Anda di halaman 1dari 5

PLURALISME AGAMA Oleh: Irwan Munawan PENDAHULUAN Indonsia merupakan negara yang memiliki penduduk lebih dari 190

jiwa dengan enam ribu pulau yang didiami, juga merupakan negara kepulauan yang paling besar di dunia. Negara ini selalu terbuka untuk pemikiran-pemikiran dari luar dan terbukti telah ramah terhadap budaya asing.1 Dalam negara Islam memiliki agama resmi yaitu Islam dan agama-agama yang diakui oleh negara. Agama yang diakui oleh negara diantaranya Islam, Katolik, Hindu, Budha, Protestan, dan Kongu Chu. Ditambah dengan beragam adat dan budaya dilihat dari hampir seluruh sudut pandang geologis, historis sangat sangat komplek. Pebedaan keyakinan ini bisa menyebakan terjadinya berbagai konflik dan ketegangan diantara pemeluk agama, bahkan bisa terjadi pertumpahan darah. Hal ini terbukti dengan berbagai peristiwa yang terjadi di sebagia belahan Indonesia. Seperti terjadi konflik SARA antara Islam dan Kristen di Maluku, Ambon, Poso dsb. Dari konflik ini banyak merenggut banyak korban baik dari anak-anak dan wanita. Konflik antar pemeluk agama tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di negara lain seperti Thailand, India dll. Perbedaan keyakinan, ras, dan suku merupaka sebuah pluralistas yang dianggap sebagai faktor utama dalam menciptakan iklim ketegangan atau konflik antar agama yang tidak jarang tampil dengan warna kejam, keras, perang, dan pembunuhan, bahkan pembersihan ras. Disatu pihak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi modern telah menjadikan jagat raya ini hampir seperti global village. Di pihak lain, bangkit kelompok agama yang telah menambah situasi tegang dan menakutkan seperti yang kita saksikan antara Kristen dan Islam di Bosnia-Herzegovina, Fhilipina Selatan, Sudan Selatan dan kepulauan Maluku Indonesia. Antara Islam dan Yudaisme di Timur Tengah, Islam dan Hindu di Kashmir, Protestan dan Katolis di Timur Utara dsb2 Fenomena diatas ditambah dengan menigkatnya gelombang dan arus migrasi agama-agama Timur khususnya kaum muslim ke negara-negara Barat. Hal ini secara umum telah menjadi kekhawatiran Barat akan tergangunya keamanan dan ketentramannya. Dari sinilah muncul sejumlah teori pluralisme agama, yang mungkin bisa diklasifikasikan, sesuai dengan pokok-poko pemikiran dan karakter utamanya, ke dalam empat kategori, yaitu (i) humanisme sekular (secular humanism); (ii) teologi global (global theloy); (iii) sinkretisme (syncretism atau eclectism); dan (iv) hikmah abadi (sophia perennis atau perennial philosophy). Bila diteliti secara seksama keempat tren ini ujung-ujungnya berakhir pada muara yang sama. Yaitu memberi legitimasi yang setara kepada semua agama yang ada, agar hidup berdampingan bersama secara damai, aman, penuh rasa tenggang rasa, toleransi, dan saling menghargai. Serta dengan tanpa adanya persaan superioritas dari salah satu agama di atas yang lain.3 Pluralisme agama dijadikan sebagai upaya dalam merukunkan umat beragama. Diantaranya dibutuhkan sikap toleransi antar umat beragama untuk terciptanya sebuah kerukunan agama. Tetapi pada kenyataannya sikap toleransi itu kebamblasan dengan menyisipkan paham pluralisme agama. Seorang pendeta Jesuit berusaha mengaburkan makna pluralisme agama dengan dengan menceraikannya dengan relativisme dan menyamakannya dengan toleransi.4 Pluralisme agama merupakan istilah khusus dalam kajian-kajian agama. Paham ini telah menjamur di Indonesia, dengan di motori oleh Jaringan Islam Liberal. Pluralisme agama menuai kritik dari berbagai pemuka agama. Juga meresahkan umat beragama terutama agama Islam. Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Menurut paham penganut ini semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama atau mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak. Setiap pemeluk agama tidak agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.5 Dari penomena ini menarik juga untuk kita kaji bagaimana sebenarnya Pluralisme agama itu?

