan inverter. Atau menggunakan teknologi lampu LED Garansi 3 bulan

Spesifikasi Sistem Jenis Turbin : Propeller Open Flume Jenis Generator : Permanent Magnet Tegangan : 200 - 220 volt Tegangan tanpa beban : 300 Volt Frekuensi : 90 Hz Putaran : 2700 rpm Disain Head : 3 meter Disain Debit : 5.5 liter/detik Rating power : 100 watt

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 39

Rahasia ALAM

Cendrawasih
Papua Si Burung Cantik dari Papua

B
40

urung Cendrawasih adalah burung endemik yang hanya terdapat di Papua. Keberadaan burung ini sebenarnya masih mengkhawatirkan karena masih adanya perburuan untuk dijadikan pajangan ataupun dipelihara. Keindahan dari warna bulu dan bentuk ekornya yang panjang, begitu pula suaranya yang merdu, menjadikan burung ini banyak diminati oleh pemburu. Salah satu

contoh adalah jenis Cendrawasih Kecil (Paradisaea minor). Salah satu upaya pemerintah dalam perlindungan burung cendrawasih adalah diterbitkannya peraturan pada tahun 1931 melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 1931 yang kemudian diperkuat lagi dengan terbitnya SK Menteri Kehutanan tanggal

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Semut
Bunuh Diri Secara Masal
urun tahta secara kesadaran diri sendiri atau dipaksa, umum terjadi pada bangsa manusia. Seandainya terjadi undur diri secara massal dengan cara bunuh diri dan terjadi pada bangsa manusia, mungkin akan menjadi berita heboh.

Pengalaman ini benar-benar terjadi, tetapi bukan pada manusia lho..., namun pada bangsa semut. Unik memang, sisi kehidupan yang ada di sekitar kita itu. Suatu sore hari, saat aku pulang dari hutan, di Taman Nasional Tanjung Puting, Tepatnya di Camp Leakey, Kalimantan Tengah,

Paradigalla Ibinimi (Paradigalla brevicauda ), Cendrawasih Besar (Paradisaea apoda ), Cendrawasih Kecil (Paradisaea minor ), Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra ) dan Cendrawasih Jingga/Cendrawasih Raggiana (Paradisaea raggiana ). Di wilayah Kabupaten Sarmi, masyarakatnya masih berpegang teguh pada kepercayaan adat. Di Kabupaten ini, burung cendrawasih adalah burung yang sangat dilindungi secara adat sehingga tidak diburu. Hal itu menunjukkan bahwa masih ada sebagian masyarakat Papua yang mempunyai kearifan lokal dalam menggunakan dan memanfaatkan isi hutannya. HS

10 Juni 1991 No. 301/Kpts-II/1991. Ada 6 (enam) jenis cendrawasih yang dilindungi atas dua dasar hukum tersebut yaitu Cendrawasih Berpial Ekor Panjang/Paradigalla Ekor Panjang (Paradigalla carunculata ), Cendrawasih Berpial Ekor Pendek/

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 41

Rahasia ALAM

usai melakukan penelitian, dikejutkan dengan ribuan semut yang sudah mati di halaman. Mungkin ratusan ribu, karena semut-semut itu sudah mati dan memenuhi halaman seluas 3x4 meter itu. Kemudian aku mengamati satu persatu, apakah ada yang menyemprot semut semut tersebut dengan obat serangga atau tidak. Jadi sebuah pertanyaan dalam benak ini. Terus aku amati dan mencari lubang semut barang kali ada bekas bau obat serangga atau tidak. Eh..rupanya tidak, saat seekor semut yang berwarna coklat tua (semut api yang gatal kalau menggigit) keluar dari lubang, berjalan entah apa yang dicari, tetapi setelah berjumpa dengan seekor semut yang berwarna coklat juga, mereka langsung saling menggigit, dan dua-duanya mati. Aku nggak pecaya terus mencari bukti, mencari semut yang lain. Ketika keluar semut yang masih warna pucat. Saat semut tersebut bertemu dengan

semut yang warna coklat tua, mereka tidak saling menggigit, atau malah memberi salam satu sama lain. Demikian juga kalau semut yang masih pucat itu (semut muda) berjumpa dengan sesama semut muda tidak saling menggigit. Lama aku perhatikan, satu-satu semut yang keluar dari liang, kemudian saling menggigit dan mati, sedangkan yang masih muda bebas berkeliaran di mana-mana. Mungkinkah semut semut tua itu undur diri dan memberikan kesempatan bagi yang muda untuk hidup. Atau memang sudah menjadi tugas semut kalau anak-anak menetas harus mati, seperti ikan salmon yang rela berenang berkilo-kilo meter menuju hulu sungai, setelah bertelur, mati. Atau jenis serangga sehari seusai bertelur dan anaknya menetas, langsung mati. Menunaikan tugas, demi keturunan. Unik juga kehidupan ini. Tuhan Maha Besar, masih banyak kehidupan di sekitar kita yang sangat unik, dan masih menjadi rahasia.

