Anda di halaman 1dari 7

BEBAN D GARIS ( KEL )

BESARNYA BEBAN D GARIS ADALAH SEBESAR :

GRAFIK FAKTOR DYNAMIC LOAD ALLOWANCE (DLA) 50 40 30 20


DLA ( % )

p = 44 kN/m
- Beban KEL dapat dijumlahkan dengan Beban UDL - Beban KEL harus dikalikan dengan Faktor Dynamic Load Allowance (DIA)
p

10 0

p 5.5 m b

Berjalan

10

20 30

40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 BENTANG

POSISI BEBAN UDL DAN KEL


Posisi Beban pada saat menghitung kekuatan gelagar memikul momen

POSISI BEBAN UDL DAN KEL


Posisi Beban pada saat menghitung kekuatan gelagar memikul beban geser

q 1m 5.5 m b (b-5.5) m

q
GAYA GARIS MAX

q
5.5 m b
(b 5.5 ) m

CARA MELETAKKAN BEBAN UDL DAN KEL SEPANJANG JEMBATAN


Pada arah memanjang jembatan, cara meletakkan beban UDL dan KEL harus diatur sedemikian rupa sehingga mendapatkan reaksi yang maksimum
UDL KEL

BEBAN TRUK T TERPUSAT


T TERPUSAT
T TERPUSAT

49m 100 kN 500 mm 100 kN

5m 25 kN

0.5 m 1.75 m 0.5 m

500 mm 100 kN

KEL UDL KEL


100 kN 500 mm 25 kN 500 mm 200 mm 200 mm

125 mm

DLA UNTUK BEBAN T ADALAH 0.3

125 mm

UDL

200 mm

104

MK.STRUKTUR BAJA II

BEBAN REM
600 500
GAYA REM (kN)

FAKTOR BEBAN T (Transient)

KTT
1.0

KTT
2.0

400 300 200


10 20 40

FAKTOR BEBAN REM (Transient)

KTB
1.0
60 80 100 120 140 BENTANG (m)

KTB
2.0
180 200 220

160

100

GAYA SENTRIFUGAL TTR = 0.006 (V2/r ) TT


TTR = Gaya Sentrifugal yang bekerja pada bagian jembatan TT = Pembebanan Lalu lintas total yang bekerja pada bagian yang sama V = Kecepatan Lalu lintas rencana (km/jam) R = Jari jari lengkungan (m)

PEMBEBANAN UNTUK PEJALAN KAKI


6 5 4 3 2
kPa
Beban Pejalan Kaki yang berdiri sendiri dengan bangunan atas jembatan

FAKTOR BEBAN GAYA SENTRIFUGAL (Transient)

KTR
1.0

KTR
2.0

1 0 20
30 40

Beban Pejalan Kaki yang dipasang pada bangunan atas jembatan 50 60 70 80 90 100 110 120

10

Luas yang dibebani (m2 )

PEMBEBANAN UNTUK PEJALAN KAKI


Semua elemen dari trotoar atau Jembatan Penyebrangan yang langsung memikul pejalan kaki harus direncanakan memikul beban sebesar 5 kPa Jembatan Pejalan kaki atau trotoar pada Jembatan Jalan Raya harus direncanakan berdasarkan luas yang dibebani
FAKTOR BEBAN UNTUK PEJALAN KAKI (Transient)
S

BEBAN TUMBUKAN PADA PENYANGGA JEMBATAN


Pada PILAR jembatan Jalan Raya harus diperhitungkan Beban tumbukan sebesar 100 kN yang bekerja Membentuk sudut 10o dengan sumbu jalan Untuk tumbukan dengan KA atau Kapal, dapat diperhitungkan menurut peraturan/ketentuan dari Instansi yang bersangkutan
FAKTOR BEBAN TUMBUKAN PADA PILAR (Transient)

KTP

KTP
2.0

1.0

DALAM MERENCANAKAN AKSI LINGKUNGAN

KTC KTC 1.0 1.0 AKIBAT PENURUNAN

1. AKIBAT TERJADINYA PENURUNAN 2. PERUBAHAN TEMPERATUR 3. ALIRAN AIR DAN BENDA HANYUTAN 4. TEKANAN HIDROSTATIS DAN GAYA APUNG 5. BEBAN ANGIN 6. BEBAN GEMPA

