Anda di halaman 1dari 14

Rijal al-Hadis

HADIS TENTANG DOA, BEKAS AIR WUDHU DAN CAP KENABIAN

Dosen Pembimbing : Andi Rahman, MA

Hasrul
(NPM: 10.31.0264)

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN TAFSIR HADIS TAHUN AKADEMIK 2012-2013

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian

HADIS TENTANG DOA, BEKAS AIR WUDHU DAN CAP KENABIAN

Fakultas Ushuluddin Semester V

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA SELATAN 2012-2013

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian


A. PENDAHULUAN

Puji syukur kehadirat Tuhan semesta alam. Berkat segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita semua masih dapat melakukan beragai macam aktivitas dalam hidup ini. Termasuk usaha kami dalam menyelesaikan makalah sekilas Rijal al-Hadis ini tidak terlepas dari petunjuk dan inayah-Nya. Semoga kita semua senantiasa berada dalam rahmat-Nya dan termasuk orang-orang yang dimuliakan dengan ilmu-ilmu Agama. Juga, slawat dan salam semoga senantiasa kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad Saw, para sahabat, keluarga, dan para pengikutnya sampai di hari kiamat. Pada kesempatan kesempatan kali ini, kami menganalisa sebuah hadis Nabi dalam Tinjauan Rijal al-Hadis untuk lebih memahami dan mengungkap akan proses sampainya hadis-hadis Nabi kepada kita yang sangat sistematis. Uraian ini juga mengarahkan kita untuk lebih mendalami sisi-sisi kehidupan Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Selengkapnya, berikut redaksi matan hadis yang kami analisa dalam kajian ini:


Hadis di atas memuat beberapa hal penting dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Di antaranya, cara nabi dalam mengobati orang yang sakit, tentang doa, hukum bekas air wudhu dan mengenai cap kenabian. Terkait hadis ini, fokus kami ialah untuk menganalisa para perawinya. Walaupun demikian, pada akhir pembahasan, kami juga mencantumkan beberapa penjelasan terkait hadis tersebut.
B. REDAKSI HADIS

Penelusuran

matan

hadis

di atas yang menjadi analisa Rijal al-Hadis dalam

makalah ini bersumber dari Sunan al-Tirmidzi. Redaksi hadis selengkapanya dapat dilihat di bawah ini:

1 .
Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi (Beirut: Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M), cet. I, Bab Kitab al-Manakib hal. 832
1

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian artinya: Qutaibah menceritakan kami dari Hatim bin Ismail dari Jaad bin Abdirrahman berkata Aku mendengar Saib bin Yazid berkata : Bibiku membawaku kepada Nabi Saw, lalu ia berkata Wahai Rasulullah, sesunggunya anak saudara perempuanku ini terkena penyakit di kakinya. Maka Nabi Saw menyapu kepalaku kemudian mendoakan berkah bagiku kemudian Nabi berwudhu dan aku pun minum air wudhu Beliau. Kemudian aku berdiri di belakangnya dan aku pun melihat cap kenabian diantara dua pundaknya, sama seperti Zirrul Hajalah2. (H.R. Tirmidzi)
C. SYAWAHID WA AL-MUTABIAT

Secara detail, hadis lain yang semakna dengan hadis di atas terdapat juga dalam beberapa kitab hadis, diantaranya: 1) Shahih al-Bukhari ()

3 .
Pada penelusuran kami, Imam Bukhari menyebutkan hadis di atas dalam empat tempat dalam kitab Shahihnya. Hadis yang kami cantumkan disini terdapat dalam pembahsan kitab Manakib ( ) dengan tanpa redaksi ( .) Adapun ketiga tempat lainnya terdapat dalam Pembahasan kitab Wudhu ( ,)Kitab tentang Sakit ( )dan kitab doa ( )yang ketiganya disertai dengan redaksi ( .) 2) Shahih Muslim ()

4 .
3) Sunan al-Kubra al-Nasai ()

