Anda di halaman 1dari 4

Efek Perasan Daun Rumput

... (Katrin, dkk.)

EFEK PERASAN DAUN RUMPUT LIDAH LEMBU (Aneilema nudiflora (L.) Wall.) PADALUKATERBUKA (The Effect of Squeez Lidah Lembu Grass in Curing Wound)
Katrin, FaridaL,HandayaniD. Departemen Farmasi FMIPA, Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok 1644

Abstract Research has been done on Aneilema nudiflora (L.) Wall.for it curing wounds effect using a modified Morton method. The test animals were white rats Spraque Dawley. The test samples were squeezedfresh leaves which then madejelly by sodium carboxy methyl cellulose dosed at equal to 2g,4 g, and 8 gfresh leaves. The sample was given once a day. Cod liver oil ointment which can cure wounds was used as comparison. Afer twelve day ; observation, healing cut percentages on the 12" day were : control group 78.31 % cod lever oil ointment ; ; 91,69 % test preparation dosed at equal 2 gfresh leaves 89,87 % 4 gfresh leaves 91,63% ;8 gfresh leaves ; 94,62 % basis ofjelly 89,35 %. The statistical analysis by the Kruskal-Wallis test resulted that the healing cut percentages of A. nudiflora (L.) Wall. dosed at equal to 4 g and 8 gfresh leaves were d&-ent significantly with the contra/ group. n o s e percentages were also higher than cod liver oil ointment group, but no significant d~%ference. Keywords: Aneilema nudiflora (L.) Wall., curing wounds effect, cod liver oil ointment
Naskah diterima tanggal 16April 2007, disetnjui untuk diiuat tanggal 17 Juni 2007 Alamat koresponden: Departemen Farmasi FMIPA, Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok 16424 PENDAHULUAN Luka merupakan suatu ha1 yang dapat terjadi, seperti pada akhir-akhir ini banyak teqadi kecelakaan maupun akibat bencana alam. Masyarakat saat ini tidak puas dengan obat yang hanya menyembuhkan luka saja. Yang diharapkan adalah obat yang selain dapat menyembuhkan luka juga dapat membentuk lapisan kulit baru dengan sempurna sehingga tidak terdapat bekas luka atau parut dan kulit kembali seperti semula. Dalam upayamenemukan obat luka seperti yang diharapkan, salah satu alternatihya adalah menggunakan bahan alam. Salab satu tanaman yang digunakan untuk mengobati luka akibat gigitan ular di Kalimantan Selatan adalah dam rumput lidall lernbu (Aneilemanud$oro(L.) Wall.) (1). Luka yang disebabkan oleh gigitan ular berupa luka terbuka yang mungkin mengandung bisa. Dari pengetahuan yang diperoleh secara turun temurun, daun ini diketahui dapat mengobati luka terbuka dengan cepat dan sempurna, sehingga luka tidak meninggalkan bekas parut pada kulit. Berdasarkan ha1 tersebut di-atas, dilakukan penelitian untukmengetahui efek daun nunput lidah lembu terhadap luka terbuka pada tikus putih dengan metode Morton yang dimodifkasi.
MFZODE Bahan Percnbaan Daun rumput lidah lembu (Aneilema nudflora (L.) Wall.) diperoleh dari kebun percobaan tanaman obat Universitas Indonesia, Depok, yang berasal dari Martapma, Kalimantan Selatan, yang telah dideterminasi

di Balai Pengembangan Kebun Obat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor. Hewan Penmbaan Tikus putih jantan strain Spraque Dawley (SD), usia 3 sampai 5 bulan dengan berat badan 120 g sampai 150 g yang diperoleh dari Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan (PPOM), Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. PenyiapanBahan Uji Daun rumput lidah lembu yang digunakan adalah daun yang segar dan serbuk daun yang telah diieringkan. Untuk mengwangi angka kuman, baik daun segar maupun yang dikeringkaan disemprot dengan alkohol70 %, lalu dibiarkan hingga alkoholnya menguap. Kadar air bahan segar ditentukan dengan cara dikeringkan dalam oven pada suhu tidak lebih dari 50C. Sediaan uji yang digunakan adalah air perasan daun lidah lembu segar d m ekstrak dari serbuk daun kering yang dibuat secara maserasi menggunakan akuades. Sebagai basis digunakan sediaan jeli sesuai dengan formula jeli penggosok (lubricatingjelly), yaitu ~ (2): yang terdii dari Natrium CMC 5 g, g l i s e 5 g, nipagin 100 mg dan akuades ad 1OOg. Pembuatan jelidengan air perasan damn rnmput lidah lembu Formula jeli yang digunakan mengandung air sebanyak 89,9 %. Jeli yang dibuat dengan air perasan daun rumput lidah lembu selalu dibuat baru pada saat akan digunakan, sehingga tidak diperlukan Nipagin sebagai pengawet. Oleh karena itu kadarair dalam sediaan

Efek Perasan Daun Rumput ... (Katrin, dkk.)

d. Pengolehan Data Data diolah secara statistik menggunakan metode uji Kruskal-Wallis. Pada uji ini dilakukan perbandiigan langsung data antar kelompok perlakuan untuk mengetahui apakah data tersebut berbeda secara bermakna (5,6).

