Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASA POST PARTUM / NIFAS Pengertian Nifas / puerperium: periode waktu / masa dimana organ-organ

reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil. Dimulai setelah kelahiran placenta, berakhir saat alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil. Waktu sekitar 6 minggu Involusi: proses perubahan organ repro. Masa nifas normal: involusi uterus, pengeluaran lokia, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh termasuk keadaan psikologis normal. Periode nifas, dibagi 3: Immediate puerperium Segera setelah persalinan sampai 24 jam setelah persalinan. Early puerperium 1 hari 7 hari setelah melahirkan. Later puerperium Waktu 1 minggu 6 minggu setelah melahirkan. Perubahan / adaptasi masa nifas Involusi uterus dan pengeluaran lochea. Perubahan fisik Lactasi Perubahan sistem tubuh Perubahan psikologis Perubahan fisik dan fisiologis Uterus Lochea Serviks Vulva dan vagina Perineum Kembalinya ovulasi dan menstruasi Dinding perut dan peritonium Laktasi Sistem gastrointestinal Traktus urinarius Sistem kardiovaskuler Tanda vital Darah Berat badan Menggigil Post partum Diaphoresis

Afterpains Involusi disebabkan oleh: Iskemia : Kontraksi dan retraksi serabut otot uterus yang terjadi terus-menerus kompresi pembuluh darah dan anemia setempat. Otolisis : Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri. Atrofi : Jaringan yang berproliferasi dengan adanya estrogen jumlah besar atrofi karena penghentian estrogen. Bekas luka plasenta sembuh dalam 6 minggu Perlambatan disebut sub involusio gejala : Lochea menetap / merah segar Penurunan fundus uteri lambat Tonus uteri lembek Tidak ada perasaan mules. Segera setelah persalinan perlu pengawasan Jam I : tiap 15 menit Jam II : tiap 30 menit Jam III IV : 2x Selanjutnya : tiap 8 jam Pengeluaran Lokia (Lochea) Lochea : sekret yang berasal dari kavum uteru dan vagina dalam masa nifas Jenis : Lochea rubra / lochea kruenta : o Keluar pada hari 1-3 o Warna merah, hitam o T.a : darah bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel desidua, sisa verniks c, lanugo dan mekonium. Lochea sanguinolenta : o Keluar hari 3-7 o Darah bercampur lendir Lochea serosa : o Keluar hari 7-14 o Warna kekuningan Loceha alba : o Keluar setelah hari 14 o Warna putih Bau lokia agak amis bau busuk : infeksi Lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) Perubahan Fisik Serviks : menutup Segera setelah lahir tangan pemeriksa masih dapat masuk kavum uteri. 2 jam setelah bayi lahir : dapat dimasukkan 2-3 jari 1 minggu : masuk 1 jari Setelah 1 minggu : serviks menutup. Vulva dan vagina :

Mula-mula kendor, setelah 3 minggu kembali ke kondisi sebelum hamil dan rugae vagina mulai muncul, labia lebih menonjol. Himen ruptur karunkulae mirtiformis Perineum : Mula-mula kendor karena teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju saat persalinan. Setelah 5 hari tonus mulai kembali tetapi tidak sekencang sebelum hamil. Kembalinya ovulasi dan menstruasi : Pada ibu yan menyusui : menstruasi akan terjadi sekitar minggu ke 6-8 pp. Ibu menyusui : 45% menstruasi setelah 12 mg dan akan terjadi menstruasi anovulatory 1 x atau lebih (80% ibu menyusui) terjadi infertilitas. Dinding perut dan peritonium Karena regangan menjadi kendor, termasuk ligamen-ligamen ligamen rotundum sehingga kadang-kadang menyebabkan uterus jatuh kebelakang perlu latihan untuk mengembalikan tonus, dapat dilakukan setelah hari II PP. Payudara lactasi Mencapai maturitas penuh selama masa nifas kecuali jika lactasi disupresi. Payudara lebih besar, lebih kencang dan mula-mula nyeri tekan sebagai reaksi terhadap eprubahan status hormonal dan dimulainya lactasi. Perubahan-perubahan payudara lactasi : hamil Proliferasi jaringan untuk kelenjar-kelenjar dan alveolus mamma, lemak. Pada ductus lactiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (colostrum) Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan dan bagian dalam mamma. Perubahan Sistem Tubuh Sistem Gastrointestinal : Pada awal klien merasa lapar Kadang diperlukan waktu 3-4 hari faat usus N Rangsang BAB secara normal terjadi 2-3 hari karena kemampuan asupan makanan menurunkan gerakan tubuh berkurang, pengosongan usus sebelum melahirkan (lavemen), rasa sakit di daerah perineum. Traktus Urinarius : Pada 24 jam setelah lahir kadang terjadi kesulitan BAK karena spasme sfinkter dan edema pada VU karena kompresi antara kepala janin dan os pubis selama persalinan Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam PP pengaruh hormon estrogen menurunkan diuresis Sistem Kardiovaskuler : Volume darah kembali ke keadaan tidak hamil Jumlah sel darah merah dan kadar Hb kembali normal pada hari ke-5. Terjadi penurunan cardiac output dan akan kembali normal dalam 2-3 minggu. Perubahan Lain Tanda Vital : Suhu : Suhu inpartu tidak lebih 37,2C PP tidak naik 0,5C dari keadaan normal tapi tidak lebih dari 38,0C infeksi (>).

