Anda di halaman 1dari 12

PRESENTASI KASUS

IDENTITAS PASIEN Nama

: Tn. M Usia : 54 tahun Berat badan : 60 kg Tinggi badan : 160 cm Agama : Islam Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Lebak Gede Tangal masuk RS : 22 September 2012 No. CM : xxxxx

ANAMNESA A. Keluhan utama : Tidak bisa buang air kecil sejak 1 hari sebelum masuk RS B. Keluhan tambahan : C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD Tasikmalaya tanggal 22 September 2012 dengan keluhan tidak bisa BAK sejak kemarin, nyeri perut bagian tengah bawah, kandung kemih terasa penuh. Sebelumnya pasien merasakan buang air kecil tidak lancar, harus mengedan dan perasaan tidak puas setelah BAK.

D. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak menderita sakit ini sebelumnya. Pasien menderita darah tinggi. Riwayat penyakit kencing manis disangkal. Riwayat penyakit asma disangkal. Riwayat operasi sebelumnya disangkal. Riwayat alergi disangkal. E. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga menderita penyakit yang sama

PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis 1. Keadaan umum : sakit ringan 2. Kesadaran : Compos mentis 3. Vital sign : TD : 140/90 mmHg N : 78 x/menit S : 36,7C R : 22 x/menit 4. Kepala Kepala : Mesocephal ; jejas ( - ) Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, reflek cahaya (+/+) Telinga : Tidak ada kelainan bentuk, sekret (-/-) Hidung : Tidak ada deviasi septum, sekret (-/-) Mulut dan gigi : Tidak ada pembesaran tonsil Leher : Tidak ada pembesaran kelanjar tiroid dan kelenjar getah bening, JVP tidak meningkat.

5. Thorax Cor : Suara jantung S1,S2 reguler, gallop (-), murmur (-), ictus cordis ( - ) Pulmo : Suara paru vesikuler; ronkhi -/- ; wheezing -/-Simetris kanan dan kiri Tidak ada retraksi 6. Abdomen Inspeksi : Perut datar, supel, distensi ( - ) Auskultasi: BU (+) normal Palpasi : masa (-), hepar dan lien tidak ada pembesaran Perkusi : Tympani 7. Ekstermitas Superior Inferior : Edema -/: Edema -/-

8. Pemeriksaan turgor kulit : baik 9. Pemeriksaan akral : hangat

PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium HB HT Leukosit Trombosit Glukosa sewaktu Ureum Creatinin darah Natrium Kalium Calsium : 9,4 gr/dl : 28 % : 5200/ ml : 289.000/ml : 116 : 32 mg/dl : 0,98 mg/dl : 144 : 4,3 : 129

B. Foto cystogram C. Foto thorak

: Gambaran BPH : Thorak dbn Cor dbn DIAGNOSA KLINIS BPH KESIMPULAN Status fisik ASA II

LAPORAN ANESTESI Diagnosa pra bedah Jenis pembedahan : BPH : TURP

Penatalaksanaan anastesi (tanggal 26 September 2012) Jenis anesthesi : Regional Anestesi Premedikasi dengan : Ondansetron 4 mg Medikasi : Bupivacain Spinal 15 mg Midazolam Maintenance : O2 2 - 3 L/mnt Teknik anestesi : Spinal LCS ( + ) jernih Respirasi : Spontan Posisi : Supine Infus durante operasi : RL II Plabot

Laporan durante operasi : Mulai anastesi : 08.30 WIB Mulai operasi : 08.40 WIB Cairan yang masuk durante operasi : RL II plabot Selesai operasi : 09.15 WIB

TERAPI CAIRAN BB : 60 kg Operasi sedang : 6 cc/kgBB Puasa selama 8 jam Lama operasi : 45 menit Jumlah perdarahan : 200 cc Pre operasi : Cairan maintenance 2 cc/kgBB/jam 2 cc x 60 = 120 cc/jam Durante operasi Puasa : 8 jam x maintenance : 8 jam x 120 cc/jam : 960 cc Stress operasi (Operasi sedang) : 6 cc/kg BB/jam : 6 cc x 60/jam : 360 cc/jam Pemberian cairan Jam I : puasa + maintenance + strees operasi : (.960) + 120 cc/jam + 360 cc/jam : 480 cc + 120 cc/jam + 360 cc/jam : 960 cc

