Anda di halaman 1dari 19

I.

IDENTITAS Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Suku : Ismail : 21 tahun : Laki laki : Tembelo, Sweta :: Islam : Sasak

II. SUBJECTIVE (ANAMNESIS)

1.Keluhan Utama

: Lemas

2.RPS

: lemas disertai dengan rasa pusing dan adanya perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi saat gosok gigi sejak hari Senin tanggal 19 November 2012. Keluhan diperberat dengan adanya aktivitas dan mereda saat istirahat (berbaring). Selain itu, pasien juga mengeluh sering sakit di bagian tengkuk. Frekuensi BAB [pasien 1 2 kali per hari. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUP, dikethui hemoglobin pasien 5,2 mg/dl dan sudah mendapatkan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Selain itu, pasien sudah mendapatkan infus NaCl sebanyak 3 infus.

3.RPD

: Keluhan serupa dialami pasien sejak kelas 3 SMK semester 2. Waktu itu pasien mengeluh lemas, pusing dan dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUP. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUP diketahui pasien mengalami anemia dengan hemoglobin 4,4 mg/dl. Selain itu, pasien juga sering mengeluh memar yang banyak di bagian tubuh, seperti paha, lengan, dan bagian lainnya dan terdapat bercak kemerahan di bagian paha dan punggung. Pasien juga mengatakan pernah berak yang berwarna kopi yang bercampur dengan feses satu tahun yang lalu. Sampai waktu kemarin pasien sudah dirawat di RSUP sebanyak 5 kali dengan keluhan yang sama.
1|Page

4. RPK

: Di keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit serupa

5. Riwayat pengobatan : waktu pasien di bawa ke puskesmas, pasien mendapatkan tablet penambah darah. Selama di RSUP pasien hanya mendapatkan transfusi dan dexametason yang dimasukkan melalui infus pasien. 6. Riwayat sosial : Pasien merupakan perokok sejak kelas 2 SMP. Sekitar kelas 2 SMA pasien konsumsi rokok sampai 2 bungkus per hari. 7. Anamnesis Sistem : Saraf/psikiatri Respirologi Dermatologi : Normal : tidak ada batuk, pilek dan sesak : Normal

III.

OBJECTIVE (PEMERIKSAAN FISIK)

1. Vital Sign a. Tekanan darah : 100/ 70 mmHg b. Nadi c. Pernapasan : 56 kali per menit : 26 kali per menit

2. Pemeriksaan Abdomen 1. Inspeksi

2|Page

Umum

: pasien tidak tampak kesakitan, pasien tampak kuning (ikterus), anemia, telapak

tangan dan kaki tampak kuning, Khusus : dari inspeksi abdomen dapat dilihat bentuk abdomen datar, tidak terlihat adanya

stria, sikatrik, pelebaran vena, luka bekas operasi, pulsasi aorta abdominalis maupun gerakan peristaltik usus. 2. Auskultasi Auskultasi keempat kuadran usus terdengar bisisng usus normal dengan frekuensi 5 kali / menit 3. Perkusi Perkusi orientasi didapatkan suara timpani di seluruh lapang abdomen Perkusi batas hati didapatkan batas hati 6 cm Perkusi lien tidak didapatkan adanya pembesaran lien

4. Palpasi Palpasi ringan tidak ditemukan adanya nyeri, pasien tidak tampak kesakitan dan terdapat ketegangan otot di sebelah kanan abdomen Palpasi dalam tidak ditemukan adanya nyeri, masa maupun pembesaran organ Palpasi hati tidak teraba Palpasi lien tidak teraba Palpasi ginjal tidak teraba

3. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Darah Hb 4.4 g/dL L : 11-18 P : 11.516.5 RBC HCT MCV MCH 1.20 x 10^6 l 14.3 % 119.2 fl 36.7 pg L : 4.5-5.5 P : 4-5 L : 40-50 P : 37-45 82-92 27-31
3|Page

Hasil

Nilai Normal

Interpretasi

RDW-SD RDW-CV EO% BASO% NEUT% LYMPH% MONO% EO# BASO% NEUT% LYMPH% MONO% PLT PDW MPV P-LCR PCT

30.8 fl 63.5% 1.0 % 0.3 % 21.6 % 68.3 % 8.8 % 0.04 x 10^3 L 0.01 x 10^3 L 0.84 x 10^3 L 4.80 x 10^3 L 0.34 x 10^3 L 26 X 10^3 L

