Anda di halaman 1dari 31

KE1AHATAN SEKSUAL

Inggried F. Limbong (10-2007-110)


Mahasiswa Semester 1ujuh
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
1l. 1erusan Arjuna Ao., 1akarta
e-mail : inggried_limbongyahoo.co.id




UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
1AKARTA 2011
$9 f

KASUS III

Anda bekerja sebagai dokter di ICD sebuar Rumah Sakit. Pada suatu
sore hari datang seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak
perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan bahwa anak tersebut baru
saja pulang dibawa lari" oleh teman laki-laki yang berusia 18 tahun selama 3
hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri
putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah
disetubuhi" laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat
menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus
anaknya."












3$9 f

A I
PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita kerapkali membaca berita mengenai kasus
perkosaan atau perampokan/ pembunuhan yang disertai perkosaan.
1-3
Kasus-kasus semacam ini biasanya memiliki nilai berita yang tinggi dan akan diliput oleh
berbagai mediamassa. Di pihak lain, masyarakat yang mengetahui berita semacam ini umumnya
ikut terlibat dan seringkali merasa gemas dan mengutuk perbuatan itu.
1
Protes masyarakat dimaniIestasikan dalam tulisan surat pembaca di berbagai media cetak.
Telah sering kita baca bahwa masyarakat mengusulkan agar sanksi hukum terhadap pelaku
perkosaan diperberat karena masyarakat merasa bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim
terlalu ringan.
2,3
Dalam tulisan ini ingin dibahas mengenai aspek medis dan hukum dari delik perkosaan
dan delik susila lainnya khususnya dari aspek pembuktiannya.
1-3









4$9 f

A II
PEMAHASAN

I. ASPEK HUKUM
I.1. Perkosaan
$uatu laporan tentang seorang yang disetubuhi atau dilecehkan secara seksual oleh
seseorang lainnya tidak selalu berarti kasusnya adalah perkosaan. Untuk kasus-kasus semacam
ini kita harus memilah termasuk kategori delik yang manakah kasus tersebut, yang masing
masing mempunyai kriteria dan hukuman yang berbeda satu sama lain.
1-3
Menurut KUHP pasal 285 'Perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan.`
4
KUHP 285 : 'Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seorang wanita bersetubuh dengannya diluar perkahwinan, diancam karena melakukan
pemerkosaan dengan pidana paling lama dua belas tahun.`
4
KUHP pasal 89 : 'Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan
menggunakan kekerasan.`
4
I.2. Persetubuhan diluar perkawinan
Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang berusia diatas 15 tahun tidak
dapat dihukum kecuali jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap wanita yang dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya.
1-4
'Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita dibawah 15 tahun harus ada
pengaduan dari korban atau keluarganya` (pasal 287 KUHP) . Khusus untuk yang usianya
dibawah 12 tahun maka untuk penuntutan tidak diperlukan adanya pengaduan.
1-4
3$9 f

Pasal 287 KUHP :


1) 'Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkahwinan padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya bawah lima tahun, atau kalau
umurnya tidak felas, bahwa belum waktunya dikahwin, diancam dengan pidana penfara paling
lama sembilan tahun.`
4
) 'Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali fika umur wanita itu belum
sampai dua belas tahun atau fika ada salah satu hal berdasarkan pasal 1 dan pasal 4.`
4
Tindak pidana ini merupakam persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-unang
belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah diatas 12 tahun,
penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu
persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
2,4
Tetapi keadaan ini akan berbeda jika
O Umur korban belum cukup 12 tahun atau
O Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan
itu ( KUHP pasal 291 )
O Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak
yang berada dibawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya ( KUHP ps 294 ).
4

KUHP pasal 291 :
1) 'Kalau salah satu kefahatan yang diterangkan dalam pasal ,,, dan itu
berakibat luka berat, difatuhkan hukuman penfara selama-lamanya 1 tahun.`
4
) 'Kalau salah satu kefahatan yang diterangkan dalam pasal ,,,dan itu
berakibat matinya orang difatuhkan hukuman penfara selama-lamanya 15 tahun.`


6$9 f

KUHP pasal 294 : 'Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak
tirinya atau anak perliharaannya, anak yang dibawah pengawasannya, anak yang dibawah
umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau difaganya, atau bufangnya
atau orang yang dibawah umur, dihukum penfara selama-lamanya tahun.`
4
Untuk perbuatan yang trakhir ini pelakunya dapat dihukum maksimal 9 tahun penjara
(pasal 286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan terhadap wanita yang diketahui atau sepatutnya
dapat diduga berusia dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat
diancam hukuman penjara maksimal 9 tahun.
4

II. PROSEDUR HUKUM
II.1. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemeriksaan
.1.1. Memiliki permintaan tertulis dari penyidik
Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan, dokter harus
melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus
diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Apabila korban datang sendiri
dengan membawa surat permintaan dari polisi, korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta
untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi.
5-8
Visum et Repertum dibuat hanya berdasarkan atas keadaan yang didapatkan pada tubuh
korban pada saat permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Jika dokter telah
memeriksa korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek atas inisiatiI korban
sendiri tanpa permintaan polisi, lalu beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan
untuk dibuatkan Visum et Repertum, maka hasil pemeriksaan sebelumnya tidak boleh
dicantumkan dalam Visum et Repertum karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri
korban sebelum ada pemintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia
kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322).
5-8
7$9 f

