Anda di halaman 1dari 7

PEMERIKSAAN KUALITATIF BAHAN PENGAWET SALISILAT, BENZOAT, DAN BORAK

Judul Praktikum Hari/Tanggal Mata Kuliah Semester

: Pemeriksaan Kualitatif Bahan Pengawet : Selasa, 6 Desember 2011 : Ekotoksikologi : III (Tiga)

A. TUJUAN Agar mahasiswa dapat mengerti, mampu, mengetahui prinsip pemeriksaan kualitatif bahan pengawet salisilat, benzoat, dan borax secara benar. Mahasiswa dapat mengetahui cara memeriksa kualitatif bahan pengawet salisilat, benzoat dan borax.

B. DASAR TEORI Pengawet merupakan bahan tambahan makanan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Bahan tambahan makanan ini biasanya ditambahkan pada bahan makanan yang mudah mengalami kerusakan atau yang mempunyai masa simpan tidak lama. Dengan demikian tujuan utama dari penambahan bahan pengawet dalam bahan makanan ini adalah untuk mencegah kerusakan bahan makanan tersebut oleh karena aktivitas mikroorganisme baik golongan jamur, ragi maupun bakteri, sehingga mempunyai masa simpan lebih lama. Banyak bahan pengawet makanan yang dipakai, namun dalam praktikum hanya akan dilakukan pemeriksaan Salisilat, Benzoat, dan Borax terbatas pada uji secara kualitatif. Jumlah zat pengawet yang ditambahkan ke dalam suatu makanan atau minuman tidak berpengaruh pada pernyataan bahwa suatu zat pengawet kimia telah ditambahkan, asal standar baku mutunya telah ditetapkan untuk produk minuman tersebut. Bila penambahan suatu zat pengawet kimia tidak terdaftar sebagai suatu bahan campuran yang ada, zat kimia tersebut tidak boleh ditambahkan pada minuman yang dipasarkan. Ada penambahan zat pengawet kimia tertentu yang diperbolehkan tetapi ditetapkan secara khusus di dalam jumlah yang diijinkan. Adanya pemeriksaan bahan pengawet untuk salisilat, benzoate dan borax

bertujuan untuk mencegah kerusakan bahan minuman dikarenakan aktivitas mikroorganisme, baik golongan jamur, ragi, maupun bakteri sehingga mempunyai masa simpan lebih lama.

C. ALAT dan BAHAN Corong pemisah 250 ml Pipet ukur 1 ml, 5 ml, 10 ml Cawan porselen Tabung reaksi Kompor listrik Pipet tetes H2SO4 4 N Eter FeCl3 1% atau 5% Aquabromata H2SO4 pekat Alkohol KNO3 kristal HNO3 pekat Amonium Sulfida Amonia pekat Ca(OH)2 10% Kertas curcuma HCl 10% Methanol

D. CARA KERJA 1. Salisat dan Benzoat o Memasukan 25 ml sampel cair ke dalam corong pemisah. o Menambah beberapa tetes H2SO4 4 N hingga asam (mengeceknya dengan kertas lakmus).

o Menambah 10-15 ml eter, digojok (gojokan pertama gas yang timbul dikeluarkan melalui kran. Begitu pula pada gojokan berikutnya sampai gas habis, kemudian dilakukan penggojokan cepat selama 30-60 detik) o Mendiamkan corong pemisah dalam keadaan tegak sampai terlihat dua lapisan terpisah (lapisan atas adalah eter, lapisan bawah adalah cairan sampel) o Lapisan eter diambil, dibagi dalam 3 cawan porselin (1 cawan untuk pemeriksaan salisilat, 1 cawan untuk pemeriksaan benzoat). Eter pada masing-masing cawan diuapkan pada temperatur kamar sampai kering. o (Untuk sampel berupa padatan, ekstraksi dilakukan dengan labu erlenmeyer tutup asah, ekstrak eter diambil dengan jalan penuangan).

a) Identifikasi Salisilat Menambah beberapa ml aquades ke dalam ekstrak eter pada salah satu cawan porselin di atas, diaduk-aduk, selanjutnya membaginya dalam tiga tabung reaksi. Menambahkan beberapa tetes aquabromata pada tabung reaksi 2. Timbulnya kekeruhan/endapan putih menunjukkan adanya salisilat. Menambah 1-2 ml H2SO4 pekat dan 2-4 ml etanol pada tabung reaksi 3, selanjutnya dipanaskan dengan api kecil sampai mendidih. Uap yang timbul dibaui. Adanya bau harum (etil salisilat) menunjukkan adanya salisat.

