Anda di halaman 1dari 12

Ggn Makan dan Ggn Tidur Non Organik

Gangguan Makan:
I. II. III. IV. V. I. Anoreksia nervosa Bulimia nervosa Muntah yang berhubungan dengan ggn psikologik Makan berlebih yang berhubungan dengan factor psikologik lainnya Ggn makan lainnya: 1. Pika non organik masa dewasa 2. Hilang nafsu makan psikogenik BULIMIA NERVOSA: A. Adalah syndrome dengan cirri-ciri: 1. Perilaku makan yang berlebihan yang berupa serangan berulang 2. Preokupasi berlebih mengenai berat badan 3. Melakukan upaya untuk mengurangi pengaruh makan banyak agar bb tidak naik (merangsang muntah, olah raga, deuretika, laksansia) B.

DDBulimia Nervosa:
1. Ggn GI bagian atas yang mengakibatkan muntah berulang 2. Ggn depresi (penderita bulimia sering mengalami gejala depresi) 3. Berkaitan dengan kepribadian abnormal (misalnya dikaitkan dengan mengutil)

II. Muntah Yang Berhubungan Dengan Ggn Psikologik: 1. Hipokondriasis, konversi 2. Muntah psikogenik 3. Hiperemesis gravidarum III. ANOREKSIA NERVOSA: 1. Penurunan berat badan yang disengaja dengan cara memilih makanan tertentu (diet,olah raga yang berlebihan, induksi muntah, obat menekan nafsu makan, neuretika) 2. Ciri-ciri anoreksia: a. penurunan berat badan yang disengaja, b.penderita gadis remaja / wanita muda, c. distorsi body image (criteria BB ideal yang sangat rendah d. dapat terjadi ggn endokrin e. dapat terjadi perkembangan yang tertunda (pada pra purbetas tanda sekunder berkurang)

3. Etiologi antara lain: a. opioit endogen yang banyak menyebabkan rasa lapar berkurang b. hubungan dekat dengan ortu (tetapi ada masalah) c. secara social bentuk tubuh yang ideal d. keinginan yang independent misalnya oleh karena fungsi social pekerjaan, seksual. 4. Pedoman diagnosa: a. berat badan tetap di bawah normal b. berat badan turun atas inisiatif sendiri (diet, muntah, olah raga, dierutika, obat penurun nafsu makan) c. ada penyimpangan citra tubuh selalu merasa kegemukan d. ggn endokrin e. pada pra pubertas tanda seksual sekunder dan genital

IV. MAKAN BERLEBIH YANG BERHUBUNGAN DENGAN FAKTOR PSIKOLOGIK : 1. Dapat terjadi sebagai reaksi terhadap peristiwa stress (berkabung, kecelakaan, post operasi) 2. Disebut obesitas reaktif Catatan: 1. Makan berlebih bisa menyebabkan kegemukan (obesitas) 2. Obesitas sebagai efek samping dari obat anti depresif dan obat neuroleptik atau obat lain tidak termasuk disini 3. Obesitas mungkin yang memotifasi untuk diet yang dapat menyebabkan gejala afektif minor (ansietas, gelisah, iritabilitas atau yang agak jarang gejala depresi berat (disebut depresi diet)

GANGGUAN TIDUR I. DISSOMNIA: 1. Insomnia: insomnia awal, insomnia pertengahan, dan insomnia akhir 2. Hipersomnia 3. Ggn jadwal tidur II. PARASOMNIA: 1. Somnabulisme 2. Nightmare 3. terror tidur a. INSOMNIA: 1. Kondisi tidur tidak memuaskan secara kuantitas / kualitas ( kebutuhan tidur singkat atau kebutuhan tidur lama 2. a. Insomnia awal (ggn fase 1) sulit mulai masuk tidur. Paling sering dikeluhkan. Ditemukan pada penderita cemas, tegang, ada masalah b. Insomnia pertengahan, sering terbangun (cemas, depresi, ggn penyesuaian) c. Insomnia akhir, bangun lebih awal Lebih sering ditemukan keluhan gabungan dari ketiganya yaitu a,b, dan c 3. Insomnia khas dialami orang yang sedang stress dan lebih umum pada wanita yang berusia lebih lanjut 4. Keluhan penderita insomnia: a. Merasa tegang b. Cemas dan khawatir c. Merasa pikiran melayang-layang d. Banyak masalah pribadi, social, ataupun fisik e. Pagi mengeluh lelah fisik dan mental f. Siang hari mengeluh cemas, depresi, tegang, mudah tersinggung 5. Insomnia non organic antara lain: a. Cemas b. Depresi c. Skizoprenia d. Ggn penyesuaian e. Dll B. HIPERSOMNIA NON-ORGANIK: 1. Pengertian: a. Tidur siang atau malam yang berlebihan b. Serang ngantuk bukan karena kurang tidur

