Anda di halaman 1dari 15

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah

pulaunya yang menjapai 17.508 pulau dengan luas lautnya sekitar 3,1 juta km2 Wilayah lautan yang luas tersebut menjadikan Indonesia mempunyai kekayaan dan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Terumbu karang merupakan ekosistem khas daerah tropis dengan pusat penyebaran di wilayah Indo-Pasifik. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia (Walters, 1994 dalam Suharsono, 1998). Terumbu karang terdiri dari dua kata, yaitu terumbu dan karang. Terumbu adalah endapan zat kapur hasil metabolisme dari ribuan hewan karang. Jadi, dalam seonggok batuan terumbu itu, terdapat ribuan hewan karang yang hidup di dalam celah kecil yang disebut polip. Hewan karang ini bentuknya renik dan melakukan kegiatan pemangsaan terhadap berbagai mikro organisme lainnya yang melayang pada malam hari. Terumbu karang bertumbuh dan berkembang sangat lambat. Sebagian besar karang hanya hidup di iklim tropis. Hewan-hewan yang karang ini bersimbiosis dengan alga Zooxanthellae. Alga ini memberikan nuansa warna terhadap karang (Madduppa, 2008). Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan berpuluhpuluh jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun dan biota lainnya (Dahuri, 2000).. Dengan mempertimbangkan bagian rantai ekosistem yang hilang dapat ditentukan langkah dan teknologi rehabilitasi terumbu karang ( Wagiyo dan Radiarta, 1997 ). Untuk memperbaiki terumbu karang alami sebagai tempat tinggal organisme laut, salah satu teknik yang telah banyak di kembangkan di

dunia adalah teknik terumbu buatan ( artificial reef ). Di Indonesia upaya pelestarian dan pemulihan terumbu karang melalui pembuatan terumbu karang buatan ( artificial reef ) dari berbagai bahan seperti rangka beton, ban bekas, dan becak bekas. Namun, bahan-bahan tersebut sudah tidak lagi di jadikan bahan pembuatan terumbu buatan karena dalam jangka panjangnya akan mencemari lingkungan perairan. Salah satu alternatif bahan untuk terumbu buatan adalah dari batu kapur atau limestone yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) yang tinggi dan mempunyai sifat masif.. Trumbu buatan sebagai suatu struktur di dasar laut yang di bangun untuk menyediakan lingkungan, habitat, sumber makanan, tempat pemijahan dan asuhan, serta perlindungan pantai sebagaimana terumbu karang alami. 1.2.Rumusan Masalah 1. Apa fungsi dan jenis jenis terumbu karang di perairan Indonesia? 2. Apa pengaruh kerusakan terumbu karang terhadap ekosistem di perairan Indonesia? 3. Bagaimana cara memperbaiki dan memulihkan terumbu karang yang sudah rusak? 1.3.Tujuan 1. Mengetahui fungsi dan jenis jenis terumbu karang di perairan Indonesia 2. Mengetahui pengaruh perairan Indonesia 3. Mengetahui cara memperbaiki dan memulihkan terumbu karang yang sudah rusak 1.4.Manfaat 1) Bagi Mahasiswa 1) Sebagai salah satu pengetahuan tentang kerusakan terumbu karang terhadap ekosistem di perairan Indonesia 2) Dapat dijadikan acuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kerusakan Terumbu Karang baik akibat faktor alami maupun yang diakibatkan oleh manusia dengan melakukan penelitian penelitian baru untuk memperbaiki dan pemulihan Terumbu karang. kerusakan terumbu karang terhadap ekosistem di