Dalam hal demikian, korban harus dibawa kembali untuk diperiksa dan Visum et
Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil
pemeriksaan yang lalu tidak dicantumkan dalam bentuk Visum et Repertum, tetapi dalam bentuk
surat keterangan.
5-8
.1.. nformed Consent
$ebelum memeriksa, dokter harus mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari pihak
korban, karena meskipun sudah ada surat permintaan dari polisi, belum tentu korban menyetujui
dilakukannya pemeriksaan atas dirinya. $elain itu, bagian yang akan diperiksa meliputi daerah
yang bersiIat pribadi. Jika korban sudah dewasa dan tidak ada gangguan jiwa, maka dia berhak
memberi persetujuan, saudaranya atau pihak keluarga tidak berhak memberikan persetujuan.
$edangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu, maka persetujuan diberikan oleh orang
tuanya atau saudara terdekatnya, atau walinya.
1-3
Dalam melakukan pemeriksaan, tempat yang digunakan sebaiknya tenang dan dapat
memberikan rasa nyaman bagi korban. Oleh karena itu, perlu dibatasi jumlah orang yang berada
dalam kamar pemeriksaan, hanya dokter, perawat, korban, dan keluarga atau teman korban
apabila korban menghendakinya. Pada saat memeriksa, dokter harus didampingi oleh seorang
perawat atau bidan.
1-3
.1.3. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secepat mungkin
Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di
kamar periksa. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan
dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.Visum et
Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan.
3



8$9 f

III. PROSEDUR MEDIKOLEGAL


Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek
yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. $ecara garis besar prosedur
medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan
pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.
8
$etiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik
yang berwenang. Korban harus dihantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan bahan
bukti.
1-8
Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya
kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk
melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan
dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan Iorensik untuk
dibuatkan visum et repertumnya.
1-8
III.1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
a. Pasal 133 KUHAP
1)'Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengafukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.`
4

)'Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan bedah mayat.`
4

3)'Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap fabatan
yang dilekatkan pada ibu fari kaki atau bagian lain badan mayat.`
4




9$9 f


b. Pasal 1 KUHAP
1)'Setiap orang yang dimana pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wafib memberikan keterangan ahli demi keadilan.`
4
)'Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku fuga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau fanfi akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-
benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.`
4


III.2. Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli
a. Pasal 1 KUHAP
1)'Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.`
4

)'Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan fanfi di muka penyidik bahwa
ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali
bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerfaan atau fabatannya yang
mewafibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan
yang diminta.`
4


b. Pasal 1 KUHAP
'Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar
keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi.
1)Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
derafat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
4

)Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu
atau saudara bapak, fuga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan
dan anak-anak saudara terdakwa sampai derafat ketiga.
4

3)Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama
sebagai terdakwa.`
4



10$9 f


c. Pasal 1 KUHAP
1)Mereka yang karena pekerfaan, harkat martabat atau fabatannya diwafibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewafiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.`
4

)'Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.`
4


III.3. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
a. Pasal 1 KUHP
'Barang siapa dengan sengafa tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pefabat yang tugasanya mengawasi sesuatu, atau oleh pefabat
berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak
pidana, demikian pula barang siapa dengan sengafa mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan tindakan guna menfalankan ketentuan,
1)Diancam dengan pidana penfara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
4

)Disamakan dengan pefabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut undang-undang
terus meneruus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menfalankan fabatan
umum.
4

3)Jika pada waktu melakukan kefahatan belum lewat dua tahun sefak adanya pemidanaan
yang menfadi tetap karena kefahatan semacam itu fuga, maka pidananya dapat
ditambah sepertiga.`
4

b. Pasal KUHP
'Barang siapa dengan sengafa mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penfara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.`
4





11$9 f

III.4. Rahasia 1abatan dan Pembuatan SKA/JetR


.4.1. Peraturan Pemerintah no 1 tahun 1 Tentang Wafib Simpan Rahasia
Kedokteran
Pasal 3 PP No 11
'Yang diwafibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah.
1) Tenaga kesehatan menurut pasal UU tentang tenaga kesehatan.
4

) Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.`
4

.4.. Pasal 3 KUHP
1) 'Barang siapa dengan sengafa membuka rahasia yang wafib disimpannya karena
fabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan
pidana penfara paling lama sembulan bulan atau pidana denda paling banyak
sembilan ribu rupiah.`
4

) 'Jika kefahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya
dapat dituntut atas pengaduan orang lain.`
4

.4.3. Pasal 4 KUHP
1) 'Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri
sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri
maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat
pada saat itu yang melawan hokum.`
4

) 'Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsing disebabkan keguncangan
fiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.`
4


III.5. Keterangan Palsu
a. Pasal KUHP
1)'Seorang dokter yang dengan sengafa memberi surat keterangan palsu tentang ada
atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penfara
paling lama empat bulan.`
4

1$9 f

)'Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang ke dalam


rumah sakit gila atau untuk menahannya di situ, difatuhkan pidana penfara paling
lama delapan tahun enam bulan.`
4