c. Butuh waktu lebih lama untuk segar kembali setelah tidur (biasanya berhubungan dengan ggn jiwa, bila tidak ada bukti ggn organic) 2. HNO ditemukan pada: a. ggn avektif berat b. ggn depresi berulang c. satu episode depresi 3. DD hipersomnia: a. Narkolepsi b. Apnea tidur c. Hipersomnia organic A. Narkolepsi: 1. ada serangan ngantuk yang berat yang tidak tertahankan, biasanya singkat, segera segar setelah bangun, bisa terjadi beberapa kali sehari 2. kata pleksi, tonus otot yang hilang / lemas bilateral biasanya pada kedua lutut, kadang-kadang lengan, muka, rahang, atau motorik lainnya terjadi dalam kondisi sadar (compos mentis), biasanya distimulus oleh emosi. Berakhir beberapa detik / menit, lalu diikuti serangan tidur. 3. sleep paralysis: paralysis otot motorik secara total pada waktu tidur / bangun 4. Halusinasi hipnogogik / hipnopompik 5. Etiologi: diduga adanya ggn berulang pada elemen tidur REM dan transisi tidur bangun dalam berbagai waktu selama seharian akan menyebabkan narkolepsi 6. prefalensi: kurang lebih 0,05% populasi 7. Diagnosa narkolepsi: gejala khas-nya TETRAD narkolepsi: 1. serangan ngantuk berat 2. kata pleksi 3. paralysis motorik 4. hipnogogik / hipnopompik 8. Terapi narkolepsi: a. stimulansia b. tidur santai (tidur-tiduran) c. antidepresan oleh karena dapat mengurangi / menekan-memperbaiki tidur REM B. Apnea waktu tidur: 1. terhenti bernapas pada malam hari 2. mendengkur yang intermitten 3. obesitas 4. hipotensi 5. impotensi 6. hendaikognitif

7. banyak berkeringat 8. sakit kepala di pagi hari dan kurang koordinasi (Kalau ada dugaan Apnea tidur perlu dirujuk untuk pemeriksaan laboratorium tidur C. Hipersomnia organic lainnya: 1. Kontusio serebri 2. meningitis 3. ensefalitis 4. tumor otak 5. penyakit digeneratif 6. ggn metabulik 7. intoksikasi 8. ggn endokrin 9. sindrom pasca radiasi II. Parasomnia: 1. Somnabulisme: a. elemen tidur dan bangun bercampur pada saat yang sama b. individu bangun dari tempat tidur lalu berjalan / melaukan aktifitas pada tingkat kesadaran, reaktifitas kemampuan mototrik yang lebih rendah c. biasanya terjadi pada 1/3 awal tidur malam d. bisa pergi keluar rumah dan melakukan kegiatan yang rutin sehingga berbahaya bagi pasien tetapi paling sering mereka kembali ke tempat tidur dengan sendiri atau dibantu orang lain e. setelah terjaga dari somnabulisme keesokan harinya penderita tidak ingat kejadian tersebut f. DD somnabulisme: 1. Epilepsy Psikomotor (EP) a. dimana yang lebih menonjol adalah gejala perilaku b. EP jarang terjadi, hanya malam hari c. selama serangan EP individu tidak memberi respon pada stimulus lingkungan d. ada gerakan-gerakan berulang menelan, menggosok tangan 2. Fugue Disossiatif (FD): a. FD episode lebih lama

