Anda di halaman 1dari 28

Seminar Proposal Tugas Akhir

Disusun Oleh :
RAJIMAN
NIM JURUSAN : 0604101010122 : TEKNIK SIPIL

BIDANG STUDI : TRANSPORTASI

PEMBIMBING : Dr. Ir. M. ISYA, M.T.

Co. PEMBIMBING : FITRIKA MITA SURYANI, ST. MT

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2012

LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

Mengingat jumlah bahan bekas relatif banyak dan belum dilakukan daur ulang maka pada penelitian ini pecahan kaca akan dimanfaatkan untuk campuran beton aspal. Batubara adalah bahan bakar fosil, dimana di indonesia tersedia cadangannya dalam jumlah yang cukup melimpah dan diperkirakan mencapai 38,9 miliar ton.

TUJUAN

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh pengggunaan abu Batubara yang di substitusi 50% pecahan kaca sebagai filler terhadap kekuatan campuran beton aspal. Campuran beton aspal itu sendiri dengan menggunakan aspal pengikat Retona Blend 55 dan aspal Pertamina penetrasi 60/70 dengan menggunakan filler yang sama.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Material Campuran Beraspal Panas Agregat Aspal Agregat Butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral lain, baik yang berasal dari alam maupun buatan yang berbentuk mineral padat berupa ukuran besar maupun kecil atau fragmen-fragmen. (Sukirman, 1999:41). Agregat Kasar Agregat Halus Bahan pengisi (filler)

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gradasi Agregat Bukhari, dkk (2007:18) mendefinisikan gradasi sebagai distribusi partikel-partikel berdasarkan ukuran agregat yang saling mengisi sehingga terjadi suatu ikatan yang saling mengunci (interlocking). Sukirman (2003:7) menyebutkan gradasi agregat menentukan besarnya rongga atau pori yang mungkin terjadi dalam agregat campuran. Agregat campuran yang terdiri dari agregat dengan ukuran yang sama akan berongga atau berpori banyak. Sebaliknya, jika campuran agregat terdistribusi dari agregat berukuran besar sampai kecil secara merata, maka rongga atau pori yang terjadi sedikit. Sukirman (1999:45) menyebutkan bahwa gradasi agregat menentukan stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan. Gradasi agregat dibedakan atas gradasi baik/gradasi rapat (dense graded), gradasi seragam (uniform graded), dan gradasi buruk (poorly graded).

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gradasi Agregat untuk Beton Aspal
Ukuran Ayakan ASTM
3/ 4 1/ " 2

% Berat Yang Lolos

LASTON (AC)
(mm) 19 12,5 9,5 4,75 2,36 Gradasi Kasar 100 90 100 72 90 43 63 28 39,1

3/8 No. 4 No. 8

No. 16
No. 30 No. 50 No. 100 No. 200

1,18
0,600 0,300 0,150 0,075

19 25,6
13 19,1 9 15,5 6 13 4 10

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Aspal
Siswosoebrotho (1999:3) menyebutkan aspal merupakan material termoplastis yaitu melunak dan menjadi cair jika dipanaskan dan kental kembali menjadi padat jika didinginkan.

Sukirman (1999:66) menyatakan bahwa aspal yang digunakan pada konstruksi perkerasan jalan berfungsi sebagai : Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan antara aspal itu sendiri, dan Bahan pengisi, mengisi rongga antar butir-butir agregat dan poripori yang ada dari agregat itu sendiri.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Aspal Pertamina
Persyaratan Aspal Pertamina Pen. 60/70. No 1 2 3 5 Jenis Pengujian Penetrasi 25 C (dmm) Titik Lembek (C) Daktilitas pada 25C (cm) Berat Jenis Metoda Pengujian SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 Syarat *) 60-70 48 100 1,0

