Anda di halaman 1dari 7

TUGAS STUDY TOUR MIM KAMULAN

NAMA : MOH. IZKI ZULFIKRI

SEJARAH CANDI BOROBUDUR


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km disebelah barat daya Semarang, 86 km disebelah barat Surakarta, dan 40 km disebelah barat laut Yogyakarta. Tidak diketemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya. Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemarahan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabisjkan waktu 75-100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825 M. terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kalai itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Syailendra diketahui penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itulah dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hamper bersamaan dengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, 25 tahun lebih wal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar 850 M. Pembangunan candi-candi Buddha termasuk Borobudur saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada Sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, gahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangka kerajaan pada masa itu. Wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa, yang kemudian mangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di [erbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Syailendra juga ikut terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

TAHAPAN PEMBANGUNAN BOROBUDUR


1. Tahap Pertama Masa pembanguan Borobudur tidak diketahui secara pasti (diperkirakan kurun waktu 750 dan 850 M. Borobudur dibangun atas built alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang mebungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak. 2. Tahap Kedua Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa yang sangat besar. 3. Tahap Ketiga Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stup tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujung sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsir dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor mka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu. 4. Tahap Keempat Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.

Tingkatan pada bangunan candi Borobudur melambangkan 3 tingkatan filosofi ajaran Buddha yakni :

1. Kamadhatu (ranah hawa nafsu), yaitu dunia yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, bagian ini diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Disini terdapat 160 relief cerita Karmawibhangga namun saait ini tersembunyi karena tertutup struktur. 2. Rupadhatu (ranah berwujud), yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Bagian ini terdiri dari empat lorong dengan 1300 gambar relief dengan panjang seluruhnya 2.5 km. 3. Arupadhatu (ranah tak berwujud), yaitu dimana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Denah lantai berbentuk lingkaran. Patung-patung Buddha ditempatkan didalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Tingkatan tertinggi ini dilambangkan dengan stupa yang terbesar dan tertinggi, stupa polos tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan arca Buddha belum selesai (unfinished Buddha), yang semula disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam pembuatannya tidak boleh dirusak.

SEJARAH BERDIRINYA MUSEUM DIRGANTARA


Museum berdiri pada tanggal 4 april 1969 tepatnya di Jl. Tanah Abang Bukit Jakarta Pusat di bawah markas komando wilayah udara 5. Diresmikan oleh Bapak Laksmana Rusmin Nuryadin. Pada waktu itu juga sudah berdiri Museum Pendidikan AKABRI bagian Udara yang ada di Jogjakarta. Karena ada dua museum, maka museum dijadikan satu pada tahun 1977. Museum yang ada di di Jakarta dipindahkan ke Jogjakarta. Dan diresmikan pada tanggal 29 Juli 1978. Dengan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya koleksi khususnya pesawat terbang, maka museum sudah tidak muat lagi dan akhirnya pimpinan AU menunjuk gedung bekas pabrik gula di wonocatur untuk di renovasi dijadikan musem. Dan pada tanggal 29 Juli 1984 diresmikan Museum pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.

4 PAHLAWAN NASIONAL AU
1. Bpk. Agustinus Adi Sucipto, Orang pertama yang menerbangkan pesawat Cureng beridentitaskan bendera merah putih. Beliau pendiri sekolah penerbangan AU. Gugur pada waktu dari luar negeri pulang ke Indonesia pesawatnya ditembak oleh Belanda. Namanya di abadikan menjadi pangkalan udara di Jogjakarta. 2. Bpk Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, mampu menerbangkan semua pesawat peninggalan penjajah. Salah satu perintis berdirinya RRI, beliau gugur bersama Bpk. Agustinus. Namanya diabadikan menjadi pangkalan udara JAwa Timur. 3. Bpk Abdul Halim Perdanakusumah, Pernah menjadi perwira koprasi yang merencanakan pengeboman di tiga markas yang ada di toga kota yaitu Semarang, Salatiga, dan di Ambarawa, gugur pada waktu tugas mengambil dua pesawat di luar negeri, namanya kini diabadikan menjadi pangkalan udara di Jakarta. 4. Bpk. Iswahyudi, Instruktor di sekolah penerbangan di AURI. Mengembangkan pangkalan udara di Bukit Tinggi Sumatera, gugur bersama Bpk Abdul Halim Perdanakusumah. Namanya diabadikan sebagai pangkalan udara di Madiun, Jawa Timur.

BENDA BENDA YANG ADA DI MUSEUM DIRGANTARA


1. Pesawat WEL-I RI-X Negara Asal : INDONESIA Uji Penerbangan : 1948 2. Pesawat HELICOPTER NBO-105 Tahun Pembuatan : 1976 3. Pesawat CN-235 Tahun pembuatan : 1961 4. Pesawat CENTRIFUGE Tahun Penyerahan : 1950 5. Pesawat MICROSCOPE Tahun Penyerahan : 1950 6. Pesawat P-51 Mustang Negara Asal : Amerika Serikat 7. Pesawat BT-13 Valiant Tahun Pembuatan : 1940 8. Pesawat AT-16 Harvard Negara Asal : Amerika Serikat 9. Pesawat North American B-25 Mitchel Tahun pembuatan : 1941 Negara Asal : Amerika Serikat 10. Pesawat Peluru Kendali Negara Asal : Uni Sovyet

INTRODUCTION
Siswa Mr. Siswa Mr. Siswa Siswa Mr. Siswa Mr. Siswa Mr. Siswa Mr. : Hallo Mr. How do you do ? : Hallohow do you do to. : What is your name ? : My name is LINE. : Iam IZKI. : Where are you from ? : Iam from Belgia. : Can you speak Indonesian ? : Yes, I can. : Excuse me, would you like to take a photo with me ? : Yes, Ok. : Thank you Mr. Line. Nice to meet you. Good bye. : Ok, thank you. Good bye.