WORKING PAPER IN ECONOMICS

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA
(Studi Kasus : Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia)

Oleh : Mohammad Hanif1)

Desember 2012

1) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana FE-UI Pandangan dalam paper ini merupakan pandangan penulis semata

ABSTRAK

Paper ini bertujuan untuk melakukan analisis peran sektor pertanian terhadap perekonomian Indonesia. Ada empat hal yang menjadi tujuan penelitian ini yaitu (1) Menganalisis kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional dalam hal penciptaan nilai tambah (added value), output sektor produksi (production output), pendapatan rumah tangga (household induced income), dan keterkaitan dengan sektor lainnya (other linkage sector), (2) Menganalisis kontribusi sektor pertanian terhadap distribusi pendapatan rumah tangga, (3) Menganalisis dampak kebijakan pemerintah di sektor pertanian dalam meningkatkan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan PDB Nasional, dan (4) Menganalisis Sub-sektor manakah dari sektor pertanian yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional ke depan. Data yang digunakan berdasarkan publikasi terakhir Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) dengan rincian matriks ukuran 105x105. Data SNSE ini selanjutnya dimodifikasi dan disimplifikasi sesuai tujuan penelitian. Penulis menggunakan Angka Pengganda (Accounting Multiplier) SNSE, Dekomposisi matriks, dan Structural Path Analysis (SPA) untuk mengukur peran sektor pertanian terhadap perekonomian nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi besar dalam menciptakan nilai tambah (added value), kenaikan output sektor produksi, kenaikan pendapatan rumah tangga, dan mendorong pertumbuhan sektor lainnya dalam perekonomian nasional. Namun demikian, hasil sektor ini lebih banyak dinikmati oleh pengusaha dan golongan atas dibandingkan buruh tani. Berdasarkan analisis dekomposisi dan jalur struktural sektor pertanian memiliki hubungan erat dengan sektor lainnya seperti sektor Industri makanan, minuman, dan tembakau; sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen; dan sektor Perdagangan. Injeksi kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan sektor lain yang berhubungan erat, menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada sektor pertanian khususnya pada sektor tanaman pangan memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan PDB Nasional. Sedangkan kebijakan pemerintah pada sektor yang berhubungan erat dengan sektor pertanian juga berkontribusi namun dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan sektor pertanian. Hasil analisis menyeluruh, menunjukkan bahwa sektor pertanian tanaman pangan merupakan sub-sektor pertanian yang memiliki potensi dan peran strategis terhadap perekonomian nasional ke depan.

Keywords :
Sektor Pertanian, Struktur Perekonomian Indonesia, Added Value, Distribusi Pendapatan Rumah Tangga, Output Sektor Produksi, Product Domestic Bruto (PDB), Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE), Accounting multiplier, Matriks Dekomposisi, Structural Path Analysis (SPA).

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

1

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 menyebutkan bahwa tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005–2025 adalah mewujudkan bangsa yang maju, mandiri, dan adil sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju masyarakat adil dan makmur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai ukuran tercapainya Indonesia yang maju, mandiri, dan adil, pembangunan nasional dalam 20 tahun mendatang diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok yang antara lain adalah terwujudnya bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Salah satu tolak ukur pencapaian sasaran tersebut yaitu dengan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah Indonesia. Sektor pertanian, dalam arti luas, dan pertambangan menjadi basis aktivitas ekonomi yang dikelola secara efisien sehingga menghasilkan komoditi berkualitas, industri manufaktur yang berdaya saing global, motor penggerak perekonomian, serta jasa yang perannya meningkat dengan kualitas pelayanan lebih bermutu dan berdaya saing. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pembangunan sektor pertanian tetap memegang peran yang strategis dalam Perekonomian Indonesia sehingga perlu untuk ditingkatkan. Adapun peran strategis sektor pertanian tersebut antara lain: a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial, stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional; b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor; d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri; e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi; f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain; dan g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan (Daryanto, 2009). Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian pada triwulan ketiga tahun 2012 mencapai Rp.256,283.2 milliar, atau lebih tinggi dibandingkan kuartal ketiga tahun 2011 yang hanya mencapai Rp.245,812.2 milliar. Namun, dari sisi kontribusi terhadap PDB Nasional sektor ini terus mengalami penurunan. Sedangkan dari hasil sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 38,88 juta jiwa atau menyerap kurang lebih 32.94% dari Angkatan kerja. Meskipun kontribusi sektor ini terhadap PDB Nasional menurun, akan tetapi daya serap terhadap angkatan kerja paling besar dan sektor ini terus bertumbuh setiap tahunnya dan hingga kuartal III 2012 tumbuh sebesar

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

2

6.17% (yoy). Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peran besar dalam perekonomian nasional dan masalah distribusi pendapatan. Fakta lain yang juga menunjukkan pentingnya pembangunan sektor pertanian adalah fakta yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis mempunyai keunggulan komparatif di bidang pertanian, karena dengan kondisi iklim tersebut memberikan kekayaan yang tak ternilai bagi sumberdaya alamnya. Kecukupan matahari sebagai sumber energi dan membantu percepatan proses pelapukan dan fosilisasi, menjadikan negeri ini kaya akan tanah-tanah yang subur yang kaya akan mineral. Iklim yang cukup bersahabat, dan ketersediaan air yang relatif baik dibanding negara lain menjadikan Indonesia sangat unggul di sektor pertanian. Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan potensi bagi pengembangan sektor pertanian di Indonesia antara lain (Rifai, 2012) : 1. Masih tersedia areal pertanian dan lahan potensial belum termanfaatkan secara optimal yang merupakan peluang bagi peningkatan produksi pertanian. Disamping itu, kondisi lahan yang secara umum subur dan iklim yang mendukung merupakan peluang yang sangat menguntungkan untuk pembangunan sektor pertanian. 2. Pasar domestik sangat berpotensi untuk pemasaran produk pertanian, dan cenderung meningkat terus akibat pertambahan jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain jumlahnya meningkat, keragaman produknya semakin bervariasi sehingga akan membuka peluang yang lebih besar terhadap pemasaran produk pertanian. Sejalan dengan era globalisasi dan pemberlakuan pasar bebas juga berpeluang untuk memasarkan produk pertanian ke pasar internasional; dan 3. Jumlah tenaga kerja untuk sektor pertanian lebih dari cukup, apalagi terdapat limpahan tenaga kerja ke sektor ini akibat melambatnya pertumbuhan sektor industri. Dengan demikian pemanfaatan tenaga kerja yang tersedia secara optimal merupakan peluang untuk meningkatkan pembangunan sektor pertanian. Meskipun memiliki potensi yang besar, namun pembangunan sektor pertanian masih menghadapi berbagai permasalahan, antara lain : 1. Adopsi teknologi yang dihasilkan lembaga penelitian pemerintah, swasta maupun pengenalan dari luar negeri oleh petani berjalan lambat. 2. Ketersediaan sumberdaya air dipengaruhi oleh curah hujan dan daerah tangkapan air. 3. Kurangnya perhatian terhadap pemeliharaan jaringan irigasi mengakibatkan daya dukung irigasi bagi sektor pertanian semakin menurun. 4. Kemampuan produksi pupuk dalam negeri masih dibawah kebutuhan. 5. Petani belum memiliki kemampuan untuk mengakses sumber permodalan dari lembaga keuangan formal. 6. Adanya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang merupakan faktor pembatas produksi sektor pertanian.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

3

7. Harga pembelian pemerintah yang diterapkan selama ini untuk komoditas padi/beras, dalam pelaksanaannya belum berjalan efektif sesuai dengan yang ditetapkan. Adanya berbagai permasalahan tersebut diatas, telah menyebabkan peningkatan produktivitas sektor pertanian berjalan lambat dibandingkan sektor lainnya namun disisi lain proporsi tenaga kerja di sektor ini sangat besar. Data statistik pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa produktivitas sektor pertanian terendah diantara sektor lainnya.
Tabel 1.1 Produktivitas Tenaga Kerja Tahun 2010 (Rp juta / TK) Sektor Produksi Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Industri Pengolahan Konstruksi Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Pertambangan dan Penggalian dan Listrik, Gas & Air Bersih
Sumber : BPS, Sensus Penduduk 2010

2010 7.30 43.20 26.80 17.80 38.80 127.00 13.60 136.50

Adanya kesenjangan produktivitas yang sangat tinggi antara sektor pertanian dengan nonpertanian memberikan petunjuk bahwa transformasi ekonomi tidak berjalan dengan baik. Sektor non-pertanian tidak berkembang sebagai penyerap tenaga kerja yang signifikan, oleh karena adanya kelebihan tenaga kerja akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi telah menumpuk di sektor pertanian, sehingga menurunkan produktivitas tenaga kerja sektor ini (Tambunan, 2010). Untuk itu, diperlukan kebijakan yang mampu mendorong perbaikan di sektor pertanian sehingga tercipta pembangunan yang lebih merata. Beberapa hasil riset pun menunjukkan bahwa pertanian merupakan sektor yang paling efektif untuk mengurangi kemiskinan, walaupun kaum miskin menikmati manfaat yang lebih kecil dari pertumbuhan pertanian dalam perekonomian yang distribusi pendapatannya sangat timpang (Norton, 2004). Berdasarkan hasil uraian tersebut, maka penelitian ini dimaksudkan untuk melihat peran sektor pertanian pada perekonomian nasional : Studi Kasus Sistem Neraca Sosial Ekonomi Indonesia tahun 2008.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

4

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : - Bagaimana kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional dalam hal penciptaan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan keterkaitan dengan sektor lainnya ?. - Bagaimana kontribusi sektor pertanian terhadap distribusi pendapatan rumah tangga ? - Bagaimana dampak kebijakan pemerintah di sektor pertanian dalam meningkatkan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan PDB Nasional ?. - Sub-sektor manakah dari sektor pertanian yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional ke depan ?. Tujuan Penelitian - Menganalisis kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional dalam hal penciptaan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan keterkaitan dengan sektor lainnya. - Menganalisis kontribusi sektor pertanian terhadap distribusi pendapatan rumah tangga. - Menganalisis dampak kebijakan pemerintah di sektor pertanian dalam meningkatkan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan PDB Nasional. - Menganalisis Sub-sektor manakah dari sektor pertanian yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional ke depan. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : - Pemerintah sebagai bahan atau input dalam membuat kebijakan pembangunan sektor pertanian dalam pengalokasian anggaran pemerintah yang paling berperan dalam meningkatkan PDB, meningkatkan output, dan memperbaiki distribusi pendapatan serta memberikan bahan ulasan kajian terhadap kebijakan sektor pertanian yang telah dilakukan selama ini. - Peneliti atau pemerhati sektor pertanian sebagai salah satu bahan kajian dalam menganalisis kebijakan pertanian yang telah dilakukan dikaitkan dengan kondisi makroekonomi nasional pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya. Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini meliputi wilayah nasional Indonesia dengan fokus penelitian terhadap kontribusi sektor pertanian pada peningkatan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga dan keterkaitan dengan sektor lainnya. Penelitian ini berdasarkan analisis

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

5

SNSE 2008, dengan tetap mempertimbangkan bahwa kondisi perekonomian tidak banyak mengalami perubahan selama tahun 2008-2012. Data SNSE 2008 merupakan publikasi paling akhir yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik saat ini. Agregasi dilakukan pada data untuk disesuaikan dengan tujuan penelitian. Untuk faktor produksi, peneliti melakukan agregasi menjadi dua bagian utama yaitu tenaga kerja pertanian dan non-pertanian, dimana masing-masing dikelompokkan berdasarkan desa dan kota. Sedangkan untuk institusi, peneliti lebih berfokus pada institusi rumah tangga yang kemudian mengagregasi institusi ini menjadi rumah tangga pertanian dan non-pertanian menurut desa dan kota. Sedangkan untuk sektor produksi, peneliti melakukan agregasi dari 24 sektor produksi menjadi hanya 18 sektor saja. Sistematika Penulisan Bab I : Pendahuluan Bab II : Tinjauan Pustaka Bab III : Metodologi Penelitian Bab IV : Gambaran Umum Perekonomian Indonesia Bab V : Hasil dan Pembahasan Bab VI : Kesimpulan dan Saran

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Perananan Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Ekonomi Jauh sebelum Johnston dan Mellor (1961) mengungkapkan peranan penting sektor pertanian dalam pembangunan, sebenarnya para pakar ekonomi terdahulu seperti Rosenstein-Rodan, Lewis, Scitovsky, Hirschman, Jorgenson dan Fei-Ranis telah menyoroti bagaimana sumber-sumber daya pertanian yang berlimpah dan mengalami surplus tersebut ditransfer untuk pembangunan sektor industri. Hircshman (1958) dalam Stringer (2001) menunjukkan bahwa pertanian itu mempunyai keterkaitan kedepan (forward linkage) dan kebelakang (backward linkage) antar sektor paling tinggi yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi (Hafizrianda, 2007). Selain itu, Johnston dan Mellor (1961) mengidentifikasikan lima kontribusi sektor pertanain dalam pembangunan ekonomi. Pertama, sektor pertanian menghasilkan pangan dan bahan baku untuk sektor industri dan jasa. Jika peningkatan pangan dapat dipenuhi secara domestik, maka peningkatan suplai ini akan mendorong penurunan laju inflasi dan tingkat upah tenaga kerja, yang pada akhirnya diyakini dapat lebih memacu pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, banyak sektor industri di negara berkembang yang kelangsungan hidupnya sangat tergantung kepada suplai bahan baku yang berasal dari sektor pertanian. Kedua, sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

6

produk subtitusi impor. Perolehan devisa dari ekspor pertanian dapat juga membantu negara berkembang untuk membayar kebutuhan impor barang-barang kapital dan teknologi untuk memodernisasikan dan memperluas sektor non-pertanian. Ketiga, sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk industri. Keempat, transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Kelima, sektor pertanian dapat menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain. Sedangkan menurut kuznet (1964) dan Todaro (2000) kontribusi pertanian dalam pembangunan adalah: pertama, Pertanian sebagai penyerap tenaga kerja. Kedua, sektor pertanian memiliki kontribusi terhadap pendapatan. Ketiga, sektor pertanian memiliki kontribusi dalam penyedian pangan. Keempat, sektor pertanian merupakan penyedia bahan baku. Kelima, sektor pertanian juga memiliki kontribusi dalam bentuk kapital. Keenam, Pertanian juga merupakan sebagai sumber devisa. Kebijakan Pertanian Transformasi struktur perekonomian yang terjadi menunjukkan bahwa peran pertanian dalam pembangunan nasional terus menurun, namun tidak diikuti oleh bebannya dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini berakibat produktivitas pertanian menurun dan semakin senjang dibanding sektor diluar pertanian, terutama sektor jasa dan industri. Sebagai upaya dalam peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani, maka beberapa hal berikut ini dapat dilakukan : a. Peningkatan skala usaha sesuai dengan sifat komoditasnya. Misalnya untuk petani pangan luas lahan minimal 1 hektar per petani di Jawa-Bali dan 2,5 hektar per petani di luar Jawa-Bali b. Pengusahaan komoditas sesuai dengan permintaan pasar c. Diversifikasi usaha rumah tangga melalui pengembangan agroindustri perdesaan dengan kegiatan non-pertanian d. Pengembangan kelembagaan penguasaan saham petani untuk sektor hulu maupun hilir, dan e. Kebijakan perlindungan bagi petani dan usahanya. Dalam sektor pertanian, sumberdaya utama pembangunan sektor ini adalah lahan dan air. Konversi lahan pertanian sangat sering terjadi, terutama pada lahan sawah yang berproduktivitas tinggi menjadi lahan permukiman dan industri. Hal ini disebabkan karena pada umumnya lahan sawah dengan produktivitas tinggi, seperti di jalur pantai utara Pulau Jawa dan di sekitar Bandung, mempunyai prasarana yang memadai untuk pembangunan sektor non pertanian. Pemanfaatan lahan yang berpotensi secara bertahap akan dapat mengantarkan Indonesia tidak saja berswasembada produk pertanian, tetapi juga berpotensi untuk meningkatkan volume ekspor, apalagi jika insentif untuk petani dapat ditingkatkan.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

7

Seperti halnya sumberdaya lahan, sumberdaya air juga semakin terbatas dan mengalami degradasi. Pertumbuhan penduduk dan industrialisasi telah menimbulkan kompetisi penggunaan antara pertanian dan non-pertanian. Pada kondisi demikian maka penggunanan air untuk pertanian selalu dikorbankan sebagai prioritas terakhir. Untuk itu peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi merupakan langkah bagi peningkatan produktifitas pertanian. Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) SNSE adalah sebuah neraca ekonomi masukan ganda tradisional berbentuk matriks partisi yang mencatat segala transaksi ekonomi antara agen, terutama sekali antara sektor-sektor di dalam blok produksi, sektor-sektor di dalam blok institusi (termasuk di dalamnya rumah tangga), dan sektor-sektor di dalam blok faktor produksi, di suatu perekonomian. SNSE merupakan suatu sistem pendataan yang baik karena (1) SNSE merangkum seluruh kegiatan transaksi ekonomi yang terjadi di suatu perekonomian untuk sebuah kurun waktu tertentu, dengan demikian SNSE dapat dengan mudah memberikan gambaran umum mengenai perekonomian suatu wilayah; (2) SNSE memotret struktur sosial-ekonomi di suatu perekonomian, dengan demikian SNSE dapat memberikan gambaran tentang kemiskinan dan distribusi pendapatan di perekonomian tersebut (Hartono, 1998). Dalam melakukan analisa menggunakan SNSE, perhitungan matriks pengganda dan dekomposisi matriks pengganda dari suatu SNSE merupakan suatu teknik/langkah penting. Dengan mendapatkan matriks pengganda dari suatu SNSE dapat dilihat dampak dari suatu kebijakan terhadap berbagai sektor di dalam suatu perekonomian, termasuk di dalamnya dampak sebuah kebijakan terhadap pendapatan masyarakat. Dekomposisi matriks pengganda suatu SNSE dilakukan untuk memperjelas proses penggandaan dalam suatu perekonomian; dengan kata lain dekomposisi matriks pengganda dapat menunjukkan tahapan dampak yang terjadi akibat penerapan sebuah kebijakan terhadap berbagai sektor di suatu perekonomian. Dari beberapa macam dekomposisi matriks pengganda, dekomposisi matriks pengganda yang dikembangkan oleh Pyatt dan Round (1979) yang relatif banyak digunakan. Pada dekomposisi matriks pengganda ini, Pyatt dan Round memecah matriks pengganda menjadi tiga buah matriks dekomposisi yang disebut matriks pengganda transfer, matriks pengganda open loop, dan matriks pengganda closed loop. Secara umum matriks pengganda transfer menunjukkan dampak langsung aktivitas sebuah sektor terhadap sektor lainnya di dalam blok neraca yang sama. Matriks pengganda open loop menunjukkan dampak aktivitas sebuah sektor terhadap sektor-sektor di blok neraca lainnya. Sedangkan matriks closed loop menunjukkan dampak aktivitas sebuah sektor terhadap sektor lainnya pada blok neraca yang berbeda, untuk kemudian kembali pada blok neraca semula.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