HASIL DANPEMBAHASAN Penggunaan daun lidah lembn secara tradisional sebagai obat luka hanya dalam bentuk daun segar yang diialuskan, tidak ada perlakuan lain seperti pemanasan, ekstraksi, pengeringan, dan sebagainya. Pada penelitian ini digunakan baik bahan segar maupun yang telah diieringkan, oleh karena itu diperlukan penetapan kadar air daun lidah lembu segar, sehiigga dapat dihitung dosis yang sesuai dengan dosis yang umum digunakan. Hasil penetapan kadar air dam segar adalah sebesar 92,5 %. Dosis pada percobaan pendahuluan sebesar 2,5 g daun segar pada tiap kelompok percobaan, bal ini didasarkan pada dosis yang m u m digunakan (setara dengan dua lembar daun rumput lidah lembu). Setiap tahapan percobaan diusahakan seaseptis mungkin agar luka tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Jika tejadi infeksi maka akan berpengaruh pada proses penyembuhan, sehiigga persentasi penyembuhan luka yang diamati tidak menunjukkan efek langsung dari daun rumput lidah lembn. Cara mencegah infeksi adalah dengan menggunakan bahan uji yang dikurangi angka kumannya, alat-alat yang sudah dibersihkan dengan , alkohol70 % dan menutup luka menggunakan kasa steril. Pada percobaan ini digunakan metode Morton yang dimodifikasi. Luka berbentuk lingkaran dengan diameter 2 cm. Diameter awal yang menjadi dasar perhitungan persentase penyembuhan luka adalab diameter luka sehari sesudah tikus dilukai (hari pertama), bukan pada hari tikus dilukai @anke-nol), karena setelah 24jam diameter luka sudah stabil(7). Luka berubah bentuk dari lingkaran menjadi bulat telnr, dimana diameter horizontal mengecil sedangkan diagonal kiri dan kanan membesar. Pembahan bentuk luka ini disebabkan karena tikus dilukai di daerah punggung dekat bahu, sedangkan tikus sangat aktif bergerak sehiigga lukamenjaditertarik. Selain itu diketahui bahwa kulit normal mempunyai tegangan dan apabila dilakukan pemotongan kulit yang tebal, maka akan diperoleh luka yang lebih besar dari potongan kulit yang dibuang (8). Pada percobaan pendahuluan terdapat lima kelompok perlakuan. Dosis yang diberikan pada tiap kelompok besarnya sama, tetapi cara penyiapan ujinya berbeda-beda. Pada kelompoktikus yang diberi daun segar halus secara langsung (kelompok B), luka paling cepat sembuh (sembuh pada hari ke-8 dan hari ke-9). Lukapada kelompok C sembuh dalam 9 dan 10 hari, kelompok D sembuh dalam 9 hari; dan kelompok E sembuh dalam 11 hari. Sedangkan kelompok Asebagai konkol negatif (luka didiamkan), luka tidak sembuh dalam 12 hari pengamatan.

Pada percobaan pendahuluan waktu terlama penyembuhan adalah 11 hari, maka pada percobaan sesungguhnya pemberian obat dilakukan selama 12 bari. Dosis 2,5 g dam segar yang dipakai pada percobaan pendahuluan telah memberikan efek penyembuhan, maka untuk percobaan sesungguhnya dipilih 3 dosis yaitu 2g, 4 g dan 8 g daun rumput lidah lembu segar. Diketahui bahwa 2 g daun rumput lidah lembn segar mengandung mempengaruhijumlah bahan uji yang diberikan. Untuk itu air perasan dibuat &lam bentuk sediaan semi padat sehimgga tidak ada air yang terbuang. Digunakan sediaanjeli karenakadar airnya tinggi, memerlukan sedikit bahan tambahan dan cara pembuatannya tidak melalui pemanasan, sehingga tidak banyak faktor yang akan berpengaruh pada basil percobaan. Sebagai bahan pembanding positif digunakan salep minyak ikan, dengan pertimbangan bahwa salep ini berkhasiat mempercepat perhunbuhanjaringan pada luka, dan tidak berkhasiat sebagai antibiotik seperti obat luka pada umumnya. Berdasarkan uji kenormalan dan uji kebomogenan, diperoleh hasil bahwa data tidak normal dan tidak homogen, sehiigga untuk analisa statistik harus digunakan uji-uji non-paramehik. Oleh karena itu dipakai uji Kruskal-Wallis untuk membandingkan antar kelompok perlakuan. Untuk melihat pengaruh basis, dilakukan perbandingan antara kelompok A (kontrol murni, luka didiamkan) dengan kelompok F (kontrol perlakuan, diberi 1 g basisjeli). Hasil analisa statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada hari ketiga sampai bari ke-10. Persentasi kesembuhan luka pada hari ke-12 kelompokA(78,81% i11,754 ) lebih kecil dari kelompok F (89,35 0,356). Pada ke-1 1 dm ke-12 tidakadaperbedaan yang bermakna, karena adanya variasi biologik pada kelompokA yang ditunjukkan oleh simpangan baku besar. Dengan adanyapengaruh basis jeli terhadap kesembuhan luka, maka umtuk selanjutnya kelompok perlakuan lain dibandingkan terhadap kelompok F. Persentasi kesembuhan luka hari ke-12 kelompok C sebesar 89,87 % 7,380. Setelah dianalisa dengan tarafuji 0,05, tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok C dan kelompok F selama 12 bari pengamatan, kecuali pada hari ke-5. Persentase kesembuhan luka hari ke-12 kelompok D sebesar 91,63 % + 2,584. Perbandimgan kelompok D dengan kelompok F menunjukkan perbedaan yang bermakna mulai bari ke-4 sampai hari ke-4 sampai hari keI0 Cp= 0,05). Persentasi kesembuhan luka pada hari ke-12 kelompok E sebesar 94,62 % + 1,297. Perbandingan kelompok E terhadap kelompok F menunjukkan perbedaan yang bermakna mulai bari ke-7 sampai hari ke-12, kecuali pada hari ke-I0 (P=0,05). Persentase kesembuhan luka pada hari ke-12 kelompok B ( diberi 0,5 g salep minyak ikan) sebesar 91,69 % -t 3,997. Perbandiigan kelompok B terhadap kelompok F tidak menunjukkan perbedaan yang