3)'Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengafa memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.`
4

b. Pasal KODEK
'Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.`
4

IV. PEMERIKSAAN MEDIS
IJ.1. Anamnesis
Anamnesis adalah wawancara antara dokter dan pasien atau keluarganya atau orang yang
mempunyai hubungan dekat dengan pasien. Anamnesis bertujuan agar dokter memperoleh
inIormasi atau data yang berhubungan dengan pasien. $elain itu, anamnesis juga bertujuan untuk
membina hubungan baik dan kepercayaan dokter dan pasien secara proIesional kompetensi.
1-3,9,10
Anamnesis terbagi atas auto-anamnesis, yaitu wawancara yang dilakukan antara dokter
dengan pasien yang bersangkutan, dan allo-anamnesis yaitu pada dasarnya sama dengan auto
anamnesis, bedanya yang menceritakan adalah orang lain yang mempunyai hubungan dekat
dengan pasien. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecil/ bayi atau orang tua yang
sudah mulai pikun atau penderita yang tidak sadar/ sakit jiwa.
1-3,9,10
Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya, sebaliknya
anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Terdorong oleh berbagai maksud atau
persaan, misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam, menyesal atau karena takut pada
ayah/ibu, korban mungkin mengemukakan hal-hal yang tidak benar.
1-3
Anamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektiI, sehingga seharusnya tidak dimasukkan
dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum
13$9 f

dengan judul keterangan yang diperoleh dari korban. Dalam mengambil anamnesis, dokter
memintapada korban untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan
sebaiknya terarah.
5-7
Pada kasus perkosaan dan delik susila lainnya perlu dikumpulkan inIormasi-inIormasi sebagai
berikut :
O Umur.
Umur korban amat perlu ditentukan pada pemeriksaan medis, karena hal itu menentukan jenis delik
(delik aduan atau bukan), jenis pasal yang dilanggar dan jumlah hukuman yang dapat dijatuhkan.
1-
3,9,10

Dalam hal korban mengetahui secara pasti tanggal lahirnya/umurnya, apalagi jika dikuatkan oleh
bukti diri (KTP, $IM, dan sebagainya), maka umur dapat langsung disimpulkan dari hal
tersebut.
1-3,9,10
O $tatus perkawinan.
9,10

O Haid : siklus, terakhir.
9,10

O Penyakit kelamin dan kandungan.
9,10

O Penyakit lain, seperti : epilepsi, katalepsi, syncope.
1-3

O Pernah bersetubuh ? Waktu persetubuhan terakhir ? Menggunakan kondom ?
1-3

O Waktu kejadian.
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian tanggal dan jam kejadian. Bila
waktu antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari /
minggu dapat diperkirakan mengapa ia tidak dapat menemukan spermatozoa, atau tanda-
tanda lain dari persetubuhan.
1-3,9,10
O Tempat kejadian.
$ebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian,
misalnya rumput, tanah, dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian atau tubuh
korban. $ebaiknya petugas pun dapat mengetahui dimana harus mencari trace evidence
yang ditinggalkan oleh korban atau pelaku.
9,10
O Perlawanan korban.
Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian
mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda
14$9 f

kekerasan dan pada alat kelamin mungkin ditemukan berkas perlawanan. Kerokan kuku
mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pelaku.
9,10

O Apakah korban pingsan ?
Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan oleh laki-laki
pelaku dengan pemberian obat-obatan. Dalam hal ini jangan lupa untuk mengambil urin
dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.
9,10
O Apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi.
9

O Apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi atau menganti pakaian.
9


IJ.2. Pemeriksaan Luar dan Dalam
'..1. Pemeriksaan Pakaian
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti. Pakaian diteliti helai demi helai,
apakah terdapat: Robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian,
Kancing terputus akibat tarikan, Bercak darah, air mani, lumpur, dan sebagainya yang
berasal dari tempat kejadian.
1-3
Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan
pakaian yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium kriminologi untuk
pemeriksaan lebih lanjut.
1-3

'... Pemeriksaan Tubuh Korban
Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum: Lukiskan penampilannya
(rambut dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau sedih/gelisah dan
sebagainya. Adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius,
apakah ada needle marks. Bila ada indikasi jangan lupa untuk mengambil sampel darah dan
urin.
9,10
Adakah tanda-tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher,
pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.
9,10
Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, reIleks cahaya, pupil
pinpoint, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru dan abdomen.
9.10

13$9 f

Adakah trace evidence yang melekat pada tubuh korban.


9,10
Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) meliputi ada tidaknya rambut kemaluan
yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering, gunting sebagai sampel
untuk diperiksa laboratorium. Cari pula bercak air mani di sekitar alat kelamin, kerok
dengan sisi tumpul skalpel atau swab` dengan kapas lidi yang dibasahi dengan larutan
garam Iisiologis.
9
Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema, memar
dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema? Dengan kapas lidi
diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
9
Periksa jenis selaput dara, adakah ruptur atau tidak. Bila ada, tentukan ruptur baru atau
lama dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai ke insertio atau tidak. Tentukan
besar oriIisium, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau 2 jari. $ebagai gantinya
boleh juga ditentukan ukuran lingkaran oriIisium, dengan cara ujung kelingking atau
telunjuk dimasukkan dengan hati-hati ke dalam oriIisium sampai terasa tepi selaput dara
menjepit ujung jari, beri tanda pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur.
Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5 cm. Lingkaran yang memungkinkan
persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah minimal 9 cm.
10
Harus diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan deIlorasi. Pada ruptur
lama, robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan dibawahnya.
Ruptur yang tidak sampai insertio, bila sudah sembuh tidak dapat dikenal lagi.
9,10
Periksa pula apakah Irenulum labiorum pudendum dan commisura labiorum posterior
utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat genital
mengijinkan. Adakah tanda penyakit kelamin.
9,10