Sumber : Anonim 2010:6-37

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Retona Blend 55
Veranita (2010:7) menyebutkan Retona Blend 55 merupakan aspal modifikasi hasil perpaduan atau gabungan antara aspal beton (aspal keras Pen 60 atau Pen 80) dengan fraksi aspal asbuton semi-ekstraksi dengan kadar tertentu (hasil fabrikasi) pada suhu 155 C.
Persyaratan Retona Blend 55.
No 1 3 2 5 Jenis Pengujian Penetrasi 25C (dmm) Titik Lembek (C) Duktilitas pada 25C (cm) Berat Jenis Metoda Pengujian SNI 06-2456-1991 SNI 06-2434-1991 SNI 06-2432-1991 SNI 06-2441-1991 Syarat *) 40-55 55 100 1,0

Sumber : Anonim 2010:6-37

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Filler
Abu Batubara
Abu batubara adalah bagian dari sisa pembakaran batubara yang berbentuk partikel halus amorf dan abu tersebut merupakan bahan anorganik yang terbentuk dari perubahan bahan mineral (mineral matter) karena proses pembakaran.

Kaca
Menurut Austin (1996), kaca adalah zat cair dingin yang tegar dan tidak mempunyai titik cair tertentu serta mempunyai viskositas cukup tinggi (lebih besar dari 10`12 pa.s) sehingga tidak mengalami kristalisasi.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Perencanaan campuran beton aspal
Sukirman (2003) menyatakan bahwa secara keseluruhan tujuan dari perencanaan campuran perkerasan aspal adalah untuk memastikan suatu campuran yang dihasilkan dengan biaya yang murah, mudah dalam pelaksanaan. Stabilitas Kelenturan

Kekesatan /tahanan geser permukaan


Ketahanan terhadap kelelehan Kedap air

Keawetan
Kemudahan dalam proses pelaksanaan

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Prakiraan Kadar Aspal
Dalam rancangan campuran beraspal, dibutuhkan nilai kadar aspal untuk awal perencanaan sebelum kadar aspal optimum didapatkan. Kadar aspal awal atau kadar aspal perkiraan ini merupakan kadar aspal tengah/ideal (Pb%) yang nantinya divariasikan menjadi 5 variasi kadar aspal awal perencanaan, yaitu (Pb-1)%, (Pb-0,5)%, Pb%, (Pb+0,5)%, dan (Pb+1)%. Perkiraan awal kadar aspal dapat dihitung dengan rumus berikut:

Pb = 0,035 (%CA) + 0,045(%FA) + 0,18 (%Filler) + Konstanta


dimana: Pb = kadar aspal perkiraan, persen terhadap berat campuran; CA = persen agregat tertahan saringan No. 8; FA = agregat halus lolos saringan No. 8 dan tertahan No. 200; Filler = agregat minimal 75% lolos saringan No. 200; Nilai konstanta sekitar 0,5 1,0.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Parameter Marshall
Laston Modifikasi Sifat-sifat Campuran Min VIM (%) VMA (%) VFA (%) Stabilitas Marshall (kg) Flow (mm) Marshall quotient (kg/mm) Density (gram/cm3)
Sumber : Anonim, (2010 : 6-24)

Laston min 3,5 15 65 800 3 250 2,5 Maks 5,0 -

maks 5,5 -

3,0 15 65 1000 3 300 2,5

0,5%.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penentuan kadar aspal optimum
Kadar aspal optimum adalah kadar aspal yang menghasilkan sifat campuran terbaik (Sukirman, 2003 : 203).