35-47 11.5-14.5 0-1 0-1 50-70 25-33 3-8

150-400 9-13 7.2-11.1 15-25 0.150-0.400

Kimia Darah GDS <160

Bilirubin Total Bilirubin Direct SGOT SGPT

1.07 mg/dl 0.25 mg/dl

<1.0 <0.2

65 20

<40 <41

4|Page

IV. RESSUME Pasien datang dengan keadaan lemas disertai dengan rasa pusing dan adanya perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi saat gosok gigi sejak hari Senin tanggal 19 November 2012. Keluhan diperberat dengan adanya aktivitas dan mereda saat istirahat (berbaring). Selain itu, pasien juga mengeluh sering sakit di bagian tengkuk. Frekuensi BAB [pasien 1 2 kali per hari. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUP, dikethui hemoglobin pasien 5,2 mg/dl dan sudah mendapatkan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Selain itu, pasien sudah mendapatkan infus NaCl sebanyak 3 infus. Keluhan serupa dialami pasien sejak kelas 3 SMK semester 2. Waktu itu pasien mengeluh lemas, pusing dan dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUP. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUP diketahui pasien mengalami anemia dengan hemoglobin 4,4 mg/dl. Selain itu, pasien juga sering mengeluh memar yang banyak di bagian tubuh, seperti paha, lengan, dan bagian lainnya dan terdapat bercak kemerahan di bagian paha dan punggung. Pasien juga mengatakan pernah berak yang berwarna kopi yang bercampur dengan feses satu tahun yang lalu. Sampai waktu kemarin pasien sudah dirawat di RSUP sebanyak 5 kali dengan keluhan yang sama. Waktu pasien di bawa ke puskesmas, pasien mendapatkan tablet penambah darah. Selama di RSUP pasien hanya mendapatkan transfusi dan dexametason yang dimasukkan melalui infus pasien. Pasien merupakan perokok sejak kelas 2 SMP. Sekitar kelas 2 SMA pasien konsumsi rokok sampai 2 bungkus per hari.

V. TINJAUAN PUSTAKA ANEMIA

A. Pendahuluan Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola
5|Page

makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status kesehatan. Khumaidi (1989) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia gizi besi di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta kesehatan pribadi di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50 % kasus anemia yang terbanyak diseluruh dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit (cacing). Di negara berkembang seperti Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia gizi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setaip harinya. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia gizi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan selama ini ditujukan pada ibu hamil, sedangkan remaja putri secara dini belum terlalu diperhatikan. Agar anemia bisa dicegah atau diatasi maka harus banyak mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi. Selain itu penanggulangan anemia defisiensi besi dapatdilakukan dengan pencegahan infeksi cacaing dan pemberian tablet Fe yang dikombinasikan dengan vitamin C.

B.Anemia Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan kehamilan. Batas normal dari kadar Hb dalam darah dapat dilihat pada tabel berikut :

6|Page

Sebagian besar anemia disebabkan oleh kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial (zat besi, asam folat, B12) yang digunakan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Anemia bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit malaria, infeksi cacing tambang.

C.Klasifikasi Anemia Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandungnya.

1.

Makrositik Anemia makrositik merupakan anemia dengan karakteristik MCV di atas 100 fL. Anemia makrositik dapat disebabkan oleh: Peningkatan retikulosit Peningkatan MCV merupakan karakteristik normal retikulosit. Semua keadaan yang menyebabkan peningkatan retikulosit akan memberikan gambaran peningkat-an MCV Metabolisme abnormal asam nukleat pada prekursor sel darah merah (defi siensi folat atau cobalamin, obat-obat yang mengganggu sintesa asam nukleat: zidovudine, hidroksiurea) Gangguan maturasi sel darah merah (sindrom mielodisplasia, leukemia akut) Penggunaan alkohol o Penyakit hati o Hipotiroidisme.
7|Page

Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu : 1) Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat dan gangguan sintesis DNA. 2) Anemia Non Megaloblastik adalah eritropolesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran.