b) Identifikasi Benzoat Menambah beberapa tetes H2SO4 pekat ke dalam ekstrak pada cawan 2, diadukaduk dengan batang pengaduk kaca sampai ekstrak/residu larut. Menuang larutan ke dalam tabung reaksi, menambah sepucuk sendok kecil KNO3 dan 0,2 ml HNO3 pekat. Memanaskannya diatas api kecil sambil digoyang-goyang sampai hilang uap coklat (2-5 menit). Menambah 5 ml aquades, digojok, selanjutnya dituang ke dalam labu erlenmeyer kecil. Menambah ammonia pekat sampai basa (cara memastikannya dengan kertas lakmus). Memanaskan larutan sampai mendidih, selanjutnya didinginkan. Menuangkan sebagian larutan kedalam tabung reaksi, selanjutnya ditambah amonium sulfida pelan-pelan melalui dinding hingga terbentuk dua lapisan (jangan sampai

campur). Mendiamkan tabung dalam keadaan tegak. Adanya cincin merah coklat diantara dua lapisan menunjukan adanya benzoat.

c) Identifikasi Borax Pada identifikasi borax sampel yang digunakan dapat berupa ekstrak sampel sebagaimana tersebut diatas atau dapat berupa sampel asli. Membasahi sampel pada cawan porselen dengan air kapur (Ca(OH)2) 10% (cara mengeceknya dengan kertas lakmus). Memanaskannya diatas kompor listrik sampai kering. Menambahkan 0,5 ml H2SO4 pekat dan 5 ml methanol ke dalam residu sisa pada cawan diatas, selanjutnya membakarnya dengan api. Apabila nyala api terlihat hijau pupus pada beberapa bagian menunjukan adanya borax.

E. HASIL KERJA Dari hasil pemeriksaan didapat : Jenis Identifikasi Tempat Tabung 1 Salisilat Tabung 2 Tabung 3 Benzoat Borax Tabung 1 Cawan 1 Reaksi yang Ditimbulkan Warna Ungu Adany endapan putih / keruh Berbau Adanya cincin merah coklat Nyala api biru Hasil Positif Positif Positif Positif Negatif

F. PEMBAHASAN Setelah diperiksa dengan cara pemeriksaan kualitatif bahan pengawet salisilat, benzoat dan borax, sampel menunjukkan positif adanya salisilat, dan benzoat akan tetapi negatif borax. Hal ini dilihat dari hasil pemeriksaan identifikasi salisilat bahwa tabung 1 yang terdapat ekstrak eter yang kemudian ditambah 1-2 tetes FeCl3 1% timbul warna ungu. Pada tabung reaksi 2 ekstrak eter ditambah 4 tetes aquabromata hingga timbul kekeruhan/warna putih, kemudian pada tabung reaksi 3 ekstrak eter ditambah 1 ml H2SO4 pekat dan 3 ml etanol selanjutnya dipanaskan uap yang ditimbulkan harum. Semua ini menandakan bahwa sampel positif salisilat. Pada identifikasi benzoat, larutan yang sudah mengalami proses dipanaskan sampai mendidih lalu didinginkan, sebagian larutan dituang ke dalam tabung reaksi yang

kemudian ditambah ammonium sulfida pelan-pelan melalui dinding hingga terbentuk 2 lapisan. Adanya cincin merah coklat diantara 2 lapisan tersebut membuktikan adanya benzoat. Pada identifikasi borax, sampel pada cawan dibasakan dengan air kapur kemudian dipanaskan sampai kering. Residu pada cawan ditambah 0.5 ml H2SO4 pekat dan 5 ml methanol, lalu dibakar, api tidak terlihat hijau melainkan biru. Hal ini menunjukkan bahwa sampel tidak mengandung (negatif) borax.

G. KESIMPULAN Dalam praktikum yag telah dilakukan, maka dapat disimpulkan adanya salisilat dan benzoat dalam sampel. Akan tetapi sampel tidak mengandung borax. Untuk itu seharusnya para produsen dalam memproduksi produknya tidak menggunakan salisilat, benzoat dan borax karena ketiga bahan tersebut jika masuk ke dalam tubuh dan melebihi batas ketentuan yag berlaku dapat menimbulkan gangguan kesehatan.