3) Menarik minat mahasiswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan perairan, khususnya terhadap kelestarian terumbu karang. 2) Bagi Masyarakat Umum 1) Dapat memberi pengetahuan tentang pentingnya terumbu karang dalam ekosistem perairan. 2) Dapat memberi informasi kepada masyarakat untuk tetap menjaga dan melaestarikan Terumbu karang sebagai tempat hidup biota laut, pemecah ombak dan melindungi pantai dari sapuan ombak. 3) Memberi pengetahuan kepada masyarakat umum untuk

menggunakan Terumbu Karang secara bijaksana. 3) Bagi Pemerintah 1) Dapat memberikan salah satu solusi untuk mengatasi kerusakan terumbu karang di Indonesia agar bisa mengembalikan ekosistem ke kaeadaan seharusnya agar terjadi suatu keseimbangan. 2) Mengingatkan pemerintah untuk lebih menegakkan hukum yang berlaku bagi para perusak terumbu karang agar kerusakan tidak bertambah parah yang diakibatkan oleh tangan tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terumbu Karang Di Indonesia 2.1.1. Terumbu Karang Di Indonesia Dan Penyebaranya Binatang karang adalah pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Binatang karang yang berukuran sangat kecil, disebut polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang lunak). Dalam peristilahan terumbu karang, karang yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu, sedangkan Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya,karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Jadi Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya didominasi berbagai jenis hewan karang keras. (Guilcher, 1988).
Terumbu karang (Coral Reef) adalah ekosistem khas daerah tropis dengan pusat penyebaran di wilayah Indo-Pasifik. Terbatasnya penyebaran terumbu karang di perairan tropis dan secara melintang terbentang dari wilayah selatan Jepang sampai utara Australia dikontrol oleh faktor suhu dan sirkulasi permukaan (surface circulation). Penyebaran terumbu karang secara membujur sangat dipengaruhi oleh konektivitas antar daratan yang menjadi stepping stones melintasi samudera. Kombinasi antara faktor lingkungan fisik (suhu dan sirkulasi permukaan) dengan banyaknya jumlah stepping stones yang terdapat di wilayah Indo-Pasifik diperkirakan menjadi faktor yang

sangat mendukung luasnya pemencaran terumbu karang dan tingginya keanekaragaman hayati biota terumbu karang di wilayah tersebut (Anonim, 2008). Terumbu karang di Indonesia ditemui sangat berlimpah di wilayah kepulauan bagian timur (meliputi Bali, Flores, Banda dan Sulawesi). Namun juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Indonesia menopang tipe terumbu karang yang bervariasi (terumbu karang tepi, penghalang dan atol). Namun tipe terumbu karang yang dominan di Indonesia ialah terumbu karang tepi. Terumbu karang tepi ini dapat dijumpai sepanjang pesisir Sulawesi, Maluku, Barat dan Utara Papua, Madura, Bali, dan sejumlah pulau-pulau kecil di luar pesisir Barat dan Timur Sumatera. Tipe Patch Reefs (terumbu karang yang mengumpul) paling baik terbentuk di wilayah Kepulauan Seribu, sedangkan terumbu karang penghalang paling baik terbentuk di sepanjang tepi Paparan Sunda, bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah). Terdapat pula beberapa atol, contohnya Taka Bone Rate di Laut Flores merupakan atol terbesar ketiga di dunia. Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Total terumbu karang Indonesia yang mencapai 85.200 km2, terluas ke dua di dunia setelah Great Barrier Reef itu tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen, dan sangat baik hanya enam persen (Iwan, 2009). Daerah Asia-Mediterania yaitu laut di dalam dan di sekitar kepulauan Indonesia dari bagian utara Australia sampai bagian selatan China memilki daerah terumbu karang yang luas, yaitu sekitar 182.000 km2 yang merupakn 30% dari total daerah terumbu karang di dunia. Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia di kenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memilki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk ke dalam 75 marga (Wells (1986) dalam Kunarso 2008).

2.1.2. Jenis Jenis Terumbu Karang Di Indonesia 2.1.2.1. Tipe- Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Jenisnya Ada dua jenis terumbu karang yaitu 1. Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat

sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. 2. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll 2.1.2.2.Tipe- Tipe Terumbu Karang Berdasarkan Bentuknya Terumbu karang umunya dikelompokkan ke dalam empat bentuk, yaitu : 1. Terumbu karang tepi (fringing reefs) Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar.

Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali). 1. Terumbu karang penghalang (barrier reefs) Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang

membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau),

Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah). 2. Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulaupulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. 3. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs) Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu. 2.1.2.3.Beberapa Spesies Terumbu Karang di Indonesia dan Klasifikasinya 1. Acropora cervicornis Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Cnidaria : Anthozoa : Scleractinia : Acroporidae : Acropora : Acropora cervicornis

2. Acropora acuminata Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Cnidaria : Anthozoa : Scleractinia : Acroporidae : Acropora : Acropora acuminata

3. Acropora micropthalma

Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies

: Animalia : Cnidaria : Anthozoa : Scleractinia : Acroporidae : Acropora : Acropora micropthalma

4. Acropora millepora Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies 5. Acropora palmate Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Cnidaria : Anthozoa : Scleractinia : Acroporidae : Acropora : Acropora palmate : Animalia : Cnidaria : Anthozoa : Scleractinia : Acroporidae : Acropora : Acropora millepora

2.1.3. Fungsi Terumbu Karang Di Indonesia


Di samping peranannya yang penting, ekosistem terumbu karang Indonesia dipercaya sedang mengalami tekanan berat dari kegiatan

penangkapan ikan dengan mempergunakan racun dan bahan peledak. Struktur yang begitu kokoh dari terumbu berfungsi sebagai pelindung sempadan pantai, dan ekosistem pesisir lain (padang lamun dan hutan mangrove) dari terjangan

arus kuat dan gelombang besar. Struktur terumbu yang mulai terbentuk sejak ratusan juta tahun yang lalu juga merupakan rekaman alami dari variasi iklim dan lingkungan di masa silam, sehingga penting bagi penelitian paleoekologi (Anonim, 2009).

Menurut

(Wibisono,

2005)

adapunfungsiterumbukarangantara lain sebagaiberikut: 1. Sebagaitempatberteduh dantempatmencarimakanbagisebagian biotaLaut. 2. Sebagaipenahanerosipantaikarenadeburanombak 3. sebagaicadangansumberdayaalam (Natural Stock) (Sheltor)

untukberbagaijenis biota yang bernilaiekonomipenting. 4. Untukdaerahpemijahan (nursery), (spawning ground), pengasuhan (rearing) yaituberupaikan,

danpembesaran

beberapajenisikanUntukbahanmakanan,

udang-udangan (lobster), octpus, Kerang-kerangan (oyster), rumputlaut, dansebagainya Menurut (Anonimymous, 2008) terddapat fungsi terumbu karang lainnya sebagai berikut: 1. Pelindung ekosistem pantai 2. Objek wisata 3. Daerah Penelitian Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. 4. Mempunyai nilai spiritual Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting, Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual in. 2.2. Pengaruh Kerusakan Terumbu Karang Terhadap Ekosistem Di Perairan Indonesia 2.2.1. Kondisi Terumbu Karang Di Indonesia

Namun sayangnya laporan Reef at Risk (2002) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan status terumbu karang yang paling terancam. Selama 50 tahun terakhir, proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50%. Lebih lanjut, hasil survey P2O LIPI (2006) menyebutkan bahwa hanya 5,23% terumbu karang di Indonesia yang berada di dalam kondisi yang sangat baik.Ancaman utama yang tercatat adalah: pembangunan daerah pesisir, polusi laut, sedimentasi dan pencemaran dari darat, overfishing (penangkapan ikan berlebih), destruktif fishing (penangkapan ikan dengan cara merusak), dan pemutihan karang ( coral bleaching ).