42

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Tanjung Keluang
Wisata Alternatif di Kotawaringin Barat
Sebuah kawasan Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan SK Menhut No. 046/Kpts-II/1984 tanggal 12 Maret 1984. Dengan luas : + 2.685,50 ha. Secara geografis berada 111 42 111 45 BT dan 3 42 3 55 LS,tepatnya di Desa Kubu, Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat - Kalimantan Tengah. Selain menyajikan panorama landscape dengan hamparan pasir putih yg berhadapan dengan laut Jawa, hiasan cemara pantai, mangrove dan tumbuhan pantai lainnya, ditambah keberadan satwa dilindungi seperti burung, penyu sisik, an penyu hijau menambah wajah baru Pariwisata alam di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 43

44

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Paket Lebaran
Pada moment lebaran kemarin TWATK mengonsep paket release pelepasan anak penyu /tukik ke laut. Sebanyak 10 ekor tukik dilepasliarkan kelaut. dalam upaya pelestarian satwa dilindungi tersebut, kami menghaturkan ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada mereka yang telah berpartisipasi dan peduli pada kegiatan ini, antara lain : 1.Azmi Mirrah Azizah & M. Firda T.W; 2.Fitrya Mahayanti (Siswa SMAN 3 P. BUn); 3.Keluarga Bpk Iskandar (Sampit); 4.Rida,ozon,wawan,ade (Gg.Teratai 1 P.Bun); 5 Dhiany & Tom (New Zealand & Australia). Mari menjaga dan terus melestarikan penyu

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 45

Pendaratan Penyu Tempat Pendaratan Penyu Laut untuk Bertelur


Kawasan pesisir di Taman Wisata Tanjung Keluang, yang memiliki hamparan pasir putih, sering dijadikan tempat bertelur beberapa jenis penyu laut. Di antaranya adalah Penyu Sisik dan Penyu Belimbing. Kawasan ini menjadi obyek wisata untuk pengamatan satwa laut yang dilindungi ini.

Penyu Bertelur di Lapangan Futsal ( Goal Nesting )


Malem itu, Jumat 9 September 2011, sekitar pukul 19.45 WIB si Chaping singgah keTWA, sempat kebingungan selama 2 jam muter muter cari tempat yang aman dan nyaman. Tepat pukul 22.00 WIB berhasil membuat sarang alaminya dengan jumlah telur yang dikeluarkan sebanyak 190 butir tepat di depan gawang arena Futsal.

46

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Titik Nol Indonesia


Dari Sabang sampai ke Merauke Berjajar pulau-pulau Sambung menyambung menjadi satu Itulah Indonesia...

enggalan lagu yangmenggambarkan pulau-pulau di nusantara itu, pasti semua orang tahu. Dari anak-anak hingga dewasa. Karena lagu itulah yang diajarkan guru

kita ketika duduk di bangku SD bahkan di TK. Kini aku menapakkan kaki di Sabang, sebuah pulau yang terletak di ujung barat utara negeri ini. Sungguh luas negeri ini. Konon negeri seperti untaian jamrud di khatulistiwa. Titik Nol, begitulah banyak orang menyebut. Karena di ujung Pulau Weh itu terletak tugu Titik Nol Kilometer, yang menandai batas wilayah paling ujung barat Indonesia.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 47

Titik Nol Kilometer, memang jadi tujuan wisata, baik wisatawan asing ataupun Nusantara yang ingin menapakkan kakinya di ujung barat Indonesia. Untuk menuju ke sana, tidaklah susah. Dari Banda Aceh, naik kapal feri cepat yang hanya memakan waktu satu jam. Dari pelabuhan Sabang menuju Titik Nol memakan waktu kurang dari dua jam. Jaraknya di peta memang tidak jauh, akan tetapi jalan yang bekelok-kelok menyusur pantai dan di lembah tebing yang terjal, sehingga kendaraan tidak bisa berjalan kencang. Sebenarnya wisata ke Sabang tak hanya ke Titik Nol saja, akan tetapi sepanjang perjalanan dari pelabuhan menuju ujung Indonesia itu, banyak ditawarkan aneka wisata yang sangat menarik. Mulai kunjungan ke alam hutan dengan mandi air panas, keindahan air terjun, juga wisata ke pantai yang dapat ditemui keindahan kehidupan alam di bawah laut, dengan aneka terumbu karangnya. Keindahan terumbu karang sempat mengalami kerusakan beberapa waktu lalu, ketika terjadi tsunami. Akan tetapi beberapa lembaga