8

Studi-Studi Terdahulu Bautista et. al (1999) melakukan pengukuran pengaruh dari tiga alternatif pembangunan industri, yaitu industri berbasis pertanian, industri pengolah makanan, dan industri ringan, terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan analisis pengganda SNSE dan computable general equilibrium (CGE) model. Analisis SNSE yang digunakan lebih difokuskan dari sisi permintaan, yang kemudian dihitung pengaruh penggandanya akibat adanya injeksi dari penerimaan eksogen terhadap sektor-sektor yang mendorong strategi pembangunan ketiga alternatif industri tersebut. Hasilnya diperoleh kesimpulan bahwa pembangunan industri yang berorientasi terhadap komoditas pertanian lebih tinggi dan signifikan pengaruhnya terhadap kenaikan riil PDB Indonesia dibandingkan dengan pembangunan industri yang berorientasi pada pengolahan makanan dan industri ringan. Selain itu distribusi pendapatan juga memiliki pengaruh terhadap kenaikan PDB dan output industri. Herliana (2004) melakukan analisis terhadap SAM (SNSE) Indonesia tahun 1999, dengan menggunakan teknik Structural Path Analysis (SPA). Hasil penelitiannya, diperoleh kesimpulan bahwa injeksi yang dilakukan terhadap sektor pertanian ternyata menunjukkan peningkatan terhadap pendapatan kelompok rumah tangga perdesaan dibandingkan jika injeksi dilakukan terhadap sektor industri olahan pertanian. Injeksi ini juga meningkatkan output di sektor pertanian yang disertai juga dengan peningkatan penggunaan faktor produksi tenaga kerja di sektor pertanian. Sementara itu Fauzi (2008), juga menggunakan analisa SNSE 2003 dalam mengkaji beberapa kebijakan di sektor pertanian dan menyimpulkan bahwa strategi pembangunan ekonomi mendatang sepatutnya diarahkan pada strategi agriculture and agroindustri based development (AABD). Beberapa temuan penting hasil penelitiannya antara lain sektor pertanian dan agroindustri menduduki peringkat teratas berdasarkan angka multiplier, sektor pertanian mempunyai efek pengganda lebih banyak tersebar kepada rumah tangga pengusaha pertanian, dan menemukan bahwa kebijakan produksi dan harga di sektor pertanian lebih baik dalam mendorong perekonomian. Selain itu, hasil penelitian Priyarsono et al. (2005) menunjukkan bahwa sektor pertanian berkontribusi besar bagi pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Sektor ini merupakan sumber pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga berpendapatan rendah. Sedangkan menurut Susilowati (2007), Pembangunan sektor agroindustri perlu dilakukan secara simultan dengan pembangunan sektor pertanian primer sehingga kinerja sektor pertanian primer dapat memenuhi tuntutan bagi pengembangan sektor agroindustri di Indonesia. Hasil penelitian terbaru, Rifai (2012) dengan menggunakan analisa SNSE 2008 menunjukkan bahwa sektor pertanian khususnya tanaman pangan memiliki kontribusi terhadap penciptaan nilai tambah dan peningkatan pendapatan rumah tangga paling tinggi dibandingkan sektor lainnya.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

9

III. METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Konseptual Penelitian Untuk memahami bagaimana sektor pertanian dapat mempengaruhi perekonomian nasional, kita memerlukan suatu perangkat analisis yang dapat menjabarkan mekanisme dampak sektor ini terhadap perekonomian secara komprehensif, dan salah satu alat analisis yang paling baik digunakan adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) yang mampu menggambarkan secara lengkap struktur perekonomian nasional, keterkaitan diantara aktivitas produksi, konsumsi barang dan jasa, tabungan dan investasi, perdagangan luar negeri, dan distribusi pendapatan. Oleh karena itu berikut disajakin kerangka konseptual yang merupakan gambaran dari peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional melalui kajian SNSE, sebagaimana terlihat pada gambar 3.1 berikut.
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Peranan Sektor Pertanian dalam Perekonomian Nasional
NERACA AKTIVITAS PRODUKSI

Sektor Industri
Konsumsi Antara
Ekspor Distribusi Pendapatan antar Sektor

Investasi

Pembelian Faktor

Barang Akhir

Pasar Komoditas
Subsidi Ekspor
Impor

Pasar Faktor Produksi
Transfer

Transfer

Rest of the World
Transfer

Kapital

Tabungan Pemerintah

Pajak tak langsung Pembayaran Pajak Subsidi

Penerimaan dari faktor produksi

Tabungan Swasta

Tabungan Rumah Tangga

Institusi Perusahaan
Transfer/ Subsidi

Institusi Pemerintah
Pembayaran Pajak

Institusi Rumah Tangga

Subsidi

Pengeluaran Konsumsi

Untuk memahami bagaimana peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional secara menyeluruh dapat dijelaskan melalui ilustrasi sederhana berikut ini (Hafizrianda, 2007). Jika sektor pertanian diberi stimulus ekonomi, maka yang pertama kali merasakan dampaknya adalah sektor pertanian itu sendiri dengan ditandai kenaikan produksi. Karena sektor ini memiliki keterkaitan dengan sektor lainnya baik backward linkage maupun forward

Studi Kasus : SNSE Indonesia

Transfer

Belanja Pemerintah

Transfer

Penjualan

Sektor Pertanian

Sektor Jasa

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

10

linkage, maka kenaikan produksi pertanian akan diikuti kenaikan permintaan intermediate input terhadap sektor industri maupun jasa. Kenaikan juga terjadi pada input primer baik tenaga kerja maupun modal. Karena input primer berasal dari rumah tangga sudah tentu berpengaruh terhadap perubahan pendapatan rumah tangga. Jadi dampaknya akan berpengaruh pada pasar faktor produksi baik itu pasar tenaga kerja, modal, maupun input antara. Kerangka Analisis Penelitian Adapun kerangka analisis yang dikembangkan oleh peneliti untuk menjawab tujuan penelitian sebagai berikut (gambar 3.2).
Gambar 3.2 Kerangka Analisis Penelitian
Latar Belakang Peran Strategis Sektor Pertanian (amanat UU), Negara Agraris dengan potensi alam yang besar dan memiliki keunggulan komparatif, Daya serap tenaga kerja yang tinggi, Adanya Indikasi penurunan kontribusi terhadap PDB Nasional walaupun terus bertumbuh setiap tahunnya, Rendahnya Produktivitas, dan Masih banyaknya permasalahan di sektor pertanian.

Permasalahan Penelitian Bagaimana kontribusi sektor pertanian dan dampak kebijakan pemerintah di sektor ini terhadap perekonomian nasional dalam hal peningkatan Nilai Tambah, Output, Pendapatan Rumah Tangga, Keterkaitan dengan Sektor lain, PDB Nasional, dan Distribusi Pendapatan serta Potensi Strategis subsektor pertanian ke depan

Tujuan Penelitian Menganalisis kontribusi sektor pertanian dan dampak kebijakan pemerintah di sektor ini terhadap perekonomian nasional dalam hal peningkatan Nilai Tambah, Output, Pendapatan Rumah Tangga, Keterkaitan dengan Sektor lain, PDB Nasional, dan Distribusi Pendapatan serta Potensi Strategis subsektor pertanian ke depan.

Analisis Struktur Perekonomian Nasional, Angka Pengganda (Multiplier), Dekomposisi, Structural Path Analysis (SPA), dan Simulasi Kebijakan Pemerintah

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Untuk mengetahui dampak sektor pertanian dan kebijakan pemerintah, peneliti menggunakan multiplier SNSE. Kelebihan multiplier ini dibandingkan metode ekonometrik adalah sifatnya yang mikro dan mampu melihat hubungan antar sektor dalam perekonomian sedangkan ekonometri bersifat makro dan agregat. Peneliti akan menggunakan SNSE 2008 sebagai dasar perhitungan multiplier ini.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

11

Dalam melakukan semua analisis tersebut, peneliti menggunakan bantuan Microsoft Excel untuk menghitung multiplier dan dekomposisi. Sedangkan untuk melakukan structural path analysis, peneliti menggunakan MATS (Matrix Accounts Transformation System). Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam analisis penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data ini berupa data Sistem Neraca Sosial Ekonomi/ Social Accounting Matrix (SNSE/SAM) Indonesia tahun 2008 dengan rincian matriks 105x105 (lihat lampiran). Tahun 2008 dipilih karena merupakan data SNSE publikasi terakhir saat ini. Kerangka Kontruksi Sistem Neraca Sosial Ekonomi SNSE Indonesia terbitan BPS belum siap untuk dijadikan alat perhitungan, karenanya masih membutuhkan modifikasi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka menyiapkan SNSE yang siap diolah dan disesuaikan dengan tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Menambahkan baris/kolom 54-77 pada neraca komoditas domestik kepada baris/kolom 28-51 neraca sektor produksi, sehingga menjadi 24 baris/kolom; Menambahkan baris/kolom margin perdagangan (baris/kolom 52) kepada baris/kolom sektor perdagangan (baris/kolom 42); Menggabungkan sektor angkutan darat (baris/kolom 45); sektor angkutan udara, air, dan telekomunikasi (baris/kolom 46); sektor jasa penunjang angkutan, dan pergudangan (baris/kolom 47); dan sektor margin pengangkutan (baris/kolom 53); Menggabungkan 24 baris/kolom pada neraca komoditas impor (baris/kolom 78-101) menjadi 1 baris/kolom saja dengan cara melakukan operasi penambahan matriks; selanjutnya baris/kolom impor ini dipindahkan dari neraca endogen ke neraca eksogen. Menggabungkan baris/kolom 1 dengan baris/kolom 3 pada neraca faktor produksi menjadi baris/kolom tenaga kerja pertanian desa; dan baris/kolom 2 dengan baris/kolom 4 pada neraca faktor produksi menjadi baris/kolom tenaga kerja pertanian kota; Menggabungkan baris/kolom 5, 7, 9, 11, 13, dan 15 pada neraca faktor produksi menjadi baris/kolom tenaga kerja non pertanian desa; dan menggabungkan baris/kolom 6, 8, 10, 12, 14, dan 16 pada neraca faktor produksi menjadi baris/kolom tenaga kerja non pertanian kota; Menggabungkan sektor produksi :  Sektor pertambangan batubara, biji logam, dan minyak bumi (baris/kolom 33) dan sektor pertambangan dan penggalian lainnya (baris/kolom 34) menjadi sektor pertambangan dan penggalian;  Sektor restoran (baris/kolom 43) dan sektor perhotelan (baris/kolom 44) menjadi sektor hotel dan restoran;

4.

5.

6.

7.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

12

 Sektor bank dan asuransi (baris/kolom 48) dan sektor real estate dan jasa perusahaan (baris/kolom 49) menjadi sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan;  Sektor pemerintahan dan pertahanan, pendidikan, kesehatan, film, dan jasa sosial lainnya (baris/kolom 50) dan sektor jasa perseorangan, rumah tangga dan jasa lainnya (baris/kolom 51) menjadi sektor jasa-jasa; Hasil akhir dari pengolahan ini adalah SNSE Indonesia tahun 2008, dengan rincian matriks 38 x 38 yang terdiri atas kelompok neraca endogen yang terbagi dalam 3 blok yaitu blok neraca faktor produksi sebanyak 5 neraca, blok neraca institusi sebanyak 10 neraca, dan blok neraca sektor produksi sebanyak 18 neraca. Sedangkan neraca eksogen terbagi dalam 5 neraca yaitu neraca impor, kapital, pajak tidak langsung, subsidi, dan luar negeri atau rest of world (ROW). Selengkapnya struktur hasil modifikasi SNSE dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Struktur hasil modifikasi Sistem Neraca Sosial Ekonomi (Matriks 38x38)
Kode SNSE 1 Pertanian 2 Tenaga Kerja FAKTOR PRODUKSI 3 Non Pertanian 4 Bukan Tenaga Kerja 5 Buruh 6 Pertanian Pengusaha 7 Golongan Bawah 8 Pedesaan Bukan Angkatan Kerja 9 Rumah Tangga Golongan Atas 10 INSTITUSI Bukan Pertanian Golongan Bawah 11 Perkotaan Bukan Angkatan Kerja 12 Golongan Atas 13 Perusahaan 14 Pemerintah 15 Pertanian Tanaman Pangan 16 Pertanian Tanaman lainnya 17 Peternakan dan hasil-hasilnya 18 Kehutanan dan Perburuan 19 Perikanan 20 Pertambangan dan Penggalian 21 Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 22 Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit 23 Industri Kayu & Barang dari kayu 24 SEKTOR PRODUKSI Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya 25 Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen 26 Listrik, Gas, dan Air Minum 27 Konstruksi 28 Perdagangan 29 Hotel & Restoran 30 Pengangkutan & Telekomunikasi 31 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 32 Jasa-jasa 33 Impor 34 Neraca Kapital 35 Pajak Tdk Langsung 36 Subsidi 37 Luar Negeri (ROW) 38 Desa Kota Desa Kota URAIAN

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

13

Aplikasi Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi Kerangka Dasar Sistem Neraca Sosial Ekonomi Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) atau Social Accounting Matrix (SAM) merupakan sebuah matriks yang merangkum neraca sosial dan ekonomi secara menyeluruh. Kumpulan neraca tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok, yakni kelompok neraca endogen dan kelompok neraca eksogen. Secara garis besar kelompok neraca endogen dibagi dalam tiga blok, yaitu blok neraca faktor produksi, blok neraca institusi, dan blok neraca kegiatan (aktivitas) produksi (Tabel 3.2).
Tabel 3.2 Kerangka Dasar SNSE
PENERIMAAN PENGELUARAN NERACA ENDOGEN NERACA EKSOGEN Faktor Produksi Institusi Sektor Produksi 0 0 T13 X1
Alokasi nilai tambah ke faktor produksi 0 Pendapatan Faktor produksi dari Luar Negeri X2 Transfer dari Luar Negeri T33 Permintaan Antara L3 Impor, pajak tidak langsung (neto) Y3 ' Input (Keluaran) X3 Ekspor & Investasi R

TOTAL Y1
Pendapatan Faktor Produksi Y2 Pendapatan Institusi Y3 Output (masukan) YX Penerimaan Luar Negeri

Faktor Produksi

NERACA ENDOGEN

Institusi

T21 Alokasi pendapatan faktor produksi ke institusi 0

T22 Transfer antar institusi T32 Permintaan Akhir

Sektor Produksi
L1 Alokasi pendapatan faktor produksi ke Luar Negeri Y1 ' Pengeluaran faktor produksi

NERACA EKSOGEN

L2 Tabungan & Transfer ke Luar Negeri Y2 ' Pengeluaran Institusi

Transfer Lainnya

TOTAL

Y X' Pengeluaran Luar Negeri

Sumber : SNSE Indonesia, 2008

Untuk mengubah bentuk tabel SNSE diatas menjadi suatu struktur model, secara skematik ditunjukkan pada tabel 3.3 berikut (Pyatt dan Round, 1979) :
Tabel 3.3 Struktur Model SNSE

PENERIMAAN NERACA EKSOGEN NERACA EKSOGEN TOTAL

PENGELUARAN NERACA ENDOGEN NERACA EKSOGEN
... (1)

TOTAL
... (3) ...(4) (5) ..(6)

X R
...(7) .... (9) .... (10)

.. .(2)

...

...(11)

...(8)
Sumber : Pyatt dan Round, 1979

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

14

X adalah matriks injeksi dari neraca eksogen. Sedangkan N adalah matriks transaksi antar blok didalam neraca endogen yang dapat ditulis sebagai berikut (mengacu pada tabel 3.2) :

, matriks N menunjukkan adanya transaksi antara neraca endogen seperti T13, T21, dan T32 dan transaksi dalam neraca sendiri yaitu T22 dan T33. Hubungan transaksi antara neraca endogen dapat digambarkan sebagai berikut (Thorbecke, 1976) :
Gambar 3.3 Hubungan antara Prinsiple SAM/SNSE Account

Production Activities T33

T32
Institution, inc household income distribution T22

T13

T21

Factors, factorial Income Distribution

(pers. 1) atau

merupakan matriks bujur sangkar yang menunjukkan kecenderungan rata-rata pengeluaran, dihitung berdasarkan perbandingan antara pengeluaran sektor j untuk sektor ke i dengan total pengeluaran ke j ( j = 1,2...n). Matriks Pengganda dan Dekomposisi Pengganda Pada model SNSE, analisis multiplier dapat dibagi dalam dua bagian besar, yaitu matriks Neraca Pengganda (Accounting multiplier) dan Pengganda Harga tetap (Fixed price multiplier). Analisis matriks pengganda SNSE pada prinsipnya sama dengan pengganda pada matriks invers Leontief dalam model Input-Output. Jika pada accounting multiplier menggunakan pendekatan rata-rata pengeluaran maka pada pengganda harga tetap menggunakan pendekatan pengeluaran marginal (expenditure propensity) berdasarkan asumsi harga konstan (Pyatt dan Round, 1979). Pada dasarnya antara matriks pengganda dan pengganda harga tetap tidak jauh berbeda.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

15

Berdasarkan tabel 3.3 pada persamaan 4, dimana operasi matematis diperoleh : ... (12) dimana merupakan matriks accounting multiplier.

dan dengan melakukan

menunjukkan pengaruh perubahan sebuah sektor terhadap sektor lainnya melalui keseluruhan sistem SNSE. Sedangkan menunjukkan pengaruh langsung dari perubahan yang terjadi pada sebuah sektor terhadap sektor yang lain. Matriks diatas dapat kita dekomposisi menjadi beberapa komponen yang menggambarkan kontribusi dari berbagai mekanisme efek yang dihasilkan dari adanya keterkaitan yang terjadi antara neraca endogen. Adapun proses dekomposisi sebagai berikut (Pyatt dan Round, 1979) : Matriks dengan diatas dapat didekomposisi menjadi matriks (: dengan ukuran yang sama

(Tabel 3.3 pers. 4) dapat ditulis kembali berdasarkan dekomposisi matriks diatas yaitu :

... (13) dengan Kalikan dengan pada kedua sisi pers.12 dan substitusikan pada sehingga diperoleh : ... (14) Dengan cara yang sama, kalikan kedua sisi pers.12 dengan (pers.14) diatas, sehingga diperoleh : dan subsitusikan pada (pers.13) diatas,

.... (15)

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

16

Dengan membandingkan hasil pers.15 dengan pers.12 menunjukkan bahwa pers.15 merupakan dekomposisi dari accounting multiplier ke dalam tiga matriks terpisah. Secara umum, untuk dekomposisi ke k, dirumuskan : , namun dalam penelitian ini peneliti memutuskan untuk menggunakan hingga dekomposisi ketiga (pers.15). Jika ; ; maka diperoleh :

atau secara aditif dapat ditulis :

Secara berurutan matriks

,

,

dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, disebut transfer multiplier, menunjukkan pengaruh dari satu blok neraca pada dirinya sendiri, dimana :

;

sehingga diperoleh :

Kedua, disebut open loop multiplier atau cross effect, menunjukkan pengaruh langsung dari satu blok neraca ke blok neraca lain, dimana : ; pada pers.13 diatas dapat ditulis :

;

dengan :

,

, ,

sehingga diperoleh :

Ketiga, disebut close loop multiplier, yang menunjukkan pengaruh dari satu blok neraca ke blok neraca lain, untuk kemudian kembali pada blok neraca semula, dimana :

merupakan matriks diagonal yang diagonal utamanya secara berurutan dari kiri atas ke kanan bawah berisi : ; ;

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

17

Structural Path Analysis (SPA) Menurut Defourny dan Thorbecke (1984) metode dekomposisi yang konvensional tidak mampu untuk menguraikan multiplier kedalam transaksi komponennya atau untuk mengidentifikasi transaksi dengan menyertakan suatu keterkaitan secara berurutan. Dekomposisi multiplier yang konvensional hanya mampu menguraikan pengarauh-pengaruh dalam dan antara nerace endogen saja. Dengan Structural path analysis (SPA) kita bisa melacak interaksi dalam suatu perekonomian yang dimulai dari suatu sektor tertentu dan berakhir pada sektor tertentu lainnya. Metode SPA mampu menunjukkan bagaimana pengaruh transmisi dari satu sektor ke sektor lainnya secara bersambungan. Didalam SPA, masing-masing elemen pada multiplier SNSE dapat didekomposisi kedalam pengaruh langsung (direct influence), total (total influence), dan global (global influence). Jadi, pada dasarnya SPA adalah sebuah metode yang dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh jaringan yang berisi jalur yang menghubungkan pengaruh suatu sektor pada sektor lainnya dalam suatu sistem sosial ekonomi. Ada beberapa cara yang ditempuh suatu sektor untuk mentransmisikan pengaruhnya ke sektor lain. Suatu sektor bisa jadi mengirimkan pengaruhnya secara langsung kepada suatu sektor, atau bisa pula mengirimkan pengaruhnya melalui sektor-sektor lain untuk kemudian sampai ke sektor tujuan. Pengaruh dari suatu sektor ke sektor lainnya tersebut dapat melalui jalur dasar (elementary path) atau sirkut (circuit). Disebut jalur dasar apabila jalur tersebut melalui sebuah sektor tidak lebih dari satu kali.Jika melalui lebih dari satu kali maka disebut sirkuit. Pengaruh Langsung Pengaruh langsung (direct influence) dari ke menunjukkan perubahan

pendapatan atau produksi disebabkan oleh perubahan satu unit , selama pendapatan atau produksi pada titik lain tidak mengalami perubahan. Pengaruh langsung dapat diukur sepanjang jalur dasar berikut : a. Pengaruh langsung dari ke sepanjang jalur dasar ( , dimana merupakan elemen dari matriks kecenderungan rata-rata pengeluaran . Matriks ini disebut matriks pengaruh langsung yang dapat diinterpretasi sebagai pengaruh langsung dari sektor ke . b. Pengaruh langsung sepanjang jalur dasar ( Misalkan, diberikan jalur dasar, berikut ini :