Selaput dara Sperma Kesan
Utuh
Lubang sebesar ujung jari
Dalam pintu liang
sanggama
Tanda-tanda ejakulasi
dipintu, tapi tidak
terdapat masuknya
kelamin pria.
Tidak dapat dikatakan
16$9 f

telah terjadi
persetubuhan.
Utuh
Lubang sebesar ujung jari
Tidak ada Tidak terdapat tanda-
tanda persetubuhan.
Utuh
Lubang sebesar dua jari
Tidak ada Tidak terdapat tanda-
tanda persetubuhan yang
baru (3-6 hari terakhir)
Dalam liang sanggama Terdapat tanda-tanda
persetubuhan yang baru
Robekan segar /baru Dalam liang sanggama Terdapat tanda-tanda
persetubuhan yang baru
Tidak ada Robekan disebabkan
oleh masuknya kelamin
pria dalam ereksi atau
benda tumpulyang
menyerupai.
Tidak ada sperma belum
menyingkirkan telah
terjadi persetubuhan
Dengan satu atau beberapa
robekan lama dan dapat
dilalui dengan dua jari
Tidak ada Persetubuhan pernah
terjadi pada waktu yang
lampau
Dalam liang sanggama Terdapat tanda-tanda
persetubuhan baru






17$9 f

IJ.3. Pemeriksaan Laboratorium


'.3.1. Pemeriksaan terhadap Korban
Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan carian
mani dan sel mani dalam lendir vagina, lakukan dengan mengambil lendir vagina menggunakan
pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari Iorniks
posterior, bila mungkin dengan spekulum.Pada anak-anak atau bila selaput dara utuh,
pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja.
1-3,9,10

1. Tufuan : menentukan adanya sperma.
Bahan pemeriksaan : cairan vagina
Metode :
Tanpa pewarnaan, satu tetes cairan vagina ditaruh pada gelas objek dan kemudian ditutup,
pemeriksaan di bawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali.
1-3,9,10
Hasil yang diharapkan : sperma yang masih bergerak, dengan pewarnaan, dengan Malachi-
te-green, buat sediaan apus dari cairan vagina pada gelas objek, keringkan di udara, Iiksasi
dengan api, warnai dengan Malachi-te-green 1 dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan
air, warnai dengan Eosin-yellowish 1 dalam air, tunggu 1 menit, cuci dengan air, keringkan
dan diperiksa di bawah mikroskop, dan hasil yang diharapkan : bagian basis kepala sperma
berwarna ungu, bagian hidung berwarna merah muda.
1-3,9,10

2. Tufuan : menentukan adanya sperma.
Metode : pakaian yang mengandung bercak diambil sedikit pada bagian tengahnya
(konsentrasi sperma terutama di bagian tengah), warnai dengan pewarnaan Baeechi selama 2
menit, cuci dengan HCl 1 , dehidrasi dengan alkohol 70, 85 dan alkohol absolute,
bersihkan dengan Xylol, keringkan dan letakkan pada kertas saring, dengan jarum, pakaian
yang mengandung bercak diambil benangnya 1-2 helai, kemudian diurai sampai menjadi
serabut-serabut pada gelas objek, teteskan Canada balsam, ditutup dengan gelas penutup,
lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali.
1-3,19,10
Hasil yang diharapkan : kepala sperma berwarna merah, bagian ekor biru muda; kepala
sperma tampak menempel pada serabut-serabut benang.
1-3,9,10

18$9 f

3. Tufuan : menentukan adanya air mani (asam IosIatase)


Bahan pemeriksaan : cairan vagina.
Metode : cairan vagina ditaruh pada kertas Whatman, diamkan sampai kering, semprot
dengan reagensia, perhatikan warna ungu yang timbul dan catat dalam berapa detik warna
ungu tersebut timbul.
1-3
Hasil yang diharapkan : warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti asam
IosIatase berasal dari prostat, berarti indikasi besar; warna ungu timbul kurang dari 65 detik,
indikasi sedang.
1-3
Dalam pembuatan reagensia, bahan yang dibutuhkan antara lain :
O $odium chloride 23 gram
O lacial acetic acid mL
O $odium acetate trihydrate 2 gram
O BrentamineIast Blue B 50 mg
O $odium alpha naphthyl phosphate 50 mg
O Aquadest 90 mL
O Kertas Whatman no. 1 serta alat penyemprot (spray).
1-3,9,10


4. Tufuan : menentukan adanya air mani (kristal kholin)
Metode : Florence, cairan vagina ditetesi larutan yodium, kristal yang terbentuk dilihat di
bawah mikroskop.
1-3
Hasil yang diharapkan : kristal-kristal kholin-peryodida tampak berbentuk jarum-jarum yang
berwarna coklat.
1-3

5. Tufuan : menentukan adanya air mani (kristal spermin)
Metode : Berberio, cairan vagina ditetesi larutan asam pikrat , kemudian lihat di bawah
mikroskop.
1-3
Hasil yang diharapkan : kristal-kristal spermin pikrat akan berbentuk rhombik atau jarum
kompas yang berwarna kuning kehijauan.
1-3



