Anda di halaman 1dari 9

1. Menurut kalian bagaimana pemikiran kant dengan situasi internasional saat ini? Relevant atau tidak? Berikan alasan!

Hadza min Fadhli R: Pemikiran Kant menurutku saat ini masih mengalami tantangan untuk menjawab persoalan internasional, terutama dalam tujuan Kant untuk membentuk sebuah single international community dan ending war. Ide Kant yang utopis sementara ini masih dijawab dengan membentuk sebuah organisasi internasional (i.e. PBB), dan ini sebenarnya jg salah satu preskripsi Kant untuk membentuk "federation of free states".. yg memiliki kesamaan persepsi ttg "liberal democracy".. tp toh tdk semua negara akhirnya ad here ke "liberal democracy" meskipun tlh tergabung dlm organisasi internasional. Hal ini disebabkan adanya semacam cultural and moral relativity yg membuat orang mendefinisikan term demokrasi dan moral scr berbeda2. Nur ariani: Saya setuju dalam hal "negara ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya". Namun saya kurang yakin dengan konsep "perdamaian abadi". Seperti yang telah dijabarkan oleh Hadza sebelumnya, "perdamaian abadi" relatif utopis. Institusi internasional yang dibangun pun pada nyatanya justru berpotensi menjadi 'ladang pertarungan' baru. Brian Nova Pratama: Saya lebih percaya diri apabila pertanyaan anda itu saya jawab dengan kata 'relatif'. Mengapa? Karena memang secara fakta, begitu adanya, bahwa pemikiran Kant, kadang relevan, kadang juga tidak. Perihal yang terkait disini adalah tentang tujuan Kant yaitu mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian di dunia dengan organisasi internasional. Menurut saya, tujuan Kant tersebut susah untuk terealisasikan karena memang manusia dengan latar belakang yang sangat beragam dan mempunyai pandangan serta tujuan hidup yang sangat berbeda. Organisasi Internasional sebagai jalan yang ia tawarkan pun terdengar naif dan sarat akan pemikiran utopis. Tidak akan mungkin di dunia ini tercipta sebuah atmosfer dimana perang itu hilang dan perdamaian akan abadi. Kalau saya boleh bilang, perang adalah penyeimbang kehidupan. Ibarat baik dan buruk. Kehadiran yang buruk itu diperlukan agar manusia tahu mengapa ada yang baik dan apa guna baik dan buruk itu. Kesimpulannya disini saya menjawab bahwa pemikiran Kant terkait relevansi nya dengan tatatan dunia saat ini adalah relatif, apakah kita akan optimis menganggap bahwa itu benar adanya, atau kah kita akan pesimis dengan banyak menyoroti peristiwa perang dan betapa PBB sangat lumpuh menghadapi situasi yang ada.

Annisa Ariyati: Menurut saya pemikiran Immanuel Kant sedikit kurang relevan. Hal ini dikarenakan perpetual peace yang diusung Kant seperti terlalu jauh. Setiap orang memang menginginkan perdamaian namun untuk mencapai kondisi yang perpetual nampaknya akan mengalamai kesulitan. Ide Kant untuk mencari jalan agar perang berakhir dengan mengedapankan nilai kebersamaan sebagai masyarakat internasional melalui organisasi internasional pun masih mendapat tantangan karena adanya cultural relativity dalam melihat dunia dan hukum internasional tersebut. Gede Resna: Saya melihat relevansi yang semakin berkurang atas pandangan IMannuel Kant. Hal ini disebabkan oleh kepentingan yang selalu didahulukan oleh tiap negara dna bahkan individu di seluruh dunia. Manusia-manusia di dalam negara yang seharusnya memajukan malah membuat negara mundur karena konflik horizontal, kemudian manusia yg tidak tunduk pada negara sudah jarang, karena otoritas negara yang begitu kuat digunakan di seluruh dunia, jadi pandangan perpetual peace susah dijalankan saat ini. Dara Ninggarwati: immanuel Kant yang banyak mendapat influence pemikiran politiknya melalui perspektif kosmopolitan, bagi saya kurang relevan realisasinya dengan situasi internasional di beberapa aspek. Berdasarkan perspektif cosmopolitan, Kant berpendapat bahwa seyogyanya terdapat masyarakat yang tidak dibatasi oleh legitimasi dan otoritas politik tertentu, sehingga masyarakat internasional dapat hidup lebih damai dengan mengacu pada kesadaran akan kesetaraan moral dan tanggung jawab moral secara universal. Hal ini saya konklusikan sebagai hal yang utopis dan berusaha diwujudkan Kant sedemikian rupa dengan mepersonifikasikan idenya pada peran organisasi internasional, yang dianggap dapat menjadi penyeimbang nilai moral universal, ditengah kepentingan negara yang berbeda-beda. Saya rasa dengan ini Kant berusaha mencari solusi alternatif, yang bahkan tidak memecahkan masalah inti bagaimana menciptakan perdamaian abadi dari sekedar menyerukan soal kesetaraan moral pada tiap individu, yang bahkan hidupnya berada dalam naungan suatu Negara Abie Zaidannas: Untuk pertanyaan pertama aku setuju dengan Brian, jawabannya "relatif". Kenapa relatif relevan? Sebagian dari ajaran Kant masih bisa dikatakan relevan seperti bagaimana Organisasi Internasional punya peran yang cukup baik dalam menjaga perdamaian internasional. Namun masalah perpetual peace yang ditawarkan Kant masih dapat dipertanyakan karena realita di lapangan tidak seperti apa yang digambarkan Kant. (1)