BALOK JEMBATAN, HARUS MEMPERHITUNGKAN KEMUNGKINAN TERJADINYA PENURUNAN ATAU PERBEDAAN PENURUNAN PADA PONDASI PONDASI JEMBATAN KHUSUSNYA PADA JEMBATAN JEMBATAN MENERUS YANG MENYATU ATAU YANG TIDAK MENYATU DENGAN PILAR

PENGARUH TEMPERATUR

ADANYA PERUBAHAN TEMPERATUR DAPAT MENGAKIBATKAN TERJADINYA DEFORMASI PADA BALOK JEMBATAN YANG MENYEBABAKAN ADANYA GAYA TAMBAHAN PADA PERLETAKAN MEMPENGARUHI DEFORMASI PADA PILAR ATAU ABUTMEN. CARA PERHITUNGANNYA DIATUR DALAM BMS 92.

105

MK.STRUKTUR BAJA II

FAKTOR BEBAN
FAKTOR BEBAN AKIBAT PENURUNAN SELALU SAMA DENGAN 1.0. BAIK UNTUK BEBAN SERVICE MAUPUN ULTIMATE. UNTUK BEBAN AKIBAT ADANYA PERUBAHAN TEMPERATUR ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

ALIRAN AIR
ADANYA ALIRAN AIR YANG DERAS DAN BENDA HANYUTAN YANG MUNGKIN DAPAT MERUSAKKAN JEMBATAN TERUTAMA PADA PILAR, MAKA PERLU DIPERHTUNGKAN DALAM PERENCANAAN YANG BERUPA GAYA SERET SEJAJAR ALIRAN DAN TEGAK LURUS ALRAN YANG BESARNYA :

FAKTOR BEBAN AKIBAT TEMPERATUR (Transient)

KET
1.0

KET
1.2

ET terkurangi

GAYA SEJAJAR ALIRAN TEF1 GAYA TEGAK LURUS ALIRAN TEF2 CD = Kofisien Seret CO VS = Kecepatan Aliran Ad = Luasan Proyeksi Tegak Lurus Aliran AL = Luasan Proyeksi Sejajar Aliran

= 0.5 CD (VS)2 Ad kN = 0.5 CL (VS)2 AL kN = Coefisien Angkat

0.8

KOEFISIEN KOFISIEN TERSEBUT DAPAT DILIHAT DALAM BMS 92

TUMBUKAN BENDA HANYUTAN


AKIBAT ADANYA BENDA ATAU BATANG KAYU YANG HANYUT DIMUNGKINKAN DAPAT MENUMBUK PILAR. SEHINGGA HARUS DIPERHITUNGKAN DENGAN RUMUS : TEF = M (VS)2 / d M = Masa Batang Kayu atau = 2 ton D = dapat dilihat pada table 2.8 bms 92

FAKTOR BEBAN UNTUK KEADAAN BEBAN KERJA = 1.0

FAKTOR BEBAN UNTUK KEADAAN BATAS


KEADAAN BATAS
DAYA LAYAN UNTUK SEMUA JEMBATAN ULTIMATE : JEMBATAN BESAR DAN PANJANG
JEMBATAN PERMANEN

PERODE ULANG BANJR 20 TAHUN


100 TAHUN 50 TAHUN 50 TAHUN 20 TAHUN

FAKTOR BEBAN 1.0 2.0 1.5 1.0 1.5

TIPE PILAR Pilar Beton Masif Tiang Beton Perancah Tiang Kayu Perancah

d (m) 0.075 0.150 0.300

GORONG - GORONG
JEMBATAN SEMENTARA

TEKANAN HIDROSTATIS DAN GAYA APUNG


ADANYA PERBEDAAN TINGGI MUKA AIR YANG MUNGKIN TERJADI SELAMA UMUR BANGUNAN, AKAN MENYEBABKAN TIMBULNYA TEKANAN HIDROSTATIS DAN GAYA APUNG PADA BANGUNAN YANG HARUS DIPERHITUNGKAN DALAM PERENCANAAN.