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

18

Gambar 3.4 Jalur dasar (elementary path)

ayx
x y

axi
i

ajy

j

dimana :

Pengaruh Total Pengaruh total dari ke adalah perubahan yang dibawa dari ke baik melalui jalur dasar maupun sirkuit yang menghubungkannya. Pengaruh total merupakan perkalian antara pengaruh langsung (ID) dan pengganda jalur path multiplier (Mp). Misalkan, diberikan jalur dasar, dan ada tambahan sirkuit (dari ke melalui dua putaran) :
Gambar 3.5 Jalur dasar (elementary path) dan tambahan sirkuit

ayx
x y

axi
i

ajy

axy axz
z
adalah pengaruh langsung dan pengaruh akibat

azy

j

Berdasarkan gambar 3.5 dari ke transmisi balik dari ke pada transmisi balik dari

yang melalui dua putaran yang menghasilan efek ke . Proses ini menghasilkan serangkaian dampened

impulse. Adapun pengaruh total sepanjang jalur p adalah :

Berdasarkan persamaan matematis diatas, sisi sebelah kanan menunjukkan adanya pengaruh langsung dan path multiplier Mp ( ). Pengaruh Global Pengaruh global dari ke mengukur keseluruhan pengaruh pada pendapatan atau produksi yang disebabkan oleh satu unit perubahan . Pengaruh global (IG) sama dengan pengaruh total (IT) sepanjang jalur dasar yang saling berhubungan pada titik dan . Pengaruh global diturunkan dari bentuk penyederhaan model SNSE sebelumnya :

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

19

Misalkan merupakan elemen dari matriks accounting multiplier , yang dapat mengaruh total dari injeksi eksogen pada variabel endogen . Sehingga : dan matriks disebut matriks pengaruh global. , ditambah sirkuit (dari dan : ke melalui dua

Misalkan, diberikan jalur dasar, putaran) dan dua buah jalur dasar dari ke

Gambar 3.6 Jalur dasar dan tambahan sirkuit serta dua jalur dasar lainnya

ayx
x y

axi axz
i

axy azy
z

ajy

j

asi
s

ajs ajv
v

avi

avv
Pengaruh global sepanjang jalur ke pada gambar 3.6 adalah :

Berdasarkan pembahasan diatas, bahwa SPA membuktikan sebagai suatu perangkat yang mampu untuk mengidentifikasi keterkaitan-keterkaitan yang paling penting didalam model SAM yang sangat kompleks. Kesulitan dalam model SAP ini adalah ketika kita ingin menghitung jalur dasar dalam jumlah yang besar, perhitungannya lebih rumit dan kompleks. Dengan menggunakan perangkat komputer, kesulitan ini dapat diatas dan diselesaikan dengan baik.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

20

Simulasi Kebijakan Simulasi kebijakan ditujukan untuk mengetahui seberapa besar dampak dari suatu peningkatan atau penurunan atas suatu permintaan terhadap suatu sektor sebagai akibat perubahan faktor eksogen (misalnya pengeluaran pemerintah, tarif, pajak, kenaikan upah dan sebagainya), sehingga terlihat kebijakan seperti apa yang paling optimal dan efektif untuk mencapai sasaran atau target yang ditetapkan. Kebijakan yang akan disimulasikan dalam model SNSE ditujukan untuk dapat melihat bagaimana dampak atau pengaruh injeksi dari kebijakan pemerintah di sektor pertanian terhadap pendapatan faktor produksi, pendapatan rumah tangga, dan pendapatan sektor produksi serta dampaknya terhadap PDB Nasional. Adapun skenario simulasi kebijakan yang akan disimulasikan terdiri dari 8 (delapan) kebijakan pemerintah, yaitu sebagai berikut : 1. Simulasi 1 : Peningkatan produksi sektor pertanian tanaman pangan. Injeksi sebesar 1 triliun. 2. Simulasi 2 : Peningkatan produksi sektor pertanian tanaman lainnya. Injeksi sebesar 1 triliun. 3. Simulasi 3 : Peningkatan produksi sektor peternakan dan hasil-hasilnya. Injeksi sebesar 1 triliun. 4. Simulasi 4 : Peningkatan produksi sektor kehutanan dan perburuan. Injeksi sebesar 1 triliun. 5. Simulasi 5 : Peningkatan produksi sektor perikanan. Injeksi sebesar 1 triliun. 6. Simulasi 6 : Pengembangan industri makanan dan minuman sebagai industri pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Injeksi sebesar 1 triliun. 7. Simulasi 7 : Subsidi harga produksi ke produsen pupuk, dikenakan injeksi sebesar 1 triliun pada sektor industri kimia, pupuk, dan hasil dari tanah liat dan semen. 8. Simulasi 8 : Pengembangan sektor perdagangan khususnya yang terkait dengan pemasaran bahan mentah maupun olahan hasil pertanian. Injeksi sebesar 1 triliun.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

21

IV. GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA Berdasarkan struktur perekonomian Indonesia (Tabel 4.1), sektor industri pengolahan menempati urutan tertinggi dalam berkontribusi pada PDB Nasional. Sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran berada pada urutan ketiga. Sektor pertanian, menempati posisi ketiga besar dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor pertanian tanaman pangan. Tingginya kontribusi sektor pertanian tanaman pangan tidak terlepas dari daya dukungnya dalam menyediakan kebutuhan esensial bagi kehidupan masyarakat maupun sebagai penyedia bahan baku industri. Secara keseluruhan, sektor pertanian menyumbang 13.20% dari total PDB Nasional tahun 2010 dengan trend kontribusi yang terus menurun setiap tahun. Namun demikian, daya serap tenaga kerja pada sektor ini sangat tinggi. Pada tahun 2010, sektor ini mampu menyerap 40.50% dari total Angkatan Kerja. Sebaliknya, sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran hanya mampu menyerap tenaga kerja masing-masing 10.80% dan 18.40%. Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur perekonomian Indonesia bersifat dualistik, dimana penyumbang terbesar pendapatan nasionalnya adalah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran, namun dari segi penyerapan tenaga kerja justru disumbangkan oleh sektor pertanian.
Tabel 4.1 PDB Atas Harga Konstan, tahun 2007 – 2010 dan Tenaga Kerja (Juta jiwa) PDB NASIONAL (%) Sektor Produksi Pertanian : a. Tanaman Pangan b. Tanaman Lainnya c. Peternakan d. Kehutanan e. Perikanan Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Bersih Industri Pengolahan Konstruksi Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDB Nasional
Sumber : BPS, Sensus Penduduk 2010

TENAGA KERJA 2010 13.20 6.50 2.00 1.70 0.70 2.20 8.90 25.80 6.50 17.30 9.40 9.60 9.40 100.00 Jumlah 43.83 26.73 12.44 2.16 0.43 2.06 3.35 11.69 5.74 19.91 5.52 1.19 16.99 108.21 % TK 40.50 24.70 11.50 2.00 0.40 1.90 3.10 10.80 5.30 18.40 5.10 1.10 15.70 100.00

2007 13.80 6.80 2.20 1.70 0.80 2.20 9.40 27.40 6.20 17.30 7.20 9.40 6.40 100.00

2008 13.70 6.80 2.20 1.70 0.80 2.20 9.00 26.80 6.30 17.50 8.00 9.50 9.30 100.00

2009 13.60 6.80 2.10 1.70 0.80 2.20 9.10 26.20 6.40 16.90 8.80 9.60 9.40 100.00

Adapun struktur perdagangan Indonesia terangkum pada tabel 4.2. Kolom pertama menunjukkan derajat kecenderungan ekspor diantara sektor produksi. Sektor industri pengolahan memiliki derajat kecenderungan ekspor lebih tinggi dibanding sektor lainnya.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

22

Berdasarkan dekomposisi sektor industri pengolahan, terlihat bahwa sektor industri pemintalan, tekstil, pakaian dan kulit menjual sekitar 19.10% dari total outputnya ke luar negeri, diikuti sektor industri kimia, pupuk, hasil dari tanah liat dan semen yang menjual sekitar 14.70% dari total outputnya, dan sektor industri kertas, percetakan, alat angkutan dan barang dari logam sebesar 12.50%. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian juga memiliki derajat kecenderungan ekspor yang tinggi dimana sekitar 17.40% dari total outputnya dijual ke luar negeri.
Tabel 4.2 Struktur Perdagangan Indonesia Sektor Produksi Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lainnya Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Listrik, Gas Dan Air Minum Industri makanan dan minuman Industri Pemintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang Dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, AlatAngkutan dan Barang Dari Logam dan Industri Industri Kimia, Pupuk, Hasil Dari Tanah Liat dan Semen Kontruksi Perdagangan, Restoran dan Perhotelan Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Xi/Yi 0.10 5.40 0.10 0.40 0.90 17.40 0.00 9.50 19.10 12.10 12.50 14.70 0.00 1.10 4.10 1.60 1.40

Mi/Yi 1.40 2.30 1.10 0.80 0.80 1.70 2.40 2.20 5.60 2.60 11.40 9.10 6.20 1.20 4.30 2.00 3.30

Ei/E 0.10 1.60 0.00 0.00 0.30 16.80 0.00 13.80 8.10 3.10 23.20 23.70 0.00 2.60 4.00 1.20 1.50

Mi/M 1.40 0.90 0.70 0.10 0.30 2.40 0.80 4.50 3.50 1.00 30.30 21.40 14.90 4.40 6.10 2.20 5.10

Sebaliknya, sektor pertanian memiliki derajat kecenderungan ekspor yang relatif rendah, yaitu berkisar 0.10-5.40%, artinya dari seluruh jumlah output yang dihasilkan sektor pertanian, hanya 0.10-5.40% yang diekspor sedangkan sisanya (94.60-99.90%) dipasok untuk kebutuhan di dalam negeri. Derajat kecenderungan ekspor di sektor pertanian, tertinggi adalah sektor pertanian tanaman lainnya yang menjual sekitar 5.40% dari total outputnya ke luar negeri sedangkan terendah adalah sektor pertanian tanaman pangan dan sektor peternakan dan hasil-hasilnya yang masing-masing menjual sekitar 0.10% dari total outputnya ke luar negeri. Ini berarti peranan sektor pertanian, khususnya sektor pertanian tanaman pangan dan sektor peternakan dan hasil-hasilnya, dalam kegiatan perekonomian domestik cenderung lebih besar dibandingkan dengan sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan dan penggalian yang lebih mengutamakan outputnya untuk ekspor.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

23

Pada sisi impor (kolom kedua), sektor pertanian merupakan sektor yang relatif rendah derajat kecenderungan impornya yaitu berkisar antara 0.80-2.30%. Ini berarti bahwa sektor pertanian hanya menggunakan input impor sekitar 0.80-2.30% dari seluruh input yang dipakai. Dari nilai ini dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian memiliki pengaruh lebih besar terhadap kenaikan produksi domestik dibandingkan sektor industri pengolahan. Besarnya ekspor impor dalam perdagangan internasional berpengaruh besar terhadap kondisi cadangan devisa negara Indonesia. Kondisi ini ditunjukkan oleh nilai pada kolom 3 dan 4. Pada kolom 3, menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan memiliki peranan penting dalam pemasukan devisa, dimana kontribusi terbesar berasal dari industri kimia, pupuk, hasil dari tanah liat dan semen (23.70%) dan industri kertas, percetakan, alat angkutan dan barang dari logam (23.20%) dari total ekspornya. Sedangkan sektor pertanian relatif rendah peranannya dalam pemasukan devisa negara. Namun, dengan melihat besarnya peranan sektor industri makanan, minuman, dan tembakau terhadap cadangan devisa (13.80%), menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah pada produk hasil pertanian akan berpengaruh pada kualitas ekspor (nilai tambah) pada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau. Sedangkan kolom 4, menunjukkan besarnya devisa yang digunakan oleh masing-masing sektor dalam perdagangan internasional. Sektor industri kertas, percetakan, alat angkutan dan barang dari logam nampak menggunakan devisa negara paling besar (30.30%), diikuti oleh industri kimia, pupuk, hasil dari tanah liat dan semen (21.40%) dan sektor Perdagangan, Restoran dan Perhotelan (14.90%). Artinya, jika komponen impor Indonesia pada sektor-sektor ini lebih besar dibandingkan eskpornya maka sektor-sektor ini justru membuat devisa negara berkurang cukup signifikan. Sedangkan sektor pertanian juga secara relatif rendah (0.10-1.40%) dalam penggunaan input impor sehingga penggunaan devisa oleh sektor ini cukup rendah. Selain itu, kandungan impor yang rendah pada sektor industri makanan, minuman dan tembakau menunjukkan potensi yang besar bagi produksi domestik sektor pertanian untuk lebih didayagunakan sebagai komponen utama dalam produksi di sektor industri ini.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

24

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Pengganda (Multiplier) Salah satu jenis analisis umum yang dapat digunakan untuk menganalisis keterkaitan antar variabel Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) adalah analisis pengganda. Analisis ini mencoba melihat dampak yang akan terjadi terhadap variabel-variabel endogen tertentu apabila terjadi perubahan pada neraca eksogen, seperti terjadinya peningkatan produktivitas di sektor pangan, adanya ekspansi ekspor di sektor industri atau adanya peningkatan transfer pendapatan dari pemerintah kepada kelompok rumah tangga yang berpendapatan rendah. Dalam penelitian ini akan digunakan empat jenis nilai pengganda, yaitu pengganda nilai tambah (value added multiplier), pengganda produksi (production multiplier), pengganda rumah tangga (household income multiplier),dan pengganda keterkaitan dengan sektor lain (other-sectoral lingkages multiplier). Tabel 5.1 berisi hasil perhitungan nilai pengganda tersebut untuk masing-masing sektor produksi.
Tabel 5.1. Koefisien Pengganda SNSE Indonesia tahun 2008 Nilai Output Rumah Sektor produksi Tambah Bruto Tangga Pertanian Tanaman Pangan 2.10 8.16 1.75 Pertanian Tanaman Lainnya Peternakan dan Hasil-Hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu dan Barang dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Industri Lainnya Industri Kimia, Hasil dari Tanah Liat, Semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Keterkaitan 4.53 4.18 4.15 3.93 4.05 3.71 3.83 3.41 3.80 2.96 3.27 3.62 3.25 3.99 4.21 3.57 3.76 4.04

1.92 1.89 1.76 1.81 1.62 1.74 1.53 1.71 1.33 1.46 1.58 1.45 1.82 1.93 1.61 1.66 1.85

7.71 8.69 6.82 7.38 5.66 8.25 7.31 7.84 6.46 6.20 5.54 6.77 8.57 8.68 7.06 6.20 7.40

1.53 1.49 1.26 1.31 1.03 1.34 1.11 1.26 0.96 1.00 0.97 1.03 1.44 1.54 1.19 1.10 1.47

Hasil analisis pengganda terhadap SNSE Indonesia tahun 2008 menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap nilai tambah cukup tinggi dibandingkan sektor lainnya. Bahkan kontribusi sektor tanaman pangan terhadap penciptaan nilai tambah dalam

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

25

perekonomian Indonesia merupakan yang paling tinggi, yang diindikasikan melalui angka pengganda nilai tambah terbesar yaitu 2.10 diikuti sektor hotel dan restoran (1.93), dan sektor pertanian tanaman lainnya (1.92). Besaran nilai tambah pada sektor pertanian khususnya pada sektor tanaman pangan memberi makna apabila sektor ini diinjeksi sebanyak Rp.1 miliar akan memberikan dampak terhadap kenaikan penerimaan tenaga kerja dan modal sebesar Rp.2.10 miliar. Arti yang sama juga berlaku untuk nilai-nilai pengganda sektor pertanian lainnya ataupun sektor nonpertanian. Angka pengganda produksi pada sektor pertanian tertinggi terjadi pada sektor pertanian – peternakan dan hasil-hasilnya. Kontribusi sektor ini terhadap output produksi nasional mencapai tertinggi dibandingkan sektor lainnya. Sedangkan sektor pertanian terbesar berikutnya adalah sektor tanaman pangan. Angka pengganda pada sektor peternakan dan hasil-hasilnya sebesar 8.69. Nilai ini menggambarkan jika ada injeksi pada sektor ini sebesar Rp.1 milyar, maka diperkirakan penerimaan total produksi dalam perekonomian akan bertambah sebesar Rp. 8.69 milyar, yang terdistribusi pada perubahan pendapatan sektor sendiri sebesar Rp.3.63 milyar dan pendapatan sektor-sektor produksi lain sebesar Rp. 5.06 milyar. Arti yang sama juga berlaku untuk nilai pengganda sektor-sektor yang lain. Sektor produksi lain yang memiliki angka penganda produksi yang tinggi adalah sektor pertanian tanaman pangan (8.16), hotel dan restoran (8.68), dan sektor perdagangan (8.57). Seperti halnya agka pengganda pada nilai tambah, sektor pertanian juga memiliki angka pengganda rumah tangga yang paling tinggi, khususnya pada sektor tanaman pangan yang mencapai 1.75, yang dapat diartikan bila dilakukan injeksi pada neraca eksogen di sektor pertanian tanaman pangan sebesar Rp.1 miliar akan berdampak pada kenaikan penerimaan rumah tangga sebesar Rp.1.75 miliar. Sektor yang juga memiliki angka pengganda rumah tangga cukup tinggi adalah sektor pertanian tanaman lainnya (1.53) dan sektor hotel dan restoran (1.53). Selanjutnya, berdasarkan angka pengganda tingkat keterkaitan suatu sektor produksi dengan sektor produksi lainnya. Sektor pertanian memiliki tingkat keterkaitan yang tinggi dengan sektor pendukung lainnya (backward linkage) dengan angka pengganda terbesar terjadi pada sektor pertanian tanaman pangan, yaitu sebesar 4.53. Sektor produksi lain yang juga memiliki tingkat keterkaitan yang juga tinggi adalah sektor hotel dan restoran (4.21). Angka pengganda pada sektor tanaman pangan menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikan neraca eksogen di sektor ini sebesar sebesar Rp.1 miliar maka penerimaan pada sektor-sektor produksi yang lain juga akan meningkat sebesar Rp. 4.53 miliar. Arti yang sama juga berlaku untuk nilai-nilai pengganda sektor-sektor yang lain. Dampak pembangunan sektoral terhadap nilai tambah pada Tabel 5.1 dapat dirinci lebih lanjut pada tabel 5.2 berikut.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

26

Tabel 5.2. Dampak Peningkatan Pendapatan Sektoral terhadap Nilai Tambah TK TK TK Non TK Non Sektor Produksi Petani Petani Modal Tani Desa Tani Kota Desa Kota Pertanian Tanaman Pangan 0.80 0.10 0.19 0.41 0.59 Pertanian Tanaman Lainnya Peternakan dan HasilHasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu dan Barang dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat Angkutan dan Barang dari Logam dan Industri Lainnya Industri Kimia, Hasil dari Tanah Liat, Semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa 0.63 0.47 0.31 0.31 0.12 0.35 0.15 0.17 0.07 0.07 0.07 0.09 0.02 0.05 0.02 0.03 0.18 0.21 0.18 0.18 0.17 0.22 0.19 0.28 0.38 0.45 0.36 0.39 0.33 0.45 0.46 0.47 0.65 0.69 0.84 0.85 0.99 0.68 0.71 0.76

Nilai Tambah 2.10 1.92 1.89 1.76 1.81 1.62 1.74 1.53 1.71

0.11

0.02

0.17

0.40

0.63

1.33

0.13 0.12 0.13 0.17 0.33 0.15 0.13 0.21

0.02 0.02 0.02 0.03 0.05 0.02 0.02 0.03

0.17 0.13 0.21 0.31 0.26 0.23 0.14 0.28

0.37 0.31 0.39 0.67 0.63 0.51 0.44 0.68

0.76 1.01 0.71 0.65 0.65 0.70 0.93 0.64

1.46 1.58 1.45 1.82 1.93 1.61 1.66 1.85

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.2, secara umum sektor pertanian tanaman pangan memiliki dampak yang paling besar terhadap faktor produksi tenaga kerja dibanding sektor lainnya yakni sebesar 2.10. Pada sektor ini, faktor produksi tenaga kerja pertanian yang menerima pendapatan terbesar dari investasi di sektor pertanian tanaman pangan adalah tenaga kerja petani perdesaan dengan angka pengganda sebesar 0.80, sedangkan petani perkotaan memiliki angka pengganda sebesar 0.01. Selain pengaruh terbesar pada tenaga kerja pertanian pedesaan, pengaruh besar lainnya adalah terhadap faktor modal. Ini menunjukkan bahwa penerimaan di sektor ini sebagian besar juga terserap pada pemiliki modal. Jika sektor tanaman pangan sebesar Rp.1 miliar maka pendapatan tenaga kerja petani perdesaan akan meningkat sebesar Rp.797 juta, petani perkotaan meningkat sebesar Rp. 99 juta, dan modal meningkat sebesar Rp.590 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