19$9 f


6. Tufuan : menentkan adanya air mani
Metode :
a)Inhibisi asam IosIatase dengan L() asam tartrat :
- Pakaian yang diduga mengandung bercak air mani dipotong kecil dan diekstraksi dengan
beberapa tetes aquades.
- Pada dua helai kertas saring diteteskan masing-masing satu tetes ekstrak; kertas saring
pertama disemprot dengan reagens 1, yang kedua disemprot dengan reagensia 2,
- Bila pada kertas saring pertama timbul warna ungu dalam waktu satu menit sedangkan
pada yang kedua tidak terjadi warna ungu, maka dapat disimpulkan bahwa bercak pada
pakaian yang diperiksa adalah bercak air mani,
- Bila dalam jangka waktu tersebut warna ungu timbul pada keduanya, maka bercak pada
pakaian bukan bercak air mani, asam IosIatase yang terdapat berasal dari sumber lain.
Reagensia 1 : sodium alpha naphthyl phosphate dan Brentamine Iast blue B, dilarutkan dalam
larutan buIIer citrate dengan pH 4,9.
Reagensia 2 : sodium alpha naphthyl phosphate dan Brentamine Iast blue B, dilarutkan dalam
larutan yang terdiri dari 9 bagian larutan buIIer citrat pH 4,9 dan 1 bagian larutan 0,4 M. L()
tartaric acid dengan pH 4,9.
1-3,9,10
b)Reaksi dengan asam IosIatase :
- Kertas saring yang sudah dibasahi dengan aquades diletakkan pada pakaian atau bahan
yang akan diperiksa selama 5-10 menit, kemudian kertas saring diangkat dan
dikeringkan,
- $emprot dengan reagensia, jika timbul warna ungu berarti pakaian atau bahan tersebut
mengandung air mani,
- Bila kertas saring tersebut diletakkan pada pakaian atau bahan seperti semula, maka dapat
diketahui letak dari air mani pada bahan yang diperiksa.
1-3,9,10

c)$inar ultra violet; visual; taktil dan penciuman :
- Pemeriksaan dengan sinar UV : bahan yang akan diperiksa ditaruh dalam ruang yang
gelap, kemudian disinari dengan sinar UV bila terdapat air mani, terjadi Iluoresensi.
-
Pemeriksaan secara visual, taktil dan penciuman tidak sulit untk dikerjakan.
1-3,9,10

0$9 f

7. Tufuan : menentukan adanya kuman N. gonorrheae (O). Pemeriksaan dilakukan pada hari
ke-I, III, V dan VII.
Bahan pemeriksaan : sekret urethrae dan sekret cervix uteri
Metode : pewarnaan ram
Hasil yang diharapkan . kuman N. gonorrheae.
1-3

8. Tufuan : menentukan adanya kehamilan
Bahan pemeriksaan : urine
Metode :
a)Hemagglutination inhibition test (Pregnosticon),
b)Agglutination inhibition test (rav-index).
Hasil yang diharapkan : terjadi agglutinasi pada kehamilan.
1-3

9. Tufuan : menentukan adanya racun (toksikologi)
Bahan pemeriksaan : darah dan urine
Metode :
- TLC
- MikrodiIIusi, dsb.
Hasil yang diharapkan : adanya obat yang dapat menurunkan atau menghilangkan
kesadaran.
1-3

10.Tujuan : penentuan golongan darah
Bahan pemeriksaan : cairan vagina yang berisi air mani dan darah
1-3
Metode :
- $erologi (AB0 grouping test)
Hasil yang diharapkan : golongan darah dari air mani berbeda dengan golongan darah dari
korban. Pemeriksaan ini hanya dapat dikerjakan bila tersangka pelaku kejahatan termasuk
golongan sekretor.
1-3



1$9 f


'.3.. Pemeriksaan Laboratoriun Pelaku Kefahatan Seksual
1. Tufuan : menentukan adanya sel epitel vagina pada penis
Bahan pemeriksaan : cairan yang masih melekat di sekitar corona glandis.
Metode : dengan gelas objek ditempelkan mengelilingi corona glandis, kemudian gelas objek
tersebut diletakkan di atas cairan lugol.
Hasil yang diharapkan : sel epitel dinding vagina yang berbentuk hexagonal tampak
berwarna coklat atau coklat kekuningan.
1-3

2. Tufuan : menentuka adanya kuman N. gonorrheae (O)
Bahan pemeriksaan : sekret urethrae
Metode : sediaan langsung dengan pewarnaan ram
Hasil yang diharapkan . ditemukan kuman N. gonorrheae.
1-3

V. INTERPRETASI TEMUAN
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan,
mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan paksaan.
Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan
bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan
yang terdapat pada tindak pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah
perkosaan telah terjadi.
1-3,9,10
Pada tindak pidana diatas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi
paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah
oersetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak
dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.
1-3,9,10
Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas hilang
kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau narkotik.
Apabila ada petunjuk bahwa alkohol, hipnotik, atau narkotik telah dipergunakan, maka dokter
perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.
1-3,9,10
Pada tindak pidana diatas harus terbukti bahwa perempuan tersebut berada dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya ketika terjadi persetubuhan. Dokter harus mencatat dalam anamnesa
$9 f

apakah korban sadar ketika terjadi persetubuhan, adakah penyakit yang diderita korban yang
sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya, misalnya epilepsi,
katalepsi, sinkope dan sebagainya. Jika korban mengatakan ia menjadi pingsan, maka perlu
diketahui bagaimana terjadinya keadaan pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi
minuman atau makanan.
1-3,9,10
Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya,
ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan, karena dengan membuat wanita itu
pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan.
1-3,9,10
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-undang
belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun,
penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu
persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada
penuntutan.
9,10
Dalam keadaan diatas, penuntutan dapat dilakukan, walaupun tidak ada pengaduan karena
bukan lagi merupakan delik aduan.
9,10
Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur
korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan
korban sesuai dengan umur yang dikatakannya.
9,10
Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu dikemukakan.
Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2) sudah tumbuh (terjadi pada umur
kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3 akan muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih). Juga
harus ditanyakan apakah korban sudah pernah mendapat haid bila umur korban tidak diketahui.
10
Kalau korban menyatakan belum haid, maka penentuan ada/tidaknya ovulasi masih
diperlukan. Muller mengajurkan agar dilakukan observasi selama 8 minggu di rumah sakit untuk
menentukan adakah selama itu dia mendapatkan haid. Kini untuk menentukan apakah seorang
wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau belum, dapat dilakukan pemeriksaan vaginal
smear.
1-3,9,10
Hal diatas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya atau sepatutnya
harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum 15 tahun dan kalau umurnya tidak jelas
bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan yang belum pernah haid dianggap sebagai
belum patut dikawin.
9
3$9 f

