Anda di halaman 1dari 24

OTHEMATOM

Pendahuluan
Othematome merupakan hematom daun telinga akibat ruda paksa yang menyebabkan timbulnya darah dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago. Keadaan ini biasanya terdapat pada remaja atau or dewasa yang mempunyai kegiatan yang memerlukan kekerasan, namun bisa juga dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak. Bagi dokter THT sangat mudah mendiagnosisi othematoma, akan tetapi tenaga medis lainnya tidak jarang keliru mendiagnosis, sihingga menerapkan cara pengobatan yang tidak semestinya. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17 Masalah ini paling sering terjadi pada atlet muda, terutama pegulat atau pemain football yang berlatih tanpa tutup kepala mereka. Namun setiap trauma tumpul berat untuk daun telinga membuat akumulasi subperikondrial darah, dengan pembuluh darah, dengan kambuh dan kurangnya reabsorbsi, sebuah kemungkinan. Biasanya hematoma pada permukaan superolateral, berpusat diatas konkha scapha dan atas. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 Terjadi proses utama selama reaksi inflamasi ini yaitu, aliran darah kedaerah itu menigkat, permeabilitas kapiler meningkat, mula-mula neutrophil dan makrofag, lalu limfosit keluar dan kapiler menuju ke jaringan sekitranya. Selanjutnya bergerak ketempat cedera dibawah pengaruh stimulus-stimulus kemotaktik. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,18 Peradangan pada telinga yang muncul dalam waktu seminggu setelah penyebeb yang diduga cidera, trauma langsung pada telinga secara teratur mendahului pembengkakan. Peradangan ditelinga mungkin memeliki warna kebiru-biruan dan kadang-kadang dapat menimbulkan perdarahan.4,5,6,7,12 Mekanisme biasanya melibatkan gangguan traumatis pembuluh darah pericondrial. Akumulasi darah dalam hasil ruang subperikondrial dalam pemisahan perikondrium dari tulang rawan. Efek pengobatan yang paling baik untuk aurikularis hematom adalah insisi dan drainase yang memadai dengan melalui suture secured gulung seperti gulungan gigi.5,7 Kesalahan penanganan othematoma, dapat menyebabkan perikondritis supuratif aurikuler, komplikasi infeksi daun telinga ini sangat ditakuti karena dapat menyebabkan seluruh daun telinga terken infeksi dan mengubah bentuk daun telinga (Cauliflower ear). Beberapa cara

pengelolaan banyak ditulis , antara lain dengan tindakan operasi atau insisi pembersihan, kemudian dilakukan pembalutan. Tindakan ini tidak hanya dapat menimbulkan kekambuhan tetapi juga dapat menyebabkan ketidak nyamanan dalam tugas sehari-hari ataupun melakukan latihan/pertandingan bagi olahragawan. . 1,2,3,4,5,6,7,12,18,19,20 Penanganan dengan cara aspirasi dan dilanjutkan penekanan memakai gips sebagai fiksasi memperoleh hasil cukup baik tidak semua pos pelayanan medis didaerah terutama di dipuskesmas mempunyai gips.9,11,12

Anatomi Telinga
Telinga terdiri atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam

Gambar 1: Anatomi Telinga dan Pembagian Telinga

a. Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga (auricular) dan liang telinga sampai membrane tymphani. 1,3,12,21 Daun telinga merupakan struktur tulang rawan yang berlekuk dan ditutupi oleh kulit tipis dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot-otot dan ligamentum. Lekukanlekukan ini dibentuk oleh heliks, anti heliks, tragus, antitragus, fossa skafoidea, fossa triangularis, konka dan lobulus. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian posterior-superiornya terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwinss tubercle). Pada bagian posterior heliks terdapat lengukngan yang disebut antiheliks. 1,3,12,21 Bagian superior antiheliks membentuk dua buah krura antiheliks dan bagian kedua krura ini disebut fossa triangularis.Diatas kedua krura ini terdapat fossa

scapha.Didepan antiheliks terdapat lekukan menyerupai corong yang menuju meatus yang disebut konka, yang terdiri atas dua bagian samba konka, merupakan bagian anteroposterior yang ditutupi oleh krus heliks dan kavum konka yang terletak dibawahnya berseberangan dengan konka yang terletak dibawah krus heliks terdapat tonjolan kecil berbentuk segitiga tumpul yang disebut tragus. Bagian diseberang tragus dan terletak pada batas antihelik disebut antitragus. 1,3,12,21 Satu-satunya bagian daun telinga yang tidak mempunyai tulang rawan adalah lobules. Tulang rawan daun telinga ini berlanjut dengan tulang rawan liang telinga luar.