swadaya masyarakat melakukan perbaikan dengan melakukan penanaman kembali terumbu karang tersebut dengan berbagai cara. Posisi Titik Nol ada di ujung pulau, dan di sekelilingnya masih ditumbuhi hutan tropis yang lebat. Satwa seperti monyet, banyak ditemukan berkeliaran di sana. Namun keindahan Titik Nol ini, dikotori oleh para pelancong yang ingin menuliskan identitas mereka di sekeliling tugu tersebut, dengan membuat coretan dari cat yang membuat keindahan Titik Nol terganggu dengan berbagai warna warni vandalisme. Sebenarnya hal ini tidak terjadi, seandainya disediakan tempat untuk menuliskan identitas kelompok, pengunjung dari luar daerah yang telah berkunjung ke sana, sehingga tidak mengganggu keindahan Titik Nol. Banyak penginapan antara Kota Sabang ke Titik Nol, baik yang ada di pantai dengan paket wisata menyelam, snorkeling atau sekadar berlayar menikmati keindahan alam laut Pulau Weh. Atau hotel-hotel di kota yang banyak dijumpai.

48

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

Pangumbahan
Turtle Park (Pangumbahan Turtle Park )
Oleh: Hartati Saat

Pesisir Pantai Penyu Taman Pesisir Pantai Penyu

Kembali mengunjungi penangkaran penyu hijau (Chelonia mydas ) di Pangumbahan


Waktu itu bulan Agustus 2008, ketika kunjungan pertama saya ke tempat penangkaran penyu di Pangumbahan, penyimpanan telur-telur penyu dengan menggunakan gentong-gentong. Tapi, di awal bulan tahun 2011, ketika saya kembali mengunjungi penangkaran penyu di Pangumbahan, rupanya memiliki banyak perubahan. Penyimpanan telur-telur penyu tidak lagi menggunakan gentong, melainkan sudah dibangun sebidang lahan yang dikelilingi dengan pagar kawat besi setinggi 170 cm dan luas 12 x 10 m.

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 49

Taman Pesisir Pantai penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park) yang berlokasi di Kecamatan Ciracas, Sukabumi merupakan kawasan pantai pendaratan dan peneluran penyu yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi. Umumnya jenis penyu yang bertelur di kawasan ini adalah penyu hijau (Chelonia mydas ). Panjang pantai Pangumbahan ini adalah 2,3 Km.

1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi No. 5 tahun 2009 tentang Pelestarian Penyu di Kabupaten Sukabumi.

Pelestarian penyu yang memiliki status Dilindungi telah diatur dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi, seperti:

Undang - Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya Undang - Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun

Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum atau mobil pribadi hingga lokasi yang disebut dengan Ujung Genteng. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pangumbahan dengan menggunakan ojek motor bila kondisi jalanan sedang becek. Waktu yang ditempuh 15 menit dari Ujung Genteng ke Pantai Pangumbahan. Ongkos ojek motor seharga Rp 30.000. Tapi bila kondisi jalan sedang kering, disarankan hanya mobil dengan 4 gardan (4 wheels) yang bisa melewati jalan ini. HS

50

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11

BUMI SEMAKIN GERAH


B
o o o o aru-baru ini, Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 0,3 C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menenggelamkan seluruh pulau.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. o Sepanjang tahun 1980- 2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C pertahun. o Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87o C pertahun. o Menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia, yaitu Gunung Jayawijaya di Papua. CARA-CARA PRAK TIS DAN SEDERHANA MENDINGINK AN BUMI: 1. Matikan listrik.(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telepon genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi). 2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet). 3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%). 4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C). 5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll). 6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater. 7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda. 8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon. 9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara). 10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu). 11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastik menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
E d i s i 6 Ta h u n I I I , J u n i D e s e m b e r 2 0 11

PESAN dari ALAM 51

52

PESAN dari ALAM

E d i s i 6 Ta h u n I I I ,

J u n i D e s e m b e r 2 0 11