2. hospitalitas Negara bagaimna?setujukah? Brian Nova Pratama: sangat setuju, Kant menawarkan opsi perdamaian yang lain di sisi ini, tentang bagaimana penghormatan dan penghargaan diberikan kepada tamu dari negara lain yang sedang berkunjung. Poin ini menurut saya penting dikarenakan ada sentuhan personal disini. Penyambutan dan kesenangan yang diberikan oleh host kepada visitor, utamanya dalam konsteks negara, akan sangat mempengaruhi bagaimana hubungan kedua negara tersebut atau lebih. Alasan saya? Karena pendekatan yang paling benar untuk masalah seperti ini, tidak ada yang lebih baik daripada personal touch Hadza min Fadhli R: Sebenarnya pasal mengenai hospitality of state ini berkaitan dengan freedom of emigration and movement seorang individu dari satu negara ke negara lainnya, dimana setiap negara harus menyambut seorang individu dari negara lain secara baik. Ya, sekarang hospitality of state ini kita lihat dalam bentuk diadakannya paspor sebagai penjamin hak-hak seorang individu untuk dilindungi meskipun ia ada di negara lain. Yang jadi permasalahan adalah sebelum masuk ke suatu negara, seorang individu terkadang harus melewati fase-fase yg cukup merepotkan dlm pembuatan visa dan pemeriksaan yg ketat sblm masuk ke suatu negara dg alasan keamanan. Ya kita tahu lah USA sangat strict dalam permasalahan ini, dan menurutku measurement yg diterapkan US (dan bbrp negara lain) dlm menerima WNA tdk dalam taraf yg hospital dan ramah Yang benar-benar bisa menerapkan hospitality dengan bagus sampai saat ini adalah EU (antar negara anggotanya) dimana penduduk Eropa dengan mudah dan gampangnya bisa melewati batas antarnegara hanya dengan menunjukkan kartu ID. Mereka sudah tidak ada rasa saling curiga lagi karena sudah terbentuk semacam common identity dan understanding diantara mereka, yg kemudian menyebabkan terbentuknya sebuah common hospitality, sama2 enak lah istilahnya Tapi EU masih belum begitu ramah dengan negara2 luar EU, terutama ada bbrp negara yg masih menerapkan strict measurement thd masalah imigran yg implikasinya besar thd penjaminan HAM.. Saya sepakat dg gagasan hospitalitas negara, tp tentunya ini perlu dikembangkan secara bertahap lagi, krn situasi skrg yg masih penuh dengan konflik masih membuat bbrp negara tdk hospital dlm menerima manusia lainnya krn alasan keamanan. > yangharus di bernarkan perlahan yang bagai mana? Hadza: Ya, simple aja, itu yang namanya full body scanning dan geledah koper merupakan tindakan yg menurutku violating personal rights. kalau kata mas eric, itu adalah tindakan yg membuat kt semua adlh