Gambar 2 : Anatomi Telinga Luar Meatus akustikus externus (liang telinga) adalah tabung berkelok yang terbentang antara auricular sampai membarana tympani. Berfungsi menghantarkan gelombang suara dari auricular ke mebran tympani. Pada orang dewasa panjang nya 2,5 cm 3 cm dan dapat diluruskan untuk

memasang otoskop dengan menarik auricular keatas dan kebelakang. Pada anak, auricular cukup ditarik lurus ke belakang, atau ke bawah dan kebelakang. Daerah meatus yang paling sempit 5mm dari membarana tympani yang miring, maka meatus paling panjang pada dinding anterior inferiornya. 1,3,21 Sepertiga meatus bagian luar mempunyai kerangka tulang rawan elastic dan dua pertiga dalam oleh tulang, yang dibentuk lempeng tympani. Meatus dilapisi kulit dan sepertiga bagian luarnya memiliki rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen. Yang terakhir ini adalah modifikasi kelenjar keringat, yang menghasilkan lili coklat kekuningan. Rambut dan lilin ini merupakan sawar lengket yang mencegah masuknya benda-benda asing. Suplai saraf sensoris kekulit pelapisnya, berasal dari n. Auriculotemporalis dan cabang n. Vagus. Drainase limf ken l. Parotidei superficialis, mastoidei dan cervicales superficiales. 1,3,21 b. Telinga Tengah Cavum tympani adalah ruang berisi udara dalam pers petrosa ossis temporalis yang dilapisi membrane mukosa. Di dalamnya didapatkan tulang-tulang pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membrane tympani (gendangan) ke perilimf telinga dalam. Merupakan suatu ruang mirip celah sempit yang serong, dengan sumbu panjang terletak sejajar dengan bidang membrane tympani. 1,3,21 Telinga tengah berbentuk kubus dengan: Batas luar Batas depan Batas Bawah Batas belakang Batas Dalam : Membrana tympani : Tuba eustachius : Vena Jugularis : Aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis : Kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan

promontorium. Membrana tympani adalah membrane fibrosa tipis yang berbentuk bundar yang berwarna kelabu mutiara. Permukaan luarnya ditutupi oleh epitel berlapis gepeng dan permukaan dalamnya oleh epitel silindris rendah. Membrana tympani ini terpasang secara serong menghadap ke bawah, depan dan lateral. Permukaan konkaf ke lateral pada dasar cekungan terdapat lekukan kecil, yaitu umbo, yang ditimbulkan oleh ujung manubrium mallei. Bila

membrana ini terkena cahaya stetoskop, bagian cekung ini menghasilkan kerucut reflex/cone of light, yang memancar ke anterior dan inferior dari umbo. Bagian atas membrane tympani disebut pars flaksida (membrane sharpnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membrana topia). 1,3,21

Gambar 3 : Anatomi telinga tengah c. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea ( rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis yaitu: Kanalis semisirkularis superior Kanalis semisirkularis posterior Kanalis semisirkularis lateral

Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule disebelah atas, skala tymphani disebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibule dan skala tympani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibule disebut sebagai membrane vestibule (Reissners membrane) sedangkan dasar skala media adalah membrane basalis. Pada membrane ini terletak organ korti. Pada skala media terdapat bagian

yang berbentuk lidah yang disebut membrane tektoria dan pada membrane basalis melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, luas dan kanalis korti, yang membentuk organ korti.
1,3,21

Gambar 4 : Anatomi Telinga Dalam

d. Perdarahan Telinga. Perdarahan daun telinga bagian superior berasal dari cabgang posterior a. carotis eksterna yang mnedarahi juga sebagian kecil permukaan depan daun telinga . Sebagian permukaan belakang daun telinga juga diperdarahi a.occipitalis. Permukaan depan daun telinga terutama diperdarahi oleh cabang anterior a. temporalis superfisialis anterior. 20