Normal setelah 12 jam PP Nadi : Berkisar 60-80 x/mnt. Setera setelah melahirkan dapat terjadi bradikardi. Masa nifas umumnya nadi lebih dari suhu Kadang terjadi hipertensi post partum hilang setelah 2 bulan.

Berat badan Segera setelah melahirkan BB turun 5-6 kg karena pengeluaran bayi, plasenta, air ketuban. Masa nifas dini BB menurun 2,5 kg, karena puerpera diuresis. 6-8 mg PP BB akan normal Afterpains (mules setelah persalinan) terjadi selama 2-3 hari PP karena kontraksi uterus, nyeri bertambah pada saat menyusui. Nyeri timbul bila masih terdapat sisa-sisa selaput ketuban, sisa plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Perubahan Psikologis Karena adanya perubahan hormonal, terkurasnya cadangan fisik untuk hamil dan melahirkan, keadaan kurang tidur, lingkungan yang asing, kecemasan akan bayi, suami atau anak yang lain. Setelah bayi lahir masa transisi bayi + orangtua untuk membin hubungan. Masa transisi yang harus diperhatikan pada masa PP : Phase honeymoon Phase setelah anak lahir, terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu ayah anak psikis honeymoon masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru. Bonding and Attachment (ikatan kasih) Terjadi pada kala IV, diadakan kontak antara ibu ayah anak dan tetap dalam ikatan kasih. Partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan kasih. Phase pada masa nifas Rubin (1963), mengidentifikasi 3 tahap perilaku ketika beradaptasi dengan perannya: o Phase Taking In o Phase Taking Hold o Phase Letting Go o Phase Taking In Perhatikan ibu tempat terhadap kebutuhan dirinya minta diperhatikan pasif dan ketergantungan, tidak ingin kontak dengan bayi tapi bukan berarti tidak memperhatikan. Menginginkan informasi tentang bayi, mengenang pengalaman melahirkan. Berlangsung 1-2 hari Bufas perlu istirahat, makan, minum adekuat. o Phase Taking Hold Ibu berusaha mandiri berinisiatif, penyesuaian fungsi tubuh, mulai duduk, jalan, belajar tentang perawatan dirinya dan bayi, timbul rasa kurang PD. Berlangsung 10 hari. o Phase Letting Go

Ibu merasakan bahwa bayinya terpisah dari dirinya, mempunyai peran dan tanggung jawab baru, terjadi peningkatan dalam perawatan diri dan bayinya, penyesuaian dalam hubungan keluarga. Masalah kesehatan jika yang sering dialami pada ibu PP Murung pasca melahirkan (post partum blues) o Sering dimanifestasikan pada hari ketiga atau ke 4, memuncak pada hari ke 5 14 PP. o Gejala meliputi : episode menangis, merasa sangat lelah, insomnia, mudah tersinggung, sulit konsentrasi. Depresi pasca melahirkan (post partum depression) o 25% dialami ibu PP o Gejala dini pada 3 bulan pertama PP sampai bayi berusia 1 tahun. o Etiologi : belum pasti, penelitian : faktor biologis perubahan hormonal, faktor psikolgis, faktor sosial seperti tidak mendapat dukungan suami, hubungan perkawinan tidak harmonis. Psikosa pasca melahirkan (post partum psychosis) o Jarang terjadi pada ibu dengan abortus, tubuh bayi dalam kandungan / lahir. o Gejala terlihat dalam 3-4 minggu setelah melahirkan berupa: delusi, halusinasi dan perilaku yang tidak wajar. o Penyebab mungkin berhubungan: perubahan tingkat hormonal, stress psikologis dan fisik, sifat pendukung tidak memadai

Pengertian Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifa s yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema. Etiologi Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut pe nyakit teori namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Insiden Di Indonesia, setelah perdarahan dan infeksi pre eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklam psia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Patofisiologi Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biops i ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik seb agai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang

disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199). Manifestasi klinik Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang b erlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastriu m, mual atau muntah. Gejala gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tes Diagnostik Tes diagnostik dasar Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik. Tes laboratorium dasar Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi). Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotrans ferase, dan sebagainya). Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). Uji untuk meramalkan hipertensi Roll Over test Pemberian infus angiotensin II. Penanganan medik Pencegahan Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tand a tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre -eklampsia. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ket enangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan. Penanganan Tujuan utama penanganan adalah : Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi. Hendaknya janin lahir hidup. Trauma pada janin seminimal mungkin. Seksio sesarea Pengertian

Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Ilmu Kebidanan, edisi ketiga, Halaman 863). Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Sinopsis Obstetri Jilid 2, Halaman 133). Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga, Hal 133). Etiologi Penyebab dilakukannya seksio sesarea adalah : Plasenta previa Gawat janin Disproporsi sefalo-pelvik (ketidakseimbangan kepala dan panggul). Pernah seksio sesarea. Kelainan letak. Pre eklampsia dan hipertensi Incoordination uteri action (tidak ada kerjasama yang teratur an tara fungsi alat kandungan). Insiden Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga -tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilaku kan operasi. Menurut data dari negara negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4 7 %. Jenis jenis seksio sesarea Seksio sesarea klasik (korporal) Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira kira sepanjang 10 cm. Seksio sesarea ismika (profunda) Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira -kira 10 cm. Komplikasi seksio sesarea Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suh u selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dsb. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang -cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.

Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik. Anatomi fisiologi sistem reproduksi Genitalia eksterna Mons veneris/pubis Bagian yang menonjol diatas simfisis dan terdiri dari jaringan lemak. Labia mayora Berbentuk lonjong dan menonjol, terdiri dari jaringan lemak. Kebawah dan kebelakang kedua labia mayora bertemu membentuk kommisura posterior. Labia minora Lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. Kedepan kedua labia minora membentuk preputium klitoris. Kebelakang membentu k fossa navikulare. Klitoris Tertutup oleh preputium klitoris, sebesar kacang ijo terdiri dari serabut saraf dan pembuluh darah, analog dengan penis laki laki. Vulva Bentuk lonjong dibatasi di depan oleh klitoris, kanan kiri oleh labia minora, di belakang oleh perineum. Terdapat orificium urethra eksterna. Ostia kelenjar skene yang analog dengan kelenjar prostat pada laki laki, dan kelenjar vestibularis bartolini yang mengeluarkan getah lendir pada waktu coitus. 2.6.1.1.Hymen Berupa lapisan tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. Bentuknya berbeda -beda dari bulan sabit sampai berlubang lubang. Genitalia interna Vagina Suatu saluran muskulo membranosa yang menghubung -kan uterus dan vulva terletak antara kandung kencing dan rektum. Dindingnya berlipat -lipat disebut rugae, tidak terdapat kelenjar. Uterus Berbentuk seperti buah advokat, sebesar telur ayam. Terdiri dari fundus uteri, korpus uteri dan serviks uteri. Korpus uteri merupakan bagian uterus terbesar dan sebagai tempat janin berkembang. Isthmus adalah bagian uterus antara serviks dan korpus, yang menjadi segmen bawah rahim pada kehamilan. Tuba fallopi Berjalan ke arah lateral, mulai dari kornu uteri kanan dan kiri. Terdir i dari 4 bagian : 1) pars interstitialis, bagian dalam dinding uterus, 2) pars ismika, bagian tengah tuba yang sempit, 3) pars ampularis, bagian yang terlebar dan sebagai tempat konsepsi terjadi, 4) infundibulum, bagian ujung tuba dan mempunyai fimbria. Tuba fallopi berfungsi membawa ovum ke kavum uteri. Ovarium

Ada 2, kiri dan kanan. Terdiri dari bagian luar (korteks) yang mengandung folikel -folikel dan bagian dalam (medulla) yang berisi pembuluh darah, serabut saraf, dan pembuluh limfe, ovarium berhubung an dengan uterus dengan ligamentum ovari propium. Pembuluh darah ke ovarium (arteri ovarika) melalui ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulopelvikum). Fungsi ovarium adalah untuk produksi hormon dan ovulasi. Patofisiologi Suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh mengingat bahwa terjadinya ruptur uteri sesudah seksio sesarea dilakukan segmen bawah uterus tidak begitu besar, disini diambil sikap untuk membolehk an wanita hamil untuk bersalin pervagina, kecuali jika sebab seksio sesarea tetap ada misalnya kesempitan pada pinggul,

Anda sedang membaca artikel dalam kategori :

Asuhan Keperawatan, Keperawatan Maternitas

Asuhan Keperawatan Pada Masa Nifas


Dipublikasikan pada 23 October 2010 oleh Irfan Padoe

Pengertian Nifas / puerperium: periode waktu / masa dimana organ-organ reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil. Dimulai setelah kelahiran placenta, berakhir saat alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil. Waktu sekitar 6 minggu Involusi: proses perubahan organ repro.

Masa nifas normal: involusi uterus, pengeluaran lokia, pengeluaran ASI dan perubahan sistem tubuh termasuk keadaan psikologis normal. Periode nifas, dibagi 3: Immediate puerperium Segera setelah persalinan sampai 24 jam setelah persalinan. Early puerperium 1 hari 7 hari setelah melahirkan. Later puerperium Waktu 1 minggu 6 minggu setelah melahirkan. Perubahan / adaptasi masa nifas Involusi uterus dan pengeluaran lochea. Perubahan fisik Lactasi Perubahan sistem tubuh Perubahan psikologis Perubahan fisik dan fisiologis Uterus Lochea Serviks Vulva dan vagina Perineum Kembalinya ovulasi dan menstruasi Dinding perut dan peritonium Laktasi Sistem gastrointestinal Traktus urinarius Sistem kardiovaskuler Tanda vital Darah Berat badan Menggigil Post partum Diaphoresis Afterpains Involusi disebabkan oleh: Iskemia : Kontraksi dan retraksi serabut otot uterus yang terjadi terus-menerus ? kompresi pembuluh darah dan anemia setempat. Otolisis : Sitoplasma sel yang berlebih akan tercerna sendiri. Atrofi : Jaringan yang berproliferasi dengan adanya estrogen jumlah besar ? atrofi karena penghentian estrogen. Bekas luka plasenta ? sembuh dalam 6 minggu