:
Dalam konteks hadis ini, Zirrul Hajalah ialah seperti telur burung puyuh, pendapat lain mengatakan seperti kancing pada tirai yang dihiasi pada acara pengantin. 3 Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H), Juz 12, Bab Kitab alManaqib, hal. 284 4 Muslim, Shahih Muslim (Kairo: Darr al-Hadis), cet. I, juz. 4, Bab Kitab al-Fadhail, hal. 129
2

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian

5 .
) ( 4) Mujam al-Kabir al-Thabrani

: : : : : 6 " ".
D. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

Dari beberapa syawahid hadis di atas, berikut gambaran umum dari masing-masing :redaksi matannya ) ( 1) Sunan al-Tirmidzi

:) ( 2) Shahih al-Bukhari

.
) ( 3) Shahih Muslim

Al-Nasai, Sunan al-Nasai (Beirut:Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1441 H/1991 M), cet I. Juz IV, Bab 163 .Kitab al-Tibb, hal 6 782 .Al-Thabrani, al-Mujam al-Kabir (Muassasah al-Arabiyah al-Alamiyah, tt), Juz VI, hal

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian 4) Sunan al-Nasai al-Kubra ))

: .
5) Mujam al-Kabir al-Thabrani ()

: : .""
Melihat sekilas beberapa redaksi hadis di atas, tidak ada perbedaan signifikan antar satu riwayat dengan riwayat yang lain. Sisi perbedaan redaksi matannya sekedar perbedaan beberapa huruf yang tidak sampai merubah maknanya. Adapun tumpuan perhatian terhadap matannya terletak pada kata ( .) Seperti dalam kitab Shahih Bukhari pada Kitab Manakib tidak mencantumkan kata tersebut, tetapi menampilaknnya dengan indikasi adanya penfsiran seperti berikut:

.
Ibnu hajar mengomentari terkait hal di atas bahwa seakan-akan ada bagian yang hilang dari kalimat tersebut sebab cukup jauh kemungkinan bila gurunya (Muhammad bin Ubaidillah) hendak menafsirkan kata hajalah tanpa menyebutkan konteks kalimat sebelumnya terkait akan hal itu. Seakan-akan dalam kalimatnya terdapat lafal ( ) dan kemudian beliau pun menafsirkan hajalah. Demikian pula tercantum dalam naskah al Nasafi, yakni ditemukan lafal sisipan antar kalimat ( ) dan (7.)
E. BIOGRAFI SINGKAT PERAWI HADIS DAN PENILAIAN ULAMA

Berdasarkan penelusuran hadis di atas, perawi hadis yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam Tirmidzi dengan komposisi sanad; Saib bin Yazid, Jaad bin Abdirrahman, Hatim bin Ismail dan Qutaibah. Berikut sekilas tentang mereka berupa nama lengkap, tahun kelahiran dan wafat, guru-guru dan murid-murid mereka, pendapat ulama dan para mukharrij yang mengambil hadis dari mereka. Uraiannya sebagai berikut:
7

Ibnu Hajar, Fath al-Bari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), Buku 18, cet. I, hal. 118

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian a) Saib bin Yazid (w. 86 H/91 H/96 H) Nama lengkapnya adalah ( .) : : Seorang sahabat yang dalam usia 7 tahun dibawa kedua orang tuanya melaksanakan haji Wada bersama Nabi Muhammad Saw. Mengenai tahun wafatnya terdapat ikhtilaf, Waqidy menyebutkan bahwa ia wafat tahun 91 H, pendapat lain berpendapat 86 H. 8 Adapun menurut sebagian ulama menyebutkan Saib bin Yazid wafat pada tahun 96 H dan inilah yang kami pilih. Alasan kami mengukuhkan pendapat ini (96 H) berdasarkan data-data sejarah serta hadis Nabi sebagai berikut:

: 9 ) (
Hadis lain menyebutkan:
10

. :
Dari keterangan hadis di atas, maka dapat diketahui bahwa Saib bin Yazid hidup

lebih dari 94 tahun berdasarkan keterangan Jaad bin Abdirrahman. Pada hadis kedua, diketahui bahwa Saib bin Yazid ikut dalam haji Wada bersama Rasulullah yang terjadi pada tahun 10 H dan ketika itu ia berusia 7 tahun. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa pada saat Nabi Saw meninggal dunia, Saib bin Yazid berusia 8 tahun. Ini menunjukkan bahwa Saib bin Yazid lahir pada tahun 3 H. berdasarkan keterangan ini dan pernyataan dari Jaad bin Abdirrahman ketika melihatnya pada usia 94 tahun, ketika itu tahun 96 atau 97 H. Oleh karena itu, menurut kami wafatnya Saib bin Yazid lebih tepat pada tahun 96 H. Ajaj Khatib menyebutkan bahwa Saib bin Yazid termasuk Sahabat yang terakhir wafat di Madinah. Ibunya ialah Ulbah binti Syuraih, saudara perempaun Makhramah bin Syuraih.11 Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Ulama telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil dan ini mendapat legitimasi dari banyak dalil, baik al-Quran maupun Hadis.12
Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 3, hal. 105 Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H), Juz 12, Bab Kitab alManaqib, hal. 282 10 Al-Baqwi, Syarh al-Sunnah (Beirut: Maktabah al-Islamy, 1403 H/1983 M), juz. 7, hal. 22 11 Ibnu Hajar, Fath al-Bari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), cet. I, hal. 118 12 M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hal. 390
9 8

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian Adapun guru-guru dan murid Saib bin Yazid dapat dilihat pada tabel berikut:13 No 1 2 4 Guru Murid

b) Jaad bin Abdirrahman (w. 114 H di Madinah) Nama lengkapnya ( .) Beliau termasuk Thabaqah ke-4 ( ) dan wafat pada tahun 114 H.14 Berikut pendapat para ulama terhadap Jaad atau Juaid bin Abdirrahman:15 No 1 2 3 4 Kritikus Yahya bin Main Al-Nasai Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:16 No 1 2 3 Guru Murid

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: al-Bukhari; Muslim; Abu Daud; al-Tirmidzi; dan al-Nasai. c) Hatim bin Ismail (w. 186 H/187 H) Nama lengkapnya ( .)Beliau termasuk Thabaqah ke-8 ( ) dan wafat tahun 186 H/ 187 Hdi Madinah.17 Berikut pendapat para ulama terhadap Hatim bin Ismail: No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Muhammad bi Said Al-Nasai
13

Jarh -

Tadil

Keterangan -

Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib (Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H/1993 M), juz. 2,

hal. 263

14 15

Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 1, hal. 452 Ibid, hal. 452 16 Ibid, hal. 452 17 Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib (Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H), juz. 2, hal. 110

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:18 No 1 2 3 Guru Murid

Nubaih bin Wahab merupakan rawi jamaah dari Imam hadis yang enam. d) Qutaibah bin Said (w. 240 H) Nama lengkapnya adalah Qutaibah bin Said Jamil bin Tharif al-Sakafy. Ia juga memiliki nama lakab Abu Raja al-Balhy al-Baglany dan namanya juga biasa dipanggil Yahya. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-10 ( ) yang lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 240 H. Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.19 Berikut pendapat para ulama terhadap Qutaibah bin Said: No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Yahya bin Main Ibnu Harasy Jarh Tadil Keterangan -

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 20 No 1 2 3 Guru Murid

e) Al-Tirmidzi (w. 279 H) Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyur. Beliau tergolong dalam thabaqah ke-12 ( ) yang lahir pada tahun 210 H di kota Tirmiz, Iran.21 Abu Isa al-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya dan tidak diragukan lagi akan kredibilitasnya.
Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M), Jilid 2, hal. 6 Al-Zahabi, Sirah Ialamu an-NublaI (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 111, Hal. 15-17 20 Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal, Jilid 6, hal. 106 21 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153
19 18

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian


F. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran di atas dapat dibuat skema sanadnya sebagai berikut:

MUKHARRIJ HADIS Tirmidzi Nasai Thbarani Muslim Bukhari

G. ANALISA KETERSAMBUNGAN SANAD

Ketersambungan sanad hadis di atas, dapat dillihat dengan beberapa pendekatan dibawah ini: a) Pendekatan Redaksi Periwayatan Hadis yang kami teliti ialah hadis riwayat al-Tirmidzi yang dapat diamati redaksi periwayatannya pada haikal di atas dan dapat digambarkan seperti berikut:
Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

10

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian

) (

Menyaksikan Langsung

b) Pendekatan Tahun Tahun Lahir/Wafat Wafat 96 H 114 H 186/187 H 240 H 210 H

Ket.

