Anda di halaman 1dari 4

Pupuk Hijau, Hadiah Alam untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah

Oleh: Arulanandam Vakeesan, Tharshani Nishanthan, dan Gunasingham Mikunthan

Penggunaan pupuk dan pestisida anorganik secara berlebihan memengaruhi kualitas air dan tanah di Semenanjung Jaffna, Sri Lanka. Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jaffna belajar mengenai pupuk hijau dan cara memperbaiki tanah dari petani. Pupuk hijau juga berhasil digunakan untuk memperbarui tanah-tanah yang mengalami peningkatan kadar garam (salinasi) akibat tsunami. Praktik-praktik organik ini sekarang dipromosikan bersama dan oleh petani.

pupuk hijau. Mahasiswa-mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jaffna belajar dari petani, melalui kunjungan dan wawancara, mengenai cara petani memperkaya tanah secara organik, jenis tumbuhan untuk pupuk hijau, termasuk jenis tanaman yang dibudidayakan, serta kesulitan mereka dalam mempertahankan kesuburan tanah. Lebih dari 250 petani berpartisipasi dalam kajian dari tahun 2005 hingga 2007 ini. Petani dari daerah yang terpengaruh maupun tidak terpengaruh tsunami keduanya diwawancarai untuk mempelajari pengalaman berbeda saat menggunakan pupuk hijau sebagai asupan untuk memperbaiki tanah.
Mengaplikasikan pupuk hijau memang butuh banyak waktu dan tenaga, tetapi juga memiliki banyak keuntungan. Petani menunjukkan kepada mahasiswa bagaimana menggunakan Thespesia sebagai pupuk hijau daun.

Foto: Penulis

anah sehat akan menghasilkan tanaman sehat. Menjaga kesehatan tanah merupakan tugas berat bagi petani. Semenanjung Jaffna, Sri Lanka, tercatat sebagai pengonsumsi pupuk dan pestisida anorganik per area budi daya tanaman yang sangat tinggi. Karenanya, air minum di daerah ini mengandung nitrat nitrogen di atas 10 mg/l, batas maksimum yang direkomendasi badan kesehatan dunia/WHO. Sekitar 65 persen sumur di lahan pertanian mengandung kelebihan nitrat nitrogen akibat pertanian intensif. Pestisida dalam jumlah besar digunakan di Semenanjung Jaffna ketika jalan utama ke seluruh negeri dibuka sebelum tahun 2006. Kini, tanah tercemar dan rusak. Publik umum, terutama petani, menyadari masalah-masalah itu dan ingin mengadopsi metode organik. Sebagai hadiah dari alam, pupuk hijau merupakan alternatif yang cocok untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Sebagian jaringan tanaman yang telah atau sedang terurai memberi makan organisme menguntungkan yang hidup dalam tanah. Organisme itu memperkaya tanah. Beberapa petani di daerah-daerah tertentu di Jaffna secara tradisional menggunakan

Tanaman-Tanaman yang Tergantung Pupuk Hijau Sekitar 60 persen penduduk Jaffna adalah petani sayuran, serealia, tanaman komersial dan buah-buahan. Pupuk hijau dianggap sebagai asupan penting. Petani mengatakan bahwa dengan peningkatan dan efektivitas penggunaan pupuk hijau, pupuk kimiawi tidak diperlukan lagi. Selain itu, pupuk hijau menambah kandungan bahan organik, memperbaiki kekayaan tanah, serta meningkatkan hasil panen. Beberapa tanaman komersial tergantung pada pupuk hijau tertentu dan tanpanya tak ada harapan tercapai produksi lebih baik (lihat Tabel 1).