27

pertanian tanaman pangan lebih bersifat pada karya. Sebaliknya, pada sektor pertanian lainnya lebih bersifat pada modal (ditunjukkan oleh angka multiplier yang lebih tinggi). Sektor yang bersifat pada modal juga terjadi pada sektor industri dan jasa. Sedangkan dampak pembangunan sektoral terhadap pendapatan rumah tangga pada Tabel 5.1 dapat dirinci lebih lanjut dalam kelompok-kelompok rumah tangga seperti pada tabel 5.3 berikut.
Tabel 5.3. Dampak Peningkatan Pendapatan Sektoral terhadap Penerimaan Rumah tangga Sektor Produksi Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman Lainnya Peternakan dan HasilHasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu dan Barang dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Industri Lainnya Industri Kimia, Hasil dari Tanah Liat, Semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Buruh Tani 0.12 0.10 0.09 0.07 0.08 0.04 0.07 0.05 0.05 Pengusaha Tani 0.58 0.48 0.40 0.31 0.31 0.19 0.32 0.20 0.24 Gol Bwh Desa 0.18 0.17 0.17 0.15 0.15 0.13 0.16 0.13 0.17 BAK di Desa 0.10 0.09 0.08 0.06 0.06 0.05 0.07 0.05 0.06 Gol Atas Desa 0.25 0.22 0.20 0.17 0.17 0.14 0.18 0.13 0.17 Gol Bwh Kota 0.20 0.19 0.22 0.19 0.21 0.19 0.21 0.21 0.22 BAK di Kota 0.07 0.07 0.08 0.07 0.07 0.07 0.07 0.07 0.08 Gol Atas Kota 0.25 0.23 0.26 0.23 0.25 0.23 0.26 0.26 0.27

0.04

0.17

0.11

0.04

0.11

0.19

0.06

0.23

0.04 0.04 0.04 0.06 0.07 0.05 0.05 0.06

0.19 0.18 0.19 0.25 0.33 0.21 0.20 0.26

0.13 0.12 0.14 0.18 0.18 0.15 0.12 0.17

0.04 0.04 0.05 0.06 0.07 0.05 0.04 0.06

0.13 0.13 0.13 0.17 0.19 0.14 0.13 0.17

0.19 0.18 0.19 0.29 0.28 0.23 0.22 0.29

0.06 0.06 0.07 0.10 0.09 0.08 0.08 0.10

0.22 0.22 0.23 0.34 0.33 0.28 0.27 0.35

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Terlihat bahwa yang lebih banyak menikmati surplus pendapatan dari peningkatan produksi sektor pertanian adalah para pengusaha pertanian atau petani pemilik modal ketimbang buruh tani. Pada sektor pertanian tanaman pangan misalnya, nilai pengganda pengusaha pertanian sebesar 0.58, sedangkan buruh tani hanya sebesar 0.12. Arti dari nilai tersebut adalah jika dilakukan injeksi pendapatan sebesar Rp.1 miliar di sektor pertanian tanaman

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

28

pangan maka pendapatan rumah tangga pengusaha pertanian akan meningkat sebesar Rp.582 juta sedangkan buruh tani hanya meningkat sebesar Rp.117 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberpihakan sektor pertanian tanaman pangan terhadap buruh tani masih sangat rendah. Surplus tenaga kerja pertanian tanaman pangan tidak tersalurkan dengan baik ke pendapatan rumah tangga buruh tani itu sendiri. Di samping itu, nampak bahwa selama ini posisi tawar buruh tani dalam pasar pertanian masih lemah. Akibatnya, investasi di sektor pertanian khususnya tanaman pangan dengan sendirinya akan berdampak paling besar ke rumah tangga pengusaha pertanian. Hal yang sama juga terjadi pada sektor-sektor pertanian lainnya yang sebagian besar pendapatan disektor ini terserap pada pengusaha pertanian. Sedangkan pada sektor agro industri, daya serap pendapatan selain masuk ke pengusaha pertanian juga masuk pada rumah tangga bukan pertanian yaitu golongan bawah dan atas di perkotaan. Kerangka SNSE dapat juga diaplikasikan untuk menganalisis dampak langsung maupun tidak langsung akibat adanya injeksi pada variabel eksogen terhadap kelompok rumah tangga yang berbeda dengan penekanan pada sisi permintaan (demand side). Peningkatan permintaan di sektor produksi akibat adanya injeksi pendapatan sebesar satu satuan unit pada setiap kelompok rumah tangga terangkum dalam nilai pengganda pada Tabel 5.4. Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa peranan kelompok rumah tangga pertanian terhadap peningkatan produksi sektoral khusunya pada sektor pertanian jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok rumah tangga bukan pertanian.
Tabel 5.4. Pola Konsumsi Rumah tangga untuk Keseluruhan Sektor Sektor Produksi Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman Lainnya Peternakan dan HasilHasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Industri Lainnya Buruh Tani 0.71 0.18 0.35 0.02 0.25 0.11 1.19 0.16 0.06 Pgusaha Tani 0.59 0.15 0.31 0.02 0.22 0.11 0.99 0.15 0.05 Gol Bwh Desa 0.57 0.16 0.35 0.02 0.25 0.13 1.01 0.18 0.07 BAK di Desa 0.50 0.14 0.31 0.01 0.21 0.12 0.88 0.16 0.04 Gol Atas Desa 0.44 0.13 0.28 0.02 0.20 0.11 0.83 0.13 0.06 Gol Bwh Desa 0.54 0.15 0.34 0.02 0.22 0.13 1.01 0.16 0.06 BAK di Kota 0.46 0.13 0.29 0.01 0.21 0.11 0.87 0.13 0.04 Gol Atas Kota 0.41 0.12 0.26 0.01 0.19 0.11 0.80 0.13 0.05

0.48

0.47

0.52

0.48

0.47

0.58

0.52

0.52

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

29

Industri Kimia, Hasil dari Tanah Liat, Semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa

0.47 0.06 0.06 0.97 0.21 0.46 0.36 0.67

0.42 0.06 0.05 0.84 0.25 0.47 0.34 0.56

0.53 0.07 0.06 0.91 0.27 0.50 0.40 0.64

0.50 0.07 0.05 0.80 0.31 0.44 0.32 0.56

0.45 0.06 0.05 0.74 0.27 0.44 0.34 0.49

0.50 0.07 0.06 0.88 0.32 0.50 0.41 0.66

0.46 0.06 0.05 0.77 0.27 0.42 0.32 0.48

0.42 0.07 0.05 0.72 0.27 0.43 0.35 0.53

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Adanya injeksi pendapatan pada kelompok rumah tangga, terutama pada kelompok rumah tangga buruh tani, kelompok pengusaha, dan kelompok rumah tangga bukan pertanian untuk golongan bawah, akan memberikan dampak permintaan terbesar pada produk sektor industri makanan dan minuman (0.92-1.13). Sedangkan dampak pada produk sektor pertanian tanaman pangan cukup relatif lebih rendah yaitu berkisar 0.53-0.60. Sedangkan dampak terhadap permintaan produk sektor pertanian lainnya sangat rendah. Ini dapat dijelaskan, karena sektor tanaman pangan berkaitan dengan konsumsi rumah tangga secara langsung (seperti sandang dan pangan, bahkan dengan menggunakan proses pengolahan yang cukup sederhana), sedangkan sektor pertanian lainnya lebih banyak digunakan sebagai bahan baku industri (agro industri). Kondisi ini juga mendorong alasan mengapa tingkat permintaan pada sektor industri makanan dan minuman cukup besar. Pengaruh lainnya akibat permintaan rumah tangga ini adalah meningkatnya permintaan pada sektor perdagangan yang tidak lepas dari interaksi konsumsi rumah tangga akan output sektor agro industri dan produk pertanian primer. Tabel 5.4 menunjukkan bahwa adanya peningkatan pendapatan sebesar Rp.1 miliar yang diinjeksikan pada kelompok rumah tangga akan meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk produk industri makanan dan minuman sebesar Rp.0.92-1.13 miliar, sedangkan pada produk pertanian, khususnya tanaman pangan hanya berdampak pada peningkatan konsumsi sektor ini sebesar Rp.0.53-0.67 milyar. Sebagaimana diketahui sebelumnya, sektor pertanian tanaman pangan memiliki tingkat keterkaitan yang tinggi dengan sektor lainnya (backward lingkage). Sektor ini memiliki angka pengganda sebesar 4.53 (tabel 4.1). Hal ini berarti apabila terjadi kenaikan neraca eksogen di sektor pertanian tanaman pangan sebesar Rp.1 miliar maka penerimaan pada sektorsektor produksi yang lain akan meningkat sebesar Rp.4.53 miliar, dimana lebih banyak diserap oleh sektor perdagangan yaitu sebesar Rp.1.27 miliar, sektor industri makanan dan minuman sebesar Rp.830 juta, industri kimia, pupuk, hasil dari tanah liat dan semen sebesar Rp.510 juta.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

30

Besarnya peningkatan yang diserap oleh ketiga sektor tersebut menggambarkan keterkaitan yang kuat antara sektor pertanian khususnya tanaman pangan dengan sektor perdagangan, sektor industri makanan dan minuman, dan sektor industri kimia, hasil dari tanah liat dan semen baik melalui permintaan input maupun melalui penawaran output. Keterkaitan dengan sektor perdagangan terutama dalam hal kegiatan perdagangan meliputi pengumpulan hasil pertanian dan mendistribusikannya kepada konsumen, sektor industri makanan dan minuman dalam hal penyediaan bahan baku industri, sedangkan sektor industri kimia,pupuk, hasil dari tanah liat dan semen melalui penyediaan sarana produksi seperti pupuk dan pestisida. Uraian selengkapnya dapat kita lihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5. Keterkaitan Sektor Pertanian dengan Sektor Produksi lainnya Pengganda Deskripsi Sektor 1 Sektor 2 Sektor 3 Sektor 4 Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lain Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa 0.17 0.33 0.01 0.19 0.12 0.83 0.13 0.05 0.44 0.51 0.07 0.06 1.27 0.23 0.50 0.38 0.52 0.41 0.27 0.02 0.17 0.14 0.73 0.12 0.05 0.43 0.63 0.06 0.10 0.91 0.20 0.45 0.39 0.49 0.52 0.17 0.01 0.18 0.11 1.12 0.12 0.05 0.41 0.44 0.07 0.07 1.55 0.21 0.51 0.39 0.48 0.33 0.16 0.19 0.13 0.10 0.58 0.10 0.04 0.46 0.38 0.05 0.09 0.97 0.18 0.43 0.32 0.45

Sektor 5 0.36 0.11 0.20 0.01 0.10 0.68 0.10 0.04 0.38 0.43 0.06 0.06 1.36 0.19 0.43 0.35 0.44

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan : Sektor 1 (Pertanian Tanaman Pangan), Sektor 2 (Pertanian Tanaman lainnya), Sektor 3 (Peternakan dan hasilhasilnya), Sektor 4 (Kehutanan dan Perburuan), dan Sektor 5 (Perikanan).

Berdasarkan hasil analisis diatas, bahwa sektor pertanian yang memberikan andil besar terhadap nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga dan PDB Nasional adalah sektor pertanian tanaman pangan. Sektor ini memiliki nilai pengganda yang besar dibandingkan dengan sektor pertanian lainnya bahkan dengan sektor non-pertanian sekalipun. Sektor ini

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

31

memiliki keterkaitan yang cukup besar dengan sektor lainnya (backward linkage) seperti sektor agro industri yaitu Industri makanan, minuman dan tembakau, sektor Industri kertas Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya, dan Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen. Artinya, injeksi pemerintah pada sektor tanaman pangan maupun pada sektor agro industri akan lebih mendorong nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga dan PDB Nasional secara menyeluruh. Dekomposisi Pengganda Sektor Pertanian Koefisien pengganda, Ma, adalah nilai yang menunjukkan besarnya pengaruh global yang ditransmisikan dari suatu sektor terhadap sektor lain akibat adanya injeksi yang ditujukan pada suatu sektor. Pengaruh global ini tidak terjadi begitu saja melalui nilai pengganda Ma, melainkan terjadi melalui banyak tahapan. Tahapan-tahapan pengaruh tersebut dapat ditunjukkan secara jelas proses serta keterkaitannya dengan menggunakan dekomposisi pengganda (Herliana, 2004). Dekomposisi pengganda membagi nilai pengganda menjadi tiga komponen yang memberikan makna secara ekonomi (bentuk aditif), yaitu: (1) pengganda transfer (Ma1 – I), yang menggambarkan dampak pengganda neto yang dialami sekumpulan neraca tertentu akibat adanya tambahan transfer dari neraca eksogen terhadap neraca tersebut; (2) pengganda silang atau open loop [(Ma2 – I) Ma1], yang menangkap dampak silang (cross effect) antar neraca yang berbeda; (3) pengganda closed-loop [(Ma3 – I) Ma2.Ma1], yang menjelaskan dampak pengganda dari adanya aliran neraca eksogen pada neraca endogen dan kemudian kembali ke neraca semula. Pada penelitian ini, analisis dekomposisi pengganda difokuskan hanya pada sektor pertanian ketika injeksi kebijakan (eksogen) dilakukan pada sektor ini. Adapun analisa dekomposisi pengganda pada masing-masing sektor pertanian berikut ini.
Tabel 5.6. Dekomposisi Pengganda Sektor Pertanian Tanaman Pangan Dampak Injeksi Terhadap Neraca Lain RT Buruh Tani RT Pengusaha Pertanian RT Bukan Pertanian Pedesaan Golongan Bawah RT Bukan Pertanian Pedesaan Golongan Bukan Angkatan Kerja RT Bukan Pertanian Pedesaan Golongan Atas RT Bukan Pertanian Perkotaan Golongan Bawah RT Bukan Pertanian Perkotaan Golongan Bukan Angkatan Kerja RT Bukan Pertanian Perkotaan Golongan Atas TK Pertanian TK Nonpertanian Pertanian Tanaman Pangan 1 0.88 I Ma1-I (Ma2I)Ma1 0.07 0.38 0.08 0.06 0.14 0.05 0.02 0.06 0.65 0.14 (Ma3I)Ma2Ma1 0.05 0.21 0.10 0.04 0.11 0.15 0.05 0.18 0.24 0.47 0.46 Ma 0.12 0.58 0.18 0.10 0.25 0.20 0.07 0.25 0.90 0.61 2.34

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

32

Pertanian Tanaman Lainnya Peternakan Dan Hasil-Hasilnya Kehutanan Dan Perburuan Perikanan Pertambangan Dan Penggalian Industri Makanan, Minuman Dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian Dan Kulit Industri Kayu & Barang Dari Kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat Angkutan Dan Barang Dari Logam Dan Industri Lainnya Industri Kimia, Hasil Dari Tanah Liat, Semen Listrik, Gas, Dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Total Produksi
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

0.05 0.06 0.00 0.00 0.03 0.02 0.01 0.00 0.03 0.13 0.01 0.02 0.57 0.01 0.11 0.08 0.03 1 2.03

0.12 0.26 0.01 0.19 0.10 0.81 0.13 0.05 0.42 0.38 0.06 0.04 0.70 0.22 0.39 0.30 0.49 5.14

0.17 0.33 0.01 0.19 0.12 0.83 0.13 0.05 0.44 0.51 0.07 0.06 1.27 0.23 0.50 0.38 0.52 8.16

Berdasarkan Tabel 5.6, adanya injeksi pada sektor pertanian tanaman pangan akan berdampak besar pada peningkatan penghasilan rumah tangga pengusaha dengan nilai pengganda sebesar 0.58. Angka pengganda ini, 0.38 berasal dari kontribusi dampak pengganda silang dan 0.21 berasal dari dampak pengganda closed-loop. Berdasarkan nilai tambah, injeksi pada sektor ini berdampak besar pada tenaga kerja pertanian. Sedangkan pengaruhnya pada sektor lain, sangat terasa pada sektor perdagangan dengan angka pengganda mencapai 0.57. Sedangkan dampak pengganda close-loop, lebih besar yaitu 0.70. Artinya, pengaruh injeksi pada sektor pertanian dapat mendorong sektor perdagangan dan sektor perdagangan kemudian mendorong lebih jauh peningkatan output sektor pertanian itu sendiri. Pengaruh seluruh sektor (backward linkage) pada sektor pertanian tanaman pangan dapat dilihat pada besarnya angka pengganda close-loop yang mencapai 5.14 sedangkan pengaruh langsung pada sektor pertanian tanaman pangan sendiri hanya mencapai 2.03.
Tabel 5.7. Dekomposisi Pengganda Sektor Sektor Pertanian Tanaman Lainnya Dampak Injeksi Terhadap Neraca Lain RT buruh tani RT pengusaha pertanian RT bukan pertanian pedesaan golongan bawah RT bukan pertanian pedesaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian pedesaan golongan atas I Ma1-I (Ma2I)Ma1 0.06 0.30 0.08 0.05 0.12 (Ma3I)Ma2Ma1 0.04 0.18 0.09 0.04 0.10 Ma 0.10 0.48 0.17 0.09 0.22

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

33

RT bukan pertanian perkotaan golongan bawah RT bukan pertanian perkotaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian perkotaan golongan atas TK pertanian TK nonpertanian Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lainnya Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total produksi
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

0.05 0.02 0.07 0.49 0.14 0.01 1 1.04 0.04 0.00 0.00 0.06 0.02 0.01 0.01 0.06 0.29 0.01 0.06 0.30 0.01 0.10 0.13 0.05 1 2.19

0.13 0.05 0.16 0.21 0.41 0.40 0.11 0.23 0.01 0.16 0.08 0.71 0.11 0.04 0.37 0.34 0.05 0.04 0.61 0.20 0.35 0.26 0.44 4.52

0.19 0.07 0.23 0.70 0.56 0.41 2.15 0.27 0.02 0.17 0.14 0.73 0.12 0.05 0.43 0.63 0.06 0.10 0.91 0.20 0.45 0.39 0.49 7.71

Tabel 5.7 menunjukkan kondisi yang sama dengan sektor pertanian tanaman pangan sebelumnya. Dimana injeksi pada sektor ini akan berdampak besar terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga pengusaha pertanian dan rumah tangga bukan pertanian dari golongan atas di pedesaan dibandingkan buruh tani itu sendiri. Adanya injeksi pada sektor ini secara langsung akan meningkatkan output sektor lebih tinggi yaitu mencapai 1.04 kali. Dampak ini jauh lebih tinggi dibandingkan dampak injeksi sektor pertanian tanaman pangan terhadap dirinya sendiri. Pengaruh pada sektor lainnya, cukup besar dirasakan pada sektor perdagangan dan sektor industri kimia dan hasil dari tanah liat, semen. Sedangkan dampak keterkaitan dengan sektor lain juga cukup besar pengaruhnya pada output sektor ini walapun tidak sebesar sektor pertanian tanaman pangan.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

34

Tabel 5.8. Dekomposisi Pengganda Sektor Sektor Peternakan dan hasil-hasilnya Dampak Injeksi Terhadap Neraca Lain RT buruh tani RT pengusaha pertanian RT bukan pertanian pedesaan golongan bawah RT bukan pertanian pedesaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian pedesaan golongan atas RT bukan pertanian perkotaan golongan bawah RT bukan pertanian perkotaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian perkotaan golongan atas TK pertanian TK nonpertanian Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lainnya Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa total produksi
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

I

Ma1-I

(Ma2I)Ma1 0.05 0.23 0.08 0.04 0.10 0.09 0.03 0.11 0.34 0.26

(Ma3I)Ma2Ma1 0.04 0.18 0.09 0.04 0.10 0.13 0.05 0.16 0.20 0.41 0.38 0.10 0.22 0.01 0.16 0.08 0.68 0.11 0.04 0.37 0.33 0.05 0.04 0.60 0.19 0.34 0.26 0.44 4.40

Ma 0.09 0.40 0.17 0.08 0.20 0.22 0.08 0.26 0.54 0.66 0.52 0.17 2.29 0.01 0.18 0.11 1.12 0.12 0.05 0.41 0.44 0.07 0.07 1.56 0.21 0.51 0.39 0.48 8.69