teroris sblm benar-benar dicek. paradigma inilah yg harus perlahan-lahan dihilangkan, paradigma terrorized dan selalu terancam setiap waktu. Annisa Ariyati: Menurut saya hospitalitas negara dalam memperlakukan warga negara lain yang ada di wilayah negaranya merupakan pemikiran yang bagus untuk membangun sebuah perdamaian. Perlakuan yang ramah terhadap individu akan membuat kenyaman dan meredam terjadinya konflik. Namun hospitalitas yang diberika n tersebut tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku di level negara. Terkadang hospitalitas tersebut tidak menyetuh keramahan pada level universal bagi seluruh individu di seluruh belahan dunia. Negara tersebut hanya akan memberlakukan baik individu dalam lingkup teritorinya. > yangharus di bernarkan perlahan yang bagaimana? ariyati: iya res, hospitalitas itu harusnya menjadi lebih universal sesuai gagasan kosmopolitas. Jangan sampai ramah hanya pada beberapa negara Nur ariani: Setuju. Alasan saya singkat saja. Interaksi antarmanusia dalam suatu negara dapat memengaruhi hubungan yang lebih luas. Ketika seseorang memiliki kesan positif atas suatu negara, maka orang tersebut akan menyebarkan apa yang ia rasakan kepada orang-orang di negaranya dan kemudian hal tersebut semakin menyebar. Dara Ninggarwati: . Hospitality negara yang diusung Kant saya rasa merupakan term yang lebih apik dala reframing silaturahmi yang menjadi hak dan tanggung jawab sebuah negara. Hal ini sesungguhnya merupakan sebuah strategi lanjutan dari teorema awal yang diusung oleh Kant mengenai pentingnya tiap manusia mengedepankan nilai moral dalam bertindak agar senantiasa berada dalam perdamaian abadi. Dalam lingkup relasi antar negara yang lebih konfliktual daripada hubungan antar individu, karena cenderung lebih politis, menurut Kant haruslah dipupuk keharmonisannya dengan mengusung

hospitality itu sendiri untuk mendukung adanya perdamaian abadi antar negara, dan menempatkan citra bahwa nilai moral pada hubungan antar negara ternyata bukan nilai yang marginal. Padahal being hospital saja tidak cukup untuk meredam skeptisisme moral Gede Resna: Untuk hospitalitas negara, saya setuju jika ada aturan tentang bagaimana negara harus menyambut tamu dari negara lain. Dalam politik internasional,beberapa hal kecil saat terjadi pertemuan tinggkat tinggi bisa diangkat menjadi satu masalah besar. Jadi, hospitalitas

negara akan menjaga keadaan yang stabil antar kedua negara, hospitalitas menurut saya juga bisa dikatakan sebagai salah satu cara menghormati sesama negara yang berdaulat. Abie Zaidannas: Untuk pertanyaan kedua, secara personal dan moral aku setuju dengan konsep hospitalitas negara yang ditawarkan Kant :) why? Karena manusia pada dasarnya memiliki interdependensi yang sangat kuat dan dalam hal ini dicerminkan dalam tatanan politik internasional dimana negara juga memiliki interdependensi yang kuat sehingga sudah kodratnyalah negara menjadi seperti apa yang disebutkan oleh Kant dalam konsep Hospitalitas Negara. :))

3. menurut kalian pemikiran Kant yang mana, yang paling berbeda dengan pemikir sebelumnya. mengapa? Hadza min Fadhli R: Sederhananya, Kant ini sebenarnya mengembangkan pemikiran dari para sesepuh2 awalnya, semacam mbah Grotius, mbah Vattel, dkk yang mempromosikan hukum internasional. Hanya saja kupikir bahwa pemikiran Kant ini lebih komprehensif dan cukup praktikal terutama pada soal pembentukan "federation of free states" yang kemudian mengilhami terbentuknya bbrp aliansi di Eropa pada abad ke-19 (walaupun akhirnya gagal). Selain itu, dalam pemikiran Kant, gagasan mengenai kosmopolitanisme moral di bahas secara mendalam, bahwa memang manusia menurut Kant belong to one single community, dan tidak seharusnya dibedabedakan walaupun terpisah batas negara. Mungkin itu ya. :o Gede Resna: Hampir sama kayak hadza sih sebenarnya, Ide Kant bisa dilihat seperti transformasi teori-teori atau ide-ide lama ke arah hubungan internasional yang modern. Pemikiran tentang moral dan perdamaian sudah lebih dahulu muncul, tentang organisasi internasional juga sudah ada idenya. Ide Kant lebih praktikal dan bisa dibilang mudah dimengerti secara filosofis. Mungkin untuk ide yang agak baru adalah tentang hospitalitas negara, walaupun bangsa barat sudah mengenal acara dan pertemuan formal, tapi gagasan ini kemudian lebih membuat hal itu menjadi besar dan penting bagi hubungan antar negara di dunia Brian Nova Pratama: Kant menawarkan sebuah preksripsi tentang perdamaian abadi, itulah yang menurut saya, berbeda dengan pemikir seblumnya