24 Juni 2008

Pupuk Hijau in situ Maksud in situ di sini adalah pupuk hijau ditumbuhkan di lahan sebelum menanam tanaman utama dan dipotong serta dipendam saat pembungaan 50 persen sebagai bahan pupuk hijau segar. Penggunaan sejenis orok-orok sunn hemp (Crotalaria juncea) dikenal luas dan dipraktikkan dengan baik oleh kebanyakan petani di Jaffna. Karena cepatnya kemampuan tumbuh dan kapasitas mengikat nitrogen yang esien, tanaman itu ditanam dan dikorbankan untuk memperbaiki kondisi hidup tanaman utama. Sunn hemp ditanam di lahan tomat, tembakau, dan bawang. Setelah pembajakan, benih sunn hemp disebarkan. Pada tahap pembungaan 50 persen, petani memotong dan mengubur sunn hemp ke dalam tanah. Setelah diaduk, tanah dibiarkan selama satu sampai dua bulan untuk proses penguraian. Kacang hijau dan kacang hitam juga digunakan sebagai pupuk hijau in situ di lahan padi. Setelah memanen polongnya, bagian tanaman yang tersisa dipendam ke dalam tanah dan dibiarkan terurai. Selama periode terpanas dalam setahun, petani menunda bercocok tanam dan membiarkan lahan beristirahat selama satu atau dua bulan. Rerumputan seperti putri malu (Mimosa pudica), Tephrosia pumila (sejenis polong-polongan), dan tanaman-tanaman lainnya dibiarkan tumbuh sebagai tanaman penutup tanah. Pada akhir periode panas, tanah dibajak sekali lagi, dan tanaman-tanaman tadi menjadi pupuk hijau dalam tanah. Pupuk Daun Hijau Praktik penggunaan pupuk daun hijau berbeda dengan pupuk daun in situ. Thespesia (sejenis waru laut) dan gliricidia (sejenis gamal) ditanam sebagai pagar hidup. Sedangkan nangka, intaran/nimba, dan siwalan ditanam di

tanah tandus. Daun-daun dipotong dan dibawa ke lahan pertanian dalam bentuk buntalan. Untuk itu dibutuhkan biaya transportasi. Kendati demikian, ...manfaatnya tak ternilai, kata seorang petani tradisional. Thespesia paling banyak diminati, dan dijual dengan harga 2025 dolar AS (sekitar Rp 185232 ribu) per angkutan (satu gerobak). Sebelum dipendam ke dalam tanah, thespesia dibiarkan layu selama dua hari. Daun-daunan itu ditumpuk di lahan dan ditutupi daun pisang. Perlakuan ini membantu sebagian proses penguraian, mengurangi perbandingan karbon terhadap nitrogen, dan membuatnya lebih mudah dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penerapan pupuk daun hijau tergantung pada tingkat kelembaban tanah. Petani mengukurnya dengan menggali hingga kedalaman 5 cm, dan mengambil contoh tanah. Mereka membuat gumpalan dengan menekan tanah menggunakan kedua tangan. Jika gumpalan tanah

Analisis SWOT untuk Menggunakan Pupuk Hijau Analisis ini dilakukan oleh mahasiswa bersama petani sebagai bagian program belajar mereka.
Petani percaya penerapan pupuk hijau mempunyai beberapa keuntungan dari pada penerapan pupuk atau kompos Meningkatkan kesuburan tanah Memperbaiki struktur tanah Berfungsi sebagai makanan yang baik untuk cacing tanah Tak berisiko terhadap kesehatan tanah Meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dengan merangsang pertumbuhan mikroba yang bermanfaat Pupuk hijau murah dan terjangkau oleh hampir semua orang Diperlukan pupuk hijau dalam jumlah besar Padat kerja Unsur hara hanya tersedia setelah proses penguraian, yang berarti harus menunggu 2-3 bulan Pupuk dan daun hijau berharga murah, organik, dan siap pakai Spesies pupuk hijau berpotensi menekan penyakit jamur yang menjangkiti tanah Pupuk hijau dapat digunakan untuk memulihkan tanah bergaram Rayap menjadi masalah tanah alluvial SalinitasJaffna dikelilingi laut, dan kalsium merupakan batuan dasar bagi pembentukan tanah, sehingga tanahnya senantiasa bersifat basa Kurangnya penelitian mengenai tanaman pupuk hijau Kurangnya ketersediaan bibit pupuk hijau yang berkualitas baik

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

24 Juni 2008

Ancaman/ tantangan

pecah seketika, berarti kelembapan tanah kurang. Jika tanah cukup lembap, petani akan mulai menambah pupuk hijau. Petani juga mempunyai metode mereka sendiri dalam mendeteksi kesuburan tanah. Mereka menyebut bahan organik sebagai lemak tanah, ditandai dengan sifat lengket tanah. Jika tanah tidak terlalu lengket, mereka yakin tanah itu kurang subur, dan akan memberikan pupuk hijau. Untuk menguji kesuburan, beberapa petani menekankan kakinya ke tanah. Jika mereka dapat melakukannya dengan mudah, mereka percaya kandungan bahan organiknya kaya. Jika tidak, maka tanah butuh ditambah pupuk hijau atau pupuk kandang. Pupuk Hijau untuk Mengurangi Salinitas Pada 26 Desember 2004, tsunami menerjang pantai timur semenanjung Jaffna, menghancurkan perikanan dan pertanian. Di Jaffna, lebih dari 300 acre tanah (kurang lebih 121 hektar) untuk budi daya dibanjiri air laut. Sekitar 560 keluarga petani secara langsung terpengaruh gelombang pasang itu. Akibatnya, tanah dan badan air tawar menjadi bergaram. Lahan bawang, tembakau, cabe rawit, dan sayuran lainnya hancur total. Setelah tsunami, budi daya tanaman seperti itu gagal total. Tanaman yang dibudidayakan di tanah yang terkena tsunami tampak terbakar dan pertumbuhannya kerdil. Meski demikian, petani memecahkan persoalan ini dengan menggunakan pupuk hijau yang tepat. Mereka berhasil memulihkan tanah dalam waktu 46 bulan sejak bencana tsunami.