LATAR BELAKANG MUNCULNYA PLURALISME AGAMA


1 Dr. Alwi Shihab, Isam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Bandung: Mizan,1997 hal 3 2 Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005. hal 2 3 Ibid hal 2 4 DR. Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabbolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insan Press, 2008. hal 80 5 Adian Husaini MA, Pluralisme Agama, Parasit Bagi Agama-agama, Dewan Dawah Islamiyyah Indonesia. Hal 1-2

Pada abad ke-18 merupakan masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern yang dikenal dengan sebutan pencerahan (Enlightnment). Masa ini terjadi pergolakan pemikiran yang berorentasi pada akal (rasionalisme). Konsekuensi pergolakan pemikiran yang terjadi pada masa itu terjadi konflik antara gereja dan kehidupan nyata di luar gereja, muncullah suatu paham yang dikenal dengan liberalisme,yang komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan, dan keragaman atau pluralisme. Liberalisme ini awalnya muncul sebagai mazhab sosial politik, termasuk wacana pluralisme yang lahir dari rahim liberalisme. Begitu juga gagasan pluralisme agama muncul menjadi wacana. Menurut Muhammad Legenhause seorang pemikir Muslim kontemporer berpendapat bawa munculny liberalisme politik terjadi karena didorong oleh kodisi masyarakat yang carut marut akibat sikap-sikap intoleransi dan konflik-konflik entis dan sekterian yang pada ujungnya terjadi pertumpahan darah atar ras, sekte kelompok dan mazhab. Paham liberalime ini tidak lebih merupakan respon politis terhadap kondisi sosial masyarakat kristen Eropa yang plural dengan keragaman sekte, kelompok dan mazhab. Kondisi semacam ini terjadi dalam masyarakat kristen Eropa untuk sekia lama. Kemudian pada abad ke-20 berkembang hingga mencakup komunitas-komunitas lain di dunia. Pada abad 20 pemikiran pluralisme agama telah mewarnai Eropa pada saat itu, tetapi belum mengakar secara kuat dalam kultur masyarakatnya. Terbukti masih terjadinya diskriminasi terhadap beberapa sekte Kristen dari gereja, sebagaimana yang dilami sekte Mormon yang tetap tidak diakui gereja karena dianggap heteredox. Perlakuan gereja itu mendapat protes yang sangat keras dari Presiden Amerika Serikat Grover Cleveland (1837-1908). Doktrin yang dikenal dengan di luar gereja tidak ada keselamatan (Ekstra ecclesiam nulla salus) yang dipegang oleh Gereja Katolik berakhir pada permulaan tahun 60-an abad 20 dengan dilangsungkannya Konsili Vatikan (Vatican Council II) dengan doktrin yang baru keselamatan umum bagi agama-agama selain Kristen. Gagasan pluralisme agama telah kokoh dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi barat ketika memasuki abad ke-20. seorang tokoh Kristen Liberal yang bernama Ernst Troeltsch (1865-1923) tercatat sebagai orang yang paling gigih mengedepankan gagasan ini. Dalam sebuah makalahnya yang berjudul The Place of Christian ity among the world Religion (Posisi Agama Kristen diantara Agamaagama Dunia). Dia mengatakan, bahwa dalam semua agama termasuk Kristen selalu mengandung kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki kebenaran secara mutlak. Konsep ketuhanan di ini beragam dan tidak hanya satu. Kematangan pluralisme agama terjadi pada dua dekade terakhir abad ke-20 yang pada giliranya menjadi sebuah diskursus tersendiri pada dataran teologi modern. Sebenarnya bila ditelusuri lebih jauh dalam sejarah peradaban agama-agama dunia bahwa kecenderungan sikap beragama yang pluralistik bukan merupakan hal yang baru. Cikal balak pluralisme agama telah muncul di India pada abad ke-15 gagasan-gagasan Kabir (1440-1518) dan muridnya Guru Nanak (1469-1538) pendiri agama Sikhisme. Pengaruh paham ini belum menembus batas-batas geografis regional hanya populer di benua India. Yang perlu jadi catatan bahwa gagasan pluralisme agama sebenarnya bukan hanya hasil dominasi pemikiran Barat, tetapi juga memiliki akar yang cukup kuat dalam pemikiran agama Timur, khususnya dari India. Beberapa peneliti dan sarjana Barat seperti Parrinder dan Sharpe menganggap bahwa pencetus gagasan pluralisme agama adalah tokoh-tokoh yang dan pemikir India. Gagasan-gagasan pluralisme agama yang muncul di India dengan pluralisme pada abad modern terdapat perbedaan yang cukup menonjol dan mendasar. Diantaranya gagasan pluralisme agama India lebih mempunyai akar teologis, karena kerangka dasarnya tetap bersumber dari ajaran Kitab Suci Hindu. Sementara di Barat gagasan ini lebih merupakan produk filsafat aheisme modern yang muncul pada masa pencerahan Eropa. Sedangkan dalam diskursus pemikiran Islam pluralisme agama masih merupakan hal yang baru dan tidak memilki akar ideologi atau bahkan teologi yang kuat. Gagasan ini muncul lebih ditimbulkan oleh proses penetrasi kultur Barat modern dalam dunia Islam. Dalam wacana pemikiran Islam baru muncul pada masa-masa pasca-perang Dunia Kedua, yaitu ketika para generasi Muslim Mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga dapat berkenalan dan bergesekan dengan budaya Barat. Gagasan pluralisme agama masuk dan menyusup dalam pemikiran Islam melalui karya-karya pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). Karya-karya mereka itu sarat dengan pemikiran dan gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama di kalangan muslim. Seyyed Hossein Nasrseorang tokoh Syiah modern barangkali tokoh yang dianggap bertanggungjawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan Islam tradisional. Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis

atau perennis wisdom (al-Hikmat al-khalidah, atau kebenaran abadi), yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal yang tersembunyi di balik ajaran-ajaran dan tradisitradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia semenjak Adam a.s sampai masa kini. Dengan demikian , menurut Nasr memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada poros yang sama, yakni kebenaran hakiki. 6 PENGERTIAN DAN PEMIKIRAN PLURALISME AGAMA Secara etimologis pluralisme agama berasal dari dua kata, yaitu pluralisme dan agama. Dalam bahasa Arab diterjemahkan al-taaddudiyyah al-diniyyah dan dalam bahasa inggris religion pluralism . Istilah ini berasla dari Inggris, untuk mmendefinisika secara akurat perlu merujuk kepada kamus bahasa Inggris. Pluralism berarti jama atau lebih dari satu. Dalam bahasa Inggris mempunyai tiga pengertian. Pertama, pengertian kegerejaan, (i) sebutan unutk orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur gereja, (ii) memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan, baik berrsifat kegerejaan maupun non gereja. Kedua, pengertian fiosofis berarti sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasar yang lebih dari satu. Ketiga, pengertian sosio-politis adalah suatu sistem yang mengakui koesksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjujung tinggi aspek aspek perbedaan yang sangat karekteristik diantara kelompok-kelompok tersebut. Bila disederhanakan pengertian ketiga makna tadi menjadi satu makna, yaitu koeksistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristi masingmasing.7 Pengertian agama itu sendiri dalam wacana pemikiran Barat mengundang perdebatan dan polemik. Sedangkan pengertian agama yang paling tepat adalah mencakup semua jenis agama, kepercayaan, sekte maupun berbagai jenis ideologi modern seperti komunisne, humanisme, sekularisme nasionalisme dan lainnya. Maka berdasarkan pengertian diatas pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antar agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing.8 Menurut William Huctchison penulis Religion Plurlism in Amerika memberikan tahapan dalam pluralisme. Tahap pertama adalah toleransi, di mana semua perlu diberi hak untuk wujud, kemudian tahap inklusi, yaitu menerima yang lain sebagai kebenaran dan memasukan semua agama dalam satu kerangka. Dan tahap selanjutnya tahap partisipasi, di mana setiap golongan bersama-sama sebagai satu masyarakat.9 John Hick salah satu tokoh utama paham pluralisme agama mengajukan gagasan pluralisme agama sebagai pengembangan dari inklusivisme. Bahwa agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju pada tujuan (The Ultimate) yang sama.10 Sedangkan menurut Syamsuddin Arief bahwa pluralisme agama itu merupakan persenyawaan preposisi. Pertama, semua agama-agama besar adalah sama,semuanya merujuk dan menunjuk sebuah relitas tunggal yang transenden dan suci. Kedua, semua sama-sama menawarkan jalan keselamatan. Dan ketiga, semuanya tidak ada final, artinya setiap agama harus selalu terbuka untuk dikritisi dan direvisi.11 Pada intinya pluralisme agama itu menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun porsinya tidak sama. Semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagian. Tidak ada satupun yang salah atau menyesatkan.