Gambar 5 : Perdarahan daun telinga

Fisiologi Pendengaran
Proses pendengaran diawali oleh dengan ditangkapnya energy bunyi (gelombang suara) oleh daun telinga dan melalui liang telinga diteruskan ke membrane tympani. Getaran tersebut menggetarkan membrane tympani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengaplikasikan getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian luas membrane tympani dan tingkap lonjong (ovale window).3 Energi getar yang telah di amplifikasi ini akan diteruskan ke satpes yang menggetarkan ovale window sehingga perilmfa pada skala vestibule bergerak.3

Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membrane basilaris dan membrane tektoria.3 Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi steresilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel.3 Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter kedalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke kortex pendengaran (area 39-40) dilobus temporalis. 3

Gambar 6 : Fisiologi Pendengaran

Definisi
Othematom merupakan hematoma daun telnga akibat suatu rudapaksa yang menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruangan antara perikondriom dan kartilago. Keadaan ini biasanya terdapat pada remaja atau orang dewasa yang mempunyai kegiatan memerlukan kekerasan namun bisa saja dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak.1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,14,17,18

Epidemiologi
Penderita othematom di RSU Ulin Banjaramasin berasarkan usia sekitar 22 laki-laki (100%) diantaranya anak 1 orang (5%) dan dewasa 20 orang (90%) sedang penderita diatas 50 hanya tahun 1 orang (5%).2 Othematom berdasarkan lokasi anatomis 12 orang (60%) murni pada daerah konka. Sedang Priyono dkk (1983) mendapatkan 80 % pada konka. Lima orang (25%) menderita perluasan dan daerah konka kearah bagian superior aurikula (1983), mendapatkan hanya 16%. Perluasan ke arah lateral ada 2 orang (10%).2

Etiologi
Othematom umunya terjadi akibat trauma secara langsung ke daerah telinga seperti yang ditemui pada petinju, pegulat dan seni bela diri, sehingga terdapat penumpukan bekuan darah diantara perikondrium dan tulang rawan menerima pasokan darah dari perichondrium atasnya. Luka geser menyebabkan gangguan hubungan anatomi normal dari perichondrium ke tulang rawan, dengan nekrosis tulang rawan yang dihasilkan. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,14,17,18

Patofisiologi
Secara normal cedera jaringan atau adanya bahan asing mnejadi pemicu kejadian yang mengikut sertakan enzim, mediator, cairan ekstravasasi, migrasi sel, kerusakan jaringan dan mekanisme penyembuhan. Hal tersebut menimbulkan tanda inflamasi berupa kemerahan, pembengkakan, panas, nyeri dan hilangnya fungsi.18 Terjadi 3 proses utama selama reaksi inflamasi ini yaitu, aliran darah kedaerah itu meningkat, permeabilitas kapiler meningkat, leukosit mula-mula neutrophil dan makrofag, lalu

limfosit keluar dari kapiler menuju ke jaringan. Selanjutnya bergerak ketempat cedera dibawah pengaruh stimulus stimulus kemotaktik. Bila ada antigen tersebut, mulu-mula respon imun non spesifik bekerja untuk mengeliminasi antigen tersebut. Bila ini berhasil, inflamasi akut berhenti. Apabila respon imun non spsifik tidak berhasil, maka respon imun spesifik diaktivasi untuk menangkis antigen tersebut. Inflamasi berhenti apabila usaha ini berhasil. Bila tidak maka inflamasi ini menjadi kronik dan sering kali menyebabkan destruksi yang irreversible pada jaringan.18

Gambar 7 : Akumulasi darah antara perikondrium dan tulang rawan

Manifestasi Klinis
Pada othematom aurikula dapat terbentuk penumpukan bekuan darah diantara prikondrium dan tulang rawan. Bila bekuan darah ini tidak segera dikeluarkan maka dapat terjadi organisasi dari hematoma, sehingga tonjolan menjadi padat dan permanen serta dapat berakibat terbentuknya telinga bunga kol. Penampilan karakteristik telinga kembang kol adalah konsekuensi dari fibrosis berikutnya, kontraktur dan pembentukan neokartilage.3,4,5,11,12,19,20

Tanda dan Gejala


Hematoma daun telinga ditandai dengan daun telinga yang terlihat membengkak, garis lipatan konka menghilang, terjadi pembengkakan besar kebiru-biruan yang biasanya dapat mengenai seluruh daun telinga, meskipun kadangkadang terbatas hanya pada setengah bagian atas saja.11