BEBAN ANGIN
BEBAN ANGIN YANG LANGSUNG BEKERJA PADA KONSTRUKSI BEBAN ANGIN YANG BEKERJA PADA KONSTRUKSI LEWAT KENDARAAN YANG BERADA D ATAS JEMBATAN

FAKTOR BEBAN TEKANAN HIDROSTATIS DAN GAYA APUNG (Transient) S U U

T EW1 = 0.0006 CW (VW)2 Ab kN

KEU

KEU

KEU

terkurangi

1.0

1.0(1.1)

1.0 (0.9)

T EW2 = 0.0012 CW (VW)2 Kn/m

JEMBATAN RANGKA TERTUTUP

106

T MK.STRUKTUR BAJA II
EW2

CW = Koefisien Seret VW = Kecepatan Angin Harga dari CW dan VW dapat dilihat dalam BMS 92

h TEW1 b

JEMBATAN RANGKA TERBUKA


TEW1 TEW2

Ab = 30 % x (a + b ) h

FAKTOR BEBAN ANGIN (Transient)

KEW
1.0

KEW
1.2

BEBAN GEMPA
DALAM SUATU PERENCANAAN JEMBATAN, MEMPERHITUNGKAN BEBAN AKIBAT PENGARUH TERJADINYA GEMPA. BEBAN GEMPA HANYA DIPERHITUNGKAN UNTUK KONDISI BATAS ULTIMATE BEBAN GEMPA BIASANYA BERAKIBAT LANGSUNG PERENCANAAN PILAR, KEPALA JEMBATAN DAN PONDASI PADA

KOEFISIEN GESER DASAR (C) DITENTUKAN DENGAN MENGGUNAKAN GRAFIK HUBUNGAN WAKTU GETAR BANGUNAN ( T ) DAN (C) YANG ADA DI BMS 92, DIMANA BESARNYA WAKTU GETAR BANGUNAN ( T ) DAPAT DHTUNG DENGAN RUMUS :

T = 2

(detik)

BESARNYA BEBAN GEMPA DIPERHTUNGKAN SEBAGA BERIKUT :

TEQ TEQ Kh C I S WT

= Kh . l . WT Kh = C . S = Gaya Geser Dasar dalam arah yang ditinjau (Kn) = Koefisien Beban Gempa Horizontal = Koefisien Geser Dasar = Faktor Kepentingan = Faktor Tipe Bangunan = Berat Total Nominal Bangunan termasuk Beban mati tambahan

WTP = Berat Total Jembatan termasuk Beban Mati Tambahan ditambah setengah berat pilar (kN) G = Percepatan Gravitasi K P = Kekakuan Gabungan sebagai gaya horizontal yang diperlukan untuk menimbulkan satu satuan lendutan pada bagian atas pilar (kN/m)

FAKTOR BEBAN GEMPA U (Transient) G

CONTOH
CARA PERHITUNGAN JEMBATAN RANGKA BATANG

KEQ

KEQ
1.0

Tidak digunakan

PERHITUNGAN PELAT LANTAI


MODEL GAMBAR PERHITUNGAN
d4 (Aspal) d3 (Beton)

PERHITUNGAN PELAT LANTAI


BEBAN MATI Pelat Beton = d3 x beton x KMS Beban sendiri U Beban Aspal = d4 x aspal + qMU = .. BEBAN HIDUP T Beban hidup T diperhitungkan sebesar 100 kN yang harus dikalikan dengan faktor beban ( KTT ) sebesar 2 dan tambahan faktor kejut (DLA) sebesar 0.3. Beban TU = 100 X (1+0.3) X 2 = .