2.

Mikrositik Anemia mikrositik merupakan anemia dengan karakteristik sel darah merah yang kecil (MCV kurang dari 80 fL). Anemia mikrositik biasanya disertai penurunan hemoglobin dalam eritrosit. Dengan penurunan MCH ( meanconcentration hemoglobin) dan MCV, akan didapatkan gambaran mikrositik hipokrom pada apusan darah tepi. Penyebab anemia mikrositik hipokrom: Berkurangnya Fe: anemia defi siensi Fe, anemia penyakit kronis/anemia infl amasi, defi siensi tembaga. Berkurangnya sintesis heme: keracunan logam, anemia sideroblastik kongenital dan didapat. Berkurangnya sintesis globin: talasemia dan hemoglobinopati. Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi besi, gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan metabolisme besi lainnya.

3.

Normositik Anemia normositik adalah anemia dengan MCV normal (antara 80-100 fL). Keadaan ini dapat disebabkan oleh:

8|Page

Anemia pada penyakit ginjal kronik. Sindrom anemia kardiorenal: anemia, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronik. Anemia hemolitik: o Anemia hemolitik karena kelainan intrinsik sel darah merah: Kelainan membran (sferositosis herediter), kelainan enzim (defisiensi G6PD), kelainan hemoglobin (penyakit sickle cell). o Anemia hemolitik karena kelainan ekstrinsik sel darah merah: imun, autoimun (obat, virus, berhubungan dengan kelainan limfoid, idiopatik), alloimun (reaksi transfusi akut dan lambat, anemia hemolitik neonatal), mikroangiopati (purpura trombositopenia trombotik, sindrom hemolitik uremik), infeksi (malaria), dan zat kimia (bisa ular).

Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan, penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati.

D.Penegakan Diagnosis Anemia Anemia bukan suatu kesatuan penyakit (disease entity), tetapi hanyalah suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease). dalam Hal ini

pentingdiperhatikan

menegakkan

diagnosis anemia. Kita tidak cukup hanya sampai padadiagnosis anemia, tetapi sedapat mungkin kita harus dapat menentukan penyakit dasar yangmenyebabkan anemia tersebut. Maka tahaptahap diagnosis anemia adalah: a. Menentukan adanya anemia b. Menentukan jenis anemia c. Menentukan etiologi atau penyakit dasar anemia

9|Page

d. Menentukan

ada

atau

tidaknya

penyakit

penyerta

yang

akan

mempengaruhi

hasilpengobatanDalam menegakkan suatu diagnosis anemia, terdapat beberapa cara pendekatan, seperti: e. Pendekatan tradisional; dokter menegakkan diagnosis (tentatif/defenitif)

berdasarkananamnesis, pemeriksaan fisik & hasil laboratorium. f. Pendekatan morfologik; dokter menegakkan diagnosis anemia berdasarkan hapusandarah tepi, sehingga dengan demikian dapat diklasifikasikan menjadi anemia hipokromikmikrositer, anemia normokomik normositer & anemia makrositer. g. Pendekatan fungsional; dokter menegakkan diagnosis anemia didasarkan padapenyebab terjadinya anemia. h. Pendekatan probabilistik; dokter menegakkan diagnosis anemia berdasarkanepidemiologi pada daerah tersebut. Pendekatan ini bisa memperkuat hasil diagnosa daripendekatan-pendekatan sebelumnya. i. Pendekatan klinis; dalam pendekatan klinis yang menjadi perhatian adalah:

Kecepatan timbulnya penyakit Cepat (timbul dalam beberapa hari sampai minggu): perdarahan akut, AIHA, leukemia, krisis aplastik, anemia hemolitik kronik. Pelan: ADB, anemia def. Folat atau vit. B12, anemia akibat penyakit kronik. anemiahemolitik kronik yang bersifat kongenital. Berat ringannya derajat anemia Berat: ADB, anemia aplastik, anemia pada leukemia akut, anemia hemolitik didapat/kongenital (thalasemia major), anemia pasca perdarahan akut, anemia pada GGK std.terminal. Ringan: anemia akibat penyakit kronik, anemia pada penyakit sistemik, thalasemia trait.
10 | P a g e