b. individu lebih waspada, mampu melakukan gerakan yang kompleks dan bertujuan c. FD jarang pada anak, khas dimulai pada saat siaga / terbangun 2. Nightmare; a. Pengalaman mimpi yang menakutkan, membuat cemas dan diingat dengan jelas b. Isi mimpi misalnya ancaman pada kehidupan, keamanan, harga diri c. Sering terjadi pengulangan mimpi yang sama d. Selama serangan ada peningkatan SSO, tidak ada bicara / bergumam ataupun gerakan tubuh e. Saat bangun pasien cepat sadar / siaga f. Etiologi: 1. Pada anak berkaitan dengan masa perkembangan emosional 2. Orang dewasa, sering ada kaitan dengan factor psikologik bermakna (penghentian mendadak pemakaian hipnotika, psikotropika, antidepresan, benzodiazepine) Obat-obat tersebut menekan tidur REM (tidur yang berkaitan dengan mimpi) sehingga bila di-stop mendadak terjadilah REBOUND REM mimpi buruk meningkat 3. Teror Tidur: a. Spesifik pada malam hari, ada episode rasa tercekam, panic, ketakutan yang hebat disertai teriakkan, hiperaktifitas SSO lalu pasien bangun lalu duduk dan berteriak panic b. Biasanya terjadi pada 1/3 waktu awal tidur c. Pasien bisa panic sampai lari keluar rumah d. Upaya orang lain membantu dapat memperparah kondisinya oleh karena disorientasi beberapa menit e. Terror tidur dan somnabulisme sering ada hubungan dengan factor genetic, masa perkembangan, factor organic, factor psikologik (semua factor bisa berperan bersamaan)

GGN TIDUR
I. DISOMNIA: GGN TIDUR-CIRI UTAMA GGN:KUALITAS,KUANTITAS TIDUR 1. INSOMNIA KONDISI TIDUR YANG TIDAK MEMUASKAN SECARA KUANTITASKUALITAS KELUHAN-KELUHAN PENDERITA INSOMNIA: -MERASA TENGANG,CEMAS,DEPRESI -MERASA TIDAK CUKUP TIDUR -BANYAK MASALAH PRIBADI,GANGGUAN KESEHATAN -PAGI HARI ADA KELELAHAN MENTAL DAN FISIK -SIANG HARI NYA KELUHAN CEMAS,TEGANG,MUDAH TERSINGGUNG -SERING DIATASI DENGAN OBAT-OBATAN/ALKOHOL INSOMNIA LAZIM PADA GANGGUN JIWA: -GANGGUN AFEKTIF -GANGGUAN CEMAS -SKIZOPRENIA -GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT -NYERI FISIK PADA LANSIA JENIS INSOMNIA: -INSOMNIA AWAL:SULIT MULAI TIDUR(FASE 1) -INSOMNIA PERTENGAHAN:SERING TERBANGUN -INSOMNIA AKHIR:BANGUN LEBIH AWAL PEDOMAN DIAGNOSA INSOMNIA: 1. Keluhan sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur,kualitas tidur buruk. 2. Gangguan tidur terjadi minimal 3x seminggu 3. preokupasi akan bisa tidur dan khawatir dampaknya bagi kesehatan 4. tidak puas tidur kuantitas/kualitas yang menggangu fungsi social/pekerjaan 2. HIPERSOMNIA TIDUR BANYAKTIDAK PUAS II. PARASOMNIA: PERISTIWA ABNORMAL DAN EPISODIK YANG TERJADI SELAMA TIDUR 1. SOMNABULISME(SLEEP WALKER) o ADA PERUBAHAN KESADARAN o BANGUN DARI TEMPAT TIDUR-BERJALAN-MELAKUKAN TINDAKAN TERTENTU

o TINGKAT KESADARAN,REAKSI,KEMAMPUAN MOTORIK MENURUN o ESOK HARI NYA TIDAK INGAT KEJADIAN TERSEBUT o TERJADI 1/3 AWAL TIDUR

DIAGNOSA BANDING:
2. o o 3. 1. EPILEPSI PSIKKOMOTOR 2. FUGUEDISOSIATIF TERROR TIDUR MALAM HARI BANGUN DENGAN RASA PANIK MENAKUTKAN ADA TERIAKAN DAN GEJALA OTONOMIK NIHGTMARE(MIMPI BURUK) DISOMNIA