KRITIK TERHADAP PLURALISME AGAMA


6 Dr. Anis Malik Thoha. hal 16-23 7 Ibid hal 12 8 Ibid hal 14 9 Khalaf Muammar, Atas Nama Kebenaran , Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Malaysia: ATMA 2006,hal 208-209 10 Adian Husaini,MA, Wajah Peradaban Barat, Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, Jakarta: Gema Insani Press. Hal 335. 11 DR. Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabbolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insan Press, 2008. hal 83

1. Terminologi pluralisme agama atau bahasa Arabnya al raaddudiyyah, tidaklah dikenal secara populer dan tidak banyak dipakai dikalangan Islam kecuali sejak kurang lebih dua dekade terakhir abad ke-20 yang lalu. Jika kita buka lembaran karya para klasik dalam berbagai bidang tidak akan ditemukan istilah taaddudiyyah (pluralisme). Paling juga mungkin yang dapat dijumpai istilah taaddud yang pada prinsipnya digunakan dalam kitab-kitab fiqih berkaitan dengan taaddudu alzawjat (poligami). Secara verbal terminologi pluralisme agama tidak ditemukan dalam teks-teks suci, Al-Quran maupun Sunnah serta kitab-kitab klasik. Hal ini menunjukkan tidak adanya konsep atau teori tentang pluralisme agama dalam Islam.12 2. Surat Hud 118-119 dan Al-Maidah 48 menegaskan bahwa perbedaan dan keragaman bangsabangsa, syariat dan falsafah hidup memang dikehendaki Allah. Beberapa ulama tafsir menyatakan bahwa perbedaan dan keragaman sebagai fakta penciptaan.13 3. Pada surat Fatir 24, An-Nahl 36, dan Al-Muminun 44 mengabararkan bahwa Allah swt telah mengutus seorang nabi dan rasul kepada manusia sepanjang zaman, bahkan dalam bebeapa kasus kepada salah satu kaum (Bani Israil), dengan membawa aqidah yang benar dan agama yang suci. Jika memang tidak ada perbedaan hakiki antara agama-agama, tentu saja pengutusan ini tidak ada artinya atau sia-sia, dan ini adalah hal yang mustahil bagi Allah. 4. Pada surat Ali Imran 20 dan 64 Allah Swt memerintahkan Rasulullah saw untuk mengajak ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dan penyembah berhala agar masuk Islam. 5. Dalam sunnah Rasulullah saw. telah mengutus beberapa utusan di sekitara Jazirah Arabia kepada Kaisar Ramawi, Heraklius yang Nashrani yang isinya adalah mengajak mereka kepada Islam.14 ini menunjukan perbedaan yang substansial antara Islam dengan agama-agama lain. 6. Ayat-ayat dalam surat Al-Kafirun, dimana Allah memerintahkan untuk Nabi-Nya untuk cuci tangan dari orang kafir musyrik Quraish. Kalau tidak ada perbedaan hakiki tentu Rasulullah tidak akan diperintahkan seperti itu. 7. Ayat-ayat yang menceritakan saling lempar klaim kebenaran antara kaum Yahudi dan Nashrani, bhawa klaim-klaim tersebut hanyalah angan-angan kosong, daan bahawa yang hak hanyalah Islam. 8. Pluralisme Agama bertentangan dengan surat Ali Imran 19 yang menjelaskan bahwa agama yang paling diridoi Allah hanyalah Islam. bila ada yang menyakini kebenaran sebuah agama selain Islam maka ia telah berbuat Musyrik. 9. Menurut Syeed Naquib Al-Attas Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal (Al-Hujurat 13). Ayat ini menunjukan pluralitas. Namun pluralitas dalam konteks agama jangan dipahami bahwa Allahlah yang menciptakan semua agama yang ada di dunia ini. Pada hakikatnya agama-agama selain Islam dicipta oleh manusia. Jadi agama yang benar adalah satu yaitu Islam. sedangkan yang lainnya adalah agama yang diselewengkan yang dulunya memang benar. Maka konsep pluralisme agama tidak boleh diterima oeh umat Islam.15