Perlambatan disebut sub involusio gejala : Lochea menetap / merah segar Penurunan fundus uteri lambat Tonus uteri lembek Tidak ada perasaan mules. Segera setelah persalinan perlu pengawasan Jam I : tiap 15 menit Jam II : tiap 30 menit Jam III IV : 2x Selanjutnya : tiap 8 jam Pengeluaran Lokia (Lochea) Lochea : sekret yang berasal dari kavum uteru dan vagina dalam masa nifas Jenis : Lochea rubra / lochea kruenta : o Keluar pada hari 1-3 o Warna merah, hitam o T.a : darah bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel desidua, sisa verniks c, lanugo dan mekonium. Lochea sanguinolenta : o Keluar hari 3-7 o Darah bercampur lendir Lochea serosa : o Keluar hari 7-14 o Warna kekuningan Loceha alba : o Keluar setelah hari 14 o Warna putih Bau lokia agak amis ? bau busuk : infeksi Lokiostasis (lokia tidak lancar keluar) Perubahan Fisik Serviks : menutup Segera setelah lahir tangan pemeriksa masih dapat masuk kavum uteri. 2 jam setelah bayi lahir : dapat dimasukkan 2-3 jari 1 minggu : masuk 1 jari Setelah 1 minggu : serviks menutup. Vulva dan vagina : Mula-mula kendor, setelah 3 minggu kembali ke kondisi sebelum hamil dan rugae vagina mulai

muncul, labia lebih menonjol. Himen ruptur ? karunkulae mirtiformis Perineum : Mula-mula kendor karena teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju saat persalinan. Setelah 5 hari tonus mulai kembali tetapi tidak sekencang sebelum hamil. Kembalinya ovulasi dan menstruasi : Pada ibu yan menyusui : menstruasi akan terjadi sekitar minggu ke 6-8 pp. Ibu menyusui : 45% menstruasi setelah 12 mg dan akan terjadi menstruasi anovulatory 1 x atau lebih (80% ibu menyusui) ? terjadi infertilitas. Dinding perut dan peritonium Karena regangan menjadi kendor, termasuk ligamen-ligamen ligamen rotundum sehingga kadang-kadang menyebabkan uterus jatuh kebelakang ? perlu latihan untuk mengembalikan tonus, dapat dilakukan setelah hari II PP. Payudara lactasi Mencapai maturitas penuh selama masa nifas kecuali jika lactasi disupresi. Payudara ? lebih besar, lebih kencang dan mula-mula nyeri tekan sebagai reaksi terhadap eprubahan status hormonal dan dimulainya lactasi. Perubahan-perubahan payudara ? lactasi : ? hamil Proliferasi jaringan untuk kelenjar-kelenjar dan alveolus mamma, lemak. Pada ductus lactiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (colostrum) Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan dan bagian dalam mamma. Perubahan Sistem Tubuh Sistem Gastrointestinal : Pada awal klien merasa lapar Kadang diperlukan waktu 3-4 hari faat usus N Rangsang BAB secara normal terjadi 2-3 hari ? karena kemampuan asupan makanan menurunkan gerakan tubuh berkurang, pengosongan usus sebelum melahirkan (lavemen), rasa sakit di daerah perineum. Traktus Urinarius : Pada 24 jam setelah lahir kadang terjadi kesulitan BAK karena spasme sfinkter dan edema pada VU karena kompresi antara kepala janin dan os pubis selama persalinan Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam PP ? pengaruh hormon estrogen menurunkan diuresis Sistem Kardiovaskuler : Volume darah kembali ke keadaan tidak hamil Jumlah sel darah merah dan kadar Hb kembali normal pada hari ke-5. Terjadi penurunan cardiac output dan akan kembali normal dalam 2-3 minggu.