Gejala; penting untuk kita mengetahui gejala umum dan khusus untuk menegakkan diagnosa anemia. Walaupun terkadang bersifat asimtomatik namun sindrom anemia menunjukkan gejala-gejala seperti lemah, cepat lelah, tinnitus, mataberkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak nafas, takikardia, palpitasi, takipnea & dispepsia. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien tampak pucat (konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan & jaringan dibawah kuku). Gejala Khas: ADB: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis & koilonychia. Anemia megaloblastik: glositis, gangguan neurologik pada def. Vitamin B12. Anemia hemolitik: ikterus, splenomegali & hepatomegali. Anemia aplastik: perdarahan & tanda-tanda infeksi.

Pemeriksaan untuk Diagnosa Anemia adalah Pemeriksaan Laboratorium yang merupakan penunjang diagnostik pokok dalam diagnosis anemia. Pemeriksaan ini terdiri dari : 1. pemeriksaan penyaring (screening test) terdiri dari pengukuran kadar hemoglobin, indeks eritrosit dan hapusan darah tepi. Dari ini dapat dipastikan adanya anemia serta jenis morfologik anemia tersebut yang sangatuntuk pengarahan diagnosis lebih lanjut. 2. Pemeriksaan darah seri anemia meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung retikulosit dan LED. Sekarang sudah banyak dipakai automatic hemotology analyzer yang dapat memberikan presisi hasil yang lebih baik. 3. Pemerikssan sumsum tulang memberikan informasi yang sangat berharga mengenai keadaan sistem hematopoesis. Periksaan ini dibutuhkan untuk diagnosis defenitif pada beberapa jenis anemia.

11 | P a g e

Pemeriksaan SST mutlak diperlukan untuk diagnosis anemia aplastik, anemia megaloblastik, serta pada kelainan hematologik yang dapat mensupresi sistem eritroid. 4. Pemeriksaan khusus pemerikssan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus, misalnya pada : Anemia defisiensi besi : serum iron. TIBC (total iron bindingcapacity), saturasi transferin, protoporfirin eritrosit, feritin serum, reseptor transferin danpengecatan pada SST (Perls stain). Anemia megaloblastik : folat serum, vit. B12 serum, supresideoksiuridin dan tes Schiling. Anemia hemolitik : bilirubin serum, tes Coomb, elektroferesishemoglobin, dll. Anemia aplastk : biopsi SST.Juga diperlukan pemeriksaan non hematologik tertentu seperti misalnya pemeriksaanfaal hati, faal ginjal, atau faal tiroid. E.Terapi Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien anemia ialah: 1)Berdasarkan diagnosa defenitif. 2)Pemberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan. 3)Pengobatan anemia dapat berupa: a) Terapi untuk keadaan darurat; seperti pada perdarahan akut akibat anemiaaplastik yang mengancam jiwa pasien, atau pada anemia pasca perdarahan akut yang disertai gangguan hemodinamik. b)Terapi suportif c)Terapi yang khas untuk masing-masing anemia d)Terapi kausal/penyakit dasar 4)Diagnosa tentatif : ex juvantivus 5) Transfusi darah

12 | P a g e

A. Terapi pada anemia aplastik Terapi standar untuk anemia aplastik meliputi imunosupresi atau trasplantasi sumsum tulang (TST). Pertimbangan dalam pemberian terapi antara imunosupresi dan TST sangat penting. Pasien yang lebih muda (<40tahun) umumnya mentoleransi TST lebihbaik. Pasien dengan hitung neutrofil 200-500/mm3. Lebih baik mendapat terapi imunosupresi sedangkan pada pasien dengan neutrofil sangat rendah cendrung lebih baik dengan TST. Imunosupresi: ATG (antithymocyte globulin), ALG (antilymphocyte globulin), CsA(siklosporin A).G-CSF (granulocyte colony-stimulating faktor), dapat memulihkan neutropenia. Terapi kombinasi: ATG + CsA + steroid 40mg/hari B. Terapi pada anemia defisiensi besi a. Terapi kausal Terapi terhadap penyebab perdarahan. Misalnya pengobatan cacing tambang,pengobatam hemoroid, pengobatan menorhagia. Terapi ini harus dilakukan, kalautidak maka anemia akan kambuh kembali. b. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh. Terapi besi oral; merupakan terapi pilihan pertama oleh karena efektif, murah danaman. Preparat yang tersedia adalah sulfas ferosus dengan dosis anjuran 3 x 200mg. Terapi besi parental; sangat efektif tetapi mempunyai resiko lebih besar dan harganyalebih mahal. Preparat yang tersedia ialah iron dextran complex (mengandung 50 mgbesi/ ml), iron sorbiol citric acid complex dan yang terbaru adalah iron ferric gloconate dan iron sucrose yang lebih aman. KEBUTUHAN BESI (mg) = (15 Hb sekarang) x BB x 2,4 + 500 atau 1000 mg c. Pengobatan lain Diet, vit.C dan transfusi darah. C. Terapi pada anemia defisiensi vit.B12
13 | P a g e