Kadar aspal optimum adalah nilai tengah dari rentang kadar aspal yang memenuhi semua spesifikasi campuran. Kadar aspal optimum yang baik adalah kadar aspal yang memenuhi semua sifat campuran yang diinginkan dalam rentang kadar aspal optimum 0.5%.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Durabilitas
Durabilitas (keawetan) merupakan kemampuan beton aspal (campuran beraspal padat) menerima repetisi beban lalu lintas, gesekan, serta keausan akibat cuaca dan iklim (Sukirman, 2003:77). Faktor yang mempengaruhi durabilitas dalam campuran beton aspal adalah: Film aspal atau selimut aspal, film aspal yang tebal dapat menghasilkan lapis aspal beton yang berdurabilitas tinggi, tetapi kemungkinan terjadinya bleeding menjadi tinggi; VIM (Voids In Mix) kecil, sehingga lapisan menjadi kedap air dan udara tidak masuk ke dalam campuran yang menyebabkan aspal menjadi rapuh; VMA (Voids in Mineral Aggregate) besar, sehingga film aspal dapat dibuat tebal, jika VMA dan VIM kecil serta kadar aspal tinggi kemungkinan terjadinya bleeding besar.

METODE PENELITIAN
Pemeriksaan Sifat-sifat Fisis Agregat

Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat


Pemeriksaan Berat Isi Agregat (Density) Pemeriksaan Keausan Agregat (Abration)

Pemeriksaan Indeks Kepipihan dan Kelonjongan


Pemeriksaan Tumbukan (Impact) Pemeriksaan Kelekatan Aspal Terhadap Agregat Pemeriksaan Keawetan (Soundness)

METODE PENELITIAN
Pemeriksaan Sifat-sifat Fisis Aspal Pemeriksaan Berat Jenis Aspal

Pemeriksaan Penetrasi Aspal


Pemeriksaan Titik Lembek Pemeriksaan daktilitas

METODE PENELITIAN
Perencanaan Gradasi Campuran Penentuan gradasi campuran sangat diperlukan untuk mendapatkan gradasi agregat campuran untuk beton aspal. Gradasi agregat untuk campuran ini adalah gradasi rapat.
Ukuran Ayakan
ASTM
3/ 4 1/ " 2

(mm) 19 12,5 9,5 4,75 2,36 1,18 0,600 0,300 0,150 0,075

WC 100 90 100 72 90 43 63 28 39,1 19 5,6 13 19,1 9 15,5 6 13 4 10

3/8 No. 4 No.8 No. 16 No. 30 No. 50 No. 100 No. 200 Filler

LASTON (AC) Gradasi Rencana % Berat % Tertahan yang Lolos 100 0 95 5 85 10 50 35 35 15 25 10 18 7 12 6 9 3 5 4


5

Akumulasi

65

30

METODE PENELITIAN
Penentuan Variasi Kadar Aspal

Variasi kadar aspal ditentukan berdasarkan pada kadar aspal awal perkiraan yang merupakan kadar aspal tengah/ideal. Variasi yang digunakan sebanyak 5 variasi kadar aspal yang masing-masing berbeda 0,5%.

METODE PENELITIAN
Perencanaan Campuran dan Pembuatan Benda Uji
Perencanaan campuran beton aspal pada penelitian ini berdasarkan metode Marshall. Rancangan benda uji kadar aspal awal dengan pengujian Marshall seperti ditampilkan pada Tabel berikut.
No. Kode Benda Uji A.1.1 A.1.2 A.1.3 A.2.1 A.2.2 A.2.3 A.3.1 A.3.2 A.3.3 A.4.1 A.4.2 A.4.3 A.5.1 A.5.2 A.5.3 Jumlah 3 Kadar Aspal 4,5% Bahan Pengikat yang digunakan Filler yang digunakan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

5,0% Aspal Retona Blend 55

5,5%

Abu Batubara disubtitusi 50% pecahan kaca

6,0%

6,5%

METODE PENELITIAN
Perencanaan Campuran dan Pembuatan Benda Uji
No. Kode Benda Uji 16 B.1.1 17 B.1.2 18 B.1.3 19 B.2.1 20 B.2.2 21 B.2.3 22 B.3.1 23 B.3.2 24 B.3.3 25 B.4.1 26 B.4.2 27 B.4.3 28 B.5.1 29 B.5.2 30 B.5.3 Jumlah Benda Uji Jumlah 3 Kadar Aspal 4,5% Bahan Pengikat yang digunakan Filler yang digunakan

5,0% Apal Pertamina Pen 60/70 Abu Batubara disubtitusi 50% pecahan kaca

5,5%

6,0%

6,5%

30

METODE PENELITIAN
Pengujian Marshall Pengujian Marshall yang dilakukan terhadap benda uji meliputi: Perhitungan Berat Volume;

Stabilitas;
Flow; Marshall quotient;

Volume antara agregat dalam benda uji (VMA);


Volume pori dalam benda uji (VIM); Volume antara agregat yang terisi oleh aspal (VFA).