PEMBAHASAN
Pre-Operatif Pasien datang dengan keluhan miksi tidak lancar. Pasien diputuskan dirawat di RSUD Tasikmalaya. Setelah keadaan umum pasien membaik, pasien dipersiapkan untuk operasi tanggal 26 September 2012. Sebelum dilakukan operasi, dilakukan pemeriksaan pre-op yang meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan status fisik ASA & risk. Diputuskan kondisi fisik pasien termasuk ASA II (pasien geriatri), serta ditentukan rencana jenis anestesi yang dilakukan yaitu regional anestesi dengan teknik SubArachoid Block. Jenis anastesi yang dipilih adalah regional anastesi cara spinal. Anastesi regional baik spinal maupun epidural dengan blok saraf setinggi T10 memberikan efek anastesi yang memuaskan dan kondisi operasi yang optimal bagi TURP. Dibanding dengan general anastesi, regional anastesi dapat menurunkan insidens terjadinya post-operative venous trombosis.

Durante operatif
Teknik anastesi yang digunakan adalah spinal anastesi dengan alasan operasi yang dilakukan pada bagian tubuh inferior, sehingga cukup memblok bagian tubuh inferior saja. Obat anastesi yang diberikan pada pasien ini adalah bucain spinal 15 mg (berisi bupivakain Hcl 15 mg), bucain spinal dipilih karena durasi kerja yang lama. Bupivakain Hcl merupakan anastesi lokal golongan amida. Bupivakain Hcl mencegah konduksi rangsang saraf dengan menghambat aliran ion, meningkatkan ambang eksitasi elekton, memperlambat perambatan rangsang saraf dan menurunkan kenaikan potensial aksi. Durasi analgetik pada T 10- T 12 selama 2-3 jam, dan bukain spinal menghasilkan relaksasi muskular yang cukup pada ekstremitas bawah selama 2- 2,5 jam. Selain itu bucain juga dapat ditoleransi dengan baik pada semua jaringan yang terkena. Pada saat operasi berlangsung pasien tampak sangat gelisah sehingga diberikan midazolam untuk menghilangkan kecemasan pasien agar pasien bisa tenang. Midazolam merupakan golongan depresan SSP yang menyebabkan tenang, kantuk / menidurkan. Efeknya yaitu sedasi, hipnosis, menurunkan emosi dan relaksasi otot. Semua pasien yang menghadapi pembedahan harus dimonitor secara ketat 4 aspek yakni : monitoring tanda vital, monitoring tanda anestesi, monitoring lapangan operasi, dan monitoring lingkungan operasi.

Post Operatif Perawatan pasien post operasi dilakukan di RR, setelah dipastikan pasien pulih dari anestesi dan keadaan umum, kesadaran, serta vital sign stabil pasien dipindahkan ke bangsal, dengan anjuran untuk bed rest 24 jam, tidur terlentang dengan 1 bantal, minum banyak air putih serta tetap diawasi vital sign selama 24 jam post operasi. KESIMPULAN Pada pasien ini dipilih regional anestesi dengan teknik spinal karena memberikan efek anestesi yang lebih baik dan memberikan kondisi yaang lebih optimal bagi TURP Obat-obatan yang digunakan dalam operasi ini merupakan obat-obat yang dianggap rasional dengan efek yang paling optimal yang bisa diberikan pada pasien geriatri mengingat penurunan fungsi organ yang terjadi kelompok pasien ini. Premedikasi ondansentron 4 mg untuk menimbulkan kenyamanan pasien. Medikasi : Bupivakain spinal 15 mg (sebagai obat anestesi spinal), midazolam sebagai penenang.

Penurunan fungsi organ yang terjadi pada pasien-pasien geriatri antara lain : Kardiovaskular : Penurunan elastisitas pembuluh darah arteri penurunan cardiac reserve. Sistem pernafasan : Penurunan elastisitas jaringan baru. Ginjal : Penurunan renal blood flow dan massa ginjal penurunan kemampuan ginjal untuk mengekskresi obat-obatan Sistem pencernaan : Penurunan hepatic blood flow

System syaraf Muskuloskeletal

: Penurunan sintesis neurotransmitter : Atrofi kulit Gangguan sendi lebih mudah terjadi akibat

positioning pada operasi.