INSOMNIA HIPERSOMNIA

PARASOMNIASOMNABULISME TERROR TIDUR NIGHTMARE

INSOMNIA
Dr. M.Siregar SPKJ
I. PENDAHULUAN: Insomnia adalah salah satu bentuk dari ggn tidur (ggn tidur lain hipersomnia dan parasomnia, ggn jadwal tidur) Ggn tidur sering sekali menjadi keluhan pasien baik oleh karena ggn fisik seperti nyeri organik maupun oleh karena masalah emosional (psikiatrik). Misalnya di AS keluhan mengenai insomnia ditemukan pada 36% orang dewasa dan 20% pasien rawat jalan umum. Dianggap sebagai masalah yang bermakna dan kronis oleh 10% pasien rawat jalan. Ggn tidur berkaitan dengan angka kesakitan (fisik), fungsi sehari-hari, kecelakaan bahkan kematian oleh karena kecelakaan lalu lintas. Dan dana yang sangat banyak dihabiskan untuk ggn yang berhubungan / akibat ggn tidur. DEFINISI INSOMNIA: Insomnia adalah kesulitan untuk mulai masuk tidur (fase 1), atau mempertahankan tetap tidur atau sulit tidur kembali apabila terbangun. KEBUTUHAN TIDUR:

II.

III.

Secara umum diketahui kebutuhan tidur normal antara 6-9 jam sehari. Tetapi dalam kenyataan ada orang dengan kebutuhan tidur singkat, misalnya 4-5 jam sehari, sebaliknya ada orang dengan kebutuhan tidur lama yaitu lebih dari 9 jam. Kita bisa menilai kecukupan masa tidur itu dari kebugaran pada waktu bangun pagi, segar secara fisik. Bila benar-benar kurang tidur maka pada siang hari akan kelihatan mengantuk, lelah, ggn konsentrasi (sulit berpikir), mudah tersingggung. IV. PERUBAHAN FUNGSI FISIOLOGIK PADA MASA TIDUR: A. Tidur Nonrem: 1. Stadium 1 (fase awal / fase 1): respirasi dan nadi melambat, tekanan darah turun, gerakan tubuh episodic. 2. Stadium 2: kelanjutan dari stadium 1, tidur dangkal 3. Stadium 3 dan 4:*Kondisi tidur yang sebenarnya, disini tidurnya dalam dan kondisi rileks *Ggn tidur terjadi pada stadium 3 dan 4 (nightmare, night terror, somnabulisme/sleep walking *Mimpi yang jelas , menyenangkan dapat diingat atau tidak *Ereksi parsial/full organ vital *Enoresis B. Tidur Rem: 1. Nadi respirasi cepat, tekanan darah meningkat 2. Aktivitas otak meningkat 3. Kalau terjadi kurang tidur rem, misalnya oleh karena kurang tidur/sering terbangun esok harinya rem sleep bertambah (rem rebound) II. NEUROTRANSMITER DAN TIDUR: Selama tidur terjadi perubahan neurotransmitter. 1. Acetycholine (ACH) meningkat, akibatnya total sleep dan rem meningkat 2. Dopamine meningkat maka total sleep berkurang, misalnya pada skizoprenia (antipsikotik yang tergolong dopamine antagonis mempunyai efek perbaikan tidur 3. Serotonin meningkat maka total sleep dan tidur nyenyak (fase 3 dan 4) bertambah. Obat anti depresan mengakibatkan peningkatan serotonin sehingga memperbaiki tidur

III.