0.14 0.06 1 1.07 0.00 0.02 0.03 0.44 0.01 0.01 0.05 0.11 0.02 0.03 0.96 0.01 0.17 0.13 0.05 1 3.29

Tabel 5.8 menunjukkan bahwa sektor peternakan dan hasil-hasilnya juga memberikan peningkatan pendapatan besar pada pengusaha pertanian dan rumah tangga bukan pertanian dari golongan atas di perkotaan. Injeksi pada sektor ini dapat meningkatkan output yang lebih besar dengan angka pengganda mencapai 1.07. sektor ini berpengaruh besar pada sektor perdagangan dan sektor industri makanan dan minuman. Berdasarkan keterkaitan dengan faktor lain, ternyata memberikan pengaruh yang tidak jauh berbeda

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

35

dampak injeksi pada sektor ini terhadap dirinya maupun melalui pengaruh sektor lain yang kemudian mempengaruhi sektor ini (closed-loop multiplier).
Tabel 5.9. Dekomposisi Pengganda Sektor Kehutanan dan Perburuan Dampak Injeksi Terhadap Neraca Lain RT buruh tani RT pengusaha pertanian RT bukan pertanian pedesaan golongan bawah RT bukan pertanian pedesaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian pedesaan golongan atas RT bukan pertanian perkotaan golongan bawah RT bukan pertanian perkotaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian perkotaan golongan atas TK pertanian TK nonpertanian Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lainnya Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total produksi
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

I

Ma1-I

(Ma2I)Ma1 0.04 0.16 0.07 0.03 0.09 0.08 0.03 0.10 0.21 0.19

(Ma3I)Ma2Ma1 0.03 0.15 0.08 0.03 0.08 0.11 0.04 0.14 0.17 0.35 0.32 0.09 0.19 0.01 0.13 0.07 0.57 0.09 0.03 0.32 0.29 0.04 0.04 0.50 0.17 0.29 0.22 0.39 3.77

Ma 0.07 0.31 0.15 0.06 0.17 0.19 0.07 0.24 0.38 0.54 0.32 0.16 0.19 1.86 0.13 0.10 0.58 0.10 0.04 0.47 0.38 0.05 0.09 0.96 0.18 0.43 0.32 0.44 6.82

0.00 0.07 0.00 1 0.85 0.00 0.03 0.01 0.01 0.01 0.15 0.09 0.01 0.05 0.46 0.01 0.14 0.10 0.05 1 2.05

Berdasarkan Tabel 5.9, injeksi pada sektor ini hanya meningkatkan output sebesar 0.85 atau lebih rendah dibandingkan tiga sektor pertanian sebelumnya. Injeksi sektor ini sebagian besar mempengaruhi sektor perdagangan dan sektor industri kertas, percetakan, alat angkutan dan barang dari logam dan industri lainnya.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

36

Tabel 5.10. Dekomposisi Pengganda Sektor Perikanan Dampak Injeksi Terhadap Neraca Lain RT buruh tani RT pengusaha pertanian RT bukan pertanian pedesaan golongan bawah RT bukan pertanian pedesaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian pedesaan golongan atas RT bukan pertanian perkotaan golongan bawah RT bukan pertanian perkotaan golongan bukan angkatan kerja RT bukan pertanian perkotaan golongan atas TK pertanian TK nonpertanian Pertanian Tanaman Pangan Pertanian Tanaman lainnya Peternakan dan hasil-hasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa total produksi
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

I

Ma1-I

(Ma2I)Ma1 0.05 0.16 0.07 0.03 0.08 0.09 0.03 0.11 0.22 0.20

(Ma3I)Ma2Ma1 0.03 0.15 0.08 0.03 0.09 0.12 0.04 0.14 0.18 0.36 0.33 0.09 0.20 0.01 0.14 0.07 0.60 0.09 0.04 0.33 0.30 0.04 0.04 0.52 0.17 0.30 0.23 0.41 3.91

Ma 0.08 0.31 0.15 0.06 0.17 0.21 0.07 0.25 0.40 0.56 0.36 0.11 0.20 0.01 2.06 0.10 0.68 0.10 0.04 0.38 0.43 0.06 0.06 1.36 0.19 0.43 0.35 0.44 7.38

0.03 0.02 0.01 0.00 1 0.93 0.03 0.09 0.01 0.01 0.06 0.13 0.02 0.03 0.84 0.01 0.13 0.12 0.03 1 2.47

Sektor perikanan merupakan sektor terakhir dari komponen sektor pertanian primer. Seperti halnya sektor pertanian lainnya, injeksi pada sektor ini akan sebagian besar akan meningkatkan penghasilan rumah tangga pengusaha pertanian dibandingkan buruh tani. Peningkatan penghasilan buruh tani, dibandingkan sektor lainnya cukup rendah. Ini menunjukkan bahwa usaha pertanian di sektor perikanan lebih banyak menguntungkan para pemiliki modal baik dari kalangan pengusaha pertanian maupun bukan pertanian dari golongan atas di perkotaan. Berdasarkan keterkaitan sektor, sektor perikanan dapat

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

37

mendorong meningkatnya output sektor perdagangan dan sektor industri kimia dan hasil dari tanah liat, semen, serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Berdasarkan tabel dekomposisi diatas pada seluruh sektor pertanian, multiplier terhadap rumah tangga pengusaha dan golongan atas mendapatkan porsi yang besar. Sedangkan pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan buruh tani walaupun meningkat namun dengan porsi yang kecil. Ini menunjukkan bahwa pembangunan sektor pertanian lebih banyak menguntungkan pengusaha dan golongan atas pemilik modal dibandingkan buruh tani itu sendiri. Selain itu, melalui teknik dekomposisi kita juga bisa mengindentifikasi pengaruh injeksi pada suatu sektor dan sektor lainnya. Pada injeksi yang dilakukan pada sektor pertanian, dampaknya akan dirasakan segera pada sektor yang bersangkutan namun dengan daya respons yang berbeda-beda antar sektor pertanian. Misalkan pada sektor pertanian tanaman lainnya dan peternakan. Injeksi Rp.1 miliar akan menciptakan output diatas Rp.1 miliar pada sektor ini dan tentunya pengaruh sektor lain karena backward linkage akan memberikan pengaruh yang jauh lebih besar. Selain itu, dampak injeksi juga berpengaruh dalam mendorong sektor yang lain. Berdasarkan analisis dekomposisi, injeksi pada sektor pertanian akan memberikan stimulus yang cukup besar dalam mendorong sektor lain khususnya sektor perdagangan dan agro industri (industri makanan, minuman dan tembakau, industri kertas, dan industri kimia). Analisis Jalur Struktural (Structural Path Analysis) Structural path analysis (SPA) dapat menjelaskan bagaimana alur dampak itu terjadi dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain. Melalui SPA kita dapat melakukan identifikasi seluruh jaringan yang berisi jalur yang menghubungkan pengaruh suatu sektor pada sektor lainnya dalam suatu sistem sosial ekonomi. Pengaruh dari suatu sektor ke sektor lainnya dapat melalui sebuah jalur dasar (elementary path) atau sirkuit (circuit). Selain itu, pengaruh yang diukur bukan hanya mencakup pengaruh langsung, namun juga pengaruh tidak langsung, pengaruh total dan pengaruh global. Dalam menganalisis sektor pertanian dalam perekonomian nasional digunakan perangkat lunak MATS (matrix account transformation system) yang mampu menghasilkan perhitungan sangat lengkap. Namun, tidak semua output hasil perhitungan MATS ditampilkan dalam pembahasan ini, mengingat banyak sekali jalur yang telah diukur. Peneliti hanya berfokus pada transmisi sektor pertanian terhadap nilai tambah, pendapatan rumah tangga, dan dalam mendorong sektor lainnya. Dalam menganalisis SPA, peneliti menggunakan angka persentase pengaruh global (GE) sebagai patokan untuk melakukan pembahasan SPA. Hal ini karena GE sudah memuat keseluruhan hasil pengukuran SPA yaitu diperoleh dengan menghitung persentase dari pengaruh total terhadap pengaruh global. Sementara pengaruh total diperoleh dari hasil perkalian antara pengaruh langsung (direct effect) dengan path multiplier. Dengan demikian, persentase GE telah mencakup seluruh perhitungan dari analisis SPA ini.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

38

Gambar 5.1 Jalur dasar Sektor Pertanian Tanaman Pangan ke Faktor Produksi
0.302
TK Pertanian Desa

94.4%

0.035
TK Pertanian Kota

0.005
Pertanian Tanaman Pangan

84.0%

0.050 0.090
Perdagangan TK Non Pertanian Desa

20.4%

0.009 0.020

0.099

TK Non Pertanian Kota

20.7%

Bukan Tenaga Kerja

9.5%

Berdasarkan Gambar 5.1 Tenaga Kerja Pertanian di desa menerima pengaruh global paling tinggi dari sektor pertanian tanaman pangan dibandingkan faktor produksi lainnya yakni sebesar 0.798 yang sama dengan nilai multiplier-nya (Tabel 5.11). Pengaruh langsung yang diterima faktor produksi ini dari setiap kenaikan neraca eksogen di sektor pertanian tanaman pangan adalah sekitar 0.302 atau sekitar 94.4%. Sedangkan bukan tenaga kerja, menerima transmisi efek multiplier terkuat kedua yaitu sebesar 0.594. Pengaruh langsung terhadap faktor produksi ini mencapai 0.020.
Tabel 5.11 Pengaruh Global, Pengaruh Langsung, dan Pengaruh Total pada Sektor Pertanian Tanaman Pangan ke Faktor Produksi Jalur Awal 16 Jalur Tujuan 1 2 3 4 5 Pengaruh Global 0.798 0.099 0.191 0.414 0.594 Jalur Dasar 16, 1 16, 2 16, 29, 3 16, 29, 4 16, 5 Pengaruh Langsung 0.302 0.035 0.005 0.009 0.020 Pengganda Jalur 2.489 2.371 8.663 9.597 2.800 Pengaruh Total 0.752 0.083 0.039 0.086 0.056 % GE 94.4 84.0 20.4 20.7 9.5

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan : (16) Sektor Pertanian Tanaman Pangan, (1) TK Pertanian di Desa, (2) TK Pertanian di Kota, (3) TK NonPertanian di Desa, (4) TK Non-Pertanian di Kota, dan (5) Bukan Tenaga Kerja

SPA mencoba menguraikan sebaran efek yang ditimbukan oleh dampak injeksi sektor pertanian tanaman pangan ke faktor produksi Tenaga Kerja Pertanian di Desa sebagai berikut (Tabel 5.12).

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

39

Tabel 5.12 Jalur Dasar Sektor Pertanian Tanaman Pangan ke TK Pertanian di Desa Jalur 16, 1 16, 17, 1 16, 18, 1 Pengaruh Global 0.798 Pengaruh Langsung 0.302 0.002 0.002 Pengganda Jalur 2.489 5.153 5.355 Pengaruh Total 0.752 0.013 0.010 % GE 94.4 1.6 1.2

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan : (16) Sektor Pertanian Tanaman Pangan, (17) Pertanian Tanaman Lainnya, (18) Peternakan dan hasil-hasilnya, dam (1) TK Pertanian di Desa.

Tabel 5.12 menjelaskan bahwa jalur dasar Sektor Pertanian Tanaman Pangan juga melalui sektor pertanian lainnya yaitu sektor Tanaman lainnya dan Peternakan. Pengaruh total sektor ini mencapai 0.752 atau 94.4% dari Pengaruh global terjadi pada jalur dasar langsung dari sektor pertanian tanaman pangan ke TK Pertanian di Desa. Adapun transmisi efek dari sektor pertanian lainnya terhadap faktor produksi (nilai tambah) dapat dilihat pada Tabel 5.13 berikut ini.
Tabel 5.13 Pengaruh Global, Pengaruh Langsung, dan Pengaruh Total pada Sektor Pertanian lainnya ke Faktor Produksi Jalur Jalur Pengaruh Pengaruh Pengganda Pengaruh Jalur Dasar % GE Awal Tujuan Global Langsung Jalur Total 17 1 0.632 17, 1 0.215 2.602 0.560 88.6 2 0.073 17, 2 0.022 2.221 0.048 66.5 3 0.183 17, 3 0.009 2.492 0.023 12.8 4 0.376 17, 29, 4 0.003 9.368 0.032 8.4 5 0.652 17, 5 0.053 2.652 0.140 21.5 18 1 0.470 18, 1 0.115 2.722 0.312 66.4 2 0.073 18, 2 0.020 2.352 0.046 62.8 3 0.215 18, 29, 3 0.006 8.631 0.054 25.0 4 0.450 18, 29, 4 0.012 9.615 0.118 26.3 5 0.685 18, 5 0.062 2.775 0.172 25.1 19 1 0.312 19, 1 0.079 2.330 0.184 59.0 2 0.066 19, 2 0.023 1.933 0.044 66.9 3 0.184 19, 3 0.019 2.180 0.041 22.4 4 0.355 19, 29, 4 0.007 8.271 0.059 16.7 5 0.843 19, 5 0.214 2.327 0.497 59.0 20 1 0.309 20, 1 0.074 2.519 0.186 60.1 2 0.091 20, 2 0.035 2.123 0.073 80.9 3 0.177 20, 29, 3 0.007 7.934 0.053 30.1 4 0.387 20, 29, 4 0.013 8.855 0.118 30.4 5 0.851 20, 5 0.197 2.507 0.495 58.1
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan : (17) Pertanian Tanaman lainnya, (18) Peternakan dan hasil-hasilnya, (19) Kehutanan dan Perburuan, (20) Perikanan, (1) TK Pertanian di Desa, (2) TK Pertanian di Kota, (3) TK Non-Pertanian di Desa, (4) TK NonPertanian di Kota, dan (5) Bukan Tenaga Kerja

Berdasarkan efek multiplier dari seluruh sektor pertanian, pengaruh terbesar pada faktor produksi (nilai tambah) terjadi pada faktor produksi TK Pertanian di Desa dan Bukan Tenaga Kerja. Besarnya daya serap nilai tambah pada tenaga kerja Pertanian di desa menunjukkan

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

40

bahwa peningkatan pembangunan di sektor ini berkontribusi dalam menambah pendapatan secara langsung pada petani sehingga petani semakin sejahtera. Namun, perlu dilihat juga bahwa pembangunan di sektor ini juga memberikan keuntungan yang besar pada bukan tenaga kerja yaitu pemilik modal. Ini disebabkan karena kondisi lahan pertanian yang sebagian besar dikuasai oleh para pemilik modal (Rahardi, 2006). Sedangkan hasil analisis SPA berdasarkan jalur transmisi dari sektor pertanian ke pendapatan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 5.14 berikut ini.
Tabel 5.14 Pengaruh Global, Pengaruh Langsung, dan Pengaruh Total pada Sektor Pertanian ke Pendapatan Rumah Tangga Jalur Jalur Pengaruh Pengaruh Pengganda Pengaruh Jalur Dasar % GE Awal Tujuan Global Langsung Jalur Total 16 6 0.118 16, 1, 6 0.020 2.547 0.051 43.8 7 0.583 16, 1, 7 0.172 2.657 0.458 78.5 8 0.183 16, 1, 8 0.026 2.691 0.070 38.0 9 0.101 16, 1, 9 0.026 2.539 0.067 66.0 10 0.249 16, 1, 10 0.058 2.637 0.152 61.1 11 0.201 16, 29, 4, 11 0.003 9.822 0.031 15.7 12 0.072 16, 29, 4, 12 0.001 9.674 0.010 14.0 13 0.246 16, 29, 4, 13 0.004 9.834 0.037 15.1 17 6 0.096 17, 1, 6 0.014 2.686 0.039 40.2 7 0.481 17, 1, 7 0.123 2.805 0.344 71.5 8 0.168 17, 1, 8 0.018 2.832 0.052 31.1 9 0.087 17, 1, 9 0.019 2.659 0.050 57.3 10 0.218 17, 1, 10 0.041 2.768 0.114 52.0 11 0.187 17, 29, 4, 11 0.001 9.620 0.012 6.2 12 0.067 17, 2, 12 0.002 2.332 0.003 5.2 13 0.229 17, 29, 4, 13 0.001 9.633 0.014 6.0 18 6 0.088 18, 1, 6 0.008 2.802 0.021 24.4 7 0.401 18, 1, 7 0.065 2.917 0.191 47.5 8 0.169 18, 1, 8 0.010 2.942 0.029 17.1 9 0.077 18, 1, 9 0.010 2.777 0.028 36.2 10 0.200 18, 1, 10 0.022 2.881 0.063 31.6 11 0.216 18, 29, 4, 11 0.004 9.859 0.044 20.1 12 0.076 18, 29, 4, 12 0.001 9.700 0.014 18.2 13 0.263 18, 29, 4, 13 0.005 9.872 0.052 19.6 19 6 0.074 19, 2, 6 0.008 2.022 0.017 23.1 7 0.308 19, 1, 7 0.045 2.519 0.114 36.9 8 0.149 19, 5, 8 0.008 2.524 0.020 13.3 9 0.063 19, 1, 9 0.007 2.382 0.016 26.3 10 0.169 19, 1, 10 0.015 2.483 0.037 22.1 11 0.191 19, 5, 11 0.011 2.623 0.030 15.5 12 0.069 19, 5, 12 0.005 2.407 0.011 16.0 13 0.235 19, 5, 13 0.017 2.611 0.043 18.5 20 6 0.084 20, 2, 6 0.013 2.211 0.028 33.8 7 0.314 20, 1, 7 0.042 2.701 0.113 36.1 8 0.146 20, 29, 3, 8 0.003 8.222 0.024 16.1 9 0.062 20, 1, 9 0.006 2.570 0.017 26.7 10 0.167 20, 1, 10 0.014 2.669 0.038 22.5 11 0.205 20, 29, 4, 11 0.005 9.078 0.043 21.1 12 0.074 20, 29, 4, 12 0.002 8.931 0.014 18.6 13 0.254 20, 29, 4, 13 0.006 9.086 0.051 20.2

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

41

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan : (16) Sektor Pertanian Tanaman Pangan, (17), (17) Pertanian Tanaman lainnya, (18) Peternakan dan hasilhasilnya, (19) Kehutanan dan Perburuan, (20) Perikanan, (29) Perdangan, (1) TK Pertanian di Desa, (2) TK Pertanian di Kota, (3) TK Non-Pertanian di Desa, (4) TK Non-Pertanian di Kota, (5) Bukan Tenaga Kerja, (6) Buruh Pertanian, (7) Pengusaha Pertanian, (8) Golongan Bawah di Desa, (9) Bukan Angkatan Kerja di Desa, (10) Golongan Atas di Desa, (11) Golongan Bawah di Kota, (12) Bukan Angkatan Kerja di Kota, (13) Golongan Atas di Kota.