Perubahan Lain Tanda Vital : Suhu : Suhu ? inpartu tidak lebih 37,2C PP tidak naik 0,5C dari keadaan normal tapi tidak lebih dari 38,0C ? infeksi (>). Normal setelah 12 jam PP Nadi : Berkisar 60-80 x/mnt. Setera setelah melahirkan dapat terjadi bradikardi. Masa nifas umumnya nadi lebih dari suhu Kadang terjadi hipertensi post partum ? hilang setelah 2 bulan. Berat badan Segera setelah melahirkan BB turun 5-6 kg karena pengeluaran bayi, plasenta, air ketuban. Masa nifas dini BB menurun 2,5 kg, karena puerpera diuresis. 6-8 mg PP BB akan normal Afterpains (mules setelah persalinan) terjadi selama 2-3 hari PP karena kontraksi uterus, nyeri bertambah pada saat menyusui. Nyeri timbul bila masih terdapat sisa-sisa selaput ketuban, sisa plasenta atau gumpalan darah dalam kavum uteri. Perubahan Psikologis Karena adanya perubahan hormonal, terkurasnya cadangan fisik untuk hamil dan melahirkan, keadaan kurang tidur, lingkungan yang asing, kecemasan akan bayi, suami atau anak yang lain. Setelah bayi lahir ? masa transisi bayi + orangtua untuk membin hubungan. Masa transisi yang harus diperhatikan pada masa PP : Phase honeymoon Phase setelah anak lahir, terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu ayah anak ? psikis honeymoon masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru. Bonding and Attachment (ikatan kasih) Terjadi pada kala IV, diadakan kontak antara ibu ayah anak dan tetap dalam ikatan kasih. Partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan kasih. Phase pada masa nifas Rubin (1963), mengidentifikasi 3 tahap perilaku ? ketika beradaptasi dengan perannya: o Phase Taking In o Phase Taking Hold o Phase Letting Go o Phase Taking In Perhatikan ibu tempat terhadap kebutuhan dirinya minta diperhatikan? pasif dan ketergantungan, tidak ingin kontak dengan bayi tapi bukan berarti tidak memperhatikan. Menginginkan informasi tentang bayi, mengenang pengalaman melahirkan. Berlangsung 1-2 hari Bufas perlu istirahat, makan, minum adekuat. o Phase Taking Hold

Ibu berusaha mandiri berinisiatif, penyesuaian fungsi tubuh, mulai? duduk, jalan, belajar tentang perawatan dirinya dan bayi, timbul rasa kurang PD. Berlangsung 10 hari. o Phase Letting Go Ibu merasakan bahwa bayinya terpisah dari dirinya, mempunyai peran? dan tanggung jawab baru, terjadi peningkatan dalam perawatan diri dan bayinya, penyesuaian dalam hubungan keluarga. Masalah kesehatan jika yang sering dialami pada ibu PP Murung pasca melahirkan (post partum blues) o Sering dimanifestasikan pada hari ketiga atau ke 4, memuncak pada hari ke 5 14 PP. o Gejala meliputi : episode menangis, merasa sangat lelah, insomnia, mudah tersinggung, sulit konsentrasi. Depresi pasca melahirkan (post partum depression) o 25% dialami ibu PP o Gejala dini pada 3 bulan pertama PP sampai bayi berusia 1 tahun. o Etiologi : belum pasti, penelitian : faktor biologis perubahan hormonal, faktor psikolgis, faktor sosial seperti tidak mendapat dukungan suami, hubungan perkawinan tidak harmonis. Psikosa pasca melahirkan (post partum psychosis) o Jarang terjadi pada ibu dengan abortus, tubuh bayi dalam kandungan / lahir. o Gejala terlihat dalam 3-4 minggu setelah melahirkan berupa: delusi, halusinasi dan perilaku yang tidak wajar. o Penyebab mungkin berhubungan: perubahan tingkat hormonal, stress psikologis dan fisik, sifat pendukung tidak memadai

Anda sedang membaca artikel dalam kategori :

Keperawatan Komunitas, Keperawatan Maternitas

Partograf, Alat Pencatatan Persalinan


Dipublikasikan pada 03 April 2011 oleh evanjh

Partograf adalah alat pencatatan persalinan, untuk menilai keadaan ibu, janin dan seluruh proses persalinan. Partograf digunakan untuk mendeteksi jika ada penyimpangan / masalah dari persalinan, sehingga menjadi partus abnormal dan memerlukan tindakan bantuan lain untuk menyelesaikan persalinan. Partograf merupakan lembaran form dengan berbagai grafik dan kode yang menggambarkan berbagai parameter untuk menilai kemajuan persalinan. Gambaran partograf dinyatakan dengan garis tiap parameter (vertikal) terhadap garis perjalanan waktu (horisontal). Bahaya / komplikasi persalinan 1. kematian ibu atau kematian 2. ruptura 3. infeksi / 4. perdarahan 5. fistel PARTOGRAF WHO (baca juga buku Prof.Dr.Sudraji Sumapraja) Sesuai standarisasi WHO (World Health Organization), untuk digunakan di pelosok-pelosok negara berkembang atau miskin, supaya mudah digunakan oleh pelayan kesehatan di sarana terbatas. Jika dinilai ada masalah yang memerlukan intervensi, dapat segera diusahakan untuk dirujuk ke pusat kesehatan yang lebih baik. Dengan partograf WHO dapat dinilai kapan diperlukan tindakan untuk menyelesaikan proses persalinan dengan : 1) perlu/tidaknya dirujuk, 2) perlu/tidaknya induksi infus oksitosin, dan 3) perlu/tidaknya operasi sectio cesarea. Penelitian partograf WHO dilakukan multisentral di Indonesia (4 rumahsakit), Thailand (2 rumahsakit) dan Malaysia (2 rumahsakit) selama 15 bulan (Januari 1990 Maret 1991), menghasilkan modul / form partograf yang sekarang banyak dipakai di mana-mana. sulit bayi sepsis / atau abnormal keduanya uteri puerperal postpartum

GARIS WASPADA / TINDAKAN 1. daerah sebelah kiri garis waspada merupakan garis observasi 2. daerah di antara garis waspada dan garis tindakan merupakan daerah perlu pertimbangan untuk merujuk atau mengambil tindakan, 3. daerah di sebelah kanan garis tindakan adalah daerah harus segera bertindak. KAPAN Partograf mulai diisi bila PARTOGRAF DIISI ?