Ruptur selaput dara. Bedakan celah bawaan dari ruptur dengan memperhatikan sampai di
insertio (pangkal) selaput dara. Celah bawaan tidak mencapai insertio sedangkan ruptur dapat
sampai ke dinding vagina. Pada vagina akan ditemukan parut bila ruptur sudah sembuh,
sedangkan ruptur yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan parut. Ruptur akibat
persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan asumsi bahwa
persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan.
10

VI. VISUM ET REPERTUM
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun
bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk
kepentingan peradilan.
5
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat
dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang
segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya.
5,6
$edangkan Visum et Repertum dibuat berdasarkan Undang-Undang yaitu pasal 120, 179
dan 133 KUHAP dan dokter dilindungi dari ancaman membuka rahasia jabatan meskipun Visum
et Repertum dibuat dan dibuka tanpa izin pasien, asalkan ada permintaan dari penyidik dan
digunakan untuk kepentingan peradilan.
6
Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et Repertum delik
kesusilaan adalah : Instansi Polisi yang meminta pemeriksaan, nama dan pangkat polisi yang
mengantar korban, nama, umur, alamat dan pekerjaan korban seperti tertulis dalam surat
permintaan, nama dokter yang memeriksa, tempat, tanggal dan jam pemeriksaan dilakukan serta
nama perawat yang menyaksikan pemeriksaan.
7
Meskipun tidak ada keseragaman Iormat, namun pada umumnya Visum et Repertum
memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Pembukaan:
O Kata Pro Justitia artinya untuk peradilan
O Tidak dikenakan materai
O Kerahasiaan
5-7

2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektiI administrasi:
4$9 f

O Identitas penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat Pembantu


Letnan Dua)
O Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti
O Identitas TKP dan saat/siIat peristiwa
O Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik)
O Identitas saat/waktu dan tempat pemeriksaan.
5-7

3. Pelaporan/inti isi:
O Dasarnya obyektiI medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa)
O $emua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan
diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z).
5-7

4. Kesimpulan: landasannya subyektiI medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai dengan
pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis.
5-7
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun 1981 dan LN
no. 350 tahun 1937 serta $umpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan
kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum tersebut,
yang berbunyi, Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya
berdasarkan keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana.
5-7
Formulir Visum et Repertum luka tidak sesuai untuk kasus perkosaan. Visum et
Repertum luka digunakan pada pemeriksaan korban peristiwa penganiayaan, kecelakaan lalu
lintas dan sebagainya. Pada bagian kesimpulan, dokter diminta pendapatnya tentang jenis luka,
jenis kekerasan penyebab dan kualiIikasi luka.
5-7
Pada peristiwa persetubuhan yang merupakan tindak kejahatan, dokter diminta untuk
mengemukakan pendapatnya apakah persetubuhan telah terjadi. Misalnya, pada perempuan
bukan perawan, persetubuhan mungkin tidak menimbulkan luka dan tidak ada kualiIikasi luka
yang akan dikemukakan.
5-7
Anamnesis dipisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum, tetapi masih perlu
dipikirkan apakah hal ini dapat diterima dengan gembira oleh pihak yang bersangkutan, karena
mungkin keterangan yang diberikan kepada dokter berbeda dengan yang diberikan kepada
polisi.
5-7
3$9 f

Contoh Visum et Repertum pada kasus ini:


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
RUMAH SAKIT UMUM UKRIDA
1ln. Arjuna Utara No. 6 1akarta 11510
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
No.: 21/TU.FK/I/2011
Lamp.:
PRO JU$TITIA Jakarta, 12 Januari 2011
VISUM ET REPERTUM

Yang bertanda tangan di bawah ini: ......., dokter Rumah $akit Umum Ukrida, atas
permintaan dari ........ dengan nomor: ..... tertanggal ..... dengan ini menerangkan bahwa pada
tanggal ..... pukul ...., bertempat di Rumah $akit Umum Ukrida telah melakukan pemeriksaan
terhadap korban dengan nomor registrasi: ..... yang menurut surat tersebut adalah,------------------
-----------------------------------------------------------------------------------
Nama : -----------------------------------------------------------------------------------------------
Jenis kelamin : ------------------------------------------------------------------------------------------
Umur : -------------------------------------------------------------------------------------------------
Alamat : -------------------------------------------------------------------------------------------------
Kebangsaaan :--------------------------------------------------------------------------------------------------

-----------------------------------------------------HA$IL PEMERIK$AAN---------------------------------
Pemeriksaan Luar:----------------------------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan Dalam :-------------------------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan Tambahan: -------------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------KE$IMPULAN----------------------------------------

Demikianlah Visum Et Repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan
sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.-
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter Pemeriksa,

dr......