METODE PENELITIAN
Penentuan Kadar Aspal Optimum Nilai kadar aspal optimum diperoleh dari evaluasi Parameter Marshall pada campuran masing-masing variasi kadar aspal. Kadar aspal optimum merupakan kadar aspal yang mewakili seluruh parameter Marshall yang memenuhi persyaratan AASHTO atau SNI. Pengujian Durabilitas Prosedur pengujian durabilitas mengikuti rujukan SNI M-581990. Uji perendaman dilakukan pada temperature 601oC selama 24 jam. Rasio antara stabilitas Marshall rendaman dengan stabilitas Marshall benda uji yang direndam selama 30 menit pada suhu yang sama disebut stabilitas sisa. Campuran beraspal dikatagorikan awet (durable) apabila nilai stabilitas sisa 80%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Dari hasil penelitian yang akan disajikan meliputi hasil pengujian sifat-sifat fisis agregat, pengujian sifat-sifat fisis aspal, pengujian aspal untuk perencanaan campuran dan pengujian stabilitas marshall standar pada kadar aspal optimum dengan menggunakan dua jenis bahan pengikat aspal Retona Blend 55 dan aspal pertamina penetrasi 60/70. Pembahasan Pada bagian ini akan dibahas apakah abu batubara yang disubstitusi 50% pecahan kaca sebagai filler dengan Retona Blend 55 sebagai bahan pengikat dapat menghasilkan beton aspal dengan mutu yang baik. Bagaimana perbandingannya dengan beton aspal yang menggunakan aspal Pertamina penetrasi 60/70 sebagai bahan pengikat dengan menggunakan filler yang sama

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ahmed, I, 1993, Use of Waste Material In Highway Construction, Noyes Data Corporations, New Jersey.

Anonim, 2005, Modul Spesifikasi Perkerasan Aspal, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
Anonim, 2008, Buku Petunjuk Praktis Penggunaan Aspal Retona Blend 55 Dalam Campuran Beraspal Panas, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen PU, Jakarta. Anonim, 2009, Buku Panduan Penulisan Skripsi Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Anonim, 2010, Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Puslitbang Direktorat Bina Marga Kementerian PU, Bandung.

Austin G.T, 1996 ,Industri Proses Kimia, Terjemahan E.Jasjfi, Erlangga, Jakarta.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Bukhari dkk, 2007, Rekayasa Bahan dan Tebal Perkerasan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Siswosoebrotho, B. I., 1999, Bahan Perkerasan Jalan, ITB, Bandung. Sukirman, S, 1999, Perkerasan Lentur Jalan Raya, Penerbit Nova, Bandung. Sukirman, S, 2003, Beton Aspal Campuran Panas, Penerbit Granit, Bandung. Triadmodjo, B, 2002, Metode Numerik, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Veranita, 2010, Karakteristik Campuran Beton Aspal Porus Menggunakan Dua Metode Penentuan Kadar Aspal, Tesis, Program Magister Teknik Sipil Unsyiah, Banda Aceh.

Wignal, A, dkk, 1999, Proyek Jalan Teori dan Praktek, Erlangga, Jakarta.
Yuni, F, 2009, Tinjauan Penggunaan Material Bahan Bekas untuk Konstruksi Jalan Raya, Tugas Akhir, Program Ekstensi Fakultas Teknik Unsyiah, Banda Aceh.

TERIMA KASIH

BANDA ACEH, ...... Mei 2012