Mereka yang masuk dalam persalinan : 1. fase laten (pembukaan < 3 cm), his teratur, frekuensi min.2x/10, lamanya<20?. 2. fase aktif (pembukaan >3cm), his teratur, frekuensi min.1x/10, lamanya<20?. Masuk dengan ketuban pecah spontan tanpa adanya his : 1. bila infus oksitosin dimulai 2. bila persalinan dimulai Masuk untuk induksi persalinan : 1. pemecahan ketuban (amniotomi) dengan atau tanpa infus oksitosin 2. induksi medis (infus oksitosin, balon kateter atau pemberian prostaglandin) 3. bila persalinan dimulai atau induksi dimulai atau ketuban pecah. Partograf tidak 1. Masuk dengan kala 1 akhir 2. Sectio 3. Sectio cesarea 4. Usia kehamilan kurang dari 34 minggu MONITOR PADA PARTOGRAF Frekuensi denyut jantung janin Normal antara 120-160 kali per menit. Laporan dengan memberi tanda pada form grafik sesuai frekuensi jantung pada garis waktu. Selaput / cairan ketuban Dinilai apakah selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah, jika sudah pecah dan keluar dinilai warna cairan ketubannya. Kode dengan huruf dalam lingkaran. (u) atau (+) : selaput ketuban utuh (-) : selaput ketuban pecah / tidak teraba Warna cairan : jernih (J), hijau (H), merah (M) Jika kering/tidak ada cairan : huruf (K). Moulage kepala janin Diraba fisura antara tulang-tulang kepala, dilaporkan dalam angka (+1) sampai (+4) menurut derajatnya, atau bila tidak ada moulage, beri tanda (-). Pembukaan serviks Kode dengan tanda silang (X) pada form grafik sesuai pembukaan serviks pada garis waktu. Fase laten partus kala 1 antara 0 sampai 8 jam sampai dengan pembukaan 3 cm. perlu fase aktif diisi pembukaan 9 cm cesarea darurat saat bila lebih elektif datang

atau

Fase aktif sekitar 7 jam, dengan perhitungan atau harapan membuka 1 cm setiap jam sampai lengkap. Sebaiknya pemeriksaan dalam dilakukan setiap 4 jam pada fase laten, dan tiap 3 jam pada fase aktif. Perkiraan masuk kala 2 dapat dari observasi jika ada tanda-tanda klinis lain. HIS Diperiksa dengan meraba dinding rahim di atas umbilikus. Frekuensi dihitung berapa kali dalam per 10 menit, dan berapa lama kontraksinya. Hasilnya digambarkan pada form grafik his sesuai garis waktu pemeriksaan. Gambar isi kotak sesuai jumlah / frekuensi : isi kotak dengan titik-titik untuk lama kurang dari 20 detik, dengan arsir garis untuk lama 20-40 detik, dan dengan blok untuk lama lebih dari 40 detik. Penurunan presentasi (pada persalinan normal : kepala) janin Dapat dari pemeriksaan Leopold saja maupun dari konfirmasi pemeriksaan dalam, dinilai dalam berapa perlimaan bagian kepala janin yang masih berada di luar pintu atas panggul (5/5 belum masuk, sampai 0/5 sudah masuk). Kepala disebut engaged bila bagian terbesar kepala sudah masuk pintu atas panggul. Obat-obatan / cairan yang digunakan Dituliskan dalam kolom obat / cairan yang digunakan sesuai garis waktu. Pemeriksaan tanda vital ibu Tekanan darah (dengan panah atas bawah untuk sistolik diastolik), nadi (titik), suhu (derajat Celcius), frekuensi pernapasan. PARTOGRAF Gambaran persalinan yang meliputi semua pencatatn yang berhubungan dengan penatalaksanaannya dan memberikan gambaran piktogram terhadap hal-hal yang penting dalam persalinan serta tindakan yang segera harus dilakukan terhadap perkebangan persalinan abnormal. Bagian-bagian Partograf: Identitas Denyut Jantung Janin (DJJ) Air ketuban Penyusupan Servikograf Waktu Kontraksi per 10menit Oksitosin

Obat-obatan Nadi dan Tekanan darah Ibu Temperatur Urine Catatan Persalinan Hal-hal yang diamati pada catatan kemajuan persalinan: Kemajuan persalinan Keadaan janin Keadaan ibu Waktu Pemeriksaan: DJJ setiap 30menit atau 1jam HIS setiap 30menit Nadi setiap 1jam Tekanan Darah setiap 4jam Suhu Tubuh setiap 4jam Sistem Bidang Hodge Untuk menentukan seberapa jauh bagian terdepan janin turun ke dasar panggul. Hodge menentukan bidang penurunan: * H I ? Bidang yang sama dengan pintu atas panggul * H II ? Bidang sejajar dengan H I setinggi tepi bawah simfisis * H III ? Bidang sejajar dengan H I setinggi spina ischiadica * H IV ? Bidang sejajar dengan H I setinggi ujung tulang kelangkung ( Os. Sacrum) Urine Jumlah (cc), proteinuria (+ / ), aseton. Jika memungkinkan, untuk tujuan praktis, gunakan kertas celup berbagai indikator (strip-test) : dapat juga mendeteksi pH, glukosa, bilirubin, leukosit-esterase dan sebagainya, dalam satu kali pemeriksaan kertas yang dicelupkan.