Terapi kobalamin secara oral kurang efektif karena dibutuhkan kepatuhan dari pasien.Terapi parenteral diberikan secara IM dengan dosis 1000 ug/minggu selama 8 minggu. Lalu terapi dilanjutkan per bulan seumur hidup. D. Terapi pada anemia defisiensi asam folat Terapi oral 1 mg / hari atau 5 mg /hari. Penyebab dasar perlu dicari dan diatasi. E. Terapi pada anemia akibat penyakit kronis Terapi utama adalah mengobati penyakit dasarnya. Terdapat beberapa pilihan dalammengobati anemia jenis ini, antara lain ; Transfusi darah. Preparat besi Eritropoietin F. Pengobatan pada anemia hemolitik autoimun Kortikosteroid 1 1,5 mg/kgBB/hari Splenektomi. Bila terapi steroid tidak adekuat selama 3 bulan, maka perludipertimbangkan splenektomi. Imunosupresi, Azatioprin 50 200 mg/hari (80 mg/m2), siklofosfamid 50 150 mg/hari(60 mg/m2) Danazol 600 800 mg/hari, diberi bersama sama steroid. Terapi imunoglobulin (400mg/kgBB/hari selama 5 hari) Transfusi VI. ASSESMENT Gejala klinis yang dapat terjadi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus
14 | P a g e

yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).

Manifestasi klinis Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah).

Diagnosis dapat ditentukan dari: 1. Anamnesis Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: hal-hal yang dapat menyebabkan anemia, seperti riwayat perdarahan, riwayat hemolisis, dan infeksi yang
15 | P a g e

bersifat kronis, asupan makanan yang kurang terutama zat besi dan folat.Riwayat penyakit bawaan pada keluarga seperti hemophilia, dan riwayat perdarahan terutama pada saluran cerna.

2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama anemia: kesadaran, warna sklera dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya : lemah, lesu, , bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.

VII. PLANNING a.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Untuk Diagnosa AnemiaPemeriksaan LaboratoriumMerupakan penunjang

diagnostik pokok dalam diagnosis anemia. Pemeriksaan ini terdiri dari : 1. pemeriksaan penyaring (screening test) terdiri dari pengukuran kadar hemoglobin, indeks eritrosit dan hapusan darah tepi. Dari ini dapat dipastikan adanya anemia serta jenis morfologik anemia tersebut yang sangatuntuk pengarahan diagnosis lebih lanjut. 2. Pemeriksaan darah seri anemia meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung retikulosit dan LED. Sekarang sudah banyak dipakai automatic hemotology analyzer yang dapat memberikan presisi hasil yang lebih baik. 3. Pemerikssan sumsum tulang memberikan informasi yang sangat berharga mengenai keadaan sistem hematopoesis. Periksaan ini dibutuhkan untuk diagnosis defenitif pada beberapa jenis anemia. Pemeriksaan SST mutlak diperlukan untuk diagnosis anemia aplastik, anemia megaloblastik, serta pada kelainan hematologik yang dapat mensupresi sistem eritroid. 4. Pemeriksaan khusus pemerikssan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus, misalnya pada :
16 | P a g e

