Anda di halaman 1dari 4

LIBERALISME DAN ISLAM LIBERAL Oleh: Irwan Munawan PENDAHULUAN Orang-orang tiada henti-hentinya membicarakan pemikiran Islam liberal.

Diberbagai media cetak maupun elektronik. Pemikiran ini sedang menjadi buah bibir dikalangan para pemikir Islam di Indonesia maupun internasional. Banyak para kalangan yang berkomentar dan mengkritik terhadap pemikiran Islam liberal ini. Hal ini dikarenakan banyaknya pemikirannya meresahkan sebagian umat Islam. Banyak ajaran Islam yang sudah Qati mereka bongkar, hal-hal yang dilarang agama mereka menganggap halal. Berangkat dari penomena ini ada sebagai pemikir Muslim yang menganggapnya sebagai aliran sesat. Yang mana telah menghancurkan sendi-sendi agama. Pemikiran Islam liberal ini tidak terlepas dari pemikiran orientalis dan epistemology Barat. Mereka menggunakan kerangka berfikir yang digunakan oleh para orientalis.maka terjadilah kekeliruan dan penyelewengan terhadap pemahaman Islam. Golongan Islam Liberal terus mendengungkan ide liberalisasi dan moderenisai Islam dengan menjadikan sekularisme dan modernisme Barat sebagai asas pandangan alam (worldview) mereka.1 Islam Liberal ini banyak mempersoalkan otentisitas dan kesucian Al-Quran, menyamakn semua agama (pluralisme agama), merekonstruksi Syariah, menghalalkan homoseksual, mengusung persoalan gender, perkawinan beda agama dll. Mereka juga menggantikan metode tafsir yang biasa digunakan oleh para ulama dengan metode hermeneutika sebagai metode penafsiran Bibel. Mereka juga berusaha untuk sentantiasa mengkaburkan ajaran Islam yang sebenarnya. Hal ini menjadi tantangan bagi umat Islam yang mesti dihadapi bersama dengan segenap kemampuan kita. Perlu diketahui bahwa tatangan yang sebenarnya itu bukan berupa ekonomi, politik, sosial, dan budaya tetapi tantangan pemikiran. Selain tantangan yang bersifat internal seperti, kejumudan, fanatisme, taqlid, biah dan khurafat. Juga tantangan yang tidak jauh berbahayanya yaitu tantangan yang bersifat eksternal seperti masuknya paham, konsep, system, dan cara pandang asing seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminisme, gender, dll.2 Liberalisme yang menjadi latar belakang Islam Liberal ini seakan-akan sudah menjadi virus yang sangat membahayakan dan sekarang sudah menjangkit para cendikiawan yang konon dianggap sebagai pembaharu . mereka yang menjadi liberal antara lain: RIfaah (1801-1873 M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir dan Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India. Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemkir yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman. Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Shahour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia.3 Melihat penomena di atas maka penulis perlu mengulas Islam liberal, mulai dari definisi, sejarah, program/agenda dan kritikan terhadap Islam Liberal. Sebagai bagian dari usaha melawan pemikiran Islam Liberal yang merusak agama Islam.

DEFINISI ISLAM LIBERAL


1 Khalif Muammar, Atas Nama Kebenaran, Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, (Kuala Lumpur, Malaysia:ATMA. 2006). Hal. 1 2 Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, Gerakan Bersama Misionaris,Orientalis dan Kolonialis.( Ponorogo: CIOS-ISID-Gontor. 2008) hal 1-2 3 Dr, Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: GIP 2008 M) hal;. 78