Manuver Leopold merupakan teknik pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan letak janin dengan melakukan palpasi abdomen, namun menjadi sulit dilakukan bila bertemu dengan ibu hamil yang obes atau dengan ibu hamil yang memiliki jumlah cairan amnion berlebih. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat sebelum melakukan manuver Leopold: 1. Bina hubungan saling percaya. 2. Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum tindakan dilakukan. 3. Anjurkan klien untuk tidur telentang rata punggung dengan lutut sedikit fleksi. 4. Cuci tangan dengan air hangat. 5. Alat-alat yang digunakan: laenec atau Doppler, selimut, handuk kecil, tempat tidur antenatal. 6. Buka pakaian klien mulai dari prosesus xipoideus sampai dengan simfisis pubis, tutupi dengan selimut pada bagian yang akan diperiksa. Manuver Leopold terdiri dari 4 langkah. Masing-masing langkah memiliki tujuan yang berbedabeda Manuver Leopold I, bertujuan untuk mengetahui letak fundus uteri dan bagian lain yang terdapat pada bagian fundus uteri. Dengan cara: 1. Wajah pemeriksa menghadap kea rah ibu 2. Palpasi fundus uterus 3. Tentukan bagian janin yang ada pada fundus Manuver Leopold II, bertujuan untuk menentukan punggung dan bagian kecil janin di sepanjang sisi material, dengan cara: 1. Wajah pemeriksa menghadap ke arah kepala ibu. 2. Palpasi dengan satu tangan pada tiap sisi abdomen. 3. Palpasi janin di antara dua tangan. 4. Temukan mana punggung dan bagian ekstremitas. Manuver Leopold III, bertujuan untuk membedakan bagian persentasi dari janin dan sudah masuk dalam pintu panggul, dengan cara: 1. Wajah pemeriksa menghadap ke arah kepala ibu.

2. Palpasi di atas simfisis pubis. Beri tekanan pada area uterus. 3. Palpasi bagian presentasi janin di antara ibu jari dan keempat jari dengan menggerakkan pergelangan tangan. Tentukan presentasi janin. 4. Jika ada tahanan berarti ada penurunan kepala. Manuver Leopold IV, bertujuan untuk meyakinkan hasil yang ditemukan pada pemeriksaan Leopold III dan untuk mengetahui sejauh mana bagian presentasi sudah masuk pintu atas panggul. Memberikan informasi tentang bagian presentasi : bokong atau kepala, sikap/attitude (fleksi atau ekstensi), dan station (penurunan bagian presentasi), dengan cara: 1. Wajah pemeriksa menghadap ke arah ekstremitas ibu. 2. Palpasi janin di antara dua tangan. 3. Evaluasi penurunan bagian presentasi.

Anda sedang membaca artikel dalam kategori :

Keperawatan Maternitas

Askep Maternitas Pada Pasien Dengan Ketuban Pecah Dini


Dipublikasikan pada 07 November 2010 oleh Irfan Padoe

1. Definisi Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut kejadian ketuban pecah dini (periode laten) Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10 % dari semua persalinan. Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4 %. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai periode laten melebihi satu minggu. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan. 2. Anatomi Fisiologi Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino, lemak, koleesterol, dan vitamin. Protein dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma. 1) Pembentukan Sel Darah Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang belakang. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis. 2) Sel Darah Merah Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati. Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel : 1. Nermositik : sel yang ukurannya normal 2. Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal 3. Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil 4. Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar 5. Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit 6. Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak 3) Hemoglobin Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total. 4) Pemecahan Sel Darah Merah Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut

mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan melalui tinja atau urin. 3. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut : Serviks inkopeten Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik disproforsi Kelainan bawaan dari selaput ketuban Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah. 4. Patofisiologi Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut : Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. 5. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD) Sebagai gambaran umum untuk penatalaksanaan KPD dapat dijabarkan sebagai berikut : Pertahankan kehamilan sampai cukup matur, khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang yang sehat Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin. Pada kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan. Menghadapi KPD, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya. Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan peerlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi his spontan. 6. Tujuan umum dalam Asuhan Perawatan Bayi Baru Lahir adalah untuk : 1. Mempertahankan Pernapasan