O Visum et Repertum yang pertama adalah jenazah untuk pelaporan bayi. Diperiksa secara
keseluruhan.
5-7

6$9 f

O Visum et Repertum yang kedua adalah psikiatrikum untuk ibu (pelaku). Diperiksa secara
kejiwaan. Yang diperiksa awal adalah tanda vital, kesadaran, dan pada pemeriksaan
tambahan yaitu adalah rujukan kepada psikiater untuk diteliti secara kejiwaan dan
mendapatkan alasan pembunuhan.
5-7


VII. ASPEK PSIKOSOSIAL
Dari hasil penelitian oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jenis-jenis kekerasan
yang dialami oleh anak-anak dibedakan menjadi tiga, yakni kekerasan mental (mental abuse),
kekerasan Iisik (physical abuse), dan kekerasan seksual (sexual abuse). Jenis kekerasan Iisik atau
physical abuse adalah jenis kekerasan yang paling banyak dialami oleh anak-anak, disusul
kemudian dengan kekerasan mental dan kekerasan seksual, tetapi yang menjadi pokok
pembahasan penulis adalah kekerasan seksual terhadap anak-anak.
10,11
Bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak-anak dan si pelaku banyak
tergantung pada kontek atau setting tempat yang memungkinkan terjadinya tindak kekerasan
dan kejahatan terhadap anak-anak di bawah umur.
10,11
Tindak kekerasan dan kejahatan yang dimaksud adalah setiap perilaku yang dapat
menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh/Iisik menjadi tindak nyaman. Perasaan tidak nyaman
ini biasanya berupa kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, ketersinggungan, kejengkelan, atau
kemarahan. Keadaan Iisik tidak nyaman bisa berupa lecet, luka, memar, patah tulang, dan
sebagainya.
10,11
$etiap jenis kekerasan terdiri dari berbagai macam bentuk kekerasan dan kejahatan, dan
bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang pernah dialami oleh para korban berbeda-bedasa
seperti perlakuan tidak senonoh, perayuan, pencolekan, pemaksaan onani, oral seks, anal seks
dan pemerkosaan adalah bentuk kekerasan dan kejahatan yang sering dialami oleh anak-anak di
bawah umur.
11
Tindak kekerasan di sini diartikan sebagai setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan
perasaan atau tubuh (Iisik) menjadi tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman ini bisa berupa:
kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, ketersinggungan, kejengkelan, atau kemarahan, sedangkan
keadaan Iisik tidak nyaman bisa berupa: lecet, luka, memar, patah tulang, dan sebagainya.
11
Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya penyakit
kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Khusus untuk dua hal terakhir, pencegahan dengan
7$9 f

memberikan pil kontrasepsi serta antibiotic lebih bijaksana dilakukan ketimbang menunggu
sampai komplikasi tersebut muncul.
10,11

JII.1. Pelaku perkosaan
Aspek pelaku perkosaan merupakan merupakan aspek yang paling sering dilupakan oleh
dokter. Padahal tanpa adanya pemeriksaan ke arah ini, walaupun telah terbukti adanya
kemungkinan perkosaan. amatlah sulit menuduh seseorang sebagai pelaku pemerkosaan. Untuk
mendapatkan inIormasi ini dapat dilakukan pemeriksaan kutikula rambut dan pemeriksaan
golongan darah dan pemeriksaan DNA dari sampel yang positip sperma/maninya.
10,11

JII.2. Dampak Bagi Korban
Dampak secara Iisik yang dapat terjadi pada anak korban kekerasan seksual adalah
mengalami inIeksi di saluran reproduksinya. Misalnya, mengalami keputihan dan memar di
bagian kelamin. $elain itu mereka juga sangat beresiko terhadap penyakit menular seksual dan
mengalami kehamilan. Padahal, kehamilan di usia dini bisa membahayakan bagi yang
mengandung maupun janin yang dikandung. Dengan demikian anak korban yang mengalami
kehamilan membutuhkan pengawasan medis secara intensiI.
10,11
Akibat lain dari kasus kekerasan seksual adalah dampak psikologis berupa trauma yang
dialami sebagian besar korban. Bentuk trauma berbeda antara satu korban dengan korban
lainnya. Trauma ini tergantung dari usia korban serta bentuk kekerasan yang dialami korban.
Trauma dapat berupa ketakutan bertemu dengan orang lain, mimpi buruk atau ketakutan saat
sendiri.
10,11

JII.3. Dampak pada lingkungan sekitar korban
Dampak lebih besar terjadi apabila lingkungan korban tidak mendukung korban. Akibatnya,
korban menjadi malu dan rendah diri. Banyak korban yang akhirnya harus pindah dari sekolah
karena selalu menjadi bahan perbincangan guru dan teman di sekolahnya. Bahkan ada keluarga
korban yang harus pindah tempat tinggal karena dianggap telah membuat cemar lingkungan
tempat tinggalnya.
10,11
Banyak hal yang dapat dilakukan terhadap anak yang menjadi korban kekerasan seksual.
Pendampingan psikologis dapat dilakukan melalui dukungan kepada korban dan keluarga
8$9 f

korban. Dukungan ini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi korban dan keluarga ketika
menghadapi kasus tersebut. Anak-anak korban ini rentan terhadap inIeksi dan harus
mendapatkan perawatan agar tidak mengganggu kesehatan reproduksi mereka di masa yang akan
datang. Karena itulah, pelayanan medis secara intensiI sangat diperlukan bagi korban.
10,11
$elain dukungan medis dan psikologis, korban juga membutuhkan pendampingan di bidang
hukum, mulai dari pendampingan di kepolisian sampai dengan proses di pengadilan. $elama
mendampingi proses hukum, pengawalan terhadap proses hukum yang terjadi dalam setiap
tahapnya sangatlah penting. Hal yang perlu dikawal` antara lain, apakah semua proses sudah
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; apakah dalam penyidikan polisi sudah
memperhatikan hak-hak anak; apakah hakim mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih
berperspektiI pada korban; apakah jaksa yang merupakan wakil korban di pengadilan juga sudah
berperspektiI pada korban.
10,11