Tidak dijumpai nyeri pada daun telinga, namun bila ada nyeri tidak begitu nyata, daun telinga terasa panas dan adanya rasa tidak nyaman.11 Bila tidak segera diobati, darah ini akan terkumpul menjadi jaringan ikat yang menyebabkan nekrosis tulang rawan, karena adanya gangguan nutria. Massa jaringan parut yang berlekuk-lekuk ini, terutama dari tyrauma yang berulang, akan menimbulkan deformitas yang disebut cauliflower ear. Bila dijumpai oklusi total liang telinga akan menyebabkan kehilangan pendengaran.13

Gambar 8: Hematoma Auricular

Diagnosis
Anamnesa Dari anamnesa dijumpai adanya riwayat trauma. Misalnya karena hantaman atau pukulan saat berolahraga seperti gulat dan lainnya. Telinga dapat terasa nyeri dan bengkak. Jika pembengkakan berlanjut, pasien sering kali mengeluhkan pendengarannya terganggu.4,6,7,12 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, dari inspeksi dijumpai benjolan kemerahan pada daun telinga. Pada palpasi terdapat fluktuasi tanpa adanya nyeri tekan atau nyeri tekan yang ringan. Pada

kasus yang telah lama dan berulang dapat timbul pengerutan pada daun telinga (cauliflower ear). Kemudian dilakukan aspirasi dan dijumpai cairan serohemoragis.13,19,20

Diagnosa Banding
Perikondritis

Radang pada tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga. Biasnya terjadi karena trauma akibat kecelakaan, operasi daun telinga yang terinfeksi.2,18,22 Pseudokista

Terdapat benjolan didaun telinga yang disebabkan oleh adanya kumpulan cairan kekuningan diantara lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga.2

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah sepenuhnya untuk mengevakuasi darah subperikondrial dan untuk mencegah reakumulasi. Dahulu dilakukan aspirasi sederhana pada hematoma, namu kini kebanyakan dokter menganjurkan terapi yang lebih ekstensif dengan insisi dan drainase kumpulan darah dalam kondisi steril, diikuti dengan pemasangan balutan tekan khusunya pada konka. Tekanan setempat akan lebih baik bila membuat jahitan menembus diatas dental roll atau materi serupa. Terapi paling baik dilakukan setelah cedera, sebelum terjadi organisasi hematoma. Para pegulat perlu diingatkan untuk memakai pelindung kepala, juga pada saat berlatih.4,5,6,12,13 Indikasi : Anterior aurikularis bengkak setelah trauma, yang mrusak bentuk anatomi normal dari pinna. Presentasi dalam waktu 7 hari setelah trauma (setelah 7 hari , pembentukan jaringan granulasi dapat menyulitkan prosedur. Pada saat itu pasien harus dirujuk kespesialis).5

Kontra indikasi Hematoma yang lebih dari 7 hari Hematoma berulang atau hematoma kronis (dalam kasus ini, buja debridement bedah oleh dokter spesialis diindikasikan karena hematom, granulasi jaringan atau keduanya dapat ditemukan didalam tulang rawan dan bukan di subperichondrial).5 Hal yang perlu diperhatikan pada penanganan hematoma daun telinga antara lain5 : Aspirasi dilakukan dalam kondisi yang steril dan setelah aspirasi penting diberikan antibiotic yang adekuat. Pemantauan yang ketat diperlukan untuk memastikan hematom tidak berulang kembali dan dapat berkembang terbentuknya deposit fibrous ataupun infeksi. Untuk mencegah reakumulasi maka setelah aspirasi atau insisi perlu dilakukan penekanan. Instrumren dan bahan yang disediakan : Spuilt 5 ml dengan jarum ukuran 20 G Scalpel No. 11 dan No. 15 dengan pemegangnya Curved hemostat (mosquito) Penrose drain Salep betadine Betadin scrub Kain kassa steril 2-0 nylon atau prolene Lidokain 1 % (dengan atau tanpa epinefrin) Peralatan irigasi (spuilt, normal salin) Bahan untuk penekanan o Balut tekan sederhana : kapas kering, kass dengan vasselin, kassa dengan elastic bandage