2.2.2. Penyebab Kerusakan Terumbu Karang Di Indonesia


Beberapa faktor rusaknya terumbu karang di Indonesia disebabkan karena aktivitas manusia, di antaranya adalah membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut, penggunaan pupuk dan pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan, boros menggunakan air (semakin banyak air yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya mengalir ke laut), membuang jangkar pada pesisir pantai, penambangan pasir atau bebatuan di laut dan pembangunan pemukiman di pesisir, limbah dan polusi dari aktivitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas pada kehidupan terumbu karang, pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium, menangkap ikan di laut dengan menggunakan bom dan racun sianida, dan selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut seperti siput drupella salah satu predator karang (Juliana, 2011). Selain kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan antropogenik, juga ada yang disebabkan oleh pengaruh alamlainnya, misalnya akibat dari perubahan cuaca global El Nino pada tahun 1987-1988 sehingga terjadi peningkatan suhu air laut rata-rata yang berakibat kematian karang melalui tahap pemutihan (bleaching). Laporan dari BPPT diatas juga menyebutkan bahwa di Kep. Seribu 90-95% terumbu karang yang berada pada kedalaman 25 meter mengalami kematian (Wibisono, 2005). Sumber kedua terbesar yang menyebabkan kematian terumbu, pada tahun-tahun terakhir adalah ledakan populasi bintang laut Acanthaster planci. Sejak1957, ketika mula-mula ditemukannya ledakan populasi, A. Planci menyebabkan bencana kematian terumbu pada banyak tempat di Pasifik Barat. Kemampuan bintang laut dalam merusak daerah yang sangat luas di terumbu sangat dahsyat. Di Guam, Chester (1969) memperkirakan bahwa 90 persen terumbu karang sepanjang 38 km pada garis pantai telah dirusak dalam waktu dua setengah tahun, dan di Great Barrier Reef, Endean

10

(1973) mencatat bagian terbesar dari karang dalam suatu terumbu seluas 8 km2 telah rusak dalam 12 bulan (Nybakken, 1988) ).

2.2.3.

Pengaruh

Kerusakan

Terumbu

Karang

Terhadap

Ekosistem

Di

Perairan Indonesia Rusaknya terumbu karang mengakibatkan sumber rantai makanan juga hilang. Akibatnya, selain nelayan kian sulit menangkap ikan, udang atau biota laut lainnya, pertumbuhan dari biota tersebut juga lambat. Kondisi ini diperarah dengan perburuan ikan yang semakin intensif seiring dengan meningkatnya konsumsi manusia. Itulah sebabnya selain stok perikanan tangkap dunia termasuk Indonesia terus merosot juga ukurannya kian mengecil dari waktu ke waktu. Upaya yang dilakukan untuk melestarikan terumbu karang Cara-cara penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun harus segera dihentikan karena hanya dalam sekejap akan meluluhlantahkan ekosistem terumbu karang. Untuk mengembalikannya lagi ke tingkat semula merupakan satu hal yang cukup sulit. Menurut penelitian dibutuhkan waktu setahun untuk menumbuhkan terumbu karang sepanjang 1 cm 2.2. . Memperbaiki Dan Memulihkan Terumbu Karang Yang sudah Rusak
Konservasi sumberdaya hayati laut merupakan salah satu implementasi pengelolaan ekosistem sumberdaya laut dari keruskan akibat aktivitas manusia. Kawasan konservasi laut mempu nyai peranan penting dalam program

konservasi sumberdaya alam hayati wilayah laut. Walaupun kawasan ini cenderung lebih baru ditetapkan dibandingkan dengan kawasan konservasi di daerah daratan, namun dibutuhkan keahlian tertentu untuk mengidentifikasi, mendirikan dan mengelolanya. Pemanfaatan sumberdaya alam di lingkungan konservasi laut biasanya diatur melalui zona-zona yang telah di tetapkan kegiatan-kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi, penangkapan ikan dan biota laut lain dengan alat yang merusak lingkungan, serta perusakan lingkungannya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik (Supriharyono, 2007). Berdasarkan (Sjamsoeddin, 1997) kebijakan-kebijakan yang dilakukan

pemerintah Indonesia dalam upaya tetap melestarikan terumbu karang sebagai kekayaan nasional antara lain:

11

1. Mengupayakan peraturan perundang-undangan bagi perlindungan terumbu karang, sehingga tidak terjadi kekosongan hukum dalam rangka penegakkan hukum bagi pelestarian dan perlindungan terumbu karang. 2. Mengupayakan usaha-usaha peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat bagi pelestarian terumbu karang. 3. Mengupayakan pelatihan, penelitian, dan pendidikan bagi upaya-upaya konservasi terumbu karang. 4. Mengupayakan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem terumbu karang agar dapat diupayakan pemanfaatannya secara optimal, dan berdaya guna bagi masyarakat. Para pemerhati lingkungan juga melontarkan berbagai gagasan, ide dan saran kepada pengambil kebijakan untuk menjaga kondisi terumbu karang agar dapat

berfungsi dengan baik. Salah satunya ajakan untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Friends of the Reef (FoR) di beberapa lokasi di Asia Pasifik. Misi utama FoR adalah mengasilkan stategi untuk meningkatkan daya tahan dan daya lenting terumbu karang agar mampu menghadapi ancaman pemanasan global. Baru-baru ini, Presiden Republik Indonesia mengadakan pertemuan di Sydney dan telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya yaitu Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiatif ini mendapat kesan positif dari negara- negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan upaya mengurangi kemiskinan. Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan saja melainkan seluruh umat manusia di bumi ini. Dengan menanamkan pendidikan kepada masyarakat luas (terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai) mengenai fenomena ini melalui beberapa media seperti leaflet, booklet dan berbagai media komunikasi cetak lainnya perlu disebarkan ke masyarakat, termasuk melalui media eletronik, radio dan televisi. Kemudian adanya penegakan hukum dan partisipasi pesisir dalam menjaga keutuhan wilayah pesisir yang salah satunya dengan mengawasi dan menjaga aktivitas penambangan liar di daerah pesisir yang harus segera dihentikan (DKP Kab. Oki, 2011).

12

BAB 111 PEMBAHASAN

3.1.. Metode Penelitian

13

BAB 1V PENUTUP

4.1.. Kesimpulan 4.2. Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Perkembangan n Terumbu Karang (Coral Reef).http://www.ubb.ac.id Anonimus.Upaya Penanggulangan Kerusakan Terumbu Karang (http://sangsurya wahana blogspot.com, diakses, 24 April 2012) Dahuri, Rokhim, 1999, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Terumbu Karang, Lokakarya Pengelolaan dan IPTEK Terumbu Karang Indonesia, Jakarta DKP Kab. Oki. 2011. Lestarikan http://www.dkp.kaboki.go.id[7 Desember 2012] Guilcher Andre. 1988. Sons.Chhichester Coral reef Terumbu Karang Indonesia.

Geomorphology.

John

Willey

&

Iwan.

2009. Oseanografi. http://iwangeodrsgurugeografismamuhammadiyah1 tasikmalaya.yolasite.com [7 Desember 2012].

Kunarso. 2008. Terumbu Karang dalam Masalah dan Terancam Bahaya. Staf Pengajar Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang. Maduppa, H. 2008. Terumbu Karang Hewan atau Tumbuhan. http://netsains.com [7 Desember 2012) Nybakken, J. W, 1988. Biologi Laut. PT. Gramedia. Jakarta Sjamsoeddin, S.B.S. 1997. Tinjaun Terhadap Kebijakan dan Strategi Nasional Konservasi Ekosistem Terumbu Karang. http://www.isjd.pdii.lipi.go.i [7 Desember 2012]. Supriharyono. 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogjakarta Hayati di Wilayah

Suharsono, 1998. Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di perairan Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembagan Oseanologi. Proyek penelitian dan Pengembangan daerah Pantai: 116 hlm. Wibisono, M. S, 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta

15