Berdasarkan Tabel 5.14 diatas, efek multiplier seluruh sektor pertanian ke rumah tangga memiliki pengaruh kuat pada rumah tangga pengusaha dan golongan atas di Kota. Ini menunjukkan bahwa pembangunan di sektor ini lebih banyak dinikmati oleh para pengusaha atau pemilik modal. Misalkan, adanya peningkatan penerimaan di sektor pertanian pangan hanya berdampak 11.8% pada peningkatan pendapatan rumah tangga buruh tani, sedangkan dampak terhadap pendapatan rumah tangga pengusaha mencapai 58.3%. Kondisi ini menunjukkan bahwa terjadi ketidakseimbangan distribusi pendapatan rumah tangga di Indonesia. Hasil analisis ini memberikan kesimpulan yang sama dengan analisis dekomposisi multiplier. Adapun analisis berdasarkan jalur dasar dari setiap sektor pertanian terhadap rumah tangga berikut ini.
Gambar 5.2 Jalur dasar Sektor Pertanian Tanaman Pangan ke Rumah Tangga
0.020 0.067 0.032
TK Pertanian di Desa Buruh Pertanian

43.8%

0.570
Pertanian Tanaman Pangan

Pengusaha Pertanian

78.5%

0.172 0.026 0.026

0.085
Golongan Bawah di Desa

38.0%

0.087
BAK di Desa

0.090 0.191
Perdagangan

66.0%

0.058 0.003
Golongan Atas di Desa

61.1%

0.099 0.001
TK Non-Pertanian di Kota

0.004 0.424
Golongan Atas di Kota

15.7%

0.116
BAK di Kota

0.359

Golongan Bawah di Kota

14.0%

15.1%

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

42

Gambar 5.2 menunjukkan bahwa transmisi sektor pertanian tanaman pangan ke rumah tangga melalui TK pertanian di Desa dan TK non-pertanian di Kota. Dimana, variabel TK pertanian di Desa menjadi perantara rumah tangga di Desa (buruh tani hingga golongan atas). Sedangkan TK non-pertanian di Kota menjadi perantara bagi jalur rumah tangga di Kota. Berbeda dengan jalur ke rumah tangga di Desa, jalur ke rumah tangga di Kota sebelum mencapai tenaga kerja non-pertanian, jalur ini melalui sektor perdagangan terlebih dahulu. Berdasarkan analisis jalur dasar, pengaruh langsung terbesar pada transmisi sektor pertanian tanaman pangan ke rumah tangga terjadi pada pengusaha yakni sebesar 0.172 sedangkan buruh tani hanya menerima 0.020. Hal ini jelas bahwa penerimaan rumah tangga dari sektor pertanian tanaman pangan masih dinikmati oleh para pengusaha atau pemilik modal di sektor pertanian. Berikut transmisi jalur dari keterkaitan sektor pertanian dengan sektor lainnya (backward linkage) berdasarkan efek multiplier terbesar pada output sektor pertanian dan selanjutnya pada pendapatan rumah tangga. Ada tiga sektor pendukung yang dapat mendorong sektor pertanian untuk terus bertumbuh dan meningkatkan pendapatan rumah tangga yaitu sektor Industri makanan dan minuman, Sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen, dan Sektor perdagangan (Tabel 5.15).
Tabel 5.15 Pengaruh Global, Pengaruh Langsung, dan Pengaruh Total pada Sektor Industri Makanan dan Minuman, Sektor Industri Kimia, hasil dari tanah liat, semen, dan Sektor Perdagangan ke pendapatan Rumah Tangga Jalur Jalur Pengaruh Pengaruh Pengganda Pengaruh Jalur Dasar % GE Awal Tujuan Global Langsung Jalur Total 22 6 0.070 22, 16, 2, 6 0.002 5.997 0.013 18.8 7 0.324 22, 16, 1, 7 0.019 6.166 0.115 35.5 8 0.159 22, 3, 8 0.009 3.061 0.028 17.4 9 0.066 22, 16, 1, 9 0.003 5.992 0.017 26.0 10 0.176 22, 16, 1, 10 0.006 6.148 0.038 21.8 11 0.213 22, 4, 11 0.012 3.408 0.042 19.8 12 0.074 22, 4, 12 0.004 3.358 0.013 18.2 13 0.257 22, 4, 13 0.015 3.411 0.050 19.4 26 6 0.043 26, 5, 14, 15, 6 0.001 3.686 0.004 9.9 7 0.188 26, 5, 7 0.008 3.066 0.026 13.6 8 0.125 26, 3, 8 0.010 2.629 0.026 20.7 9 0.044 26, 5, 9 0.002 2.704 0.006 14.2 10 0.127 26, 5, 10 0.009 2.793 0.025 19.7 11 0.186 26, 4, 11 0.017 2.986 0.049 26.6 12 0.065 26, 4, 12 0.005 2.935 0.016 24.3 13 0.225 26, 4, 13 0.020 2.990 0.059 26.1 29 6 0.056 29, 4, 6 0.002 4.624 0.009 15.7 7 0.246 29, 4, 7 0.008 5.123 0.039 16.0 8 0.181 29, 3, 8 0.021 4.138 0.088 48.7 9 0.059 29, 3, 9 0.005 4.067 0.020 33.7 10 0.169 29, 3, 10 0.016 4.180 0.066 38.9 11 0.287 29, 4, 11 0.036 4.581 0.163 56.7 12 0.097 29, 4, 12 0.012 4.499 0.052 53.2 13 0.342 29, 4, 13 0.042 4.588 0.193 56.2
Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah) Keterangan :

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

43

(22) Industri Makanan, Minuman dan Tembakau, (26) Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen, (29) Perdagangan, (16) Pertanian Tanaman Pangan , (14) Perusahaan, (15) Pemerintah, (1) TK Pertanian di Desa, (2) TK Pertanian di Kota, (3) TK Non-Pertanian di Desa, (4) TK Non-Pertanian di Kota, (5) Bukan Tenaga Kerja, (6) Buruh Pertanian, (7) Pengusaha Pertanian, (8) Golongan Bawah di Desa, (9) Bukan Angkatan Kerja di Desa, (10) Golongan Atas di Desa, (11) Golongan Bawah di Kota, (12) Bukan Angkatan Kerja di Kota, (13) Golongan Atas di Kota.

Berdasarkan Tabel 5.15, menunjukkan bahwa sektor Industri makanan dan minuman, memiliki pengaruh terbesar pada rumah tangga pengusaha dengan pengaruh global sebesar 0.324. Pengaruh langsung sektor ini pada penghasilan rumah tangga sebesar 0.019 yang dapat dijelaskan melalui jalur dasar 22,16,1,7. Sektor industri makan dan minum memberi pengaruh global paling rendah pada pendapatan rumah tangga buruh tani yakni sebesar 0.070 dengan pengaruh lansung 0.002. Pengaruh langsung ini melalui jalur 22,16,2,6. Berdasarkan jalur dasar hasil transmisi sektor industri makanan dan minimum ke rumah tangga, menunjukkan bahwa transmisi ini juga mendorong peningkatan sektor pertanian tanaman pangan sebelum akhirnya berujung pada peningkatan penghasilan rumah tangga. Pada jalur transmisi sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat dan semen pada rumah tangga terlihat bahwa rumah tangga golongan atas di kota menerima pengaruh global paling besar yaitu sebesar 0,225 dengan pengaruh langsung sebesar 0,020 yang dihasilkan melalui jalur dasar (26,4,13). Sektor ini juga memberikan pengaruh pada peningkatan pendapatan buruh tani namun pengaruhnya sangat kecil yakni sebesar 0.043 dengan pengaruh langsung sebesar 0,001 melalui jalur dasar (26,5,14,15,6). Berdasarkan transmisi ini, sebelum mencapai rumah tangga buruh tani transmisi di sektor ini juga melalui institusi swasta dan pemerintah. Kondisi ini tidak terlepas pada subsidi pupuk yang dilakukan pemerintah pada swasta sehingga petani dapat menjangkau pupuk dengan harga yang relatif terjangkau dan pada akhirnya dapat meningkatkan penghasilan buruh tani. Sektor industri ini sebagian besar berpengaruh langsung pada faktor produksi (nilai tambah) khususnya pada pendapatan rumah tangga non-pertanian di Kota. Sedangkan pengaruhnya dalam mendorong sektor pertanian dan kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga pertanian cukup rendah. Seperti halnya sektor industri kimia, transmisi sektor perdagangan pada rumah tangga juga sebagian besar terjadi pada rumah tangga non-pertanian di Kota. Sedangkan pengaruhnya pada sektor pertanian dan pendapatan rumah tangga petani cukup rendah. Dari hasil analisis SPA diatas, peneliti dapat mengidentifikasi transmisi pengaruh dari sektor pertanian ke nilai tambah (faktor produksi) dan pendapatan rumah tangga. Walaupun pengaruh terbesar banyak diserap oleh rumah tangga pengusaha namun buruh tani tetap memperoleh pengaruh walau dengan proporsi yang jauh lebih kecil. Disamping itu, dengan melakukan trace backward multiplier terdapat indikasi adanya pengaruh dari sektor lain terhadap output pertanian yaitu sektor Industri makanan dan minuman. Sektor ini mempengaruhi pendapatan rumah tangga, dengan terlebih dahulu mendorong peningkatan

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

44

pendapatan sektor pertanian tanaman pangan. Sedangkan sektor industri kimia dan perdagangan mempengaruhi pendapatan rumah tangga pertanian secara langsung melalui penggunaan faktor produksi. Pengaruh sektor ini dalam mendorong sektor pertanian dan selanjutnya meningkatkan pendapatan rumah tangga pertanian cukup rendah. Untuk mengetahui dampak ketiga sektor ini terhadap sektor pertanian dalam meningkatkan nilai tambah, pendapatan rumah tangga, output dan PBD Nasional dilakukan melalui teknik simulasi berupa injeksi kebijakan pemerintah dalam meningkatkan sektor pertanian. Hasil simulasi Kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan Sektor Pertanian Berikut adalah hasil simulasi dampak kebijakan Pemerintah terhadap sektor pertanian melalui injeksi pada sektor pertanian secara langsung dan sektor terkait dengan sektor pertanian (berdasarkan analisis matriks dekomposisi SNSE dan jalur struktural (SPA). Dimana simulasi dilakukan dengan 8 (delapan) skenario kebijakan pemerintah, yaitu : 1. Simulasi 1 : Peningkatan produksi sektor pertanian tanaman pangan. Injeksi sebesar 1 triliun. 2. Simulasi 2 : Peningkatan produksi sektor pertanian tanaman lainnya. Injeksi sebesar 1 triliun. 3. Simulasi 3 : Peningkatan produksi sektor peternakan dan hasil-hasilnya. Injeksi sebesar 1 triliun. 4. Simulasi 4 : Peningkatan produksi sektor kehutanan dan perburuan. Injeksi sebesar 1 triliun. 5. Simulasi 5 : Peningkatan produksi sektor perikanan. Injeksi sebesar 1 triliun. 6. Simulasi 6 : Pengembangan industri makanan, minuman, dan tembakau sebagai industri pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Injeksi sebesar 1 triliun. 7. Simulasi 7 : Subsidi harga produksi ke produsen pupuk, dikenakan injeksi sebesar 1 triliun pada sektor industri kimia, pupuk, dan hasil dari tanah liat dan semen. 8. Simulasi 8 : Pengembangan sektor perdagangan khususnya yang terkait dengan pemasaran bahan mentah maupun olahan hasil pertanian. Injeksi sebesar 1 triliun.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

45

Adapun hasil simulasi dari delapan skenario kebijakan pemerintah di sektor pertanian, adalah sebagai berikut : 1. Dampak Kebijakan Pemerintah di Sektor Pertanian terhadap Peningkatan Pendapatan Faktor Produksi (Nilai Tambah). Pada Gambar 5.3, merupakan nilai awal dan distribusi dari pendapatan faktor produksi (Nilai Tambah). Dari total Rp.5,156,935.21 miliar nilai tambah, terdapat 47.79% terkonsentrasi pada faktor modal sedangkan tenaga kerja pertanian hanya memperoleh 11.53%.
Gambar 5.3 Nilai awal dan Distribusi Pendapatan Faktor Produksi (Nilai Tambah)
3,000,000 2,500,000 47.79% 60.00% 50.00%

2,000,000
1,500,000 1,000,000 27.53%

40.00%
30.00% 20.00%

13.15% 10.07% 1.46%

500,000
-

10.00%
0.00%

TK Pertanian TK Pertanian di Desa di Kota

TK-Non Pertanian di Desa

TK-Non Pertanian di Kota % Dist

Kapital

Rp Miliar

Adapun berdasarkan simulasi kebijakan yang dilakukan, diperoleh peningkatan nilai tambah (%) pada masing-masing faktor produksi sebagai berikut (Gambar 5.4)
Gambar 5.4 Simulasi Dampak Kebijakan terhadap Peningkatan Nilai Tambah
0.18%
0.16% Sim-1 0.14% 0.12% 0.10% 0.08% 0.06% 0.04% 0.02% 0.00% TK Pertanian di TK Pertanian di Desa Kota TK-Non Pertanian di Desa TK-Non Pertanian di Kota Kapital Sim-2 Sim-3 Sim-4 Sim-5 Sim-6 Sim-7 Sim-8

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

46

Gambar 5.4 menunjukkan bahwa seluruh simulasi kebijakan dapat meningkatkan pendapatan faktor produksi (nilai tambah) khususnya pada faktor produksi tenaga kerja pertanian. Kebijakan pemerintah di sektor tanaman pangan merupakan penyumbang terbesar dalam peningkatan nilai tambah pertanian. Sedangkan kebijakan di sektor tanaman lainnya berada diposisi kedua dalam meningkatkan nilai tambah pertanian di desa. Sedangkan pertanian di kota, posisi kedua justru ditempati oleh hasil kebijakan di sektor perikanan. Hasil simulasi kebijakan di sektor industri makanan, minuman, dan tembakau juga berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah tenaga kerja pertanian. Ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki hubungan yang kuat dalam mendorong sektor petanian yaitu dengan memberikan dampak peningkatan pendapatan tenaga kerja pertanian. Namun demikian, pengaruh kebijakan dalam meningkatkan pendapatan tenaga kerja pertanian masih lebih rendah dibandingkan kebijakan pemerintah secara langsung di sektor pertanian. Kondisi ini menggambarkan bahwa pengembangan sektor industri makanan, minuman dan tembakau di Indonesia belum mampu mentransfer keuntungan yang lebih baik terhadap perubahan pendapatan tenaga kerja pertanian. Hal yang sama juga dirasakan pada kebijakan pemerintah di sektor industri kimia maupun perdagangan. Pada sektor perdagangan, justru kebijakan pemerintah lebih menguntungkan tenaga kerja non-pertanian. Ini dapat dilihat pada prosentase peningkatan pendapatan tenaga kerja non-pertanian yang lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja pertanian. 2. Dampak Kebijakan Pemerintah di Sektor Pertanian terhadap Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga. Pada Gambar 5.5, merupakan nilai awal dan distribusi dari pendapatan rumah tangga. Dari total Rp.3,826,444.58 miliar Pendapatan Rumah Tangga, terdapat 21.64% ada di golongan atas perkotaan dan 19.12% ada di tangan pengusaha pertanian. Sedangkan buruh tani hanya memperoleh 4.62% dari total pendapatan rumah tangga.
Gambar 5.5 Nilai awal dan Distribusi Pendapatan Rumah Tangga
900,000 800,000 19.12% 21.64% 18.57% 25.00% 20.00% 15.00% 10.00%

700,000
600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 12.92%

12.24%

4.62%

4.53%

6.37% 5.00% 0.00%

100,000
Buruh Pengusaha Golongan Pertanian Pertanian Bawah di Desa Bukan Angkatan Kerja di Desa Rp Miliar Golongan Golongan Atas di Bawah di Desa Kota % Dist Bukan Angkatan Kerja di Kota Golongan Atas di Kota

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

47

Adapun berdasarkan simulasi kebijakan yang dilakukan, diperoleh peningkatan pendapatan (%) pada masing-masing rumah tangga sebagai berikut (Gambar 5.6)
Gambar 5.6 Simulasi Dampak Kebijakan terhadap Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga
0.09%
0.08%

Sim-1
0.07% 0.06% 0.05% 0.04% 0.03% 0.02% 0.01% 0.00% Buruh Pertanian Pengusaha Pertanian Golongan Bukan Golongan Golongan Bukan Golongan Bawah di Angkatan Atas di Desa Bawah di Angkatan Atas di Kota Desa Kerja di Desa Kota Kerja di Kota Sim-2 Sim-3 Sim-4 Sim-5 Sim-6 Sim-7 Sim-8

Gambar 5.6 menunjukkan bahwa seluruh simulasi kebijakan dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga. Kebijakan pemerintah di sektor pertanian tanaman pangan memberikan kontribusi terbesar dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga pertanian. Sedangkan kebijakan di sektor pertanian tanaman lainnya dan peternakan juga memberikan pengaruh yang cukup besar. Namun demikian, kebijakan pada tiga sektor pertanian ini lebih banyak dinikmati oleh pengusaha pertanian dibandingkan buruh tani sendiri. Hampir seluruh hasil simulasi mengarah pada peningkatan pendapatan yang lebih tinggi pada pengusaha pertanian. Kecuali hasil kebijakan pemerintah di sektor perdagangan yang lebih banyak meningkatkan pendapatan rumah tangga non-pertanian di perkotaan. Artinya, rumah tangga pertanian lebih pada proses pengolahan dan penjualan langsung ke konsumen pertama yang sebagian besar terdiri dari para tenaga kerja perkotaan. Mereka memperoleh banyak keuntungan dalam perdagangan dengan memanfaatkan jalur distribusi atau melalui pembelian yang murah pada petani. Untuk itu, pemerintah harus dapat melindungi petani melalui penetapan harga dasar atau memaksimalkan peran badan usaha pemerintah (BULOG) dalam mengakomodasi hasil pertanian. Setidaknya, melalui kebijakan pada tiga sektor ini dapat meningkatkan pendapatan buruh tani dengan tingkat kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga lainnya diluar pengusaha pertanian. Hal ini sesuai dengan hasil riset terdahulu, bahwa kebijakan di sektor pertanian sangat efektif untuk mengurangi kemiskinan, walaupun kaum miskin sendiri menikmati manfaat yang lebih sedikit dari pertumbuhan pertanian (Norton, 2004).

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

48

3. Dampak Kebijakan Pemerintah di Sektor Pertanian terhadap Peningkatan Pendapatan Sektor Produksi (Output Sektor). Pada Gambar 5.7, merupakan nilai awal dan distribusi dari pendapatan sektor produksi (output produksi). Dari total Rp.22,959,018.57 miliar Pendapatan sektor produksi, hanya 11.47% yang berasal dari sektor pertanian. Sedangkan kontribusi terbesar pada pendapatan sektor produksi berasal dari sektor industri pengolahan dan perdagangan.
Gambar 5.7 Nilai awal dan Distribusi Pendapatan Sektor Produksi (Output)
3,500,000 3,000,000 2,500,000 2,000,000 1,500,000 1,000,000 500,000
-

16.00% 11.96% 10.47% 12.91% 10.73%
14.00%

9.41% 6.24% 4.55% 2.69% 1.85% 1.87% 0.51%

12.00% 10.00% 6.78% 8.00% 6.42% 6.00% 4.88%

2.74% 1.68%

2.88%
1.44%

4.00% 2.00%
0.00%

Rp Miliar

% Dist

Adapun berdasarkan simulasi kebijakan yang dilakukan, diperoleh peningkatan pendapatan (%) pada masing-masing sektor produksi sebagai berikut (Tabel 5.16).
Tabel 5.16 Simulasi Dampak Kebijakan terhadap Peningkatan Pendapatan Sektor Produksi Sektor Produksi Tanaman Pangan Tanaman lainnya Peternakan dan hasilhasilnya Kehutanan dan Perburuan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Permintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Industri Kayu & Barang dari kayu Sim-1 0.22% 0.04% 0.05% 0.01% 0.04% 0.01% 0.04% 0.02% 0.01% Sim-2 0.04% 0.51% 0.04% 0.01% 0.04% 0.01% 0.03% 0.02% 0.01% Sim-3 0.05% 0.04% 0.37% 0.01% 0.04% 0.01% 0.05% 0.02% 0.01% Sim-4 0.03% 0.04% 0.03% 1.60% 0.03% 0.01% 0.03% 0.02% 0.01% Sim-5 0.03% 0.03% 0.03% 0.01% 0.48% 0.01% 0.03% 0.02% 0.01% Sim-6 0.07% 0.07% 0.04% 0.01% 0.06% 0.01% 0.13% 0.02% 0.01% Sim-7 0.02% 0.03% 0.03% 0.01% 0.02% 0.03% 0.02% 0.01% 0.01% Sim-8 0.03% 0.03% 0.04% 0.01% 0.04% 0.01% 0.03% 0.02% 0.01%

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

49

Industri Kertas, Percetakan, Alat angkutan dan Barang dari logam dan industri lainnya Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen Listrik, Gas, dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total