o Balut tekan khusus : dental rolls (cotton bolsters, slicon slint, plaster mold), balut tekan dengan kancing banjo yang difiksasi dengan nilon atau benang prolen dan penekanan dengan gips.5,13 Anestesi Dilakukan anestesi local dengan lidokain 1% dengan 1:100.000 epinefrin atau tanpa epinefrin, dan diinfiltrasi secara langsung pada daerah yang akan diinsisi dan drainase. Banyak penulis mendukung penggunaan lidokain tanpa disertai pemberian agen vasokontriktif seperti epinefrin. Namun demikian, beberapa literature menyetujui keamanan penggunaan agen vasokonstriktor pada lokasi seperti hidung dan daun telinga. Dengan persiapan : bersihkan kulit dengan betadine dan alcohol, dapat juga digunakan betadine scrub, dengan anestesi local lidokain 1%.2,5 Teknik yang digunakan Aspirasi Jarum o Walaupun secara luas masih sering digunakan, metode ini tidak lagi direkomendasikan karena dapt menyebabkan reakumulasi hematoma. Aspirasi sering kali tidak ade kuat dan hematoma memerlukan penanganan yang lebih lanjut. Beberapa sumber merekomendasikan aspirasi terlebih dahulu yang diikuti dengan metode insisi jika terjadi reakumulasi. o Gunakan jarum ukuran 18 atau 20 G untuk aspirasi darah dari daerah yang paling berfluktiasi atau daerah yang paling bengkak.15

Gambar 9 : Aspirasi Othematoma

Insisi dan drainase o Insisi pada tepi hematom harus dibuat pada skafa sejajar dengan heliks. Pembukaan harus cukup luas untuk mengeluarkan seluruh hematoma. o Perlahan-lahan dipisahkan kulit dengan perikondrium dari hematoma dan tulang rawan, kemudian lakukan pengeluaran hematoma. Perlu kehati-hatian karena dapat merusak perikondrium. o Bila kumpulan bekuan darah telah terjadi karena keterlambatan tindakan, dapat digunakan kuret tajam untuk mengeluarkan bekuan darah. o Dilakukan irigasi dengan normal salin. o Pemasangan drain dilakukan pada kasus kasus dengan hematoma yang sangat luas. Namun hal ini dapat menyebabkan luka pada drain dan dapat pula menjadi predisposisi infeksi. Jika dilakukan pemasangan drain, pasien harus diberikan antibiotic adekuat. Drain harus dilepas dalam 24 jam jika tidak terdapat perdarahan yang signifikan.2,5

Gambar 9 : Insisi dan drainase hematoma auricular

Kompresi dan balut tekan Lakukan penekanan 5-10 menit, lalu lakukan kompresi dengan balut tekan. Teknik yang sederhana biasanya tidak adekuat, dan dapat menyebabkan reakumulasi hematoma. Kompresi balut tekan dapat dibuat dengan berbagai cara metode sederhana, diantaranya :5

o Letakkan kapas kering pada kanal eksternal

Gambar 10 : Kompresi dengan kapas kering yang diletakkan dikanal eksternal5

Isi celah aurikuler eksternal dengan kassa yang lembab (yang telah direndam dengan salin atau vasselin)

Gambar 11 : Kompresi dengan kassa vaselin pada pina anterior

Dengan menambahkan 3-4 lapis kassa dibelakang telinga sebagai tampon pada bagian posterior, potong kassa menjadi bentuk V, sehingga pas untuk diletakkan dibelakang telinga.5

Gambar 12 : Kompresi dengan meletakkan kasa pada belakang telinga Tutup telinga dengan kassa berlapis

Gambar 13 : Kompresi kasa pada telinga anterior

Balut dengan perban elastic

Gambar 14 : Kompresi kasa dengan perban elastic.

Pemasangan balut tekan khusus pada konka, seperti silicon splint atau dental rolls, ke bagian anterior dan posterior telinga12,13

Gambar 15 : Balut tekan khusus dengan dental rolls

Komplikasi
Bila tindakan tidak steril, bisa timbul komplikasi yaitu perikondritis. Perikondritis adalah radang pada tulang rawan daun telinga, yang terjadi akibat trauma, pasca operasi telinga, serta sebagai komplikasi hematoma daun telinga, otitis eksterna kronik, otitis media kronik, pseudokista. Pengobatan dengan antibiotika sering gagal. Dapat terjadi komplikasi, yaitu tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lingsut. Selain itu bisa juga terjadi reakumulasi dari hematom, luka parut dan site infeksi. 5,12,19,20