Jumal Bahan Alam Indonesia ISSN 1412-2855 Vol. 6, No. 3, Juli 2007

Hari ke-2

Hari ke-3

Hari ke-4

Hari ke-5

Hari ke-6

Hari ke-7

Hari ke-8

Hari ke-9

Harl ke-10

Hari ke-11

Hari ke-12

Keterangan: A= Kontrol negatif, B= Konhol positif, C = Dosis setara 2 g daun segar, D= Dosis setara 4 g daun segar, E= Dosis setara 8 g daun segar, dan F = Kontrol basis jelly Gambar 1. Grafik persentase kesembuhan luka terbuka 12 hari pengamatan bermakna selama 12 hari pengamatan (P= 0,05), kecuali pada hari ke-5. Hasil selengkapnya dapat dilibat pada Gambar 1. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa air perasan daun rumput lidah lembu berbasisjeli dosis setara 4g dan 8 g daun segar memberikan efek penyembuhan terhadap luka terbuka pada tikus putih. Persentasi penyembuhan yang diberikan lebih besar dari persentasi penyembuhan oleh salep minyak Man pada hari ke-12. Dari pengamatan diameter luka setiap harinya dapat diamati perkembangan luka. Tampak bahwa pada luka yang didiamkan (konhol murni), fase lag berlangsung cepat, tetapi fase penyembuhan berjalan lambat. Sedangkan pada pemberian air perasan daun rumput lidah lembu berbasis jeli (kelompok C,D, dan E) clan pemberian salep minyak ikan (kelompok B), fase lag berlangsung lambat, ditandai dengan persentase penyembuhan yang kecil; tetapi fase penyembuhan jauh lebih cepat dari kontrol, dilihat dari persentase penyembuhan luka yang meningkat cepat. Air perasan daun berbasis jeli dosis setara 4 g dan 8 g dam segar memberikan persentase penyembuhan lukayang baik dari pemberian salep minyak ikan pada hari ke-12.
KESIMPZlLAN Dari pengamatan diameter luka terbuka disimpulkan bahwa air perasan daun rumput lidah lembu (Aneilemanudij7ora (I.) Wall.) dengan dosis 4 g dan 8 g daun segarmemberikan efek penyembuhan yang bermakna terhadap luka terbuka pada tikus putih, dibandingkan

dengan salep minyak ikan, persentase kesembuhan oleh bahan uji tidak berbeda bermakna. DAFTAR RUJUKAN 1. Peny L.M. 1978. Medicinal Plant of East and Southheast Asia : Atributed Properties and Uses. The MIT Press, Cambridge, Massaschusets, 81-82. Martindale The Extra 2. Anonim. 1944. Pharmacopoeia, 30th ed. The Pharmaceutical Press. 3. Magdelina Eliza. 1991.Pemeriksaan Efek Ekshak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides Linn.) Terhadap Luka Terbuka Pada T i u s Putih, Skripsi Sarjana Fannasi FMIPA Universitas Indonesia, Depok. 4. Morton JJP, Malone MH. 1972 Evaluation of Vulnerary Activity by an Open Wound Procedur in Rats, Archives Inf.Pharmacodyn, 117-128. 5. Walpole RE. 1988. alihbahasa : Bambang S., Pengantar Statistika, ed. 3, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 39 1-445. 6. Sprent P. 1991. alihbahasa : Envin R.O., Metode Statistik Non Parametrik Terapan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 71-3,284 7 Willis RA. 1991. The Principles of Pathology . Including Bacteriology, 2"d ed. Butterworths, London, 12-20. 8. Warren BA, Jeynes BJ. 1983, Basic Histology; A review with Questions and explanations, In ed. Alittle Brown, USA, 1095-1100.