Kata liberal diambil dari bahasa Latin Liber yang artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna babas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar yang membuka pintu kebebasan berfikir (The Old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna.4 Para pakar sejarah Barat biasanya menunjuk moto Revolusi Prancis 1789-kebebasan, kesetaraan, persaudaraan (Liberte,egalite,fraternite) sebagain piaam agung (magna charta) liberalisme modern. Sebagaimana di ungkapkan oleh H. Gruber, prinisp liberalisme yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas, apapun namanya adalah bertentangan dengan hak asasi manusia, yakni otoritas yang akarnya,aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada diluar dirinya.5 Makna liberalisme bisa dipahami kepada beberapa pengertiaan sesuai dengan bidangbidang tertentu, diantara pengertian Dalam ranah politik liberalisme dipahami sebagai system dan kecenderungan yang berlawanan dengan dan menentang mati-matian sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Diwilayah sosial,liberalisme berarti emansipasi wanita,penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap inidvidu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Sedangkan dalam urusan agama,liberalisme berarti kebebasan menganut,meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan,kehendak, dan selera masing-masing. Bahkan bahkan lebih jauh dari iru, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Artinya, konsep amar maruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan bertentangan dengan semangat liberalisme.6 Sedangkan definisi Islam liberal menurut Charles Kurzman, ungkapan Islam Liberal(Liberal Islam) mungkin terdengar seperti sebuah kontradiksi dalam peristilahan. Ia merasa bingung dengan peristilahannya, katanya, Islam kok liberal? Meskipun ia menjawab di akhir tulisannya bahwa istilah Islam Liberal itu tidak kontradiksi, tetapi ketidakjelasan uraiannya masih tampak. Kuzman tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan Islam Liberal. Sedangkan Fyzee menggunakan istilah lain untuk Islam Liberal yaitu, Islam Protestan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Luthfi Assyaukanie, Dengan Istilah ini (Islam Protestan atau Islam Liberal) Fyzee ingin menyampaikan pesan perlunya menghadirkan wajah Islam yang lain, yaitu Islam nonortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman dan Islam yang berorentasi ke masa depan bukan masa silam.7 SEJARAH KEMUNCULAN LIBERALISME Sejarah paham liberalisme ini berasal dari Yunani kuno,. Salah satu elemen terpenting peradaban Barat. Namun jika dilacak hingga Abad pertengahan liberalisme dipicu oleh kondisi system feodal. Di dalam system ini, raja dan bangsawan memiliki hak-hak istimewa, sedangkan rakyat jelata tidak diberi kesempatan secara leluasa untuk ikut serta dalam mobilisasi sosial yang dapat mengantarkan mereka menjadi kelas atas. Perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan raja kepada bangsawan bawahan. Charta ini secara otoamtis telah membatasi kekuasaan Raja Jhon sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism). Liberalisme awal sendiri ditandai dengan perlawan dan pembatasan terhadap kekuasaan pemerintahan yang cenderung absolute. Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada tahun 1688. Revolusi ini berhasil menurunkan Raja James II dai England dan Ireland (James VII) dari Scotland,serta mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini parlemen Inggris menyetujuai sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dann kebebasan masyarakat Inggris. Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa
4 Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, hal. 24 5 Dr, Syamsuddin Arief.hal 76 6 Ibid 77-78 7 Adian Husaini, M.A., Islam Liberal, Sejarah,Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabanya. (Jakarta: GIP 2002 M) Hal. 2

setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memilih sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treaties of Government (1690), John Locke menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi.8 Di Indonesia wacana liberalisme buming setelah Nurcholis Madjid meluncurkan gagasan secularalisasi dan ide-ide inklusif-pluralis dengan Paramadinanya, kini kader-kader Nurcholis mengembangkan gagasannya lebih intensif lewat yang mereka sebut Jaringan Islam Liberal. Jaringan Islam Liberal yang mereka singkat dengan JIL ini, mulai aktif pada maret 2001. Kegiatan awal dilakukan dengan menggelar kelompok diskusi maya (milis) yang tergabung dalam islamliberal@yahoogroups.com. Selain menyebarkan gagasannya lewat website www.islamlib.com. Pengelola JIL dikomamdani oleh beberapa pemikir muda, seperti Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina), Ulil Abshar-Abdala (Lakpesdam NU), dan Ahmad Sahal (Jurnal Kalam). JIL juga bekerjasama dengan para intelektual,penulis, dan akademisi dalam dan luar negri, untuk menjadi kontributornya. Aktivitas penyebaran pemikirannya melalui media internet, radiao, juga lewat jurnal Tashwirul Afkar, yang dikomandani oleh Ulil-Abshar Abdala (pimred).9 PROGRAM LIBERALISASI ISLAM Secara sistematis Liberalisasi Islam di Indonesia sudah dijalankan sejak awal tahun 1970an. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi, yaitu (1) Liberalisasi aqidah dengan penyebaran pluralisme (2) Liberalisasi Syariah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad dan (3) Liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekontruksi terhadap al-Quran. 1. Liberalisasi Aqidah Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham pluralisme agama. Paham ini pada dasarnya menyatakan bahwa agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. 2. Liberalisasi Syariah Hukum-hukum Islam yang sudah qathiy dan pasti, dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode kontekstualisasi sebagai salah satu mekanisme dalam merombak hukum Islam. 3. Liberalisasi al-Quran Salah satu wacana yang berkembang pesat adalah liberalisasi Islam di Indonesia dengan tema dekontruksi Kitab Suci. Para liberalis menganggap perlunya mengkritisi al-Quran sebagaimana yang dilakukan orang Kristen terhadap Bibel. Seperti yang dilakukan para orientalis yang bekerja keras untuk menunjukan bahwa al-Quran adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bibel. Mereka berusaha untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslimin, bahwa al-Quran itu adalah satu-satunya Kitab Suci, bebas dari kesalahan.10 KRITIKAN Mesti kita ketahui bahwa Islam tidak memberikan kebebasan kepada manusia kebebasan mutlak. Dalam agama Islam setiap yang dimiliki oleh manusia adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Manusia tidak bebas melakukan apa yang diinginkannya,dan kebebasan manusia terbatas kepada yang menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Konsepsi barat tentang kebebasan pada satu sisi baik untuk membangun keyakinan dalam diri. Namun kebebasan yang mutlak menimbulkan hal-hal yang negative dan bisa melahirkan cara hidup yang tidak bermoral yang akan menghancurkan dirinya dan orang lain.
8 Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, hal 25-26 9 Adian Husaini, M.A. hal 4-6 10 Adian Husaini, M.A, LIberalisasi Islam di Indonesia, Fakta dan Data, (Jakarta: DDII 2006 M) hal.11-56

Menurut Qardhawi konsep kebenaran yang diusung Barat adalah keliru. Kata beliua, bahwa kebebasan manusia tidak boleh melanggar batas-batas nilai-nilai suci, karena nilai-nilai suci inilah yang mengangkat manusia dari kebinatangannya. Dalam konteks peradaban Barat. Liberalisme merupakan semangat perubahan dan pembangunan dalam segala bidang kehidupan. Para pemikir Barat mengambil inspirasi perubahan dari filsafat bukan dari agama, karena menurut mereka agama tidak bisa membantu perubahan. Makanya agama dalam peradaban Barat dipisahkan dari kehidupan dunia dan ditinggalkan. Sedangkan konteks perubahan dalam Islam berbeda sekali. Yang mana Islam itu senantiasa memberi ruang untuk memperbaharui dan meningkatkan diri, termasuk dalam memahami Islam. Pembaharuan dalam Islam lebih kepada menghidupkan kembali tradisi untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman.11 PENUTUP Dengan masuknya berbagai pemikiran Barat yang merusak agama, kita mestinya sebagai muslim yang taat terhadap ajaran Islam hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk melawan hal-hal yang dapat merusak agama dengan kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa liberalisme itu mencakup tiga hal. Pertama, kebebasan berfikir tanpa batas alias free thinking. Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sofhisme. Dan ketiga, sikap longgar dan semena-mena dalam beragama.12 Semangat liberalisme ini selalu di gembar-gemborkan oleh Islam Liberal, makanya kita mesti hati-hati dan selalu waspada.wallahu alam bish shawab.

Daftar Pustaka Khalif Muammar, Atas Nama Kebenaran, Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, (Kuala Lumpur, Malaysia:ATMA. 2006). Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, Gerakan Bersama Misionaris,Orientalis dan Kolonialis.( Ponorogo: CIOS-ISID-Gontor. 2008) Dr, Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: GIP 2008 M) Adian Husaini, M.A., Islam Liberal, Sejarah,Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabanya. (Jakarta: GIP 2002 M) Adian Husaini, M.A, LIberalisasi Islam di Indonesia, Fakta dan Data, (Jakarta: DDII 2006 M)

11 Khalif Muammar, hal 69-71 12 Dr, Syamsuddin Arief.hal 79