Anda di halaman 1dari 11

LEARNING OBJECTIVE UP 1 BLOK 21 Mengetahui penyakit viral, bakterial, mikoplasma dan fungi pada sistem pernafasan unggas, meliputi:

Etiologi Gejala klnis Patogenesis Perubahan patologi diagnosa Pencegahan dan pengendalian

PEMBAHASAN Newcastle disease Etiologi

Penyakit

ND

disebabkan type-1 famili

oleh

Avian genus

Paramyxovirus Avulavirus

(APMV-1),

Paramyxoviridae,

merupakan virus RNA dengan genom serat tunggal (single stranded/ss) dan berpolaritas negatif. Famili Paramyxoviridae berbentuk pleomorfik, biasanya berbentuk bulat dengan diameter 100-500 nm, namun ada pula yang berbentuk filamen, dan beramplop. Ada sembilan serotype dari avian Paramyxovirus yaitu APMV-1 sampai APMV-9 (OIE, 2002). Berdasarkan atas virulensinya, virus ND (VND) dikelompokkan menjadi tiga patotype yaitu: lentogenik adalah strain virus yang kurang virulen, mesogenik merupakan strain virus dengan virulensi sedang, dan velogenik adalah strain virus ganas. Strain velogenik dibedakan lagi menjadi bentuk neurotrofik dengan gejala gangguan saraf dan kelainan pada sistem

pernafasan, dan bentuk viserotrofik yang ditandai dengan kelainan pada sistem pencernaan (Aldous dan Alexander, 2001).

Gejala Klinis Gejala klinis pada ayam ditandai dengan penurunan nafsu makan, jengger dan pial sianosis, pembengkakan di daerah kepala, bersin, batuk, ngorok, dan diare putih kehijauan. Infeksi virus strain velogenik bersifat fatal, seringkali diikuti dengan angka kematian yang tinggi. Gejala tersebut sangat bervariasi, diawali dengan konjungtivitis, diare serta dikuti dengan gejala saraf seperti tremor, tortikolis, atau kelumpuhan pada leher dan sayap (Ghiamirad et al., 2010).

Patogenesis dan Perubahan Patologi Perubahan patologi anatomi yang patognomonis pada penyakit ND ditandai dengan ptechie pada proventikulus, ventrikulus, usus, seka tonsil, trakea, dan paru-paru (Kencana dan Kardena, 2011).

Pengobatan dan Pencegahan Sanitasi dan desinfeksi sapronak, vaksinasi Penyebaran Mortalitas maupun morbiditas dapat mencapai 50-100% akibat infeksi VND strain velogenik terutama pada kelompok ayam yang peka, 50% pada strain mesogenik, dan 30% pada infeksi virus strain velogenik (Tabbu, 2000). Penularan VND dapat terjadi secara langsung antar ayam dalam satu kelompok ternak tertular. Sumber virus biasanya berasal dari ekskreta ayam terinfeksi baik melalui pakan, air minum, lendir, feses, maupun udara yang tercemar virus, peralatan, dan pekerja kandang. Patogenisitas VND dipengaruhi oleh galur virus, rute infeksi, umur ayam, lingkungan, dan status kebal ayam saat terinfeksi virus. Selama sakit, ayam mengeluarkan virus dalam jumlah besar melalui feses (Alexander, 2001).

ILT( Infectious Laryngotracheitis) Etiologi: Herpesvirus Grup A, DNA virus (Tabbu,2000) Gejala klinis Batuk, ngorok basah, nafas lewat mulut, leleran dari hidung dan busa dari mata, sianosis (sumbatan (Calnek,2003), ada inflamasi pada kloaka. bagian dalam fasial, trakea) asphyxia kematian

Perubahan patologi Trakea terdapat lesi, eksudat kaseua, selaput difteritik, mucus dan perdarahan, saluran nafas terdapat eksudar serous, mucus sampai kaseus. Infiltrasi sel radang pada mukosa dan submukosa saluran nafas, neksrosis epitel dan hemorhagi (Tabbu,2000).