VIII. PERAN LSM
Untuk menangani kasus kekerasan seksual, diperlukan kerjasama antara beberapa
lembaga yang memiliki kepedulian terhadap korban. Dengan berjaringan, kerja yang dilakukan
diharapkan akan lebih bersinergi. Jaringan yang bisa dibangun misalnya antara rumah sakit,
L$M, kepolisian, pemerintah melalui dinas terkait seperti Dinas Kesejahteraan Rakyat
Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DKRPP-KB), Dinas Kesehatan, Bappeda
dan Masyarakat.
10
Pusat krisis terpadu (PKT) bertujuan untuk memberikan pelayanan menyeluruh bagi
parakorban kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan anak (KTA), baik dibidang klinik,
medikolegal dan psikososial : dengan tujuan akhir adalah pemberdayaan perempuan, dalam
mencapai derajat kesehatan secara optimal.
10
$asaran :
a. Korban kekerasan seksual pada perempuan dewasa.
b. Korban kekerasan seksual pada anak.
c. Korban kekerasan dalam rumahtangga.
d. Korban penganiayaan dan penelantaran anak.
10



9$9 f

Peran Pekerja $osial, antara lain :


a. Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban;
b. Memberikan inIormasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari
kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan;
c. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatiI; dan
d. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan pihak
kepolisian, dinas sosial, lembaga social yang dibutuhkan korban.
10

Pelayanan pekerja sosial dilakukan di rumah aman milik pemerintah, pemerintah daerah,
atau masyarakat.
10
Peran Relawan Pendamping : Relawan Pendamping adalah orang yang mempunyai
keahlian untuk melakukan konseling, terapi, dan advokasi guna penguatan dan pemulihan
diri korban kekerasan.
10
Bentuk pelayanannya adalah:
a. MenginIormasikan kepada korban akan haknya untuk mendapatkan seorang atau beberapa
orang pendamping;
b. Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan atau tingkat pemeriksaan pengadilan
dengan membimbing korban untuk secara objektiI dan lengkap memaparkan kekerasan
dalam rumah tangga yang dialaminya;
c. Mendengarkan secara empati segala penuturan korban sehingga korban merasa aman
didampingi oleh pendamping; dan
d. Memberikan dengan aktiI penguatan secara psikologis dan Iisik kepada korban.
10









30$9 f

A III
PENUTUP
KESIMPULAN
Persetubuhan adalah suatu peristiwa di mana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat
kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran air
mani.
Dengan demikian, besarnya zakar dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh zakar
masuk, ke dalam selaput dara serta posisi persetubuhan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Jika
zakar masuk seluruhnya dan keadaan selaput dara masih cukup baik, maka pada pemeriksaan
dapat diharapkan adanya robekan pada selaput dara. Jika selaput daranya elastic tentu tidak aka
nada robekan. Adanya robekan pada selaput dara hanya akan menunjukkan adanya benda
(padat/kenyal) yang masuk, dengan demikian bukan merupakan tanda pasti dari adanya
persetubuhan.
Adanya pancaran air mani (ejakulasi), pada pemeriksaan diharapkan dapat ditemukan sel
mani/sperma. Adanya sperma di dalam liang senggama (vagina) merupakan tanda pasti akan
adanya persetubuhan. Pemeriksaan ditujukan pada penentuan adanya zat-zat tertentu dalam air
mani, seperti asam IosIatase, spermin dan kholin; yang tentunya nilai pembuktian adanya
persetubuhan lebih rendah oleh karena tidak mempunyai nilai deskriptiI yang mutlak atau tidak
khas.
Bila ditemukan sperma dalam vagina korban berarti terbukti telah terjadi persetubuhan,
dan jika ada pengaduan dari pihak korban, maka laki-laki yang membawa telah membawa lari
anak perempuan tersebut, maka ia dapat dikenakan tindak pidana persetubuhan dengan
perempuan yang belum cukup umur.







31$9 f

DAFTAR PUSTAKA

1. Wibisana W, Mun`im TWA, dkk. Pemeriksaan Medik pada Kasus Kejahatan $eksual.
Ilmu Kedokteran Forensik. Ed 1, Cetakan ke-2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.
1997:147-58.
2. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta : $agung $eto; 2008: h. 113-32.
3. Atmadja, D.$. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan Lainnya.
Diunduh dari http://reproduksiumj.com, 2009.
4. $taI pengajar bagian kedokteran Iorensik. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundang-
undangan Bidang Kedokteran. Cetakan ke-2. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994:11-25.
5. Visum et Repertum. Diunduh dari www.klinikindonesia.com/Iorensik/artikel-
Iorensik.php. 09 Januari 2011.
6. $taI pengajar bagian kedokteran Iorensik FKUI. Visum et Repertum. Teknik Autopsi
Forensik. Cetakan ke-4. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 2000:72-81.
7. Mansjoer, ArieI |et al.|. Ilmu Kedokteran Forensik - Visum et Repertum. Kapita $elekta
Kedokteran. Ed 3, Vol 2, cetakan ke-8. Media Aesculapius FKUI. 2009:171-81.
8. Medikolegal. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/17330455/MEDIKOLEAL, 14
Juli 2009.
9. Atmadja $, Djaja. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan
Lainnya. Diunduh dari http://reproduksiumj.blogspot.com 2009
10.Pelecehan $eksual pada Anak. Diunduh dari www.scribd.com, pada tanggal 19 Januari
2010.
11.Psikososial. Di unduh dari www.library.usu.co.id . 8 Januari 2010.