Anemia defisiensi besi : serum iron. TIBC (total iron bindingcapacity), saturasi transferin, protoporfirin eritrosit, feritin serum, reseptor transferin danpengecatan pada SST (Perls stain). Anemia megaloblastik : folat serum, vit. B12 serum, supresideoksiuridin dan tes Schiling. Anemia hemolitik : bilirubin serum, tes Coomb, elektroferesishemoglobin, dll. Anemia aplastk : biopsi SST.Juga diperlukan pemeriksaan non hematologik tertentu seperti misalnya pemeriksaanfaal hati, faal ginjal, atau faal tiroid. b.Tata Laksana Terapi Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien anemia ialah: 1)Berdasarkan diagnosa defenitif. 2)Pemberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan. 3)Pengobatan anemia dapat berupa: a) Terapi untuk keadaan darurat; seperti pada perdarahan akut akibat anemiaaplastik yang mengancam jiwa pasien, atau pada anemia pasca perdarahan akut yang disertai gangguan hemodinamik. b)Terapi suportif c)Terapi yang khas untuk masing-masing anemia d)Terapi kausal/penyakit dasar 4)Diagnosa tentatif : ex juvantivus 5) Transfusi darah A. Terapi pada anemia aplastik Terapi standar untuk anemia aplastik meliputi imunosupresi atau trasplantasi sumsum tulang (TST). Pertimbangan dalam pemberian terapi antara imunosupresi dan TST sangat penting.
17 | P a g e

Pasien yang lebih muda (<40tahun) umumnya mentoleransi TST lebihbaik. Pasien dengan hitung neutrofil 200-500/mm3. Lebih baik mendapat terapi imunosupresi sedangkan pada pasien dengan neutrofil sangat rendah cendrung lebih baik dengan TST. Imunosupresi: ATG (antithymocyte globulin), ALG (antilymphocyte globulin), CsA(siklosporin A).G-CSF (granulocyte colony-stimulating faktor), dapat memulihkan neutropenia. Terapi kombinasi: ATG + CsA + steroid 40mg/hari B. Terapi pada anemia defisiensi besi a. Terapi kausal Terapi terhadap penyebab perdarahan. Misalnya pengobatan cacing tambang,pengobatam hemoroid, pengobatan menorhagia. Terapi ini harus dilakukan, kalautidak maka anemia akan kambuh kembali. b. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh. Terapi besi oral; merupakan terapi pilihan pertama oleh karena efektif, murah danaman. Preparat yang tersedia adalah sulfas ferosus dengan dosis anjuran 3 x 200mg. Terapi besi parental; sangat efektif tetapi mempunyai resiko lebih besar dan harganyalebih mahal. Preparat yang tersedia ialah iron dextran complex (mengandung 50 mgbesi/ ml), iron sorbiol citric acid complex dan yang terbaru adalah iron ferric gloconate dan iron sucrose yang lebih aman. KEBUTUHAN BESI (mg) = (15 Hb sekarang) x BB x 2,4 + 500 atau 1000 mg c. Pengobatan lain Diet, vit.C dan transfusi darah. C. Terapi pada anemia defisiensi vit.B12 Terapi kobalamin secara oral kurang efektif karena dibutuhkan kepatuhan dari pasien.Terapi parenteral diberikan secara IM dengan dosis 1000 ug/minggu selama 8 minggu. Lalu terapi dilanjutkan per bulan seumur hidup.

18 | P a g e

D. Terapi pada anemia defisiensi asam folat Terapi oral 1 mg / hari atau 5 mg /hari. Penyebab dasar perlu dicari dan diatasi. E. Terapi pada anemia akibat penyakit kronis Terapi utama adalah mengobati penyakit dasarnya. Terdapat beberapa pilihan dalammengobati anemia jenis ini, antara lain ; Transfusi darah. Preparat besi Eritropoietin F. Pengobatan pada anemia hemolitik autoimun Kortikosteroid 1 1,5 mg/kgBB/hari Splenektomi. Bila terapi steroid tidak adekuat selama 3 bulan, maka perludipertimbangkan splenektomi. Imunosupresi, Azatioprin 50 200 mg/hari (80 mg/m2), siklofosfamid 50 150 mg/hari(60 mg/m2) Danazol 600 800 mg/hari, diberi bersama sama steroid. Terapi imunoglobulin (400mg/kgBB/hari selama 5 hari) Transfusi

19 | P a g e