Trachea Pengobatan dan Pencegahan

larink

Sanitasi dan desinfeksi sapronak, vaksinasi umur 1-3 hari, atau 3-13 minggu Penyebaran Secara horizontal dari leleran hidung yang mencemari lingkungan kandang Avian Influenza Etiologi Orthomyxoviridae, RNAvirus(Tabbu,2000) Gejala klinis Gangguan produksi telur, ganguan nafas (bersin, batuk, ngorok), lakrimasi berlebihan, diare feses berwarna hijau putih, sinusitis, edema kepala, sianosis kulit(calnek,2003).

Perubahan patologi Ringan: eksudat kataralis, fibrinus, mukopurulen, kaseosa pasa sinus, trakea dan airsac Akut: edema pada kepala, sinus, pial, foci nekrotik pada hati, limpa, ginjal dan paru, edema periorbitalis, ekimose pada kaki, lesi pada organ viscera terutama mukosa ventrikulus, pancreas berwara merah tua dan kuning muda, edema, hiperemia, hemoragik, perivaskular cuffing sel limfoid pada miokardium, limpa, paru, otak; degenerasi sel pada limpa, hati, ginjal; ensefalitis non supuratifa difus; pancreatitis nekrotikan; miositis nekrotikan subakut pada otot skelat (Tabbu,2000).

Pencegahan Sanitasi dan desinfeksi sapronak, vaksinasi Fowl Cholera Etiologi Pasteurella multocida, gram negative, nonmotil, nonspora, basil, tercat bipolar,

aerob/anaerob(calnek,2003)

Gejala klinis Perakut: kematian ekplosif yang mendadak Akut: demam, anoreksia, bulu berdiri, leleran mukoid dari mulut, frekuensi nafas meningkat, diare kekuningan-hijau berbau busuk, ngorok basah, sianosis daerah fasial, kurus, dehidrasi Kronis: bengkak pada pial, sendi kakisayap, telapak kaki-lumpuh

Perubahan Patologi Perakut: ptechie dan ekimose pada organ dalam Akut: hati bengkak, pucat, ada nekrosis multifocal, ovarium membubur, mucus kental dalam saluran digesti Kronis: infeksi local pada persendian dan telapak kaki Infiltrasi sel radang di berbagai organ (Tabbu,2000).

Pengobatan dan Pencegahan Antibiotik (tetracycline 0,04% dalam air minum atau pakan) dan multivitamin Sanitasi dan desinfeksi sapronak, vaksinasi umur 13minggu Penyebaran Secara horizontal, terutama air minum yang tercemar Infectious Coryza Etiologi Haemophilus paragallinarum, gram negative, coccobasil, nonmotil, non spora, fakultatif anaerob, tercat polar (Calnek,2003) Gejala klinis Bersin, anoreksia, ngorok halus, eksudat

serous-mukoid dari hidung atau mata sampai leleran mukopurulen, berbau busuk, bengkak daerah fasial, mata, pial, mata merah dan menutup, gangguan pertumbuhan dan produksi telur, diare (Akoso,1998). Perubahan Patologi Radang kataralis akut pada membrane mukosa cavum nasi, sinus, konjunctiva; edema subkutan fasial dan pial, pada cavum nasi, sinus infraorbitalis, trakea terjadi deskuamasi, desintegrasi, hyperplasia, edema, hyperemia, infiltrasi sel radang (Tabbu,2000).
7

Pengobatan dan Pencegahan Antibiotik (erythromycin, oxytetracyclin, fluoroquinolon, macrolides, sulfonamide-

trimetoprim) dan multivitamin. Sanitasi dan desinfeksi sapronak, vaksinasi umur 8-11 minggu dan 17 minngu (Merck,2005) Penyebaran Secara horizontal, aerosol CRD (Chronic Respiratory Disease) Penyebab utama CRD adalah Mycoplasma gallisepticum (MG). Gejala klinis Predileksi atau tempat bersarangnya infeksi MG terletak pada jaringan epitel organ pernafasan (WEN et al., 2000) dan pada conjunctiva mata (NUNOYA et al., 1995). Gejala klinis bervariasi dari subklinis sampai kesulitan pernafasan tergantung dari derajat keparahan infeksi. Gejala klinis diawali dengan keluarnya cairan eksudat bening (catarrhal) dari rongga hidung, bersinbersin, batuk, ngorok dan radang conjunctiva (conjunctivitis). Ayam jantan biasanya memperlihatkan gejala klinis yang lebih jelas (LEY, 2003). Jika infeksi berlanjut dan disertai infeksi sekunder maka eksudat hidung yang keluar menjadi agak
8

kental. Gejala pernafasan ini kemudian diikuti dengan turunnya nafsu makan, berat badan dan produksi telur, sedangkan konversi pakan naik (MOHAMMED et al., 1987).