Daun asam jawa (Tamarindus indicus) yang sebagian layu digunakan sebagai agen pemulih salinitas yang baik oleh kebanyakan petani tradisional di daerah pantai. Metode itu dikenal efektif di kalangan petani. Daun asam jawa pada dasarnya sedikit asam, dan dapat menciptakan lingkungan yang sesuai untuk hidup mikroba tanah. Selain itu, Departemen Pertanian mengadakan suatu proyek dengan seratus petani, untuk menyelesaikan masalah salinitas di tanah yang terkena tsunami. Benih nger millet (sejenis serealia di Afrika) didistribusikan kepada mereka. Setelah memanen millet ini, sisa-sisa tanaman dipendam ke dalam tanah dan dibiarkan terurai selama dua bulan. Menariknya, tanah mengalami pemulihan dan petani memperoleh manfaat. Mereka mulai kembali membudidayakan tanaman enam bulan setelah tsunami. Selain itu, Pavetta indica, thespesia, intaran/nimba dan sunn hemp, juga efektif mengatasi salinitas dan digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Jenisjenis tersebut dicampur dan dipendam ke dalam tanah dua kali, dengan selang enam bulan. Petani mengatakan bahwa menggunakan kombinasi pupuk kandang dan pupuk hijau dalam jumlah setara memberikan hasil menggembirakan dan meningkatkan produktivitas tanah yang terkena dampak tsunami. Meski demikian, di antara beberapa jenis pupuk hijau, daun asam jawa dan nger millet merupakan bahan terbaik dan bertindak sebagai agen pemulih salinitas yang cepat dan efektif. Pemulihan

Rehabilitasi Tanah Aceh dengan Permakultur


Nanggroe Aceh Darussalam yang turut terkena tsunami pada 26 Desember 2004 juga berbenah diri merehabilitasi lahan pertaniannya yang rusak. Bersama Yayasan IDEP, sebuah lembaga swadaya masyarakat, warga setempat membangun kembali penghidupannya melalui program Green Hand Field School (GHFS). Program yang dimulai pertengahan tahun 2005 ini bertujuan membangkitkan semangat masyarakat Aceh untuk kembali membangun kehidupan yang lebih baik. Efek terparah dari tsunami terhadap lahan adalah memburuknya kondisi tanah sehingga sulit ditanami. Upaya pemulihan yang dilakukan IDEP diawali dengan membangun tempat percontohan permakultur di Desa Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Tadinya, lahan percontohan akan dibuat di lahan bekas tsunami. Tetapi karena warga masih trauma, lahan percontohan akhirnya dibuat di lahan yang tidak terkena tsunami. Percontohan ini dikerjakan bersama masyarakat Aceh dan berfungsi sebagai tempat belajar. Permakultur adalah sebuah usaha pertanian berkelanjutan yang menekankan kepedulian terhadap bumi, sesama, dan masa depan. Masyarakat pun antusias dalam program ini. Pada rehabilitasi lahan dengan sistem permakultur, pertama-tama tanah dibalik atau digemburkan agar tanah lapisan atas dan tanah bekas tsunami, pasir, atau tanah kering dapat tercampur. Tujuannya agar penyerapan mineral dan nutrisi oleh tanaman dapat berjalan baik. Selanjutnya lahan ditebari daun gamal, daun lamtoro, atau jenis tanaman legum (tanaman jenis polong dan kacang-kacangan) yang lain agar menjadi lebih gembur. Lahan lalu digenangi kompos cair semalaman. Kompos cair terbuat dari campuran kotoran sapi segar, dedak, gula/tebu/buah busuk, rumput dengan akarnya, tanaman legum, dan air.