0.02%

0.02%

0.01%

0.02%

0.01%

0.01%

0.01%

0.02%

0.02% 0.02% 0.00% 0.04% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.04%

0.03% 0.02% 0.00% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03%

0.02% 0.02% 0.00% 0.05% 0.03% 0.03% 0.04% 0.03% 0.04%

0.02% 0.02% 0.00% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03%

0.02% 0.02% 0.00% 0.05% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03%

0.02% 0.02% 0.00% 0.04% 0.03% 0.03% 0.03% 0.03% 0.04%

0.09% 0.02% 0.00% 0.03% 0.02% 0.03% 0.02% 0.02% 0.03%

0.02% 0.03% 0.00% 0.12% 0.04% 0.04% 0.05% 0.03% 0.04%

Berdasarkan Tabel 5.16, kebijakan di sektor pertanian dapat meningkatkan output sektor pertanian sendiri cukup besar, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada sektor kehutanan dan perburuan. Sedangkan kebijakan pemerintah pada sektor terkait dengan pertanian seperti sektor makanan, minuman, dan tembakau, sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen, dan sektor perdagangan ternyata hanya mampu meningkatkan pendapatan sektor pertanian sebesar 0.12%-0.25%. Artinya, kebijakan pemerintah pada sektor terkait pertanian masih kecil pengaruhnya dibandingkan kebijakan pemerintah secara langsung pada sektor pertanian. Misalkan, ketika pemerintah melakukan kebijakan di sektor industri makanan, minuman, dan tembakau ternyata hanya mampu meningkatkan pendapatan sektor pertanian sebesar 0.25%. Berdasarkan kontribusinya pada sektor pertanian, kebijakan pemerintah pada sektor pertanian tanaman pangan hanya meningkatkan pendapatan sektor pertanian sebesar 0.37%. Kenaikan ini paling rendah dibandingkan kebijakan pemerintah di sektor pertanian lainnya. Namun demikian, kontribusi kebijakan pemerintah di sektor ini ternyata mampu meningkatkan pendapatan sektor produksi yang cukup besar bahkan lebih tinggi dibandingkan kebijakan pemerintah di sektor kehutanan dan perburuan. Padahal, sektor kehutanan dan perburuan merupakan sektor penyumbang tertinggi pada peningkatan pendapatan sektor pertanian namun terhadap pendapatan sektor produksi nasional lebih rendah dibandingkan sektor pertanian tanaman pangan. Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian pangan memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor-sektor lainnya khususnya pada sektor industri makanan, minuman, dan tembakau, dan sektor perdagangan. Sehingga ketika ada kebijakan pada sektor pertanian tanaman pangan, selain pendapatan sektor ini meningkat secara langsung juga ada peningkatan pendapatan sektor karena pengaruh tidak langsung dari sektor-sektor lainnya yang terkait dengan sektor ini.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

50

4. Dampak Kebijakan Pemerintah di Sektor Pertanian terhadap PDB Nasional Berdasarkan Gambar 5.8, menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor pertanian khususnya sektor pertanian tanaman pangan ternyata meningkatkan PDB Nasional paling tinggi dibandingkan kebijakan pemerintah di sektor pertanian lainnya. Bahkan kebijakan pemerintah secara langsung pada sektor pertanian lebih meningkatkan PDB Nasional dibandingkan kebijakan pemerintah pada sektor terkait seperti sektor makanan, minuman, dan tembakau, sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen, dan sektor perdagangan. Ini disebabkan sektor pertanian memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan sektor lainnya, dimana injeksi kebijakan pada sektor ini mampu mendorong sektor lainnya dan pada akhirnya akan meningkatkan sektor pertanian itu sendiri. Hanya perlu dikembangkan dan diperhatikan oleh pemerintah kedepan adalah bagaimana hasil dari sektor pertanian ini lebih berkualitas dan mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Gambar 5.8 Simulasi Dampak Kebijakan terhadap PDB Nasional
5,159,500 5,159,000 5,158,500

5,158,000
5,157,500 5,157,000 5,156,500 5,156,000 5,155,500 PDB Nasional Awal Sim-1 Sim-2 Sim-3 Sim-4 Sim-5 Sim-6 Sim-7 Sim-8

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

51

VI. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil analisis angka pengganda (multiplier), sektor pertanian memiliki angka pengganda yang relatif lebih besar dibandingkan sektor lainnya. Ini menunjukkan bahwa sektor ini memiliki kontribusi besar dalam menciptakan nilai tambah (added value), kenaikan output (produksi nasional), kenaikan pendapatan rumah tangga, dan mendorong pertumbuhan sektor lainnya dalam perekonomian nasional. 2. Berdasarkan hasil analisis dekomposisi dan jalur struktural, sektor pertanian memiliki hubungan yang kuat dengan sektor Industri makanan, minuman dan tembakau; sektor Industri kimia, hasil dari tanah liat, semen; dan sektor Perdagangan. Ketiga sektor ini memiliki angka pengganda yang tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya terhadap sektor pertanian. 3. Hasil analisis dekomposisi dan jalur struktural juga menunjukkan bahwa hasil sektor pertanian lebih banyak dinikmati oleh para pengusaha pertanian dan golongan atas di perkotaan (pemilik modal) dibandingkan buruh tani sendiri. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan dalam pembangunan ekonomi berbasiskan sektor pertanian. 4. Berdasarkan hasil simulasi kebijakan pada sektor pertanian, bahwa kebijakan pemerintah secara langsung pada sektor pertanian khususnya pada tanaman pangan memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan nilai tambah, output, pendapatan rumah tangga, dan PDB Nasional. Sedangkan kebijakan pemerintah pada sektor yang memiliki kaitan erat dengan sektor pertanian (point 2), juga berkontribusi namun dengan tingkat yang lebih rendah. 5. Pada dasarnya seluruh sub-sektor pertanian memiliki pengaruh kuat (ditunjukkan oleh multiplier yang tinggi) terhadap perekonomian dibandingkan sektor lainnya, terutama pada sub-sektor Pertanian Tanaman Pangan. Sub-sektor ini memiliki prospek yang sangat baik terhadap perekonomian nasional ke depan. Saran 1. Pemerintah perlu berfokus pada kebijakan yang dapat mendorong pengembangan sektor pertanian primer khususnya sub-sektor pertanian tanaman pangan. 2. Dari sisi rumah tangga, agar petani dan buruh dapat mengambil manfaat yang maksimal dari pengembangan sektor pertanian sehingga pendapatan mereka dapat ditingkatkan. Untuk itu pemerintah perlu meningkatkan keterampilan, pendidikan, maupun akses modal bagi golongan rumah tangga buruh tani. Selain itu, kebijakan

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

52

pemerintah di sektor pertanian harus dilakukan dengan tepat sehingga buruh tani dapat dilindungi dan dapat memperoleh manfaat yang lebih dari kondisi saat ini.

VII. DAFTAR PUSTAKA 1. Apriyantono, A. (2004), Konsep Pembangunan Pertanian. Pidato Menteri Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2. Badan Pusat Statistik (2008), Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia, Jakarta. 3. Bautista, R.M., S. Robinson and M. El-Said (1999), “Alternative Industrial Development Path for Indonesia : SAM and CGE Analysis,“ TMD Discussion Paper No. 42. International Food Policy Research Institute (IFPRI), Washington D.C. 4. Daryanto, A. (2009), “Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya,” Pusat Analisis Sosial dan Kebijakan Pertanian, Bogor. 5. Defourny, J. and E. Thorbecke (1984), “Structural Path Analysis And Multiplier Decomposition Within A Social Accounting Matrix Framework,“ The Economic Journal Vol. 94 No.373, pp.111-136. 6. Hafizrianda, Y. (2007), “Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan dan Perekonomian Regional Provinsi Papua: Suatu Analisis Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi,” Disertasi, Program Pasca Sarjana IPB, Bogor. 7. Hafizrianda, Y. dan Daryanto, A. (2010), Analisis Input-Output & Social Accounting Matrix : untuk Pembangunan Ekonomi Daerah, Penerbit IPB Press. 8. Hartono, D. dan B.P. Resosudarmo (1998), “Eksistensi Matriks Pengganda dan Dekomposisi Matriks Pengganda Pyatt dan Round Dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi,” Ekonomi dan Keuangan Indonesia 46(4), pp.473-496. 9. Herliana, L. (2004), “Peranan Sektor Pertanian dalam Perekonomian Indonesia : Analisis Dekomposisi SNSE,” Tesis, Program Pascasarjana IPB, Bogor. 10. Keuning, J.S., De Ruijter, and Willem A. (1988), “Guidelines To The Construction Of A Social Accounting Matrix," Review of Income and Wealth, International Association for Research in Income and Wealth, vol. 34(1), pp.71-100. 11. Norton, R.D. (2004). Agricultural Development Policy Concepts and Experiences, Wiley, West Sussex. 12. Pyatt, G. and Round, J (1979), “Accounting and Fixed Price Multipliers in a Social Accounting Matrix Framework,” Economic Journal 89, pp.850–873 13. Pyatt, G and Round, J (1990), Social Account Matrices : A Basis for Planning, The World Bank, Washinton DC. USA 14. Priyarsdono, D.S, A. Daryanto, dan L. Herliana (2005), “Dapatkah Pertanian Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ? Analisisi Sistem Neraca Sosial Ekonomi,” Agro-Ekonomika I, Tahun XXXV, pp.35-48.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

53

15. Rifai, A.I.A. (2012), “Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Tanaman Pangan terhadap Perekonomian Indonesia : Analisis Sistem Neraca Sosial Ekonomi, “ Tesis, Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomu UI. 16. RPJPN 2005 – 2025 17. Susilowati, S. H. (2007), “Peran Sektor Agroindustri Dalam Perekonomian Nasional Dan Pendapatan Rumah Tangga Pertanian,” Prosiding Seminar Nasional Dinamika Pembangunan Pertanian dan Perdesaan: Mencari Alternatif Arah Pengembangan Ekonomi Rakyat. Pusat Analisis Sosial dan Kebijakan Pertanian. Departemen Pertanian. 18. Tambunan, T. (2010), Pembangunan Pertanian dan Ketahanan Pangan, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. 19. Todara, M. P. dan Smith, S. C. (2006), Pembangunan Ekonomi Jilid I-II. Edisi 9, Penerbit Erlangga. 20. UU No. 17 Tahun 2007 21. Zaini, A. (2003), “Peranan Sektor Pertanian Sebelum dan Pada Masa Krisis Ekonomi di Indonesia: Pendekatan SNSE,” Tesis, Program Pascasarjana IPB, Bogor.

Studi Kasus : SNSE Indonesia

Lampiran Klasifikasi SNSE Indonesia 2008, (13X13), (37X37) dan (105X105), sumber : Biro Pusat Statistik (BPS)
Urai an Kode SNSE 13x13 Urai an Kode SNSE 37x37
Penerim a Upah dan Gaji Pertanian Bukan Penerim a Upah dan Gaji 1 Pertanian 2 3 4 5 6 7 8 9 Buruh Pengusaha Pertanian Golongan Rendah Pedes aan Institusi Institusi Institusi Rum ah tangga 3 Rum ah tangga Golongan Atas Bukan Pertanian Golongan Rendah Perkotaan Golongan Atas Perus ahaan Pem erintah 4 5 Perusahaan Pem erintah 15 16 17 Perusahaan Pem erintah Pertanian Tanam an Pangan Peternakan dan Hasil-hasilnya Perikanan Industri Makanan, Minum an dan Tem bakau Pertanian Tanam an Lainnya, kehutanan dan perburuan 19 Pertanian Tanam an Lainnya Kehutanan dan Perburuan Pertam bangan Batubara, Biji Logam dan Minyak Bum i Pertam bangan dan Penggalian Lainnya Industri Pem intalan, Teks til, Pakaian dan Kulit Pertam bangan, indus tri pengolahan kecuali m akanan, listrik, gas, dan air bersih Sektor Produks i 6 Sektor Produks i 20 Sektor Produks i Industri Kayu & Barang Dari Kayu Industri Kertas , Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Industri Lainnya Industri Kim ia, Has il dari Tanah Liat, Sem en Lis trik, Gas Dan Air Minum Konstruksi Perdagangan Res toran Perdagangan, restoran & perhotelan, pengangkutan & kom unikasi, jas a perseorangan dan rum ah tangga Perhotelan 21 Angkutan Darat Angkutan Udara, Air dan Kom unikas i Jas a Penunjang Angkutan, dan Pergudangan Jas a Perseorangan, Rum ah tangga dan Jasa Lainnya Lem baga keuangan, real estate, pem erintah, jas a sos ial dan kebudayaan, jas a hiburan Bank dan Asuransi 22 Real Estate dan Jas a Perus ahaan Pem erintahan dan Pertahanan, Pendidikan, Kes ehatan, Film dan Jasa Sos ial Lainnya 14 13 Rum ah tangga Bukan Pertanian 10 11 12 Faktor Produksi

Uraian
Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota

Kode SNSE 105x105
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 30 32 35 29 31 33 34 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 51 48 49 50

Penerim a Upah dan Gaji Bukan Penerim a Upah dan Gaji

Faktor Produksi

Faktor Produksi

Tenaga kerja

1

Tenaga kerja

Produks i, Operator Penerim a Upah dan Gaji Alat Angkutan, Manual dan buruh Bukan Penerim a Upah dan Gaj kas ar Tata Us aha, Penjualan, Jas aJas a Penerim a Upah dan Gaji Bukan Penerim a Upah dan Gaj

Tenaga kerja

Produksi, Penerim a Upah dan Gaji Operator Alat Angkutan, Manual Bukan Penerim a Upah dan dan buruh kasar Gaji Tata Us aha, Penjualan, JasaJasa Penerim a Upah dan Gaji Bukan Penerim a Upah dan Gaji

Kepem im pinan, Penerim a Upah dan Gaji Ketatalaks anaan, Militer, Profes ional Bukan Penerim a Upah dan Gaj dan Teknisi Bukan tenaga kerja 2 Bukan tenaga kerja Pertanian

Kepem im pinan, Penerim a Upah dan Gaji Ketatalaks anaan, Militer, Profesional Bukan Penerim a Upah dan dan Teknis i Gaji Bukan tenaga kerja Pertanian Buruh Pengus aha Pertanian

Pengusaha bebas golongan rendah, tenaga TU, pedagang keliling, pekerja bebas sektor angkutan, jasa perorangan, buruh Pedesaan Bukan angkatan kerja dan golongan tidak jelas Pengusaha bebas golongan atas , pengusaha bukan pertanian, m anajer, m iliter, profes ional, teknisi, guru, pekerja TU dan Pengusaha bebas golongan rendah, tenaga TU, pedagang keliling, pekerja bebas sektor angkutan, jasa perorangan, buruh Perkotaan Bukan angkatan kerja dan golongan tidak jelas Pengusaha bebas golongan atas , pengusaha bukan pertanian, m anajer, m iliter, profes ional, teknisi, guru, pekerja TU dan

Pertanian Tanam an Pangan, peternakan, perikanan

18

Lanjutan Lampiran
Urai an
Margin perdagangan dan pengangkutan

Kode SNSE 13x13
7

Uraian

Kode SNSE 37x37
23 Margin perdagangan Margin pengangkutan

Uraian

Kode SNSE 105x105
52 53

Margin perdagangan dan pengangkutan

Pertanian Tanam an Pangan Pertanian Tanam an Pangan, peternakan, perikanan 24 Peternakan dan Hasil-hasilnya Perikanan Indus tri Makanan, Minum an dan Tembakau Pertanian Tanam an Lainnya, kehutanan dan perburuan 25 Pertanian Tanam an Lainnya Kehutanan dan Perburuan Pertambangan Batubara, Biji Logam dan Minyak Bum i Pertambangan dan Penggalian Lainnya Indus tri Pemintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Pertam bangan, industri pengolahan kecuali m akanan, lis trik, gas , dan air bers ih Kom oditas Domestik 8 Kom oditas Dom es tik 26 Komoditas Dom estik Indus tri Kayu & Barang Dari Kayu Indus tri Kertas , Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Indus tri Lainnya Indus tri Kim ia, Has il dari Tanah Liat, Sem en Lis trik, Gas Dan Air Minum Kons truks i Perdagangan Restoran Perdagangan, res toran & perhotelan, pengangkutan & kom unikas i, jas a pers eorangan dan rumah tangga Perhotelan 27 Angkutan Darat Angkutan Udara, Air dan Komunikas i Jasa Penunjang Angkutan, dan Pergudangan Jasa Pers eorangan, Rumah tangga dan Jasa Lainnya Lem baga keuangan, real es tate, pem erintah, jas a s os ial dan kebudayaan, jas a hiburan Bank dan Asurans i 28 Real Es tate dan Jasa Perusahaan Pem erintahan dan Pertahanan, Pendidikan, Kes ehatan, Film dan Jas a Sos ial Lainnya Pertanian Tanam an Pangan Peternakan dan Hasil-hasilnya Perikanan Indus tri Makanan, Minum an dan Tembakau Pertanian Tanam an Lainnya, kehutanan dan perburuan 30 Pertanian Tanam an Lainnya Kehutanan dan Perburuan Pertambangan Batubara, Biji Logam dan Minyak Bum i Pertambangan dan Penggalian Lainnya Indus tri Pemintalan, Tekstil, Pakaian dan Kulit Pertam bangan, industri pengolahan kecuali m akanan, lis trik, gas , dan air bers ih Kom oditas Im por 9 Komoditas Im por 31 Kom oditas Impor Indus tri Kayu & Barang Dari Kayu Indus tri Kertas , Percetakan, Alat Angkutan dan Barang Dari Logam dan Indus tri Lainnya Indus tri Kim ia, Has il dari Tanah Liat, Sem en Lis trik, Gas Dan Air Minum Kons truks i Perdagangan Restoran Perdagangan, res toran & perhotelan, pengangkutan & kom unikas i, jas a pers eorangan dan rumah tangga Perhotelan 32 Angkutan Darat Angkutan Udara, Air dan Komunikas i Jasa Penunjang Angkutan, dan Pergudangan Jasa Pers eorangan, Rumah tangga dan Jasa Lainnya Lem baga keuangan, real es tate, pem erintah, jas a s os ial dan kebudayaan, jas a hiburan Neraca Kapital Pajak Tidak Langs ung Subsidi Luar Negeri 10 11 12 13 Neraca Kapital Pajak Tidak Langs ung Subs idi Luar Negeri Bank dan Asurans i 33 34 35 36 37 Neraca Kapital Pajak Tidak Langs ung Subsidi Luar Negeri Real Es tate dan Jasa Perusahaan Pem erintahan dan Pertahanan, Pendidikan, Kes ehatan, Film dan Jas a Sos ial Lainnya

54 56 58 61 55 57 59 60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 77 74 75 76 78 80 82 85 79 81 83 84 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 101 98 99 100 102 103 104 105

Pertanian Tanam an Pangan, peternakan, perikanan

29

37

Lampiran. Data Hasil Modifikasi SNSE 2008 (Rp Miliar), sumber : Biro Pusat Statistik (diolah)
SNSE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 TOTAL 1 34,692.00 295,714.57 44,350.95 45,268.98 99,058.87 519,085.38 2 27,972.63 18,961.79 7,616.60 5,201.44 15,673.16 75,425.64 3 15,206.00 93,749.58 289,343.92 66,405.33 213,604.83 678,309.66 4 27,535.82 109,999.80 510,074.13 165,448.65 603,026.21 5,419.66 1,421,504.26 5 11,397.23 132,332.16 91,317.66 36,819.53 141,625.00 130,554.07 52,785.03 191,719.25 1,591,198.03 6 190.27 140.87 140.84 98.75 19.56 167.85 56.20 15.99 739.91 3,796.10 23,812.82 943.56 11,282.83 341.11 7,935.14 27.05 49,231.98 4,501.02 1,897.78 9,014.96 5,863.78 610.49 3,522.75 5,653.96 3,932.00 22,798.44 10,651.75 9,232.73 7 1,182.64 773.56 611.30 495.23 84.50 977.31 258.68 73.20 8,343.98 11,953.62 75,017.21 3,074.91 36,399.52 1,693.43 31,090.43 156.73 152,541.01 19,392.22 6,947.75 47,811.86 21,100.85 5,972.86 35,073.59 40,852.95 22,298.86 68,028.12 74,874.88 61,623.79 8 837.59 492.89 573.84 311.49 52.38 411.62 167.76 55.62 3,370.35 9,486.90 42,269.70 2,924.96 29,643.75 761.10 26,409.96 191.47 94,340.20 17,703.68 7,183.26 34,908.78 33,667.60 4,858.16 24,750.93 27,444.12 22,492.39 57,759.07 23,199.20 25,986.69 9 27.40 26.81 40.86 26.96 9.21 68.63 19.40 10.83 1,539.44 3,069.67 12,062.48 664.83 8,150.68 243.86 7,073.05 52.77 27,562.65 5,637.10 854.69 13,020.48 12,812.91 2,020.85 13,902.49 8,032.28 3,856.75 17,662.92 24,404.48 9,647.61 10 1,182.56 780.03 836.96 475.18 141.14 863.15 250.14 80.28 6,168.65 13,760.48 23,321.26 1,471.15 20,004.48 990.06 18,596.77 227.47 70,771.81 10,989.17 5,285.78 37,338.39 28,900.58 4,881.30 31,899.72 26,472.23 19,932.20 32,908.37 51,346.21 56,251.78 11 3,118.57 1,827.71 2,249.91 1,118.33 196.21 849.93 635.63 173.01 6,177.43 18,517.46 47,283.39 2,888.25 36,792.14 702.78 26,191.74 261.97 132,796.73 18,721.41 6,851.11 71,044.47 37,773.69 7,934.91 54,780.58 38,056.13 36,015.54 87,461.57 27,942.50 37,994.53 12 163.35 182.66 196.18 99.52 26.18 268.54 27.28 34.32 1,752.63 5,850.93 13,889.48 786.72 11,081.62 433.16 9,948.43 53.78 41,933.18 5,575.04 914.60 24,958.51 16,196.47 1,982.81 16,383.79 10,880.93 6,794.97 16,227.93 35,726.63 20,056.51 13 5,273.39 2,787.13 3,743.35 1,762.69 202.78 3,817.94 1,210.00 370.48 7,071.99 18,638.33 31,217.97 2,360.43 28,887.52 1,323.92 27,148.52 341.72 118,938.91 16,697.26 8,494.51 81,834.55 36,381.52 10,788.53 54,421.90 42,469.60 37,977.12 76,752.99 96,591.61 104,650.46

