Anda di halaman 1dari 3

GILANG PRAHARANI C1C010016

Abstract
PT Japfa Comfeed INDONESIA Tbk adalah salah satu perusahaan agri-food terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia. Kegiatan usaha utamanya termasuk pembuatan pakan hewan, pembibitan ayam, pengolahan unggas dan budidaya pertanian. Disini saya memfokuskan penelitian pada divisi unggas breeder. Pengendalian hasil yang diterapkan pada divisi ini adalah system reward dan punishment. Pengendalian aksi yang diterapkan berupa adanya SOP & peraturan-peraturan,tata letak ruangan, adanya preaction review,dan adanya pencadangan alat dan SDM. Pengendalian orang diterapkan pada saat seleksi penerimaan karyawan baru, adanya training, group based reward, transfer internal, sedangkan contoh dari atasan tidak ada dan tidak terlalu berpengaruh pada kinerja karyawan.

Deskriptif
PT Japfa Comfeed INDONESIA Tbk adalah salah satu perusahaan agri-food terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia. Kegiatan usaha utamanya adalah pembuatan pakan hewan, pembibitan ayam, pengolahan unggas dan budidaya pertanian.

PT. Japfa didirikan pada tahun 1971 dibawah nama PT. Pabrik Java pelletizing sebagai 50 50 venture antara PT. Perusahaan Dagang & Industri Ometraco dan Internasional Graanhandel Thegra NV dari Belanda. Pada bulan Oktober 1989, Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 1990, disediakan Perusahaan dengan kekuatan finansial untuk meluncurkan ke dalam industri pakan ternak. Kemudian Japfa membuat akuisisi strategis dari 4 perusahaan, yaitu PT Comfeed Indonesia (pakan ternak), PT Ometraco Satwafeed (pakan ternak), PT Indopell Raya (pelletizing) dan PT Suri Tani pemuka (pakan udang). Gelombang kedua akuisisi terjadi pada tahun 1992 ketika membeli Japfa PT Multibreeder Adirama Indonesia (pembibitan unggas), PT Ciomas Adisatwa (unggas operasi pengolahan) dan tambak udang dan operasi cold storage dari Suri Tani pemuka.

Disini saya memfokuskan penelitian pada divisi unggas breeder. Pada divisi ini system pengendalian manajemennya sudah sangat baik. Divisi ini telah menerapkan ketiga strategi pengendalian, yaitu pengendalian hasil, pengendalian aksi dan pengendalian orang.

Pengendalian Hasil

GILANG PRAHARANI C1C010016

Japfa menerapkan system pengendalian manajemen yang berorientasi pada hasil berupa adanya reward jika seorang karyawan bekerja secara produktif, benefit dan dapat memenuhi target kuantitatif & kualitatif perusahaan. Target perusahaan pada divisi ini diukur dengan kualitas produk yang unggul, dan kepuasan pelanggan sesuai dengan moto perusahaan, pelanggan puas, kualitas bagus dan menguntungkan.. Reward yang diberikan dapat berupa bonus (uang) maupun kenaikan jabatan. Dan punishment diberlakukan ketika karyawan tidak mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku ataupun mencemarkan nama baik perusahaan. Punishment atau reward tidak diberikan pada karyawan yang tidak mencapai target perusahaan, sehingga orang yang tidak berprestasi akan terus tetap dalam posisinya, tidak ada kemajuan dan tidak mendapat hukuman. Pengadaan reward ini telah terbukti dapat memotivasi karyawan Japfa selama ini.

Pengendalian Aksi
Pengendalian aksi yang diterapkan pada divisi ini berupa adanya peraturan-peraturan dan SOP yang mengatur semua daftar pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap karyawan. Jika karyawan melanggar aturan-aturan atau tidak bekerja sesuai dengan list pekerjaan yang ada di SOP masing-masing, akan ada punishmentnya. Setiap bagian dari divisi ini mempunyai penanggung jawab yaitu para supervisor yang akan mengawasi pekerjaan karyawan dan melakukan preaction review. Karena divisi breeding ini bekerja selama 24 jam maka system jam kerjanya sesuai shift dan divisi ini selalu menyediakan pencadangan baik pencadangan mesin, tenaga ahli (untuk perbaikan dan ada juga dokter hewan), dan tenaga kerja (jika ada karyawan yang tidak masuk, tidak akan mempengaruhi kinerja). Pada divisi ini tata letak ruangan untuk karyawan terbuka, sehingga setiap karyawan dan supervisor saling dapat melihat pekerjaan masing-masing, tetapi untuk ruangan manajer atau bagian financial tertutup.

Pengendalian Orang
Pengendalian orang yang diterapkan disini yaitu pada saat penerimaan pelamar kerja, diseleksi hanya pada posisi yang sedang dibutuhkan saja, dilakukan psikotes, wawancara dan tes skill untuk menentukan apakah keahliannya sesuai dengan yang diharapkan dan dibutuhkan. Setelah lolos seleksi maka akan dilakukan training selama 3 bulan,dengan harapan wawasan dan ketrampilan karyawan bertambah serta karyawan jadi memahami visi dan misi perusahaan. Dalam divisi ini juga diberlakukan system reward kelompok,tetapi

GILANG PRAHARANI C1C010016

tingkatan reward yang diberikan sesuai dengan skill yang dimiliki. Pada satu kelompok yang berhasil mencapai target dan lebih produktif, semua karyawan dalam tim akan mendapatkan reward tetapi reward antara manager, supervisor dan karyawan akan berbeda sesuai tingkatannya dalam manajemen. Transfer internal dalam divisi ini juga diberlakukan selama 3 bulan sekali berupa meeting tingkat direksi,pimpinan, dan supervisi. Setelah itu para atasan akan sharing dengan bawahan dalam divisinya tentang hasil meeting direksi,pimpinan dan supervisi tsb. Contoh atasan disini tidak terlalu berpengaruh karena para staf/bawahan memahami pekerjaan masing-masing atasannya, contohnya pada marketing, manajer marketing datang tidak selalu tepat waktu jam kerja karena harus menemui klien dahulu, padahal semua karyawan, manajer, supervisi, dll jam kerjanya sama.

Kesimpulan dan usulan


Pada divisi breeding unggas PT. Japfa Comfeed Indonesia, telah menerapkan strategi pengendalian hasil, pengendalian aksi dan pengendalian orang dengan sangat baik untuk mencapai target perusahaan. Tetapi masih ada masalah yang walaupun jarang terjadi, akan mempengaruhi secara fatal pada kinerja karyawan, yaitu miss komunikasi karena kesibukan masing-masing karyawan dengan pekerjaannya. Menurut saya,masalah tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan frekuensi pertemuan antara atasan dan bawahan agar dapat saling sharing apa yang dimaui atasan dan apa yang tidak dimengerti bawahan, agar sama-sama paham bagaimana cara untuk mencapai target perusahaan. Pada pengendalian hasil juga perlu di soroti, seharusnya diterapkan punishment berupa potong gaji atau apapun yang bisa memotivasi dan memacu karyawan agar dapat berprestasi dalam pekerjaannya. Sedangkan contoh atasan disini tidak saya soroti karena sepertinya karyawan sudah paham masingmasing pekerjaan atasan sehingga dapat mengerti dan tidak berpengaruh pada mindset mereka dan kinerja mereka.