Kesimpulan

Kejadian hematoma daun telinga atau othematoma biasanya didahului dengan adanya trauma, seringkali terjadi pada olahragawan yang banyak kontak fisik seperti pemain gulat, petinju dan pemain rugby dan dapat menyebabkan masalah kosmetik seperti cauliflower ear atau bahkan kehilangan kampuan mendengar. Diagnosis dari hematoma daun telinga ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan aspirasi. Beberapa teknik diaplikasikan sebagai terapi dari othematoma, antara lain dengan aspirasi, pemasangan gips, insisi, dan drainase serta penempatan pembalut tekan yang ditujukan untuk mengeluarkan isi hematoma, mencegah berulangnya hematoma, mencegah perikondritis, dan mencegah deformitas kosmetik. Othematom merupakan hematoma pada daun telinga akibat suatu rudapaksa yang menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago. Hematoma pada daun telinga disebabkan oleh trauma, sehingga terdapat penumpukan bekuan darah diantara perikondrium dan tulang rawan. Bila bekuan darah ini tidak dikeluarkan dapat terjadi organisasi dari hematoma, sehingga tonjolan menjadi padat dan permanen. Indikasi untuk dilakukan aspirasi dan fiksasi pada othematoma yaitu : 1) tender anterior aurikularis bengkak setelah trauma, yang merusak bentuk anatomi normal dari pinna, dan 2) Presentasi dalam waktu 7 hari setelah trauma (setelah 7 hari , pembentukan jaringan granulasi dapat menyulitkan prosedur. Pada saat itu pasien harus dirujuk kespesialis THT).

Daftar Pustaka
1. Boies R.L in Effendi H, Santoso K. Penyakit Telinga Luar iin Boies Buku Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamental Of Otolaringology) , Ed 6.Penerbit Buku Kedokteran, Hal: 75- 84 2. Othematoma dan Pengelolaannya, available from

http://www.kalbe.co.id/files/15othematomdanpengelolaanya120pdf/15othematomdanpen gelolaannya120.html 3. Sosialisman and Helmi inSoepardi A.E Iskandar N edt. Kelainan Telinga luar in Buku Ajar Ilmu Keshatan Telinga Hidung dan Tenggorok Kepala Leher, Ed 5, FKUI 2001, hal : 9-11,45 4. Buckingham R.A, Hematoma Of Auricular in Ear, Nose and Throat Disease A Pocket Reference, Ed 2nd , New York:1994, P:76 5. Auricular Hematoma Drainage available from :

http://emedicine.medscape.com/article/82793-overview 6. Primrose W.J, Auricular Hematoma in A New Short Textbook of Otolaringology, Ed 3rd, British, ELBS, 1992, P: 24-25 7. Dhingra , Auricular Hematom in Disease Of Ear, Nose, and Throat, Ed 4th, Elsevier, 1998. P:48-49 8. Hematom Daun Telinga Available from: http://ghoyareb.com/auricularhematoma.html 9. Maran A.G.D, Disease Of External Ear in in Disease Of Ear, Nose, and Throat, Ed 10th, PG Asian Economy, Singapore:1994.P:263-264 10. Auricular Hematom Available from www.medic8.com/healthguide/sports-

medicine/auriclar-hematom.html 11. Auricular Hematom Available from www.nje.com/healthguide/auriclar-hematom.html 12. T.K Timothy Jinn Hoon, Disease of The auricular externa in Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery,London.2002.P: 230-235 13. Treatment Of Auricular Hematoma Using Dental Rolls Splint available from: www.journaloftheroyalmedicalservice.com 14. Kelainan pada telinga luar available from : http://www.indonesiaindonesia.com/f/13256kelainan-telinga-luar.com

15. . Auricular Hematom Available from : http://drdavidson.ucsd.edu/Portals/0/PathwayAurHemat.htm 16. Algorithm Auricular Hematom Available from : http://drdavidson.ucsd.edu/Portals/0/PathwayAurHemat.htm 17. Glasscock and Shambaugh, , Auricular Hematoma in surgery of The Ear, Fourth Edition, W.B Saunders Company,1990.P: 195-196 18. Kelainan Telinga Luar Available from : http://www.blog.wordpress.com 19. Inflamasi Auricula Available from : http://medic8.inlamasi-auricula.com 20. Cauliflower Ear Available from : http://wikipedia.org/wiki/cauliflower_ear.com 21. Snell S.R in Tambayong J Anatomi Klinik, Bagian 3, Ed 3, EGC, Jakarta.2006, Hal 128139. 22. Mansjoer Arif, Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok in Kapita Selekta Kedokteran, Ed 3, Jilid 1, Media Aesculapius,FKUI,2001. Hal 94