- Segera setelah bayi lahir, bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang kadang darah dan mekonium masuk kesaluran pernafasan. - Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut - Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan 2. Mencegah Infeksi - Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci tangan sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi, mengisolasi bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih. 3. Memperhatikan suhu tubuh - Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir, karena bila suhu lingkungan tidak ada; metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat. - Segera setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. Setelah suhu tubuh bayi stabil biasanya 1 2 jam sesudah lahir, bayi dibersihkan atau dimandikan. 4. Mengenal tanda tanda sakit - Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu. - Beberapa tanda tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit, kening pada ban pertama kesukaran pernapasan, kenaikan atau penurunan suhu tubuh, biru atau pucat, penyakit kembung, problem makan, muntah, kejang kejang, tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam 12 jam pertama kehidupan dan penurunan badan badan bayi yang banyak. 7. Materi Perubahan Fisiologi pada Bayi Baru Lahir 1. Pernapasan dan peredaran darah Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktifitas normal dari susunan syaraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya. Seperti rangsangan hypoxaemia, sentuhan dan perubahan (perbedaan) suhu dari dalam uterus dengan di luar uterus. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan dalam otak yang meneruskan rangsangan tersebut untuk mengarahkan diafragma serta alat alat pernapasan lainnya. 2. Faeces Faeces yang pertama keluar berupa pasta kental berwarna gelap dan lengket yang disebut meconiumhal tersebut sebenarnya sudah ada sejak janin berumur 26 minggu dalam kandungan. 3. Memelihara Kulit Mengingat bahaya infeksi kulit dengan Staphyloccocing, banyak rumah sakit tidak memandikan bayi lagi, hanya darah dan meconium dibersihkan sedangkan dengan vernik caseosa dibiarkan. 4. Tali Pusat Tali pusat diperiksa harus ada dua arteri dan satu vena, bila hanya didapat satu arteri mungkin ada kelainan kongenital lain. Tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir, paling sering sekitar hari ke 10. Mengingat kemungkinan infeksi tindakan aseptik sangat harus diperhatikan waktu merawat tali pusat. 5. Kehilangan Berat Badan Karena selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukkan cairan sedangkan bayi mengeluarkan feces, urine dan keringat. Tidak mengherankan bahwa beratnya turun sampai diimbangi oleh minum air susu yang cukup. Refleks

Bayi menunjukkan beberapa refleks yang di sebut reflek primitive. Ada beberapa reflek primitive : 1. Moro Refleksi Dapat dilihat bila bayi dikagetkan atau sekonyong konyong digerakkan. 2. Graps Refleksi Bila telapak dirangsang, tangan akan memberi reaksi seperti menggenggam. 3. Walking Refleks Bila telapak kaki ditekan pada sebuah bangku atau pada suatu tempat yang datar, maka bayi akan bergerak seperti berjalan 4. Crossed Ectension Refleksi Bila satu tangkai dipegang pada posisi extensi pada lutut dan telapak kaki sisi yang sama digores dengan kuku/jarum pada tungkai yang lain akan berada dalam posisi Fleksi Adduksi kemudian extensi 5. Rooting Refleksi Rangsangan pada bibir atas bagian tengah mengakibatkan mulut terbuka dan rahang turun ke bawah. 8. Ciri Ciri Bayi Baru Lahir Nilai APGAR Apgar score dinilai pada satu menit bayi setelah lahir dan yang kedua lima menit setelah lahir, bayi yang normal nilai Apgarnya antara 7 10. Berat dan panjang badan Berat badan merupakan index gizi dan pertumbuhan yang baik terutama berat badan merupakan resultante pertumbuhan badan keseluruhan (normal BB : 2,5 4 kg). Panjang badan lain halnya dengan berat badan, maka kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menerus bertambah dari lahir sampai dewasa, kecuali pada masa adolesensi (normal PB : 50 cm) Lingkar kepala dan dada Pengukuran lingkaran kepala penting karena berhubungan dengan volume intrakranial dan dapat dinilai kecepatan tumbulrannya otak, ( normal ) LK : 33 35,6 cm). Lingkar dada pada masa neonatal terjadi juga pertambahan panjang atau lebar dada yang normal antara 30 cm, 33 cm, dan 36 cm. 9. Tindakan yang harus segera dilakukan pada Bayi dengan cara Pelaksanaannya Menghisap lendir dan merangsang pernafasan bayi 1. Pengertian Adalah memberikan pertolongan kepada bayi untuk mengeluarkan kotoran yang berupa lendir dan darah serta air ketuban dari mulut, tenggorokan, dan hidung bayi dengan cara menghisap dengan alat. Tujuan 1. membersihkan kotoran 2. merangsang agar anak bernafas 3. Cara menghisap lendir 4. Resusitasi Memberikan identitas bayi 1. nama nomor 2. sidik jari kaki Peralatan peralatan disiapkan

Alat alat : 1. Dua buah penjepit nadi 2. Gunting tali pusat 3. Kapas lidi 4. Benang pengikat tali pusat 5. Alkohol 70 % 6. Gaas steril 7. Iodium tintur 3 % / betadine 10 % Cara kerja : Tali pusat dipotong dijepit dengan 2 buah penjepit nadi, diurut ke placenta 5 cm lalu dipotong lagi klem di beri yodium tintur 3 % kemudian tali pusat diikat dengan 2 ikatan di beri betadine dibungkus dengan kasa tali pusat. Menetes mata bayi Tujuannya mencegah kemungkinan terjadinya infeksi karena kena kotoran waktu bayi melewati jalan lahir Mengukur dan menimbang BB bayi baru lahir Memberi pakaian.