Nur ariani: Res. Konsep hospitalitas yang diusung sama Kant berbeda dan lebih implementatif. Tidak seperti pemikiran-pemikiran sebelumnya yang cenderung masih bersifat umum. Annisa Ariyati: Pemikiran yang membedakan Kant dengan pemikir sebelumnya adalah Kant mulai memikirkan adanya tatanan dunia internasional bersama yang dilandasi moral. Kant memberikan penjelasan-penjelasan mengenai hukum internasional yang lebih tertata melalui organisasi internasional. Keinginan Kant yang paling besar terlihat dari perpetual peace yang ia tawarkan. Poin-poin baru yang disampaikan Kant adalah hospitalitas negara. Kant lebih jelas menggambarkan bagaimana dan seperti apa hospitalitas negara mempengaruhi tatanan dunia internasional. Dara Ninggarwati: Pemikiran Kant yang paling berbeda menurut saya adalah persistensinya dalam menyatakan bahwa nilai moral sama sekali tak bisa dipisahkan pada setiap relasi, baik itu dimensi hubungan antar individu maupun antar negara. Pemikiran ini menghasilkan pemikiran selanjutnya yang kembali unik,bahwa untuk mengedepankan nilai moral maka manusia tidak dapat tunduk dengan otoritas seperti negara untuk menjamin kemurnian moralnya. Menurut saya hal ini merupakan persepsi yang mendukung perpetual peace, namun di satu sisi menjadi persepsi yang aneh karena manusia sendiri tidak berkenan untuk diorganisir dalam aturan tertentu, yang justru dapat memperbesar kecenderungan 'rebel dan chaos' Abie Zaidannas.: Pemikiran Kant yang paling beda dengan pemikir lain adalah Perpetual Peace yang diusung Kant. Menurutku Kant cukup berani mengajukan argumennya dalam perpetual peace yang (mungkin) belum pernah dipikirkan pemikir lain. Terlepas dari relevansinya saat ini, konsep perpetual peace merupakan buah pemikiran yang luar biasa dari Kant dan memiliki rangka logika yang bagus, masalah terbesar dari pemikiran ini adalah perspektif demokrasi yang beragam dalam realitanya.

Recap Diskusi Kelompok Dewi Sartika -IMMANUEL KANT-

Kelompok : Dewi Sartika / Rhesa Ayu Putri B ( 10/297099/SP/23925 Anggota Diskusi: Abie Zidannas Suhud (10/298820/SP/23993) Annisa Aryati (10/296506/SP/23845) Brian Nova Prathama (10/297207/SP/23948) Dara Ninggarwat (10/299490/SP/24147) Hadza Min Fadhli R (10/298963/SP/24025) Gede Resnadiasa (10/296269/SP/23822) Nur Ariani (10/296950/SP/23899)

Dari diskusi kelompok dewi sartika kami menyetujui bahwa pemikiran Immanuel Kant relative relevant bahkan kurang relevant dengan dunia internasional saat ini. Karena meskipun sudah ada organisasi internasional yang mengatur perang, perang tetap saja terjadi hal tersebut yang kami rasa relative. Selain itu juga masih berbedanya pandangan manusia mengenai moral dan cultural understading. Yang menurut Negara A hal tersebut di anggap wajar dan mematuhi moral namun belum tentu di Negara B dianggap memtuhi moral. Perbedaan pemahaman mengenai moral dan perbedaan latar belakang budaya yang berbeda dalam melihat dunia dan hukum internasional saat ini. Hal tersebut yang masih menjadi batu sandungan hingga saat ini. Selain itu organisasi internasional yang menurut Kant adalah solusi bagi perdamaian dunia yang abadi menurut kami bukanlah soslusi yang menjamin. Mengapa karena masih banaknya Negara yang menjadikan organisasi internasional seperti:PBB sebagai ajang peran. Bahkan di jadikan sebagai lading perang bagi para anggota PBB tersebut. Bukanhanya organisasi internasional dan kultur budaya yang berbeda yang membuat pemikiran kant dikatakan relative karena peran individu didalam Negara masih ada yang belum menunjukkan kearah perdamaian. Hal tersbeut di contohkan dengan adanya perang saudara.