107

MK.STRUKTUR BAJA II

S = b 1 - bf

b1

Pelat Beton dihitung per meter panjang


1m

PERHITUNGAN PELAT LANTAI


PERHITUNGAN MOMEN -1/10 B. MATI B. HIDUP MU +1/10 -1/10 +1/10 -1/10 +

PERHITUNGAN PELAT LANTAI


KONTROL GESER
Roda Kendaraan d4Gaya Geser (VU) = K x 100 x
U

: (1/10) X qMU X (b1)2 : 0.8 X (S + 0.6)TU / 10 = .. S < b1 S = b1

Untuk Komposit Untuk Non Komposit

d4/2 d0 d4/2 50 d4/2 b0 20 d4/2

Setelah MU dihitung, maka dilanjutkan perhitungan dimensi dengan menggunakan aturan yang berlaku

(1+0.3) Luas Bidang Kritis (AK) = 2 x (b0 + d0) x d4 Kemampuan Gesr (VU) = AK x Teg Geser Beton Kemampuan Geser harus VU < VU

PERHITUNGAN BALOK MEMANJANG


MODEL MEKANIKA
A dan B adalah tumpuan yang d4 diasumsikan SIMPLE d3 CONNECCTION ke Balok Melintang Beban yang bekerja PADA Balok memanjang adalah BEBAN MATI dan BEBAN HIDUP UDL, KEL dan T sebagai pembanding

PERHITUNGAN BALOK MEMANJANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN BEBAN MATI Aspal Pelat Beton Berat Sendiri Bekisting qMU MD MD

b1

b1

: d4 x aspal x b1 : d3 x beton x b1 x Load Factor : . x Load Factor : . x Load Factor + : . Gaya/satuan panjang = 1/8 x qMU x 2 : Momen akibat beban mati di tengah bentang

PERHITUNGAN BALOK MEMANJANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN
qKEL qUDL T

PERHITUNGAN BALOK MEMANJANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN= 100 kN BEBAN HIDUP TRUK TERPUSATNT
Beban T tersebut harus dikalikan Load Factor (2) dan dikalikan (1+DLA). DIA untuk beban T diambil 0.3 Momen akibat beban terpusat T adalah : ML2 = x T x 2 x (1+0.3) x ML2 dan ML1 dibandingkan dan diambil yang terbesar,. Momen Total yang harus diperhitungkan adalah : MT = MD + ML1 atau = MD + ML2

BEBAN HIDUP qUDL : 8 kPa x b1 x Load Factor Untuk L < 30 m 108 MK.STRUKTURLoad Factor 8 (0.5 + 15 / L) x b1 x BAJA II Untuk L > 30 m BEBAN HIDUP qKEL : 44 kN / m x b1 x Load Factor dan masih harus dikalikan dengan (1+DLA) DIA untuk beban KEL diambil sesuai grafik dalam BMS92 MOMEN AKIBAT B. HIDUP (ML1): qKEL x + 1/8 qUDL x 2

Diambil yang Terbesar

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


MODEL MEKANIKA dan PEMBEBANAN

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


MODEL MEKANIKA dan PEMBEBANAN UDL & KEL
KEL UDL

PENINJAUAN TERHADAP BEBAN T


T T 1 mT B Gb. a T T B Gb. b T
Tampak Depan

Beban Kerb

Tampak Samping = Jarak antar Gelagar Melintang

Pembebanan pada Gambar a dibandingkan dengan pembebanan pada Gambar b dan dipilih yang hasil momennya terbesar

PENINJAUAN TERHADAP BEBAN UDAL dan KEL

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN SEBELUM KOMPOSIT

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN SETELAH KOMPOSIT d4 Aspal Kerb dK

BEBAN MATI Balok Memanjang Balok Melintang Pelat Beton Bekisting qMU1 Mq MU1 : (qWF x /b1) x Load Factor : . x Load Factor : d3 x beton x x Load Factor : . x Load Factor : Gaya/satuan panjang : 1/8 x qMU x B2 +

BEBAN MATI :

Aspal = x d4 x aspal Kerb = dK x l x beton x Load Factor

Pada saat sebelum komposit, BEBAN HDUP, BEBAN KERB dan BEBAN ASPAL masih belum bekerja.

Mq MU2 = ..