PENUTUP Pluralitas itu merupakan sunnatullah yang abadi akan selalu kita temui dalam berbagai bidang
12 Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005. hal 180-182 13 Ibid 207 14 Agus Hasan Bashori, Koreksi Total Fikih Lintas Agama, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2004, hal xv 15 Khalaf Muammar, Atas Nama Kebenaran , Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Malaysia: ATMA 2006, hal 223

kehidupan,sehingga pluralitas itu sendiri telah menjadi karakteristik utama makhluk Allah. Terbuki bahwa Allah menciptakan berbagai ciptaanya dari berbagai macam yang terdapat dalam Al-Quran.16 Ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan fakta-fakta diatas secara jelas menerangkan pluralitas merupakan realitas yang mewujud dan tidak dapat dipungkiri. Hakikat suatu perbedaan keberagaman timbul semata-mata karena adanya kekhususan dan karakteristik yang diciptakan Allah swt. dalam setiap ciptaan-Nya. Agama Islam merupakan agama yang khas yang memiliki karakteristik berbeda dengan agamaagama yang pernah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul meskipun misi yang di emban sama yaitu Tauhid. Agama-agama sebelum Islam sekrang telah berubah karena telah diselewengkan. Maka merupakan sebuah kekeliruan apabila ada yang menyamakan Islam dengan agama-agama yang lain dalam sisi apapun, seperti paham Pluralisme Agama. Karena Islam merupakan agama yang paling diridoi oleh Allah, dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.17 Wallahu alam bishawab. Daftar Pustaka Dr. Alwi Shihab, Isam Inklusif, Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Bandung: Mizan, 1997 DR. Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabbolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insan Press, 2008. Adian Husaini MA, Pluralisme Agama, Parasit Bagi Agama-agama, Dewan Dawah Islamiyyah Indonesia. Hal 1-2 Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005. Khalaf Muammar, Atas Nama Kebenaran , Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal, Malaysia: ATMA 2006 Adian Husaini,MA, Wajah Peradaban Barat, Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal, Jakarta: Gema Insani Press. Agus Hasan Bashori, Koreksi Total Fikih Lintas Agama, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2004

16 Al-Anan: 99; Al-Rad: 3; Yasin: 36; Al-Syura: 11; Al-Zukhruf; 13; Al-Zariyat: 49; Fatir: 27-28; Al-Rum: 22; Al-Hujurat: 13; Hud: 118-119; Al-Maidah; 48; dan Al-Hajj:67 17 QS. Ali Imran:85