Selain itu kami juga berpendapat bahwa pemikiran Kant lagi-lagi kurang relevant dengan dunia internasional. Hal tersebut (perang) dapat dikatakan sebagai penyeimbang mengapa, karena dengan adanya perang kita dapat mengetahui apa arti perdaiaman dimana kita mendapat dunia yang damai dan dengan adanya perdamaian kita mengetahui bagaiaman perang tersebut sangat merugikan korban-korban peran Negara penduduk sipil yang ada didalam Negara tersebut. Relative yang kami maksud disini adalah, dimana pemikiran Kant yang merupakan solusi yang sudah ada dan sudah cukup berhasil. dimana tidak semua organisasi internasional memiliki tujuan untuk menguasai perpolitikan dunia namun masih adanya organisasi yang mendukung perdamaian hal tersebut yang menurut kami relative. Dalam pelaksanaanya, Beberapa aspek telah terpenuhi dan berlangsung hingga saat ini seperti organisasi internasional, namun tidak keseluruhan aspek tersebut menjadi jawaban karena organisasi internasional tersebut yang malah menjadi ladang untuk perang, ini yang kami maksud dengan relative. Selain masalah organisasi internasional masalah hospitalitas Negara tidak kalah penting,karenahospitalitasini erat kaitannya dengan pencitraan setiap Negara dan penggunaan HAM. Hospitalitas Negara merupakan unsur penting dalam sebuah Negara dimana attitude Negara menjadi tolak ukur bagi Negara lainnya. Dimana jika warga Negara B berkunjung ke Negara A dan sikap Negara tersebut tidak ramah hal tersebut menjadi permasalahan. Dimana adanya sambutan baik dari Negara host merupakan peran penting. hospitalitas adalah bagaimana menghargai kedaulatan dan kebebasan antar warga Negara di dunia. Namun yang terjadi saat ini adalah masih ada Negara yang tidak menyambut tamu-nya dengan baik. Yang kami maksud disini adalah fullbody screaning penggeledahan koper, hingga melepas sepatu pada saat pemeriksaan pemerikasaan barang. Hal tersebut bagi beberapa warga Negara sangat merugikan karena para tamu Negara tersebut diperlakukan sama seperti pelaku kejahatan. Kadang bagi beberapa orang yang dianggap mencurigakan tidak segan-segan ia di bawa keruang tertutup dan diperiksa seluruh tubuhnya. Hal tersebut yang kami rasa meLanggar HAM. Selain itu pembuatan visa yang masih dirasa susah khususnya bagi US dan EU. Kedua Negara ini yang menurut kami memiliki perlakuan yang kurang menyenangkan bagi tamu warga Negara tersebut. Hospitalitas yang terjadi dapat dikatakan ramah terhadap beberapa negara saja. Hal ini dapat di contohkan ketika seorang yang berasal dari timur tengan dan

menggunakan baju muslim yang biasa mereka pakai di Negara-nya (gamis) bagi AS hal tersebut sangatlah asing. Dari pengurusan visa belum tentu ia mendapat ijin untuk masuk kenegara tersebut, haltersebuut dapat dilihat dariunsur namanya. Meskipun ia mendapat ijin masuk belum tentu ia mendapat perlakuan yang baik pada saat pemeriksaan barang bawaan, dan lainnya. Menurut kami Immanul Kant membawa ide segar mengenai perpetual peace. Dimana ia berpendapat bahwasannya dunia ini dapat tercipta sebagai dunia yang memiliki perdamaian yang abadi. Meskipun pemikiran Kant sudah dipelopori oleh pemikir sebelumnya, namun ia memiliki konsep yang dapat dikatakan relative relevant dengan dunia internasional saat ini. Menganggap manusia merupakan actor penting dalam dunia internasional haltersebut merupakan point utama bagi kant didalam mewujudkan dunia internasional yang penuh akan perdamaian. Yang abadi. Jika dapat di tarik kesimpulan pemikiran Kant relative relevant dengan dunia internasional saat ini. Point point yang beliau utarakan cukup baik namun pada pelaksanaa-nya masih belum menunjukkan perdamaian. Seperti organisasi internasional yang menurut Kant merupakan solusi bagi perdamaian abadi namun tidak secara utuh menjadi solusi dan juga hospitalitas Negara yang tidak seutuhnya menyerukan Damai terkadang cenderung membuat masyrakat tidak suka atas sambuta yang dibuat oleh suatu negara.