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN SETELAH KOMPOSIT

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


PERHITUNGAN BEBAN dan MOMEN SETELAH KOMPOSIT

Beban T
T T 1mT B T T B T

Gb. Gb. b 109 a MK.STRUKTUR BAJA II

( Beban Kerb

BEBAN HIDUP qUDL : 8 kPa x b1 x Load Factor Untuk L < 30 m 8 (0.5 + 15 / L) x b1 x Load Factor Untuk L > 30 m BEBAN HIDUP qKEL : 44 kN / m x b1 x Load Factor dan masih harus dikalikan dengan (1+DLA) DIA untuk beban KEL diambil sesuai grafik dalam BMS92 Momen akibat beban UDL dan KEL dihitung sebagai : M(p+q) = .. Hasil perhitungan Momen akibat Beban UDL dan KEL dibandingkan dengan Momen akibat Beban T dari Gb. A atau Gb. B dan kemudian dipilih yang terbesar

Beban Lalu Lintas 50 %

100 %

Beban Lalu Lintas

Beban Lalu Lintas 50 %

Beban T tersebut harus dikalikan dengan Load Factor = 2 dan dikalikan juga dengan Faktor Beban Dinamis sebesar (1 + DLA), dimana DLA diambil 0.3. Momennya dihitung sebagai MT =

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


KONTROL TEGANGAN YANG TERJADI
a 1 + = a

PERHITUNGAN BALOK MELINTANG


MENGHITUNG GAYA GESER Untuk mendapatkan gaya geser yang maksimum, maka beban hidup lalu lintas harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan gaya geser yang maksimum.
KEL

UDL

1
SEBELUM KOMPOSIT

2
SETELAH KOMPOSIT

1 + 2
TEGANGAN AKHIR

KEL

UDL

PERHITUNGAN RANKA UTAMA


H I J K L M P/2 A P B C D E F G P/2 h

MENGHITUNG BEBAN P 1. Berat Profil/m x Lebar Jemb x x Load Factor BV Beton x Tebal x Lebar Jemb x x Load Factor x BV Aspal x Tebal x Lebar Jemb x x Load Factor x Berat Profil Memanjang/m x / b1 x Lebar Jemb x

2.
3.
h

BEBAN MATI DARI GELAGAR MELINTANG


H
KEL

A B C D

UDL

4.

x Load Factor KEEMPAT MACAM BEBAN TERSEBUT DIJUMLAHKAN, SEHINGGA MENJADI BEBAN P

BEBAN KEL DAN UDL

PERHITUNGAN RANKA UTAMA


H I J K L M

PERHITUNGAN RANKA UTAMA


h

V A B

VKEL C D E F

V2 G

BEBAN LALU LINTAS DIUBAH TERPUSAT PADA TITIK SAMPUL


GARIS PENGARUH Untuk menetukan gaya-gaya batang maksimum pada elemenJD Pilih yang besar dar rangka harus menggunakan GARIS PENGARUH dari masing- beban warna kuning atau warna hijau masing elemen batang rangka

CARA MENETUKAN BEBAN V dan VKEL V = Beban UDL x x Lebar Jalur Lalu Lintas x Load Factor x + Beban Hidup Trotoar VKEL = Beban KEL x DLA x Lebar Jalur Lalu Lintas x Load Factor x Beban Hidup Trotoar dapat dihitung dengan cara : Beban Hidup Trotoar / m2 x x Lebar Trotoar yang berdekatan

dengan rangka yang dihitung


Bila Beban Hidup Trotoar sudah dimasukkan pada saat perhitungan beban total trotoar, maka Beban Hidup Trotoar tidak perlu lag ditambahkan pada beban V

CARA MENEMPATKAN BEBAN HIDUP KENDARAAN PADA PERHITUNGAN V/2 B C K E L F V/2 G hRANKA UTAMA KEL I V + V+V V J A H V V+VKEL DKEL V M - V+V+ GARIS PENGARUH

Setelah Gars pengaruh tergambar, maka gaya luar yang bekerja GARIS PENGARUH CD diletakkan pada tempat-tempat dimana terdapathidup garis bekerja di Beban nila UDL sepanjang balok pengaruh yang maksimum

110

MK.STRUKTUR BAJA II