91,226.99 2,470,974.96

136.19 176,756.68

2,857.86 731,562.84

1,978.76 494,234.22

649.76 173,151.87

2,327.20 468,454.52

4,137.81 710,495.47

1,479.33 243,905.49

5,726.38 827,883.49

Lanjutan Lampiran. Data Hasil Modifikasi SNSE 2008 (Rp Miliar)
SNSE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 TOTAL 14 1,654.92 4,755.34 3,197.98 785.42 7,724.00 9,397.35 3,951.74 11,618.23 176,469.94 650,052.59 990,597.28 15 42,495.54 52,014.65 42,276.92 13,987.98 3,370.71 30,009.74 11,555.36 3,323.02 89,692.45 181,676.37 49.49 1,454.22 100.43 16,923.99 6,935.74 2,845.48 17,135.07 15,996.76 15,229.02 8,473.88 191,945.64 17,476.62 229,473.13 240,891.47 28,699.72 1,264,033.40 16 316,075.17 36,706.07 2,896.47 786.97 21,050.76 486,564.56 11,847.84 16,311.81 10.75 251.08 72.99 527.43 23,104.38 0.59 1,046.86 94,233.44 127.23 12,041.32 1,760.75 762.51 14,636.49 4,581.63 1,045,397.11 17 91,320.61 9,235.62 3,984.29 1,793.74 22,472.79 343.88 215,164.52 4,204.50 71.84 10.30 0.03 489.24 225.76 76.54 2,267.19 26,293.89 45.53 5,430.97 14,522.74 133.90 4,488.09 7,201.27 2,718.46 9,733.15 2,226.93 424,455.75 18 70,908.11 12,060.42 4,467.55 4,058.75 38,265.15 7,389.24 2,137.43 316,817.86 52.57 2.11 61,608.32 7.69 16.33 84.78 2,808.30 451.28 122.63 76,833.23 15.93 9,373.83 997.12 520.35 6,896.22 2,327.72 618,222.87 19 9,181.08 2,634.74 2,195.58 1,263.64 24,798.62 2,075.68 53,350.40 120.54 3,268.34 811.79 46.32 1,083.72 8,415.84 38.96 2,356.10 844.75 763.71 979.56 1,831.20 116,060.54 20 31,600.40 14,788.78 1,244.82 1,823.04 84,597.72 675.64 664.15 137.87 138.18 205,583.59 8,260.69 14.38 166.10 1,835.39 7,476.40 220.26 550.77 57,488.16 307.28 5,349.05 948.06 86.09 3,292.05 1,390.43 428,639.31 21 43,100.33 63,720.73 442,310.57 151.52 756,876.85 217.51 99.88 14,697.74 13,968.27 366.67 7,908.70 13,981.64 776.22 12,612.66 5,266.00 5,595.18 24,773.80 25,322.31 1,431,746.57 22 45,679.42 74,561.31 166,466.95 233,960.34 102,693.46 10,938.53 501.28 53,336.57 1,155.37 1,121,481.59 229.02 259.72 6,865.58 14,082.90 1,668.25 232.82 188,103.45 1,397.70 19,852.34 11,107.30 6,465.86 46,669.33 52,157.68 2,159,866.74 23 12,172.11 33,656.59 62,883.56 3,005.11 10,527.67 102.92 0.13 585.63 1,690.24 371,608.92 188.57 6,143.11 25,814.63 5,578.40 706.53 33,584.14 1,568.87 11,172.75 6,542.15 1,940.13 35,476.70 3,721.98 628,670.83 24 18,680.15 17,179.89 36,245.17 113.50 0.01 23,638.21 112.09 917.80 727.89 211,358.36 4,181.43 10,494.22 1,479.30 68.87 29,117.91 774.69 13,254.78 3,928.18 2,056.14 9,910.24 1,635.23 385,874.05 25 44,334.45 134,860.93 251,794.54 423.21 351.74 351.31 2,548.91 803.15 56,909.36 1,032.14 2,953.95 6,929.70 1,497,083.28 99,102.13 14,492.55 1,856.67 193,085.34 4,340.50 64,912.38 29,340.46 11,480.05 311,883.07 15,250.12 2,746,119.91 26 55,578.55 111,010.71 374,785.08 771.64 44,908.37 377.16 651.37 49.82 186,214.64 4,172.35 1,380.03 389.24 11,126.87 1,162,549.93 6,754.75 1,068.93 132,299.65 2,874.03 56,633.40 11,807.46 6,958.62 219,605.60 11,750.52 2,403,718.67

56,496.89 1,916,701.70

Lanjutan Lampiran. Data Hasil Modifikasi SNSE 2008 (Rp Miliar)
SNSE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 TOTAL 27 4,223.60 12,147.26 111,220.40 0.02 21,748.80 18.07 2,603.38 29,374.76 134,951.62 1,003.73 73.92 339.32 2,519.59 187.57 7,775.51 2,350.19 330,537.73 28 90,225.04 110,678.82 226,751.20 24,478.51 88,387.64 515.53 67,375.77 217,801.09 174,676.25 405.91 1,221,192.03 8,208.82 10,127.96 39,249.90 6,330.45 153,572.91 23,986.63 2,463,964.45 29 148,182.58 293,271.48 58,428.59 456.69 41.75 28.31 43.36 1,246.46 8,924.18 4,730.58 29,336.02 54,812.61 24,186.47 28,211.60 1,964,582.00 15,541.89 84,450.54 143,714.81 26,930.67 42,920.65 33,663.49 2,963,704.75 30 30,088.15 83,433.09 26,076.55 25,203.82 1,296.70 71,631.32 78.76 12,075.24 8.34 64,480.49 2,243.17 19.56 322.46 1,672.39 623.05 82.68 324,902.28 445.84 1,845.88 590.12 2,149.32 12,464.63 661,733.85 31 54,217.34 121,584.84 141,520.85 69.38 7.92 239.49 6.71 58.03 65.92 3,644.20 1,061.05 74.31 19,080.82 88,889.98 5,377.96 10,499.58 4,454.41 854,804.64 26,437.17 58,197.72 62,863.49 20,296.37 1,473,452.15 32 12,999.50 85,689.23 274,350.57 0.07 1.94 19.24 310.33 1,219.65 801.36 20.03 12,940.05 6,334.01 3,111.07 17,327.07 3,365.77 14,367.20 628,508.68 25,219.59 22,777.59 11,948.11 1,121,311.03 33 104,039.74 268,276.07 100,298.38 30,296.20 1,265.02 11,954.34 328.23 3,269.80 1,162.46 24,495.31 4,061.81 473.84 65,243.24 52,691.77 4,975.85 4,329.27 58.85 2,767.16 7,015.60 17,340.81 788,911.89 52,093.26 10,193.39 1,555,542.26 34 157,398.36 13,107.81 107,841.31 1,347,755.92 1,626,103.40 35 36 37 38 1,707.19 6,657.51 3,826.77 17,023.29 15,353.55 5,496.46 2,339.13 15,418.61 2,338.17 1,709.89 24,176.91 2,291.08 900.81 23,110.42 543.49 506.05 3,810.17 249,167.79 205,484.14 120,028.25 46,670.27 344,411.32 353,044.82 39,331.80 59,967.02 17,731.00 22,530.51 TOTAL 519,085.38 75,425.64 678,309.66 1,421,504.26 2,470,974.96 176,756.68 731,562.84 494,234.22 173,151.87 468,454.52 710,495.47 243,905.49 827,883.49 1,916,701.70 1,264,033.40 1,045,397.11 424,455.75 618,222.87 116,060.54 428,639.31 1,431,746.57 2,159,866.74 628,670.83 385,874.05 2,746,119.91 2,403,718.67 330,537.73 2,463,964.45 2,963,704.75 661,733.85 1,473,452.15 1,121,311.03 1,555,542.26 1,626,103.40 1,545,514.51 344,939.89 240,891.47 1,585,576.41

(11,420.14) 607.81 (8,056.97) 2,907.34 (5,159.59) 67,993.25 (28,472.35) 12,609.52 8,422.36 169,444.40 (56,999.02) 1,144,105.97 2,445.99 15,710.91 194,691.10

344,939.89 -

887.52 97.73 113,081.10 83,906.51 1,688.42 40.70 41,189.50

36,683.94 1,545,514.51

344,939.89

240,891.47

1,585,576.41

Lampiran. Matriks Pengganda Neraca Ma (Accounting Multiplier)
Ma 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 1 1.25 0.04 0.17 0.38 0.55 0.12 0.82 0.21 0.14 0.33 0.18 0.06 0.21 0.43 0.22 0.56 0.15 0.31 0.02 0.22 0.11 0.97 0.15 0.06 0.48 0.45 0.06 0.05 0.83 0.26 0.47 0.35 0.56 11.1 2 0.26 1.04 0.17 0.39 0.56 0.43 0.51 0.13 0.05 0.14 0.29 0.13 0.43 0.43 0.22 0.58 0.15 0.32 0.02 0.22 0.11 1.02 0.15 0.06 0.50 0.45 0.06 0.05 0.86 0.25 0.46 0.35 0.60 11.4 3 0.25 0.04 1.17 0.39 0.57 0.08 0.39 0.55 0.15 0.45 0.18 0.06 0.22 0.44 0.23 0.53 0.15 0.32 0.02 0.23 0.12 0.94 0.16 0.06 0.49 0.49 0.07 0.05 0.84 0.27 0.47 0.37 0.58 11.3 4 0.23 0.03 0.17 1.38 0.55 0.08 0.31 0.12 0.05 0.13 0.54 0.18 0.64 0.43 0.22 0.48 0.14 0.30 0.02 0.21 0.11 0.90 0.14 0.05 0.53 0.45 0.07 0.05 0.79 0.28 0.45 0.37 0.57 10.9 5 0.10 0.01 0.08 0.18 1.25 0.04 0.17 0.11 0.04 0.12 0.15 0.06 0.19 0.93 0.39 0.22 0.06 0.13 0.01 0.09 0.05 0.40 0.06 0.02 0.24 0.21 0.03 0.03 0.36 0.12 0.21 0.16 0.33 6.57 6 0.31 0.04 0.19 0.42 0.59 1.07 0.29 0.14 0.06 0.16 0.20 0.07 0.23 0.46 0.24 0.71 0.18 0.35 0.02 0.25 0.11 1.19 0.16 0.06 0.48 0.47 0.06 0.06 0.97 0.21 0.46 0.36 0.67 11.2 7 0.26 0.04 0.17 0.38 0.54 0.06 1.25 0.13 0.05 0.14 0.18 0.06 0.21 0.43 0.22 0.59 0.15 0.31 0.02 0.22 0.11 0.99 0.15 0.05 0.47 0.42 0.06 0.05 0.84 0.25 0.47 0.34 0.56 10.2 8 0.27 0.04 0.19 0.42 0.61 0.06 0.27 1.14 0.06 0.15 0.20 0.07 0.24 0.47 0.24 0.57 0.16 0.35 0.02 0.25 0.13 1.01 0.18 0.07 0.52 0.53 0.07 0.06 0.91 0.27 0.50 0.40 0.64 11.1 9 0.23 0.03 0.17 0.38 0.54 0.05 0.23 0.12 1.05 0.13 0.18 0.06 0.21 0.42 0.21 0.50 0.14 0.31 0.01 0.21 0.12 0.88 0.16 0.04 0.48 0.50 0.07 0.05 0.80 0.31 0.44 0.32 0.56 9.94 10 0.21 0.03 0.15 0.35 0.52 0.05 0.22 0.11 0.05 1.12 0.17 0.06 0.20 0.41 0.22 0.44 0.13 0.28 0.02 0.20 0.11 0.83 0.13 0.06 0.47 0.45 0.06 0.05 0.74 0.27 0.44 0.34 0.49 9.38 11 0.25 0.04 0.19 0.43 0.61 0.06 0.26 0.14 0.06 0.15 1.20 0.07 0.24 0.47 0.25 0.54 0.15 0.34 0.02 0.22 0.13 1.01 0.16 0.06 0.58 0.50 0.07 0.06 0.88 0.32 0.50 0.41 0.66 11.0 12 0.22 0.03 0.16 0.35 0.52 0.05 0.22 0.11 0.05 0.12 0.17 1.06 0.20 0.40 0.21 0.46 0.13 0.29 0.01 0.21 0.11 0.87 0.13 0.04 0.52 0.46 0.06 0.05 0.77 0.27 0.42 0.32 0.48 9.46 13 0.20 0.03 0.15 0.35 0.51 0.05 0.21 0.12 0.05 0.12 0.17 0.06 1.20 0.40 0.21 0.41 0.12 0.26 0.01 0.19 0.11 0.80 0.13 0.05 0.52 0.42 0.07 0.05 0.72 0.27 0.43 0.35 0.53 9.23 14 0.04 0.01 0.04 0.10 0.12 0.03 0.07 0.05 0.02 0.03 0.06 0.02 0.06 1.23 0.50 0.10 0.03 0.06 0.00 0.04 0.03 0.16 0.03 0.01 0.11 0.10 0.01 0.02 0.15 0.06 0.10 0.07 0.24 3.69 15 0.10 0.01 0.10 0.24 0.29 0.07 0.17 0.11 0.04 0.07 0.14 0.05 0.13 0.31 1.31 0.22 0.06 0.13 0.01 0.09 0.06 0.38 0.06 0.02 0.27 0.24 0.03 0.06 0.36 0.13 0.23 0.18 0.60 6.28 16 0.80 0.10 0.19 0.41 0.59 0.12 0.58 0.18 0.10 0.25 0.20 0.07 0.25 0.46 0.22 2.34 0.17 0.33 0.01 0.19 0.12 0.83 0.13 0.05 0.44 0.51 0.07 0.06 1.27 0.23 0.50 0.38 0.52 12.7 17 0.63 0.07 0.18 0.38 0.65 0.10 0.48 0.17 0.09 0.22 0.19 0.07 0.23 0.50 0.24 0.41 2.15 0.27 0.02 0.17 0.14 0.73 0.12 0.05 0.43 0.63 0.06 0.10 0.91 0.20 0.45 0.39 0.49 11.9 18 0.47 0.07 0.21 0.45 0.69 0.09 0.40 0.17 0.08 0.20 0.22 0.08 0.26 0.52 0.24 0.52 0.17 2.29 0.01 0.18 0.11 1.12 0.12 0.05 0.41 0.44 0.07 0.07 1.55 0.21 0.51 0.39 0.48 12.8 19 0.31 0.07 0.18 0.36 0.84 0.07 0.31 0.15 0.06 0.17 0.19 0.07 0.23 0.63 0.28 0.33 0.16 0.19 1.86 0.13 0.10 0.58 0.10 0.04 0.46 0.38 0.05 0.09 0.97 0.18 0.43 0.32 0.45 10.8 20 0.31 0.09 0.18 0.39 0.85 0.08 0.31 0.15 0.06 0.17 0.21 0.07 0.25 0.64 0.29 0.36 0.11 0.20 0.01 2.06 0.10 0.68 0.10 0.04 0.38 0.43 0.06 0.06 1.36 0.19 0.43 0.35 0.44 11.4 21 0.12 0.02 0.17 0.33 0.99 0.04 0.19 0.13 0.05 0.14 0.19 0.07 0.23 0.74 0.32 0.26 0.07 0.16 0.01 0.11 2.20 0.47 0.08 0.03 0.33 0.30 0.04 0.06 0.50 0.15 0.30 0.22 0.38 9.36 22 0.35 0.05 0.22 0.45 0.68 0.07 0.32 0.16 0.07 0.18 0.21 0.07 0.26 0.51 0.24 0.77 0.31 0.24 0.01 0.24 0.11 2.71 0.10 0.04 0.39 0.44 0.06 0.06 1.31 0.19 0.44 0.37 0.45 12.1 23 0.15 0.02 0.19 0.46 0.71 0.05 0.20 0.13 0.05 0.13 0.21 0.07 0.26 0.53 0.24 0.29 0.12 0.26 0.01 0.12 0.12 0.54 2.53 0.04 0.37 0.52 0.08 0.06 0.95 0.17 0.42 0.33 0.39 10.7 24 0.17 0.03 0.28 0.47 0.76 0.05 0.24 0.17 0.06 0.17 0.22 0.08 0.27 0.57 0.26 0.32 0.11 0.20 0.26 0.14 0.12 0.59 0.11 2.25 0.43 0.49 0.07 0.06 1.13 0.19 0.55 0.37 0.46 11.6 25 0.11 0.02 0.17 0.40 0.63 0.04 0.17 0.11 0.04 0.11 0.19 0.06 0.23 0.47 0.21 0.24 0.08 0.15 0.01 0.10 0.20 0.44 0.08 0.04 2.48 0.43 0.06 0.05 0.90 0.15 0.40 0.30 0.35 9.43 26 0.13 0.02 0.17 0.37 0.76 0.04 0.19 0.13 0.04 0.13 0.19 0.06 0.22 0.57 0.25 0.25 0.15 0.16 0.01 0.11 0.39 0.46 0.08 0.03 0.31 2.23 0.05 0.05 0.76 0.15 0.38 0.26 0.36 9.47 27 0.12 0.02 0.13 0.31 1.01 0.04 0.18 0.12 0.04 0.13 0.18 0.06 0.22 0.75 0.32 0.24 0.08 0.15 0.01 0.10 0.35 0.44 0.07 0.03 0.31 0.54 1.73 0.05 0.46 0.14 0.26 0.23 0.35 9.16 28 0.13 0.02 0.21 0.39 0.71 0.04 0.19 0.14 0.05 0.13 0.19 0.07 0.23 0.53 0.24 0.26 0.09 0.16 0.06 0.11 0.29 0.47 0.08 0.15 0.68 0.58 0.05 2.03 0.61 0.16 0.33 0.31 0.36 10.0 29 0.17 0.03 0.31 0.67 0.65 0.06 0.25 0.18 0.06 0.17 0.29 0.10 0.34 0.50 0.23 0.36 0.11 0.22 0.01 0.15 0.13 0.66 0.13 0.06 0.48 0.51 0.10 0.11 3.61 0.23 0.57 0.62 0.52 12.6 30 0.33 0.05 0.26 0.63 0.65 0.07 0.33 0.18 0.07 0.19 0.28 0.09 0.33 0.50 0.24 0.64 0.18 0.68 0.01 0.26 0.10 1.20 0.13 0.05 0.42 0.42 0.06 0.06 1.04 2.18 0.43 0.35 0.48 12.9 31 0.15 0.02 0.23 0.51 0.70 0.05 0.21 0.15 0.05 0.14 0.23 0.08 0.28 0.53 0.24 0.31 0.10 0.19 0.01 0.13 0.13 0.56 0.09 0.04 0.41 0.60 0.06 0.08 0.57 0.18 2.69 0.34 0.57 10.6 32 0.13 0.02 0.14 0.44 0.93 0.05 0.20 0.12 0.04 0.13 0.22 0.08 0.27 0.69 0.30 0.28 0.08 0.17 0.01 0.12 0.09 0.51 0.08 0.04 0.38 0.32 0.05 0.11 0.48 0.17 0.34 2.49 0.48 9.96 33 0.21 0.03 0.28 0.68 0.64 0.06 0.26 0.17 0.06 0.17 0.29 0.10 0.35 0.49 0.23 0.45 0.12 0.26 0.01 0.17 0.13 0.74 0.12 0.04 0.58 0.51 0.07 0.06 0.72 0.21 0.40 0.34 2.48 11.4

Sumber : SNSE Indonesia, 2008 (diolah)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.