24 Juni 2008

tanah alkalin pada dasarnya meliputi penggantian ion sodium dengan ion kalsium yang lebih sesuai. Terdapat hubungan erat antara pH tanah, tekanan parsial CO2 dan aktivitas ion kalsium di dalam tanah basa sebagaimana tanah yang terkena dampak tsunami di Jaffna. Bukti menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah jaringan tanaman dalam tanah semacam itu akan mempercepat produksi karbondioksida dan meningkatkan status kalsium tanah yang dapat larut. Banyak petani memilih menggunakan pupuk hijau, dan mengungkapkan niatnya untuk memberi sumbangsih bagi kesinambungan pertanian jangka panjang melalui pengelolaan kesuburan tanah. Namun, saat ini pemakaian pupuk hijau belum dipraktikkan oleh semua petani. Bersama Departemen Pertanian dan Dewan Budi Daya Kelapa, Fakultas Pertanian Universitas Jaffna bekerja sama dengan petani untuk menunjukkan bahwa tanah sehat merupakan dasar untuk menghasilkan tanamantanaman sehat. Langkah selanjutnya adalah kegiatan yang dilakukan bersama petani dalam mengembangkan tanah yang sehat, seperti seminar, artikel koran, dan proyek-proyek yang mempromosikan pertanian organik. Mengingat kenyataan bahwa pupuk hijau tidak cukup tersedia, Fakultas Pertanian juga mempromosikan pupuk organik lain serta metodenya. Ini meliputi pembuatan kompos menggunakan cacing tanah, mempromosikan tanaman kesehatan, dan teknik wanatani.

Melalui kelompok-kelompok lokal dan organisasiorganisasi berbasis komunitas, petani memahami bahwa tanah merupakan sumber daya komunitas dan cadangan aktif dan pupuk hijau adalah obat alam untuk tanah. Pengertian ini mengilhami dan memperjelas konsep tersebut dan membantu memperdalam pengetahuan serta keterampilan untuk mengembangkan pengelolaan kesuburan tanah yang lebih terpadu.

Arulanandam Vakeesan Asisten Dosen Tharshani Nishanthan Dosen Gunasingham Mikunthan Kepala dan Supervisor Riset Departemen Biologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jaffna P.O.Box 57, Thirunelvely, Jaffna, Sri Lanka. E-mail: tharshanig@yahoo.com; gmikunthan@gmail.com; avakeesh@gmail.com Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Wakil Direktur dan Instruktur Pertanian, Departemen Pertanian (penyuluhan) Thirunelvely, Jaffna. Ibu A. Sivaruban, Asisten Dosen, dan Bapak N. Senthilkumaran, Petugas Teknik, Departemen Biologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jaffna, Mahasiswa (terutama kelompok ke-16), Fakultas Pertanian, Universitas Jaffna, dan petani progresif semenanjung Jaffna, Sri Lanka.

Setelah itu lahan ditanami legum, seperti kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau, dan kedelai. Tanah pasir bekas tsunami masih baik untuk menanam jenis legum. Legum harus ditanam menyebar. Jangan dibuat bedeng/ guludan, agar nitrogen yang dikandung tanaman tersebar merata di tanah. Setelah tanaman legum dipanen (tiga bulan sejak penanaman), daunnya dicacah lalu ditebar di lahan untuk mengembalikan kesuburan dan menyeimbangkan derajat keasaman (pH) tanah. Selanjutnya lahan disiram dengan kompos cair kembali agar proses pembusukan terjadi lebih cepat. Penanaman legum dilakukan 23 kali agar kondisi lahan benar-benar baik dan siap ditanami tanaman pangan. Masyarakat selanjutnya dapat menanam tanaman, seperti padi dan sayur-sayuran. Melihat hasil positifnya, masyarakat Desa Lamsujen pun menyebarkan informasi keberhasilan percontohan permakultur ke daerah sekitarnya dan juga ke beberapa lokasi seperti Lamno, Birek, Banda Aceh, dan Lhokseumawe. Dari kondisi tanah yang buruk dan tidak dapat ditanami,

setelah dilakukan rehabilitasi tanah, kini mereka sudah bisa panen sayuran dan padi. Tidak hanya para petani, ibu-ibu rumah tangga kini juga menerapkannya di pekarangan masing-masing. Mereka dapat menanam tanaman obat dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Rehabilitasi tanah dengan sistem permakultur selain dapat memulihkan kondisi lahan dengan cepat, juga mudah dan murah sehingga sangat diminati masyarakat. Ini karena, sistem permakultur sebisa mungkin memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia. Selain masyarakat di daerah bekas tsunami, mereka yang berada di daerah pesisir ataupun daerah sangat kering juga bisa memakai sistem permakultur untuk memperbaiki kondisi lahan agar lebih subur dan dapat ditanami.
Sayu K. Sri Mahayuni IDEP Foundation Jl. Hanoman No. 42, Ubud, Gianyar 80571, Bali Telp/Fax: 0361- 981504 E-mail: sayu@idepfoundation.org Info lengkap kunjungi website: www.idepfoundation.org

24 Juni 2008