ETIOLOGI GANGGUAN TIDUR: Sering tidak ditemukan factor psikologik yang tunggal sebagai penyebab insomnia, misalnya *orang dalam kondisi stress akan mengalami cemas, marah, frustrasi. *Penderita insomnia sering mempunyai sikap / penilaian yang tidak benar mengenai waktu tidur yang dibutuhkan, menilai secara tidak benar waktu mereka mulai masuk tidur dan berapa lama tertidur lalu terbangun. 1. Insomnia pada orang yang sedang mengalami masalah yang situasional (sementara) 2. Ggn psikiatris (insomnia non-organik): a. Ggn cemas, ggn tidur awal atau pertengahan b. Ggn depresi, (ggn tidur akhir atau campuran) c. Ggn psikotik (skizoprenia) 3. Penyalahgunaan zat dan obat 4. Ggn medis: a. Berbagai penyebab nyeri b. Sesak napas (gagal jantung) c. Infeksi saluran kencing, sering terbangun oleh karena BAK 5. Sleep Apnea (central alveolar hypoventilation) 6. Insomnia primer dapat dialami sejak masa kana-kanak, beberapa pasien punya riwayat keluarga dengan ggn insomnia JENIS (TIPE) INSOMNIA: A. 1. Transien insomnia, bersifat sementara, situasional 2. Persisten insomnia B. 1. Insomnia awal (fase1), cemas 2. Insomnia pertengahan sering terbangun pada cemas, depresi 3. Insomnia akhir, bangun lebih awal spesifik pada depresi GEJALA-GEJALA INSOMNIA: 1. Keluhan spesifik penderita insomnia: merasa tegang, lelah, dan letih 2. Keluhan yang paling banyak adalah sulit mulai tidur kemudian sering terbangun dan bangun lebih awal 3. Merasa tegang cemas atau depresi dan pikirannya melayang-layang 4. Banyak pikiran (masalah pribadi, ggn kesehatan) 5. Pagi hari mengeluh lelah fisik dan mental

IV.

V.

6. Siang hari merasa depresi, cemas dan tegang, mudah tersinggung 7. Pasien preokupasi sejak sore menjelang malam bahwa dirinya nanti tidak akan bisa tidur VI. DIAGNOSIS INSOMNIA: 1. Lakukan evaluasi (tanyakan juga keluarga) mengenai waktu tidur, mulainya, malam ada terbangun, apakah masih bisa tidur lagi, pagi hari bangun pukul berapa, apakah siang hari ada waktu tidurnya, bagaimana dengan fungsinya, apakah terganggu 2. Sebagian besar penderita insomnia mengalami kesulitan untuk mulai tertidur (fase 1), masih dianggap normal kurang dari 30 mnt dan tidur dangkal (fase 2) sering terbangun 3. Kadang pasien mengeluh kurang tidur tetapi sebenarnya tidurnya normal PEDOMAN DIAGNOSTIC (PPDGJ III): A. Keluhan sulit masuk tidur, kualitas tidurnya yang buruk B. Ggn tidur minimal 3x seminggu dalam sebulan C. Preokupasi akan tidak bisa tidur dan akibatnya pada malam / siang sepanjang hari merasa tegang D. Tidak puas tidur kuantitas / kualitas yang menyebabkan ggn fungsi pekerjaan / social Diagnosis insomnia dibuat bila kuantitas / kualitas tidur yang terganggu baik itu oleh karena cemas / depresi atau yang lain asalkan keluhan itu dianggap oleh karena kronisitasnya juga karena keparahannya dirasakan pasien sebagai ggn primer (keluhan utama)

VII. TERAPI INSOMNIA: A. Non-farmakologik: sebaiknya mengutamakan perbaikan hygiene tidur dengan cara: 1. Gunakan tempat tidur yang sama dan nyaman, pakelah temapt tidur hanya untuk tidur dan bukan untuk kegiatan lain (baca, nonton tv) 2. Jangan ketempat tidur bila belum mengantuk, jika 15-30 menit belum bisa tidur tinggalkan tempat tidur 3. Usahakan waktu tidur dan bangun yang teratur / tetap

4. Tidak nonton tv, makan, minum, merokok dekat waktu tidur 5. Latihan relaksasi 6. Boleh coba mandi air hangat pada sore hari atau sebelum tidur 7. Jangan tidur siang, atau berbaring untuk coba tidur sebentar B. Farmakologik: 1. Insomnia oleh karena ggn psikiatrik: a. Obat anti cemas misalnya diazepam 5mg, antifan 5mg, alprazolam 0,250,5mg gunakan hanya kalau perlu, malam atau 2x sehari siang dosis kecil dan malam dosis lebih besar b. Antidepresan dengan efek sedasi kuat, misalnya amitriptilin 25mg, perhatikan efek samping hipotensi dan antikolergik c. Antipsikotik CPZ 12,5-25mg atau melihat kondisi pasien 2. Jangan berikan obat bila insomnia kronis atau sudah sering menggunakan obat tidur (sebaiknya pasien dirujuk)