Lahir 3H 150 H 279 H

Dari tabel di atas, menurut analisa kami sangat besar kemungkinan saling bertemunya antara satu rawi dengan rawi lainnya walaupun terdapat dua rawi yang tidak diketahui kelahirannya. Pertimbangannya adalah pada sisi tahun wafatnya yang relatif masih standar untuk ukuran antara guru dan murid. c) Pendekatan Hubungan Guru dan murid Pada pendekatan ini, kami tidak merincinya sebab telah kami sebutkan di atas. Dari data menunjukkan bahwa semua perawi ada hubungan akademis antara satu rawi dan rawi lainnya dalam kedudukan sebagai guru dan murid. Kami hanya menyebutkan tiga pendekatan di atas dalam menganalisa ketersambungan sanad hadis ini. Kesimpulannya berdasarkan keterangan di atas bahwa hadis ini muttashil.

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

11

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian


H. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Menganalisa berbagai rawi yang telah diuraikan di atas, semuanya memenuhi standar seorang rawi dan dapat diterima hadisnya. Adapun keterangan dalam hadis di atas mengenai fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Yazid ketika itu masih kecil, maka menurut kami ini tidaklah menjadi penghalang keotentikan hadis di atas. Mayoritas ahli ilmu cenderung memperbolehkan kegiatan mendengar yang dilakukan oleh anak kecil, yakni anak yang belum mencapai usia taklif. Namun, ada juga sebagian ulama yang tidak memperbolehkannya. Adapun menurut kami, dalam hal tahammul maka hal tersebut tidak menjadi masalah, adapun dalam hal ada maka harus memenuhi beberapa syarat, yaitu Islam, syarat baligh (dibawah usia taklif tidak diterima), adil dan dhabt. Adapun ketika menerima, cukup bagi seseorang hanya dengan memiliki sifat tamyis.22 Pertimbangan lain bahwa dalam bidang hadis, para sahabat dan tabiin memiliki semangat ilmiah yang sangat tinggi dalam menyeleksi hadis-hadis yang pernah disampaikan oleh Rasulullah. Sejarah mencatat banyak informasi keteguhan para penuntut hadis dengan semangat yang tiada taranya karena motivasi internal dan kecenderungan pribadinya. Ketika itu juga, setiap sahabat yang menyampaikan suatu berita diminta kesaksiannya demi mengetahui bahwa itu benar-benar bersumber dari Rasulullah. Dalam hubungan ini dengan periwayatan Saib bin Yazid, maka mustahil ia melakukan suatu kebohongan dalam meriwayatkan hadis pada kondisi lingkungan ketika itu. Pada sisi lain, semua sahabat adalah adil dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang dapat menodai keislaman mereka.
I. HUKUM SANAD HADIS

Kesimpulan akhir yang dapat dipetik terkait sanad hadis ini ialah sanadnya shahih. Riwayat Saib bin Yazid di atas walaupun ketika itu masih kecil tidak menjadi penghalang dalam periwayatannya. Pada kasus lain, banyak sahabat, tabiin dan ahli ilmu yang menerima riwayat sahabat yang masih berusia Mahmud bin Rabi dan lain-lain dan sesudah baligh.23 anak-anak, seperti Hasan, Husain, Abbas, Abu Said al-Khudry,

Abdullah bin al-Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin

tanpa memilah riwayat yang mereka terima sebelum

M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hal. 201-202 23 Ibid, hal. 201