Perubahan patologi Perubahan patologi yang paling spesifik untuk CRD yaitu adanya peradangan pada trakhea dan kantong membran udara khususnya pada rongga perut yang disebut dengan airsacculitis, oleh karena itu penyakit ini disebut juga dengan Airsac disease (LEY, 2003). Perubahan histologi infeksi MG spesifik ditandai dengan penebalan membran mukosa yang diakibatkan oleh infiltrasi sel mononuklear dan hiperplasia glandula mukosa (GAUNSON et al., 2000). Fokal hiperplasia sel limpoid ditemukan pada submukosa alat pernafasan. Pembengkakan sel epitel dan kerusakan silia pada trakhea sering terlihat. Penebalan mukosa trakhea biasanya digunakan sebagai indikasi infeksi MG (LEY, 2003). Pengobatan dan pencegahan Pengobatan terhadap CRD sudah sering dilakukan tetapi sampai saat ini CRD masih tersebar di seluruh dunia. MG diketahui tidak memiliki dinding sel sehingga pengobatan tidak bisa dilakukan dengan menggunakan penisillin dan derivatifnya karena daya kerja antibiotika ini pada dinding sel (PUGH, 1991). Pengobatan biasanya dilakukan dengan menggunakan antibiotika makrolid seperti tiamulin, tylosin, lincomycin, oxytetracyclin dan enrofloxacin yang memiliki daya kerja menghambat sintesis protein. Pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan biosekuriti dan dekontaminasi perkandangan dan peralatan. Vaksinasi dengan vaksin bakterin, vaksin yang dilemahkan dan vaksin mutan telah diuraikan dengan kelebihan dan kekurangannya. Vaksin mutan MGTS-11 memiliki keamanan dan efikasi yang tinggi serta dapat digunakan untuk program eradikasi, oleh karena itu vaksin generasi ketiga ini disarankan untuk digunakan sebagai alat pencegahan dan pemberantasan CRD
9

Penyebaran Penyebaran infeksi MG dapat terjadi secara horizontal dan vertikal (LIN dan KLEVEN, 1982). Penyebaran secara horizontal dapat terjadi secara langsung melalui udara atau percikan air liur terhadap ayam yang peka di sekitarnya, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui pakan, air minum, peralatan dan pakaian pekerja yang terkontaminasi MG (KLEVEN, 1990; LEY, 2003). Penyebaran secara vertikal dapat terjadi melalui indung telur atau oviduct (LIN dan KLEVEN, 1982). Pada fase akut, kejadian penyebaran vertikal biasanya tinggi, tetapi pada fase kronik kejadiannya rendah (LEVISOHN dan KLEVEN, 2000). Aspergillosis Etiologi Aspergillus fumigatus tumbuh dalam agar Sabourauds dextrose (25-37oC), warna koloni putih, pusat koloni hijau kebiruan sedangkan A. flavus kekuningan (Calnek,2003) Gejala klinis Akut: dyspnoea, bernapas melalui mulut dengan leher dijulurkan ke atas, peningkatan frekuensi pernapasan, kehilangan nafsu makan, mengantuk, kejang-kejang (toksin jamur). Kronis: kehilangan nafsu makan, bernapasa dengan mulut, emasiasi, sianosis (kepala dan jengger) (Calnek,2003).

10

Perubahan Patologi Nodule kaseus kecil (kuning) tersebar secara acak pada paru-paru, plaque pada permukaan airsac (kuning), mikroabses pada jaringan paru-paru. Timbunan limfosit, makrofag dan giant cell, yang bersifat fokal. Pada bronki, bronkioli, dan airsac mengalami sporulasi secara aseksual.(Tabbu,2000) Pengobatan dan Pencegahan Fungistat (mikostatin, mold crub, gentian violet) bersama pakan dengan atau tanpa larutan 0,05 % CuSO4 dalam air minum.(Merck,2005) Penyebaran Secara horizontal, conidia dalam udara-aerosol

11