22

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

12

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian


J. FIQHUL HADIS

Setelah menguraikan secara rinci dari uraian

sanad di atas, berikut ulasan

mengenai matan hadis ini. Ada beberapa informasi penting yang terkandung dalam hadis ini, yaitu: Kata ( )sama dengan kata ( ,)baik dari segi pola kata maupun maknanya yang menunjukkan arti menderita sakit pada kaki; Hadis di atas merupakan bantahan terhadap pendapat yang mengatakan najisnya air mustamal, yaitu pendapat Abu Yusuf. Air najis tidak dapat dipakai untuk mendapatkan berkah, sementara hadis di atas memberitakan bahwa Nabi Saw menyemprotkan air dari mulutnya ke muka Saib bin Yazid. Ibnu Mundzir berkata, dalam ijma ulama disebutkan bahwa bekas air yang tersisa di anggota badan serta tetesan-tetesan air yang jatuh dan mengenai pakiannya, maka hukumnya adalah suci.24 Perkataan Ibnu Mundzir ini menjadi dalil sangat kuat tentang sucinya air mustamal, hanya saja tidak mengsucikan; Kata ( ) menunjukkan salah satu cara pengobatan yang ditempu oleh Rasulullah, yaitu dengan mengusapkan tangannya pada bagian badan yang sakit ataupun pada tempat lainnya tergantung hubungan kerja saraf pada organ tubuh. Syarif Rahmat dalam buletin Qum menyebutkan bahwa pengobatan seperti ini tak ubahnya seperti mengoleskan balsem atau minyak angin.25 Adapun maksud bahwa cap Kenabian itu ( ) terdiri dari beberapa pendapat: 1. Al-Tirmidzi menegaskan bahwa yang dimaksud ( ) adalah sejenis burung terkenal dan yang dimaksud dengan ( )adalah telurnya. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat bahwa cap kenabian sama seperti telur merpati; 2. Menurut al-Zuhaili, bahwa maksud kata ( )di tempat ini adalah tirai yang digantung di tempat tidur lalu dihiasi untuk penagntin. Maka kata ( )dipahami dalam makna yang sebenarnya (kancing); 3. Sebagian yang lain menggunakan kata ( )dengan arti bulu putih di wajah kuda dalam konteks majas. Ini seakan-akan yang dimaksud adalah ukuran besar kancing karena warna putih di muka kuda tidak ada sangkut pautnya dengan dengan kancing. Terkait hal ini, kami lebih cenderung memilih pendapat yang menyebutkan seperti telur burung puyuh karena hadis lain menayatakan seperti telur merpati.
24 25

Ibnu Hajar, Fath al-Bari (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), Buku 2, cet. I, hal. 201-202 Syarif Rahmat, Qum (No.600 tgl 30 Muharram 1433 H/14 Desember 2012), hal. 3

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

13

Hadis tentang Doa, Bekas Air Wudhu dan Cap Kenabian

Daftar Pustaka

Al-Baqwi, Syarh al-Sunnah, Beirut: Maktabah al-Islamy, 1403 H/1983 M Al-Mizzi, Tahzib al-Kamal, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1418 H/1998 M Al-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai, Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M, Cet. III Al-Asqalany, Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Jakarta: Pustaka Azzam, 2006, cet. I Al-Asqalany, Ibnu Hajar, Tahzib al-Tahzib, Beirut: Darr al-Ihya al-Araby al-Turats, 1413 H/1993 M Al-Suyuty, Thabaqah al-Huffash. (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I, Hal 19 Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Riyadh: Maktabah al-Nahdah, 1404 H Al-Khatib, M. Ajaj, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad. M. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007 Muslim, Shahih Muslim, Kairo: Darr al-Hadis, tt, cet. I Al-NasaI, Sunan al-Kubra an-Nasai. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M Rahmat, Syarif, Qum Argumen dan Eksprimen, No.600 tgl 30 Muharram 1433 H/14 Desember 2012 Al-Thabrani, Mujam al-Kabir, Muassasah al-Arabiyah al-Alamiyah, tt Al-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Cet I

Oleh : Hasrul (10 . 31 . 0264) | RIJAL AL-HADIS

14